Anda di halaman 1dari 4

RANGKUMAN HASIL RAPAT PIMPINAN RS KATOLIK ANGGOTA PERDHAKI Manado, 4 7 Agustus 2011

Rapat Pimpinan RS Katolik Anggota Perdhaki yang berlangsung tanggal 4 7 Agustus 2011 di Manado, diikuti oleh 276 peserta, yang mewakili unsur unsur para pemilik, pengelola dan pimpinan manajemen 80-an RS Perdhaki dari seluruh Indonesia. Tema RAPIM adalah Upaya RS Katolik dalam Memenuhi Ketentuan Undang Undang dan Peraturan Pelaksanaannya. Rapat telah mendengarkan masukan dalam sidang pleno, sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Laporan Ketua Panitia Pelaksana : Prof. DR. dr. Linda, SpPD Laporan Ketua Badan Pengurus Perdhaki Pusat : DR. dr. E. Widyastuti Wibisana, MSc (PH) Sambutan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara : Dr. Sinyo Harry Sarundayang Renstra Perdhaki 2010 2015 oleh dr. Antonius Roy Tjiong, MPH RPP tentang RS, Perkembangan, Peluang dan Ancaman oleh Prof. DR. dr. Herkutanto, SH Penggunaan obat secara rasional oleh Dra. Nani Sukasediati, Apt. Kelemahan kelemahan internal organisasi, akuntabilitas dan budaya kerja di RS Katolik yang dimiliki / dikelola oleh biarawati : Sr. Marita, CB. Resume Health Care Ministry in Transition oleh Drs. Jos Gustama. How to Consolidate The Internal Organization in a Sisters Owned Catholic Hospital to Conquer The External Threat : Ms. Han May Ching Mt. Alvernia Hospital, Singapore. 10. Upaya Pembenahan Internal RS, Organisasi dan Budaya Kerja : dr. Albert Hendarta, MPH dan DR. dr. Stephanus Indradjaja, MPH. 11. Akreditasi RS : dr. Petrus Maturbongs. 12. HIV / AIDS Mainstreaming di RS Masyarakat, Timika : dr. Paulus Sugiarto. 13. Kolaborasi dengan Paroki dan Umat Basis dalam pelaksanaan Program Malaria di Sulawesi Utara Tengah : dr. Anton tumbol. 14. Bedah buku Pedoman Akuntansi RS Anggota Perdhaki oleh Prof. Hiro Tugiman, Ibu Rosita, SE. Ak dan Ketua Tim Penyusun Buku. 15. Program Promosi Kessehatan Rumah Sakit (PKRS) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Lingkungan Internal RS oleh Tim Promosi Kesehatan Kementrian Kesehatan RI (Dra. Marlinda Ginting, Dra. Theresia Indrawati dan Medawati Silalahi). 16. Komunitas Medik Katolik Indonesia dan rencana pertemuan Asian Catholic Medical Association di Bali, 2012 oleh dr. Harjadi Widjaja dan dr. Albert Hendarta, MPH. Setelah membahas masukan tersebut dalam enam sidang kelompok dan sidang pleno hasil diskusi kelompok, peserta mencapai kesepakatan bersama atas hal hal berikut : 1. Segenap pimpinan RS KAtolik menyadari pentingnya melakukan upaya pembenahan internal guna menghadapi tuntutan perundang undangan dan tantangan perkembangan terhadap mutu dan jangkauan pelayanan RS ke masa depan. Upaya pembenahan internal RS Anggota Perdhaki meliputi :

Pemantapan spiritualitas dan cirri khas pelayanan yang digariskan tarekat / pemilik RS, seperti : pastoral care . Peningkatan infrastruktur manajemen untuk keluar dari zona aman dan nyaman dan menjawab tantangan masa kini. Peningkatan profesionalitas SDM pemilik RS, khususnya para suster dan peningkatan IQ, EQ, SQ, RQ, CQ SDM karyawan RS. Untuk itu akan dilakukan kerja sama dengan lembaga lembaga pendidikan termasuk YPMK. Penyerahan manajemen RS kepada awam. Peningkatan remunerasi, kesejahteraan karyawan, serta pengembangan karier untuk meningkatkan loyalitas. Pengembangan usaha untuk meningkatkan penghasilan rumah sakit, khususnya di kota besar. Pengembangan komunikasi terbuka secara internal di antara pemilik dan pelaksana pelayanan, serta untuk mengkonsolidasikan tri pilar yaitu keuskupan, tarekat dan awam. 2. Di bidang peencanaan, dengan mengacu pada Renstra Perdhaki, pemilik / pengelola RS Katolik Anggota Perdhaki memandang perlunya : Perdhaki pusat mendukung pembangunan kapasitas (capacity building) unit anggota dalam menerapkan Renstra Perdhaki melalui berbagai pendidikan dan pelatihan. Perdhaki pusat mengusulkan kepada Kementrian Kesehatan untuk menyediakan dana bantuan kepada RS swasta, khususnya yang kecil. Ada pengembangan terobosan terobosan, misalnya : perkembangan evidence based medicine, patient - focus dan patient participation termasuk peran kaum religius, tenaga kesehatan dan awam dalam memberi contoh yang baik di bidang kesehatan. 3. Dalam memenuhi tuntutan perundang undangan serta peraturan pelaksanaan di bidang kesehatan, kedokteran, manajemen keuangan, serta mananjemen mutu dalam pelayanan perumahsakitan, RS anggota Perdhaki berpandangan : Perlu disediakan pengaturan khusus untuk RS berciri khas agama sebagai institusi sosial non profit, antara lain : dalam klasifikasi RS, penyaluran dana Jamkesda, privilege dalam regulasi perpajakan serta penyediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum (termasuk tempat ibadah spesifik untuk semua agama). Dengan demikian diharapkan RS berciri khas agama, yang pada hakekatnya sudah merupakan fasilitas sosial karena menolong masyarakat yang tidak mampu, tidak terbebani secara berlebihan. Perlu dibuat ketegasan batas batas proses supervise RS yang dilakukan Dinas Kesehatan dan badan Pengawas RS, agar tidak memberatkan dan membingungkan RS. Disarankan agar hanya ada satu sistem pengawasan yang komprehensif dan terpadu dari berbagai aspek penyelenggaraan RS.

