Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Apabila membicarakan masalah hukum maka hal ini berarti memberikan sumber hokum yakni, segala sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan yang bersifat memaksa/sebagai daya atau kekuatannya, apabila aturan-aturan tersebut dilanggar. Kenyataan bahwa pengantar hokum yang kita pelajari hingga kini didasarkan atas bahan-bahan yang ditulis oleh para serjana belanda atau oleh serjana hokum.yang berisikan makna pengantar ilmu hokum, dengan pengurain latar belakang yang mencoba menjelaskan hokum baik yang rill maupun tidak rill tentang pengertian manusia dengan alam sekeliling serta pergaulan, memperhatikan aspek-aspek metodelogi.adapun beberapa factor yang dapat mempengaruhi penegakkan hokum. Penegakan hukum berasal dari masyarakat, dan bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat. Oleh karena itu, dipandang dari sudut tertentu, maka masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum tersebut.Masyarakat Indonesia mempunyai kecendrungan yang besar untuk mengartikan hukum dan bahkan

mengidentifikasikannya dengan petugas (dalam hal ini penegak hukum sebagai pribadi). Salah satu akibatnya adalah, bahwa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Plato Hukum merupakan peraturan-peraturan yang teratur dan tersusun baik yang mengikat masyarakat. 2. Aristoteles Hukum hanya sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat masyarakat tetapi juga hakim. 3. E. Utrecht Hukum merupakan himpunan petunjuk hidup perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat yang seharusnya ditaati oleh seluruh anggota masyarakat oleh karena itu pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah/penguasa itu. 4. R. Soeroso SH Hukum adalah himpunan peraturan yang dibuat oleh yang berwenang dengan tujuan untuk mengatur tata kehidupan bermasyarakat yang mempunyai ciri memerintah dan melarang serta mempunyai sifat memaksa dengan menjatuhkan sanksi hukuman bagi yang melanggarnya. 5. Abdulkadir Muhammad, SH Hukum adalah segala peraturan tertulis dan tidak tertulis yang mempunyai sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya. 6. Mochtar Kusumaatmadja dalam Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional (1976:15) Pengertian hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum itu sebagai suatu perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tapi harus pula mencakup lembaga (institusi) dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.

BAB III PEMBAHASAN 1. Judul buku : Teori Hans Kelsen tentang hokum Pengarang :prof. Dr.Jimly Asshiddie, S.H. Penerbit : Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Tahun terbit : 2006

Hukum adalah tata aturan ( order ) sebagai sesuatu system aturan-aturan ( rules ) tentang prilaku manusia.pernyataan bahwa hukum adalah suatu tata aturan tentang prilaku manusia tidak berarti bahwa tata hukum ( legal order ) hanya terkait dengan prilaku manusia, tetapi juga dengan kondisi tertentu yang terkait dengan prilaku manusia. 2. Judul buku : dasar dasar ilmu hokum Pengarang : Prof. Chainur Arrasjid, S.H. Penerbit : Sinar Grafika Tahun terbit :2000

Hukum adalah seluruh aturan tingkah laku berupa norma atau kaidah baik tertulis maupun tidak tertulis yang dapat mengatur dan menciptakan tata tertip dalam masyarakat yamg harus ditaati oleh setiap anggota masyarakatnya berdasarkan keyakinan dan kekuasaan hukum itu.

3. Judul buku : pengantar perbandingan system hokum Pengarang : Ade Maman Suherman,S.H.,M sc. Penerbit : PT. Raja Grafindo Persada,jakatra Tahun terbit : 2004

Hukum dalam arti sempit adalah hokum ketika masyarakat

menaati dan

menerapkannya terrhadap anggotanya sendiri, dan hokum secara universal adalah hukum alam ( mahzab natural law).

4. Judul buku : pengantar ilmu hokum Pengarang : Dr. Hasanuddin AF,MA(et all) Penerbit :PT. pustaka AL Husna Baru Tahun terbit : 2004

Hukum adalah sebagai suatu aturan yang didevasi( diturunkan dari norma-norma yang berkembang dimasyarakat) pada dasarnya merupakan seperangkat kesepakatankesepakatan yang telah dinegosiasikan antara dimaksudkan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia.

5. Judul buku : menguak realita hokum Pengarang : Prof. Dr.Achmad Ali, S.H.,M.H. Penerbit : kencana prenada media group Tahun terbit : 2008

Hukum adalah seperangkat norma tentang apa yang benar dan yang salah,yang di buat atau akui eksistensinya oleh pemerintah yang ditungkan baik sebagai aturan tertulis ( peraturan) ataupun yang tak tertulis, yang mengikat adan sesuai denga kebutuhan masyarakatnya secara keseluruhan, dan dengan ancaman sanksi bagi

pelanggar aturan itu.

6. Judul buku : pengantar Tata hokum Indonesia Pengarang : Dr. sudarsono, SH.,M.Si Penerbit : Rineke cipta Tahun terbit : 2003

Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yaitu yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu.

