P. 1
STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI SEMAK DAN ANAKAN POHON

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI SEMAK DAN ANAKAN POHON

|Views: 288|Likes:
Dipublikasikan oleh Andi Citra Pratiwi

More info:

Published by: Andi Citra Pratiwi on Oct 15, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2014

pdf

text

original

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI SEMAK DAN ANAKAN POHON

OLEH: ANDI CITRA PRATIWI ICP BIOLOGI 091404170

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup (komponen biotic) dengan lingkungannya (komponen abiotik). Jadi, ekologi mengkaji tentang bagaimana setiap individu berinteraksi dengan lingkungannya dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sekelompok mahluk hidup dengan spesies yang sama dan saling berinteraksi pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu disebut populasi. Kita dapat membayangkan sebuah populasi terdiri atas spesies-spesies tunggal yang secara bersama-sama menempati luas wilayah yang sama, dan berinteraksi satu sama lain dengan mengandalkan sumberdaya dan faktor lingkungan yang sama. Selanjutnya, beberapa populasi mahluk hidup yang hidup bersama pada suatu lingkungan dalam kurun waktu tertentu disebut sebagai suatu komunitas. Komunitas mempunyai beberapa kekhususan, yaitu : 1. Komunitas biotik sebagai campuran hewan dan tumbuhan dalam jumlah besar di suatu habitat, merupakan bagian terbesar dari ekosistem dan dicirikan adanya hubungan interaksi antara komponen biotik dan abiotik. 2. Karena dalam habitat utama biasanya kondisi lingkungan tidak besar variasinya maka tumbuhan yang ada menunjukan kesenangan/perilaku yang khas sesuai dengan kondisi lingkungan itu. Dengan demikian vegetasi merupakan pencerminan iklim dan secara umum keadaan iklim

menampakkan pola vegetasi yang sama. Konsep ini berkembang menjadi indikator. 3. Komunitas sebagai suatu kesatuan sering terlihat batasnya, tetapi batas itu kadang-kadang tidak jelas. Habitat yang diatasnya tumbuh

vegetasi/kehidupan yang khas, atau suatu komunitas

yang dapat

mengkarakteristikkan suatu unit lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang seragam. Vegetasi tersusun atas seluruh tumbuhan yang terdapat pada suatu kawasan dan bagaimana spesies-spesies tersebut berdistribusi secara spasial dan temporal. Yang dimaksud dengan struktur komunitas adalah bentuk dari komunitas dilihat dari stratafikasinya, lapisan (dari atas ke bawah) secara horizontal, bentuk pertumbuhannya, sosialitasnya, asosiasinya antar spesifik serta kerapatan dan biomassa (analisis kuantitatif). Sedang komposisi komunitas adalah anggota spesies. Untuk memahami lebih jauh tentang pola persebaran spesies tumbuhan pada suatu lingkungan, dan bagaimana spesies-spesies tersebut saling berinteraksi dengan lingkungannya, maka kami melakukan praktikum ekologi tumbuhan yang berjudul “Struktur dan Komposisi Vegetasi Semak dan Anakan Pohon”. B. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pola persebaran dan keanekaragaman spesies semak dan anakan pohon. C. Manfaat Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang pola interaksi antar spesies tumbuhan pada suatu

kawasan tertentu, berdasarkan pola struktur dan komposisi spesies-spesies tersebut. Selain itu, mahasiswa juga akan lebih memahami tentang pengaruh faktor-faktor abiotik pada lingkungan terhadap persebaran mahluk hidup secara spasial dan temporal pada lingkungan tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Alam ini sangatlah kompleks. Terjadi interaksi-interaksi antara seluruh jenis spesies yang ada di alam. Komponen abiotik dari lingkungan mempengaruhi eksistensi dari seluruh jenis spesies yang ada. Di alam, setiap hal berhubungan dengan hal-hal lainnya. Karena itu, ketika suatu aspek lingkungan terganggu, maka semua komponen lainnya juga akan ikut terganggu. Untuk memahami interaksi yang kompleks tersebut, maka para ilmuan mempelajari lingkungan pada tingkatan ekosistem. Pemahaman yang menyeluruh tentang ekologi sangatlah penting bagi kelangsungan hidup kita sebagai suatu spesies. Pemahaman tentang ekologi juga diperlukan untuk kelangsungan habitat alami beserta seluruh hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya (Hunter. 1995). Ekosistem adalah tingkatan terendah dari organisasi ekologi dimana faktorfaktor lingkungan direpresentasikan dan dapat berinteraksi dengan bebas. Komponen yang menyusun ekosistem terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Faktor abiotik adalah faktor-faktor fisik dan kimiawi dari lingkungan dimana kehidapan bergantung pada kehadiran faktor-faktor tersebut, meskipun faktor-faktor itu sendiri tidaklah hidup. Faktor abiotik ini biasanya menentukan jenis komunitas tumbuhan dan hewan apa yang dapat berkembang dan tumbuh subur pada daerah tertentu. Faktor-faktor abiotik meliputi intensitas cahaya untuk keperluan fotosintesis, temperature, kelembaban, ketersediaan mineral, dan juga pH tanah (Krebs. 2001). Ciri dari setiap lingkungan adalah variasi jumlah faktor abiotik yang membuat suatu lingkungan berbeda dengan lingkungan lainnya. Karena setiap

spesies mahluk hidup bergantung pada campuran faktor abiotik yang berbeda-beda, maka jumlah faktor abiotik yang tersedia dapat membatasi jenis spesies yang dapat mendiami lingkungan tertentu (Krebs. 2011).

Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Komunitas juga disebut komunitas biologis, dalam biologi, interaksi kelompok dari beragam spesies pada suatu tempat. Sebagai contoh , hutan pepohonan dan semak belukar, dihuni oleh hewan dan berakar ke dalam tanah yang mengandung bacteri dan fungi, merupakan komunitas biologi (Anonimb. 2011). Vegetasi (dari bahasa Inggris: vegetation) dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi biasa dilakukan oleh ilmuwan ekologi untuk mempelajari kemelimpahan jenis serta kerapatan tumbuh tumbuhan pada suatu tempat (Anonima. 2011). Vegetasi (komunitas tumbuhan) diberi nama atau digolongkan berdasarkan spesies atau bentuk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan yang fungsional. Oleh karena itu, maka kita dapat menyatakan suatu komunitas seperti vegetasi padang rumput, vegetasi pantai pasir, vegetasi kebun teh, dan vegetasi hutan bakau. Dalam mempelahajri vegetasi pengamat melakukan penelitian terhadap unit penyusun vegetasi di tempat dilakukan penelitian. Unit penyusun vegetasi (komunitas) adalah populasi, sedangkan unit penyusun populasi adalah semua individu yang berada di tempat pengamatan dilakukan. Kajian mengenai vegetasi mengungkapkan sifat dari setiap populasi sehingga dapat menggambarkan vegetasi berdasarkan karakteristik suatu populasi tersebut (Supriatno. 2001). Menurut Supriatno (2001), gambaran tentang suatu vegetasi dapat dilihat dari keadaan unit penyusun vegetasi yang dicuplik. Hal tersebut dapat dinyatakan dengan variabel berupa nilai dari: 1. Kerapatan. Kerapatan menggambarkan cacah anggota populasi per satuan unit cuplikan (luas dalam metode kuadrat atau panjang dalam metode line intercept). Dalam penggunaan metode kuadrat, kerapatan sering dinyatakan sebagai kepadatan (density). Kepadatan diartikan sebagai cacah individu untuk setiap

unit sampling (luasan). Kerapatan sering juga disamakan dengan kelimpahan (abundance), merupakan ukuran rerata keberadaan spesies tumbuhan pada unit cuplikan (kuadrat atau segmen) tumbuhan yang dimaksud berada. 2. Penutupan (cover), adalah persentase daerah yang ditutupi oleh kanopi dari setiap unit cuplikan. Kanopi dari tumbuhan membuat suatu lingkungan mikro yang lebih kecil. Penutupan dapat pula dinyatakan dengan dominansi. Dominansi merupakan basal area atau naungan tajuk per satuan luas. 3. Frekuensi, adalah presentase terdapatnya tumbuhan dalam unit cuplikan atau merupakan fraksi (bagian) unit cuplikan yang didapatkan adanya spesies tertentu. Semua nilai untuk analisis vegetasi tersebut diatas dapat dihitung secara mutlak (absolute) maupun secara nisbi (relatif). Nilai mutlak merupakan nilai yang diperoleh untuk menggambar keberadaan spesies tumbuhan tertentu dari totalitas unit cuplikan yang dilakukan. Sedangkan nilai relatif merupakan perbandingan keberadaan spesies tumbuhan dibandingkan dengan totalitas keberadaan semua spesies pada semua unit cuplikan yang diambil (Supriatno. 2001). Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (spesies richness), jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya dalam kelimpahan relatif (relative abundance). Beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spersies yang jarang, sementara komunitas yang lain mengandung jumlah spesies yang sama dengan spesies yang semuanya umum ditemukan. Suatu komunitas berbeda yang memiliki kekayaan spesies yang sama, tetapi jumlahnya terbagi secara merata diantara kesepuluh spesies itu, akan kelihatan lebih beranekaragam. Sesungguhnya, istilah keanekaragaman spesies seperti yang digunakan oleh para ahli ekologi,

mempertimbangkan kedua komponen keanekaragaman: kekayaan spesies dan kelimpahan relative (Campbell, et al. 2004) Istilah kekayaan spesies (Species richness) merujuk pada jumlah spesies pada suatu komunitas, dan secara langsung dihubungkan dengan pengukuran

keanekaragaman spesies pada suatu daerah tertentu (Anonimc. 2011). Kemerataan

spesies merujuk pada seberapa dekat jumlah setiap spesies pada suatu lingkungan. Secara matematis, kemerataan didefinisikan sebagai indeks diversitas, sebuah ukuran biodiversitas yang mengukur seberapa meratakah suatu komunitas secara numeric. Jadi, jika ada 40 serigala dan 1000 anjing, maka komunitas tersebut tisak begitu merata. Namun, jika ada 40 serigala dan 42 anjing, maka komunitas tersebut sangatlah merata. (Anonimd. 2011). Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut dengan hukum toleransi (Anonime. 2011). Faktor biologi yang mempengaruhi organisme sapat berupa interaksi antar komponen biologis dalam lingkungan tempat hisup organism tersebut. Interaksi antarkomponen biotik dapat merupakan interaksi antarorganisme,antarpopulasi, dan antarkomunitas (Anonimf. 2011). A. Interaksi antar organisme Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut: netral, predasi, parasitisme, komensalisme, dan mutualisme. B. Interaksi Antarpopulasi Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya. Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.

