Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN Kita sebagai manusia, sering bertanya- tanya mengapa kita terkadang ingin menjadi 'tokoh utama'

dalam kehidupan sehari hari kita, terkadang ingin menjadi seseorang yang pandai melucu, dan kita kadang-kadang juga ingin menjadi seorang penolong dari orang lain. Untuk itu, kita perlu mengenali apa yang melatar belakangi sikap kita tersebut. Teori Psikologi Dalam dari Carl Gustav Jung menjelaskan secara gamblang sebab-sebab mengapa kita berperilaku seperti yang telah disebutkan di atas. Carl Gustav Jung adalah teman sejawat Sigmund Freud yang mengeksplorasi ruang batin secara lebih mendalam selama perjalanan masa kariernya. Jung merupakan orang yang mampu mengetahui sisi alam bawah sadar yang memperlihatkan diri dalam wujud- wujud simbolik. Pendekatan yang digunakan selama proses eksplorasi tersebut menggunakan pendekatan reduksionis yakni memulai dari suatu level yang tinggi termasuk spiritualisme (dalam hal ini pengaruh kebudayaan hindu dan budha), dan kemudian turun ke level-level psikologi dan fisiologi. Jung mengungkapkan bahwa seluruh aspek kepribadian individu harus berkembang seluruhnya. Apabila ada salah satu aspek kepribadian yang terabaikan, hal itu akan dapat menghambat dari aspek kepribadian yang berkembang dalam diri seseorang. Apabila rintangan yang ada dalam diri seseorang itu terlalu banyak, maka individu tesebut dapat menderita neurosis.

BAB II PEMBAHASAN

A. LATAR BELAKANG PRIBADI Carl Gustav Jung dilahirkan pada tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil, Swiss dan menghabiskan pendidikannya di Basel. Berbeda dengan Freud yang terpengaruh oleh filosofi ilmiah positivisme dan materialisme pada masanya, Jung tumbuh di dalam tradisi budaya. Semenjak kecil ia belajar literatur bahasa latin pada ayahnya yang seorang pendeta. Jung kecil adalah anak yang pendiam dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Semasa remaja, Jung adalah seorang yang penyendiri, tertutup dan tidak peduli dengan masalah sekolah. Ia masuk pada jurusan arkelologi lalu ke fakultas kedokteran kemudian bekerja sama dengan Neurolog terkenal Kraft Ebing hingga akhirnya, ia memilih psikiater menjadi pilihan karirnya. Setelah lulus dia bekerja di bawah bimbingan Eugene Bleuler, seorang pakar penemu skizofrenia dan guru Freud.

Jung terkenal dengan pengetahuannya tentang simbolisme dalam tradisi mistik, seperti gnostisisme, alkemi, kabala dan tradisitradisi serupa dalam agama Hindu dan Budha. Selama hidupnya, Jung telaten mencatat mimpi, fantasi dan penglihatan penglihatannya. Ia wujudkan semua itu ke dalam bentuk gambar, lukisan, maupun patung, semakin lama, ia menyadari bahwa pengalamanpengalamannya berubah menjadi pribadi pribadi, dimulai menjadi orang tua yang bijak hingga menjadi seorang gadis kecil. Jung adalah salah seorang pengikut Freud, namun, karena perbedaan pendapat dan pemikiran tentang teori libido seksual dan teori alam bawah sadar, setelah perang dunia kedua, Jung dan Freud tidak pernah bertemu dan Jung mendeklarasikan teorinya sendiri yaitu teori Analytical Psychology. Jung meninggal dunia pada tanggal 6 Juni 1961 di Zurich.

B. AWAL KETERTARKAN DENGAN PSIKOANALITIK Pada tahun-tahun terakhir sebagai mahasiswa kedokteran, ada dua pengalaman tidak terlupakan bagi Jung, yang membuatnya takjub akan parapsikologi (studi tentang gejala-gejala kehidupan yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah). Pengalaman pertama terjadi pada suatu hari ketika Jung sedang belajar di rumahnya. Dia mendengar suara yang sangat keras, seperti bunyi pistol yang meletup dari ruang makan yang terletak di sebalah kamarnya. Suara itu ternyata berasal dari sebuah meja yang terbuat dari kayu walnut utuh yang sudah berumur 70 tahun. Meja itu terbelah dari pinggir sampai ke bagian tengahnya. Jung tidak bisa menemukan jawaban mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Pengalaman kedua terjadi dua minggu kemudian. Ketika ia kembali ke rumahnya pada suatu malam, Jung menemukan perabotan rumahnya porak poranda. Ibunya, adik perempuannya, dan juga pembantunya mendengar suara yang sangat keras dari ruang makan namun mereka tidak menemukan sesuatu yang pecah atau jatuh. Jung kemudian memeriksa ruang makan, dan akhirnya dia menemukan sesuatu. Di dalam almari makan, didapatinya pisau roti telah terpotong menjadi 4 bagian yang terpisah. Peristiwa ini begitu mengesankan bagi Jung, hingga kemudian dia menyimpan potongan pisau roti itu sebagai barang bukti. Perhatian Jung terhadap parapsikologi semakin besar beberapa minggu setelah kejadian pisau roti itu, ketika ia mendapati seorang gadis 15 tahun yang mengalami trance dan memperoleh penglihatan (vision) dan bisa berkomunikasi secara ajaib. Trance menurut definisi Jung, adalah sesuatu yang spontan. Namun dalam keadaan yang demikian gadis itu bisa berkomunikasi dalam bahasa dan dialek Jerman secara fasih (bukan seperti lazimnya dialek gadis desa di Swiss). Jung mencatat kejadian ini dan kemudian menjadikannya fenomena gadis kecil itu sebagai salah satu bagian penting dari disertasi doktornya. Tulisannya tentang kejadian ini dipublikasikan dengan judul Zur

Psychologie und Pathologie sogennanter occulter Phanomene (Tentang Psikologi dan Patologi Fenomena yang disebut dengan Okultis).