7. Judul buku : pengantar ilmu hokum Pengarang : Prof.Drs. C. S. T. Kansil, S. H. Penerbit: sinar grafika Tahun terbit : 2001

Hukum adalah barang siapa yang sengaja melanggar sesuatu kaidah hokum akan dikenakan sanksi( sebagai akibat pelanggaran kaidah hukum) yang berupa hukuman.

8. Judul buku : Tanya jawab filsafat hokum Pengarang : Drs. Rudy T. Erwin, SH. Penerbit : rineka cipta Tahun terbit : 1990

Hukum adalah rangkaian peraturan-peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat dan brtujuan mengadakan tata tertib diantara anggota-anggota masyarakat itu.

9. Judul buku : menguak tabir hokum Pengarang : Dr. Acmad Ali, SH, MH Penerbit : Chandra pratama Tahun terbit : 1996

Hukum adalah seperangkat aturan yang diadakan dan dilaksanakan oleh suatu masyarakat dengan menghormati kebijakan dan pelaksanaan kekuasaan atas setiap manusia dan barang.

A. MACAM-MACAM PEMBAGIAN HUKUM Pembagian hukum menurut asas pembagiannya : 1. Pembagian hukum menurut sumbernya a. Hukum undang-undang adalah hukum yang terletak dalam perundangundangan. b. Hukum kebiasaan adalah (adat ) adalah hukum yang terlatak peraturanperaturan kebiasan (adat). c. Hukum traktat dalah hukum yang ditetapkan oleh Negara-negara didalam suatu perjanjian antara Negara(traktat). d. Hukum yurisprundensi adalah hukum yang terbentuk karena kuputusan hakim. 2. Pembagian hukum menurut bentuknya a. Hukum tertulis yaitu hukum yang dicantumkan dalam berbagai peraturan perundangan. Hukum tertulis ada 2 macam yaitu : Hukum tertulis yang telah dikondifikasikan,seperti kita undang-undang hukum perdata (1848) dan kitab undang-undang pidana (1981). Hukum tertulis yang belum dikondifisikasikan, seperti hukum perkoperasian, hak paten, hak cipta, dan hukum agrarian. b. Hukum tak tertulis dalah hukum yang masih hidup dalam keyakinan masyarakat, tetapi tidak tertulis(hukum kebiasaan). 3. Pembagian hukum menurut tempat berlakunya a. Hukum nasional yaitu hukum yang berlaku dalam sutu negara b. Hukum internasional yaitu hukum yang mengatur hubungan hukum dalam dunia internasional. c. Hukum asing yaitu hukum yang berlaku dalam Negara lain. d. Hukum gereja yaitu hukum kumpulan norma-norma yang ditetapkan oleh gereja untuk para anggotanya. 4. Pembagian hukum menurut waktu berlakunya a. Ius constitutum(hukum positif ) yaitu hukum yang berlaku sekarang bagi suatu masyarakat tertentu dalam suatu daerah tertentu. b. Ius constituendum yaitu hukum yang diharapkan berlaku pada waktu yang akan dating. c. Hukum asasi( hukum alam ) yaitu hukum yang berlaku dimana-mana dalam segala waktu dan untuk segala bangsa didunia.
6

5. Pembagian hukum menurut cara pertahanannya a. Hukum materil yaitu hukum yang memuat peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan dan perungang-undangan yang

berwujud perintah-perintah dan larangan-larangan. Cantoh hukum materil yaitu hukum perdata,hokum pidana dll. b. Hukum formil adalah ( hukum proses/hukum acara) yaitu hukum yang memuat peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-cara

melaksanakan dan mempertahankan hukum mareril/peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-caranya mengajukan sesuatu perkara kemuka pengadilan. 6. Pembagian hukum menurut sifatnya a. Hukum memaksa yaitu hukum yang dalam keadaan bagaimanapun juga harus dan mempunyai pelaksaan mutlak. b. Hukum yang mengatur ( hukum pelengkap ) yaitu hukum yang dapat dikesampingkan apabila pihak-pihak untuk yang bersangkutan telah mumbuat peraturan sendiri dalam suatu perjanjian. 7. Pembagian hukum menurut wujudnya a. Hukum obyektif adalah hukum dalam suatu Negara yang berlaku umum dan tidak mengenai orang atau golongan tertentu. b. Hukum subyektif adalah hukum yang timbul dari hukum obtektif dan berlaku seseprang teertentu atau lebih,hukum subyektif disebut juga Hak. 8. Pembagian hukum menurut isinya a. Hukum privat adalah hokum yang mengatur hubungan-hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain. b. Hukum publik adalah hukum ( hukum Negara ) yaitu hukum yang mengatur antara Negara dengan alat-alat pelengkapnya atau hubungan antara Negara dengan perseorangan ( warga Negara ).

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUKUM Secara konsepsional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidahkaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian

penjabaran

nilai

tahap

akhir,

untuk

meniptakan,

memelihara,

dan

mempertahankan kedamaian pergaulan hidup (Soekanto, 1979). Pokok penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut.

