Anda di halaman 1dari 8

AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR Hampir semua perusahaan, baik perusahaan kecil maupun besar, pada umumnya mempunyai kewajiban

atau utang. Dalam pengertian sederhana, kewajiban adalah utang yang harus dibayar oleh perusahaan. Secara lebih terperinci, utang adalah kewajiban suatu perusahaan yang timbul dari transaksi dari waktu yang lalu dan harus dibayar dengan kas,barang atau jasa, diwaktu yang akan datang. APAKAH KEWAJIBAN LANCAR ITU.? Adalah utang yag diharapkan akan di bayar (1) dalam jangka waktu satu tahun atau siklus operasi normal perusahaan ( tergantung mana yang lebih panjang), dan (2) dengan menggunakan aktiva lancar yang ada atau hasil dari pembentukan kewaiban lancar lain. Kewajiban lancar meliputi utang wesel, utang dagang, pendapatan diterima dimuka, dan biaya yang masih harus dibayar seperti utang gaji, utang pajak, dan utang bunga. JENIS-JENIS KEWAJIBA LANCAR Beberapa diantara kewajiban lancar yang disebutkan diatas, telah kita kenal pada bab-baba yang lalu. Misalnya jurnal untuk mencatat terjadinya utang dagang, dan jurnal penyesuaian untuk mencatat utang biaya telah dibahas dalam dasar-dasar akuntansi jilid 1. Beberapa jenis kewajiban lancar lainnya akan dibahas dibawah ini. UTANG WESEL Kewajiban yang didukung dengan bukti tertuis secara formal, dalam bentuk wesel atau promes, disebut utang wesel atau wesel bayar. Seperti telah dijelaskan pada bab 2, phak yang mempunyai tagihan akan lebih menyukai wesel, karena terdapat bukti yang kuat untuk menuntut pembayaran, lebih-lebih jika harus perkara dipengadilan. Utang wesel biasanya mengharuskan pihak yang berutang untuk membayar bunga, dan utang cemacam ini biasanya diambil untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek. Esel bisa dengan jangka waktu ang berbeda-beda, apabila jangka waktu wesel kurang dari satu tahun, maka wesel tersebut digolongkan sebagai kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek. Wesel bisa berbunga atau tidak berbunga. Untuk membedakan kedua jenis wesel ini, dimisalkan CV Prago membutuhkan pinjaman sebesar Rp. 10.000.000,00 selama 4 bulan, untuk memenuh kebutuhan likuiditas jangka pendek. WESEL BUNGA Misalkan bank duta pertiwi menyetujui ubtuk memberi pinjaman sebesar Rp. 10.000.000,00 pada tanggal 1 oktober 1992. Untuk itu bank minta kepada CV Prago untuk menandatangani sebuah promes dengan bunga 12%, dan berjangka waktu 4 bulan. Apabila wesel berbunga, maka jumlah uang yang duterima CV Prago setelah wesel ditandatangani adalah sebesar nilai nominal wesel terebut. Jurnal yang harus dibuat oleh Cv Progo pada tanggal 1 oktober 1992 adalah sebagai berikut: Okt. 1 kas.....................................................................10.000.000,00 Utang wesel...................................................................... 10.000.000,00 (utang untuk mencatat penerimaan kas dan penarikan wesel, 12%, 4 bulan)

