P. 1
Asuhan Keperawatan Klien Dengan Pneumonia

Asuhan Keperawatan Klien Dengan Pneumonia

|Views: 157|Likes:
Dipublikasikan oleh Papin SlaQi JoaQinno

More info:

Published by: Papin SlaQi JoaQinno on Oct 15, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2012

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan bimbinganNya sehingga makalah tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Pneumonia ini dapat terselesaikan dengan baik. Adapaun makalah ini adalah sebagai salah satu tugasKelompok 4 pada mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini dapat terselesaikan atas bimbingan dan arahan dari Bapak dosen Abubakar Betan, S.Kep. Ns dan semua pihak yang telah membantu, karena itu kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya Akhirnya kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi pembaca, bagi tenaga keperawatan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya

Makassar, Oktober 2011

Penyusun

Pneumonia sangat berat : bila ada sianosis sentral dan tidak sanggup minum. cukup diberi antibiotik oral d. (Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak RSUD Wates. Pengertian Pneumonia merupakan infeksi akut dari ruang alveoli paru. (Sacharin. Jika terbatas pada alveoli yang berdampingan dengan bronchi disebut bronkopneumonia. Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. Menurut anatomis pneumonia anak dibedakan menjadi pneumonia lobaris. 2001) Menurut WHO pneumonia dibedakan menjadi : a. Bukan pneumonia : hanya batuk tanpa tanda dan gejala seperti di atas. harus dirawat di RS b. R. pneumonia interstisialis. Pneumonia : bila tidak ada retraksi .ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA A. 1996). tetapi napas cepat :  >60 x/menit pada bayi < 2 bulan  >50 x/menit pada anak 2 bulan – 1 tahun  >40 x/menit pada anak 1 – 5 tahun tidak perlu dirawat. (Kapita Selekta Kedokteran. Dapat melibatkan seluruh lobus (pneumonia lobaris)atau lebih berbercak (lobuler). Pneumonia berat : bila ada retraksi.M. tidak perlu antibiotik. dan bronkopneumonia. harus dirawat di RS dan diberi antibiotic c. tidak perlu dirawat. tanpa sianosis dan masih sanggup minum. (Suriadi. 2001) Bronkopneumonia adalah peradangan parenkim paru berupa bercak-bercak tersebar mengelilingi dan mengenai bronkus bilateral. . 2000) Pneumonia adalah suatu peradangan alveoli atau pada parenkim paru yang terjadi pada anak.

2000) C. 3. Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk. perkusi pekak. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Haemophilus influenza. dan sianosis.B. fremitus melemah. perkusi pekak. suara napas melemah. sesak napas. iritabel. 5. gelisah. fremitus melemah. Pseudomonas. makanan. cairan lambung. Virus influenza. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas). Patofisiologi Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. 2. 2000 D. Streptokokus. Aspergilus 4. Histoplasma. Anak yang lebih besar lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. Partikel infeksius difiltrasi di hidung. atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia . malaise. Bakteri : Pneumokakus (penyebab utama pneumonia). nyeri abdomen (kadang terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah). bahan kimia ( minyak tanah. dan ronkhi.. Manifestasi Klinik 1. anoreksia. Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak dada tertinggal di daerah efusi. Sitomegalovirus 3. suara napas melemah. merintih. kaku kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa inflamasi). Bahan kimia : Aspirasi ( cairan amnion. Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam. nyeri dada karena iritasi pleura. Stafilokokus. Virus atau kemungkinan virus : Adenovirus. cuping hidung. sakit kepala. Etiologi 1. ekspektorasi sputum. Tanda infeksi ekstrapulmonal (Kapita Selekta Kedokteran. Jamur : Kandida. 4. friction rub. keluhan gastrointestinal. Mycoplasma pneumonia 2. takipneu. susu). bensin ) (Kapita Selekta Kedokteran.

defisiensi imun didapat atau kongenital. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital. dan juga dengan mekanisme imun sistemik. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organismeorganisme infeksius lainnya. CMV. Setelah mencapai parenkim paru. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag.di saluran napas. . Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Virus. deposit fibrin. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. seperti yang terjadi pada bronkiolitis. Kemungkinan lain. campak. dan humoral. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan. virus Epstein-Barr. rubella. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. mikoplasma. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas.

2000) Mikroorganisme masuk melalui hidung atau mulut kemudian ke trakea dan bronkus menyebabkan sekret meningkat dan terjadi sarang infiltrat tersebar. cepat dan nadi meningkat. Kemungkinan terdapat juga ganggua gastrointestinal.Bakteri penyebab terisap ke paru-paru melalui saluran napas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema. yang mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman. Seringkali ditemukan sianosis dan berhubungan erat dengan keterlibatan paru-paru. 1996). Pada bayi dan anak kemungkinan terdapat konvulsi. . cairan edema dan kuman ke alveoli. Batuk biasanya kering dan sangat mengganggu. Banyak kasus pneumonia di dahului suatu infeksi pernapasan bagian atas. fibrin. bronkopneumonia lebih sering terjadi daripada pneumonia lobaris. Pada anak. Suhu tubuh meningkat dengan cepat dengan pernapasan dangkal. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi. R. eritrosit. yaitu terjadinya sebukan sel PMN (Polimorfonuklear).M. (Sacharin. (Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak RSUD Wates. (Kapita Selekta Kedokteran. 2001).

Pathofisiologi berhubungan dengan penyimpangan KDM Bakteri. Jamur Saluran nafas Respon peradangan Hipertermi Edema alveolar Pembentukan exudates Muntah Jalan nafas tidak efektif Pola napas tidak efektif Resiko aspirasi Cemas ortu Intake kurang Intoleransi aktivitas Hospitalisasi Kurang pengetahuan Defisit self care Rsk def keb nutrisi / cairan Takut ) . Virus.

Abses kulit 6. Gagal nafas 11. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis 6. 2001). Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru. Meningitis 2. (Kapita Selekta Kedokteran. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semuaorganisme yang ada. Sepsis 8. Komplikasi 1. 5. 4. Sinusitis (Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak RSUD Wates. Syok 10. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi 7. menetapkan luas berat penyakit danmembantu diagnosis keadaan. Pneumotorak 1. 3. Otitis Media 5. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus. 2000) F. Pemeriksaan Penunjang 7.E. Encepalitis 3. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing . bronchial). Pemeriksaan gram/kultur. Perikarditis 4. Atelektasis 9. dapat jugamenyatakan abses) 2.

Oksigenasi e. Penatalaksanaan 1. Terapi inhalasi (Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak RSUD Wates. Identitas b. Fisioterapi dada d. sesak napas. H. Memenuhi kebutuhan nutrisi (diet TKTP) dan cairan 2.G. Memberikan oksigen c. gelisah . 3-4 kali sehari Penisilin Prokain 50-100. Fisioterapi dada d. c. 2001). Resusitasi paru f.000 unit/hari Kombinasi Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dengan Kloramfenicol 50-100 mg/Kg BB/hari . 2 kali sehari (untuk anak < 2 bulan) b. Membersihkan jalan nafas b. Riwayat Kesehatan : 1) Keluhan utama : batuk. 3-4 kali sehari (untuk anak umur > 2 bulan) Kombinasi Ampisilin 100 mg/Kg BB/hari dengan Gentamisin 5 mg/kg BB/hari. Asuhan Keperawatan 1. Antibiotik (selama 5-10 hari) : Ampisilin 100 mg/kg BB/hari. Posturnal drainase e. pilek. Pengkajian a. Infus . demam. Medis a. Keperawatan a.

personal hygiene ?. produksi secret meningkat c) Sistem kardiovaskuler : takikardi. b) Sistem pernafasan : kusmaul. alergi. batuk lama. Pemeriksaan persistem : 1) Keadaan umum : kesadaran. lemah secara umum d. makan berlebihan efek samping obat. takipneu. nadi lemah dan cepat. mual. muntah.2) Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit) 3) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien) : sesak napas. akral hangat/dingin. iritabel. status gizi (BB. TBC. oliguria/anuri 4) Pola aktifitas dan latihan . alergi 4) Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak) : sesak napas. kejang. sianosis perifer d) Sistem gastrointestinal : kadang diare e) Sistem integumen : sianosis. Pola Fungsi Kesehatan 1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan : kebiasaan bab di wc/sungai/kebun. kaku kuduk. bibir kering f) Sistem perkemihan : bak 6 jam terakhir. ronkhi. oliguria/anuria g) Sistem muskuloskeletal : tonus otot menurun. cuping hidung. baru saja ganti susu. alergi 5) Riwayat imunisasi : BCG 6) Riwayat tumbuh kembang c. TBC. sianosis. maknan teakhir yang dimakan. TB) 2) Sistem persepsi sensori : a) Sistem persyarafan : kesadaran. batuk lama. kapilary refill lambat. 3) Pola eleminasi : bak terakhir. salah makan. nyeri dada. vital sign. sanitasi ? Keluarga perokok ? 2) Pola nutrisi dan metabolisme : anoreksia. pernapasan.

Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatanpertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru.5) Pola tidur dan istirahat : susah tidur 6) Pola kognitif dan perceptual 7) Pola toleransi dan koping stress 8) Pola nilai dan keyakinan 9) Pola hubungan dan peran 10) Pola seksual dan reproduksi 11) Pola persepsi diri dan konsep diri 2. e. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. malnutrisi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhanoksigen. penyakit kronis. c. Diagnosa Keperawatan a. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatankebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. f. g. d. b. peningkatan produksi sputum. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairanberlebihan. penurunan masukan oral.pembentukan edema. batuk menetap. . Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigendarah.

Auskultasi area paru. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. Penghisapan sesuai indikasi Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yangtidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran. RENCANA KEPERAWATAN a. Tujuan Jalan nafas efektif dengan kriteria: Napas normal Bunyi napas bersih Tidak ada Sianosis Intervensi: Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan dan gerakan dada Rasional : takipnea.peningkatan produksi sputum ditandai dengan: Perubahan frekuensi. pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadikarena ketidaknyamanan. sianosis Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum. kedalaman pernafasan Bunyi nafas tak normal Dispnea. catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.3. Ajarkan dan anjurkan teknik batuk efektif Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankanjalan nafas paten. Berikan Minum hangat Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat mukolitik sesuai indikasi: .

analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati. Catat adanya sianosis perifer (kuku)atau sianosis sentral. Observasi warna kulit. karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan. membran mukosa dan kuku. . Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah.gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan: Dispnea.Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret. Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga. sianosis Takikardia Gelisah/perubahan mental Hipoksia Tujuan: Gangguan gas teratasi dengan: Tidak Sianosis Nafas normal Tidak Sesak Tidak Hipoksia TidakGelisah Intervensi: Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatanparu dan status kesehatan umum. b.

nafas dalam dan batuk efektif. potensial untuk fatal dapat terjadi. meningkat pengeluaran sekretuntuk memperbaiki ventilasi tak efektif. Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong masker. penyakit kronis.Waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa Penularan penyakit ke orang lain tidak ada Intervensi: Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi Rasional: selama awal periode ini. Kaji status mental. Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal.membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik. Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi. Rasional: gelisah mudah terangsang. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksiaatau penurunan oksigen serebral. O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi . c. . Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi. masker venturi. Tujuan: Infeksi tidak terjadi dengan kriteria: . malnutrisi. Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.

Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain. Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah - Kolaborasi Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin.- Batasi pengunjung sesuai indikasi. amantadin. amikalin. sepalosporin. . eritromisin. Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia. tetrasiklin. - Tingkatkan masukan asupan nutrisi adekuat.

(2000). EGC. Jakarta. - Budi Santosa. Kapita Selekta Kedokteran. (2001). Patofisiologi. Jakarta. Vol. buku-2. Marilynn. 1. (2005) Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA . Jakarta. Suriadi. Smeltzer Suzan C. Price Anderson Sylvia. RSUD Wates. CV Agung Seto. dkk (2000). Asuhan Keperawatan pada Anak. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. Tri Atmadja DS.DAFTAR PUSTAKA - Arif Mansjoer. . E. dkk. Edisi 8. EGC. (2001) Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Jakarta. Media Aesculapius FKUI Jakarta Bare Brenda G. Milson McCarty Covraine. Edisi 3. EGC. Doenges. Edisi 4. (2000). Prima Medika. Rencana Asuhan Keperawatan.

 % ff¯  ¯ f°– n  9 ¯ ¾ff°½ ¾¾ ¯  %  f ff°¯¯  ¾f ff° f¾–° ¾f¾–% @ % % ¾ ¯½ ¾ ½¾¾ °¾  f% ¾ ¯½ ¾ff€f°  ¾f ff° f  f   ©f°–  % ¾ ¯ ½ °f€f¾f°  ¾¯f  ¾f°¾¾  ½ °f½f¾f°  n½°–  °–  f½°  ° ½ ¾¾ n ¯ °°–f n% ¾ ¯ f f¾   ff   °  f f  °f   ¯f f° n ½f  f½f €f¯ f fff°–f$ °–° ¾f°¾¾½ €  % ¾ ¯–f¾° ¾°f f f°– f  % ¾ ¯° –¯ ° ¾f°¾¾    °– €% ¾ ¯½  ¯f°  f©f¯ f –f$f°f –% ¾ ¯¯¾¾  f °¾¯ °°  ¯f¾ nff¯¯  9f°–¾ ¾ ff° % 9f ½ ¾ ½¾ f° ½ ¯ fff°  ¾ ff°   f¾ff° f   n$¾°–f$ ° ½ ¾°f– ° " ¾f°f¾" f–f½ " % 9f °¾ f° ¯ f ¾¯   f° ¾f  ¯f  ¯°f  ¯f°f°  f f°– ¯ff° f –  f¾f©f–f°¾¾ ¾ff¯ff° ¯ff°  f° € ¾f¯½°– f  % 9f  ¯°f¾  f f –f$f° % 9ff€f¾ f°ff° .

% 9f  f°¾ff ¾¾f  % 9f–°€ f°½ n ½f % 9f f°¾ f°½°–¾ ¾¾ % 9f°f f° f°f° % 9f °–f° f°½ f° %9f¾ ¾f f° ½ ¾ %9f½ ¾ ½¾  f°°¾ ½    f–°¾f ½ fff° f  ¾f° ©ff° °f€f¾ f € €  °–f° °–f° °€f¯f¾ fn f °nf ½ ¯ °f° ¯f ½ °°–ff°½ ¾¾½¯   f°––f° ½ ff° –f¾  °–f° °–f° –f°––f° f½f¾f¾ ½ ¯ ff¾– ° ff  n   ¾ °––  f f½ °€ ¾ %½ ° ff°%  °–f° °–f°   ff ff°½ ff°f° ¾ °  %f f°f °€ ¾ ½ ° f°f° ¯°%  ½ °f°¾ ¯f°¾   ° f°¾ff¾  °–f° °–f°  f¾ ¯ f°–f°f°ff¾½f f° f°¾– °   -  %f%  °–f° °–f° °€f¯f¾ ½f °¯ ½f  f ¯ ° f½  €   ¾°–– f f½°¾f°– f f°  °–f° °–f° ½ °°–ff° f° ¯ f  ¾ °   f f½ ¯f¯ f° ½¾ ¾ °€ ¾  –   ¾ °––  f f½  f°–f° ¯  nff°  °–f° °–f°  f°–f°nff°  f° ½ °°f°¯f¾f°f    .

  -.

°¯f°–f f¾°f nff°%¾¾°ff°–f°–f%¯ ¯ ¾f¾ f°¯ °– ff° ¾ n   f f¾ °–f°  °½ ¯ f° f¯¾ ¾f ° f¾  -f½f¾°¯f  °°f½f¾ ¾ @ ff ff°¾¾ .-9J@- f  ¾f°©ff°°f€f¾ f € €  °–f° °–f°°€f¯f¾fn f °nf ½ °°–ff°½ ¾¾½¯ f° f °–f°      9  ff°€  °¾  ff¯f°½ °f€f¾f°  °°f€f¾f°¯f ¾½° f ¾f°¾¾  f € €ff f € € °–f°$f°½f½ ¾¾½¯  @©f°ff°°f€f¾ € € °–f° f      °  °¾   f©€  °¾$ ff¯f°½ °f½f¾f° f°– ff° f f f¾°f f½° f ½ °f€f¾f° f°–f f°– ff° f ff¾¯ ¾ ¾ °– ©f f °f  f°f¯f°f°   ¾f¾f f½f nfff f½ °°f°ff fff° ff f° °°f€f¾ f¾°f ½ °°f°ff° ff ©f ½f ff f°¾ f¾ °–f° nff°   ©ff° f°f°©f° ° f € € f¾°f  ff ff¯ f°¾¯ ½ ¯ ¾f°©ff°°f€f¾ff¯° ¯ ¯½ ff°f°©ff°°f€f¾½f °   9 °–¾f½f°¾ ¾f° f¾ f¾°f ¯ f°–¾f°– fff½ ¯ ¾f°©ff°°f€f¾¾ff¯ f° ½f f€ff°– f¯f¯½¯ ff°f °f f € €ff ½ °°f°°–f ¾f ff°   f°.

f¾°f ff°¯ °°f°¾½f¾¯  °¾ °–f°¯ ¾f¾ ¾   f°f–   f°°¯ ¯½  f f °–f°¯ °°f°   f°f¯f°f° f½f¾ –°ff°¾ nfff f f °f f½f ¯ °°f°½ff f$¯ ° f°½ °f€f¾f°   f°––f° ½ ff° –f¾  °–f° °–f° –f°––f° ½ ¯ ff ¾– ° ff –f°––f°½ °–¯f°¾– ° f° f °–f°   ¾½° f ¾f°¾¾  @ff f   ¾f$½  ff°¯ °f  ½¾f @©f° f°––f°–f¾ ff¾ °–f°   @ ff°¾¾  -f€f¾°¯f  @ f ¾f  @ f½¾f  @ f ¾f  °  °¾   f©€  °¾$ ff¯f° f° ¯ ff° °f€f¾ f¾°f ¯f°€ ¾f¾ ¾ ¾¾½ °f€f¾f° –f°°–½f f° f¾ f©f   ff°½f f°¾f¾ ¾ ff°¯¯    ¾ f¾f°f ¯ ¯ f°¯¾f f° .

fff f°f ¾f°¾¾½ € %%ff¾f°¾¾¾ °f  f¾°f ¾f°¾¾¯ °°©f°f¾°¾ ¾½°   f f½ ¯f¯$¯ °–––°f¯°¾f°¾¾½f f f° °–f  .

¯ ¯ f°¯¾f f°¾ f¯¯ °°©f°½¾ ¯f ¾¾ ¯   f©¾f¾¯ °f  f¾°f – ¾f¯ f f°–¾f°–  °–°– f°¾¯° ° f½f ¯ °°©f°½¾fff½ °°f°¾– °¾  f   @°––f° ½ff f° °–¾ °–¯ °– f½¾¾ °f€f¾ ff¯ f° f € €  f¾°f ° ff°°¯ °°–f°¾½f¾¯f¾¯f ¯ °°–f ½ °– ff°¾  °¯ ¯½  f °f¾f € €   f f¾ f° f½¾– ° °–f° °f¯¾f °–f°°f¾f½°– ¯f¾  ¯f¾  °  f¾°f ¯ ¯½ ff°f°9f ff¾¯¯–   f° °–f°¯  f°–¯ ¯ f°½ °–¯f° ½f ff¯ f°¾  n   ¾°–– f f½°€ ¾%½ ° ff°%  °–f° °–f°   ff ff°½ ff°f°¾ ° %f f°f°€ ¾½ ° f°f°¯°%  ½ °f°¾ ¯f°¾  @©f°  °€ ¾ f ©f  °–f° f  Jf½  ff°°€ ¾$ ¾ ¯ f°n ½ff°½f 9 °ff°½ °f f°–f° ff f °  °¾   9f°ff° ff °–f° f¾¾°f¾ f¯fff f½ f¾°f ¾ f¯fff½  ° ½ °¾f°€ff f½f  ©f    @°©f° °¯ °nnf°–f°f°– f f¾°f  € € f¯ °°½ ° ff°$½  ff°°€ ¾  .

 ff¾½ °–°©°–¾ ¾f° f¾  f¾°f ¯ °°f°½ °ff° f f½½f– °°€ ¾f°   @°–ff°¯f¾f°f¾½f°°¾f f  f¾°f ¯ ¯ ff°½¾ ¾½ ° ¯ f° f°¯ °°–ff°  f°f°ff¯f  f f¾ f°f°¯ f¾ ¾f° f¾ °–f°f¾ ¾½¯$ ff¯¾f½ °n°  ¯¾°  f¾° f¯f°  ¾ ½f¾½° f¯f°f °  f¾°f  f –°ff°°¯ ¯ ° f°ff°¯n f ½¯°f             .

f°¾©    %% f½f  f  f° . f ¾nf½¾Dfff  f   ° f ¯  f°.%#!&$%    €.

f f  ¾ I  . %%  ½ fff°.

 fff    f°¾f %%9f° f°f–°¾f ½ fff°-- 9¯f. f fff    °– ¾ .f°°   %%  °nf°f¾f° ½ fff°  ¾ .

¾°.n. fff   9n ° ¾°f .

f.

f° 9f€¾–     ¾ .

fff   f  %% ¾f° ½ fff°½f f°f .

I–°–  fff   @¯f ©f %%f° f9 ff°f°. ¾ ¾ ff°°f DJf ¾  .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->