Anda di halaman 1dari 28

Konsep Bisnis Dalam Al-Quran (1) - Ust Syamsul Bada

Al-Quran memandang kehidupan manusia sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Dalam pandangan Al-Quran, lkehidupan manusia itu dimulai sejak kelahirannya namun tidak berhenti pada saat kematiannya. Hidup setelah mati, [1] adalah sebuah rukun iman yang sangat penting dan esensial. Dia berada dibawah satu tingkat setelah keimanan kepada Allah. Tanpa keimanan pada hal yang sangat vital ini semua struktur dan sistem keimanan Al-Quran akan rusak dan berantakan.

Manusia harus bekerja bukan hanya untuk meraih sukses di dunia ini namun juga untuk kesuksesan di akhirat. Semua kerja seseorang akan mengalami efek yang demikian besar pada diri seseorang, baik efek positif dan konstruktif maupun efek negatif dan destruktif. Dia harus bertanggung jawab dan harus memikul semua konsekuensi aksi dan transaksinya selama di dunia ini pada saatnya nanti di Akhirat yang kemudian dikenal dengan Yaumul Hisab [2] sebagaimana hari itu juga disebut sebagai Yaum al-Diin. [3]

Dengan demikian, konsep Al-Quran tentang bisnis yang sebenarnya, serta yang disebut beruntung dan rugi hendaknya dilihat dari seluruh perjalanan hidup manusia. Tak ada satu bisnis pun yang dianggap berhasil, jika dia membawa keuntungan, sebesar apapun keuntungan yang diperoleh dalam waktu tertentu, namun pada ujungnya mengalami kerugian yang melebihi keuntungan yang diperoleh. Sebuah bisnis akan dinilai menguntungkan apabila pendapatan yang diperoleh melebihi biaya atau ongkos produksi. Skala peritungan bisnis semacam ini akan ditentukan pula di hari Akhirat. Dalam bahasan ini akan dianalisa ajaran-ajaran Al-Quran untuk menjernihkan perbedaan antara bisnis yang menguntungkan dan merugikan. Analisa ini juga akandisertai dengan deskripsi singkat dan seksama tentang pahala yang dijanjikan Al-Quran pada orang-orang yang berlaku baik dan siksa pada orang-orang yang berlaku jahat. Untuk memberikan gambaran yang benar tentang bisnis yang baik dan yang jelek, Al-Quran telah memberikan petunjuk sebagaimana pada ayat-ayat berikut ini:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah laksana sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa-siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah:261). Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridlaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan deras, sehingga kebun itu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika hujan

deras tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Al-Baqarah:265). Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitabullah dan menegakkan shalat serta menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam ataupun dengan terang-terangan, mereka ini melakukan perniagaan yang tidak akan merugi. (Faathir:29). [4]

Allah memusnahkan riba dan menuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran serta selalu berbuat dosa. (Al-Baqarah:276).

Dan riba yang kamu berikan agar dia menambah harta seseorang, maka sebenarnya riba itu tidak menambah apapun di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mendapat keridlaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahala dan hartanya). (Ar-Ruum:39).

Dan orang-orang kafir berkata: Hari Kebangkitan itu tidak akan datang kepada kami. Katakanlah: Pasti datang. Demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, sesungguhnya Kiamat itu pasti akan datang kepada kalian. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya benda sebesar atom (dzarah) pun di langit dan di bumi, bahkan yang lebih kecil dari itu apalagi yang lebih besar, melainkan semuanya tersebut dalam Lauhul Mahfudz. (Saba:3).

Pada hari ketika mereka semua dibangkitkan Allah, lalu Allah memberikan mereka (catatan) apa saja yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (catatan) amal perbuatan mereka, padahal mereka sendiri telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al-Mujadilah:6).

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik? Niscaya Allah akan menggandakan (pengembalian) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Al-Hadiid:11).

Sesungguhnya orang-orang yang bersedakah baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan

(pengembaliannya) kepada mereka; dan mereka mendapat pahala yang banyak. (AlHadiid:18).

Barangsiapa melakukan perbuatan yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnyal dan barangsiapa yang melakukan perbuatan yang jahat, maka dia tidak akan diberi pembalasan kecuali seimbang dengan kejahatannya, jadi mereka sedikitpun tidak dizhalimi. (Al-Anam:160).

A. Bisnis yang Menguntungkan Dalam Al-Quran, bisnis yang menguntungkan itu mengandung tiga elemen dasar: 1. Investasi yang prospektif. 2. Keputusan yang tepat dan logis. 3. Perilaku yang terpuji. 1. Investasi yang prospektif Menurut Al-Quran, tujuan dari semua aktifitas manusia hendaknya diniatkan untuk ibtigha-i mardhatillah (mencari keridhaan Allah), [5] karena hal ini merupakan pangkal dari seluruh kebaikan. [6] Dengan demikian maka investasi dan kekayaan milik seseorang itu dalam hal-hal yang benar tidak mungkin untuk dilewatkan penekanannya. Dalam ungkapan lain, investasi terbaik itu adalah jika ia ditujukan untuk menggapai ridha Allah.

Karena kekayaan Allah itu tanpa batas dan tidak akan habis, [7] maka merupakan pilihan terbaik untuk mencari dan memperoleh keuntungan yang Allah janjikan dengan mengambil kesempatankesempatan yang ada. Di dalam Al-Quran, rahmat (kasih sayang) Allah digambarkan sebagai sesuatu yang lebih baik dari segala kenikmatan yang ada di dunia. [8] Jika mardhatillah menempati prioritas paling puncak, tentu saja investasi untuk mencapai itu menjadi investasi terbaik dari segala jenis investasi Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, Bagaimana dan apa yang diinvestasikan itu? Investasi itu seluruhnya sangat tergantung pada kondisi dan keikhlasan orang yang melakukan. Jika ia melakukannya dengan baik dan ikhlas, maka pahala dari investasi itu akan dilipatgandakan luarbiasa oleh Allah. Mungkin saja investasi itu berupa jiwa dan harta mereka, [9] ataupun hanya harta saja. [10] Harta kekayaan yang dipergunakan di jalan Allah (yakni dalam hal-hal yang baik) akan Allah berkati dan akan dilipatgandakan. Penggunaan belanja yang benar di jalan Allah inilah yang dinilai Al-Quran sebagai bisnis yang tak akan rugi. Bukan

hanya itu, bisnis seperti ini secara positif juga akan membuahkan hasil yang berlimpah dan berlipatganda. [11]

Investasi yang prospektif juga bisa berupa meringankan, melonggarkan, dan tidak mengejarngejar para debitur (pengutang) yang benar-benar tidak mampu mengembalikan utang tersebut. Sikap dan perilaku kreditur (pemberi utang) yang demikian dinilai sebagai investasi yang menguntungkan. [12] Membelanjakan harta untuk zakat adalah salah satu jalan untuk menggapai ridha Allah. [13] Allah menjanjikan akan memberikan ganjaran yang berlipat-lipat.

[14] Mempergunakan kekayaan dalam hal-hal yang baik juga dinilai sebagai pinjaman yang baik (qardh hasan) yang dibayarkan sejak awal pada Allah. [15] Allah juga menjanjikan bagi mereka yang melakukannya dengan pahala yang berlipatganda. [16] Pinjaman indah ini Allah janjikan akan dibayar minimal sepuluh kali lipat dari jumlah yang dipinjamkan. [17] Bahkan, sabar atas rasa sakit yang menimpa fisik, penderitaan mental akibat adanya teror dan pengusiran, atau tabah atas ancaman pembunuhan, atau terbunuh karena membela kebenaran; semua itu menurut AlQuran dianggap sebagai investasi yang sangat menguntungkan. [18]

2. Keputusan yang tepat dan logis Agar sebuah bisnis sukses dan menghasilkan untung, hendaknya bisnis tersebut didasarkan atas keputusan yang tepat, logis, bijak dan hati-hati. Menurut Al-Quran, bisnis yang menguntungkan bukan hanya yang dapat dinikmati di dunia, tetapi juga dapat dinikmati di akhirat dengan keuntungan yang jauh lebih besar. Karena kenikmatan dunia itu tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. [19] Kebersihan jiwalah, bukan banyaknya harta, yang akan membuat manusia sukses di alam akhirat. [20] Itulah sebabnya mengapa Al-Quran selalu menasihati manusia agar selalu mencari dan mengarahkan apa yang di lakukan untuk mendapat pahala di akhirat, bahkan pada saat dia melakukan hal-hal yang bersifat duniawi sekalipun. [21]

Usaha untuk mencari keuntungan yang banyak dengan cara-cara bisnis yang curang hanya akan menghasilkan sesuatu yang sangat tidak baik dan menimbulkan kepailitan, yang mungkin saja terjadi di dunia ini. Dengan demikian, menurut Al-Quran, bisnis yang menguntungkan adalah, bukan hanya dengan melakukannya secara profesional dan benar, namun juga menghindari segala bentuk praktek-praktek curang, kotor dan koruptif. [22] Preferensi pada apa yang disebut dengan halal dan thayyib (baik) dengan dihadapkan pada sesuatu yang haram dan khabits (buruk) adalah salah satu yang dianggap sangat baik untuk pengambilan keputusan yang logis dan bijak. Sesuatu yang baik tidak akan pernah bersatu dengan sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, bisnis yang menguntungkan akan selalu diberikan

pada hal yang thayyib, meskipun dalam kuantitasnya tidak lebih banyak dari yang khabits. [23] Al-Quran menekankan bahwa sebuah bisnis yang kecil namun lewat jalan halal, jauh lebih baik daripada bisnis besar yang didapatkan melalui cara-cara yang haram.

Dalam Al-Quran, transaksi terbaik adalah yang memberikan garansi terhindarnya seseorang dari neraka dan memberi jaminan masuk surga. Transaksi yang menguntungkan ini hanya bisa diwujudkan dengan cara beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara konsisten, dan berjuang di jalan Allah dengan harta maupun jiwanya.

Allah swt berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suartu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu apabila kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan memasukkanmu ke istana di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (Ash-Shaff: 10-12).

Disamping akan memperoleh ganjaran yang demikian banyak dari Allah di akhirat nanti, dalam transaksi ini Allah juga menjanjikan akan memberi bonus cash di dunia dalam bentuk dukungan Allah dan menjadikan mereka menang dalam menghadapi kompetitor-kompetitornya. [24]

3. Perilaku yang terpuji Dalam Al-Quran, perilaku yang terpuji sangat dihargai dan dinilai sebagai investasi yang sangat menguntungkan, karena hal ini akan mendatangkan kedamaian di dunia juga keselamatan di akhirat. [25] Indikator perilaku seseorang itu telah dipaparkan dalam Al-Quran, dimana setiap orang beriman akan selalu meniru dan mengikuti jejak langkah Rasulullah dalam menjalani kehidupanya di dunia. [26]

Diantara perilaku terpuji yang direkomendasi Al-Quran agar memperoleh bisnis yang menguntungkan adalah dengan mencari karunia secara sungguh-sungguh, [27] serta mengharap ampunan-Nya. [28] Jalan untuk mendapat ampunan-Nya adalah dengan memberi maaf pada sesama manusia; [29] karena disamping akan mendapat ampunan, ia juga akan memperoleh

ganjaran yang besar dari Allah. [30] Menepati janji dan kesepakatan juga merupakan indikator perilaku terpuji, [31] disamping membayar zakat dengan sempurna. [32]

Al-Quran memerintahkan orang-orang beriman untuk memegang amanah dengan baik dan menepati janji, [33] dan bersikap adil serta moderat terhadap sesama manusia. [34] Lebih dari itu, seorang muslim dalam aktivitas bisnisnya harus selalu ingat kepada Allah, menjaga ibadah ritualnya, tidak lalai atas kewajiban zakat dan infaqnya, menghentikan sejenak aktivitas bisnisnya ketika datang panggilan shalat, betapapun sibuk dan padat jadwal kegiatan hariannya. [35] Al-Quran menyatakan bahwa sesungguhnya harta kekayaan, disamping isteri dan anakanak, itu adalah ujian bagi integritas kemanusiaannya. [36] (bersambung)

Referensi: 1. Terma Al-Akhirah disebut sebanyak 104 kali di dalam Al-Quran. Contoh-contohnya bisa didapat dalam Al-Quran : 19: 66 - 68; 16: 38; 2:28; 22: 66; 30: 40; 45: 26; 29:57: 6 : 36; 7:57;30: 50. Lihat Mujam,vol.1, 29. 2. Al-Quran: 38:16, 26, 53; 40:27. Hari Kebangkitan (Kiamat) disebut juga Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) karena pada saat itu adalah hari dimana manusia ditanyakan, saat mereka dihitung amal perbutannya(Lihat, Mujam, op.cit., vol.1, 267. 3. Al-Quran: 1:4; 15:35; 26:82; 37:20; 38:78; 51:12; 56:56; 70:26; 74:46; 82:15,17,18; 83:11. Pernyataan dibawah ini mempunyai arti penting tentang apa yang disebut dengan Hari Pembalasan (Yaum al-Diin) itu, Dalam pengalaman hidup sehari-hari, kita tidak bisa memformat konsepsi tentang Pengadilan Akhir itu. Kita memang bisa membicarakan tentang ganjaran dan azab, tentang buah amal seseorang, tentang kebangkitan manusia dan pengadilan mereka, restorasi tentang nilai-nilai yang benar, dan eliminasi sema kesalahan-kesalahan, serta ratusan frase yang lain. Mereka mungkin akan mengantar otak kita secara samar-samar pada sebuah dunia baru, dimana mereka tidak mungkin mampu memformat konsepsi yang cukup memuaskan pada kondisi saat ini. (lihat Yusuf Ali, op.cit.,1701, no.6009). 4. Di sini kita lihat metafora bisnis. Kebaikan derma seseorang bukan semata karena berasal dari jumlah yang berlebihan, namun itu memang berasal dari karunia yang Allah telah sediakan padanya. Dari sini akan diketahui dua hal: (1) Bahwa kekayaan yang ada pada dirinya bukanlah hak absolut dia, namun itu adalah pemberian yang Allah berikan padanya. (2) Bahwasanya dia harus mengalokasikan sebagian dari harta yang dia miliki, dalam posisinya sebagai pelaku bisnis untuk diinvestasi sebagai kapital. Hanya perdagangan yang baik saja yang tidak akan pernah gagal ataupun mengalami fluktuasi. Sebab Allah memberikan garansi padanya sebuah balasan, bahkan Allah akan memberikan tambahan pada balasan itu yang merupakan kasih sayang dariNya. Allah akan memberikan lebih dari apa yang seharusnya kita pantas menerimanya. (Yusuf Ali, op.cit., 1161, no.3915).

5. Kata ini diulang sebanyak tiga kali dalam Al-Quran. Yusuf Ali menafsirkan kata itu sesuai dengan konteks ayatnya, yaitu: (1) Untuk memperoleh keridhaan Allah (seeking pleasure of God) (2:207). (2) Berbuat agar Allah ridha (seeking to please God) (2:265). (3) Mencari kebaikan dari keridhaan Allah (seeking the good pleasure of God) (4:114). 6. Al-Quran: 9:72. Sebagaimana salah satu potongan dari ayat ini adalah firman-Nya: Dan keridhaan Allah itu adalah lebih besar. 7. Al-Quran: 16:95-96; 20:131. 8. Al-Quran: 28:78-80; 43:23. 9. Al-Quran: 2:207; 9:111; 57:10; 61:12; 73:20. 10. Al-Quran: 2:261, 265, 268, 271-271,; 4:39; 9:121; 24:33; 30:38; 34:39; 57:7; 63:10l; 62:16; 70:24-25; 76:7-9; 90:11-17; 92:5-7, 17-21; 107:1-3,7. 11. Al-Quran: 35:29-30. Allah selalu siap untuk mengakui, mengapresiasi dan memberi balasan terhadap pengabdian sekecil apapun yang dilakukan manusia, tanpa melihat pada cacat yang ada pada pengabdian tersebut. Keramahan-Nya dalam penerimaan pengabdian manusia bisa dibandingkan dengan rasa terima kasih diantara manusia. (Yusuf Ali, op.cit.,162, no.3917). 12. Al-Quran: 2:280. 13. Zakat merupakan salah satu pilar Islm yang lima. Kata zakat disebut sebanyak 29 kali di dalam al-Quran. Zakat berarti memberikan sebagian harta dalam porsi tertentu yang telah ditentukan.(Lihat Mujam, op.cit.m vol.1:539-540. 14. Al-Quran: 30:39. 15. Frase qardh hasan ini disebutkan dalam ayat-ayat berikut: 2:245; 5:13; 57:11,18; 64:17; 73:20. Memberi pinjaman yang baik pada Allah maknanya adalah memberikan derma yang hanya mengharapkan keridhaan Allah. (Lihat Mujam, op.cit., vol.2, 388389. 16. Al-Quran: 2:242l; 5:13; 57:11,18; 64:17; 73:20. Mempergunakan harta kekayaan di jalan Allah secara metaforik disebut sebagai pinjaman yang indah. Cara ini memiliki keutamaan dari beberapa segi: (1) Dalam pinjaman yang biasa masih ada semacam kekhawatiran terhadap keamanan modal dan kembalinya pinjaman tersebut. Namun disini anda memberikan pinjaman itu kepada Tuhan semesta alam, yang di tangan-Nya kunci apa yang anda mau berada. Jika anda memberikan apa yang anda miliki di jalan Allah, maka anda akan mendapatkan penggandaan yang sangat banyak, sedangkan jika anda tahanharta tersebut, maka bisa saja harta itu lepas dari tangan anda. Jika kita ingat bahwa tujuan kita adalah Allah, apakah kita masih mampu untuk memaingkan diri dari-Nya? (Yusuf Ali, op.cit., 97, no.276; 245, no.710; 1560, no. 5500). 17. Al-Quran: 6:160. Allah itu Maha Baik dan Maha Pemurah. Satu kebaikan yang dilakukan manusia akan diblas sepuluh kali lipat, berkat Kemahamurahan-Nya. Sedangkan pada tindakan kejahatan, Allah tidak akan memberikan siksa lebih dari apa yang dilakukan hamba itu. Bahkan bagi setiap pelaku dosa selalu terbuka pintu tobat baginya sepanjang dia mau bertobat dan memperlihatkan perilaku yang baik. (Yusuf Ali, op.cit., 338, no.986). 18. Al-Quran: 3:195; 9:120-121; 29:69. 19. Al-Quran: 8:67; 13:26; 17:19; 18:46; 20:131; 73:20. Makna yang ada di ayat-ayat tersebut adalah: Kenikmatan yang ada di dunia ini adalah laksana perhiasan, alat kesenangan hidup, satu batu loncatan yang merupakan jalan untuk menuju sebuah kehidupan mendatang. Dunia secara dzati jauh sangat tidak penting dibanding