WESEL TIDAK BERBUNGA Seperti disebutkan diatas, wesel mungkin dibuat tanpa bunga. Wesel tidak berbunga adalah wesel yang tidak secara eksplisit menyebutkan tingkat bunga tertentu dalam bunga wesel yang bersangkutan. Sebenarnya wesel tersebut tetap mengandung bunga, karena peminjam diwajibkan membayar jumlah yang lebih besar pada tanggal jatuh dibandingkan dengan jumlah pinjaman yang diterimanya. Dalam hal ini, bunga wesel adalah selisih antara jumlah yang dibayar pada tanggal jatuh dengan jumlah pinjaman yang diterima pada saat wesel ditandatangani. Dengan perkataan lain, peminjam menerima kas sebesar nilai tunai atau wesel saat ini (present value). Nilai tunai adalah sama dengan nilai nominal wesel pada tanggal jatuh dikurangi bunga atau diskonto yang dibebankan oleh pihak pemberi pinjaman selama jangka waktu wesel. Contoh : Misalkan CV Progo menandatangani wesel dengan nilai nominal 10.400.000,00 dalam jangka waktu 4 bulan, tanpa bunga untuk bank pertiwi. Nilai tunai wesel adalah 10.000.000,00 jurnal untuk mencatat transaksi diatas dalam bentuk pembukua CV Progo adalah sebagai berikut : Okt. 10.000.000,00 400.000,00 Utang wesel............................. 10.400.000,00 ( untuk mencatat penerimaan kas dan Penarikan wesel, 4 bulan, tanpa bunga) Dalam jurnal diatas, rekening utang wesel dikredit sebesar nilai nominal wesel yaitu 10.400.000,00 yang jumlahnya lebih besar dari pada jumlah kas yang diterima. Selisih antara nilai nominal wesel dengan jumlah kas yang diterima didebetkan kerekening diskonto utang wesel. rekening diskonto utang wesel adalah merupakan lawan (kontra account) terhadap rekening utang wesel. Oleh karena itu rekening dalam neraca diurangkan terhadap rekening utang wesel. Dalam contoh diatas, jumlah diskonto sebesar 400.000,00 merupakan biaya pinjaman uang selama 4 bulan. Oleh karena itu biaya tersebut harus dibebankan sebagai biaya bunga selama jangka waktu wesel. Saldo rekening diskonto utang wesel yang pada suatu saat menunjukan saldo rekening ini yang akan dibawa ke periode berikutnya. Diskonto utang wesel bisa dikurangi jumlah secara bertahap dalam jumlah yang sama besarnya (garis lurus) selama jangka waktu wesel. Semakin rendah jumlah saldo rekening diskonto, maka saldo bersih rekening kewajiban semakin naik. Seandainya CV Progo menyusun laporan keuangan setiap tanggal 31 desember, maka pada tanggal 31 desember 1992 harus di buat jurnal penyesuaian untuk mengakui biaya bunga selama tahun 1992 dan mengurangi saldo rekening diskonto utang wesel sebesar 300.000,00 (3/4 X Rp 400.000,00), sebagai berikut : 1 kas ...................................................

Diskonto utang wesel........................

Des. 31 Biaya Bunga........................................................ 300.000,00 Diskonto Utang Wesel........................... 300.000,00 ( untuk mencatat bunga wesel selama 3 bulan) Dengan adanya jurnal penyesaian di atas maka saldo rekening diskonto utang wesel tinggal 100.000,00 (Rp 400.000,00 Rp 300.000,00). Penyajian utang wesel dan diskonto utang wesel dalam neraca per 31 desember 1992 adalah sebagai berikut : Utang wesel.................................................. Rp 10.400.000,00 Dikurangi : diskonto utang wesel................... Rp ( 100.000,00) Rp 10.300.000,00 Pada tanggal jatuh wesel, rekening diskonto utang wesel akan bersaldo nol, dan nilai jatuh wesel dibayar. Jurnal yang harus di buat pada tanggal 1 februari 1993 untuk mengakui bunga satu bulan dan pembayaran utang wesel adalah sebagai berikut : Feb. 1 utang wesel.................................................... 10.400.000,00 Biaya bunga ................................................... 100.000,00 Diskonto utang wesel............................. 100.000,00 Kas........................................................ 10.400.000,00 ( Untuk mencatat bunga satu bulan dan melunasi wesel) jurnal di atas mengakui bunga untuk bulan januari 1993 sebesar Rp 100.000,00 dan sekaligus mencatat pelunasan utang wesel beserta bunganya sebesar Rp 10.400.000,00. Perbandingan wesel berbunga dengan wesel tak berbunga

WESEL BERBUNGA Laporan laba rugi Biaya bunga Neraca Utang wesel Utang 300.000,00 10.300.000,00 10.000.000,00 bunga 300.000,00

WESEL TAK BERBUNGA Laporan laba rugi Biaya bunga 300.000,00 Neraca Utang wesel Diskonto wesel 10.400.000,00 100.000,00 10.300.000,00

Seperti terlihat diatas, biaya bunga, utang bunga, dan utang wesel sama besarnya untuk kedua jenis wesel tersebut. Perbedaannya hanya terletak pada rekening yang digunakan. UTANG PAJAK Sebagai konsumen,kita sering dikenai pajak atas barang atau jasa yang kita beli, seperti kalau kita makn di rumah makan, menginap di hotel, atu jika kita memberi barang-barang tertentu, misalnya mobil. Pajak ini disebut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau pajak penjualan. Tariff pajak ditetapkan atas dasar presentase tertentu dari harga jual. Pihak penjual (Pabrikan) memungut pajak tersebut dari pembeli pada saat penjualan terjadi, dan secara periodic (biasanya secara bulanan) menyetorkannya ke Kas Negara. Dengan demikian, pajak yang dipungut dari pembeli untuk disetorkan ke Kas Negara ditinjau dari pihak penjual merupakan utang kepada Negara yang disebut utang pajak PPN. Sebagai contoh, misalkan pada tanggal 25 Maret 1992, PT Kelud menjual barang seharga Rp.10.000,00. Atas penjualan tersebut PT Kelud memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%, sehingga jumlah kas yang diterima dari pembeli menjadi

