Anda di halaman 1dari 3

ANESTESI SPINAL PADA PASIEN HERNIA INGUINALIS LATERALIS IREPONIBILIS DENGAN STATUS FISIK ASA II Abstrak Seorang laki-laki

usia 74 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan di selangkangan kiri. Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis hernia inguinalis lateralis sinistra ireponibilis dan dilakukan herniorepair dengan anestesi spinal. Anestesi spinal adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesi regional dapat dibagi menjadi 2, yaitu Blok sentral (blok neuroaxial) meliputi blok spinal, epidural, dan kaudal, dan Blok perifer (blok saraf), misalnya blok pleksus brakialis, aksiler, analgesia regional intravena, dan lain-lainnya. Kata kunci : Anestesi spinal, hernia inguinalis lateralis iriponibilis, herniotomi History Pasien laki-laki usia 74 tahun sejak 8 bulan SMRS pasien mengeluh ada benjolan sebesar telur ayam yang hilang timbul di selangkangan. Benjolan tetap timbul bila beraktifitas berat dan mengejan seperti mengangkat benda yang berat saat bekerja, batuk. Bila istirahat benjolan tetap tampak. Benjolan tidak nyeri bila ditekan, teraba kenyal. Tidak ditemukan benjolan di tempat lain. Pasien tidak mengeluh mual muntah, tidak demam, perut tidak kembung. Selama ini pasien belum pernah periksa ke dokter. Pada HMRS pasien memeriksakan keluhan tersebut ke poli Bedah dan disarankan oleh dr SpB untuk direncanakan operasi. Pasien tidak nyeri saat BAK & BAB, tidak batuk/pilek, tidak sesak napas, BAK dan BAB tidak ada kelainan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, compos mentis. Vital sign tekanan darah: 130/80 mmHg, nadi 72x/menit, respirasi: 20x/menit, suhu: 36,8oC. Status lokalis regio inguinal tampak benjolan sebesar telur ayam, bentuk lonjong, batas tegas, warna kulit di atas benjolan sama dengan kulit sekitar, peristaltik (+), palpasi teraba massa, konsistensi kenyal, fluktuasi (-), nyeri tekan (-), finger test (+). Diagnosis Hernia inguinalis lateralis ireponibilis dengan status fisik ASA II Terapi Preoperatif Pasien menjalani program puasa selama kurang lebih 8 jam sebelum operasi dimulai. Keadaan pasien tenang, kooperatif, tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, RR 24 x/menit, suhu 36,6 C. Premedikasi Sebelum obat anestesi diberikan pasien diberi obat premedikasi yaitu Ondansentron 4 mg dan Midazolam 2,5 mg Induksi

Obat yang diberikan yaitu Lidodex 100 mg. Maintenance Selama operasi berlangsung pasien diobservasi tekanan darah, nadi dan pernapasannya. Tekanan darah sistolik rata-rata 130 dan diastolik rata-rata 75, nadi rata-rata 78 dan operasi berlangsung selama 75 menit. Diskusi Blok anestesi spinal ialah teknik anestesi dengan cara pemberian atau penyuntikan obat anestetik kedalam ruang subarakhnoid. Anaestesi spinal diperoleh dengan penyuntikan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarakhnoid . Indikasi : bedah ekstremitas bawah, bedah panggul, tindakan sekitar rektum perineum, bedah obstetri-ginekologi, bedah urologi, bedah abdomen bawah, pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya dikombinasikan dengan anestesi umum ringan. Indikasi kontra absolut : pasien menolak, infeksi pada tempat suntikan, hipovolemia berat, syok, koagulopati atau mendapatkan terapi antikoagulopati, tekanan intrakranial meningkat, fasilitas resusitasi minim, kurang pengalaman / tanpa didampingi konsultan anestesi. Pada kasus ini pasien seorang laki-laki berusia 70 tahun dengan diagnosis Hernia Inguinalis Lateralis Dekstra Reponibilis dan akan dilakukan herniorepair. Jenis anestesi yang digunakan adalah anestesi spinal dengan teknik subarachnoid block. Pemilihan teknik anestesi berdasarkan pada faktor-faktor seperti usia, status fisik, jenis dan lokasi operasi, keterampilan ahli bedah, ketrampilan ahli anestesi dan pendidikan. Teknik anestesi spinal Adapun tahapan spinal anestesi adalah : 1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitas lateral. Beri bantal kepal, atau buat pasien membungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba. Posisi lain ialah duduk. 2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang punggung ialah L4 atau L5. Tentukan tempat tusukan misalnya L2-3 atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau di atasnya beresiko trauma pada medula spinalis 3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol 4. Beri anestesi lokal pada tempat tusukan, misalnya degan lidokain 1-2 % 23 ml. 5. Cara tusukan median atau paramedian. Tusukan introducer sedalam kirakira 2 cm agak sedikit ke arah sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut meridiannya kelubang jarum tersebut. Setelah resistensi menghilang mandrin jarum spinal dicabut dan keluar liqour, pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kesimpulan Pada kasus ini pasien seorang laki-laki berusia 74 tahun dengan diagnosis Hernia Inguinalis Lateralis Ireponibilis dan akan dilakukan herniorepair. Jenis anestesi yang digunakan adalah anestesi spinal dengan teknik subarachnoid block yaitu anestesi pada ruang subarachnoid kanalis spinalis regio antara vertebra lumbal 4-

5. Pemilihan teknik anestesi berdasarkan pada faktor-faktor seperti usia, status fisik, jenis dan lokasi operasi, ketrampilan ahli bedah, ketrampilan ahli anestesi dan pendidikan. Referensi Latief, SA., Suryadi, KA., Dachlan, R. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi Kedua. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Jakarta : FKUI. Mangku, Gde dan Senapathi, Tjokorda GA. 2010. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta : Indeks Jakarta

Penulis Greisy Rivta, Bagian Ilmu Anestesi dan Reanimasi, RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta