Anda di halaman 1dari 19

KHILAFAH Kewajiban Khilafah adalah perkara yang jelas dalilnya berdasarkan Al Quran , as Sunnah, dan ijmak Sahabat.

Meskipun demikian masih ada yang menyatakan bahwa Khilafah tidak memiliki pijakan nash. Berikut ini tulisan tentang hal itu yang diambil dari kitab ajhizatu ad Daulah al Khilafah (Struktur Negara Khilafah ). Kitab ini dikeluarkan dan diadopsi oleh Hizb at-Tahrir. (redaksi) Pertama, bahwa sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan semesta alam adalah sistem Khilafah. Di dalam sistem khilafah ini, Khalifah diangkat melalui baiat berdasarkan kitabullah dan sunah rasul-Nya untuk memerintah (memutuskan perkara) sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Dalil-dalilnya banyak, diambil dari al-kitab, as-sunah dan ijmak sahabat : Dalil dari al-kitab, bahwa Allah Swt telah berfirman menyeru Rasul saw :

Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. al-Maidah [5]: 48) Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhatihatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.(QS. al-Maidah [5]: 49). Seruan kepada Rasul saw untuk memutuskan perkara diantara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah juga merupakan seruan bagi umat Beliau saw. Mafhumnya adalah hendaknya umat Beliau mewujudkan seorang hakim setelah Rasulullah saw untuk memutuskan perkara diantara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Perintah dalam seruan ini bersifat tegas. Karena yang menjadi obyek seruan adalah wajib. Sebagaimana dalam ketentuan ushul, ini merupakan indikasi yang menunjukkan jazm (tegas). Hakim yang memutuskan perkara diantara kaum muslim setelah wafatnya Rasulullah saw adalah Khalifah. Sistem pemerintahan menurut sisi ini adalah sistem Khilafah. Terlebih lagi bahwa penegakan hudud dan seluruh ketentuan hukum syara adalah sesuatu yang wajib. Kewajiban ini tidak akan terlaksana tanpa adanya penguasa. Dan kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib. Yakni bahwa mewujudkan penguasa yang menegakkan syariat hukumnya adalah wajib. Penguasa menurut sisi ini adalah Khalifah dan sistem pemerintahannya adalah sistem khilafah. Adapun dalil dari as-Sunah, telah diriwayatkan dari Nafi, ia berkata : Abdullah bin Umar telah berkata kepadaku : aku mendengar Rasulullah saw pernah bersabda :

Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat kelak tanpa memiliki hujah, dan siapa saja yang mati sedang di pundaknya tidak terdapat baiat, maka ia mati seperti kematian jahiliyah (HR. Muslim) Nabi saw telah mewajibkan kepada setiap muslim agar dipundaknya terdapat baiat. Beliau juga mensifati orang yang mati sedangkan di pundaknya tidak terdapat baiat bahwa ia mati seperti kematian jahiliyah. Baiat tidak akan terjadi setelah Rasulullah saw kecuali kepada Khalifah, bukan yang lain. Hadits tersebut mewajibkan adanya baiat di atas pundak setiap muslim. Yakni adanya Khalifah yang dengan eksistensinya itu terealisasi adanya baiat di atas pundak setiap muslim. Imam muslim meriwayatkan dari al-Araj dari Abu Hurairah dari Nabi saw, Beliau pernah bersabda :

Seorang imam tidak lain laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung (HR. Muslim) Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abi Hazim, ia berkata : aku mengikuti mejelis Abu Hurairah selama lima tahun, dan aku mendengar ia menyampaikan hadits dari Nabi saw, Beliau pernah bersabda : : Dahulu Bani Israel diurusi dan dipelihara oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain, dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan akan ada para Khalifah, dan mereka banyak, para sahabat bertanya : lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi bersabda : penuhilah baiat yang pertama dan yang pertama, berikanlah kepada mereka hak mereka, dan sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka atas apa yang mereka diminta untuk mengatur dan memeliharanya (HR. Muslim) Di dalam hadits-hadits ini terdapat sifat bagi Khalifah sebagai junnah yakni perisai. Sifat yang diberikan Rasul saw bahwa imam adalah perisai merupakan ikhbar (pemberitahuan) yang di dalamnya terdapat pujian atas eksistensi seorang imam. Ini merupakan tuntutan. Karena pemberitahuan dari Allah dan Rasul saw, jika mengandung celaan merupakan tuntutan untuk meninggalkan, yakni larangan. Dan jika mengandung pujian maka merupakan tuntutan untuk melakukan. Dan jika aktivitas yang dituntut pelaksanaannya memiliki konsekuensi tegaknya hukum syara, atau pengabaiannya memiliki konsekuensi terabaikannya hukum syara, maka tuntutan itu bersifat tegas. Dalam hadits ini juga terdapat pemberitahuan bahwa orang yang mengurus kaum muslim adalah para Khalifah. Maka hadits ini merupakan tuntutan mengangkat Khalifah. Terlebih lagi, Rasul saw memerintahkan untuk mentaati para Khalifah dan memerangi orang yang hendak merebut kekuasaannya dalam jabatan khilafahnya. Ini

artinya perintah untuk mengangkat Khalifah dan menjaga keberlangsungan khilafahnya dengan cara memerangi semua orang yang hendak merebutnya. Imam Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasul saw pernah bersabda :

Dan siapa saja yang telah membaiat seorang imam lalu ia telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, dan jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya maka penggallah orang lain itu (HR. Muslim) Perintah mentaati imam merupakan perintah untuk mengangkatnya. Dan perintah memerangi orang yang hendak merebut kekuasaannya merupakan qarinah (indikasi) yang tegas atas wajibnya kelangsungan eksistensi Khalifah yang satu. Sedangkan dalil berupa ijma sahabat, maka para sahabat ridhwanaLlh alayhim telah bersepakat atas keharusan pengangkatan Khalifah (pengganti) bagi Rasulullah saw setelah Beliau wafat. Mereka telah bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah, lalu Umar bin Khaththab sepeninggal Abu Bakar, dan sepeninggal Umar, Utsman bin Affan. Telah nampak jelas penegasan ijmak sahabat terhadap wajibnya pengangkatan Khalifah dari penundaan pengebumian jenazah Rasulullah saw, lalu mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat Khalifah (pengganti) Beliau. Sementara mengebumikan jenazah setelah kematiannya adalah wajib. Para sahabat adalah pihak yang berkewajiban mengurus jenazah Rasul saw dan mengebumikannya, sebagian dari mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat Khalifah, sementara sebagian yang lain diam saja atas hal itu dan mereka ikut serta dalam penundaan pengebumian jenazah Rasul saw sampai dua malam. Padahal mereka mampu mengingkarinya dan mampu mengebumikan jenazah Rasul saw. Rasul saw wafat pada waktu dhuha hari Senin, lalu disemayamkan dan belum dikebumikan selama malam Selasa, dan Selasa siang saat Abu Bakar dibaiat. Kemudian jenazah Rasul dikebumikan pada tengah malam, malam Rabu. Jadi pengebumian itu ditunda selama dua malam dan Abu Bakar dibaiat terlebih dahulu sebelum pengebumian jenazah Rasul saw. Maka realita tersebut merupakan ijmak sahabat untuk lebih menyibukkkan diri mengangkat Khalifah dari pada mengebumikan jenazah. Hal itu tidak akan terjadi kecuali bahwa mengangkat Khalifah lebih wajib daripada mengebumikan jenazah. Juga bahwa para sahabat seluruhnya telah berijmak sepanjang kehidupan mereka akan wajibnya mengangkat Khalifah. Meski mereka berbeda pendapat mengenai seseorang yang dipilih sebagai Khalifah, mereka tidak berbeda pendapat sama sekali atas wajibnya mengangkat Khalifah baik ketika Rasul saw wafat, maupun ketika para Khulafaur Rasyidin wafat. Maka ijmak sahabat itu merupakan dalil yang jelas dan kuat atas wajibnya mengangkat Khalifah. Pengenalan kata : Imam al-Lughah al-Fairus Abadi dalam Qamus al-Muhiith:

.... Secara bahasa imamah merupakan masdar dari kata kerja amma, maka anda menyatakan: ammahum dan amma bihim artinya adalah taqaddamahum (yang mendahului (memimpin) mereka; yakni, imamah (kepemimpinan). Sedangkan imam adalah setiap orang yang harus diikuti baik pemimpin maupun yang lain.[al-Fairuz Abadi, al-Qaamus al-Muhith, juz IV hal 78] Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisaan al-Arab menyatakan; : .. r

. : Imam adalah setiap orang yang diikuti oleh suatu kaum baik mereka berada di atas jalan yang lurus maupun sesat Bentuk jamanya adalah aimmah. Dan imam itu adalah setiap hal yang meluruskan dan yang memperbaiki dirinya, (maka) al-Quran adalah imam bagi kaum Muslim; Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW adalah imamnya para imam. Khalifah adalah imamnya rakyat. Anda mengimami suatu kaum dalam shalat sebagai imam; maknanya adalah itamma bihi: memberi contoh di dalamnya. [Imam Ibn Mandzur, Jamaluddin Muhammad bin Makram, Lisan alArab, juz XII hal 24] Pengarang kitab Tajul Arusy min Jawahir al-Qamus, Al-Allamah Muhammad Murtadlo Az-Zabidiy menyatakan: : : : : : : : : 79 : : :

. .. . Imamah adalah jalan yang lapang. Pengertian tersebut ditafsirkan dari firman-Nya Taala: 79( Maksudnya pada jalan yang dituju yuammu , sehingga menjadi lebih jelas (spesifik). (Orang) berkata: Khalifah adalah imamnya rakyat. Abu Bakar berkata: (kalau) fulan dikatakan sebagai imam suatu kaum artinya ia adalah orang yang terkemuka dari kaum tersebut. Imam itu adalah raais (kepala), sebagaimana pernyataan anda: imamnya kaum Muslim. Selanjutnya (dia) berkata: buktinya adalah: imam safar; dan al-haadiy : imamnya unta meski dia di belakang unta, karena dialah yang mengarahkan unta [Muhammad Murtadlo Az-zubaidi, Tajul Arus min Jawahir Al-qamus, Juz VIII hal 193] Dalam al-Shihah al-Jauhari berkata: : ) Al-ammu, dengan fathah maksudnya adalah tujuan. Maka dikatakan ammahu, wa ammamahu, wa taammamahu apabila ia menujunya. [Imam Ismail bin Hamad alJauhari, Taaj al-Lughah wa Shihah al-Arabiyyah, Juz 5 hal 1865] Pengenalan secara syar'i / istilah :

Tentang Imamah Imam Al Mawardi Asy-Syafii menyatakan: . ....

Imamah itu menduduki posisi untuk khilafah nubuwwah dalam menjaga agama serta politik yang sifatnya duniawi.[Imam Al Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5] Imam Al-Haramain berkata:[1] .. Imamah itu adalah kepemimpinan yang sifatnya utuh, dan kepemimpinan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum dan khusus dalam urusan-urusan agama maupun dunia. [Imam Al Haramain, Abu Al Maali Al Juwaini, Ghiyatsul Umam fil Tiyatsi Adz-dzulam hal 15] Shahib Al Mawaqif menyatakan:[1] r . Imamah adalah merupakan khilafah Rasul SAW dalam menegakkan agama, dimana seluruh umat wajib mengikutinya. Itulah sebagian penjelasan para Ulama tentang imamah. [Idhuddin Abdurrahman bin Ahmad Al Aiji, Al-Mawaaqif, juz III, hal 574] Pada bagian yang lain Imam Al Aijiy dalam kitab Al-Mawaqif menyatakan: Sebagaian kelompok dari shahabat kami menyatakan bahwa imamah itu adalah kepemimpinan umum dalam berbagai urusan agama dan dunia.[Idem, Juz III hal 578] Imam Al Ramli menyatakan: , , Khalifah itu adalah imam agung yang menduduki jabatan khilafah nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia.[Imam Al Ramli Muhammad bin Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj fil Fiqhi ala Madzhab Al Imam Al Syafii, Juz 7, hal 289] Syeikh Musthafa Shabari, Syeikhul Islam Khilafah Ustmaniyyah, menyatakan: Khilafah itu adalah penganti dari Rasulullah SAW dalam melaksanakan syariat Islam yang datang melalui beliau saw. Shahibu Maatsiril Inafah fii Maalimil Khilafah menyatakan: Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk umat secara keseluruhan.[Asy Syeikh Musthafa Shabari, Mauqiful Aqli, wal Ilmi wal Alam, juz IV, hal 262]

