Anda di halaman 1dari 35

OPTIMASI SUHU EVAPORASI METODE ANALISIS RESIDU KLORAMFENIKOL DALAM MADU TERHADAP PERBEDAAN SUHU EVAPORASI MENGGUNAKAN LIQUID

CHROMATOGRAPHY-TANDEM MASS SPECTROMETRY (LC-MS/MS)

Laporan Praktik Lapangan di Balai Pengawasan Mutu Barang Ekspor Impor

FITRI MINAWATI

Laporan Praktik Lapangan Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Fakultas Sains dan Teknologi

MIPA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2011 Judul Laporan : Optimasi Metode Residu Chloramphenicol Terhadap Perbedaan suhu Evaporasi menggunakan LC-MS/MS

Nama NIM

: Fitri Minawati : 108096000050

Menyetujui Pembimbing I Pembimbing II

Sri Yadial Chalid, M.si Wahyuni, ST 090021431

Sri NIP.

Mengetahui Ketua Prodi Kimia UIN

Drs. Dede sukandar, M.si PRAKATA Puji serta syukut kehadirat Allah SWT karena atas nikmat, rahmat, dan karunia Nya pelaksanaan praktik kerja lapangan di Balai Pengujian Mutu Barang Ekspor Impor dapat berjalan dengan lancar. Laporan yang berjudul Optimasi Metode Residu Chloramphenicol Terhadap Perbedaan suhu Evaporasi menggunakan LC-MS/MS ini disusun sebagai tugas akhir kuliah praktik lapangan dan merupakan syarat utama dalam program penyusunan skripsi, MIPA, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.

Ibu Sri Yadial Chalid, M.si selaku pembimbing I dari Fakultas Sains dan Teknologi MIPA Kimia yang telah membantu dan memberikan masukan kepada penulis dalam penyusunan laporan praktik lapangan ini.

2.

Ibu Sri Wahyuniyuni, ST selaku pembimbing II dari BPMBEI yang telah memberikan masukan kepada penulis selama melaksanakan praktik lapangan dan dalam memenuhi kebutuhan laporan praktik lapangan ini.

3.

Kak atik, kak bowo dan kak tika selaku personil laboratorium instrument, dan seluruh pegawai BPMBEI.

4. Ibu dan Ayah yang senantiasa berdoa dan memberikan kasih syangnya sepanjang masa serta telah memberikan dukungan yang sangat berarti, semoga Allah SWT memuliakannya. 5. Rika, da Eka sebagai teman-teman seperjuangan praktik lapangan di BPMBEI yang telah memberikan semangat, doa, saran kepada penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis menharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun dan dapat memicu penulis untuk berkarya lebih baik di masa yang akan dating. Akhir kata, penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan pembaca pada umumnya. Fitri Minawati

PENDAHULUAN Latar Belakang Penggunaan pada antibiotik sudah banyak

digunakan sebagai obat antibakteri untuk mengobati penyakit pada makhluk hidup seperti hewan, misalnya lebih spesifiknya pada kumbang yang dapat menhasilkan madu. Obat yang sering digunakan, yaitu kloramfenikol. 9sebutkan fungsi kloram dalam madunya, singkat aja) Badan Pemeriksaan Makanan di Kanada (CFIA) telah

menemukan pencemaran kloramfenikol dalam sampel madu yang diimpor dari China. Oleh karena itu, badan Kesehatan Kanada telah menyelesaikan penilaian risiko kesehatan. Berdasarkan tingkat kloramfenikol dalam madu diuji oleh laboratorium CFIA dan Maxxam Analytics, Kesehatan Kanada telah menetapkan bahwa madu yang mengandung kloramfenikol dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan manusia yang terkait dengan pengembangan penyakit darah dan berpotensi fatal dalam kondisinya yang disebut anemia aplastik. Oleh karena itu, CFIA telah menerbitkan beberapa tanda bahaya kesehatan sejak April 18, 2002 Kanada menetapkan untuk tidak mengkonsumsi madu dari Cina. Program uji dilakukan di Kingdom Amerika Serikat dan tempat lain di Europe Eropauntuk mendeteksi residu kloramfenikol dalam madu, udang, ikan, dan selubung sosis dari Cina. Kloramfenikol juga telah terdeteksi pada udang- udang dari Vietnam dan Indonesia, serta udang dari Myanmar. residu obat yang lain, terdapat residu nitrofurans, yang telah terdeteksi pada udang- udang dari Asia Tenggara (Thailand, Vietnam, Indonesia, India dan Bangladesh). Pengaturan residu merupakan konstribusi penting dalam memelihara tingkat perlindungan terhadap konsumen. Oleh karena itu Uni Eropa memberikan aturan

yang jelas tentang analisis laboratorium yang harus diterapkan dan hasilnya diinterprestasikan. Keputusan dari komisi Eropa 2002/657/EC yaitu menerapkan kriteria prosedur validasi pada metode analisis untuk memeastikan kualitas dan poerbandingan analisis yang dihasilkan oleh setiap laboratorium yang resmi. Selain itu, menerapkan kriteria dalam menetapkan Minimum metode analisis dengan Performance Limit Required

