Anda di halaman 1dari 2

Sedikit Catatan Estetika Cina Dan Jepang Mengutip dari William Willets Chinese Art (1958), kita dapat

simpulkan bahwa unsur-unsur estetika Cina terdiri dari: 1.Kebebasan dan kedaulatan: mereka tidak tergantung dari kemauan atau selera orang lain, selera sang pemesan. 2.Perfeksi (penyempurnaan wujud). Bakat dan tenaga sepenuhnya diarahkan kepada hasil yang sesempurna mungkin. 3.cinta alam, selalu di usahakan agar jiwa seniman bersatu dengan alamdilingkungannya dalam rasa cinta yang intensif. Estetika mereka tumbuh dari kepribadian individu, bukan atas dasar Agama atau falsafah tertentu. Unsur agama dan falsafah masuk dalam kesenian sebagai nara sumber untuk obyek (sasaran) yang digambarkan, sesuai selera, kegemaran dan rasa kepercayaan pribadi sang seniman. Telah disebut bahwa kebudayaan cina menyebar ke Timur dan meliputi kebudayaan Jepang. Penyebaran ini di mulai dalam abad ke-5. penyebaran Agama Buda merupakan bagian yang integral dalam penyebaran kebudayaan cina itu. Hampir semua perwujudan kesenian Cina dibawa ke Jepang, yang sebelum itu masih berada dalam taraf kebudayaan yang primitif. Dawlam seni rupa dan seni bangunan pengaruh keAgamaan Buda tertanam sangat kuat. Kemudian setelah aliran Zen dari buddhisme masuk ke Jepang pada akhir abad ke -11 terjadi perubahaan- perubahan sesuai dengan kepribadian masyarakat setempat. Zennisme yang lebih cocok dengan kepribadian rakyat Jepang membngkitkan kecenderungan masyarakat kembali keagama aslinya, yakni Shinto. Pada tahun 1868 Shinto dijadikan Agama resmi Jepang. Tampa meninggalkan buddhisme sama sekali, kebudayaan Jepang menjadi perkawinaan antara Agama Budha dan Shinto, disebut Ryobo-Shinto yang mengandung pengaruh besar dari aliran Zen.Berdasarkan sintese ini berkembanglah estetika Jepang yang sampai masa industrialisasi moderen masih sangat menonjolkan ciri- ciri khas sebagai berikut: 1.kesedarhanaan (pengaruh Budha). Perwujudan agar sepolos mungkin. Tidak banyak perhiasan. Kepribadian Jepang sangat mencari kesungguhan dan kebenaran dengan kehidupan dalam kesedarhanaan. 2.untuk dapat mempertahankan kesederhanaan ini manusia harus disiplin keras pada dirinya sendiri (engaruh Shinto). Disiplin sangat menonjol daslam kehidupanya sehari-hari, menyerap dalam perwujudan kesenian, hingga merupakan unsur estetik yang khas Jepang.Disiplin dalam goresan, disipli dalam kesederhanaan. (bandingkan Pelikis Lempad di Bali). 3.Logika.Semua perwujudan seni harus memenuhi syarat penggunaan yang praktis. Sebagai akibat insur logika ini, Jepang menjadi unggul dalam _idustrialdesign modern dalam masa kini. Mereka berhasil mewujudkan seni juga dalam bentukbentuk mesin, mobil,kereta api,pesawat terbang, alat televisi.telefon,radio dan komputer. 4.Hemat ruang. Berkaitan dengan logika praktis tersebut maka dalam kesenian Jepang ini tumbuh satu unsur estetika lagi, yakni compactness, unsurpenghematan ruang. Keterbatasan ruang dalam kehidupan hari- hari memaksa meraka menggunakan sedikit mungkin ruang. Kebiasan ini menjadi unsur kebudayaan tersendiri yang meresap dalam konsep Estetika mereka.(Tulisan Dalam JAPAN STYLE, Mitsuni Yoshida: Japanese Aesthetic Ideals 1980) Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India,

Republik Rakyat Cina dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat an sich masih lebih menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Sidharta Budha Gautama/Budha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao Zedong.

Te_ph@yahoo.com