C. JUNG DAN FREUD Perkembangan intelektual Jung mencerminkan iklim sosial dari kota Basel di Swiss pada peralihan abad ke XX. Sedangkan Freud mencerminkan kota Wina di Austria yang notabene adalah pusat budaya, filosofi dan medis di Eropa pada waktu itu. Basel lebih konservatif dibandingkan dengan Wina. Untuk bisa memahami teori Jung secara lebih baik, adalah penting untuk juga mengetahui bagaimana hubungannya dengan Freud. Jung mengawali pekerjaannya sebagai seorang psikiatris dan menulis teori-teori psikologi tentang orang dewasa. Sekitar enam tahun kebersamaannya dengan Freud adalah merupakan tahun-tahun yang penting bagi perkembangan intelektual dan professional Jung, dan hal ini tidak pernah disangkal oleh Jung. Ketika Interpretation of Dreams karya Freud dipublikasikan tahun 1900, Jung membacanya atas himbauan Bleuler. Baru tiga tahun kemudian Jung menyadari bahwa tulisan Freud itu potensial untuk menjelaskan mekanisme represi yang diterapkannya melalui eksprerimen WAT nya. Pada tahun 1906 Jung mengirimi Freud copy pertama dari Diagnostic Assocation Studies: Contributions to Experimental Psychopatholog yang disuntingnya dan berisikan 6 studi dari Jung dan dokter-dokter lainnya di RS Burgholzli. Freud memberikan catatan dan juga copy pertama dari Collected Short Papers on the Theory of the Neuroses. Jung mengucapkan terima kasih atas balasan Freud dan juga kiriman bukunya, namun Jung juga mempertanyakan teori-teori Freud yang terlalu menitikberatkan pada trauma seksual (masa kanak-kanak khususnya). Jung bertemu muka dengan Freud untuk pertama kalinya pada 3 Maret 1907 di Wina. Mereka bertukar pikiran selama tigabelas jam non-stop ! Dalam kurun waktu enam tahun kemudian, relasi antara Jung dan Freud diwujudkan dengan berkorespondensi lewat surat dan juga melalui beberapa kali pertemuan langsung. Melalui surat-surat nya kepada Freud dan juga perjumpaannya, Jung menyadari bahwa teori-teorinya adalah tidak sama dengan teori-teori Freud. Namun di atas perbedaan ini, atas dukungan Freud, Jung diangkat menjadi presiden dari International Psychoanalytic Association (IPA) tahun 1910. Freud berharap bahwa Jung berkenan memangku jabatan ini seumur hidup, atau dengan kata lain Freud menginginkan Jung menjadi pewarisnya. Baik Freud dan Jung adalah dokter yang berangkat dari titik yang sama yakni observasi terhadap data. Freud berkeinginan kuat untuk sampai pada satu teori komprehensif yang dapat menjawab atau menjelaskan semua data yang ada dan yang akan ada (sebagaimana teori gravitasi dalam fisika). Sedangkan Jung melihat fenomena psikologis sebagai sesuatu yang berbeda dari fenomena

fisika dan oleh karenanya membutuhkan kerangka teoretik yang mampu beradaptasi dan fleksible dengan memperhitungkan keragaman pengalaman (perilaku) manusia yang tidak terbatas. Hasilnya adalah dua kerangka teoretik yang memiliki aroma yang sangat berbeda. Teori Freud dikembangkan sebagai sesuatu yang lebih pasti dan spesifik dan oleh karenanya bersifat kaku. Sedangkan Jung adalah lebih terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan baru dan mudah dimodifikasi akibatnya adalah bersifat agak kabur (vague). Freud lebih cenderung untuk langsung sampai pada kesimpulan, dan menekankan pada sistem tertutup (closed system) mengandaikan bahwa tidak ada lagi hal baru yang perlu dan bisa dipelajari tentang perilaku dan pengalaman manusia. Banyak orang kemudian menganggap bahwa teori Freud adalah dogmatis. Jung terus menerus menganjurkan pengujian terhadap hipotesis yang ia ajukan, dan dia berkeyakinan bahwa psikologi sebagai ilmu masih pada taraf mengumpulkan dan mengolah data, belum sampai pada titik akhir untuk menarik kesimpulan. Karena Jung mengikutsertakan begitu banyak data yang cukup sulit untuk diamati dan direplikasi, orang sering menjulukinya sebagai mystical. Sebagaimana Jung, Freud juga mengalamai Creative Illnesses yang ditandai dengan gejala-gejala fisik dan kelekatan emosional yang intens pada orang tertentu, khususnya Wilhelm Fliess dan Josef Breuer. Sakit Kreatifnya Jung bercirikan munculnya ancaman terhadap isi Alam Bawah Sadar yang beigtu kuat dan berlimpah, yang disebutnya sebagai Archetypal. Kreativitas Freud berfokus pada penggambaran Struktur Alam Pikiran, sedangkan Jung pada pemahaman suatu dimensi Alam Bawah Sadar di luar Kesadaran individu berikut segala isinya. Dalam usahanya untuk memahami Stuktur Alam Pikiran, Freud berhipotesis bahwa Alam Bawah Sadar terbentuk seluruhnya dari isi (pengalaman) individual. Beberapa dari isi alam pikiran ini dapat masuk dalam Alam Pikiran dan diingat , dan yang kemudian akan dapat dengan mudah dijangkau oleh Kesadaran. Freud menyebutnya sebagai Pre-conscious. Isi alam bawah sadar yang lain akan ditekan dan disimpan dibatasi dari Kesadaran oleh suatu kekuatan, dan oleh karenanya hanya akan dapat muncul kembali ke alam Kesadaran juga dengan suatu usaha. Sedangkan Jung menganggap bahwa Alam Bawah Sadar terbentuk hanya sebagian oleh pengalaman individual, termasuk di dalamnya isi Archetypal yang dibentuk di luar realitas pengalaman individual. Bagi Freud, Alam Bawah Sadar adalah bersifat patologis, sedangkan bagi Jung alam bawah sadar itu sehat, bahkan cenderung kreatif sekalipun ada juga unsur patologisnya. Minat terhadap Alam Bawah Sadar telah menyatukan dua tokoh besar mazhab Psikoanalis ini, namun perbedaan dalam konsep atau cara pendekatanlah yang akhirnya memisahkan keduanya. Pada tahun 1912,