kehidupan akhirat. Kehidupan di dunia mungkin saja mengagumkan, namun itu tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Keduanya memang Allah yang menyediakan. Namun yang pertama, kehidupan dunia, bagi orang yangb bijak dan yang tidak bijak sebagai sarana ujian, dan bagaimanapun juga kehidupan dan kenikmatan dunia itu akan lenyap dan sirna. Sedang yang kedua, kehidupan akhirat, adalah diberikan secara istimewa olah Allah pada hamba-hamba-Nya yang takwa. Alam akhirat memiliki nilai yang tidak mungkin bisa dibandingkan dengan apa saja yang ada di dunia. Dan dia adalah alam yang abadi. (Yusuf Ali, op.cit.,611, no. 1841 dan 819, no. 2656). 20. Al-Quran: 26:88-89; 35:18. Di Hari Perhitungan kelak, tidak ada yang berguna kecuali hati yang bening dan bersih; semua bentuk perbuatan yang di dunia disebut dengan perbuatan baik, namun tidak didasarkan pada hati yang bersih, maka semua perbuatan itu menjadi sia-sia. Saat itulah Surga dan Neraka akan diperlihatkan dengan jelas pada manusia. Kejahatan-kejahatan juga akan ditampakkan dalam bentuknya yang jelas, terisolasi, tak ada advokasi, terkutuk, tercela, dan putus asa. Segala kesempatan, di saat itu telah tertutup dan sirna. (Yusuf Ali, op.cit., 975, no.3180). 21. Al-Quran: 42:20. Perumpamaan ini adalah terhadap apa yang dilakukan oleh seorang petani yang membajak tanah serta menanaminya dengan bibit di musim tertentu, dan dia akan menuai hasil panennya. Seseorang akan menuai apa yang ia tanam. Namun Allah akan melipatgandakan hasil tanam yang bersifat penanaman spiritual. Bagi siapa yang hanya asyik dengan permainan dunia ini, maka ia mungkin akan memperoleh dunia itu, namun alam spiritual akan tertutup bagi dirinya. (Yusuf Ali, op.cit., 1311, no.4555). 22. Al-Quran: 7:85; 17:35. 23. Banyak manusia yang menilai sesuatu hanya dari aspek kuantitas dan mengabaikan kualitas. Mereka terpesona dengan angka-angka. Mereka terhipnotis dengan banyaknya jumlah. Namun orang berilmu dan memiliki pandangan yang tajam akan menilai sesuatu dengan cara bijak dan benar. Dia tahu bahwa yang baik dan yang jelek itu sama sekali berbeda dan tidak mungkin ada dalam satu ruang. Dia dengan hati-hati akan memilih yang baik, walau hal ini jarang dan langka. Dia akan menghindari yang buruk, walau mungkin akan menghadapi rintangan di setiap langkahnya. (Yusuf Ali, op.cit., 274, no.806). 24. Al-Quran: 61:13. Semua perjuangan di jalan yang benar, pasti akan ditolong Allah. Bagaimanapun rintangan yang kita hadapi, kita akan selalu memperoleh kemenangan berkat pertolongan Allah. Hidup ini adalah rangkaian perjuangan, dan perjuangan terberat adalah perjuangan spiritual. Kemenangan hakiki yang akan diperoleh manusia adalah surga yang abadi. (Yusuf Ali, op.cit., 1542, no.5445). 25. Al-Quran: 16:97; 17:7; 41:46; 45:15; 103:3. 26. Al-Quran: 33:21; 68:4. 27. Al-Quran: 31:12; 93:11; 108:2. 28. Al-Quran: 71: 10-12. 29. Al-Quran: 24:22. 30. Al-Quran: 45:14; 64:14. 31. Al-Quran: 13:20. 32. Al-Quran: 19:31. 33. Al-Quran: 23:8; 70:32; 76:7. 34. Al-Quran: 57:25; 60:8.

35. Al-Quran: 24:37-38; 62:9. 36. Al-Quran: 64:15.

Perekonomian Indonesia Dalam Catur Yahudi


Mundurnya Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai Menteri Keuangan RI menimbulkan kehebohan dan banyak pertanyaan tentang penyebab yang sebenarnya. Ada yang mengatakan bahwa perpindahannya pada pekerjaan yang baru di World Bank (WB) adalah hal yang membanggakan. Tetapi ada yang berpendapat, bahkan berkeyakinan tidak wajar, terutama kalau dikaitkan dengan skandal Bank Century (Century). Saya termasuk yang berpendapat, bahkan yakin sangat tidak wajar. Alasan-alasan saya sebegai berikut. Beberapa ungkapan dan pernyataan dalam berbagai pidato perpisahannya mengandung teka-teki dan mengundang banyak pertanyaan, yaitu : Jangan ada pemimpin yang mengorbankan anak buahnya. Saya tidak bisa didikte. Saya menang. Saya tidak minggat, saya akan kembali. Dalam pidato serah terimanya kepada Menkeu yang baru menangisnya tidak wajar, berkali-kali dan sangat-sangat sedih. Lucu, menyatakan menang kok menangis sampai seperti itu. Juga sangat tidak wajar adanya sikap yang demikian fanatiknya dari staf Departemen Keuangan dengan ungkapan belasungkawa, seolah-olah SMI sudah meninggal. SMI sedang diperiksa oleh KPK sebagai tindak lanjut dari penyelidikan tentang skandal Century. Dalam proses yang sedang berjalan, Bank Dunia menawarkan jabatan dengan dimulainya efektif pada tanggal 1 Juni 2010. Bank Dunia yang selalu mengajarkan good governance dan supremasi hukum ternyata sama sekali tidak mempedulikan adanya proses hukum yang sedang berlangsung terhadap diri SMI. Menurut Jakarta Post, yang memberitakan melalui siaran pers tentang pengangkatan SMI sebagai managing director di WB adalah WB sendiri. Setelah itu, melalui wawancara barulah SMI mengakui bahwa berita itu benar. Itu terjadi pada tanggal 4 Mei 2010. Juru bicara Presiden memberi pernyataan bahwa Presiden SBY akan memberi konperensi pers setelah memperoleh ketegasan dari Presiden WB Robert Zoelick. Namun sehari kemudian diberitakan bahwa SBY telah menerima surat dari Presiden WB pada tanggal 25 April 2010. Mengapa SBY merasa perlu berpura-pura seperti ini ? Dalam konperensi persnya, SBY memuji SMI sebagai salah seorang menteri terbaiknya yang disertai dengan rincian prestasi dan capaian-capaiannya. Tetapi justru dengan bangga melepaskan SMI supaya tidak melanjutkan baktinya kepada bangsa Indonesia. SMI diberi waktu 72 jam untuk memberikan jawabannya menerima atau menolak tawaran WB. Tetapi SMI tidak membutuhkan waktu itu, karena dalam 24 jam langsung saja memberikan jawaban bahwa dirinya menerima tawaran itu. Dan antara penerimaan tawaran dan efektifnya dia berfungsi di WB

hanya 25 hari. Seorang sopir saja membutuhkan waktu transisi yang lebih lama untuk majikannya perorangan. Tetapi SMI dan SBY merasa tidak apa-apa kalau jangka waktu tersebut hanyalah 25 hari. Mustahil bahwa WB yang mempunyai kantor perwakilan di Indonesia tidak mengetahui dan tidak mengikuti bekerjanya Pansus Century di DPR. Mustahil juga bahwa kantor perwakilan WB di Jakarta dan kantor pusatnya tidak mengetahui isi dari Laporan BPK. Dengan sendirinya juga mustahil bahwa WB tidak mengetahui bahwa sampai dibuktikan sebaliknya, SMI memang belum bersalah, tetapi jelas bermasalah yang masih dalam proses penyelesaian dan kejelasan oleh KPK. Tetapi WB yang di seluruh dunia mengumandangkan dan mengajarkan Good Governance dan jagoan dalam menegakkan supremasi hukum melakukan penginjak-injakan proses hukum yang sedang berjalan di KPK. Ketika itu, tindakan WB jelas melecehkan dan bahkan menganggap keseluruhan proses yang telah berjalan di Pansus Century DPR RI sebagai tidak ada atau hanya dagelan saja. Maka sangatlah menyedihkan bahwa sikap yang demikian oleh WB didukung oleh Presiden RI, sedangkan SMI bersikap tidak akan ada siapapun di Indonesia yang bisa menyentuhnya selama WB ada di belakangnya. Ketika berita itu meledak, banyak orang termasuk saya sendiri yang bertanya-tanya, apakah pengangkatannya ini tidak akan menimbulkan gejolak. Ternyata sama sekali tidak. Dalam waktu 10 hari sudah tidak ada lagi yang berbicara dengan nada kritis. Sebaliknya, banyak sekali yang berbicara dengan nada memuji. Yang lebih mengejutkan lagi iyalah praktis tidak ada elit politik Indonesia yang marah kepada WB. Sebaliknya, dalam konperensi persnya Presiden RI SBY merasa berterima kasih kepada WB yang telah memberikan penghargaan kepada Indonesia, karena telah sudi memungut SMI menduduki jabatan yang terhormat di WB sebagai Managing Director. Ada suara dari DPR, terutama dari Faisal Akbar (Hanura) yang menyerukan agar SMI dicekal sebelum pemeriksaannya oleh KPK tuntas dengan kesimpulan bahwa SMI memang bersih dalam kebijakannya bailout Century. Namun pernyataan yang sangat logis ini tidak bergaung. Respons dari KPK justru mengatakan bahwa pemeriksaan dapat dilanjutkan di Washington, DC. Langsung saja muncul reaksi yang mengatakan bahwa pemeriksaan semacam ini akan sangat mahal, karena jaraknya yang jauh, dan juga akan terkendala oleh tersedianya dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Saya sendiri tidak dapat membayangkan bahwa WB akan mengizinkan adanya seorang managing directornya diperiksa oleh KPK di markas WB di Washington, DC. Tadinya saya berpikir bahwa kalau dilakukan, pemeriksaan seorang managing director oleh KPK di Washington, DC pasti akan menarik perhatian pers internasional. Ternyata salah. Kenyataan adanya pengangkatan seorang MD WB yang bermasalah sama sekali tidak menarik perhatian pers internasional, terutama pers AS. Masih segar dalam ingatan kita betapa hebohnya reaksi pers internasional ketika Paul Wlfowitz terlibat skandal, sehingga memaksanya mengundurkan diri. Apa artinya ? Begitu hebatkah SMI, atau begitu remehnya bangsa Indonesia di mata pers internasional, sehingga peristiwa Century yang sedang berlangsung dianggap tidak ada ? Episode paling akhir dari hijrahnya SMI ke WB adalah penampilan SMI dalam pertemuan-pertemuan perpisahan. Pidatonya yang mendapat tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) dari orang-orang seperti Gunawan Mohammad, Marsilam Simanjuntak, Wimar Witoelar mengundang renungan apa

gerangan yang ada di belakang ucapannya yang hanya sepotong tanpa penjelasan lanjutannya itu ? Yaitu : Saya menang, Jangan lagi ada pemimpin yang tidak melindungi atau mengorbankan anak buahnya. I will come back yang sangat mirip dengan ucapan Mac Arthur : I shall return. Akankah SMI membentuk semacam pemerintahan in exile yang akan kembali menjadi Presiden RI ? Sudah ada yang menyuarakan bahwa SMI-lah yang paling cocok untuk menjadi Presiden RI di tahun 2014. Di satu pihak demikian gagah beraninya sikap yang ditunjukkan oleh SMI dalam beberapa pidatonya, tetapi beliau menangis berkali-kali dengan wajah yang sangat-sangat sedih ketika berpidato dalam acara serah terima jabatan kepada Menteri Keuangan yang baru. Ada apa ? Sedihkah ? Menurut SMI sendiri tidak, dia menangis karena merasa plong, merasa lega. Bukankah orang menangis karena sedih atau karena terharu ? Kalau lega, apalagi plong biasanya bersorak sorai.