Kata Imam, khaliifah atau amiril mu'minin adalah sinonim : Para Ulama mengklasifikasikan kata imam, khalifah, sebagai bentuk sinonim (taraaduf). Imam Al Hafidz Al Nawawi. Beliau menyatakan: ... :

Imam boleh juga disebut dengan khalifah, imam atau amirul Mukminin. [Syeikhul Islam Imam Al Hafidz Yahya bin Syaraf An Nawawi, Raudhah Ath Thalibin wa Umdah Al Muftiin, juz X hal 49; Syeikh Khatib Asy Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz IV, hal 132] Al Allamah Abdurrahman Ibnu Khaldun berkata: . Dan ketika telah menjadi jelas bagi kita penjelasan ini, bahwa imam itu adalah wakil pemilik syariah dalam menjaga agama serta politik duniawi di dalamnya disebut khilafah dan imamah. Sedangkan yang menempatinya adalah khalifah atau imam. [ Abdurrahman Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190] Syeikh Muhammad Najib Al Muthiiy dalam takmilahnya atas Kitab Al Majmuu karya Imam An Nawawi. Beliau menegaskan: Imamah, khilafah dan imaratul mukminin itu sinonim Syeikh Muhammad Abu Zahrah menegaskan: : Madzhab-madzahab politik secara keseluruhan selalu beredar di sekitar pembahasan khilafah. Khilafah adalah imamah al-kubra (imamah agung). Disebut khilafah karena pihak yang memegang jabatan khilafah dan yang menjadi penguasa agung atas kaum Muslim menggantikan Nabi SAW dalam mengatur urusan mereka. Disebut imamah karena, khalifah disebut Imam, dan karena taat kepadanya adalah wajib, dan karena manusia berjalan di belakang imam tersebut layaknya mereka shalat di belakang orang yang mengimami mereka dalam shalat.[ Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Almadzahib Al-islamiyyah, juz I hal 21] Kewajiban mengangkat seorang Khalifah : Syeikh Al-Islam Al Imam Al Hafidz Abu Zakaria An Nawawi berkata: ... .

Pasal kedua tentang wajibnya imamah serta penjelasan mengenai metode jalan untuk mewujudkannya). Adalah suatu keharusan bagi umat adanya seorang imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, membela orang yang didzalimi, menunaikan hak, dan menempatkan hak pada tempatnya. Saya nyatakan bahwa mengurusi urusan imamah itu adalah fardhu kifayah.[Imam Al Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa An Nawawi, Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin, juz III hal 433]. Penulis kitab Tuhfatul Muhtaj fii Syarhil Minhaj menyatakan: ... Pasal tentang syarat-syarat imam agung (khalifah) serta penjelasan metodemetode pengangkatan imamah. Mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan. [Tuhfatul Muhtaj fii Syarhil Minhaj, juz 34 hal 159 ] Syeikh Al-Islam Imam Al-hafidz Abu Yahya Zakaria Al-anshari dalam kitab Fathul Wahab bi Syarhi Minhajith Thullab berkata[1]: .

... [Syaikhul Islam Imam Al Hafidz Abu Yahya Zakaria Al-Anshari, Fathul Wahab bi Syarhi Minhajith Thullab, juz 2, hal 268] Pasal tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode in'iqad (pengangkatan) imamah. Mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan (salah satu syarat menjadi imam adalah ahli dalam peradilan). Maka hendaknya imam yang agung tersebut adalah muslim, merdeka, mukallaf, adil, lakilaki, mujtahid, memiliki visi, bisa mendengar, melihat dan bisa bicara; semua ini berdasarkan syarat-syarat pada bab peradilan dan pada ungkapan saya dengan penambahan adil adalah (dari kabilah Quraisy) berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh An Nasa'I: "bahwa para Imam itu dari golongan Quraisy". Apabila tidak ada golongan Quraisy maka dari Kinanah, kemudian pria dari keturunan Ismail lalu orang asing (selain orang Arab) berdasarkan apa yang ada pada (kitab) At-tahdzib atau Jurhumi berdasarkan apa yang terdapat dalam (kitab) At-tatimmah. Kemudian pria dari keturunan Ishaq. Selanjutnya (pemberani) agar (berani) berperang dengan diri sendiri, mengatur pasukan serta memperkuat (pasukan) untuk menaklukkan negeri serta melindungi kemurnian (Islam). Juga termasuk (sebagian dari syarat imamah) adalah bebas dari kekurangan yang akan menghalangi kesempurnaan serta cekatannya gerakan sebagaimana hal tersebut merupakan bagian dari keberanian [Syaikhul Islam Imam Al-hafidz Abu Yahya Zakaria Al-anshri, Fathul Wahab bi Syarhi Minhajith Thullab, juz 2 hal 268] Imam Fakhruddin Al Razi, penulis kitab Manaqib Asy Syafi'i, tatkala menjelaskan

surat Al Maidah :38, beliau menegaskan: ..

para Mutakallimin berhujjah dengan ayat ini bahwa wajib atas umat untuk mengangkat seorang imam tertentu untuk mereka. Dalilnya adalah bahwa Dia Ta'ala mewajibkan di dalam ayat ini untuk menegakkan had atas pencuri dan pelaku zina. Maka, adalah keharusan adanya seseorang yang melaksanakan seruan tersebut. Sungguh umat telah sepakat bahwa tidak seorangpun dari rakyat yang boleh menegakkan had atas pelaku criminal tersebut. Bahkan mereka telah sepakat bahwa tidak boleh (haram) menegakkan had atas pelaku kriminal yang merdeka kecuali oleh imam. Karena itu ketika taklif tersebut sifatnya pasti (jazim) dan ketika tidak mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali ketika adanya imam, dan ketika kewajiban itu tidak tertunaikan kecuali dengan adanya imam, dan ketika kewajiban itu masih dalam batas kemampuan mukallaf, maka (adanya) imam adalah wajib. Oleh karena itu, seketika itu juga, kewajiban mengangkat seorang Imam adalah sesuatu yang bersifat qath'i [ Imam Fakhruddin Ar-razi, Mafatihul Ghaib fii At-tafsir, juz 6 hal. 57 dan 233] Imam Abul Qasim An Naisaburi Asy Syafi'i berkata: ... { } . umat telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khitab pada firmanNya: ("maka jilidlah") adalah imam; sehingga mereka berhujjah dengan ayat ini atas wajibnya mengangkat seorang imam. Sebab, apabila suatu kewajiban itu tidak sempurna tanpa adanya sesuatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula. [Imam Abul Qasim Al Hasan bin Muhammad bin Habib bin Ayyub Asy Syafiiy An Naisaburi, Tafsir An Naisaburi, juz 5 hal 465 ] Al-Allamah Asy Syeikh Abdul Hamid Asy Syarwani menyatakan: : ... perkataannya: mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah karena adalah merupakan keharusan bagi umat adanya imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, serta memberikan hak orang yang didzalimi dari orang yang dzalim serta menunaikan hak-hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya... [Asy Syeikh Abdul Hamid Asy Syarwani, Hawasyi Asy Syarwani, juz 9, hal 74] Al Allamah Asy Syeikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al Bajairami berkata: ... }: ... tentang syarat-syarat imam yang agung serta penjelasan metode-metode sahnya in'iqad imamah. Mewujudkan imamah tersebut adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan. Disyaratkan untuk seorang imam, hendaknya ia memiliki keahlian dalam . {

peradilan; dan dari suku Quraisy, berdasarkan hadits,Para imam itu dari Quraisy; berani, agar berani berperang secara langsung; tidak memiliki cacat kekurangan yang menghalangi kesempurnaan dan kegesitan gerakan nya sebagaimana masuknya keberanian sebagai salah satu syarat imamah [ Syeikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al Bajairami, Hasyiyah Al Bajairami ala Al Khathib, juz 12 hal 393 Dalam kitab Hasyiyyah Al-bajairimi alal Minhaj dinyatakan: ... Pasal tentang syarat-syarat imam agung dan penjelasan metode-metode in'iqad imamah. Dan adanya imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan [Hasyiyyah Al Bajayrimi ala Al Minhaj, juz 15 hal 66 Imam Al-hafidz Abu Muhammad Ali bin Hazm Al Andalusi Adz Dzahiri mendokumentasikan ijma' ulama' mengenai kefardluan menegakkan imamah: ...

... Meraka (para ulama') sepakat bahwa imamah itu fardhu dan adanya imam itu merupakan suatu keharusan, kecuali An Najdat. Pendapat mereka sungguh telah menyalahi ijma' dan telah lewat pembahasan (tentang) mereka. Mereka (para ulama') sepakat bahwa tidak boleh pada satu waktu di seluruh dunia adanya dua imam bagi kaum Muslimin baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat [Imam Al Hafidz Abu Muhammad, Ali bin Hazm Al Andalusi Adz Dzahiri, Maratibul Ijma' , juz 1 hal 124] Imam 'Alauddin Al Kasani Al Hanafi berkata: .. ... dan karena sesungguhnya mengangkat imam agung itu adalah fardhu. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq mengenai masalah ini. Khilafah sebagian kelompok Qadariyyah sama sekali tidak perlu diperhatikan, berdasarkan ijma' shahabat ra atas perkara itu, serta kebutuhan terhadap imam yang agung tersebut; serta demi keterikatan dengan hukum; dan untuk menyelamatkan orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutuskan perselisihan yang menjadi sumber kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatan lain yang tidak akan terwujud kecuali dengan adanya imam [Imam 'Alauddin Al-Kassani Al Hanafi, Bada'iush Shanai' fii Tartibis Syarai', juz 14 hal. 406 Imam Al Hafidz Abul Fida' Ismail ibn Katsir ketika menjelaskan firman Allah surah Al Baqarah ayat 30 beliau berkata[1]: ...

. dan sungguh Al Qurthubi dan yang lain berdalil berdasarkan ayat ini atas wajibnya

mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong pihak yang didzalimi dari yang mendzalimi, menegakkan had-had, dan mengenyahkan kerusakan, serta urusan-urusan penting lain yang tidak mungkin ditegakkan tersebut kecuali dengan adanya seorang imam, dan apabila suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan suatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula . [ Imam al-Hafidz Abu Al-fida' Ismail Ibn Katsir, Tafsirul Qur'anil Adzim, juz 1 hal 221)] Imam Al Qurthubi ketika menafsirkan Surah Al Baqarah :30 berkata : ... ... . : : ... . , , ayat ini dalil paling asal dalam persoalan pengangkatan imam dan khalifah yang wajib didengar dan dita'ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, hukumhukum khalifah. Tidak ada perbadaan tentang wajibnya hal tersebut diantara umat, tidak pula diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-Asham Selanjutnya beliau berkata: Maka kalau seandainya keharusan adanya imam itu tidak wajib baik untuk golongan Quraisy maupun untuk yang lain lalu mengapa terjadi diskusi dan perdebatan tentang Imamah. Maka sungguh orang akan berkata: bahwa sesungguhnya imamah itu bukanlah suatu yang diwajibkan baik untuk golongan Quraisy maupun yang lain, lalu untuk apa kalian semua berselisih untuk suatu hal yang tidak ada faedahnya atas suatu hal yang tidak wajib. Kemudian beliau menegaskan: Dengan demikian maka telah menjadi ketetapan bahwa imamah itu wajib berdasarkan syara' bukan akal. Dan masalah ini jelas sekali. [Al Imam Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah Al Qurthubi, Al Jaami' li Ahkamil Qur'an, juz 1 hal 264-265] Imam Umar bin Ali bin Adil Al Hanbali Ad Dimasyqi, yang dikenal dengan Ibnu Adil, ketika menjelaskan firman Allah Ta'ala surah Al Baqarah ayat 30 berkata: ... : : ... dan Ibn Al Khatib berkata, Khalifah itu isim yang cocok baik untuk tunggal maupun plural sebagaimana cocoknya untuk laki-laki dan wanita. Kemudian beliau berkata, .Ayat ini adalah dalil wajibnya mengangkat Imam dan khalifah yang didengar dan dita'ati, untuk menyatukan pendapat, serta untuk melaksanakan hukumhukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-Asham dan orang yang mengikuti dia [Imam Umar bin Ali bin Adil Al Hanbali Ad Dimasyqi, Tafsirul Lubab fii 'Ulumil Kitab, juz 1 hal 204] Berkata Imam Abu al Hasan Al Mardawiy Al Hanbali dalam kitab Al Inshaaf: ... : . : : . . ... :

bab memerangi orang yang Bughat, terdapat dua faedah. Pertama, mengangkat imam itu adalah fardhu kifayah. Berkata di dalam Al Furuu, ..Fardhu kifayahlah yang paling tepat.[Imam Abul Hasan Ali bin Sulaiman Al Mardawi Al Hanbali, Alinshaaf fii Ma'rifatir Rajih minal Khilaf ala Madzhabil Imam Ahmad bin Hanbal, juz 16 hal. 60 dan 459] Imam Al Bahuti Al Hanafi berkata: ... ... mengangkat Imam yang agung itu atas kaum Muslimin adalah fardhu kifayah . Karena manusia membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), menjaga konsistensi (agama), penegakan had, penunaian hak serta amar ma'ruf dan nahi munkar. [Imam Mansur bin Yunus bin Idris Al Bahuti Al Hanafi, Kasyful Qanaa' an Matnil Iqnaa', juz 21 hal. 61] Sedangkan dalam kitab Mathaalib Ulin Nuha fii Syarhi Ghayatil Muntaha dinyatakan: ... : : : : .

. dan mengangkat imam itu adalah fardhu kifayah) karena manusia memang membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), memelihara konsitensi (agama), menegakkan had, menunaikan hak-hak, dan amar makruf serta nahi munkar. [Al Allamah Asy Syeikh Musthafa bin Sa'ad bin Abduh As Suyuthi Ad Dimasyqi Al Hanbali, Mathalibu Ulin Nuha fii Syarhi Ghayatil Muntaha, juz 18 hal. 381 ] Berkata Shahiibu Al Husuun Al-Hamidiyyah, Syeikh Sayyid Husain Affandi: ... Ketahuilah, sesungguhnya wajib atas kaum Muslim secara syariy, mengangkat seorang Imam yang menegakkan had, memelihara perbatasan (negara), menyiapkan pasukan..".[Sayyid Husain Afandi, Al-Husun Al-Hamidiyyah li Al Muhafadzah ala AlAqaa'id Al-Islamiyyah, hal 189]. Mas.. Yang berbeda itu secara tekstual.. Sedangkan secara konstektual itu sama / sinonim... Mksud dari pemimpin orang-orang beriman atau secara bahasa arabnya atau Pemimpin adalah .

Dan ketika telah menjadi jelas bagi kita penjelasan ini, bahwa imam itu adalah wakil pemilik syariah dalam menjaga agama serta politik duniawi di dalamnya disebut khilafah dan imamah. Sedangkan yang menempatinya adalah khalifah atau imam. [ Abdurrahman Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190]

Secara konstektual, , adalah pemimpin negara Islam pengganti kepemimpinan Rasul yang bertugas mengurusi urusan kaum muslimin khususnya dan rakyat umum (non muslim) dengan dalil :

Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Akan tetapi, nanti akan ada banyak khalifah (HR al-Bukhari dan Muslim). Dia adalah Imamnya orang-orang yang beriman kepada Allah. Bukti keimanannya adalah ia berhukum pada hukum Allah. Maka demi Rabbmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (Qs. An-Nisaa : 65) Kata maksudnya adalah berhukum pada Rasulullah, yaitu pada apa2 yang di bawa oleh Rasulullah (Al-Qur'an dan Sunnah). Dan tidak di katakan beriman jika ia menggunakan hukum selain hukum Islam.

"Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir." (Al-Maidah: 44) Abu Hurairah ra. bertutur: Rasulullah saw. yang sedang duduk di tengah-tengah para Sahabatnya didatangi orang-orang Yahudi. Mereka bertanya, Wahai Abu al-Qasim, apa yang engkau katakan tentang seorang laki-laki dan perempuan yang berzina? Beliau tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada mereka hingga Beliau sampai di rumah mereka yang menjadi tempat bacaan. Beliau berhenti di depan pintu dan bersabda, Aku bersumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa. Hukuman apa yang kalian temukan dalam Taurat terhadap orang muhshan yang berzina? Mereka menjawab, Wajahnya ditandai hitam, diarak di atas khimar, dan dicambuk. Ada seorang pemuda di antara mereka yang diam. Ketika Rasulullah saw. melihat pemuda itu, Beliau menegaskan kembali penyumpahannya. Pemuda itu pun berkata, Jika engkau menyumpah kami maka kami menemukannya di Taurat adalah rajam. Nabi saw. bertanya, Apa yang mengawali kalian mengurangi perintah Allah itu? Dia menjawab, Ada kerabat dari seorang raja yang berzina, lalu raja itu menunda pelaksanaan rajam. Setelah itu, ada seorang laki-laki yang berpengaruh di tengah masyarakat juga berzina. Ketika hendak dirajam, kaumnya mengelak seraya berkata, Kami tidak akan merajam sahabat kami jika engkau tidak merajam sahabatmu. Akhirnya di antara mereka pun terjadi kompromi dengan hukuman ini. Nabi saw bersabda, Sesungguhnya aku menghukumi dengan apa yang ada dalam Taurat. Beliau pun memerintahkan kedua pelaku perzinaan itu dirajam. Az-Zuhri menyatakan, Telah sampai kepada kami bahwa QS al-Maidah ayat 44 ini turun untuk mereka. Nabi saw. juga termasuk dari mereka (maksudnya ar-nabiyyn