perbedaan pandangan antara Freud dan Jung muncul ke permukaan dengan terbitnya karya Jung Transformasi dan Simbol-simbol Libido (Wandlungen und Symbole der Libido), yang kemudian direvisi dan diterbitkan kembali dengan judul Simbol-simbol dari Transformasi. Dalam pertemuan IPA di Munich tahun 1913, buku ini menjadi bahan diskusi dan perdebatan yang sangat hangat. Tujuh bulan kemudian Jung mengundurkan diri sebagai presiden dan kemudian juga dari keanggotaan IPA. Jung dan Freud tidak pernah bertemu lagi selepas petermuan di Munich, kecuali pada tahun 1938 Jung pernah mengirimkan utusan kepada Freud untuk menawarkan bantuan untuk menolong Freud keluar dari Austria (yang waktu itu didominasi oleh Hitler); namun Freud menolak tawaran Jung ini. Atas bantuan Dubes Amerika, Freud dan keluarganya akhirnya bisa keluar dari Austria dan tinggal di Inggris sampai wafatnya di tahun 1939. Jung sendiri sebenarnya pernah menyebut dirinya sebagai murid Freud dan dalam beberapa suratnya, Jung juga menyatakan loyalitasnya pada Freud. Jung bahkan menyebut kelompok psikoanaliitis yang dikelolanya sebagai Freudian. Sekalipun demikian, kemandirian Jung atas Freud juga ditunjukkan melalui surat-suratnya yang dengan gigih mempertanyakan konsep Neurosis nya Freud yang berakarkan pada polymorphous, perlawanan dan hal-hal yang bersifat jelek (perverse) dan seksualitas pada masa kanak-kanak. Dari sini jelaslah bahwa karya Jung tidaklah sepenuhnya dipengaruhi oleh Freud baik itu sebelum, selama atau sesudah keterdekatan pergaulannya bersama dengan Freud. Sebagian besar karya Jung sama sekali tidak mencerminkan ciri-ciri Freudian (pengikut Freud). Ada juga pendapat umum yang mengatakan bahwa Jung sebenarnya hanya menyimpang sedikit dari teori-teorinya Freud. Namun kenyataan juga menunjukkan bahwa pemikiran-pemikiran Jung adalah orisinal, asli khususnya mengenai sistem psikologi, psikoterapi dan analisis tentang Mimpi yang sangat berbeda dengan psikoanalisisnya Freud. Beberapa kerancuan muncul karena dalam masa pergaulannya dengean Freud, Jung menyebut metode terapinya sebagai Psikoanalisis dan menyebut dirinya sebagai seorang Psikoanalis. Istilah ini sangat melekat bahkan kemudian diidentikan dengan teori-teori Freud dan para pengikutnya. Freud hanya menginginkan murid yang dengan sepenuh hati menerima penuh seluruh ajarannya atau yang mengembangkan ajarannya dalam pengawasannya sepenuhnya, Prasyarat ini sama sekali tidak dapat diterima oleh Jung, hingga akhirnya perpisahan di antara kedua innovator psikoanalisis menjadi tidak terhindarkan.

D. TEORI JUNG 1. Pembagian Psyce Jung tidak berbicara tentang kepribadian melainkan psyche. Psyche adalah kesatuan yang di dalamnya terdapat semua pikiran, perasaan dan tingkah

laku baik yang disadari maupun tidak disadari yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Psyche merupakan gabungan atau jumlah dari keseluruhan isi mental, emosional dan spiritual seseorang. Secara umum psyche dibagi menjadi: psyche yang tampak (visible psyche) dan bawah sadar (unconscious). Dalam teorinya, Jung membagi psyche (jiwa) menjadi tiga bagian yaitu: ego, personal unconscious dan collective unconscious. a. Ego (Alam Sadar) Ego diidentifikasikan oleh Jung sebagai alam sadar. Ego merupakan jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran dan perasaan-perasaan sadar. Ego bekerja pada tingkat conscious. Dari ego lahir perasaan identitas dan kontinyuitas seseorang. Ego seseorang adalah gugusan tingkah laku yang umumnya dimiliki dan ditampilkan secara sadar oleh orang-orang dalam suatu masyarakat. Ego merupakan bagian manusia yang membuat ia sadar pada dirinya. b. Personal Unconscious (Alam Bawah Sadar Pesonal) Alam bawah sadar personal mencakup segala sesuatu yang tidak disadari secara langsung, tapi bisa diusahakan untuk disadari. Alam bawah sadar personal adalah alam bawah sadar seperti yang dipahami orang kebanyakan, yaitu mencakup kenangan-kenangan yang dapat ditekan karena alasanalasan tertentu. Tapi alam bawah sadar personal ini tidak mencakup instinginsting sebagaimana yang dipahami oleh Freud. Menurut Jung alam bawah sadar personal merupakan wilayah yang berdekatan dengan ego. Terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah disadari tetapi dilupakan dan diabaikan dengan cara repression atau suppression. Pengalamanpengalaman yang kesannya lemah juga disimpan kedalam alam bawah sadar personal. Penekanan kenangan pahit kedalam alam bawah sadar personal dapat dilakukan oleh diri sendiri secara mekanik namun bisa juga karena desakan dari pihak luar yang kuat dan lebih berkuasa. c. Collective Unconscious (Alam Bawah Sadar Kolektif) Alam bawah sadar kolektif berisi hal yang diperoleh seluruh jenis manusia selama pertumbuhan jiwanya melalui generasi yang terdahulu. Ini merupakan endapan cara yang khas manusia mereaksi sejak zaman dahulu terhadap situasi ketakutan, bahaya, perjuangan, kelahiran, kematian, dan sebaginya. Alam bawah sadar kolektif merupakan gudang bekas ingatan yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang yang tidak hanya meliputi sejarah ras manusia sebagai sebuah spesies tersendiri tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya. Alam bawah sadar kolektif adalah tumpukan pengalaman kita sebagai species, serupa pengetahuan bersama yang kita miliki sejak lahir. Akan tetapi, pengalaman ini tidak bisa kita sadari secara langsung. Pengalaman ini mempengaruhhi segenap pengalaman dan perilaku kita khususnya yang berbentuk perasaan, tapi hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan.