Apa pula yang menyebabkan Presiden SBY menghapus pengangkatan Anggito Abimanyu sebagai Wakil Menteri Keuangan tanpa yang bersangkutan diberitahu sebelumnya. Anggito mengetahuinya dari media massa seperti kita semua. Maka demi harga diri profesional, dia mengundurkan diri, membuang semua karir cemerlang yang dijalaninya. Demikian kejam, manipulatif, raja tega, main diktator, ataukah ada kekuatan besar, ada big stream that Presdient SBY can not resist ? Metaforsa Berkeley Mafia Menjadi Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) Fenomena adanya sekelompok ekonom yang dikenal dengan sebutan Berkeley Mafia sudah kita ketahui. Aliran pikiran yang dihayati oleh kelompok ini juga sudah kita kenali. Komitmennya membela rakyat Indonesia ataukah membela kepentingan-kepentingan yang diwakili oleh 3 lembaga keuangan internasional (Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF) juga sudah diketahui oleh masyarakat luas. Pembentukan kelompok yang terkenal dengan nama Berkeley Mafia sudah dimulai sejak lama. Namanya menjadi terkenal dalam Konperensi Jenewa di bulan November 1967 yang akan diuraikan lebih lanjut pada bagian akhir tulisan ini. Awalnya kelompok ini adalah para ekonom dari FE UI yang disekolahkan di Universitas Berkeley untuk meraih gelar Ph.D. Tetapi lambat laun menjadi sebuah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) yang sangat kompak dan kokoh ideologinya. Ideologinya mentabukan campur tangan pemerintah dalam kehidupan ekonomi. Afiliasinya dengan kekuatan asing yang diwakili oleh Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF, sehingga sangat sering memenangkan kehendak mereka yang merugikan bangsanya sendiri. Lambat laun para anggotanya meluas dari siapa saja yang sepaham. Banyak ekonom yang tidak pernah belajar di Universitas Berkeley, bahkan tidak pernah belajar di UI menjadi anggota. Mereka membentuk keturunan-keturunannya Anggotanya ditambah dengan para sarjana ilmu politik dari Ohio State University dengan Prof. Bill Liddle sebagai tokohnya, karena dia merasa dirinya Indonesianist dan diterima oleh murid-muridnya sebagai akhli tentang Indonesia. Paham dan ideologi yang dihayatinya sama. Kemudian diperkuat dengan orang-orang yang merasa dirinya paling pandai di Indonesia, sedangkan

rakyatnya masih bodoh. Sikapnya seperti para pemimpin dan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dahulu, yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir. Kecenderungannya memandang rendah dan sinis terhadap bangsanya sendiri, dengan sikap yang selalu tidak mau menjawab kritikan terhadap dirinya, melainkan disikapi dengan senyum yang khas, bagaikan dewa yang sedang tersenyum sinis.Sikap ini terkenal dengan sikap senyum dewata. Dengan senyum dewata banyak masalah sulit yang sedang menggantung memang menjadi lenyap. Dengan demikian sebutan Berkeley Mafia sebaiknya diganti dengan Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Ilustratif tentang adanya OTB ini adalah pidato Dorodjatun Kuntjorojakti yang pertama kali dalam forum CGI sebagai Menko Perekonomian dalam kabinet Megawati. Kepada sidang CGI diberikan gambaran tentang perekonomian Indonesia. Setelah itu dikatakan olehnya bahwa dia mengetahui kondisi perekonomian Indonesia dengan cepat karena dia selalu asistennya Prof. Ali Wardhana dan dekat dengan Prof. Widjojo Nitisastro. Selanjutnya dikatakan bahwa dirinya bukan anggota partai politik. Tetapi kalau toh harus menyebut organisasinya, sebut saja Partai UI Depok. Setengah bercanda, setengah bangga, secara tersirat Dorodjatun mengakui bahwa OTB memang ada, pandai, profesional dan berkuasa. Kaitan Sri Mulyani Indrawati (SMI), Peran Kelompok Berkeley Mafia danPengangkatannya sebagai Managing Director di Bank Dunia Jauh sebelum SMI menjadi orang, Berkeley Mafia sudah lahir dan sangat instrumental buat kekuatan asing. SMI adalah salah satu kader yang berkembang menjadi Don. Marilah kita telusuri sejarahnya. Pencuatan Berkeley Mafia yang pertama kali dan fenomenal terjadi di Jenewa di bulan November 1967, ketika mereka mendukung atau lebih tepat mengendalikan pimpinan delegasi RI, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Tentang hal ini akan saya kemukakan pada bagian akhir tulisan ini dengan mengutip John Pilger, Jeffrey Winters dan Bradley Simpson yang akan diuraikan pada bagian akhir tulisan ini. Kita fokus terlebih dahulu pada jejak dan track record SMI. Jejak SMI dan Track Recordnya sebagai Kader OTB yang sangat Gigih dan Militan SMI adalah orang yang sejak awal sudah disiapkan sebagai kader yang militan dari OTB. Seperti yang lain-lainnya, karir dimulai dari FE-UI. Karirnya yang menonjol tidak sebagai dosen, tetapi sebagai Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat UI (LPEM UI). Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa FE UI dan Departemen Keuangan adalah pusat pengkaderan OTB. Ketika sudah terlihat jelas bahwa PDI-P akan menang dalam pemilu tahun 1999, dan Ketua Umumnya Megawati diperkirakan pasti akan menjadi Presiden, Kongres-nya di Bali menarik perhatian dari seluruh dunia. Saya terkejut melihat SMI, Dr. Sjahrir almarhum dan teknokrat Berkeley Mafia lainnya hadir dalam Kongres tersebut yang mendapat tempat khusus di stadion berlangsungnya pidato pembukaan oleh Megawati, yaitu duduk di kursi di bawah panggung.Tidak berdiri di depan panggung bersama-sama dengan massa yang mendengarkan pidato Ketua Umum PDI-P. Buat saya sangat mengherankan karena Berkeley Mafia adalah arsitek pembangunan ekonomi di era Soeharto yang dengan sendirinya bersikap berseberangan dan sangat melecehkan serta memandang rendah PDI-P. Mengapa mereka sekarang hadir dalam Kongres PDI-P ? Ternyata mereka dibawa oleh

orang yang ketika itu sangat dekat dengan Megawati. Mereka diperkenalkan kepada Megawati sebagai calon-calon menteri dalam Kabinet Mega nantinya. Dari sini sangatlah jelas bahwa buat OTB, yang penting memegang kekuasaan ekonomi tanpa peduli siapa Presidennya dan tanpa peduli apa ideologi Presidennya. Mereka mempunyai organisasi sendiri yang saya sebut OTB tadi dengan kekuatan dan pengaruh yang sangat besar. Sepanjang 32 tahun rezim Soeharto, mereka selalu memegang tampuk kekuasaan ekonomi. Ketika pak Harto mengundurkan diri dan digantikan oleh Habibie, walaupun sudah tidak 100% lagi, kekuasaan ekonomi ada di tangan para menteri OTB. Sejak pak Harto berkuasa sampai dengan Megawati, dua Don dari OTB, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana selalu secara resmi penasihat Presiden atas dasar Keputusan Presiden. Habibie digantikan oleh Gus Dur sebagai Presiden. Dalam kabinet Gus Dur tidak ada satupun menteri dari OTB. Menko EKUIN dipegang oleh Kwik Kian Gie (KKG), Menteri Keuangannya Bambang Sudibyo, Menteri Perdagangan dan Industri Jusuf Kalla. Tiga orang ini jelas tidak ada sangkut pautnya dengan OTB dan sama sekali tidak dapat dipengaruhi oleh OTB. Dalam waktu singkat Gus Dur ditekan oleh kekuatan internasional dan kekuatan para pengusaha besar di dalam negeri untuk memecat KKG. Karena sudah lama bersahabat, Gus Dur menceriterakannya terus terang kepada KKG, sambil mengatakan bahwa beliau telah mencapai kompromi dibentuk Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dengan Emil Salim sebagai Ketua dan SMI sebagai sekretarisnya. Di dalamnya ada beberapa anggota yang hanya berfungsi sebagai embel-embel. Mereka tidak pernah aktif kecuali SMI dan Emil Salim. DEN berhak menghadiri setiap rapat koordinasi oleh Menko EKUIN. Sebelum dan setelah KKG menjabat Menko EKUIN DEN tidak pernah ada. Jadi DEN memang khusus diciptakan untuk menjaga, mengawasi dan memata-matai KKG supaya jangan nekoneko terhadap OTB dan kepentingan World Bank, Bank Pembangunan Asia dan IMF. Dalam rapat koordinasi yang pertama KKG mengatakan kepada para menteri yang ada dalam koordinasinya bahwa kita sedang berhadapan dengan IMF yang mengawasi dengan ketat pelaksanaan Letter of Intent (LoI). Banyak dari butir-butir dalam LoI yang merugikan bangsa Indonesia, antara lain, bea masuk untuk impor beras dan gula harus nol persen, sedangkan ketika itu produksi dalam negeri melimpah. Maka KKG mengatakan supaya para menteri bersikap membela kepentingan bangsa Indonesia, kalau perlu menelikung, menghambat atau menyiasati LoI yang merugikan bangsa kita. Kalau mereka menghadapi persoalan KKG sebagai Menko EKUIN akan bertanggung jawab. Beberapa hari kemudian Emil Salim mendatangi KKG menegur dengan keras bahwa KKG tidak boleh bersikap seperti itu. KKG harus taat melaksanakan semua butir yang ada di dalam LoI, karena KKG sendirilah sebagai Menko EKUIN yang menandatangani LoI. Beberapa hari lagi setelah itu, Bambang Sudibyo (Menkeu), KKG dan Emil Salim dipanggil oleh Gus Dur. Gus Dur mempersilakan Emil Salim mengkuliahi KKG dan Bambang Sudibyo yang isinya tiada lain adalah butir-butir dari LoI. Mungkin dirasakan tidak mempan, sidang kabinet diselenggarakan secara khusus yang agendanya