C. Interaksi Antar Komunitas Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.

BAB III METODE PENGAMATAN

A. Waktu dan Tempat Hari/ tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan 1. Alat: a. Patok b. Tali rafiah c. Meteran d. Mistar 2. Bahan: a. Semak dan anakan pohon di lapangan Fakultas Teknik UNM C. Langkah Kerja 1. Buat 3 transek sepanjang 100 m dengan menggunakan tali plastik. Jarak antar transek adalah 10 meter. 2. Buat plot kuadrat dengan ukuran 2 x 2 m. Buat sebanyak 20 plot, dengan jarak 1 meter antara setiap plot. 3. Data setiap jenis tumbuhan semak dan anakan pohon yang ada pada setiap plot. Ukur luar penutupan masing-masing spesies dengan terlebih dahulu menentukan diameter teluas I dan diameter teluas II. 4. Lakukan langkah diatas pada 3 daerah yang berbada, yakni pada daerah terbuka, semi ternaung, dan ternaung. 5. Data yang diperoleh lalu dianalisis dengan menggunakan rumus analisis vegetasi berikut ini: : Sabtu, 24 September 2011 : 08.00-03.00 : Lapangan Fakultas Teknik UNM

a.

Kerapatan (K) = Jumlah spesies dalam suatu plot Luas area plot

b.

Kerapatan Relatif (KR) = Kerapatan suatu spesies x 100% Kerapatan seluruh spesies

c.

Frekuensi (F) = Jumlah plot yang ditempati suatu spesies Jumlah seluruh plot

d.

Frekuensi Relatif(FR) = Frekuensi suatu spesies x 100% Frekuensi seluruh spesies

e.

Dominansi (D) = Luas plot suatu spesies Luas seluruh plot

f.

Dominansi Relatif (DR) = Dominansi suatu spesies x 100% Dominansi seluruh spesies

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENGAMATAN 1. Area Terbuka a. Transek 1 Tegakan 1
Spesies Den DenMut DenRel Dom DonMut DonRel Frekuensi FrekMut FrekRel Clitoria ternatea 27 0,675 61,364 4863,263 121,582 21,135 8 1 50,000 Mimosa pudica 10 0,250 22,727 17776,129 444,403 77,252 5 1 31,250 Imperata cylindrica 5 0,125 11,364 323,530 8,088 1,406 2 0 12,500 Phaleria macrocarpa 2 0,050 4,545 47,555 1,189 0,207 1 0 6,250 JUMLAH 1,100 100,000 575,262 100,000 2 100,000 INP 132,499 131,230 25,270 11,002 300,000

INP
140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0.000 Clitoria ternatea Mimosa pudica Imperata cylindrica Phaleria macrocarpa
INP

b. Transek 1 Tegakan 2
Spesies Mimosa pudica Clitoria ternatea Mimosa invisa JUMLAH Den 5 DenMut 0,125 DenRel Dom DonMut 451,983 DonRel Frek FrekMut 0,400 FrekRel 40,000 INP 156,185

27,778 18079,319

88,407 4,000

9

0,225

50,000

1615,192

40,380

7,898 5,000

0,500

50,000

107,898

4

0,100 0,45

22,222 100

755,492

18,887 511,25009

3,694 1,000 100

0,100 1

10,000 100

35,917 300

INP
250.000 200.000 150.000
INP

100.000

50.000
0.000 Mimosa pudica Clitoria ternatea Mimosa invisa

c. Transek 2 Tegakan 1
Spesies Den DenMut DenRel Dom DonMut DonRel Clitoria ternatea 16,000 0,400 38,095 4722,519 118,063 18,347 Sida sp 10,000 0,250 23,810 5806,567 145,164 22,559 Samanea saman 3,000 0,075 7,143 6440,925 161,023 25,024 Mimosa pudica 3,000 0,075 7,143 3518,158 87,954 13,668 Imperata cyllindrica 3,000 0,075 7,143 3332,521 83,313 12,947 Sida acuta 5,000 0,125 11,905 153,193 3,830 0,595 Muntingia calabura 1,000 0,025 2,381 961,625 24,041 3,736 Urena lobata 1,000 0,025 2,381 803,840 20,096 3,123 JUMLAH: 1,050 100,000 643,484 100,000 Frek 6,000 7,000 3,000 2,000 2,000 1,000 1,000 1,000 FrekMut 0,600 0,700 0,300 0,200 0,200 0,100 0,100 0,100 2,3 FrekRel 26,087 30,435 13,043 8,696 8,696 4,348 4,348 INP 82,530 76,803 45,210 29,507 28,786 16,848 10,465