Isi dari alam bawah sadar kolektif disebut Archetype (arketipe). Jung juga menyebutnya dengan dominan, imago, bayangan-bayangan, mitologis atau primodial, dan sebagainya. Arketipe merupakan ingatan ras akan suatu bentuk pikiran universal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran-gambaran yang berkaitan dengan aspekaspek kehidupan, yang dianut oleh generasi terentu secara hampir menyeluruh dan kemudian ditampilkan berulang-ulang pada beberapa generasi berikutnya. Beberapa arketipe yang dominan seakan terpisah dari kumpulan arketipe lainnya dan membentuk satu sistem sendiri. Empat arketipe yang penting dalam membentuk kepribadian seseorang adalah: Persona berasal dari bahasa Latin, yang artinya topeng. Persona adalah wajah kepribadian yang ditunjukkan kepada dunia luar, dengan maksud agar dapat diterima dan dihargai secara sosial. Wujud nyata dari Persona adalah perilaku atau sopan santun yang kita tunjukkan, misalnya dengan berkata Terima kasih, Maaf, Silahkan, dan sebagainya. Sekalipun pada waktu mengucapkan kata-kata tersebut kita tidak sepenuhnya mengartikannya demikian. Orang tidak akan mengenakan topeng yang sama untuk setiap kesempatan atau pada setiap waktu atau tempat. Setiap topeng adalah merupakan respon terhadap situasi atau individu yang spesifik. Misalnya seorang wanita yang bekerja sebagai dokter, dia akan memakai topeng dokter, isteri, ibu, tetangga, teman, dsb. Jumlah atau gabungan dari total topeng yang digunakan oleh seseorang inilah yang disebut dengan Persona. Persona adalah kompromi yang sifatnya unik antara tuntutan lingkungan dan kebutuhan individual seseorang. Oleh karenanya satu orang bisa memiliki banyak variasi atau bentuk topeng yang dikenakannya, misalnya topeng-topeng untuk anggota keluarga yang berlainan (ibu, bapak, mertua, ipar, adik, anak, cucu), topeng-topeng lainnya untuk rekan kerja (atasan, rekan kerja, bawahan, pelanggan, pemasok). Sekalipun Pesona dapat dilihat nyata secara lahiriah, namun tidaklah mudah untuk mengendalikan atau mengganti topeng-topeng itu secara cepat dan tepat. Kesulitan untuk mengganti topeng-topeng kita secara cepat dan tepat ini akan sangat tergantung dari proporsi peran atau keterlibatan seseorang dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat secara umum. Sering kali peran-peran ini sering tidak sejalan atau saling bertentangan hingga dapat menghasilkan ketidaknyamanan (psikis). Seorang remaja pria misalnya, mungkin akan mengenakan topeng anak manis yang taat di hadapan orang tua atau gurunya. Sementara topeng garang atau jutek akan dikenakannya pada waktu berhadapan dengan adik atau teman sekolahnya. Pada waktu dia ada di antara orangtua dan adiknya, atau di antara guru dan teman-teman sekolahnya, sangat mungkin ia akan berperilaku yang sama sekali bukan sebagai anak-manis ataupun jutek. Sangat mungkin ia akan berperilaku sebagai seorang remaja yang pemalu.

Persona bermanfaat untuk adaptasi dengan dunia (luar). Tanpa Persona yang berkembang, orang akan menemui kesulitan sosial untuk mencapai tujuan tertentu yang mengandaikan impresi atau kesan positif dari orang lain. Misalnya anak muda yang over-protected mungkin tidak akan bisa belajar untuk memulai membangun persahabatan atau networknya sendiri. Atau bisa juga seseorang akan sangat mudah tersinggung terhadap orang lain yang tidak sependapat atau sepaham dengannnya. Sebagai akibatnya, ia akan sangat sering ngambek, mutung yang akan berdampak tidak langgengnya suatu persahabatan. Dalam beberapa kasus, Persona seseorang bisa menimbulkan konflik dengan harapan orang lain. Misalnya seseorang yang bekerja sebagai tenaga penjual, salesman atau customer service dimana topeng-topeng keramahan, outgoing, kesabaran sangat diharapkan oleh orang lain yang dihadapinya. Apabila orang merasa sangat terpaksa mengenakan topeng-topeng ini, dia mungkin bisa mengenakannya hanya sesaat, atau bila dikenakan ia akan tampak tidak wajar atau aneh. Apabila ini terus berlanjut bisa jadi orang akan jadi depresi atau sebaliknya bisa kehilangan pekerjaannya. Persona seperti yang diinginkan (oleh dunia luar) kadang juga dapat dibentuk secara sengaja dan dapat berhasil atau berfungsi dengan baik. Kutipan syair lagu Dunia ini Panggung Sandiwara adalah contoh paling tepat untuk menggambarkan dan menjelaskan ini. Persona adalah juga bersifat mandiri dan karenanya ia dapat juga konflik dengan harapan atau kesadaran seseorang. Contoh nyata adalah para public figure apakah itu para selebritis, artis, politikus, presenter, pelawak, dsb. Karena begitu sering dan mudahnya orang untuk mengenakan topeng sebagaimana dikehendaki atau yang dapat diterima oleh publik atau masyarakat luas, ia tidak jarang dapat kehilangan kontak dengan perasaan atau kepribadian diri yang sebenarnya. Pada titik ekstrimnya, jika orang merasa tidak mungkin untuk bisa mengungkapkan dirinya yang sebenarnya akan sangat rentan terhadap hal-hal yang drastic, misalnya lari ke penggunaan narkoba atau bahkan sampai bisa bunuh diri. Shadow adalah arketipe yang terdiri dari insting-insting binatang yang diwarisi manusia dalam evolusinya dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah kebentuk yang lebih tinggi. Shadow merupakan isi psikis yang tidak ingin ditampilkan atau bahkan dihargai oleh seseorang atau individu. Shadow merupakan bagian dari hidup seseorang namun ia tidak diinginkan untuk muncul karena dianggap lemah, tidak dapat diterima secara sosial atau bahkan cenderung aneh. Manifestasi dari shadow kerap kali bisa jadi merupakan hal yang tidak mengenakkan. Misalnya seorang pembawa acara yang tiba-tiba bisa lupa akan nama dari tamu terhormat yang harus diperkenalkannya. Hal ini mungkin karena si pembawa acara sebenarnya tidak senang atau benci dengan tamu terhormat tersebut. Contoh lain yang sering kita alami adalah: di tengah tengah percakapan yang biasa dan bersahabat, orang bisa saja