al-ladzna aslam . HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Jarir . Para mufassir berbeda pendapat mengenai siapakah yang disebut dengan kfirn dalam ayat ini, dzlimn dalam ayat 45, dan fsiqn dalam ayat 47. Pertama: ayat ini hanya ditujukan untuk kaum kafir, tepatnya kaum Yahudi. Yang berpendapat seperti ini adalah al-Barra bin Azib, Abu Shalih, adh-Dhuhak, dan Ikrimah dalam satu riwayat.[15] Di antara alasannya, seorang Muslim yang melakukan dosa besar tidak bisa dinyatakan kafir karenanya.[Al-Khazin, Lubb al-Tawl, vol. 2, 48.] Kedua: ayat ini bersifat umum, meliputi semua orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah Swt. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Masud, anNakhai,[Al-Qinuji, Op. Cit., vol. 3, 428; al-Khazin, Ibid., vol. 2, 48.] Ibnu Abbas, Ibrahim, al-Hasan, as-Sudi,[Ath-Thabari, Op. Cit., vol. 10, 593; al-Wahidi anNaysaburi, Al-Wasth f Tafsr al-Qurn al-Majd, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub alIlmiyyah, 1994), 191.] Fakhruddin ar-Razi, Ibnu Athiyyah, al-Qinuji, as-Samarqandi, dan Mahmud Hijazi.[Ar-Razi, Op. Cit., vol. 12, 6; Ibnu Athiyyah, Op., cit., vol.2, 196; Abu Hayyan al-Andalusi, Op. Cit., vol. 3, 55; al-Qinuji, Op. Cit., vol. 3, 427; asSamarqandi, Bahr al-Ulm, vol. 1 Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 439; Mahmud Hijazi, At-Tafsr al-Wadhh, vol. 1 (Kairo: Dar al-Tafsir, 1992), 519. ] Alasan utamnya, sekalipun ayat ini turun berkenaan dengan kaum Yahudi, ungkapan kalimat tersebut bersifat umum. Kata man yang menjadi syarat itu memberikan makna umum, tidak dikhususkan kepada kelompok tertentu.[Ar-Razi, Ibid., vol. 12, 6; asy-Syaukani, Op. cit., vol. 2, 53; al-Qinuji, Ibid., vol. 3, 428.] Jadi, kata itu sifatnya umum. Meliputi kaum muslimin. Dan itu di pertegas lagi dengan Ayat Allah Swt. bersumpah dengan Zat-Nya Yang Mahasuci, wa rabbika (Demi Tuhanmu). Disandarkannya kata rabb kepada kf al-khithb (Rasulullah saw.) sebagai bentuk tazhm penghormatan kepada beliau.[Asy-Syaukani, Fath al-Qadr, vol. 1 (Beirut: Dar al-Marifah, 1983 , 483; Abu Thayyib al-Finuji, Fath al-Bayn f Maqshid alQurn, vol. 3 Qatar: Idarat Ihya al-Tsarwah, 1989), 167.] Sedangkan kata l, menurut ath-Thabari, adalah untuk menafikan perkara yang disebutkan sebelumnya, sehingga maknanya, Perkaranya tidak seperti yang mereka dakwakan, bahwa mereka telah beriman pada apa yang diturunkan kepadamu, padahal mereka justru bertahkm kepada thght dan berpaling darimu tatkala diseru kepadamu.[Al-Alusi, op.cit., 296.] Berbeda dengan ath-Thabari, menurut ar-Razi dan az-Zamahsyari, kata l dalam ayat tersebut merupakan mazdah yang berfungsi untuk menegaskan makna sumpah (li takd man al-qasam dan mengagungkan perkara yang disumpahkan li tazhm almuqsam bih). Untuk memperkuat argumentasinya, mereka menunjukkan ayat-ayat lain, seperti QS al-Qiyamah: 1, QS al-Insyiqaq: 16, QS al-Balad: 1, dan QS at-Takwir: 15 yang menggunakan l mazdah untuk menegaskan makna qasam (sumpah). Oleh karena itu, frasa awal ayat itu dapat diartikan: Sungguh, demi Tuhanmu. Setelah bersumpah dengan Zat-Nya Yang Mahasuci dan Mahaagung, lalu disampaikan jawab al-qasam-nya: l yuminna hatt yuhakkimka f m syajara baynahum (mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan). Kata hatt memberikan makna ghyah (batas akhir).

Itu berarti, mereka baru dapat dikatagerikan sebagai Mukmin ketika mereka telah mengerjakan semua perbuatan yang disebutkan setelahnya (kata hatt). Perbuatan tersebut adalah yuhakkimka f m syajara baynahum. Kata yuhakkimka berarti yajalka hakam[an] mereka menjadikan kamu sebagai hakim , sedangkan f m syajara baynahum berarti f m ihktalatha baynahum (dalam perkara apa saja yang diperselisihkan di antara mereka).[Burhanuddin al-Baqai, Nadhm ad-Durar f Tansub al-Ayt wa as-Suwar, vol. 28 (Beirut: : Dr al-Kutub al-Ilmiyyah ), 27] Karena itu, seorang Mukmin tidak hanya harus ber-tahkm kepada Rasulullah saw. dan hatinya merasa puas dengan keputusan tersebut, namun juga harus tunduk dan patuh kepadanya yang diimplementasikan dalam bentuk perbuatan. Rasulullah saw. bersabda: Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seseorang di antara kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti (risalah) yang aku bawa. (HR Muslim). al-Jashash berkata, Ayat ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menolak salah satu perintah Rasulullah saw. telah keluar dari Islam; sama saja apakah penolakan itu disebabkan karena ragu, tidak menerima, atau menolak untuk tunduk. Inilah pendapat para sahabat yang sah ketika mereka menghukumi murtad orang yang menolak membayar zakat, membunuh mereka, dan menawan tawanan mereka. Sebab, Allah telah menetapkan bahwa siapa saja yang tidak menerima keputusan Nabi saw. dan hukumnya, tidak termasuk ahl al-imn.[Az-Jashash, Ahkm al-Qurn, vol. 3 Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 302.] Sedangkan Ibnu Katsir menyatakan, Allah Swt. bersumpah dengan Dirinya Yang Mahamulia dan Mahasuci, bahwa seseorang tidak beriman hingga ia menjadikan Rasul sebagai hakim dalam semua perkara. Apa yang diputuskan olehnya adalah sebuah kebenaran yang wajib ditaati, baik lahir maupun batin.[Ibn Katsir, op.cit., 471. Taat kepada Rasulullah merupakan sebuah kewajiban. Ditolaknya iman orang yang tidak mau menjadikan Rasulullah saw. sebagai hakim dalam urusan kehidupannya sebagaimana disebut ayat di atasmerupakan qarnah (indikasi) yang amat jelas tentang kewajiban tersebut. Menjadikan Rasulullah saw. sebagai hakim berarti menjadikan semua keputusan beliau sebagai acuan, standar, dan parameter untuk menilai baik-buruknya segala sesuatu. Pada hakikatnya, menaati Rasulullah saw. sama halnya dengan menaati Allah Swt. Allah Swt berfirman: ] [ Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati seizin Allah. (QS anNisa [4]: 64). Perintah untuk mengikuti dan menaati Rasulullah bertebaran dalam al-Quran, seperti: QS al-Hasyr: 7, QS al-Ahzab: 36, QS an-Nisa: 59, QS an-Nur: 64 dan 65, QS Ali Imran 31. Semua ayat tersebut menunjukkan tentang wajibnya menaati seluruh risalah yang dibawa Rasulullah saw. Karena yang dibawa beliau bukan hanya al-Quran, namun juga as-Sunnah, maka berdasarkan ayat-ayat tersebut, setiap Muslim juga wajib

