Anda di halaman 1dari 18

HASIL DISKUSI KELOMPOK 5 MODUL ORGAN AI BAYI PEREMPUAN USIA 6 BULAN YANG DATANG PERTAMA KALI UNTUK DIIMUNISASI

JAKARTA 27 JULI 2009 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

Daftar Nama Anggota Kelompok 5 030.05.172 030.07.004 030.07.017 030.07.030 030.07.048 030.07.062 030.07.082 030.07.095 030.07.114 030.07.133 030.07.145 030.07.161 030.07.174 Putri Melati Adhy Hermawan Andriyanti Setyawardani Ari Suganda Charlie Windri Dewa Putu Sarirastho MS Erika Devi Andriani Fransiscus Ronaldo Ina Julia Sari Kartika Novieka Wirawan Lu Lady Mega Octavia Maya Syafira Nafisa Muthmainnah

PEMBAHASAN KASUS Sesi I Seorang bayi perempuan dibawa ibunya kepada Anda, sebagai GP untuk mengikuti program pengembangan imunisasi. Bayi ini baru sekarang dijadwalkan untuk imunisasi, karena ibunya khawatir, sebab si bayi sering menderita kemerahan di pipi dan siku. Ia sering menggaruk-garuk efloresensi tersebut. Dari temannya, si ibu mendengar bahwa akan timbul masalah bila anaknya divaksinasi. Sesi II Pada anamnesis selanjutnya diketahui si bayi mendapat ASI sampai usia 3 bulan, lalu diberi susu formula. Di samping itu, si bayi mendapat makanan tambahan semi solid dan telur. Kakak laki-lakinya menderita nut allergy.

Pemeriksaan fisik: o Keadaan umum baik o Tanda-tanda vital dalam batas normal, hanya warna kedua pipi dan kedua siku kemerahan.

Masalah- masalah yang ditemukan : Kemerahan di pipi dan kedua siku. Anak sering menggaruk- garuk karena gatal, hal ini termasuk dalam kriteria mayor dermatitis atopik. Umur enam bulan baru akan divaksinasi. Mendapatkan asi sampai umur tiga bulan seharusnya sampai umur enam bulan. Susu formula protein asing merupakan factor pencetus. Makanan semi solid dan telur juga merupakan factor pencetus. Kakak laki-laki menderita nut allergy hal ini menunjukan adanya atopik dalam keluarga.

Hipotesis Masalah : Dermatitis atopik (1) Hanifin dan Lobitz 1977. Kriteria mayor ( >3 ) o Pruritus, lokasi kelainan di daerah muka dan ekstensor. o Dermatitis bersifat kronik residif. o Riwayat atopik pada penderita atau keluarganya. Kriteria minor ( >3 ) o Xerosis. o Iktiosis/ pertambahan garis di palmar / keatosis piliaris. o Reaktivasi pada uji kulit tipe cepat.

o Peningkatan kadar IgE. Hipersensitivitas terhadap makanan. Dalam kasus ini terhadap susu formula dan telur. o Kecendrungan mendapat infeksi kulit/ kelainan imunitas seluler. o Dermatitis pada areola mammae. o Keilitis. o Konjungtivitis berulang. o Lipatan Dennie-morgan daerah infra orbita. o Keratokonus. o Katarak hiperpigmentasi daerah orbita. o Kepucatan/eritema daerah muka. o Pitriasis alba. o Lipatan leher anterior. o Gatal bila berkeringat. o Intoleransi makanan. o Perjalanan penyakit dipengaruhi lingkungan dan emosi. o White dermographism/ delayed blanch.

Modifikasi Untuk Bayi 3 kriteria mayor: Riwayat atopi pada keluarga dermatitis pada muka atau ekstensor pruritus Xerosis/iktiosis/hiperlinearis plantaris Aksentuasi perifolikular Fisura belakang telinga Skuama di skalp kronik.