tunggal, yaitu membahas LoI. Kepada setiap menteri diberikan selembar formulir yang isinya butir-butir LoI yang harus dilaksanakan oleh masing-masing menteri yang bersangkutan, dan kemudian harus ditandatangani. Menteri-menteri menggerutu diperlakukan seperti anak SD. Dalam sidang kabinet itu, Mensesneg Bondan Gunawan membacakan uraiannya tentang butir-butir LoI yang mutlak harus dilaksanakan oleh setiap menteri, lengkap dengan slides. SMI hadir dalam sidang kabinet itu. Seusai membacakannya, Bondan sambil berkeringat menggerutu kepada KKG sambil mengatakan diamput bahwa dirinya tidak mengerti ekonomi kok disuruh memaparkan hal-hal seperti itu. Ketika KKG menanyakannya siapa yang membuatnya, dijawab singkat : SMI. Sebagai Menko EKUIN KKG ex officio menjabat Ketua KKSK yang memimpin dan memutuskan tentang rekapitalisasi bank-bank seperti yang tercantum dalam LoI. Dalam rapat tentang rekap BNI sebesar Rp. 60 trilyun, LoI mengatakan bahwa rekap dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar Rp. 30 trilyun, seluruh Direksi diganti dan dipantau apakah bekerja dengan baik menurut ukuran IMF. Kalau ya, maka Rekap. kedua sebesar Rp. 30 trilyun dilakukan. Darmin Nasution yang ketika itu Direktur di Kementerian Keuangan hadir mewakili Depkeu. Dia mengusulkan supaya Rekap. dilakukan sekaligus saja sebesar Rp. 60 trilyun, agar pemerintah tidak perlu dua kali minta izin/melaporkan kepada DPR. SMI yang hadir protes, mengatakan bahwa dalam LoI tercantum Rekap. dalam dua tahap. KKG merasa usulan Darmin Nasution masuk akal. Maka diputuskan olehnya bahwa Rekap. dilakukan sekaligus. Terlihat SMI sibuk dengan HP-nya. Seusai rapat, begitu KKG tiba di ruang kerjanya dari ruang rapat, telpon berdering dari John Dordsworth, Kepala Perwakilan IMF di Jakarta yang marah-marah karena KKG memutuskan tentang Rekap. BNI yang bertentangan dengan ketentuan LoI. Begitu telpon diletakkan telpon bordering lagi dari Bambang Sudibyo yang menceriterakan bahwa dirinya baru dimarah-marahi oleh Mark Baird, Kepala Perwaklian Bank Dunia di Jakarta tentang hal yang sama. Sangat jelas tugas SMI ternyata melaporkan segala sesuatu yang dilakukan oleh Pemerintah dan dianggap menyimpang dari yang dikehendaki oleh IMF, walaupun yang dikehendaki oleh IMF merugikan bangsa Indonesia. Peristwa selanjutnya adalah ketika KKSK harus merekap Bank Danamon. Bank Danamon diwakili oleh Dirutnya, seorang Amerika bernama Milan Schuster dan Direkturnya puteranya Ali Wardhana, Mahendra Wardhana. Mereka mengemukakan bahwa Bank Danamon menderita kerugian setiap bulannya dan CAR-nya juga di bawah 8%. KKG bertitik tolak dari jumlah kerugian setiap bulannya. Untuk menutup kerugian ini, surat utang pemerintah yang bernama Obligasi Rekapitalisasi Perbankan (OR) yang harus diinjeksikan haruslah Rp. X yang harus memberikan pendapatan bunga sebesar kerugian Bank Danamon. Maka keluarlah angka Rp. 18 trilyun. Dengan pendapatan bunga sebesar 1% sebulan dari OR yang Rp. 18 trilyun, kerugian Bank Danamon akan tertutup, atau Bank Danamon tidak akan bleeding lagi. SMI langsung protes mengatakan bahwa menginjeksi OR sebesar Rp. 18 trilyun berarti menjadikan CAR-nya sebesar 36%, sedangkan LoI memerintahkan merekap bank-bank sampai CAR-nya menjadi 8% saja. KKG tidak peduli, karena yang hendak dicapai adalah supaya Bank berhenti merugi. Kalau rekap dilakukan dengan jumlah yang hanya cukup untuk menjadikan CAR 8% saja, pendapatan bunganya akan

jauh lebih kecil daripada kerugiannya, sehingga rekapitalisasi tidak akan menghentikan kerugian-nya (masih tetap bleeding). Kebijakan KKG yang menyimpang dari LoI, tetapi jelas-jelas lebih logis ini ternyata dilaporkan kepada IMF oleh SMI. Saya mengetahui tentang hal ini, karena ketika melakukan kunjungan kehormatan pada Menteri Keuangan Larry Summers di kantornya di Washington, DC, saya diterima oleh Larry Summers sendiri sebagai Menteri Keuangan, didampingi oleh Timothy Geithner selalu Deputy-nya plus beberapa pejabat tinggi lainnya yang memarahi KKG bahwa KKG selalu menelikung LoI-nya IMF. Ketika saya tanyakan tentang apa konkretnya sebagai contoh, dia menceriterakan persis seperti yang dikatakan oleh SMI dalam rapat KKSK. Selaku Menko EKUIN KKG harus memimpin delegasi RI ke Paris Club untuk berunding tentang penjadwalan kembali pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo, karena Pemerintah tidak mampu membayarnya. KKG diundang ke Departemen Keuangan guna menerima penjelasan-penjelasan tentang jalannya perundingan, dan juga diberikan arahan-arahan oleh 3 perusahaan konsultan asing yang terkenal dengan nama Troika. Saya lupa nama dari masing-masing perusahaan konsultan tersebut. Dikatakan juga bahwa KKG beserta delegasinya (Dono Iskandar dari BI dan Jusuf Anwar dari Depkeu) harus siap bahwa lamanya perundingan 24 jam non stop tanpa dapat tidur, yaitu dari jam 10.00 pagi sampai jam 10.00 pagi keesokan harinya. KKG mengatakan bahwa dia tidak mau mengikuti skenario yang seperti itu. KKG minta kepada para petinggi Depkeu yang hadir agar mempersiapkan gambaran menyeluruh tentang posisi hutang luar negeri RI. KKG akan mengatakan bahwa jumlah hutang yang demikian besarnya adalah kesalahan negara-negara pemberi hutang juga, yang sejak tahun 1967 menggerojok hutang kepada Indonesia melalui IGGI/CGI. Setelah mengucapkan pidato singkat ini KKG akan tidur, dan mempersilakan mereka berunding sesukanya. Apa yang merekaputuskan akan dipenuhi oleh KKG kalau dianggap reasonable dan fair, tetapi kalau dianggap tidak fair akan ditolak dan KKG akan segera terbang kembali ke Indonesia sambil mengatakan akan berani menghadapi resiko apapun. Beberapa hari kemudian Marsilam Simanjuntak (Mensesneg) menelpon KKG memberitahukan bahwa Presiden Gus Dur telah menerbitkan Keputusan Presiden yang membentuk Tim Asistensi pada Menko EKUIN yang harus mengawal (baca mengawasi dan mengendalikan) Menko EKUIN selama perundingan Paris Club. Ketuanya Widjojo Nitisastro dan Sekretarisnya SMI. Memang selama perundingan Widjojo N. dan SMI mengapit KKG dan Bambang Sudibyo selama 24 jam, supaya mereka menjaga bahwa KKG benar-benar menanggapi pasal demi pasal dari para anggota Paris Club. Ketika Megawati menjabat Presiden, diberitakan di Kompas bahwa SMI akan menjabat sebagai anggota Board of Directors IMF di Washington mewakili Indonesia. KKG menanyakan hal itu kepada Mega. Beliau terkejut sambil mengatakan : kok enak saja, kan harus dengan persetujuan saya ?, sambil mengatakan juga bahwa beliau tidak pernah mengetahuinya dan tidak pernah menandatangani Keppres untuk itu. Beberapa hari kemudian diberitakan lagi di Kompas bahwa SMI sudah akan efektif menjabat per tanggal

