Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN Hampir seluruh umat Islam sepakat bahwa Hadis berkedudukan sebagai salah satu sumber ajaran yang harus di taati, berdasarkan dalil-dalil baik dari al-Quran, Hadis maupun Ijma sahabat Dalam surat al-Hasyr ayat 7, Allah berfirman

Ayat ini memerintahkan kepada umat untuk mengikuti dan menaati hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang disampaikan oleh Nabi, begitu juga perintah Allah dalam surat al-Ahzab ayat 36

Dalam sebuah hadis Nabi menyatakan

Para sahabat sepakat menetapkan wajib ittiba terhadap Hadis. Di waktu Nabi masih hidup, para sahabat selalu konsekwen melaksanakan perintah-perintahnya. Sepeninggal Nabi, para sahabat bila tidak menjumpai ketentuan-ketentuan dalam alQuran tentang suatu perkara, mereka selalu bertanya bagaimana ketentuan tersebut dalam hadis. Demikian yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Para sahabat lainnya. Karena hal demikian suatu ijma

BAB II
PEMBAHASAN A. FUNGSI HADIS DAN KEDUDUKAN HADIST 1. Fungsi Hadist

Dalam hubungan dengan Al-Qur'an, maka as-Sunnah berfungsi sebagai penafsir, pensyarah, dan penjelas daripada ayat-ayat tertentu. Apabila disimpulkan tentang fungsi as-Sunnah dalam hubungan dengan Al-Qur'an itu adalah sebagai berikut : a. Bayan Tafsir, yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak. Seperti hadits : " Shallu kama ro-aitumuni ushalli ". (Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat) adalah merupakan tafsiran daripada ayat AlQur'an yang umum, yaitu : " Aqimush- shalah ", (Kerjakan shalat). Demikian pula hadits: " Khudzu anni manasikakum " (Ambillah dariku perbuatan hajiku) adalah tafsir dari ayat Al-Qur'an " Waatimmulhajja " (Dan sempurnakanlah hajimu). b. Bayan Taqrir, yaitu as-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan Al-Quran. Seperti hadits yang berbunyi : " Shoumu liru'yatihiwafthiru liru'yatihi " (Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya) adalah memperkokoh ayat Al-Qur'an dalam surat Al-Baqarah : 185. c. Bayan Taudhih, yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat Al-Quran, seperti pernyataan Nabi : " Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati ", adalah taudhih (penjelasan) terhadap ayat Al-Qur'an dalam surat at-Taubah : 34 yang berbunyi sebagai berikut : " Dan orangorang yang menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih ". Pada waktu ayat ini
2

turun banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakan perintah ini, maka mereka bertanya kepada Nabi yang kemudian dijawab dengan hadits tersebut. d. Bayan Takid, yaitu hadis menguatkan kandungan al-Quran, seperti hadis-hadis yang isinya mewajibkan sholat, zakat, puasa, dan haji. Menguatkan al-Quran dalam maksud sama e. Takhshish Al-am, yaitu memberi ketentuan khusus terhadap ayat-ayat yang masih umum f. Bayan Tasryi, yaitu mewujudkan suatu hukum atau ajaran baru yang tidak di dapati dalam al-Quran

2. Kedudukan Hadits Sebagai Dasar Tasyri Dasar tasyri (syari'at Islam) tidaklah asing bagi kaum muslimin dan tidak diragukan lagi bahwa As-Sunnah merupakan salah satu sumber hukum Islam disamping Al-Qur'an dan dia mempunyai cabang-cabang yang sangat luas, hal ini disebabkan karena Al-Qur'an kebanyakan hanya mencantumkan kaidah-kaidah yang bersifat umum serta hukum-hukum yang sifatnya global yang mana penjelasannya didapatkan dalam As-Sunnah An-Nabawiyah. Oleh karena itu As-Sunnah mesti dijadikan landasan dan rujukan serta diberikan inayah (perhatian) yang sepantasnya untuk digali hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Dan pembahasan tentang sunnah Nabi Shallallhu alaihi wa sallam merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan fikrah islamiyah serta upaya untuk mengenal salah satu mashdar syari'at Islam, apalagi As-Sunnah sejak dulu selalu menjadi sasaran dari serangan-serangan firqah yang menyimpang dari manhaj yang haq, yang bertujuan untuk memalingkan ummat Islam dari manhaj Nabawi dan menjadikan mereka ragu terhadap As-Sunnah. Dalil yang menetapkan tentang kedudukan hadits sebagai dasar tasyri sangat banyak baik berdasarkan Al-Qur'an, hadits itu sendiri maupun ijma (kesepakatan) para sahabat diantaranya;