Perlu advokasi dari Perdhaki Pusat agar RS dan unit non RS dalam satu jaringan pelayanan dapat dipayungi oleh satu yayasan sehingga tidak mempersulit unit unit di daerah. Perlu advokasi dari Perdhaki Pusat untuk mendapat fasilitas dan perlakuan khusus dari Pemerinta demi kelangsungan pelayanan RS swasta di daerah, khususnya dalam pemenuhan tenaga medis (umum dan spesialistik) serta penetepan standar minimal (misalnya IPAL). Perlu ada sistem pusat informasi Perdhaki untuk menjamin kelancaran dan kecepatan berbagai informasi, khusunya untuk mensosialisasikan dan membahas peraturan perundangan yang baru atau yang akan segera diberlakukan, serta untuk rekrutmen SDM kesehatan (termasuk kerja sama dengan fakultas kedokteran Katolik). 4. Upaya meningkatkan manajemen keuangan RS mengacu kepada akuntansi RS anggota Perdhaki dengan langkah langkah : Menerapkanaudit internal. Mengusahakan pelatihan dan pendampingan sistem akuntansi bagi RS yang membutuhkan, termasuk dalam pengintegrasian ke dalam sistem yang sudah ada dalam bentuk piranti lunak ( software ). Memperbaiki tax planning . Memastikan pemahaman masalah perpajakan oleh tenaga akuntansi RS. Melakukan evaluasi dan tindak lanjut setelah pedoman akuntansi RS diterapkan. 5. Upaya untuk menerapkan pendekatan pelayanan RS yang komprehensif dan holistik dilaksanakan dengan Promosi Kesehatan Rumah Sakit / perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PKRS/PHBS) sebagai bagian integral pelayanan RS guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan yang berorientasi pemberdayaan kemandirian kesehatan bagi masyarakat. Untuk itu : Perlu dilakukan upaya advokasi, sosialisasi dan edukasi / pemberdayaan masyarakat pengguna RS dengan kerja sama keuskupan / paroki / umat basis, kerja sama dengan ikatan profesi terkait (termasuk kolegium spesialis), kerja sama dengan Pemerintah Pusat / Daerah, serta lembaga / institusi masyarakat terkait (misalnya media massa). Perlu dijajaki kemungkinan menunjuk Perdhaki Pusat dan Wilayah sebagai koordinator struktural kegiatan kesehatan di hirarki Gereja Katolik dari tingkat KWI, keuskupan sampai ke paroki. Perlu ada dukungan konkrit Pemerintah dalam bentuk penegakan hukum, serta dalam penyediaan dana untuk penerapan berbagai kegiatan PKRS / PHBS, misalnya melalui koordinasi CSR perusahaan perusahaan setempat yang tidak bertentangan dengan prinsip PHBS.

6.

Upaya peningkatan mutu pelayanan RS Katolik Anggota Perdhaki dijalankan dengan menerapkan akreditasi, ememnuhi ketentuan perundangan, penerapan pengobatan rasional dan kebijakan RS dalam HIV / AIDS Mainstreaming dengan : Kerja sama antar RS untuk saling mempersiapkan akreditasi, sebagai syarat kelangsungan izin RS serta sebagai peluang untuk semakin memperkuat posisi RS Katolik yang sudah dipercaya di masyarakat. Fasilitasi dan advokasi dari Perdhaki Pusat dan Wilayah terhadap Kementrian Kesehatan dan Pemerintah Daerah demi perbaikan peraturan perundangan sehingga tidak menyulitkan pelayanan RS Katolik dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya di daerah. Peningkatan rasionalitas terapi dengan perbaikan formularium, kerja sama dalam penyediaan obat, dan PKMRS. Mainstreaming pelayanan HIV / AIDS dengan edukasi masyarakat, VCT, peningkatan keamanan karyawan dengan penerapan ketat Standard Precautions (d/h Universal Precautions) dan perbaikan surveilans (dengan focus pada umpan balik dan edukasi kepada karyawan) serta pengalihtugasan karyawan HIV positif tanpa memberhentikan mereka. Pembuatan sistem monitoring terhadap berbagai upaya peningkatan mutu pelayanan.

Hasil Diskusi Kelompok menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkuman ini. Demikian rangkuman hasil Rapim RS Katolik Anggota Perdhaki 2011 untuk dilaksanakan dengan sebaik baiknya sesuai dengan tuntutan perundangan serta situasi dan kondisi setempat.

Manado, 7 Agustus 2011