3 kriteria minor:

Pembentukan IgE meningkat, Eosinophilia. Pembentukan IgE meningkat dari TH2 yang diinduksi oleh Interleukin spesifik alergen yang diproduksi sel T pada darah perifer (interleukin IL-4, IL-5 dan IL-13) meningkat maka terjadi reaksi Hipersensitivitas tipe I. Keterlambatan vaksinasi karena kurangnya pengetahuan ibu, faktor lingkungan juga sangat berperan, seperti pada kasus ini ibu mendengar dari temannya bahwa akan timbul masalah apabila anaknya divaksinasi. Susu formula. Alergi terhadap susu formula yang mengandung protein susu sapi. Protein susu sapi merupakan alergen tersering pada berbagai reaksi hipersensitivitas pada anak. Protein susu sapi terbagi menjadi kasein and whey. Kandungan pada susu sapi yang paling sering menimbulkan alergi adalah lactoglobulin, selanjutnya casein, lactalbumin bovine serum albumin (BSA). Penelitian terakhir menyebutkan casein-specific IgE didapatkan 100% pada kelompok penderita alergi, IgE dari lactoglobulin sekitar 13%, -lactalbumin sekitar 6%. Makanan semi solid dan telur Alergen di dalam makanan adalah protein, glikoprotein atau polipeptida dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan ensim proteolitik. Alergen makanan dapat menimbulkan reaksi alergi. Di dalam telur ayam, ovalbumin terdapat sekitar 65% dari total protein yang terkandung. Zat tersebut merupakan bahan yang mempunyai tingkat alergenitas yang paling besar dari seluruh protein telor, seperti yang telah ditunjukkan oleh pemeriksaan radioallergosorbent test (RAST) dan pemeriksaan pelepasan histamine. Tidak diberikan asi eksklusif dapat menyebabkan mudah terkena alergi karena asi mentransfer IgA kepada anak. Fungsi IgA pada permukaan mukosa dapat menangkal alergen masuk ke dalam tubuh. Dalam riwayat keluarga diketahui bahwa kakak laki-lakinya menderita nut allergy. Ini menunjukkan ada riwayat atopik dalam keluarga.

Anamnesis tambahan : o Sejak kapan pasien menderita keluhan seperti ini ? o Apakah kemerahan terjadi di bagian tubuh yang lain selain pipi dan siku? o Apakah setelah minum susu formula pasien seringkali gelisah? o Apakah pasien seringkali bersin- bersin pada malam hari atau saat udara dingin? o Apakah pasien menderita asma? Pemeriksaan Fisik pada pasien ini Status Generalis: Keadaan umum : baik. Inspeksi : melihat seluruh tubuh pasien apakah terdapat perubahan maupun kelainan. Palpasi Perkusi batas organ. Auskultasi : meraba organ (KGB, abdomen) untuk mengetahui konsistensinya. : mendengar perbedaan suara ketuk organ abdomen apakah ada pergeseran : mendengar bising jantung, suara pernafasan, peristaltic usus.

Pada pasien ini tanda- tanda vital dalam batas normal. Wajah, kulit, dan KGB dalam batas normal. Status Lokalis: Mencari keleinan-kelainan pada kriteria minor.

Pemeriksaan Penunjang Berikut ini adalah pemeriksaan penunjang yang dianjurkan kepada pasien:

Prick test/ uji tusuk

Pasien diduga menderita alergi makanan, pasien juga diperiksa apakah pasien alergi juga terhadap alergen hirup, karena itu prick test dapat dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyebab timbulnya DA (Dermatitis Atopik) pada pasien ini, dengan menggunakan ekstrak alergen yang kira-kira ada di lingkungan pasien, misalnya alergen hirup seperti tungau, kapuk, debu rumah, bulu kucing, tepung sari rumput; atau alergen makanan seperti susu dan telur. Bila indurasi >6 mm pada usia <2 tahun akan memiliki korelasi yang baik dengan uji DBPCFC. Uji Eliminasi/Provokasi

Merupakan gold standart dari diagnosis alergi makanan. Uji yang lazim digunakan adalah DBPCFC (double blind placebo control food challenge). Orang tua mencatat diet makanan, gejala yang timbul, dan obat yang diberikan kepada anak selama 2 minggu. Setelah itu dievaluasi oleh dokter, dan mungkin ditemukan makanan yang dicurigai (pada kasus ini mungkin makanan tersangka adalah susu sapi, makanan semi solid perlu ditanyakan lebih lanjut kepada ibu pasien, dan telur), kemudian makanan tersebut dieliminasi dari dietnya selama 2 minggu. Bila gejala hilang atau berkurang maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Untuk uji provokasi susu sapi, setelah dieliminasi Selama 2-3 minggu dan ternyata gejala berkurang atau menghilang, maka susu sapi diberikan secara bertahap mulai 3 ml dinaikkan menjadi 6 ml lalu 12 ml sampai tercapai jumlah susu yang diminum, dengan interval pemberian 10 menit. Bila setelah 2 jam tidak timbul gejala, berarti uji provokasi

negatif dan anak dinyatakan tidak ASS. Uji provokasi sebaiknya dilakukan di rumah sakit.