tertentu. KKG menanyakan hal itu lagi kepada Megawati, dan dijawab bahwa Keppresnya memang sudah ditandatangani dengan alasan daripada, daripada . Konon kabarnya, sebelum susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I terbentuk, SBY didatangi oleh Dubes AS Ralph Boyce dan Kepala Perwakilan Bank Dunia di Jakarta Andrew Steer. Mereka mengatakan bahwa kendali ekonomi hendaknya diberikan kepada SMI, Boediono dan Mari Pangestu. Boediono menolak yang bisa dipahami. Seusai sidang kabinet Megawati terakhir Boediono berpamitan dengan rekan-rekan menterinya. Dia mengatakan bahwa salah satu dari kita bisa saja diminta lagi oleh SBY untuk duduk dalam kabinetnya. Tetapi dia (Boediono) tidak akan mau duduk dalam pemerintahan. Dia sudah fed up dan akan kembali ke kampus saja. Saya termasuk yang diberitahu tentang hal ini. Maka saya tidak heran mendengar bahwa Boediono menolak tawaran SBY untuk duduk dalam KIB-nya. Namun ketika SBY tidak tahan tekanan publik, beliau mengumumkan akan melakukan reshuffle kabinet. Saya mendengar bahwa Boediono sedang digarap habis-habisan untuk mau menjadi Menko Perekonomian, dan terjadilah itu. Ini saya gambarkan betapa mutlak pengaruh kekuatan internasional dalam mengendalikan kebijakan ekonomi Indonesia. Lebih hebat lagi, Jakarta Post tanggal 25 Mei 2009 memberitakan bahwa ketika Boediono ditanya, faktor apa yang mendorongnya mau menerima pencalonan dirinya sebagai Wakil Presiden dijawab olehnya : because of a big stream that I can not resist, yang berarti karena arus (kekuatan) besar yang tidak dapat ditahannya. Saya merasa perlu menceriterakan ini karena hubungannya antara SMI dan Boediono yang sama-sama anggota senior OTB dan sama-sama disodorkan kepada SBY agar mereka dan Mari Pangestu memegang kekuasaan ekonomi di Indonesia. Kenyataan-kenyataan ini jelas relevan dalam menjelaskan mengapa pengangkatan SMI sebagai managing director WB yang sangat tidak wajar dan menghina bangsa Indonesia itu berjalan demikian mulusnya. Di tengah-tengah menjalankan tugas sebagai Menkeu yang dalam proses pemeriksaan oleh KPK sebagai tindak lanjut dari hasil kerja Pansus DPR tentang Bank Century, SMI mengumumkan pengunduran dirinya untuk menjabat sebagai managing director di WB mulai tanggal 1 Juni 2010, seperti yang kita ketahui bersama. Saya mempunyai pengalaman yang menyangkut SMI dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Ceriteranya sebagai berikut : hibah dari Uni Eropa kepada Indonesia menurut investigasi WB dikorup. Karena pelaksananya Bappenas, maka saya diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Yang dipermasalahkan bukan KKG mengkorup, tetapi mengapa KKG membayar kembali hibah yang dituntut oleh WB sebesar USD 500 juta sedangkan yang dikorup hanyalah sekitar USD 30.000. Mengembalikan hibah seluruhnya sebesar USD 500 juta dianggap merugikan keuangan negara. Tetapi ketika salah paham, bahwa justru KKG yang berkelahi tidak mau membayar dan SMI yang sebagai Menteri Keuangan yang membayarnya, SMI-nya tidak diapa-apakan. KKG juga tidak diapa-apakan, tetapi

sempat diperiksa. Berkaitan dengan ini ada hal sejenis yang terpublikasikan secara luas. Indonesia menerima hutang dari WB sebesar USD 4,7 juta untuk membangun proyek infra struktur. Menurut WB lagi sebagian dikorup, dan karena itu minta supaya seluruh hutang yang USD 4,7 juta dikembalikan. Tidak jelas dikembalikan atau tidak. Rasanya dikembalikan dan tidak ada konsekwensinya, walaupun dianggap merugikan dan mengacaukan perencanaan keuangan negara. Saya kemukakan ini karena ada kecenderungan segala sesuatunya akan kebal hukum apabila WB ada di belakangnya. Jelas ini merupakan faktor yang bisa menjelaskan mengapa pengangkatan SMI oleh WB langsung saja mematikan urusannya dengan KPK tentang Century yang sebelumnya demikian gegap gempitanya. SMI, Berkeley Mafia, Kekuatan Asing dan Sejarah Pekembangannya Kekuatan asing yang boleh dikatakan menentukan semua kebijakan ekonomi dan keuangan Indonesia diwakili oleh tiga lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF. Ketika KKG sebagai Menko EKUIN pertama kali harus mengucapkan pidato di depan CGI dalam pembukaan rapat tahunannya, kepada KKG disodorkan naskah pidato oleh staf yang jelas anggota OTB. Isinya sama sekali tidak disetujui oleh KKG, dan dia minta kepada staf yang bersangkutan supaya diubah dengan arahan dari KKG. Dia menolak sambil mengatakan bahwa sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala bahwa pidato pembukaan IGGI/CGI oleh Ketua Delegasi RI haruslah dibuat oleh WB melalui staf Menko EKUIN. Akhirnya saya membuatnya sendiri yang isinya sesuai dengan hati nurani dan keyakinan saya, yang ternyata isinya mengejutkan pimpinan sidang, Wakil Presiden WB Dr. Kasum. Pidato yang saya ucapkan mengandung tiga inti. Yang pertama, kalau Indonesia tidak mampu membayar cicilan pokok utang beserta bunga yang jatuh tempo, negara-negara IGGI/CGI ikut bersalah, karena barang siapa memberi utang harus mengevaluasi apakah yang diberi utang akan mampu membayar cicilan utang pokoknya beserta bunganya tepat waktu. Kalau ternyata tidak bisa, negara-negara pemberi utang harus ikut bertanggung jawab dalam bentuk hair cut. Bukan hanya penundaan pembayaran cicilan utang pokoknya saja, yang sifatnya menggeser beban di kemudian hari, sedangkan bunganya pembengkak. Kedua, KKG protes penggunaan istilah negara donor, dan minta supaya istilah yang sudah dibakukan oleh WB bersama-sama dengan para ekonom OTB itu diganti dengan istilah negara kreditur atau negara pemberi utang. Ketiga, KKG juga protes digunakannya istilah aid atau bantuan, dan minta diganti dengan loan atau kredit. Kesemuanya tidak dihiraukan. Belakangan saya mendengar dari Dr. Satish Mishra yang khusus diperbantukan pada Indonesia oleh PBB selama krisis. Dia memberitahukan kepada saya bahwa walaupun segala sesuatu yang saya katakan masuk akal, para ekonom OTB sendiri bersama-sama dengan WB, Bamk Pembangunan Asia dan IMF menyikapinya dengan let him talk. Biarlah dia bicara, tidak akan ada dampaknya sama sekali. Sejarah Penguasaan Ekonomi Indonesia oleh Kekuatan Asing dan Kelompok Berkeley Mafia Mari sekarang kita telaah bagaimana beberapa ahli dan pengamat asing melihat peran kekuatan asing

dan kelompok Berkeley Mafia dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1967. Saya kutip apa yang ditulis oleh John Pilger dalam bukunya yang berjudul The New Rulers of the World. Saya terjemahkan seakurat mungkin ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut : Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya hadiah terbesar, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut ekonoom-ekonom Indonesia yang top. Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan the Berkeley Mafia, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : buruh murah yang melimpah.cadangan besar dari sumber daya alam .. pasar yang besar. Di halaman 39 ditulis : Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi. Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri. Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggotaanggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter

Internasional dan Bank Dunia. Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya. Kalau baru sebelum krisis global berlangsung kita mengenal istilah korporatokrasi, paham dan ideologi ini sudah ditancapkan di Indonesia sejak tahun 1967. Delegasi Indonesia adalah Pemerintah. Tetapi counter part-nya captain of industries atau para korporatokrat. Para Perusak Ekonomi Negera-Negara Mangsa Benarkah sinyalemen John Pilger, Joseph Stiglitz dan masih banyak ekonom AS kenamaan lainnya bahwa hutanglah yang dijadikan instrumen untuk mencengkeram Indonesia ? Dalam rangka ini, saya kutip buku yang menggemparkan. Buku ini ditulis oleh John Perkins dengan judul : The Confessions of an Economic Hit man, atau Pengakuan oleh seorang Perusak Ekonomi. Buku ini tercantum dalam New York Times bestseller list selama 7 minggu. Saya kutip sambil menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut. Halaman 12 : Saya hanya mengetahui bahwa penugasan pertama saya di Indonesia, dan saya salah seorang dari sebuah tim yang terdiri dari 11 orang yang dikirim untuk menciptakan cetak biru rencana pembangunan pembangkit listrik buat pulau Jawa. Halaman 13 : Saya tahu bahwa saya harus menghasilkan model ekonometrik untuk Indonesia dan Jawa. Saya mengetahui bahwa statistik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa yang dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang dibuatnya. Halaman 15 : Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran (justification) untuk memberikan hutang yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsultan di mana John Perkins bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi. Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara penghutang (baca : Indonesia) menjadi target yang empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya. Halaman 15-16 : Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek tersebut ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negara-negara penerima hutang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing. Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima hutang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari pemerintah-pemerintah penerima hutang. Maka semakin besar jumlah hutang semakin baik. Kenyataan bahwa beban hutang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.