melontarkan komentar atau kata-kata kasar. Shadow akan muncul atau diekspresikan biasanya pada waktu orang berada dalam taraf kecemasan, di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan, atau dimana kesadarannya tidak penuh atau menurun. Menurut Jung, dalam mimpi shadow sangat sering muncul sebagai figure yang tidak disukai oleh orang itu dan biasanya berjenis kelamin sama. Sebagaimana ego dan persona, isi dari shadow adalah bervariasi antara orang satu dengan yang lainnya (bersifat individual). Dalam diri setiap orang, ada kualitas shadow yang tidak atau belum berkembang, tidak menarik, aneh atau bahkan kasar. Jika kualitas shadow yang sama itu muncul dalam bentuk yang sudah lebih berkembang, dewasa, menarik, sopan dalam diri orang lain, orang akan menjadi irihati tanpa tahu apa sebabnya. Jadi, tergantung dari kualitasnya: bagi satu orang bisa jadi merupakan shadow sedangkan hal yang sama bagi orang lain bisa merupakan ego nya. Sekalipun orang lebih sering melihat shadow dari sisi negatif, namun sebenarnya ia bisa banyak bermanfaat (positif). Kualitas atau isi shadow yang destruktif, aneh (pada saat berada di bawah alam sadar) bisa jadi merupakan hal yang sangat bernilai jika ia dapat diangkat ke dalam alam sadar. Misalnya shadow tentang marah bisa berubah menjadi asertif, ketidakberdayaan (vulnerable) bisa menjadi empati. Jung menegaskan berulang kali bahwa shadow adalah merupakan unsur penting dalam hidup manusia. Shadow dapat menunjukkan kualitas yang baik seperti misalnya instink normal, reaksi-reaksi (psikologis) yang tepat, realistic insight dan impuls-impuls kreatif. Manifestasi shadow berakar pada satu dari dua pengalaman besar seseorang (1) melihat dirinya sendiri sebagai yang jelek atau tidak sempurna. Ini disebabkan mungkin karena terlalu sering atau berulang kali dicemooh oleh orang lain bahwa dirinya tidak berguna, hingga kemudian ia tidak dapat melihat apa yang baik dalam dirinya, atau (2) bangga atau merasa dihargai karena karakter negatif yang dimilikinya, misalnya orang yang suka atau haus akan kekuasaan. Anima & Animus merupakan elemen kepribadian yang secara psikologis berpengaruh terhadap sifat bisexual manusia. Anima adalah arketipe sifat kewanitaan/feminine pada laki-laki, sedangkan Animus adalah arketipe sifat kelelakian/maskulin pada perempuan. Anima dan animus disebut syzygy. Anima adalah sisi kewanitaan yang hadir dalam alam bawah sadar kolektif pria. Anima biasanya dipersonifikasikan sebagai gadis kecil, yang spontan dan sangat perasa. Anima lebih diasosiasikan dengan kedalaman perasaan dan kekuatan hidup. Jung percaya anima berakar dari pengalaman-pengalam laki-laki sebelumnya dengan perempuan ibu, saudara perempuan, dan kekasih yang berpadu membentuk gambaran umum perempuan. Sedangkan, animus adalah sisi kepribadian yang hadir dalam alam bawah sadar wanita. Animus dipersonifikasikan sebagai orang bijak yang cenderung logis, rasionalistik dan argumentatif. Jung yakin bahwa animus bertanggung jawab terhadap pola pikir dan

opini perempuan sama seperti anima menghasilkan perasaan dan suasana hati pada laki-laki. Self, Jung percaya bahwa setiap pribadi memiliki sebuah kecenderungan warisan untuk bergerak menujun pertumbuhan, penyempurnaan, dan perlengkapan dan Jung menyebut sifat bawaan ini sebagai arketipe self (diri). Sebagai yang paling komprehensif dari semua arketipe, self adalah arketienya semua arketipe, karena dialah yang mendorong semua arketipe lain dan menyatukan mereka di dalam proses realitas-diri (self realization). Self tidak mudah untuk dijelaskan atau digambarkan. Kata yang singkat yang dapat menjelaskan self adalah kepribadian total (total personality) baik kesadaran maupun bawah sadar. Self adalah pusat dari kepribadian. Bandingkan saja self dengan matahari dalam tata surya kita sumber dari segala energi bagi keseluruhan system. Jika ego adalah bumi, maka self adalah matahari. Sebagai totalitas psyche, self merupakan gabungan atau jumlah dari seluruh proses, isi dan karakteristik mental baik itu positif maupun negatif, konstruktif maupun destruktif. Isi dari self ini yang kemudian akan menjadi bagian dari pola pengembangan (kepribadian) seseorang. Sebagaimana kesadaran akan berhadapan dengan masalah-masalah dan tantangan hidup, self akan menjadikan bawah sadar untuk bisa mendukung atau menyediakan sumberdaya bagi kesadaran untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hidup.

2. DINAMIKA KEPRIBADIAN Dinamika kepribadian yang dikemukakan oleh Jung adalah: kausalitas dan teleologi, dan progresi dan regresi. Kausalitas dan Teleologi Kausalitas meyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini memiliki asal-usul di dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya. Teleologi menyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini dimotivasikan oleh tujuan-tujuan dan aspirasiaspirasi ke depan yang mengarahkan tujuan seorang. Progresi dan Regresi Untuk mencapai realisasi-diri, manusia harus beradaptasi bukan hanya kepada lingkungan luar, tetapi juga dengan dunia batin mereka. Adaptasi kepada dunia luar melibatkan aliran maju disebut progresi, sedangkan adaptasi dengan dunia batin mengandalkan arus mundur energi psikis yang disebut regresi. 3. TIPOLOGI KEPRIBADIAN Menurut teori psikoanalisa dari Jung ada dua aspek penting dalam kepribadian yaitu sikap dan fungsi. Sikap terdiri dari introversion dan ekstroversion, sedangkan fungsi terdiri dari thinking, feeling, sensing dan intuiting.