(MRPL)., dimana Minimum Required Performance Limit merupakan suatu batasan minimum residu pada suatu zat yang terkandung dalam pangan yang secara khusus dilarang di Uni Eropa (EC 2004). Sehingga Uni Eropa menetapkan Minimum Required Performance Limit (MRPL) untuk kloramfenikol sebesar 0.3g./kg yang diatur pada peraturan Komisi Eropa 2003/161/EC (lampiran). Metode ini mengacu pada metode RIKILT 2002, dimana (hindari pake kata dimana dalam KBBI dimana hanya untuk tempat) RIKILT merupakan sebuah lembaga independen Belanda untuk penelitian dalam rantai makanan dan fokus pada analisis pangan, efek dari pangan serta komponen pangan terhadap kesehatan. Dengan adanya kontaminasi kloramfenikol pada madu yang telah di impor dari cina maka ditetapkan adanya larangan penggunaan kloramfenikol pada produk perikanan maupun makanan yang dihasilkan dari hewan

ternak, oleh karena itu, analisis residu kloramfenikol pada dalam madu perlu dilakukan Pragraf terakhir jelasin dulu kenapa harus dioptimasi suhunya? Kalo gitu doang ga nyambung sama judulnya???????????!!!!!!!!!!! Tujuan Tujuan sesuaikan dengan judul say..Kegiatan bertujuan mengetahui banyaknya residu kloramfenikol yang terdapat pada madu untuk memenuhi peraturan komisi Eropa 2003/181/EC (lampiran b) serta optimasi metode analisis residu kloramfenikol dalam madu terhadap perbedaan suhu evaporasi. Tempat dan Waktu Kegiatan dilaksanakan di Balai Pengujian Mutu Barang Ekspor-Impor (BPMBEI), direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang, Kementrian Perdagangan, berlangsung selama 1 bulan 1 minggu yang dilaksanakan sejak tanggal 1 Februari-4 Maret 2011. KEADAAN UMUM BALAI PENGUJIAN MUTU BARANG EKSPOR IMPOR (BPMBEI)

Sejarah singkat BPMBEI Pusat Pengujian Mutu Barang (PPMB) diresmikan oleh Radius Prawiro pada tanggal 6 November 1979 yang saat itu menjabat sebagai

Menteri Perdagangan dan Koperasi. selanjutnya pada tanggal 24 Oktober 1985 dikeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Perdagangan No. 1017/Kp/X/85 yang menyebabkan terjadinya perubahan nama instansi menjadi Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB), Hal tersebut merupakan perubahan tugas dan struktur organisasinya. Pada tanggal 19 Februari 1996, Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) kembali mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No. 29/MPP/SK/1996 tentang organisasi dan tata kerja Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sehingga terjadi perubahan nama BPSMB menjadi Pusat Pengujian Mutu Barang dan Perlindungan Konsumen (PPMBPK). Kemudian Memperindag mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No. 444/MPP/Kep/1/1999 dan No. 24/MPP/Kep/1/1999 yang menyebabkan beberapa perubahan diantaranya PPMBPK berubah kembali menjadi Pusat pengujian Mutu Barang (PPMB) dan terjadi penambahan tugas untuk membina, melaksanakan Pengujian, sertifikasi mutu barang dan merubah kembali struktur organisasi. Seiring dengan perubahan Departemen Perdagangan dan Koperasi menjadi Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta berdasarkan keputusan Presiden No. 136 tahun 1999, maka nama PPMB berubah menjadi Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang (Dit.PPMB) yang berkendudukan dibawah Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Ditjen.PLN) Deperindag. Dit.PPMB ini memiliki dua unit pelaksana teknis yaitu Balai Pengujian Mutu Barang Ekspor Impor (BPMBEI) dan Balai Kalibrasi.

Bidang Usaha Keberadaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pengujian dan kalibrasi di lingkungan Ditjen PLN yang secara struktural berada di bawah Ditjen PLN dan secara operasional dikoordinasikan oleh Direktur PPMB itu sangat penting untuk menunjang kebijakan Ditjen PLN Direktorat PPMB dalam melakukan pengawasan mutu barang, karena : 1. UPT pengujian dan kalibrasi ini berfungsi sebagai laboratorium pembinaan bagi laboratorium uji dan kalibrasi di daerah. Fungsi ini sangat penting agar undang-undang No. 22 tahun 1999, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh daerah di bidang mutu barang tidak menghambat kelancaran perdagangan antar daerah maupun perdagangan luar negeri. 2. UPT ini difungsikan untuk melakukan pengkajian dan

pengembangan standar mutu barang dalam rangka perdagangan bilateral dan multilateral (antara lain harmonisasi standar) 3. UPT dapa berfungsi sebagai koordinator dalam meningkatkan mutu kinerja laboratorium pengujian dan kalibrasi melalui : a.Sinkronisasi metode pengujian mutu barang b.Uji kemahiran laboratorium dan uji alat komparasi standar c. Validasi kebijakan teknis di bidang mutu d.Pelatihan bagi tenaga fungsional pengujian mutu barang dan asesor laboratorium

e.

Laboratorium rujukan (Reveral Laboratory). UPT ini dapat memberikan dukungan kepada Direktorat PPMB

4.

dalam pengambilan keputusan yang cepat, khususnya jika terjadi pernyataan tidak puas masyarakat terhadap mutu barang impor, melalui pelayanan pengujian dan sertifikasi yang cepat dan relatif murah. Sebagai upaya untuk mendukunga peningkatan pelaksanaa teknis pengujian dan sertifikasi mutu barang ekspor dan impor, maka Menteri Perdagangan mengeluarkan peraturan No. 32/M-DAG/PER/12/2005 yang mana Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang berubah menjadi Balai Pengujian Mutu Barang Ekspor dan Impor (BPMBEI) adalah unit pelaksanaan teknis di bidang pengujian dan sertifikasi mutu barang ekspor dan impor yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan Republik Indonesia. Organisasi dan Manajemen Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 32/M-

DAG/PER/12/2005 mengenai susunan organisasi dan tata kerja, BPMBEI di pimpin oleh seorang kepala yang membawahi empat organisasi, organisasi tersebut terdiri dari : 1.Seksi Pelayanan Teknis, bertugas memberikan pelayanan teknis dan sertifikasi mutu barang ekspor dan impor.