PRIST (Paper Radioimmunosorbent Test)

Merupakan pemeriksaan IgE total, berguna untuk menentukan status alergi penderita. Kadar IgE > 300/ml pada umumnya menunjukkan bahwa penderita adalah atopi, atau mengalami infeksi parasit, atau keadaan depresi imun selular. Darah tepi

Hitung jenis leukosit dapat menyingkirkan penyakit infeksi. Bila eusinofilia >5% atau >500/ml (bila >3% atau >300/ml alergi susu sapi), condong ke arah alergi. Peningkatan eosinfil seiring dengan meningkatnya IgE, tetapi tidak seiring dengan beratnya penyakit. Hitung leukosit < 5000/ml disertai neutropenia < 30% seringkali ditemukan pada alergi makanan.

Diagnosis Kerja Dermatitis Atopik Diagnosis Banding Dermatitis seboroik Dermatitis kontak Dermatitis numularis Skabies Iktiosis Psoriasis Dermatitis herpetiformis Duhring Sindrom Sezary Penyakit Lettere-Siwe Sindrom imunodefisiensi

Penatalaksanaan

Non medikamentosa Menginformasikan kepada ibu pasien mengenai penyakit anaknya, termasuk perjalanan penyakit, dampak psikologis, prognosis, dan prinsip penatalaksanaan. Menghindari atau sedikitnya mengurangi faktor penyebab, misalnya mengeliminasi makanan (yang akan diketahui melalui uji eliminasi/ provokasi), faktor inhalan (tungau, debu rumah), atau faktor pencetus (iklim/ suhu ekstrem seperti panas atau dingin sekali, cegah anak banyak berkeringat). Dianjurkan meneruskan ASI dan ibu juga harus menghindari alergen. Bila tidak dapat meneruskan pemberian ASI, dapat diberikan susu sapi hidrosilat whey atau hidrosolat casein. Bila pasien telah didiagnosis ASS (Alergi Susu Sapi), susu sapi harus secara ketat dihindari dan susu kedelai dapat dipilih sebagai pengganti. Orang tua pasien juga perlu diberitahukan untuk memperhatikan label setiap makanan siap olah sebelum dikonsumsi.

Label makanan mengandung susu sapi: Artifisial butter Butter Buttermilk Casein Keju Cream Keju cottage Yogurt Casein hidrosilat Susu kambing Laktalbumin Laktoglobulin Lactose Laktulosa Sour cream whey

Menjaga kebersihan ibu, anak, dan lingkungan. Potong kuku anak supaya ketika menggaruk, tidak menyebabkan lesi yang dapat terjadi infeksi sekunder.

Medikamentosa Topikal : Hidrasi kulit menggunakan sabun lunak non pewangi pelembab kulit contoh: lanolin, krim air dalam minyak, atau urea 10% dalam krim. krim hidrokortison 1% untuk wajah untuk mengatasi peradangan dan rasa gatal. Bila dengan kortikosteroid topikal tidak adekuat untuk menghilangkan rasa gatal dapat ditambahkan krim yang mengandung mental, fenol, lidokain, atau asam salisilat. Bila tetap tidak adekuat, pengobatan sistemik dapat dipertimbangkan. Bila steroid topikal direncanakan untuk jangka panjang, dapat digunakan penghambat calcineurin inhibitor (tacrolimus, pimecrolimus) sebagai pengganti.

Sistemik (digunakan bila dengan pengobatan topikal tidak berhasil): Antihistamin (H1) untuk mengatasi gatal

contoh : difenhidramin, hidrosizin, prometazin

Pemakaian antihistamin harus dihindari selama test provokasi

Imunisasi(3) Imunisasi untuk pasien ini adalah:

- Imunisasi Wajib Vaksin BCG Pemberian imunisasi 1x Selang waktu pemberian Waktu pemberian Dosis 0,05 cc Tempat suntikan Intrakutan lengan kanan atas pada insersio M. deltoideus (sesuai anjuran WHO) Paha tengah luar, intramuskular

Hepatitis B

3x

Bila belum pernah/ terlambat dapat diberikan kapan saja hepB-2: 4 Bila belum minggu pernah/ terlambat setelah hepB dapat 1. diberikan kapan saja. Pada pasien ini: hepB-1 hepB-3: 5 sekarang (usia 6 bulan setelah bulan)

0,5 cc

hepB-2.