4,348 9,852 100,000 300,000

INP
80 70 60 50 40 30 20 10 0 Clitoria ternatea Sida sp Samanea Mimosa Imperata Sida acutaMuntingia Urena saman pudica cyllindrica calabura lobata INP

d. transek 2 Tegakan 2
Spesies Den DenMut DenRel Mimosa invisa 20,000 0,500 37,736 Imperata cylindrica 6,000 0,150 11,321 Mimosa pudica 9,000 0,225 16,981 Clitoria ternatea 6,000 0,150 11,321 Muntingia calabura 1,000 0,025 1,887 Samanea saman 2,000 0,050 3,774 Phaleria macrocarpa 7,000 0,175 13,208 Eclipta prostata 2,000 0,050 3,774 JUMLAH: 1,325 100 Dom 2126,455 20283,615 13517,410 10419,525 20096,000 7612,145 3904,786 196,250 78156,186 DonMut 53,161 507,090 337,935 260,488 502,400 190,304 97,620 4,906 1953,905 DonRel Frek FrekMut 0,400 0,400 0,400 0,400 0,100 0,200 0,100 0,100 2,1 FrekRel 19,048 19,048 19,048 19,048 4,762 9,524 4,762 4,762 100 INP 59,504 56,321 53,324 43,700 32,361 23,037 22,966 8,787 300

2,721 4,000 25,953 4,000 17,295 4,000 13,332 4,000 25,713 1,000 9,740 2,000 4,996 1,000 0,251 1,000 100

INP
70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0.000

INP

e. Transek 3 Tegakan 1
Spesies Den DenMut DenRel Dom DonMut DonRel Frekuensi FrekMut FrekRel INP Mimosa invisa 41 1,025 74,545 100159,72 2503,993 76,727 2 0,2 15,385 166,657 Mimosa pudica 11 0,275 20,000 27656,335 691,408 21,186 8 0,8 61,538 102,725 Sida sp 2 0,050 3,636 1272,485 31,812 0,975 2 0,2 15,385 19,996 samanea saman 1 0,025 1,818 1451,465 36,287 1,112 1 0,1 7,692 10,622 TOTAL 1,375 100 3263,500 100 1,3 100 300

Grafik

INP
180.000 160.000 140.000 120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0.000 Mimosa invisa Mimosa pudica Sida sp samanea saman INP

f. transek 3 Tegakan 2
Spesies Den DenMut DenRel Dom DonMut DonRel Frek FrekMut FrekRel INP Mimosa invisa 8 0,200 42,105 16598,825 414,971 46,750 2 0,2 22,222 111,077 Samanea saman 2 0,050 10,526 13478,450 336,961 37,961 2 0,2 22,222 70,710 Mimosa pudica 4 0,100 21,053 2931,386 73,285 8,256 2 0,2 22,222 51,531 Clitoria ternatea 3 0,075 15,789 1049,545 26,239 2,956 2 0,2 22,222 40,968 Imperata cylindrica 2 0,050 10,526 1447,540 36,189 4,077 1 0,1 11,111 25,714 TOTAL 0,475 100 887,644 100 0,9 100 300

Grafik

INP
120.000
100.000 80.000 60.000 INP 40.000 20.000 0.000 Mimosa invisa Samanea saman Mimosa pudica Clitoria ternatea Imperata cylindrica

2. AREA SEMI TERNAUNG a. Transek 1 Tegakan 1
Spesies Mimosa invisa Mimosa pudica Sida acuta Grand Total Den DenMut 19,000 0,475 19,000 14,000 0,475 0,350 1,300 DenRel 36,538 Dom DonMut DonRel 88884,820 2222,120 41,925 Frek 6,000 6,000 6,000 FrekMut FrekRel 0,600 33,333 0,600 0,600 1,800 INP 111,797

36,538 78252,866 1956,322 36,910 26,923 44869,564 1121,739 21,164 100,000 5300,181 100,000

33,333 106,782 33,333 81,421 100,000 300,000

INP
120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 0.000 Mimosa invisa Mimosa pudica Sida acuta

INP

b. Transek 1 Tegakan 2
Spesies Mimosa pudica Mimosa invisa Grand Total Den 11 6 DenMut 0,275 0,150 0,425 DenRel Dom DonMut DonRel Frek 4 3 FrekMut 0,4 0,3 0,7 FrekRel INP

64,706 49506,449 1237,661 60,544 35,294 32262,574 806,564 39,456 100,000 2044,226 100,000