2.Seksi

Pengembangan

Jasa

Pengujian,

bertugas

melakukan

pencatatan, penyusunan program, pengembangan pengendalian, dan evaluasi mutu pelayanan Unit Pelaksana Teknis. 3.Sub bagian Tata Usaha, bertugas melakukan kepegawaian, keuangan, persuratan, setara perlengkapan dan rumah tangga. 4.Kelompok Jabatan Fungsional, bertugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional terdiri dari sejumlah jabatan fungsional yang terbagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan bidang keahliannya. Tugas dan Fungsi Berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan No. 32/M-

DAG/PER/12/2005, BPMBEI bertugas memberikan pelayanan teknis pengujian dan sertifikasi mutu barang ekspor dan impor untun komoditi hasil pertanian, peternakan, produk makanan dan minuman, pakan ternak, minyak atsiri, limbah dan bahan galian, bahan bakar minyak, pupuk dan semen, tekstil dan produk tekstilm peralatan listrik dan peralatan rumah tangga. Fungsi BPMBEI dalam melaksanakan tugasnya yaitu : 1.Melaksnakan pengujian dan sertifikasi mutu barang ekspor dan impor 2.Melaksanakan pengembagan jasa pengujian 3.Memberi pelayanan teknis pengujian dan sertifikasi mutu barang ekspor da impor

4.Melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga. Akreditasi Balai Pengujian Mutu Barang Ekspor Impor (BPMBEI) telah mendapat pengakuan baik secara nasional maupun internasional, di antaranya : 1.Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi 2.Sri langka Standards Institute (SLSI) untuk produk Indonesia yang diekspor ke Sri Langka 3.Internasional Safe Transit Association (ISTA-USA) Reg. No. ST2215 untuk pengujian kemasan 4.Produsen dan pembeli, misalnya Group Mark, Spencer dan JC. Penny untuk pengujian tekstil dan produk tekstil. Ruang Lingkup Balai Pengujian Mutu Baran Ekspor Impor (BPMBEI) mempunyai ruang lingkup dalam berbagai pengujian, antara lain : minyak atsiri dan fraksinya, makanan/minuman olahan, hasil pertanian, bahan pangan, mainan kayu, kayu lapis penggunaan umum, dula kristal mentah, tepung terigu, minyak dan lemak, anti nyamuk bakat, kosmetik (sampo, pasta gigi, sabun, dll), pupuk Ammonium Sulfat, pupuk Ammonium Klorida, Pupuk Dolomit, pupuk NPK-padat, pupuk Monoammonium Fosfat (MAP), pupuk Diammonium Fosfat (DAP), pupuk Urea Diammonium

Fosfat (UAP), pupuk Tripel Super Fosfat (TSP), pupuk Tripel Super Fosfat plus Zn, Pupuk Kalium Klorida, pupuk SP-36 plus Zn, pupuk fosfat alam pertanian, pupuk Urea, pupuk pertanian tidak berlemak, buah-buahan dan sayuran, serelia, teh dan biji-bijian. Sarana dan Fasilitas Balai yaitu : 1.Laboratorium sensori, organoleptik dan mikrobiologi, meliputi uji sensori, organoleptik dan mikrobiologi. 2.Laboratorium pangan dan pakan, meliputi Laboratorium uji minyak dan lemak, Laboratorium uji makanan dan minuman, Laboratorium uji residu dan pestisida, serta Laboratorium uji bahan pangan dan pakan. 3.Laboratorium non pangan, meliputi Laboratorium uji kimia industri, Laboratorium uji mineral dan bahan galian, dan Laboratorium lingkungan. 4.Laboratorium tekstil dan aneka industri, meliputi Laborstorium uji tekstil dan bahan jadi tekstil, Laboratorium uji kemasan, dan Laboratorium uji aneka industri. 5.Laboratorium mekanik dan furniture, meliputi Laboratorium uji karet dan bahan jadi karet, Laboratorium uji mekanik, dan Laboratorium uji furniture. Pengujian Mutu Barang Ekspor Impor (BPMBEI)

mempunyai 15 laboratorium yang meliputi 6 laboratorium pengujian,

6.Laboratorium listrik/peralatan listrik dan elektronik, meliputi Laboratorium uji lampu dan kelengkapannya, Laboratorium uji peralatan listrik rumah tangga dan Laboratorium uji elektronik. Fasilitas yang disediakan untuk menunjang kesejahteraan seluruh pegawai di BPMBEI di antaranya fasilitas kesehatan berupa sarana poliklinik, sarana olahraga seperti lapangan bulu tangkis dan bola voli, mushola, makan siang yang disediakan setiap hari. keselamatan kerja bagi petugas yang bekerja di laboratorium yaitu masker, sarung tangan, dan disediakan pula alat pemadam kebakaran dan kotak obat disetiap laboratorium.

TINJAUAN PUSTAKA Antibiotik

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Antibiotik mendefinisikan antibiotik sebagai substansi yang bahkan di dalam konsentrasi rendah dapat menghambat pertumbuhan dan reproduksi bakteri dan fungi. Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi dua:

1.

Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap bakteri.

2. Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri. Cara yang ditempuh oleh antibiotik dalam menekan bakteri dapat bermacammacam, namun dengan tujuan yang sama yaitu untuk menghambat perkembangan bakteri. Oleh karena itu mekanisme kerja antibiotik dalam menghambat proses biokimia di dalam organisme dapat dijadikan dasar untuk mengklasifikasikan antibiotik sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri. Antibiotik yang menghambat transkripsi dan replikasi. Antibiotik yang menghambat sintesis protein. Antibiotik yang menghambat fungsi membran sel.

