P. 1
permasalahan TKI

permasalahan TKI

|Views: 119|Likes:
Dipublikasikan oleh Nuro Zuliana

More info:

Published by: Nuro Zuliana on Oct 16, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2011

pdf

text

original

Tenaga Kerja Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Tenaga Kerja Indonesia (disingkat TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri (seperti Malaysia, Timur Tengah, Taiwan, Australia dan Amerika Serikat) dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Namun demikian, istilah TKI seringkali dikonotasikan dengan pekerja kasar. TKI perempuan seringkali disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW). TKI sering disebut sebagai pahlawan devisa karena dalam setahun bisa menghasilkan devisa 60 trilyun rupiah (2006) [2], tetapi dalam kenyataannya, TKI menjadi ajang pungli bagi para pejabat dan agen terkait. Bahkan di Bandara Soekarno-Hatta, mereka disediakan terminal tersendiri (terminal III) yang terpisah dari terminal penumpang umum. Pemisahan ini beralasan untuk melindungi TKI tetapi juga menyuburkan pungli, termasuk pungutan liar yang resmi seperti punutan Rp.25.000,- berdasarkan Surat Menakertrans No 437.HK.33.2003, bagi TKI yang pulang melalui Terminal III wajib membayar uang jasa pelayanan Rp25.000. (saat ini pungutan ini sudah dilarang) Pada 9 Maret 2007 kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan TKI di luar negeri dialihkan menjadi tanggung jawab BNP2TKI. Sebelumnya seluruh kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri dilaksanakan oleh Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Depnakertrans.

Daftar isi
[sembunyikan]

• • •

1 Kasus o 1.1 Ceriyati o 1.2 Ruyati o 1.3 Darsem o 1.4 Pungutan Liar di KBRI/KJRI Malaysia o 1.5 Pemotongan Gaji Ilegal 2 Lihat pula 3 Referensi 4 Pranala luar

[sunting] Kasus
Beberapa kasus yang melibatkan TKI: [sunting] Ceriyati

Ceriyati adalah seorang TKW di Malaysia yang mencoba kabur dari apartemen majikannya. Ceriyati berusaha turun dari lantai 15 apartemen majikannya karena tidak tahan terhadap siksaan yang dilakukan kepadanya. Dalam usahanya untuk turun Ceriyati menggunakan tali yang dibuatnya sendiri dari rangkaian kain. Usahanya untuk turun kurang berhasil karena dia berhenti pada lantai 6 dan akhirnya harus ditolong petugas Pemadam Kebakaran setempat. Tetapi kisahnya dan juga gambarnya (terjebak di lantai 6 gedung bertingkat) menjadi headline surat kabar Indonesia serta Malaysia, dan segera menyadarkan pemerintah kedua negara adanya pengaturan yang salah dalam pengelolaan TKI. [sunting] Ruyati Ruyati adalah seorang TKW asal Bekasi, Jawa Barat di Arab Saudi yang membunuh majikannya. Dia berusaha membunuh ibu majikannya yang bernama Khairiyah Hamid yang berusia 64 tahun karena merasa tidak tahan dengan kekejamannya. Pembunuhan itu dilakukan dengan cara membacok kepala korban beberapa kali dengan pisau jagal dan kemudian dilanjutkan dengan menusuk leher korban dengan pisau dapur. Lalu, Ruyati melaporkannya ke KJRI di Jeddah. [1] Pada 18 Juni 2011, Ruyati tewas dihukum pancung di Arab Saudi akibat perbuatannya itu. Keluarganya tetap meminta jenazah Ruyati untuk dipulangkan dan dimakamkan oleh pihak keluarga. Bahkan, pihak keluarga bertekad akan mengirimkan surat permohonan bantuan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk dapat memulangkan jenazah. Sementara itu, suasana di rumah duka terus didatangi para pelayat dari kerabat dan warga sekitar. Mereka prihatin dengan peristiwa yang dialami Ruyati.[2] Kedutaan Besar Indonesia untuk Arab Saudi Gatot Abdullah Mansyur, belum bisa memastikan pemulangan jenazah Ruyati ke Tanah Air. Ia mengemukakan itu menjawab pertanyaan anggota dewan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR di Jakarta, Kamis (23/6). Terkait keyakinan pemulangan jenazah Ruyati, berdasarkan sejarah selama ini korban pemancungan tidak ada yang pernah bisa kembali ke tanah airnya. Meski demikian, pihaknya terus melakukan upaya agar jenazah Ruyati, TKI yang dijatuhi hukuman pancung di Arab Saudi, bisa dikembalikan ke Tanah Air dan diserahkan kepada keluarga.[3] [sunting] Darsem Seorang TKW asal Subang, Jawa Barat di Arab Saudi yang membunuh majikannya. Dia terancam hukuman mati karena membunuh. Hukuman ini dapat diperingan dengan membayar diyat atau tebusan senilai Rp4,7 miliar. Rupanya, Darsem belum sepenuhnya bebas dari hukuman secara maksimal meski telah membayar tebusan. "Uang itu hanya untuk membebaskan Darsem dari hukum pancung," kata Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur saat melakukan rapat dengan pendapat dengan Komisi I Bidang Luar Negeri di Jakarta, Kamis 23 Juni 2011. Menurut Gatot, setelah uang tebusan itu dibayarkan, pemerintah Arab Saudi akan menanyakan kepada keluarga korban dan masyarakat. "Apakah terganggu dengan pembunuhan yang dilakukannya," urai Gatot.