menjadikan as-Sunnah sebagai sumber hukum. Tidak boleh ada keraguan sedikit pun akan kebenaran as-Sunnah; baik dalam perkara akidah maupun syariat. Sebab, sebagaimana al-Quran, as-Sunnah juga berasal dari wahyu: Allah Swt berfirman: ] [

Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS an-Najm []: 3-4). Beberapa ayat lain yang senada dengannya adalah QS al-Anbiya: 45, QS Shad: 7, dan QS al-Anam: 50. Semuanya menunjukkan secara pasti bahwa yang diucapkan Rasululah saw. adalah wahyu. Demikian pula perbuatan dan persetujuannya. Bertolak dari dalil-dalil tersebut, wajib menjadikan Sunnah sebagai sumber hukum. Membatasi diri hanya pada al-Quran dan meninggalkan as-Sunnah merupakan kekufuran yang nyata. Ayat di atas juga mengungkap keterkaitan antara iman dan amal perbuatan. Memang, iman merupakan itikad kalbu. Karenanya, amal perbuatan tidak termasuk dalam cakupannya. Sebab, secara syari, iman berarti at-tashdq al-jzim al-muthbiq li alwqi an dall pembenaran yang pasti, yang bersesuaian dengan fakta, dan bersumber dari dalil).[Taqiyuddin an-Nabhani, Syakhshiyyah al-Islamiyyah, vol. 1 (Beirut: Dar alUmmah, 2003), 29.] Kendati demikian, antara iman dan amal terdapat keterkaitan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Selain dalam beberapa ayat di atas, Allah Swt. berfirman: ] [

Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. (QS an-Nisa [4]: 59 . Ungkapan in kuntum tuminna bi Allh wa al-yawm al-khir (jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir) menunjukkan bahwa siapa pun yang tidak bertahkm kepada Kitab dan Sunnah tidak terkategori sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.[ Ibn Katsir, op.cit., 470.] Pada ayat berikutnya (QS an-Nisa [4]: 60 , al-Quran mengecam sikap paradoks orangorang yang mengaku mengimani al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya, tetapi mereka justru ber-tahkm pada hukum thght, yakni hukum selain Islam. Di sinilah letak paradoksnya: bagaimana mungkin orang mengaku beriman pada kitab-kitab Allah, namun ketika memutuskan perkara, mereka tidak mengembalikannya pada kitab Allah, malah justru menggunakan hukum yang tidak bersumber darinya, yakni hukum thght? Bukankah itu berarti terdapat kontradiksi antara ucapan dan kenyataan? Oleh karena itu, pengakuan akan keimanan mereka pada Kitabullah dianggap sebagai pengakuan palsu. Al-Quran menyebutnya dengan yazumna. Menurut al-Layts, kata zaama digunakan untuk orang yang diragukan, apakah ucapannya dusta atau benar. Menurut Ibnu Durayd, kata zaama kebanyakan digunakan untuk menyatakan sesuatu yang batil.[Ali ash-Shabuni, Shafwah at-Tafsr, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), 260.]

Pada ayat selanjutnya (ayat 61), al-Quran menyebut karakter orang munafik sebagai orang yang menolak dan menghalangi orang untuk berhukum dengan apa yang Allah Swt. turunkan. Kalaupun ada ketentuan syariat yang mereka terima, itu bukan lantaran mereka yakin akan kebenarannya, namun semata-mata karena ketentuan syariat tersebut sejalan dengan kepentingannya (QS an-Nur [21]: 49). Karakter tersebut kontradiktif dengan karakter orang Mukmin. Allah Swt. berfirman: ] [ Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin itu, jika mereka dipanggil menuju Allah dan para rasul-Nya agar para rasul itu menghukum mereka ialah ucapan, Kami mendengar dan kami taat. QS an-Nur [21]: 51). Dan dengan ini sangatlah jelas. Persyaratan , adalah harus menerapkan hukum Allah secara komrehensif dan tidak setengahsetengah.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasulNya, dan bermaksud memperbedakan [373] antara (keimanan kepada) Allah dan RasulrasulNya, dengan mengatakan : "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan tengah di antara yang demikian iman atau kafir , Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. QS. An Nisa 4 : 150-151) Inna al ladzina yakfuruuna bil Lah wa rusulihi (sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasulNya). Menurut sebagian besar mufassir seperti Ibnu Jarir al Thabari, al Qurthubi, Ibnu Katsir, Fakhruddin al Razi, al Syaukani, dll ayat ini turun berkenaan dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Kaum Yahudi mengaku beriman kepada Nabi Musa dan Taurat, namun mengingkari Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan kaum Nasrani mengaku beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, namun mengingkari Nabi Muhammad SAW. Kendati mengaku beriman kepada Allah SWT dan sebagian RasulNya, mereka semua dinyatakan ayat ini sebagai orang-orang yang kafir kepada Allah SWT dan Rasul-rasulNya. Perihal kekufuran mereka itu dijelaskan lebih lanjut dalam frase sesudahnya: wa yuriduna an yufarriqu baynal Lah wa rusulihi (dan bermaksud memperbedakan antara [keimanan kepada] Allah dan Rasul-rasulNya). Sikap tafriq (memperbedakan) antara Allah SWT dan Rasul-rasulNya itu dalam perkara akidah. Sehingga, sebagaimana dipaparkan al Alusi, maksud frase ini adalah mereka mengaku beriman kepada Allah SWT, namun ingkar kepada sebagian RasulNya. Inilah bentuk tafriq (memperbedakan) antara Allah dengan Rasul-rasulNya. Ditegaskan Imam al Qurthubi, tindakan tersebut jelas merupakan kekufuran. Sebab,