Halaman 15 : Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB. Halaman 16 : Claudia dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani hutang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi. Halaman 19 : Sangat menguntungkan buat para penyusun strategi karena di tahun-tahun enam puluhan terjadi revolusi lainnya, yaitu pemberdayaan perusahaan-perusahaan internasional dan organisasi-organisasi multinasional seperti Bank Dunia dan IMF. Penutup Fokus tulisan ini adalah peran SMI dalam perpspektif sejarah dan kaitannya dengan hubungan yang sangat erat dan subordinatif pada kekuatan-kekuatan asing, mungkin kekuatan corporatocracy yang diwakili oleh tiga lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF. Sejak Konperensi Jenewa bulan November 1967 yang digambarkan oleh John Pilger, dalam tahun itu juga lahir UU no. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, yang disusul dengan UU No. 6 tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, dan serangkaian perundang-undangan dan peraturan beserta kebijakan-kebijakan yang sangat jelas menjurus pada liberalsasi. Dalam berbagai perundang-undangan dan peraturan tersebut, kedudukan asing semakin lama semakin bebas, sehingga akhirnya praktis sama dengan kedudukan warga negara Indonesia. Kalau kita perhatikan bidang-bidang yang diminati dalam melakukan investasi besar di Indonesia, perhatian mereka tertuju pada pertumbuhan PDB Indonesia yang produknya untuk mereka, sedangkan bangsa Indonesia hanya memperoleh pajak dan royalti yang sangat minimal. Bidang-bidang ini adalah pertambangan dan infra struktur seperti listrik dan jalan tol yang dari tarif tinggi yang dikenakan pada rakyat Indonesia mendatangkan laba baginya. Bidang lain adalah memberikan kredit yang sebesar-besarnya dengan tiga sasaran : pertama, memperoleh pendapatan bunga, kedua, proyek yang dikaitkan dengan hutang yang diberikan di mark up, dan dengan hutang kebijakan Indonesia dikendalikan melalui anak bangsa sendiri, terutama yang termasuk kelompok OTB untuk ekonomi dan kelompok The Ohio Boys untuk bidang politik. Keseluruhan ini sendiri merupakan ceritera yang menarik dan bermanfaat sebagai bahan renungan introspeksi betapa kita sejak tahun 1967 sudah dijajah kembali dengan cara dan teknologi yang lebih dahsyat. Para penjajah Belanda dahulu menanam berbagai pohon yang buahnya bernilai tinggi. Kekejaman mereka terletak pada eksploitasi manusia Indonesia bagaikan budak. Kebun-kebunnya sampai sekarang menjadi PTP yang masih menguntungkan.

Sejak tahun 1967, pengerukan dan penyedotan kekayaan alam Indonesia oleh kekuatan asing, terutama mineral yang sangat mahal harganya dan sangat vital itu dilakukan secara besar-besaran dengan modal besar dan teknologi tinggi. Para pembantunya adalah bangsa sendiri yang berhasil dijadikan kronikroninya. Apakah pengangkatan SMI menjadi managing director WB merupakan bagian dari skenario ini saya tidak tahu. By Kwik Kian Gie, Menko Ekonomi Kabinet Persatuan Nasional 1999-2000 dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas Kabinet Gotong-Royong 2001-2004

HIKMAH PAGI, meraih BAROKAH Rejeki


Jika kita lihat kondisi kaum muslimin saat ini, maka kita akan melihat mereka sering bermalas-malasan di waktu pagi. Mereka lebih senang bermalas-malasan di waktu yang penuh berkah ini hingga matahari terbit atau meninggi. Padahal yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam tidak demikian. Beliau adalah orang yang gemar memanfaatkan waktu pagi. Begitu pula hal ini dilakukan oleh para sahabat dan para ulama yang menjadi suri tauladan kita dalam amal dan akhlaq. Mereka semua adalah orang-orang yang senantiasa memanfaatkan waktu pagi. Waktu Pagi adalah Waktu Fit Untuk Beramal Dalam Shohih Bukhari terdapat suatu riwayat dari sahabat Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shallallahualaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam. (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari) Yang dimaksud al ghodwah dalam hadits ini adalah perjalanan di awal siang. Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud al ghodwah adalah waktu antara shalat fajar hingga terbitnya matahari. (Lihat Fathul Bari 1/62, Maktabah Syamilah) Inilah tiga waktu yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari sebagai waktu semangat (fit) untuk beramal. Syaikh Abdurrahmanbin bin Nashir As Sadi mengatakan bahwa inilah tiga waktu utama untuk melakukan safar (perjalanan) yaitu perjalanan fisik baik jauh ataupun dekat. Juga untuk melakukan perjalanan ukhrowi (untuk melakukan amalan akhirat). (Lihat Bahjah Qulubil Abror, hal. 67, Maktabah Abdul Mushowir Muhammad Abdullah) Waktu Pagi adalah Waktu yang Penuh Berkah

Waktu yang berkah adalah waktu yang penuh kebaikan. Waktu pagi telah didoakan khusus oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai waktu yang berkah. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya. Apabila Nabi shallallahu mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini, pen) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wadaah. (HR. Abu Daud no. 2606. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dhoif Sunan Abi Daud) Ibnu Baththol mengatakan, Hadits ini tidak menunjukkan bahwa selain waktu pagi adalah waktu yang tidak diberkahi. Sesuatu yang dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam (pada waktu tertentu) adalah waktu yang berkah dan beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah sebaik-baik uswah (suri teladan) bagi umatnya. Adapun Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendoakan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu yang lainnya karena pada waktu pagi tersebut adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengkhususkan doa pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya. (Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163, Maktabah Syamilah) Lihatlah Karena Memanfaatkan Waktu Pagi, Seorang Pedagang Menjadi Kaya Dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh At Tirmidzi (3/305) dikatakan bahwa karena perhatian Shokr Al Ghomidi pada ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk memanfaatkan waktu pagi dan mustajabnya doa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini bagi siapa saja yang memanfaatkan waktu pagi, akhirnya Shokr seorang pedagang- menjadi kaya raya. Setelah kita mengetahui bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah, masihkah kita sia-siakan? Orang yang cerdas tentu tidak demikian. Tentu dia tidak akan menyia-nyiakan waktu pagi. Malah dia isi dengan melakukan amalan sholeh ataupun mencari nafkah. Begitu juga kami nasehatkan kepada para pedagang, manfaatkanlah waktu pagi dengan sebaik-baiknya. Janganlah cuma malas-malasan di waktu pagi. Alangkah baiknya jika kita dapat menawarkan dagangan kita kepada para pelanggan di waktu pagi, membuka toko atau warung kita di waktu pagi (bahkan mungkin bada shubuh), niscaya kita akan mendapatkan keberkahan sebagaimana yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam janjikan.

Sektor Ekonomi Rasulullah SAW


Sejarah mencatat, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijriah, beliau menetapkan suatu tempat untuk didirikan Masjid (Masjid Nabawi) dan pada hari itu pula ditegakkanlah Shalat Jumat yang pertama kali. Bersama dengan Abu Bakar RA dan Ali bin Abi Thalib RA, untuk pertama kalinya Rasul SAW mendirikan wilayah di sana, dengan luas wilayah pemerintahan yang kecil ( seluas Rukun Tetangga, dalam konteks kita saat ini). Kebijakan pertama Rasulullah SAW adalah menegakkan Amal Taawun (tolong menolong), yaitu mempersaudarakan kaum muslimin antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin. Kebijakan kedua Rasulullah SAW adalah mendirikan pasar Baqi al Zubair. Dan kebijakan ketiga Rasulullah SAW adalah menetapkan timbangan dan takaran, serta menetapkan standar Dirham dan Dinar. Ketiga kebijakan ini adalah pondasi utama Rasulullah SAW menegakkan al wilayah, dalam amal muamalat yang haq. Maka secara otomatis (de facto) Amal Muamalat yang tidak berdiri di atas tiga pondasi ini adalah perbuatan bidah dholala (hal baru dan sesat). Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslim untuk bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing, Beliau menyarankan hendaknya tiap-tiap muslim selayaknya dapat

memperoleh 1 Dirham dalam sehari. Apabila kurang dari 1 Dirham, maka tidak dapat mencukupi belanja sembako untuk menopang hidup, yang kalau hal ini terjadi secara terus menerus maka ia tergolong kaum dhuafa. Pada masa ini Rasulullah SAW mengembangkan dua sektor usaha untuk mendongkrak perekonomian Madinah, yaitu sektor perdagangan dan sektor pertanian seperti yang digambarkan oleh Abu Hurairah RA: Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin sibuk mengurusi perdagangan mereka di pasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar sibuk mengelola harta mereka, yakni sibuk bercocok tanam (Dalam riwayat Muslim dan riwayat Ibnu Saad tertera: mereka sibuk mengelola tanah mereka). Sedangkan mata uang yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW pada bulan ke 8 tahun 1 Hijriah, adalah: Dinar cetakan Hiraklius untuk 1 mitsqal Dinar Islam (1 Dinar) dan Dirham Nabawi 14 qirat. Beliau bersabda, Timbangan adalah timbangan penduduk Mekkah, dan Takaran adalah takaran penduduk Madinah. ( HR. Abu Daud 3340, Nasai 2299 ). Al Khattabi berkata: Penduduk Madinah menggunakan bilangan untuk menghitung Dirham ( seperti koin token ) ketika Rasulullah SAW tiba di sana. Bukti yang memperkuat pendapat itu pada riwayat Burairah RA dari Aisyah RA, Aisyah RA berkata : Apabila keluargamu ( keluarga Burairah ) ingin aku menghitung ( dirham ) untuk mereka satu hitungan, aku lakukan. Maksud Aisyah RA adalah Dirham sebagai harga, lalu Rasulullah SAW memberi petunjuk untuk menggunakan timbangan dan standarnya adalah timbangan penduduk Mekkah*). Sebab munculnya perintah itu adalah perbedaan ukuran sejumlah Dirham Persia (Sasanid) yaitu koin 20 qirat, koin 12 qirat dan koin 10 qirat. Lalu Rasulullah SAW menghitung sebagai berikut : 20 + 12 + 10 = 42/3 = 14 qirat, sama dengan 6 daniq. Inilah standar Dirham yang shahih untuk muamalat. Di mana tiap muslim yang mendapat 1 Dirham per hari/kepala, maka ia terbebas dari kemiskinan. Dan bila seorang muslim memiliki harta yang mudah dijual (likuid ) senilai lebih dari 40 Dirham, maka ia tidak layak mendapatkan santunan shadaqoh ( lihat al Muwatta ). Lalu pada tahun ke 2 Hijriah sesudah perang Badar, Rasulullah SAW menetapkan zakat individu sebesar 1 sha makanan untuk tiap muslim, dari bayi hingga tua renta. Kemudian ditetapkan zakat mal untuk tiap-tiap 20 Dinar dan 200 Dirham yang dimiliki dalam satu tahun (haul), dengan zakat sebesar 1/40 atau 2,5 %. Demikian pula zakat ternak serta zakat buah dan biji-bijian kemudian ditetapkan. Pada tahun ke 4 Hijriah, Rasulullah SAW menegakkan waqaf yaitu amal shadaqoh jariah, yang pahalanya tidak terputus meski si waqif meninggal dunia. Waqaf yang ditegakkan adalah waqaf ekonomi produktif, Beliau mewaqafkan tujuh lahan kebun kurmanya di Madinah untuk dimanfaatkan hasilnya oleh para dhuafa yang mengelola. Sehingga di antara mereka ada yang mampu membayar zakat mal pada tahun 9 Hijriah. Karena tak sepatutnya dhuafa dibiarkan menjadi dhuafa terus tanpa ada muslim yang mau membantu merubah nasib mereka.