5. Antibiotik yang menghambat bersifat antimetabolit (Gak usah) Yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotik adalah dosis serta jenis antibiotik yang diberikan haruslah tepat, Karena antibiotika bekerja sangat spesifik pada suatu proses, mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri memungkinkan munculnya strain bakteri yang kebal terhadap antibiotika. Itulah sebabnya, pemberian antibiotika biasanya diberikan dalam dosis yang menyebabkan bakteri segera mati dan dalam jangka waktu yang agak panjang agar mutasi tidak terjadi. Penggunaan antibiotika yang 'tanggung' hanya membuka peluang munculnya tipe bakteri yang kebal. Tidak sedikit keraguan bahwa residu antibiotic dan antimikroba akan terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan asli. Hal ini tidak sekedar keberadaan residu, namun juga masalah frekuensi dan jumlahnya. Jumlah bahan kimia yang digunakan

dalam peternakan tersebut jumlahnya sulit dipastikan. Animal Health Institute (AHI) memperkirakan bahwa jumlah keseluruhan antimikroba 17,8 juta pound baik penggunaan untuk terapi ataupun non-terapi pada semua hewan. Sebaliknya, the Union of Concerned Scientist (UCS) memperkirakan antibiotik/ antimikroba digunakan sebanyak 24,6 juta pound untuk tujuan nonterapi pada 3 spesies (unggas, babi, sapi) dan tidak ada perkiraan untuk penggunaan terapi pada hewan. Jumlah antimikroba/antibiotic yang digunakan secara berlebihan pada hewan terkait dengan kegunaanya untuk nonterapi pendukung pertumbuhan, pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit. Penggunaan untuk pencegahan penyakit dan pendukung pertumbuhan nampaknya saling melengkapi dan bervariasi jumlahnya dari beberapa gram hingga 200g/ton. Sedangkan level > 200g/ton digunakan untuk penyembuhan penyakit. Penggunaan berjuta-juta pound antibiotic/ antimikroba pada hewan yang diproduksi untuk konsumsi makanan manusia, maka akan ditemukan residu antibiotik/ antimikroba dalam produk makanan yang berasal dari hewan.

Kloramfenikol

Kloramfenikol

atau

2,2-dikloro-N-[1R,2R)-2-dihidroksi-1-hidroksimetil-2-(4-

nitrofenil)etil]-asetamida dengan rumus kimia C11H12C12N2O5 (struktur molekul pada Gambar 1) dan bobot molekulnya sebesar 323.13 g/mol. senyawa ini merupakan senyawa semi polar dan sejenis antibiotik yang bersifat bakteriostatik, menyerupai jarum, atau lempeng memanjang, tidak berbau dan rasanya sangat pahit.kloramfenikol merupakan kristal putih yang sukar larut dalam air dengan

perbandingan (1:400) sangat sukar dalam heksana dan petroleum eter, sedikit larut dalam kloroform, dan mudah larut dalam metanol, etanol, butanol, propilen glikol, aseton, dan etil asetat (DEPKES RI 1995). Kloramfenikol memiliki titik leleh sekitar 151.4-151.80C.

Gambar 1 Struktur molekul kloramfenikol (Molecular weight: 323.1) Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom sub unit 50s dan menghambat enzim peptidil transferase sehingga ikatan peptida tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadangkadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Spektrum anti bakteri meliputi D.pneumoniae, S. Pyogenes, S.viridans, Neisseria, Haemophillus, Bacillus spp, Listeria, Bartonella, Brucella, P. Multocida, C.diphteria, Chlamidya, Mycoplasma, Rickettsia, Treponema, dan kebanyakan kuman anaerob.

Madu Madu (Gambar 1 )adalah cairan yang lengket dan manis yang dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nektar bunga. Madu lebih manis dari gula meja dan memiliki ciri-ciri kimia yang menarik untuk pemanggangan. Madu adalah makanan

yang mengandung aneka zat gizi seperti karbohidrat , protein , asam amino, vitamin, mineral, dekstrin , pigmen tumbuhan dan komponen Aromatik. Bahkan dari hasil penelitian ahli Gizi dan pangan ,madu mengandung karbohidrat yang paling tinggi diantara produk ternak lainnya susu, telur , daging, keju dan menterga sekitar (82,3% lebih tinggi) Setiap 100 gram madu murni bernilai 294 kalori atau perbandingan 1000 gram madu murni setara dengan 50 butir telur ayam atau 5,675 liter susu atau 1680 gram daging. Dari hasil penelitian terbaru ternyata zat-zat atau senyawa yang ada didalam madu sangat komplek yaitu mencapai 181 jenis . Madu memiliki komponen kimia yang memiliki efek koligemik yakni asetilkolin. Asetilkolin berfungsi untuk melancarkan peredaran darah dan mengurango tekanan darah. Gula yang terdapat dalam madu akan terserap langsung oleh darah sehingga menghasilkan energi secara cepat bila dibandingkan dengan gula biasa.

Gambar 1 Madu Disamping kandungan gulanya yang tinggi (fruktosa 41,0 %; glukosa 35 %; sukrosa 1,9 %) madu juga mengandung komponen lain seperti tepung sari dan berbagai enzim pencernaan. Disamping itu madu juga mengandung berbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B2, mineral seperti kalsium, natrium, kalium, magnesium, besi, juga garam iodine bahkan radium. Selain itu madu juga mengandung antibiotik dan berbagai asam organic seperti asam malat, tartarat, sitrat, laklat, dan oksalat. Karena itu madu sangat tinggi sekali khasiatnya.

Jelasin juga hubungan madu sama kloramfenikolnya, disebelah mananya kloram itu berhubungan sama madu.

Kromatografi Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi , komponen-komponen dari suatu campuran akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat. Secara sederhana, komatografi adalah sebuah cabang ilmu yang mempunyai fokus terhadap pemisahan ion/logam/senyawa, baik teknik maupun applikasinya berdasarkan pada struktur dan komposisinya dalam sample mixture (campuran sampel). Salah satu definisi yang banyak diikuti banyak orang, sebagaimana dikeluarkanoleh Commission on Analitical Nomenclature of IUPAC mengatakan bahwa

Chromatography is a physical method of separation in which is stationary (stationary phase) while the other (mobile phase) moves in a definite direction (IUPAC, 1993). Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip ini. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda.( Hermanto 2009)

Umumnya metode kromatografi diklasifikasikan atas jenis fasa yang digunakan dan sebagian berdasarkan mekanisme pemisahannya. Sehingga berdasarkan pemisahannya, kromatografi dibagi menjadi :

1.

Kromatografi cair-padat ( kromatografi adsorbsi) Kromatografi adsorpsi didasarkan pada retensi zat terlarut oleh adsorpsi permukaan. Teknik ini berguna dalam pemisahan senyawa-senyawa non polar dan konstituen-konstituen yang sulit menguap. Pada kromatografi cair-padat, substrat padat berperan sebagai fase diam. Pemisahan tergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antarmuka diantara butiran-butiran fase diam dan fase cair yang bergerak serta pada kelarutan relative zat terlarut pada fase bergeraknya.

2.

Kromatografi Cair-cair (Kromatografi Partisi) Dalam kromatografi partisi car-cair, suatu pemisahan dipengaruhi oleh distribusi sampel antara fase cair diam dan fase cair bergerak dengan membatasi kemampuan pencampuran. Teknik ini terdiri dari suatu kolom yang berisi zat padat penunjang, di mana pada permukaan terdapat pelarut sebagai fase diamnya. Fase kedua, yaitu fase bergerak yang tidak bercampur dengan cairan dari fase diamnya akan mengalir sepanjang kolom.

3.

Kromatografi Penukar Ion Resin penukar ion dapat didefinisi yang sebagai senyawa ion-ion hidrokarbon yang dapat

terpolimerisasi, yang mengandung ikatan hubung silang (crosslinking) serta gugusan-gugusan fungsional mempunyai

dipertukarkan. Sebagai zatpenukar ion, resin mempunyai karakteristik yang berguna dalam analisis kimia, antaralain kemampuan menggelembung (swelling), kapasitas penukaran dan selektivitaspenukaran. Penggunaannya dalam analisis kimia misalnya untuk menghilangkan ion-ion pengganggu, memperbesar konsentrasi jumlah ion-ion renik, proses deionisasi airatau demineralisasi air, memisahkan ion-ion logam dalam campuran dengankromatografi penukar ion. (Khopkar ) Daripada jelasin itu mending dijelaskan tentang perbedaan berdasarkan fase gerak, yaitu kromatografi gas dan cair. Trus baru jelasin lebih banyak tentang cairnya.

Ultra Fast Liquid Chromatography (UFLC) Kromatografi Cair (Liquid Chromatography) merupakan teknik yang tepat untuk memisahkan ion atau molekul yang terlarut dalam suatu larutan. Jika larutan sampel berinteraksi dengan fase stasioner, maka molekul-molekul didalamnya berinteraksi dengan fase stasioner; namun interaksinya berbeda dikarenakan perbedaan daya serap (adsorption), pertukaran ion (ion exchange), partisi (partitioning), atau ukuran. Perbedaan ini membuat komponen terpisah satu dengan yang lain dan dapat dilihat perbedaannya dari lamanya waktu transit komponen tersebut melewati kolom. Terdapat phase beberapa jenis kromatografi Performance cair, Liquid diantaranya: reverse chromatography, High

Chromatography (HPLC), size exclusion chromatography, sertasupercritical fluid chromatography. Dimana reverse phase chromatography merupakan alat analitikal yang kuat dengan memadukan sifat hidrofobik serta rendahnya polaritas fase stasioner yang terikat secara kimia pada padatan inert seperti silika. Metode ini biasa digunakan untuk proses ekstraksi dan pemisahan senyawa yang tidak mudah menguap (non-volatile). High performance liquid chromatography (HPLC)

mempunyai prinsip yang mirip dengan reverse phase. Hanya saja dalam metode ini, digunakan tekanan dan kecepatan yang tinggi. Kolom yang digunakan dalam HPLC lebih pendek dan berdiameter kecil, namun dapat menghasilkan beberapa tingkatan equilibrium dalam jumlah besar.

Ultra fast liquid chromatography (UFLC) ( Gambar 3 ) merupakan kromatografi cair dengan kecepatan pemisahan yang lebih cepat karena menggunakan kolom analitis dengan kemasan partikel ultra-halus dan dengan meningkatkan laju aliran fase geraknya. Analisis kecepatan LC ini lebih tinggi 10 kali lebih cepat dibandingkan dengan LC konvensional. Pada UFLC ini menggunakan tekanan yang lebih kecil dibandingkan HPLC yaitu sebesar 3500 psi sedangkan HPLC 6000psi, hal ini UFLC mempunyai analisis yang lebih cepat tetapi tidak bergantung pada tekanan yang tinggi. Pada saat analisis UFLC menggunakan laju airnya 0.2 mL/s dengan tekanan 350 psi sedangkan HPLC menggunakan tekanan 700 psi.