10

a. Sikap Jung mendefinisikan sikap sebagai kecenderungan untuk beraksi atau bereaksi ke arah yang khas. Jung melihat setiap orang memiliki sikap terintroversi sekaligus terekstraversi, meskipun yang satu berada di alam sadar sementara yang lain berada di bawah alam sadar. Introversi Menurut Jung, introversi adalah membalikkan energi psikis ke dalam sebuah orientasi terhadap subjektivitas. Orang-orang introver selalu mendengarkan dunia batin mereka dengan semua bias, fantasi, mimpi, dan persepsi yang teridividualisasikan. Orang-orang ini tetap bersentuhan dengan dunia eksternal, tetapi mereka melakukannya dengan selektif dan didasarkan kepada pandangan subjek mereka. Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurahkan perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subyektif. Dan oleh karenanya ia akan tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian(judgement). Seorang introver secara relatif akan memiliki teman yang lebih sedikit namun ia akan sangat setia, loyal terhadap mereka. Ia akan tampak sebagai pemalu dalam situasi social, dan mungkin juga sangat hati-hati, pesimistis dan kritis. Ekstroversi Ekstarversi adalah sikap yang mengarahkan energi psikis keluar sehingga sesorang dioreintasikan menuju sesuatu yang objektifdan menjauh dari subjektif. Seorang ekstraver akan menaruh perhatian lebih pada dunia di luar dirinya orang, kejadian dan benda atau barang lain, dan akan dapat dengan mudah menjalin hubungan dengan mereka. Orang tipe ini akan memiliki kecenderungan untuk superficial, siap untuk menerima dan mengadopsi conventional standard, tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik. b. Fungsi Baik introversi maupun ekstroversi dapat berkombinasi dengan satu atau lebih dari empat fungsi psikologis sehingga membentuk delapan orientasi tindakan yang paling mungkin, atau tipe-tipe. Empat fungsi ini mengidera, berpikir, merasa, dan mengintuisi dapat didefinikan sebagai berikut: mengidera memberi tahu manusia sesuatu itu eksis; berpikir memampukan mereka menyadari maknanya; perasaan memberi tahu mereka nilai atau harganya; dan intuisi membuat mereka tahu sesuatu tanpa tahu bagaimana mereka bisa mengetahuinya. Thinking (berpikir) Aktivitas intelektual logis yang menghasilkan rantai ide-ide disebut berpikir. Tipe berpikir bisa bersifat ekstrover atau introver, tergantung sifat dasar seseorang. Orang-orang yang berpikir secara ekstrover sangat mengandalkan pikiran-pikiran konkret namun, mereka bisa juga menggunakan ide-ide abstrak jika ide-ide ini dipancarkan kepada mereka dari luar, contohnya dari orangtua atau guru. Orang-orang yang berpikir

11

secara introver bereaksi terhadap srimuli eksternal namun, interpretasi mereka mengenai suatu peristiwa lebih diwarnai oleh makna internal yang mereka berikan kepada stimukli tersebut daripada oleh fakta-fakta objektif itu sendiri. Feeling (merasa) Perasaan adalah pengevaluasian setiap aktivitas sadar, bahkan terhadap hal-hal yang dinilai sebagai sesuatu yang tidak begitu disukai. Perasaan berfungsi sebagai evaluasi, menerima atau menolak ide dan objek berdasarkan apakah mereka itu membangkitkan perasaan positif atau negatif, memberi pengalaman subjektif. Orang yang merasa secara ekstrover menggunakan data objektif untuk melakukan evaluasi. Orang yang merasa secara introver melandaskan penetapan nilai utamanya pada persepsi subjektif lebih daripada fakta objektif. Sensing (mengindera) Fungsi menerima stimuli fisik dan mentrasmisikannya ke alam sadar perseptual disebut sensasi/pengindraan (sensation). Pengindraan melibatkan operasi dari indra seperti melihat, mendengar, meraba, menjilat, membau, serta merespon rangsang dari dalam tubuh sendiri. Mereka yang mengindra secara ekstrover memahami stimuli eksternal secara objektif, kebanyakan sama dengan stimuli yang eksis dalam realitas. Mereka yang mengindra secara introver sebagain besar terpengaruh oleh sensasi-sensasi subjektif penglihatan, bunti, citarasa, sentuhan, dan sebagainya. Intuiting (mengintuisi) Intusi melibatkan persepsi yang melampaui kerja kesadaran. Seperti pengindraan, dia dilandaskan kepada persepsi mengenai fakta-fakta dasar absolut, yaitu serangkaian fakta yang menyediakan materi kasar bagi pikiran dan perasaan. Mengituisi berbeda dari merasa karena lebih kreatif, bahkan sering kali menambahkan atau menyarikan elemenelemen dari pengindraan alam sadar. Orang-orang yang mengintuisi secara ekstrover diorientasikan ke arah fakta-fakta di dunia eksternal. Daripada mengidrai fakta ini sepenuhnya, mereka hanya memahami secara subliminal. Karena stimuli pengindraan yang kuat ikut campur tangan dengan intuisi, maka orang-orang yang intuitif menekan banyak pengindraan mereka dan dituntun oleh tebakan dan terkaan yang berbalikan dengan data indera. Orang-orang yang mengintuisi secara introver dituntun oleh persepsi bawah sadar fakta-fakta yang pada dasarnya subjektif dan memiliki sedikit saja kemiripan dengan realitas eksternal atau tidak sama sekali. Secara umum tipologi kepribadian menurut Jung dapat dilihat pada tabel berikut (kombinasi sikap dan fungsi jiwa menurut Jung):

12

Fungsi Thinking Feeling Sensing Intuiting

Sikap Introversion Introversion-Thinking Introversion-Feeling Extraversion-Sensing Introversion-Intuiting

Ekstroversion Extraversion-Thinking Extraversion-Feeling Introversion-Sensation Extraversion-Intuiting

Introversion-Thinking Orang dengan sikap yang introvert dan fungsi thinking yang dominan biasanya tidak memiliki emosi dan tidak ramah serta kurang bisa bergaul. Hal ini terjadi karena mereka memiliki kecenderungan untuk memperhatikan nilai abstrak dibandingkan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Mereka lebih mengejar dan memperhatikan pemikirannya tanpa memperdulikan apakah ide mereka diterima oleh orang lain atau tidak. Mereka biasanya keras kepala, sombong dan berpendirian. Contoh dari orang dengan kepribadian seperti ini adalah philosophers.