KESIMPULAN : Rasulullah SAW tidak mengajarkan (tidak suka) amal ibadah yang sifatnya seremonial, seperti: membangun masjid-masjid megah sementara dhuafa di sekitarnya dibiarkan merana secara terus menerus menjadi dhuafa dari generasi ke generasi. Untuk anak yatim solusinya adalah dengan mengadopsi mereka bukan membuat panti asuhan. Muamalat yang haq adalah : Saling tolong menolong ( taawun). Menegakkan pasar yang syari dengan takaran dan timbangan yang jujur (adil). Mata uang yang halal adalah Dinar takrir 1 mitsqal de facto koin Dinar Hiraklius (dinar 22 karat seberat 4,25 g). Dirham timbangan Rasulullah SAW seberat 14 qirat perak murni. (Standar Khalifah Umar Ibnu Khattab RA, 20 Hijriah ).

BERDAGANG dengan Sunnah Rasulullah SAW


Lebih dari 14 abad silam, Muhammad saww sebelum mencapai jenjang kerasulannya, telah dikenal sebagai pebisnis muda yang disegani. Untuk sampai pada tataran itu, bukan jalan mudah. Seperti yang kebanyakan dikeluhkan para pengusaha, Muhammad saww pun tidak memiliki cukup modal. Jangankan modal, dirinya pun hanya hidup sederhana mendompleng di rumah pamannya, Abu Thalib ra, yang papa. Tapi berdagang adalah seni. Modal yang sebenarnya adalah kejujuran dan keadilan dalam transaksi. Prinsip-prinsip inilah yang dijalankan Muhammad saww dan sekarang banyak diadopsi oleh negeri semacam Singapura. Afzalurrahman dalam Muhammad as a Trader menulis, kunci sukses berdagang Nabi terletak pada sikap jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Itulah yang selalu dia

tunjukkan ketika menjadi agen saudagar kaya Siti Khadijah ra -- yang kemudian menjadi isti tercinta -untuk melakukan perdagangan ke Syiria, Jerussalem, Yaman dan tempat-tempat lain. Dalam perjalanan perdagangan itu, Nabi mendapatkan perolehan keuntungan di luar dugaan. Nabi menandaskan kejujuran dan agar menjaga hubungan yang baik dan ramah kepada para pelanggan maupun mitra dagang. Prinsip Nabi, pedagang yang tak jujur, meskipun sesaat mendapatkan keuntungan banyak, tapi pelan tapi pasti akan gagal dalam menggeluti profesinya. Karena itu, dia selalu menasehati sahabatsahabatnya untuk melakukan hal serupa. Apalagi saat Nabi memimpin ummat di Madinah. Praktekpraktek perdagangan yang mengandung unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian dan meragukan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap belia larang. Nabi juga memelopori standardisasi timbangan dan ukuran. Nabi sangat konsen dengan kejujuran. Sampai-sampai, orang yang jujur dalam berdagang, digaransinya masuk dalam golongan para nabi. Abu Sa'id meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, "Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada." Sikap baik dalam berdagang Dalam urusan dagang, nabi selalu bersikap sopan dan baik hati. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, "Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan." (HR Bukhari). Nabi juga menghindari sikap belebihan dalam berdagang, seperti banyak bersumpah. Tentang hal ini, nasehat Rasulullah, "Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat, lalu menghapuskan berkah." Nabi sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Beliau mengatakan, pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidup berdagang dengan menggunakan sumpah palsu. Hak-hak kelompok dalam transaksi Dalam proses pertukaran barang dengan persetujuan antara kedua belah pihak, seringkali ada konflik. Untuk menghindari ini, Nabi telah meletakkan dasar, bagaimana transaksi seharusnya terjadi. Ibnu 'Umar meriwaytakan dari Rasulullah, "Kedua kelompok di dalam transaksi perdagangan memiliki hak untuk membatalkannya hanya sejauh mereka belum berpisah, keculai transasksi itu menyulitkan kelompok itu untuk membatalkannya." (HR Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, "Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan, selama mereka tidak berpisah. Jika mereka berkata benar, menjelaskan sesuatunya dengan jernih, maka transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika menyembunyikan sesuatu serta berdusta, maka berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus." (Bukhari dan Muslim). Bila berpegang pada sekelumit teladan Nabi itu, mestinya umat Islam sudah menjadi bagian terdepan dalam penguasaan ekonomi dunia. Tapi sayangnya, banyak ajaran Nabi dalam berdagang yang dilupakan. Kalau ingin perdagangan umat semaju seperti Singapura, mestinya prinsip-prinsip dagang Rasul tidak dijadikan kenangan, tapi pegangan.

Kiat-kiat praktis berdagang Nabi * Pertama, penjual tidak boleh berbohong dan menipu barang yang akan dijual kepada pembeli. Nabi bersabda, "Apabila dilakukan penjualan, katakanlah: tidak ada penipuan." * Kedua, kepada para pelanggan yang tak mampu membayar kontan hendaknya diberikan waktu untuk melunasinya. Bila betul-betul dia tidak mampu membayar setelah masa tenggat pengunduran itu, Nabi akan mengikhlaskannya. * Ketiga, penjual harus menjauhi sumpah yang berlebih-lebihan, apalagi sumpah palsu untuk mengelabui konsumen. * Keempat, hanya dengan kesepakatan bersama, atau dengan suatu usulan dan penerimaan antara kedua belah pihak, suatu bentuk transaksi barang akan sempurna. * Kelima, penjual harus benar dalam timbangan dan takaran. * Keenam, orang yang benar-benar membayar di muka untuk pembelian suatu barang, tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya.

* Ketujuh, larangan melakukan transaksi monopoli dalam perdagangan * Kedelapan, tidak ada harga komoditi yang boleh dibatasi. Jika harga dibatasi, lalu tidak ada perusahaan dagang dan niaga, maka perdagangan dunia akan terhenti.

Sumber : Entrepreneur & entrepreneurship Group

Siasat Rosulullah SAW disaat Krisis ( Arif Maulana )


Betapa visioner dan kreatifnya Rasulullah adalah pada saat peristiwa Kota Madinah diblokade dan diembargo oleh suku Quraisy dan suku-suku Arab lainnya. Sehingga pada walaupun Madinah berada di jalur perdagangan penting, namun tidak ada aktivitas ekonomi sama sekali disana karena semua pedagang dari luar Kota Madinah dilarang menggelar dagangan disana. Kondisi ini tentu menyusahkan Rasulullah dan para sahabatnya. Krisis ekonomi terjadi di tengah Kota Madinah. Lantas bagaimana Rasulullah menyikapi perubahan ekonomi yang sangat mendadak dan diluar perkiraan ini? Beliau tidak berdiam diri. Visi besarnya untuk menyelamatkan Kota Madinah sekaligus menjadikannya sebagai Kota kota yang ideal dalam berbagai aspek kehidupan, menuntun pemikiran kreatifnya untuk kemudian menyusun strategi yang luar biasa. Beliau pun mengajak para pengusaha kecil setempat untuk membangun pasar alternatif sebagai pengganti pasar lama yang telah mati akibat ketergantungan pada perdagangan antar kota dan wilayah.

Dengan pasar alternatif ini perlahan beliau menghidupkan urat nadi perekonomian umat Islam. Langkah berikutnya beliau juga menginvestasikan hartanya untuk membeli berbagai sarana publik yang selama ini dikuasai oleh orang Yahudi yakni sebuah sumur air yang jernih dan bagus, walau harus menebusnya dengan harga yang sangat mahal. Sehingga kota Madinah memiliki pasar dan sarana air bersih sendiri. Agar pasar alternatif ini ramai dengan transaksi perdagangan, beliau pun memotivasi para pedagang lokal, petanim dan pengusaha (pengrajin) untuk produktif dan membuat produk-produk yang menjadi kebutuhan. Lambat tapi pasti pasar tersebut akhirnya mulai ramai dan bisa menghidupi perekonomian Kota Madinah tanpa bantuan perdagangan dari luar. Suku-suku pemboikot pun takjub. Bagaimana bisa hal tersebut terjadi.

Kemudian beliau pun mengubah sistem perekonomian berbasis syariah, dengan pilar perdagangan berupa sistem bagi hasil saling menguntungkan semua pihak (termasuk pihak Yahudi yang sebelumnya ikut memboikot dari dalam kota). Beliau juga mendidik para pelaku bisnis untuk membentuk satu sistem peradilan yang beretika. Dan beliau sendiri pun terjun di dalamnya, memberikan contoh teladan yang menonjolkan sisi komitmen dan profesionalisme. Dan kisah nyata ini ditutup dengan sangat manis, yakni perubahan 180 derajat pada Kota Madinah. Jika sebelumnya kota ini berada di ambang kehancuran sebagai akibat embargo dari suku-suku di luar kota, maka kini kota ini bisa bernafas kembali dan terus survive hingga akhirnya Suku Quraisy menghentikan embargo kesana dan membuka kembali jalur perdagangan di Kota Madinah