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat keras hukuman-Nya". (QS.Al Hasyr:7) "Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah Ta'ala. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."(QS.An Nisaa;80)

" Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Para sahabat) bertanya, "Siapa mereka itu yang enggan wahai Rasulullah"? Beliau bersabda : "Barangsiapa yang mentaatiku maka dia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku maka dialah yang enggan masuk surga " (H.R. Bukhari - Muslim) Umumnya kaum muslimin menerima kedudukan hadits sebagai dasar tasyri itu dan hanya sebaigian kecil yang menolaknya (inkarusunnah) namun demikian persoalan yang terpenting adalah bagaimana dalam pelaksanaannya, sebab ayat-ayat dan hadits yang menetapkan kedudukan hadits itu umumnya bersifat teologis sedangkan cara dalam melaksanaannya tidak disebutkan secara eksplisit. Pelaksanaan atau bagaimana hadits diamalkan dikaji dari sudut ilmu hadits atau musthalahul hadits yang niscaya dipelajari bagi setiap muslim yang menginginkan hanifan lidinihi (benar dan lurus dalam agamanya) 3. Fungsi hadits dalam tasyri Ada empat fungsi hadits dalam tasyri' (ajaran Islam) yakni sebagai; a) Hujjah atau dalil agama islam yakni sebagai argumentasi yang bersifat aqliyah (pemikiran) disamping al-Qur'an. b) Bayan yakni yang menjelaskan kandungan Al-Qur'an yang masih global dan umum yang belum rinci.
4

c) Taqyid yakni memperkuat sesuatu yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an. d) Manhaj yakni pedoman amaliyah bagi kaum muslimin. Empat fungsi ini yang jarang diperhatikan bagi umumnya kaum muslimin terlebih aturan main dalam menggunakan ke-empat fungsi tersebut. Untuk bisa mengamalkan 4 fungsi hadits diatas, seseorang mesti mengetahui dan memahami konsepsi dasar yang berkenaan dengan hadits sekurang-kurangnya berikut ini; a. Mengetahui maksud hadits dalam tataran praktis b. Mengetahui perbedaan hadits dengan al-Qur'an c. Ragam dan istilah yang berkenaan dengan hadits (musthalahul hadits) d. Kualifikasi hadits e. Pengamalan hadits f. Problematika hadits B. KEHUJJAN HADIS
Yang dimaksud dengan kehujahan Hadits (hujjiyah hadits) adalah keadaan Hadits yang wajib dijadikan hujah atau dasar hukum (al-dalil al-syari), sama dengan Al-Quran dikarenakan adanya dalil-dalil syariah yang menunjukkannya. Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Ushul Al-Fiqh Al-Islami, orang yang pertama kali berpegang dengan dalil-dalil ini diluar ijma adalah Imam AsySyafiI (w. 204 H) dalam kitabnya Ar-Risalah dan Al-Umm. Kehujahan hadits sebagai dalil syara telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qathiy yang menuturkan tentang kenabian Mohammad saw. Selain itu, keabsahan hadits sebagai dalil juga ditunjukkan oleh nash-nash qathiy yang menyatakan, bahwa beliau saw tidak menyampaikan sesuatu (dalam konteks syariat) kecuali berdasarkan wahyu yang telah diwahyukan. Semua peringatan beliau saw adalah wahyu yang diwahyukan. Oleh karena itu, hadits adalah wahyu dari Allah swt, dari sisi maknanya saja, tidak lafadznya. Hadits adalah dalil syariat tak ubahnya dengan al-Quran. Tidak ada perbedaan antara alQuran dan Hadits dari sisi wajibnya seorang Muslim mengambilnya sebagai dalil syariat. Di dalam al-Qur'an sendiri kita dapati perintah-perintah, akan tetapi tidak disertakan bagaimana pelaksanaannya, seperti misalnya perintah shalat, puasa dan sebagainya. Dalam hal yang demikian ini tidak lain kita harus melihat kepada hadits .Bukankah Allah telah berfirman di dalam alQur'an:

Artinya: "Dan Kami menurunkan kepada kamu adz-dzikr, agar engkau menjelaskan kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka." (an-Nahl: 44)

Jika sekiranya, hadits itu bukan merupakan hujah dan tidak pula merupakan penjelasan atas al-Qur'an, sudah tentu kita tidak akan dapat melaksanakan, bagaimana cara kita beribadah dan melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat di dalam al-Qur'an Sabda Nabi SAW :