Rp11.000,00. Jurnal yang dibuat oleh PT Kelud atas transaksi penjualan diatas adalah sebagai berikut : Maret 25 Kas. Penjualan.. Utang PPN... ( untuk mencatat penjualan dan utang Pajak Pertambahan Nilai ) 11.000,00 10.000,00 1.000,00

Apabila PT Kelud menyetorkan potongan-potongan pajak tersebut ke Kas Negara, maka rekening Utang PPN didebet dan rekening Kas dikredit. Dengan demikian PT Kelud hanya bertindak sebagai pemungut pajak mewakili Negara. Pajak tersebut tidak dilaporkan oleh PT Kelud sebagai biaya, karena PT Kelud tidak menanggung beban apapun atas pembayaran tersebut. Dalam hal ini pembeli yang dibebani pajak oleh Negara. Apabila pajak tidak dicatat secara terpisah, maka pendapatan penjualan harus dipecah menjadi pendapatan penjualan (setelah dikurangi pajak) dan utang pajak. Dalam contoh diatas, apabila penjualan dicatat dengan jumlah Rp 11.000,00, maka dari jumlah tersebut 100/110 bagian atau Rp 10.000,00 menjadi pendapatan penjualan dan 10/110 bagian atau Rp 1.000,00 menjadi utang pajak. Perlakuan seperti d atas berlaku juga untuk jenis pajak lain, selain pajak pertambahan nilai (jika ada), yang pemungutannya dari pembeli diserahkan oleh negara kepada perusahaan selaku wajib pungut. Dengan demikian utang pajak tidak lain adalah jumlah pungutan pajakdari pembeli yang menjadi kewajiban perusahaan untuk menyetorkannya ke Kas Negara. PENDAPATAN DITERIMA DI MUKA Perusahaan kadang-kadang menerima pembayaran di muka atas barang atau jasa yang penyerahannya akan dilakukan di waktu yang akan datang. Sebagai contoh, perusahaan penerbangan sering menjual tiket untuk penerbangan bulan berikutnya. Penerimaan kas yang terjadi sebelum barang atau jasa diserahkan kepada pembeli, harus diperlakukan sebagai utang, karena penjual mempunyai kewajiban untuk menyerahkan barang atau jasa di waktu yang akan datang. Pencatatan atas penerimaan pendapatan di muka dan penyelesaiannya adalah sebagai berikut : 1. Apabila perusahaan menerima pembayarandi muka dari pembeli, maka rekeninng Kas didebet dan rekening utang yang disebut Pendapatan Diterima di Muka dikredit. 2. Apabila barang telah dikirimkan atau jasa telah diberikan, maka rekening Pendapatan Diterima d Muka didebet, dan rekening pendapatan dikredit. Sebagai contoh, misalkan pada tanggal 1 Desember 1992, CV Serayu menerima pesanan 400 buah kursi kuliah dari PT Merbabu dengan harga Rp 10.000,00 per buah. Pada tanggal tersebut tersebut PT Merbabu membayar uang muka sebesar Rp

2.500.000,00. Jurnal yang dibuat oleh CV Serayu untuk mencatat penerimaan kas di atas adalah : Des. 1 Kas.. 2.500.000,00 Pendapatan Diterima di Muka.. 2.500.000,00 ( untuk mencatat penerimaan uang muka Pesanan 400 buah kursi )

Pada tanggal 31 Desember, CV Serayu mengirimkan 100 buah kkursi sebagai penyerahan tahap pertama. Jurnal yang harus dibuat untuk mencatat pendapatan dari 100 buah kursi yang sudah diserahkan adalah : Des. 31 PendapatanDiterima di Muka Penjualan.. ( untuk mencatat pendapatan atas Penyerahan 100 buah kursi ) 1.000.000,00 1.000.000,00

Selain jurnal di atas, CV Serayu juga membuat jurnal untuk mencatat harga pokok penjualan dan pengurangan persedian, sebgai berikut : Des. 31 Harga Pokok Penjualan... Persediaan.. ( untuk mencatat harga pokok penjualan 100 buah kursi ) xxx xxx