57,143 182,393 42,857 117,607 100,000 300,000

INP
200 150 100 50 0
INP

Mimosa pudica

Mimosa invisa

c. Transek 2 Tegakan 1
Spesies Den DenMut DenRel Dom DonMut DonRel Frek FrekMut Sida sp 24,000 0,600 28,235 14498,034 362,451 20,686 5,000 0,500 26,000 2,000 14,000 8,000 6,000 1,000 2,000 1,000 1,000 0,650 0,050 0,350 0,200 0,150 0,025 0,050 0,025 0,025 30,588 7611,874 190,297 693,157 67,117 149,909 19,250 162,515 84,901 16,165 6,429 10,861 39,559 3,830 8,556 1,099 9,275 4,845 0,923 0,367 3,000 1,000 5,000 5,000 3,000 1,000 1,000 1,000 1,000 0,300 0,100 0,500 0,500 0,300 0,100 0,100 0,100 0,100 FrekRel 19,231 11,538 3,846 19,231 19,231 11,538 3,846 3,846 3,846 3,846 INP 68,152 52,987 45,759 39,532 37,198 19,696 14,298 11,045 5,945 5,390

Muntingia calabura Mimosa pudica Phyllantus niruri Eclipta prostata Imperata cyllindrica Veronia cinerea Urena lobata Mimosa invisa Syzigium cumini JUMLAH:

2,353 27726,271 16,471 9,412 7,059 1,176 2,353 1,176 1,176 2684,692 5996,380 770,008 6500,585 3396,036 646,597 257,174

2,125 100,000

1752,191 100,000

2,600 100,000 300,000

INP
70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0.000

INP

d. Transek 2 Tegakan 2
Spesies Den Imperata cylindrica 5,000 Mucuna pruriens 3,000 Sida sp 5,000 Phyllantus niruri 3,000 Psidium guajava 1,000 JUMLAH: DenMut 0,125 0,075 0,125 0,075 0,025 0,425 DenRel 29,412 17,647 29,412 17,647 5,882 100,000 Dom 2730,982 7092,915 4050,412 2213,025 433,516 DonMut 68,275 177,323 101,260 55,326 10,838 413,021 DonRel 16,531 42,933 24,517 13,395 2,624 100,000 Frek 2,000 1,000 1,000 1,000 1,000 FrekMut 0,200 0,100 0,100 0,100 0,100 0,600 FrekRel INP

33,333 79,276 16,667 77,247 16,667 70,595 16,667 47,709 16,667 25,173 100,000 300,000

INP
100 90 80 70 60 50 INP

40
30 20 10

0
Imperata cyllindrica Mucuna pruriens Sida sp Phyllantus niruri Psidium guajava

e. Transek 3 Tegakan 1
Spesies Muntingia calabura Phyllanthus niruri Sida sp Imperata cylindrica Amaranthus hybridus Mimosa invisa TOTAL Den DenMut 46 38 40 1 1 1 1,150 0,950 1,000 0,025 0,025 0,025 3,175 DenRel Dom DonMut DonRel 74,892 6,546 16,471 1,789 0,219 0,084 100 Frekuensi FrekMut FrekRel 7 9 4 1 1 1 0,7 0,9 0,4 0,1 0,1 0,1 2,3 INP

36,220 118330,900 2958,273 29,921 31,496 0,787 0,787 0,787 100 10342,147 26023,723 2826,000 346,185 132,665 258,554 650,593 70,650 8,655 3,317 3950,041

30,435 141,547 39,130 17,391 4,348 4,348 4,348 100 75,597 65,358 6,924 5,354 5,219 300

Grafik

INP
160 140 120 100 80 INP 60 40 20 0 Muntingia Phyllanthus calabura niruri Sida sp Imperata Amaranthus cylindrica hybridus Mimosa invisa

f. Transek 3 Tegakan 2
Spesies Imperata cylindrica Mimosa Pudica Phyllanthus niruri Mucuna pruriens Sida sp Muntingia calabura TOTAL Den DenMut 23 10 18 7 8 1 0,575 0,250 0,450 0,175 0,200 0,025 1,675 DenRel 34,328 14,925 26,866 10,448 11,940 1,493 100 Dom 32049,588 28896,635 9488,688 10854,980 4654,461 803,840 DonMut 801,240 722,416 237,217 271,375 116,362 20,096 2168,705 DonRel 36,946 33,311 10,938 12,513 5,365 0,927 100 Frekuensi FrekMut 32945,68 3294,568 29678,54 2967,854 9800,159 980,0159 11164,49 1116,449 4806,329 480,6329 834,3802 83,43802 8922,957 FrekRel INP

36,922 108,196 33,261 81,497 10,983 12,512 5,386 0,935 100 48,787 35,473 22,692 3,354 300

Grafik

INP
120.000

100.000

80.000

60.000 INP 40.000

20.000

0.000 Imperata cylindrica Mimosa Phyllanthus Mucuna Pudica niruri pruriens Sida sp Muntingia calabura

3. Area ternaung a. Transek 1 Tegakan 1
Spesies Moringa oleivera Tectona grandis Grand total Den DenMut 5 1 0,125 0,025 0,150 DenRel 83,333 16,667 100,000 Dom DonMut DonRel 65,844 Frek FrekMut FrekRel 2 1 0,2 0,1 0,300 66,667 33,333 100,000 INP 215,844 84,156 300,000

95036,331 2375,908

49298,283 1232,457 34,156 3608,365 100,000

150 100 50 0 Moringa oleivera

INP

INP

Tectona grandis

b. Transek 1 Tegakan 2
Spesies Mimosa invisa Tectona grandis Grand total Den DenMut 3 2 0,075 0,050 0,125
70 60 50 40 30 20 10 0 Mimosa invisa Tectona grandis
INP

DenRel 60,000 40,000 100,000

Dom 10941,793

DonMut 273,545

DonRel 19,936

Frek FrekMut FrekRel 2 1 0,2 0,1 0,300 66,667 33,333 100,000

INP 146,602 153,398 300,000

43943,955 1098,599 80,064 1372,144 100,000

INP

c. Transek 2 Tegakan 1
Spesies Phyllantus niruri Tectona grandis JUMLAH: Den 6,000 1,000 DenMut 0,150 DenRel Dom DonMut DonRel Frek FrekMut 0,200 FrekRel INP

85,714 90390,536 2259,763

55,954 2,000 44,046 1,000 100,000

66,667 208,335

0,025 14,286 71154,869 1778,872 0,175 100,000 4038,635

0,100 33,333 91,665 0,300 100,000 300,000

INP
100
80 60 40 20 0 Phyllantus niruri Tectona grandis INP

d. Transek 2 Tegakan 2
Spesies Tectona grandis Mimosa invisa JUMLAH: Den 3 2 5,000 DenMut 0,075 0,050 0,125 DenRel Dom DonMut DonRel Frek FrekMut 0,300 FrekRel 75,000 INP 216,066 83,934 300,000

60,000 111481,728 2787,043 40,000 100,000 26037,194

81,066 3,000

650,930 18,934 1,000 3437,973 100,000

0,100 25,000 0,400 100,000

INP
100 80 60 40 20 INP

0
Tectona grandis Mimosa invisa

e. Transek 3 Tegakan 1
Spesies Mimosa pudica Mangifera indica Passiflora foetida Phyllanthus niruri Grand Total Den DenMut 5 1 2 2 0,125 0,025 0,050 0,050 0,25 DenRel Dom 50,000 9923,970 10,000 3316,625 20,000 1515,050 20,000 100 453,730 DonMut 248,099 82,916 37,876 11,343 380,234 DonRel 65,249 21,806 9,961 2,983 100 Frekuensi FrekMut FrekRel 3 1 1 1 0,3 0,1 0,1 0,1 0,6 INP

50,000 165,249 16,667 16,667 16,667 100 48,473 46,628 39,650 300

Grafik

INP
180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Mimosa pudica Mangifera indica Passiflora foetida Phyllanthus niruri INP

f. Transek 3 Tegakan 2
Spesies Mimosa pudica Passiflora foetida Mangifera indica Phyllanthus niruri TOTAL Den DenMut 6 5 2 2 0,150 0,125 0,050 0,050 0,375 DenRel 40,000 33,333 13,333 13,333 100 Dom 9714,375 4650,340 6767,485 211,165 DonMut 242,859 116,259 169,187 5,279 533,5841 DonRel 45,515 21,788 31,708 0,989 100 Frekuensi FrekMut FrekRel 3 3 2 2 30 0,3 0,2 0,2 30,7 97,720 0,977 0,651 0,651 100 INP 183,235 56,099 45,692 14,974 300

Grafik

INP
200

180
160 140 120 100 80 60 INP

40
20 0 Mimosa pudica Passiflora foetida Mangifera indica Phyllanthus niruri

B. PEMBAHASAN Praktikum ekologi tumbuhan yang berjudul “Struktur dan Komposisi Vegetasi Semak dan Anakan Pohon” yang dilaksanakan pada tanggal 24 september 2011 dilakukan pada tiga tempat yang berbeda, yakni pada daerah terbuka, semi ternaung, dan daerah ternaung. Praktikum ini merupakan suatu kegiatan analisis vegetasi yang dilakukan dengan menggunakan metode transek (plot). Pada masing-masing daerah pengamatan (terbuka, semi-ternaung, ternaung), dipasang 3 transek dengan panjang masing-masing 100 meter. Tiap transek dipasang 20 buah plot berukuran 2x2 meter, dan jarak masing-masing plot adalah 1 meter. Setiap 10 plot berurutan merupakan sebuah tegakan. Praktikum ini dilaksanakan dengan menghitung jumlah spesies semak dan anakan pohon yang terdapat pada setiap plot. Dengan demikian, akan diketahui pola persebaran dan komposisi semak dan anakan pohon pada daerah tersebut. Setelah melakukan analisis data, dapat diperoleh nilai INP (indeks nilai penting) dari masing-masing spesies. Indeks nilai penting ini menyatakan dominansi suatu spesies tumbuhan dalam komunitasnya. Indeks nilai penting diperoleh dengan menjumlahkan nilai densitas relatif, dominansi relatif, dan frekwensi relatif. Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat diketahui jenis-jenis spesies yang mendominasi suatu komunitas tertentu. Pada daerah terbuka, terdapat 6 buah tegakan, dan masing-masing tegakan memiliki spesies dengan nilai INP tertinggi. Ini berarti bahwa spesies-spesies tersebut mendominasi pada daerah tersebut. Spesies yang memiliki nilai INP tertinggi pada masing-masing tegakan adalah sebagai berikut: A. Daerah Terbuka a. Pada transek 1 tegakan 1, Clitoria ternatea. b. Pada transek 1 tegakan 2, Mimosa pudica. c. Pada transek 2 tegakan 1, Clitoria ternatea. d. Pada transek 2 tegakan 2, Mimosa invisa.

e. Pada transek 3 tegakan 1, Mimosa invisa. f. Pada transek 3 tegakan 2, Mimosa invisa.