Extraversion-Thinking Contoh orang dengan sikap extrovert dan fungsi thinking yang dominan adalah ilmuwan dan peneliti. Mereka memiliki kecenderungan untuk muncul seorang diri, dingin dan sombong. Seperti pada tipe pertama, mereka juga me-repress fungsi feeling. Kenyataan yang obyektif merupakan aturan untuk mereka dan mereka menginginkan orang lain juga berpikir hal yang sama.

Introversion-Feeling Orang dengan introversion-feeling berpengalaman dalam emosi yang kuat, tapi mereka menutupinya. Contoh orang dengan sikap introvert dan fungsi feeling yang dominan adalah seniman dan penulis, dimana mereka mengekspresikan perasaannya hanya dalam bentuk seni. Mereka mungkin menampilkan keselarasan didalam dirinya dan self-efficacy, namun perasaan mereka dapat meledak dengan tiba-tiba. Extraversion-Feeling Pada orang dengan sikap extraversion dan fungsi feeling yang dominan perasaan dapat berubah sebanyak situasi yang berubah. Kebanyakan dari mereka adalah aktor. Mereka cenderung untuk emosional dan moody tapi terkadang sikap sosialnya dapat muncul.

e. Introversion-Sensation Orang ini cenderung tenggelam dalam sensasi fisik mereka dan untuk mencari hal yang tidak menarik dari dunia sebagai perbandingan. Biasanya 13

mereka adalah orang-orang yang tenang, kalem, self-controlled, tapi mereka juga membosankan dan kurang bisa berkomunikasi.

Extraversion-Sensation Orang dengan tipe ini biasanya adalah businessman. Mereka biasanya realistik, praktis, dan pekerja keras. Mereka menikmati apa yang dapat mereka indrai dari dunia ini, menikmati cinta dan mencari kegairahan. Mereka mudah dipengaruhi oleh peraturan dan mudah ketagihan pada berbagai hal. Introversion-Intiuting Pemimipi, peramal, dan orang aneh biasanya adalah orang dengan sikap introvert dan fungsi intuitif yang dominan. Mereka terisolasi dalam gambarangambaran primitif yang artinya tidak selalu mereka ketahui namun selalu muncul dalam pikiran mereka. Mereka memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain, tidak praktis namun memiliki intuisi yang sangat tajam dibandingkan orang lain. Extraversion-Intuiting Penemu dan pengusaha biasanya memiliki sikap extravert dan fungsi intuitif yang dominan, mereka adalah orang-orang yang selalu mencari sesuatu yang baru. Mereka sangat baik dalam mempromosikan hal-hal yang baru. Namun mereka tidak dapat bertahan pada satu ide, pekerjaan maupun lingkungan karena sesuatu yang baru merupakan tujuan hidup mereka.

4. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN Jung mengelompokkan tahap-tahap perkembangan hidup menjadi empat periode umum yaitu: 1. Masa Anak-Anak, Jung membagi masa kanak-kanak menjadi tiga subtahapan yaitu: Tahap anarkis, tahap ini ditandai dengan kesadaran yang kacau dan sporadik atau kadang ada kadang tidak. Tahap monarkis, tahap ini ditandai dengan perkembangan ego, dan mulainya pikiran verbal dan logika. Pada tahap ini, anak memandang dirinya secara obyektif, sehingga sering secara tidak sadar, mereka menganggap dirinya sebagai orang ketiga. Tahap dualistis, tahap ini ditandai dengan pembagian ego menjadi dua, obyektif dan subyektif. Pada tahap ini, kesadaran terus berkembang, pulau-pulau kesadaran menyatu, dihuni oleh ego

14

kompleks yang menyadari diri sendiri baik sebagai obyek maupun sebagai subjek. 2. Remaja dan dewasa awal, tahap pemuda berlangsung mulai dari pubertas samapi usia pertengahan. Tahap ini ditandai oleh meningkatnya kegiatan, kematangan seksual, tumbuh kembangnya kesadaran dan pemahaman bahwa era bebas masalah dari kehidupan anakanak sudah hilang. Kelahiran jiwa terjadi pada awal pubertas, mengikuti terjadinya perubahanperubahan fisik dan ledakan seksualitas 3. Usia pertengahan, tahap ini dimulai antara usia 35 atau 40 tahun. Periode ini ditandai dengan aktualisasi potensi yang sangat bervariasi. Pada tahap usia pertengahan, muncul kebutuhan nilai spiritual, yaitu kebutuhan yang selalu menjadi bagian dari jiwa, tetapi pada usia muda dikesampingkan, karena pada usia itu, orang lebih tertarik pada nilai materialistik. 4. Usia tua, tahap ini ditandai dengan tenggelamnya alam sadar ke alam tidak sadar. Banyak pasien Jung pada usia ini mengalami kesengsaraan karena berorientasi pada masa lalu dan menjalani hidup tanpa tujuan. E. ANALISIS TEORI KEPRIBADIAN JUNG 1. Jung membuka mata kita tentang perbedaan antara perkembangan kejiwaan anak dengan dewasa. Anak jelas menekankan perbedaan, memisahkan satu hal dengan hal lainnya dalam masa belajarnya. Apa ini.? Kenapa ini bisa begini.? Kenapa bisa begitu.?. Mereka secara aktif mencari keragaman dan perbedaan. Banyak orang terkesan bahwa segala perbedaan sebagai bentuk pembelajaran, yakni bagaimana membedakan satu hal dengan hal lainnya. Jung menyatakan bahwa orang dewasa cenderung akan berusaha mencapai penyatuan dalam berbagai perbedaan itu. Orang dewasa berusaha mencari hubungan antara hal satu dengan lainnya, bagaimana segalanya dapat selaras serasi satu sama lainnya. Orang dewasa akan berinteraksi satu sama lain, bagaimana semuanya berperan membentuk keseluruhan dalam kehidupan ini. Kita ingin memahami segala sesuatu dan makna dan tujuan yang terkandung di balik semua. Anak-anak berusaha memilah-milah dunia, sedang orang dewasa berusaha merekat dan menyatukannya. 2. Tipologi kepribadian dikemukakan oleh Jung ditindaklanjuti oleh Test Myers Briggs Indicator yang ditemukan oleh Katherine C Briggs dan Isabel Briggs Myers. Sisi positif dari test ini adalah, test ini tidak mengotak-kotakkan manusia begitu saja ke dalam kelompok baik dan jahat , maka tidak terasa terlalu menekan. Sebaliknya tes-tes ini mendorong orang agar menyadari kemampuan diri sendiri dan akhirnya dapat mengembangkan kemampuannya tersebut. 3. Teori Jung berhubungan langsung dengan hierarki teori kebutuhan Abraham Maslow, khususnya kebutuhan aktualisasi diri yang disebut Jung sebagai realisasi diri.

15

Piramida Hierarki Kebutuhan Maslow 4. Teori Jung kami nilai lebih lengkap serta lebih rasional dari segi sisi ilmu sosial, karena tidak hanya menganggap manusia sebagai makhluk biologis tetapi juga makhluk spiritual. Dalam hal ini Jung sangat mengagungkan simbol-simbol keagamaan yakni agama Hindu seperti simbol Mandala. 5. Teori Jung berorientasi pada masa depan dan tujuan hidup manusia, tidak hanya melihat latar belakang individu pada waktu kecil. Hal ini dapat dijadikan pedoman untuk melakukan psikoterapi yang optimistic bagi perkembangan kepribadian konseli. 6. Teori Jung juga mengungkapkan banyak sisi dalam kebudayaan manusia (seperti mitologi, kesenian dan legenda) sebagai bagian tak terpisahkan dalam sistem kepribadian. 7. Hubungan teori Jung dan teori Freud Di satu pihak Jung masih terikat Freud, ia menekankan alam bawah sadar lebih dalam di banding Freud. Dipihak lain Jung memilikki kesamaan dengan kalangan humanis dan eksentialis. ia yakin bahwa kita semua ingin maju dan bergerak ke arah positif dan tidak hanya beradaptasi dengan perubahan seperti yang diyakini Freudian dan behavior. Jung memperluas tafsiran apa itu sakit jiwa atau mimpi. Sementara Freud hanya mengembangkan dalam taraf yang sempit (hampir-hampir hanya terfokus pada masalah seks).Jung memberikan intrepretasi bahwa segala hal mempunyai arti. 8. Perbedaan Teori Freud dan Teori Jung No. Perbedaan Teori Freud Teori Jung 1. 2. Latar Belakang (dasar pemikiran). Pola pemikiran. Filosofi materialistic. Libidoseksualis. Pola budaya. Pola pemikiran primordial (ketidaksadaran kolektif yang dimanifestasikan sebagai arketipe). Sebagai usaha spontan untuk mengetahui hal yang tak

3.

Pandangan atas mimpi.

Sebagai pemenuhan hasrat (wishful fulfillment),

16

berhubungan dengan dorongan seksual, bersifat merusak, dan hasil dari represi dan fantasi.

4.

Teknik Interpretasi Mimpi. Asal usul gejala neurotik.

Asosiasi bebas dan tidak berstruktur.

diketahui dalam alam tak sadar, mimpi dapat berfungsi sebagai pengembangan kepribadian, bersifat pengembangan dan hasil dari proses kompensasi dari perasaan dan sikap yang tidak dapat diekspresikan ketika terjaga. Asosiasi berstruktur (sesuai persepsi klien).

5.

6.

Struktur Kepribadian.

Adanya konflik antara super ego dan ego yang direpresi. Id,ego, dan super ego.

Adanya regresi

1. Jung mengungkapkan bahwa seluruh aspek kepribadian individu harus berkembang seluruhnya. Apabila ada salah satu aspek kepribadian yang terabaikan, hal itu akan dapat menghambat dari aspek kepribadian yang berkembang dalam diri seseorang. Apabila rintangan yang ada dalam diri konseli itu terlalu banyak, maka konseli dapat menderita neurosis. Di sinilah peran aktif dari seorang konselor diperlukan, yakni untuk membantu konseli

17

mengungkapkan hambatan-hambatan tersebut dan berusaha untuk mengurangi bahkan menghilangkannya. 2. 7. Orientasi proses psikoterapi. Memandang masa lalu sebagai proses sebab akibat atas gejala neurotik Memandang masa depan dan tujuan/bersifat purposif

F. Implikasi dalam konsep Bimbingan dan Konseling 3. Dalam perkembangan kepribadian individu, dapat mengalami gerak mundur dari fase proses perkembangan seharusnya yang di sebut regresi, dan gerak maju dari proses perkembangan sebelumnya yang di sebut progresi. Konselor hendaknya mampu mencegah konseli agar tidak mengalami regresi yakni kembali pada fase perkembangan yang telah di lewati dengan tidak di sadari. Sebaliknya konselor hendaklah ikut mengarahkan klien agar mampu mengalami progresi dalam segala aspek perkembangan kepribadian individu. 4. Test Myers Briggers Indicator, dapat digunakan konselor sebagai salah satu rujukan dalam membuat tindak lanjut proses konseling terutama dalam bidang layanan bimbingan karier konseli. Konselor mengarahkan bidang pilihan karier konseli sesuai hasil test tersebut, serta syarat kompetensi yang harus dimilikki konseli untuk dapat mencapai pilihan karier tersebut dengan optimal. 5. Jung mengungkapkan bahwa seluruh aspek kepribadian individu harus berkembang seluruhnya. Apabila ada salah satu aspek kepribadian yang terabaikan, hal itu akan dapat menghambat dari aspek kepribadian yang berkembang dalam diri seseorang. Apabila rintangan yang ada dalam diri konseli itu terlalu banyak, maka konseli dapat menderita neurosis. Di sinilah peran aktif dari seorang konselor diperlukan, yakni untuk membantu konseli mengungkapkan hambatan-hambatan tersebut dan berusaha untuk mengurangi bahkan menghilangkannya. 6. Konselor mampu mengarahkan layanan konseling yang aktif untuk menyeimbangkan kepribadian konseli antara alam sadar dan tidak sadar. Di sini konselor berperan untuk mengembalikan arah dan tujuan konseling atau fokus sesuai dengan tahap perkembangan yang real atau masa kini yang dialami konseli.

18

Boeree, G. (2008). Personality Theories. Jogjakarta: Prismasophie. Feist, Jest & Feist. (2008). Theories Of Personality. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. Hall, Calvin S., & Lindzey,Gardner. (1985). Introduction to Theories of Personality. New York: John Wiley& Sons. http. /forum. Psikologi.ugm. ac. Id/ (on line) Yusuf, S & Nurihsan, J. (2008). Teori Kepribadian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

19