- hepB-2 usia 7 bulan - hepB-3 usia 1 tahun 0,5 cc Paha tengah luar, intramuskular

DTP

3x

Polio (OPV)

5x (Polio 1, 2, 3, 4, 5)

Bila belum pernah/ terlambat berikan sesuai imunisasi dasar baik dosis maupun interval. Pada pasien ini: - DTP-1 sekarang (usia 6 bulan) - DTP-2 usia 8 bulan - DTP-3 usia 10 bulan Polio-2: 2 - Polio-1 bulan setelah sekarang (usia 6 polio-1. bulan) Polio-3: 2 - Polio-2 usia bulan setelah 8 bulan polio-2. - Polio-3 usia Polio-4: 1 10 bulan tahun setelah - Polio-4 usia polio-3 22 bulan Polio-5: saat - Polio-5: saat masuk masuk sekolah sekolah dasar dasar (usia 5/6 tahun)

4-8 minggu (interval terbaik: 8 minggu)

2 tetes (0,1 cc)

Diteteskan di mulut

Vaksin HiB

Imunisasi yang dianjurkan untuk pasien ini (non-PPI): Pemberian imunisasi 2x Selang waktu pemberian Umur - Sekarang (6 bulan) - usia 18 bulan - Dosis 1: sekarang (usia 6 Dosis 0,5 cc Tempat suntikan Intramuskular

Pneumokokus (PCV)

3x

2 dosis interval 4 minggu,

5 cc

Intramuskular

dosis ketiga diberikan setelah 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis ke-2

bulan) - Dosis 2: Usia 7 bulan - Dosis 3: Usia 19 bulan

TINJAUAN PUSTAKA Jadwal imunisasi mengikuti interval imunisasi (3)

BCG (Bacillus Calmette-Guerin) Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini "berhasil," maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam. DPT (Difteri Pertusis Tetanus) Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi. Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan Batuk Seratus Hari adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking. Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot.Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejangkejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha

Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi ketiganya secara bersamaan sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas .

POLIO Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut. Di beberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT Pemberian imunisasi polio akan menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Poliomielitis. Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali dengan selang waktu tidak kurang dari satu bulan CAMPAK Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan oleh sebuah virus yang bernama Virus Campak. Penularan melalui udara ataupun kontak langsung dengan penderita.Gejala-gejalanya adalah : Demam, batuk, pilek dan bercak-bercak merah pada permukaan kulit 3 5 hari setelah anak menderita demam. Bercak mula-mula timbul dipipi bawah telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota tubuh lainnya. Komplikasi dari penyakit Campak ini adalah radang Paru-paru, infeksi pada telinga, radang pada saraf, radang pada sendi dan radang pada otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen ( menetap ). Pencegahan adalah dengan

cara menjaga kesehatan kita dengan makanan yang sehat, berolah raga yang teratur dan istirahat yang cukup, dan paling efektif cara pencegahannya adalah dengan melakukan imunisasi. Pemberian Imunisasi akan menimbulkan kekebalan aktif dan bertujuan untuk melindungi terhadap penyakit campak hanya dengan sekali suntikan, dan diberikan pada usia anak sembilan bulan atau lebih. HEPATITIS B Adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penyebaran penyakit terutama melalui suntikan yang tidak aman, dari ibu ke bayi selama proses persalinan, melalui hubungan seksual. Infeksi pada anak biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala yang ada adalah le mah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu, urine menjadi kuning, kotoran menjadi pucat. Warna kuning bisa terlihat pula mata ataupun kulit. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan Cirrhosis hepatis, kanker hati dan menimbulkan kematian.

Vaksinasi Vaksinasi meniru respons imun adaptif terhadap patogen, dengan diproduksinya antibodi dan atau respons seluler. Pajanan Jumlah antibodi Heavy chain isotope switching Maturasi afinitas Primary response Pertama Lebih kecil Secondary response Lebih dari satu kali Lebih besar Peningkatan Peningkatan

Vaksinasi memakai prinsip secondary response di mana pada pajanan yang berulang akan meningkatkan respon imun.

DAFTAR PUSTAKA 1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. 2008. Jakarta: FKUI. P.138-47. 2. Kliegman RM, Behrman RE, Jensen HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th Edition. Saunders Elsevier. P. 971-5. 3. CDC. Vaccine Recommendations for Infant and Children. Available at: http://wwwn.cdc.gov/travel/yellowbook/2008/ch8/vac-rec-infantschidren.aspx.