Allah SWT telah mewajibkan manusia untuk beribadah kepadaNya dengan syariah yang dibawa RasulNya. Jika mereka mengingkari Rasul, berarti mereka menolak dan tidak menerima syariah darinya. Sebagai akibatnya, mustahil bagi mereka bisa terikat dengan ubudiyyah yang diperintahkan kepada mereka. Di samping itu, sikap tersebut juga merupakan pengingkaran terhadap pembuatnya, Allah SWT. Dan tentu saja itu merupakan kekufuran. Sikap tafriq antara Allah SWT dan Rasul-rasulNya, mereka juga melakukan tafriq terhadap perkara akidah lainnya. Allah SWT Berfirman: wa yaquluna numinu bibadh in wa nakfuru bibadh in dengan mengatakan: Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagiaan [yang lain] . Penggunaan kata badh sebagian tanpa disertai dengan perkaranya menunjukkan bahwa perkara yang diimani dan diingkari bersifat mutlak, bisa semua perkara akidah. Alasan yang melatari sikap mereka lalu dijelaskan dalam frase berikutnya: Wa yuriduna an yattakhidzu bayna dzalika sabil [an] (serta bermaksud [dengan perkataan itu] mengambil jalan [tengah] di antara yang demikian [iman atau kafir]. Menurut Sihabuddin Al Alusi, kata sabil[an] di sini berarti thariq (jalan) yang dilalui. Bisa juga berarti din[an]. Dengan beriman sebagian, dan mengingkari sebagian lainnya itu, mereka berkeinginan untuk mengambil jalan tengah antara keimanan dan kekufuran. Keinginan mereka itu jelas batil. Sebab, manusia hanya memiliki dua pilihan: Iman atau kafir, haqq (kebenaran) atau dhalal (kesesatan). Tidak ada pilihan yang ketiga. Allah SWT Berfirman: Maka Zat yang demikian itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan dari kebenaran ? QS. Yunus 10 :32 Status mereka lalu ditegaskan dalam ayat berikutnya: Ulaika hum al kafiruna haqq [an] (merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya). Secara tegas ayat ini menyebut mereka sebagai orang kafir. Penegasan ini menunjukkan bahwa ingkar terhadap sebagian perkara akidah, sama halnya dengan ingkar terhadap keseluruhan. Abdurrahman al Sadi dalam tafsirnya berkata: Siapapun yang ingkar kepada seorang Rasul, sungguh dia telah ingkar kepada seluruh nabi. Bahkan termasuk Rasul yang diklaim dia imani. Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa siapa pun yang ingkar kepada seorang Rasul, berarti dia telah kafir terhadap seluruh Nabi. Sebab, keimanan wajib terhadap semua Nabi yang diutus kepada manusia. Barangsiapa yang menolak kenabiannya karena iri dengki, ashabiyyah dan hawa nafsu,

jelaslah bahwa imannya kepada nabi yang diimani bukan Iman yang syari. Imannya didasarkan kepada tendesi, hawa nafsu dan ashabiyyah. Seandainya disebutkan ulaika hum al kafiruna (merekalah orang-orang kafir), sesungguhnya sudah cukup untuk mendudukkan status mereka. Ditambahkannya kata haqq berfungsi sebagai takid penegasan kekufuran mereka. Dinyatakan Imam al Qurthubi bahwa penegasan itu untuk menghapus bayangan tentang keimanan mereka ketika mereka menyebut diri mereka beriman terhadap sebagian. Oleh karena itu, kata haqq sebagaimana diungkapkan Fakhruddin al Razi dalam tafsrinya- dimaknai dengan al kamil (sempurna). Sehingga frase ini bermakna: Ulaika hum al kafiruna kufr[an] kami[an] tsabit[an] haqq[an] yaqininiyy[an] (mereka adalah orang-orang kafir dengan kekufuran yang sempurna, tetapi sebenarnya dan meyakinkan). Karena statusnya terkategori sebagai orang kafir, maka mereka pun berhak mendapatkan hukuman yang berat. Allah SWT Berfirman: Wa atadna li al kafirina adzab[an] muhin[an] (dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan). Azab menghinakan itu diberikan kepada mereka didunia dan akhirat sebagaimana diberitakan dalam nash-nash lain. Bertolak dari paparan di atas, jelaslah jika seseorang ingin dikategorikan sebagai Mukmin, dia harus mengimani akidah Islam secara keseluruhan, tanpa ada yang di ingkari. Apabila ada perkara akidah yang diingkari, semua maupun sebagian, maka dia terkategori sebagai kafir. Sedangkan jika ia masih menegakan Shalat dan Ibadahibadah ritual lainnya, maka ia di katakan munafik atau fasik. Wallahu'alam..

Dahulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, digantikan oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Tetapi nanti akan ada banyak khalifah. Para Sahabat bertanya, Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab, Penuhilah baiat yang pertaama, dan yang pertama saja. Berikanlah hak mereka, sesungguhnya Allah akan memintai pertanggungjawaban terhadap urusan yang dibebeankan kepada mereka (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dengan alafadz al-Bukhari). Rasulullah saw telah menyatakan bahwa adalah pengganti Nabi, mengapa?? Karena (karena tidak ada Nabi setelah beliau saw.).. Jelas banget.. Bahkan Rasulullah saw bersabda : Apabila dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya

(HR Muslim). Kata-kata Khalifah itu telah ada pada zaman Rasulullah saw., dan khalifah itu jumlahnya tidak boleh lebih dari satu.