Artinya: "Ingat! Bahwa saya diberi al-Quran dan yang seperti al-Quran (Hadits)." (H.R. Abu Daud) Karena itu, hadits, baik ia menjelaskan al-Qur'an atau berupa penetapan sesuatu hukum, umat Islam wajib mentaatinya. Apabila kita teliti, hadits terhadap al-Qur'an, dapat berupa menetapkan dan mengokohkan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam al-Qur'an, atau berupa penjelasan terhadap al-Qur'an, menafsiri serta memperincinya, atau juga menetapkan sesuatu hukumyang tidak terdapat di dalam al-Qur'an. Hal ini juga dikemukakan oleh Imam asy-Syafi'i di dalam ar-Risalahnya. Jika sekiranya, hadits itu bukan merupakan hujah dan tidak pula merupakan penjelasan atas al-Qur'an, sudah tentu kita tidak akan dapat melaksanakan, bagaimana cara kita beribadah dan melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat di dalam al-Qur'an

C. GOLONGAN INGKAR SUNNAH Inkar Sunnah : Kehilangan Akar Sejarah Secara paradigma pemikiran dan pemahaman, sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah, dan Syiah (Rafidhah). Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tetapi, dari segi golongan atau kelompok yang terpisah dan berdiri sendiri, inkar Sunnah ini sesungguhnya tidak pernah eksis kecuali pada masa penjajahan
6

kolonial Inggris di India sekitar abad delapan belas. Barangkali, satu-satunya kitab turats yang di dalamnya ada pembahasan khusus yang membantah pemahaman orangorang inkar Sunnah yang menunjukkan. keberadaannya adalah kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi'i, yang memang waktu itu sempat berhadapan dengan mereka. Adapun kitab-kitab turats lain, biasanya. hanya membahas masalah kedudukan Sunnah dalam syariat Islam serta hukum orang yang mengingkarinya. Misalnya, Al-Kifayah fi 'Ilm ArRiwayah (Imam Al-Khathib Al-Baghdadi), Syarh As-Sunnah An-Nabawiyyah (Imam Abu Muhammad Al-Baghawi), dan Miftah Al-Jannah fi Al-Ihtijaj bi As-Sunnah (Imam Jalaluddin As-Suyuthi). Semestinya, apabila kelompok inkar Sunnah benar-benar pernah ada wujudnya dalam perjalanan sejarah Islam, tentu akan mudah ditemui kisahnya dalam kitab-kitab. Tarikh yang besar semacam; Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk (Imam Ibnu Jarir AthThabari), Tarikh Al-Islam (Imam Adz-Dzahabi), Al-Bidayah wa An-Nihayah (Imam Ibnu Katsir), Tarikh Dimasyq (Ibnu Asakir), Al-Kamil fi At-Tarikh (Ibnul Atsir), dan Tarikh Baghdad (Al-Khathib Al-Baghdadi). Padahal, betapa banyaknya tokoh-tokoh sesat yang bernasib tragis yang kisahnya dimuat dalam kitab-kitab sejarah Islam. Sebutlah misalnya; Abdullah bin Saba' yang akan dibakar oleh Ali bin Abi Thalib, tetapi berhasil melarikan diri; Al-Harits bin Said Al-Mutanabbi (79 H) yang dihukum mati dengan cara dilempar tombak di tiang salib oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi; Ma'bad Al-Juhani Al-Qadari (80 H) yang juga dihukum mati oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan; Ghailan Ad-Dimasyqi Al- Qadari (105 H) yang dihukum salib dan dipenggal lehernya oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik; Abbad Ar-Ru'aini Al-Khariji (107 H) dibunuh oleh Gubernur Yaman Yusuf bin Umar; Ammar bin Yazid Bakhdasy (118 H) yang dipotong tangannya dan disalib oleh Gubernur Irak Khalid bin Abdillah Al-Qasri; Al-Ja'd bin Dirham (124 H) yang disembelih pada hari raya idul adha layaknya qurban juga oleh Khalid bin Abdillah Al-Qasri; Al-Jahm bin Shafwan (128 H) yang dibunuh oleh Salam bin Ahwaz, kepala kepolisian pada masa Khalifah Marwan Al-Himari, khalifah terakhir Bani Umayyah; Bisyr Al-Marrisi, seorang tokoh Muktazilah yang menghilang tak tentu rimbanya karena takut akan dibunuh oleh Khalifah Harun Al-Rasyid; Al-Husain bin Manshur Al-Hallaj (309 H), tokoh sesat sufi yang dihalalkan darahnya dan dikafirkan oleh para ulama dan kaum
7