B. Daerah Semi Ternaung a. Pada transek 1 tegakan 1, Mimosa invisa. b. Pada transek 1 tegakan 2, Mimosa pudica c. Pada transek 2 tegakan 1, Sida sp. d. Pada transek 2 tegakan 2, Imperata cylindrica. e. Pada transek 3 tegakan 1, Muntingia calabura f. Pada transek 3 tegakan 2, Imperata Cylindrica

C. Daerah Ternaung a. Pada transek 1 tegakan 1, Moringa oleifera. b. Pada transek 1 tegakan 2, Mimosa invisa. c. Pada transek 2 tegakan 1, Phyllanthus niruri. d. Pada transek 2 tegakan 2, Tectona grandis. e. Pada transek 3 tegakan 1, Mimosa pudica f. Pada transek 3 tegakan 2, Mimosa pudica

Jika melihat hasil pengamatan tersebut, maka dapat diketahui bahwa jenis spesies yang mendominasi suatu lingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkunganan lainnya. Lingkungan dalam hal ini merupakan gabungan dari semua faktor biotik dan abiotik yang mengelilingi dan berpotensial

mempengaruhi organisme. Karena masing-masing spesies membutuhkan campuran faktor abiotik yang berbeda untuk kelangsungan hidupnya, maka kondisi faktor abiotik yang berbeda antara satu lingkungan dengan lingkungan lainnya akan menyebabkan terjadinya perbedaan jenis spesies yang dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat dan subur pada daerah tersebut.

Pada daerah terbuka, Mimosa invisa adalah spesies yang mendominasi pada 3 tegakan, yakni transek 2 tegakan 2, serta pada transek 3 tegakan 1 dan 2. Sementara, pada transek 1 tegakan 1, tidak ditemukan kehadiran Mimosa invisa, dan pada transek 2 tegakan 2, Mimosa invisa memiliki nilai INP paling rendah. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, nilai INP menunjukkan dominansi spesies tersebut terhasap spesies lain yang hidup pada lingkungan yang sama. Mengapa Mimosa invisa sapat menjadi spesies yang dominan pada 3 tegakan di daerah terbuka? Hal ini dapat terjadi karena kombinasi faktor abiotik yang ada pada ketiga tegakan tersebut sesuai dengan kebutuhan spesies tersebut untuk tumbuh dan berkembang dengan pesat. Faktor abiotik merupakan factor tak hidup yang meliputi factor fisik dan kimia, yang dapat mempengaruhi kelangsungan hisup organism. Faktor tersebut terdiri atas suhu, sinar matahari, air, tanah, ketinggian, angin, dan juga garis lintang. Mimosa invisa adalah jenis tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan yang memiliki sinar matahari yang cukup untuk mendukung fotosistesis. Mimosa invisa juga

memiliki daun yang kecil dan sempit sebagai adaptasi untuk meminimalisir jumlah air yang hilang akibat proses transpirasi. Faktor-faktor abiotik yang ada pada daerah terbuka ini dapat mendukung perkembangan dan pertumbuhan Mimosa invisa. Selain faktor abiotik, masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi persebaran spesies pada suatu lingkungan, yaitu faktor biotik. Interaksi antarkomponen biotik pada suatu lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan persebaran tanaman. Berdasarkan hasil pengamatan, Mimosa invisa tidak ditemukan kehadirannya pada transek 2 tegakan 1 dan transek 1 tegakan 1. Sementara itu, pada transek 1 tegakan 2, Mimosa invisa hanya memiliki nilai INP yang rendah. Faktor abiotik pada daerah terbuka dapat memberi dukungan terhadap pertumbuhan mimosa invisa pada daerah tersebut, tetapi mengapa kehadirannya bisa menjadi rendah pada ketiga tegakan tersebut? Hal ini dapat terjadi karena adanya penbgaruh dari interaksi antar komponen biotik pada