Gambar 3. Ultra fast liquid chromatography (UFLC)

Spektrofotometri Massa

Spektrofotometri massa adalah suatu instrument yang dapat menyeleksi molekul-molekul gas bermuatan berdasarkan massa atau beratnya. Teknik ini tidak dapat dilakukan dengan spektroskopi, akan tetapi nama spektroskopi dipilih disebabkan persamaannya dengan pencatat fotografi dan spectrum garis optik. Umumnya spectrum massa diperoleh dengan mengubah senyawa suatu sampel menjadi ion-ion yang bergerak cepat yang dipisahkan berdasarkan perbandingan massa terhadap muatan (m/e), proses ionisasi menghsilkan partikel-partikel bermuatan positif, dimana massa yang terdistribusi adalah spesifik terhadap senyawa induk. Selain untuk penentuan sruktur molekul, spectrum massa dipakai untuk penentuan analisis kuantitratif. Biasanya sampel ditembaki dengan berkas electron yang menghasilkan suatu ion molekul atau fragmen ionik. Fragmen-fragmen bermuatan ini dapat dipisahkan menurut massanya. ( Khopkar 2008)

Spektrometri massa dapat dipergunakan untuk analisis runutan anorganik terutama dengan menggunakan sumber bunga api listrik, dan juga dapat digunakan menganalisis unsur-unsur runutan dalam paduan atau dalam superkonduktor. Tipe bunga api listrik mempunyai sensitivitas tinggi dan dapat menentukan sampai tingkat ppb. Kekurangan dari spectrometer massa bunga api listrik adalah ketidak beraturan dari sumber dan kurang reprodusibel, tetapi kekurangan ini dapat diatasi dengan memakai sistem detektor fotografi. Analisis kuantitatif instrument semacam ini didasarkan pada garis-garis fotografi dengan standar yang sesuai. (Khopkar)

Kromatografi Cair-Spektroskopi Massa/Spektroskopi Massa

Kromatografi cair-spektrometri massa (LC-MS/MS) merupakan teknik kimia analitik yang menggabungkan kemampuan pemisahan fisik dari kromatografi cair (atau HPLC) dengan kemampuan analisis spektroskopi massa . LC-MS/MS adalah teknik yang kuat yang digunakan untuk banyak aplikasi yang memiliki sensitivitas yang sangat tinggi dan selektivitas. Umumnya penerapannya berorientasi pada deteksi dan identifikasi potensi khusus dalam bahan kimia terhadap bahan kimia lainnya (dalam campuran kompleks). Pada analisis kromatografi cair ini menggunakan MS/MS sebagai detektornya dimana analisis yang didapat berdasarkan berat molekul suatu senyawa sehingga data yang didapat lebih akurat dibandingkan HPLC dengan detektornya UV atau Fluoresiens karena data yang dihasilkan HPLC hanya berdasarkan puncak serapan sehingga belum spesifik terhadap suatu senyawa. Selain MS/MS ini dapat memberikan tambahan informasi mengenai struktur dari sampel yang dianalisis. Skema instrumentasi pada LC-MS/MS ditunjukan pada Gambar 4.

Gambar 4 Skema instrumentasi pada LC-MS/MS

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini meliputi bahan uji dan bahan kimia. Bahan uji yang digunakan yaitu madu. Bahan kimia yang digunakan meliputi standar kloramfenikol (sigma Aldrich), standar internal D5Chloramphenicol (Witega), etil asetat mutu kromatografi cair, isooktana, asetonitril (ACN) mutu kromatografi cair, methanol mutu kromatografi cair, dan akuabides. Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini meliputi neraca analitik (Sartorius 5 digit), mikropipet 1000 L; 200 L; dan 100 , vorteks pencampur, tabung sentrifuga polipropilena 50 mL dan 15 mL, sentrifuga (CAX-370 Hybrid Refrigerated Centrifuge), tabung reaksi, vakum evaporator (Buchi Syncore), syringe filter (PVDF 13mm 0,22 m), vial, Ultra Fast Liquid Chromatography (UFLC) dengan penguji sampel otomatis (Shimadzu), kolom kromatografi (phenomenex Aqua 5u C18 125A, 50 x 2mm), spektroskopi massa (3200 QTRAP Applied Biosystem), syringe 5mL, serta beberapa alat gelas lainnya.

Metode Percobaan Metode yang digunakan dalam percobaan ini mengacu pada metode RIKILT 2002 dan Applied Biosystem yang dimodifikasi di Laboratorium Instrumen BPMBEI dan telah di validasi sesuai dengan aturan komisi Eropa 2002/657/EC. Modifikasi dilakukan pada pereaksi yang digunakan yaitu mengganti heksana menjadi isooktana, mengganti fasa gerak (eluen) yaitu H2O + 0,1 % asam format + 5mM ammonium asetat menjadi asetonitril untuk eluen B, serta volume injeksi sebanyak 25 L menjadi 10 L.

Metode percobaan analisis kloramfenikol dalam madu menggunakan LCMS/MS terdiri atas pembuatan standar, standar internal, preparasi contoh, dan pengukuran menggunakan detector MS/MS. Pembuatan larutan standard dan standar inrternal Larutan standar induk kloramfenikol 8.6 g/mL Standar kloramfenikol ditimbang sebanyak 0.00043 g dan dimasukkan kedalam labu takar 50 ml, kemudian dilarutkan menggunakan methanol hingga tanda tera lalu dihomogenkan. Larutan standar kloramfenikol 1g/mL Larutan standar induk kloramfenikol dipipet sebanyak 580 L dan dimasukkan ke dalam labu takar 5 mL, kemudian dilarutkan menggunakan larutan ACN : akuabides (50:50) hingga tanda tera lalu dihomogenkan. Larutan standar kloramfenikol 10 ng/mL

Larutan standar kloramfenikol 1000 ng/mL dipipet sebanyak 50 L dan dimasukkan ke dalam kabu takar 5 mL, kemudian dilarutkan menggunakan larutan ACN : akuabides (50:50) hingga tanda tera lalu homogenkan. Larutan standar kloramfenikol 1 ng/mL Larutan standar kloramfenikol 10 ng/mL dipipet sebanyak 500 L dan dimasukkan kedalam labu takar 5 mL, kemudian dilarutkan menggunakan larutan metanol hingga tanda tera lalu homogenkan.

Larutan standar internal induk kloramfenikol 94 g/mL Standar internal kloramfenikol ditimbang sebanyak 0.00094 g dan dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, kemudian dilarutkan menggunakan metanol hingga tanda tera lalu dihomogenkan. Larutan standar internal kloramfenikol 1 g/mL Larutan standar internal induk kloramfenikol dipipet sebanyak 532 L, dan dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL, kemudian dilarutkan menggunakan ACN : akuabides (50:50) hingga tanda tera lalu dihomogenkan. Larutan standar internal kloramfenikol 25 ng/mL Larutan standar internal kloramfenikol 1000 ng/mL dipipet sebanyak 125 L, dan dimasukkan ke dalam labu takar 5 mL, kemudian dilarutkan menggunakan ACN : akuabides (50:50) hingga tanda tera lalu dihomogenkan.

Preparasi Sampel Madu ditimbang sebanyak 2 g dan dimasukkan ke dalam setiap tabung sentrifuga polipropilena 50 mL sebanyak delapan tabung untuk membuat deret

standar matriks dengan konsentrasi 0.01 ppb, 0.3 ppb, 1ppb, dan 1.5 ppb, balnko, spike 0.3 (40oC), spike 0.3 (45oC), spike 0.3 (50oC), serta sampel. Selanjutnya ditambahkan larutan standar internal sesuai Tabel 1. Larutan standar kloramfenikol Larutan 1 ng/mL Blanko 0.01 (ppb) 0.3 (ppb) 1 (ppb) 1.5 (ppb) Spike 0.3 (ng/mL) Spike 0.3 ng/mL (40 oC) A Spike 0.3 ng/mL (40 oC) B Spike 0.3 ng/mL (40 oC) C Spike 0.3 ng/mL (45 oC) A Spike 0.3 ng/mL (45 oC) B Spike 0.3 ng/mL (45 oC) C Spike 0.3 ng/mL 10 ng/mL Larutan standar internal D5kloramfenikol 25 ng/mL Akuabides

40 -

120 400 600 120 120 120 120 120 120 120 120

160 160 160 160 160 160 160 160 160 160 160 160 160

840 800 720 440 220 720 720 720 720 720 720 720 720

(50 oC) A Spike 0.3 ng/mL (50 oC) B Spike 0.3 ng/mL (50 oC) C Sampel Tabelnya di edit lagi.

120 120 -

160 160 160

720 720 840

Table ini Cuma untuk standar aja. Untuk spike yang kamu kerjain ga usah pake table tapi pake paragraph aja. Tulis pengerjaan spike 0.3 ppb tulis juga dilakukan triplo, jadi ga usah semuanya ditulis say. Penambahannya ditulis dalam bentuk paragraph terus selanjutnya sama dengan di atas, kalo suhunya beda tinggal tulis aja namun suhu evaporasi yang digunakan adalah. Standar matriks, blanko, spike serta sampel selanjutnya dihomogenkan menggunakan vorteks selama 10 hingga 20 detik, kemudian didiamkan selama 15 menit. Selanjutnya ditambahkan 4 mL etil asetat lalu di vorteks kembali, setelah itu di sentrifugasi selama 10 menit pada suhu 15 0C dengan kecepatan 7000 rpm sehingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan atas (etil asetat) dipindahkan ke dalam tabung reaksi, sedangkan lapisan bawah ditrambahkan 2 mL etil asetat dan di vorteks, lalu di sentrifugasi selama 10 menit pada suhu 15
0

C kecepatan 7000 rpm. Hasil

sentrifugasin terbentuk 2 lapisan lagi, lapisan atas (etil asetat) dipindahkan kedalam tabung reaksi yg awal. Sisa etil asetat dalam tabung reaksi di uapkan dengan vakum evaporator selama 60 menit pada suhu 400C dengan kecepatan 110 rpm untuk blanko, 0.01 ppb , 0.3 ppb, Spike 0.3 ng/mL, Spike 0.3 ng/mL (40 oC) A , Spike 0.3 ng/mL (40 oC) B , Spike 0.3 ng/mL (40 oC) C serta sample. dan juga sampel. Untuk vakum evaporator selanjutnya selama 75 menit dan pada suhu 450C serta kecepatan 110 rpm untuk .Spike 0.3 ng/mL (45 oC) A , Spike 0.3 ng/mL (45 oC) B , Spike 0.3 ng/mL (45 oC) C. Lalu evaporator pada suhu 500 C (45 oC) A, Spike 0.3 ng/mL (45

C) B, Spike 0.3 ng/mL (45 oC) C. Kemudian sisa etil asetat di uapkan dengan

mengalirkan gas nitrogen. kemudian ditambahkan 1 mL isooktana dan 1 mL aquabides lalu di vorteks dan disentrifugasi selama 10 menit pada suhu 15 0C dengan kecepatan 7000 rpm, sehingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan bawah yaitu air dipindahkan kedalam vial menggunakan syringe dan syringe filter 0.22 m. selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan LC-MS/MS.