Faktor-faktor tersebut adalah, sebagai berikut:

1. Faktor hukumnya sendiri, dalam hal ini dibatasi pada undang-undang saja. 2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. 3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. 4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan. 5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Kelima faktor tersebut saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur daripada efektivitas penegakan hukum. Dengan demikian, maka kelima faktor tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan mengetengahkan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan masyarakat Indonesia.

1. Undang-undang Undang-undang dalam arti material adalah peraturan tertulis yang berlaku umum dan dibuat oleh Penguasa Pusat maupun Daerah yang sah (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1979). Mengenai berlakunya undang-undang tersebut, terdapat beberapa asas yang tujuannya adalah agar undang-undang tersebut mempunyai dampak yang positif. Asas-asas tersebut antara lain (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1979): 1. Undang-undang tidak berlaku surut. 2. Undang-undang yng dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, 3. mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula.

4. Undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang bersifat umum, apabila pembuatnya sama. 5. Undang-undang yang berlaku belakangan, membatalkan undang-undang yan berlaku terdahulu. 6. Undang-undang tidak dapat diganggu guat. 7. Undang-undang merupakan suatu sarana untuk mencapai kesejahteraan spiritual dan materiel bagi masyarakat maupun pribadi, melalui pelestaian ataupun pembaharuan (inovasi).

2. Penegak Hukum Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat, yang hendaknya mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu sesuai dengan aspirasi masyarakat. Mereka harus dapat berkomunikasi dan mendapat pengertian dari golongan sasaran, disamping mampu menjalankan atau membawakan peranan yang dapat diterima oleh mereka. Ada beberapa halangan yang mungkin dijumpai pada penerapan peranan yang seharusnya dari golngan sasaran atau penegak hukum, Halangan-halangan tersebut, adalah: 1. Keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa dia berinteraksi. 2. Tingkat aspirasi yang relatif belum tinggi. 3. Kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan, sehingga sulit sekali untuk membuat proyeksi. 4. Belum ada kemampuan untuk menunda pemuasan suatu kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan material. 5. Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan konservatisme.

Halangan-halangan tersebut dapat diatasi dengan membiasakan diri dengan sikap-sikap, sebagai berikut: 1. Sikap yang terbuka terhadap pengalaman maupun penemuan baru. 2. Senantiasa siap untuk menerima perubahan setelah menilai kekurangan yang ada pada saat itu. 3. Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya.
9

4. Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap mungkin mengenai pendiriannya. 5. Orientasi ke masa kini dan masa depan yang sebenarnya merupakan suatu urutan. 6. Menyadari akan potensi yang ada dalam dirinya. 7. Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasrah pada nasib. 8. Percaya pada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia. 9. Menyadari dan menghormati hak, kewajiban, maupun kehormatan diri sendiri dan ihak lain. 10. Berpegang teguh pada keputusan-keputusan yang diambil atas dasar penalaran dan perhitingan yang mantap.

3. Faktor Sarana atau Fasilitas

Tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkin penegakan hukum akan berjalan dengan lancar. Sarana atau fasilitas tersebut antara lain, mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan trampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup, dan seterusnya. Sarana atau fasilitas mempunyai peran yang sangat penting dalam penegakan hukum. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut, tidak akan mungkin penegak hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peranan yang aktual. Khususnya untuk sarana atau fasilitas tesebut, sebaiknya dianut jalan pikiran, sebagai berikut (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1983): 1. Yang tidak ada-diadakan yang baru betul. 2. Yang rusak atau salah-diperbaiki atau dibetulkan. 3. Yang kurang-ditambah. 4. Yang macet-dilancarkan. 5. Yang mundur atau merosot-dimajukan atau ditingkatkan.

4. Faktor Masyarakat Penegakan hukum berasal dari masyarakat, dan bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat. Oleh karena itu, dipandang dari sudut tertentu, maka masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum tersebut.
10

Masyarakat Indonesia mempunyai kecendrungan yang besar untuk mengartikan hukum dan bahkan mengidentifikasikannya dengan petugas (dalam hal ini penegak hukum sebagai pribadi). Salah satu akibatnya adalah, bahwabaik buruknya hukum senantiasa dikaitkan dengan pola prilaku penegak hukum tersebut.

5. Faktor Kebudayaan Kebudayaan(system) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari). Pasanagn nilai yang berperan dalam hukum, adalah sebagai berikut ( Purbacaraka & Soerjono soekantu):

1. Nilai ketertiban dan nilai ketentraman. 2. Nilai jasmani/kebendaan dan nilai rohani/keakhlakan. 3. Nilai kelanggengan/konservatisme dan nilai kebaruan/inovatisme. Di Indonesia masih berlaku hukum adat, hukum adat adalah merupakan hukum kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.

11

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN Jadi kesimpulan yang didapatkan dari apa yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat kiranya disimpulkan bahwa ilmu hukum pada dasarnya adalah menghimpun dan mensistematisasi bahan-bahan hukum dan memecahkan masalah-masalah..

B. SARAN Hokum adalah hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, oleh karena itu kita sebagai masyarakat yang benegara sudah seharusnya mempelajari dan memahami hokum yang ada di Negara masing-masing. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang disebabkan oleh keterbatasan ilmu yang penulis miliki, oleh karena itu kritikan dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

12