Anda di halaman 1dari 4

Semua yang berhubungan dengan sifat, bakat, perilaku dan cita-cita saya tidak bisa saya utamakan untuk

kepentingan diri saya sendiri, Mengapa? Karena saya harus sadar, bahwa di dunia ini saya tidak hidup sendiri tapi melainkan saya hidup sebagai mahluk sosial yang berhubungan dengan orang banyak dan saling membutuhkan satu sama lain. Secara tidak sadar dan mau tidak mau saya harus bisa menyeimbangi semua kebaikan dan keburukan saya dengan lingkungan sekitar dan ini terbukti di lingkungan kerja saya sekarang. Sebagai contoh, Saya terkadang suka cepat emosi jika kondisi saya sedang banyak masalah, kebetulan di tempat kerja saya sekarang saya bertanggung jawab penuh atas semua segi opersional dan non operasional di Pabrik.

Saya bekerja dalam team yang ber anggotakan 10 orang, jika atau tiba-tiba salah satu anggota team saya ada melakukan kesalahan dan kebetulan kondisi saya memang sedang tidak stabil, saya pasti langsung marah atau maki-maki anak tersebut dan tanpa sadar hal tersebut saya ulangi berkali-kali bahkan saya sama sekali tidak memikirkan hal negative apa atau resiko apa yang diterima oleh team saya setelah saya memaki-maki mereka. Lama kelamaan saya intropeksi diri dan sadar bahwa hal tersebut adalah salah. Bukan berarti seorang pemimpin hanya bisa memarahi team nya jika salah satu anggota team tersebut melakukan kesalahan, seorang pemimpin yang benar adalah seseorang yang harus bisa memberikan contoh perilaku, sifat serta tingkah laku yang baik kepada anak-anak nya dan bukan memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak nya.

Saya dilahirkan dari keluarga sederhana,sebuah keluarga yang bisa di bilang harmonis, sebuah keluarga dengan kelebihan dan kekurangannya, Rumah kami terbilang sederhana, tetapi sangat sejuk untuk ukuran rumah bertype 16 x 9. sebuah keluarga yang membuat saya termotifasi untuk mencari rezeki dan mencari ilmu dalam waktu bersamaan,

Kalian tau maksudnya?, Ya, saya bekerja sekaligus kuliah untuk mendapatkan ilmu, Kalau boleh jujur, saya haus akan ilmu, Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi begitulah adanya,

Saya bekerja di PT. Coca Cola, sebuah pabrik minuman berkarbonasi yang sangat terkenal pada massanya, mungkin hingga hari ini. Sebuah pabrik yang menjadi tumpuan dan harapan ribuan umat manusia, Saya tidak habis pikir apa yang akan terjadi jika pabrik itu ditutup. Saya bekerja di bagian gudang limbah, pekerjaan yang cukup mudah menurut saya. Mungkin para pekerja lain akan segera pulang dan beristirahat setelah letih beraktifitas seharian di pabrik tersebut. Tetapi tidak untuk saya. Tau alasannya??? Ya,,,setelah pulang kerja, saya melanjutkan beraktifitas mencari ilmu. Saya kuliah di Universitas Gunadarma, universitas swasta yang cukup bonafit, Sebelumnya saya kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor), mengapa saya tidak melanjutkan di IPB?. Nanti saya akan ceritakan.

Di universitas tersebut saya mengambil kelas malam, dikarnakan paginya saya bekerja, Mungkin bisa ditebak untuk apa saya bekerja,, Ya,, saya bekerja untuk membiayai kuliah saya yang per-semesternya lumayan mahal untuk ukuran kantong seperti saya.

3 tahun yang lalu saya lulus dari SMA, dan pada saat itu saya sangat optimis untuk menyambut masa depan, Tetapi kenyataan berkata lain. Setelah lulus SMA, saya mendaftar di IPB melalui jalur SMPB kalo tidak salah, Apa yang terjadi? Alhasil saya mendapatkan perguruan negri tinggi yang saya impikan, Saya bangga akan diri saya pada saat itu, dikarenakan di antara teman-teman kelas saya, hanya saya yang mendapatkan perguruan tinggi negri. Akan tetapi tuhan berkata lain,,,! Ayah saya yang saat itu menjadi buruh pabrik tidak mampu membiayai uang pembangunan di PTN tersebut. Apa daya, saya harus menunda mencapai kesuksesan, Akan tetapi saya tidak putus asa, banyak sekali yang mensupport saya untuk jadi yang lebih baik, karena mungkin mereka percaya kalau saya adalah bukan tipikal orang yang menyerah pada keadaan. Sempat merasakan jadi pengangguran kurang lebih selama 3 bulan, akhirnya saya bekerja di tempat yang sama dengan ayah saya bekerja, Ya,, saya menjadi bawahan ayah saya, dan itu cukup memudahkan saya untuk leluasa bekerja di sana. 1 tahun telah saya lewati untuk bekerja di sana, dan pada akhirnya saya memutuskan untuk kuliah malam, saya mengambil jurusan S1 Sistem Informasi. Mengapa saya mengambil jurusan itu ? Itu dikarenakan saya menyukai segala hal yang berbau computer. Walau pun saya harus mengorbankan tubuh saya untuk bekerja keras dan mencari ilmu, saya rela. Walau pun saya harus

Karena saya yakin suatu saat pengorbanan yang telah saya lakukuan ini akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan.

Inilah sebagian kecil deskripsi tentang diri saya, karena kalau saya masih harus menceritakan lagi, tidak ada akan habisnya karna pengalaman hidup saya yang membuat saya sadar bahwa saya merasa banyak melakukan kesalahan, sangat begitu banyak, dan semua ini saya jadikan pengalaman hidup saya yang sangat berharga.

Terkadang kita merasa hidup kita susah tapi tanpa kita sadari ternyata masih ada orang yang hidupnya lebih susah dari kita. Terkadang kita merasa paling pintar tapi ternyata masih ada orang yang lebih pintar dari kita. Terkadang kita merasa paling kaya dan berkuasa tapi kita harus sadar bahwa hanya ada satu yang berkuasa di dunia ini yaitu ALLAH SWT. Jadikanlah hidup ini menjadi pelajaran dan pengalaman yang paling berharga dalam menjalani dan menghadapi hidup ini dan jangan lupa kita harus tetap bersyukur atas apa yang kita dapatkan.