muslimin ketika itu yang kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Khalifah Al-Muqtadir Billah. Dan masih banyak lagi yang lain. Akan tetapi, dari sekian banyak tokoh sesat lagi menyesatkan yang mengemuka dan dicatat oleh sejarah, tidak satu pun di antara mereka yang dikenal sebagai seorang yang berpaham inkar Sunnah. Atau lebih khusus lagi, seharusnya mereka juga mudah ditemukan dalam kitab-kitab yang membahas golongan-golongan dalam Islam atau dinisbatkan ke Islam atau yang pernah bersinggungan dengan Islam. Seperti; Al-Milal wa An-Nihal (Abul Fath Asy-Syahrastani/w. 548 H) dan Al-Farq Baina Al-Firaq (Abu Manshur Al-Baghdadi/w. 409 H)). Atau buku-buku dalam masalah ini yang muncul belakangan, seperti; Al-Madzahib Al-Islamiyyah (Syaikh Muhammad Abu Zuhrah) dan Islam Bila Madzahib (DR. Musthafa Syak'ah). Namun, faktanya tidaklah demikian. Mereka benar-benar tidak terekam dalam sejarah. Jadi, aliran sesat inkar Sunnah ini memang bagaikan hantu yang muncul tiba-tiba. Mereka pernah terdengar beritanya hingga abad kedua Hijriyah, itu pun sayup-sayup. Selanjutnya, mereka lenyap ditelan bumi. Tidak ada kabar, tidak ada suara, dan tiada wujud. Kemudian, setelah berabad-abad lamanya (sekira sepuluh abad) tahu-tahu mereka muncul di India. Tentu hal ini membuat orang waras bertanya-tanya, kenapa kemunculan mereka berbarengan dengan masa penjajahan Inggris? Ke mana saja inkar Sunnah ini selama sepuluh abad sebelumnya?

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar faham ingkar sunnah: a. Kesempurnaan Al Quran Semua persoalan telah tercakup, dirinci, dan dijelaskan oleh Al-Quran sehingga untuk menjelaskan agama tidak diperlukan lagi keterangan dari luar AlQuran.

b. Al-Quran sebagai sumber ajaran yang terjaga kemurniannya


8

Bahwa hanya Al-Quran yang dijaga kemurniannya, sedangkan hadits tidak. c. Nabi hanya memerintahkan penulisan Al-Quran dan bahkan melarang penulisan hadits. d. Ajaran agama harus didasarkan kepada dalil yang qathi bukan yang dzanni.

Bahwa sebagian besar hadits adalah ahad dan itu adalah dzanni, maka tidak tidak boleh dijadikan dasar bagi agama. Dalam hal ini, setidaknya ada enam kelemahan inkar Sunnah di hadapan Ahlu Sunnah: 1. Ahlu Sunnah selalu eksis sejak masa Nabi dan sahabat hingga sekarang. Dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa terputus sedetik pun, senantiasa bersambung. Dan, insya Allah hingga Hari Kiamat kelak. Amin. Inkar Sunnah baru eksis 1200 tahun setelah wafatnya Nabi. 2. Ahlu Sunnah selalu dapat mengalahkan argumentasi orang yang mengingkari Sunnah pada dua abad pertama paska wafatnya Nabi ketika secara personal mereka pernah ada. Orang yang mengingkari Sunnah selalu kalah jika berhadapan dengan para ulama Ahlu Sunnah ketika itu. 3. Ahlu Sunnah mempunyai khazanah keilmuan yang sangat melimpah dalam berbagai disiplin ilmu; Al-Qur'an dan ilmu-ilmu Al-Qur'an, tafsir Al-Qur'an, kitab-kitab hadits dan ilmu-ilmu hadits, fikih dan ushul fikih, sejarah Islam dan madzhab-madzhab dalam Islam, dan lain-lain. Semuanya penuh dengan haditshadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Inkar Sunnah sama sekali tidak memiliki kekayaan intelektual sebagaimana Ahlu Sunnah. 4. Setiap abad, setiap masa, dan setiap saat, selalu saja ada tokoh ulama Ahlu Sunnah dan para imam yang mengemuka. Nama-nama mereka tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam, terutama dalam literatur biografi yang
9

menyebutkan berbagai kelebihan dan sumbangsih mereka dalam menegakkan agama Islam. Inkar Sunnah tidak memiliki tokoh-tokoh seperti Ahlu Sunnah, kecuali setelah abad delapan belas Masehi. Itu pun tercatat dengan noda merah. Banyak di antara tokoh inkar Sunnah yang hidupnya berakhir dengan mengenaskan, setimpal dengan dosa-dosanya. 5. Ahlu Sunnah, baik ulamanya ataupun umat Islam secara umum, banyak terlibat dalam perjuangan (baca; jihad) melawan musuh-musuh Islam. Kemenangandemi kemenangan pasukan kaum muslimin atas musuh-musuhnya tercatat dengan indah dalam sejarah. Adapun inkar Sunnah, justru tercatat sebagai orang-orang atau kelompok yang diperangi oleh kaum muslimin. Mereka adalah 'pe-er' bagi umat Islam. Mereka adalah musuh dalam selimut. 6. Para khalifah, sejak masa Khulafa'ur rassyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Daulah Utsmaniyah, adalah orang-orang yang memegang teguh memegang Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Inkar Sunnah tidak memiliki peran apa pun dalam pemerintahan Islam. Tidak ada satu pun khalifah dalam sejarah Islam yang berpaham inkar Sunnah. Menanggapi golongan inkar sunah, ada jawaban-jawaban yang menunjukkan atas kelemahan argument mereka. a. Al-Quran memberikan petunjuk kepada manusia yang berupa kaedah-kaedah dan prinsip kehidupan yang sempurna, sebagian dinyatakan secara rinci dan sebagian besar dinyatakan secara global. Uraian selengkapnya, apalagi yang bersifat teknis dan praktis diserahkan kepada Nabi untuk diikuti oleh umatnya. Hal ini juga diperkuat dengan masih turunya beberapa ayat setelah turunya ayat tentang kesempurnaan agama pada surat al-Maidah ayat3. b. Pemeliharaan akan kemurnian ad-dzkir tidak terbatas pada al-Quran saja, tetapi yang dimaksud adalah syariat ALLAH yang diturunkan kepada Nabi, meliputi al-Quran, sunnah Nabi , bahkan termasuk pikiran-pikiran jernih umatnya. Firman Allah surat an-Nahl ayat 43:

10

Apakah ahlu ad-dzikr disini adalah ahli al-Quran saja ? c. Larangan penulisan hadist pada masa Nabi adalah demi kemaslahatan , yakni penulisan al-Quran lebih maslahat daripda penulisan hadist. Meskipun demikian, bagi sahabat yang mempunyai ketelitian menulis masih diperbolehkan menulis hadist d. Istilah dzani didalam surat yunus ayat:36 bukanlah dimaksutkan untuk mendiskriditkan hadist, tetapi ini sebagai informasi bahwa dzani ( hasil renungan orang belaka ) tidak akan melawan kebenaran yang pasti yakni ajaran yang dibawa nabi, baik yang terkandung dalam al-quran maupun hadist Nabi, bahkan masalah hukum, tidak sedikit persoalan- persoala n yang tidak di dasarkan pada dzanni

11

BAB III
KESIMPULAN Pada dasarnya fungsi dan kedudukan hadist adalah sumber ajaran Islam setelah al-Quran, dimana hadis menjelaskan atau menerangkan aturan-aturan dan ajaran dalam al-Quran. Hal ini telah dijelaskan dalam kehujjahan hadist, yang menjadikan hadis sebagai dasar hukum. Namun pada praktiknya terdapat golongan ingkar sunnah yang mana Kehilangan Akar Sejarah Secara paradigma pemikiran dan pemahaman. Golongan ingkar sunnah ini sudah muncul sejak dahulu.golongan inkar sunnah tersebut merupakan sekelompok kecil dari kalangan ulama dan umat islam yang menolak hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Hal ini karena kepedulian terhadap al-Quran sehingga kurang memahami fungsi dan kedudukan hadis. Namun pada golongan ini Imam Syafii telah menulis bantahan terhadap argumen mereka dan bisa membuktikan keabsahan hadis

DAFTAR PUSTAKA
12

Ramdhani Muhammad.2008. http://roudhotul.blogspot.com Anonim.2007.Handout Materi Hadist.Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga.Yogyakarta Zigam Muhlisin dkk.2011. Pengertian Hadist dan Unsur-Unsurnya . UIN Sunan Kali Jaga. Yogyakarta http://www.akhirzaman.info/islam/miscellaneous/1523-kedudukan-dan-fungsi-haditsdalam-tasyri-serta-pengamalannya.html

13