lingkungan tersebut. Interaksi antara organisme dapat berupa kompetisi, predasi, parasitisme, komensalisme, amensalisme, dan mutualisme. Salah satu bentuk interaksi antar organisme yang dapat menyebabkan rensahnya kehasiran Mimosa invisa pada transek terserbut adalah kompetisi. Kompetisi merupakan salah satu bentuk interaksi yantg terjadi antara dua individu atau lebih baik sejanis (intraspesifik competition atau kompetisi intra spesifik) maupun berbeda jenis (inter specific competiton atau kompetisi inter spesisfik). Kompetisi terjadi bila terdapat efek yang saling merugikan pada dua organisme yang menggunakan sumber daya yang sama dalam keadaan terbatas. Pada transek 1 tegakan 2, nampaknya terjadi kompetisi interspesies antara Mimosa invisa dan Mimosa pudica, karena Mimosa pudica membutuhkan factor abiotik yang sama dengan kebutuhan Mimosa invisa, namun factor abiotik yang tersedia pada daerah tersebut tidak cukup, sehingga terjadilah kompetisi antara Mimosa invisa dan Mimosa pudica. Pada daerah setengah ternaung, berdasarkan hasil pengamatan, jenis spesies semak dan anakan pohon yang memiliki nilai INP tertinggi pada masingmasing tegakan lebih beragam dibandingkan pada daerah terbuka. Spesiesspesies tersebut adalah Mimosa invisa (transek 1 tegakan 1), Mimosa

pudica(transek 1 tegakan 2), Sida sp ( transek 2

tegakan 1), Imperata

cylindrica.(transek 2 tegakan 2, dan transek 3 tegakan 2), Muntingia calabura (transek 3 tegakan 1). Hal ini dapat terjadi karena lebih banyak spesies semak

dan anakan pohon yang cocok atau terdukung pertumbuhannya oleh factor abiotik yang disediakan oleh daerah semi-ternaung tersebut. Pada daerah ternaung, jenis spesies yang memiliki nilai INP tertinggi juga lebih beragam dibandingkan pada daerah terbuka. Yakni sebagai berikut: a. Pada transek 1 tegakan 1, Moringa oleifera. b. Pada transek 1 tegakan 2, Mimosa invisa. c. Pada transek 2 tegakan 1, Phyllanthus niruri. d. Pada transek 2 tegakan 2, Tectona grandis.

e. Pada transek 3 tegakan 1, Mimosa pudica f. Pada transek 3 tegakan 2, Mimosa pudica Namun, jika kita telaah lebih mendalam, kita akan menemukan bahwa Meskipun Mimosa pudica merupakan jenis semak yang dominan pada transek 3 pada daerah ternaung, frekwensinya ternyata tidak lebuih banyak dari jumlah frekwensi Mimosa pudica pada daerah terbuka. Hal ini dikarenakan jumlah sinar matahari yang dapat diperoleh untuk proses fotosintesis terbatas pada daerah ternaung, karena kehadiran pohon dan anakan pohon yang penutupan tajuknya cukup lebar, sehingga membatasi perolehan sinar matahari untuk mendukung fotosintesis tanaman ini. Setiap mahluk hidup pada lingkungan akan selalu mengadakan interaksi sengan seluruh komponen lingkungan lainnya, baik komponen biotik maupun komponen abiotik. Berikut ini adalah keseluruhan Faktor fisik utama yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup organism pada suatu lingkungan. a. Suhu Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. b. Sinar matahari Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. c. Air Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

d. Tanah Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan. e. Ketinggian Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda. f. Angin Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu. g. Garis lintang Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut: 1. Pola persebaran dan keanekaragaman spesies pada suatu lingkungan sangat dipengaruhi oleh interaksi spesies tersebut dengan seluruh lingkungan biotik dan abiotik yang ada pada lingkungannya. 2. Keanekaragaman spesies bergantung pada kekayaan spesies (species richness) dan kemerataan spesies (species evenness). Kekayaan spesies dan kemerataan spesies pada suatu lingkungan dipengaruhi oleh interaksi antara factor biotik dan factor abiotik pada lingkungan tersebut.

B. Saran Bagi rekan-rekan yang akan melakukan praktikum ekologi tentang analisis vegetasi saya menyarankan beberapa hal berikut: 1. Pelajarilah tentang tata cara analisis vegetasi sebelum melakukan praktikum langsung di lapangan. 2. Pendataan tumbuhan di lapangan seharusnya dilakukan dengan bijak. Jangan sampai ada praktikan yang merusak tanaman ketika proses analisis vegetasi dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim a, 2011. Vegetasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Vegetasi . Diakses tanggal 09 Oktober 2011. Anonim b, 2011. Community. http://www.britannica.com/EBchecked/topic/129359/community. Diakses tanggal 09 Oktober 2011. Anonim c, 2011. Species richness and Diversity. http://en.wikibooks.org/wiki/Ecology/Species_Richness_and_Diversity. Diakses tanggal 09 Oktober 2011. Anonim d, 2011. Species Evenness. http://en.wikipedia.org/wiki/Species_evenness . Diakses tanggal 09 Oktober 2011. Anonim e, 2011. Ekosistem. http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem . Diakses tanggal 09 Oktober 2011. Anonimf. 2011. Interaksi Antar Komponen. http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0028%20Bio%201-6c.htm. Diakses tanggal 09

Oktober 2011. Campbell, N.A. 2004. Biologi. Jilid 3. Jakarta : Erlangga. Hunter, G. Scott. 1995. Biology Second Edition. USA: Barron’s Educational series, Inc. Krebs, Charles J. 2001. Ecology Fifth Edition. California: Addison Wesley Longman, Inc. Supriatno, Bambang. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan: UPI

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->