Analisis sampel Kondisi LC-MS/MS diatur sesuai dengan metode Applied Biosystem (experimental conditions to analyze chloramphenicol) yang sudah meruoakan hasil optimasi dengan kondisi sebagai berikut:

Kondisi LC-MS/MS Kromatografi cair (Ultra Fast Liquid Chromatography dengan penguji sampel

otomatis Shimadzu) Volume injeksi Eluen A Eluen B Laju Alir Bahan bakar Kolom Temp. Kolom Detector : 10 L : Akuabides mutu LC : Asetonitril mutu LC : 0,40 mL/menit : Nitrogen : phenomenex Aqua 5u c18 125A, 50 x 2 mm : 25 0C : (3200 Q-TRAP LC-MS/MS SYSTEM)

Temp. Detektor

: 600 0C

Kondisi spektroskopi massa Q1 mass 320.89 320.89 325.90 Q2 mass 152.20 257.20 156.90 Time (s) 150 150 150 CE (volt) -24 -14 -24

Keterangan Q1 Q2

: Bobot Molekul (BM) pada MS1 : Bobot Molekul (BM) pada MS2

Time : waktu yang dibutuhkan CE fragmentasi CE : (Collision Energy) energy yang diperlukan untuk memfragmentasi BM pada MS1 ke MS2

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kloramfenikol merupakan jenis antibiotik yang bekerja dengan menhambat sintesis protein pada mikroba. Pada analisis residu kloramfenikol tehadap madu dilakukan menggunakan Liquid Chromatography tandem Mass Spectrometry (LCMS/MS). Kromatografi cair yang digunakan merupakan kromatografi cair dengan tekanan rendah tetapi memiliki kecepatan yang tinggi dalam analisisnya karena dipengaruhi dengan penggunaan partikel bahan dalam kolom 2.2 m, laju air yang cepat, kolom lebih kecil sehingga pelarut yang digunakan lebih sedikit, dan analisisnya dapat menganalisis molekul dengan ukuran kecil. UFLC ini dilengkapi dengan detektor Mass Spectrometry dimana analisisnya lebih spesifik dan akurat dibandingkan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) karena pada HPLC hasil analisis yang didapat berupa puncak serapan sehingga belum cukup untuk mengetahui spesifik dari suatu senyawa karena suatu senyawa memiliki nilai serapan yang sama antara senyawa lain sedangkan analisis LC-MS/MS hasil analisis yang didapat berupa bobot molekul sehingga suatu senyawa dapat dipastikan dengan akurat karena suatu senyawa memiliki bobot molekul yang berbeda-beda. Analisis residu kloramfenikol pada madu, digunakan menggunakan metode RIKILT 2002 dan Applied Biosystem, serta telah dilakukan validasi di Laboratorium Instrumen BPMBEI sesuai dengan aturan Komisi Eropa 2002/657/EC. Parameter yang telah dilakukan dalam validasi ini berupa limit deteksi, linieritas, akurasi dan

presisi,sehingga metode ini telah teruji validitasnya untuk digunakan dalam analisis kloramfenikol pada bahan pangan. Pada metode ini membuat deret standar matriks, dengan menambahkan beberapa pereaksi yaitu Standar internal, D5-Chloramphenicol atau treo-kloramfenikol-N-[(1RS, 2RS)-2-hidroksi-1-hidroksimetil-2-(4-nitrofenilD4)-2-D-etil]-asetamida dengan bobot molekul 328.16 g/mol, merupakan standar yang ditambahkan ke dalam sampel yang memiliki kesamaan struktur kimia dengan analat dalam sampel, yaitu kloramfenikol. Sedangkan standar adisi, 2,2-dikloro-N[(1R,2R)-2-dihidroksi-1-hidroksimetil-2-(4-nitrofenil)etil]-asetamida dengan bobot molekul 323.13 g/mol, merupakan standar yang ditambahkan ke dalam sampel dan merupakan senyawa yang ingin diketahui keberadaannya atau konsentrasinya dalam sampel tersebut. Standar matriks ini terdapat spike yang telah ditentukan oleh MRPL dengan konsentrasi 0.3ppb pada kloramfenikol . Preparasi dalam metode ini terdapat beberapa tahap yang pertama dilakukan ekstraksi terhadap deret standar matriks dengan larutan etil asetat dan disentrifugasi untuk memisahkan hasil ekstrak dengan sampel (madu) sehingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas merupakan lapisan etil asetat sedangkan lapisan bawah merupakan sampel (madu). Ekstraksi dilakukan duplo untuk memaksimalkan pemisahan residu klormfenikol dalam sampel. Setelah itu lapisan atas diambil kemudian deret standar matriks serta spike 0.3 ppb di evaporasi untuk menguapkan etil asetat yang terdapat dalam ekstrak dengan perbedaan suhu 400C, 450C, dan 500C. lalu di gunakan gas Nitrogen untuk menguapkan etil asetat yang masih tersisa. Kemudian dilarutkan kembali dengan 1mL isooktana dan 1 mL aquabides, pada penggunaan larutan isooktana untuk menarik zat pengotor yaitu senyawa-senyawa yang bersifat non polar yang terdapat dalam sampel sedangkan aquabidest untuk melarutkan ekstrak. Setelah itu di vorteks dan di sentrifugasi, lalu diambil lapisan bawah yang berupa air dan disaringpenyaringan dengan syringe filter (PVDF 13mm 0,22 m) agar zat pengotor yang masih terdapat dalam sampel tidak ikut serta dalam analisis sebagai pengganggu. Kemudian dimasukkan kedalam vial dan dapat dianalisis dengan LCMS/MS.

Pada analisis residu kloramfenikol dengan LC-MS/MS digunakan fasa geraknya (eluen) yaitu 100% air dan 100% pelarut organik. Tetapi, pada penggunaan eluen lebih baik dicampurkan karena akan lebih sensitivitas terhadap pemisahan sampel sehingga pada analisis ini digunakan dua fasa gerak, yaitu akuabides dan asetonitril. Pembahasan datanya mana??? Itu lebih penting. Trus pembahasan linearitasnya juga mana? Jangan lama-lama ya!!!!!!1