Dari contoh cara pencatatan di atas, jelaslah bahwa suatu penerimaan kas di muka adalah merupakan kewajiban. Penerimaan ini baru akan menjadi pendapatan, apabila barang atau jasa telah diserahkan kepada pemberi uang muka. Dengan demikian, saldo rekening Pendapatan Diterima di Muka mencerminkan kewajiban perusahaan untuk menyerahkan barang atau jasa di masa yang akan datang. BAGIAN DARI UTANG JANGKA PANJANG YANG JATUH TEMPO PADA TAHUN INI Perusahaan kadang-kadang mempunyai kewajiban jangka panjang yang sebagian diantaranya akan jatuh tempo (harus dibayar) dalam waktu tidak lebih dari setahun sejak tanggal neraca. Sebagi contoh, misalkan PT Kerinci pada tanggal 1 Januari 1990 menerima pinjaman jangka panjang dari Bank nusantara. Pada tanggal tersebut ditandatangani sebuah promes yang bernilai nominal Rp 25.000.000,00 dengan jangka waktu 5 tahun. Dalam perjanjian ditetapkan bahwa promes tersebut harus diangsur pada setiap tanggal 1 Januari (mulai 1 Januari 1991) sebesar Rp 5.000.000,00. Apabila PT Kerinci menyusun neraca pada tanggal 31 Desember 1990, maka dalam neraca tersebut 1/5 bagian dari utang wesel di atas (Rp 5.000.000,00), harus dilaporkan sebagai kewajiban jangka pendek, sedangkan sisanya (Rp 20.000.000,00) dilaporkan sebagai kewajiban jangka panjang. Dalam neraca, bagian utang ang akan jatuh tempo dalam

waktu kurang dari satu tahun, dilaporkan dengan judul Utang Jangka Panjang Jatuh Tempo dalam Satu Tahun. PELAPORAN KEWAJIBAN LANCAR DALAM NERACA Kewajiban lancar adalah kewajiban yang harus dilaporkan paling atas dalam neraca. Dalam kelompok ini, setiap jenis kewajiban dicantumkan secara terpisah. Selainitu, jangka waktu utang wesel dan informasi penting lainnya, harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Kewajiban lancer biasanya tidak dicantumkan berdasarkan urutan tanggal pelunasannya, karena tanggal pelnasan untuk suatu kewajiban lancar tertentu (misalnya utang wesel) mungkin terdiri dari beberapa tanggal jatuh. Cara penyajian yang lazim dalam praktik, ialah mencantumkan utang wesel paling atas, kemudian diikuti dengan utang dagang dan berikutnya utang lancar lainnya. Contoh pelaporan kewajiban lancar dalam neraca adalah sebagai berikut : PT Jayawijaya Kewajiban Lancar (dalam jutaan) Utang weselRp Utang dagang.. Utang gaji Utang pajak. Utang jangka panjang jatuh tempo. dalam satu tahun Utang bunga Utang lain-lain Jumlah kewajiban lancar.Rp 362 1.498 733 356 78 190 65 3.482

AKUNTANSI PENGGAJIAN Kewajiban perusahaan kepada para karyawan dalam bentuk upah dan gaji yang belum dibayar, kadang-kadang cukup besar jumlahnya. Lebih-lebih dalam perusahaan yang memiliki tenaga kerja yang banyak jumlahnya, biaya gaji seringkali mencerminkan jumlah yang cukup besar bila dibandingkan dengan jenis biaya yang lain. Selain gaji, perusahaan biasanya juga memberikan berbagai kompensasi berupa tunjangan, seperti tunjangan kesehatan, tunjangan asuransi, dan tunjangan lainnya. Dengan adanya berbagai komponen yang harus dibayarkan kepada karyawan, maka diperlukan akuntansi penggajian yang tepat, disertai pengawasan yang memadai. Akuntans penggajian tidak semata-mata menyangkut soal pembayaran gaji atau upah kepada para karyawan. Perusahaan juga mempunyai kewajiban untuk

menyelenggarakan administrasi penggajian untuk setiap karyawan,termasuk juga data pajak penghasilan tiap karyawan. GAJI DAN UPAH Istilah Gaji sebenarnya meliputi semua gaji dan upah yang dibayarkan perusahaan kepada para karyawannya. Para manajer, pegawai administrasi, dan pegawai penjualan, biasanya mendapat gaji dari perusahaan yang jumlahnya tetap. Tarif gaji biasanya dinyatakan dalam gaji perbulan. Karyawan atau pegawai perusahaan lainnya, seperti pegawai urusan gudang atau pabrik, biasanya mendapat upah yang tarifnya dinyatakan dalam rupiah per jam, per unit produk, atau satuan lainnya. Kadang-kadang istilah gaji dan upah diartikan sama, sehingga istilah penggajian sudah dianggap meliputi juga pengupahan. Dalam istilah gaji, tidak termasuk uang jasa atau honorarium yang dibayarkan kepada fihak luar yang memberikan jasanya kepada perusahaan. Sebgai contoh, uang jasa (honorarium) yang dibayarkan kepada penasehat hokum atau akuntan publik oleh perusahaan tidak termasuk dalam gaji pegawai, karena fihak luar bukanlah karyawan perusahaan.