Jika keluarga dan masyarakat menyatakan terganggu dengan perbuatan Darsem, maka Darsem terancam hukuman 6 atau 10 tahun penjara. Saat ini Darsem sedang memasuki sidang umum.[4] [sunting] Pungutan Liar di KBRI/KJRI Malaysia Para warga negara Indonesia yang ingin memperoleh pelayanan keimigrasian dimana kebanyakan dari mereka adalah TKI yang bekerja di Malaysia, dibebani tarif pungutan liar. Modusnya adalah terbitnya SK/Surat Keputusan ganda, untuk SK pungutan tinggi ditunjukan sewaktu memungut biaya, sedangkan SK pungutan rendah digunakan sewaktu menyetor uang pungutan kepada negara. Pungli ini berawal dari PPATK yang mencium aliran dana tidak wajar dari para pegawai negeri di Konjen Penang pada Oktober 2005, dikemudian hari terungkap, pungutan serupa juga terjadi di KBRI Kuala Lumpur. Pungli ini menyeret para pejabat ke meja hijau, termasuk mantan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Hadi A Wayarabi,Erick Hikmat Setiawan (kepala KJRI Penang) dan M Khusnul Yakin Payapo (Kepala Subbidang Imigrasi Konjen RIPenang).[3] Erick Hikmat Setiawan divonis 20 bulan penjara.[4] [sunting] Pemotongan Gaji Ilegal Hampir semua TKI atau buruh migran Indonesia mengalami potongan gaji secara ilegal. Potongan ini disebutkan sebagai biaya penempatan dan "bea jasa" yang diklaim oleh PJTKI dari para TKI yang dikirimkannya. Besarnya potongan bervariasi, mulai dari tiga bulan sampai tujuh, bahkan ada yang sampai sembilan bulan gaji. Tidak sedikit TKI yang terpaksa menyerahkan seluruh gajinya dan harus bekerja tanpa gaji selama berbulan-bulan. Praktik ini memunculkan kesan bahwa TKI adalah bentuk perbudakan yang paling aktual di Indonesia. HEADING TOP START

Selamatkan TKI, SBY Harus Bertemu Raja Arab Saudi
Tri Kurniawan - Okezone
HEADING TOP CLOSED TOP READ
Minggu, 16 Oktober 2011 08:03 wib

SHARE START 1 56 Email 0 SHARE CLOSED TOP READ CLOSE READ

Ilustrasi algojo hukuman pancung

JAKARTA - Migrant Care berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih proaktif dalam menyelamatkan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi, tidak cukup hanya mengirimkan surat permohonan pengampunan kepada Raja Arab Saudi. Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah mengatakan, untuk menyelematkan TKW dari hukuman pancung harus ada pertemuan langsung antara kedua kepala negara. "Jika melihat kepentingannya, lebih strategis kalau Pak SBY ke sana secara bilateral bertemu dengan Raja Arab," kata Anis saat dihubungi okezone, Minggu (16/10/2011). Kata dia, surat yang dikirim SBY sudah sejak 6 Oktober lalu dikirim namun hingga kini belum mendapatkan jawaban yang jelas. Dia meyakini, surat tersebut memang sampai ke tangan Raja Arab Saudi namun, bisa saja mendapat respon yang berbeda. "Kalau enggak alamatnya palsu, kalau alamatnya palsu bisa kemana-mana itu surat. Maksud saya bagaimana jawaban surat itu, harus dipantau terus," tegasnya. Dia khawatir di saat pemerintah Indonesia lengah dan sibuk mengurus reshuffle kabinet, sementara proses eksekusi hukuman pancung terhadap TKW terus bergulir. "Jangan hanya urusan reshuffle yang enggak jelas itu kemudian nyawa warga negara melayang. Ini semakin membuktikan kinerja SBY tidak untuk kepentingan rakyat," paparnya. Menurutnya, SBY harus memanfaatkan momentum peghapusan hukuman mati yang diserukan Komisi Hak Asasi Manusia Internasional untuk menyelamtkan TKW. Jika hanya Satgas TKI yang bergerak, Anis meyakini lima TKW akan mengikuti jejak Ruyati, TKW yang sudah lebih dulu mendapat hukuman pancung. Jika SBY langsung bertemu dengan Raja Arab Saudi tidak hanya berdampak pada lima TKW yang tinggal menunggu waktu eksekusi. Ini juga diyakini akan berdampak pada 43 TKI lainnya yang sedang menjalani proses hukum. "Kalau sekelas menteri dulu sudah pernah Patrialis Akbar (Menkumham) ke sana tapi

buktinya enggak ngeffect, apalagi kalau cuma sekelas Satgas," tegasnya. Kelima TKW yang mendapat putusan tetap hukuman mati dari pengadilan Arab Saudi adalah Tuti Tursilawati, Sutinah, Darmawati, Aminah dan Siti Zaenab. Tuti, bahkan kabarnya akan dieksekusi usai Hari Raya Idul Adha mendatang. (tri) TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebanyak 27 perusahaan Jepang dan 7 rumah sakit/klinik di Jakarta dan sekitarnya, berkeinginan mempekerjakan 63 orang mantan TKI perawat program Government to Government (G to G) ke Jepang lulusan angkatan pertama tahun 2008. "Program pemberdayaan TKI Purna perawat Jepang ini sudah dirintis BNP2TKI dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta sejak 2 (dua) tahun lalu," ujar Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah, DR Haposan Saragih pada ramah tamah antara 63 mantan TKI Perawat dengan kedutaan Jepang di Jakarta, Jumat (14/10/2011). Menurut Haposan, selain 27 perusahaan Jepang juga 7 rumah sakit/klinik yang ingin mempekerjakan mereka. Ketujuh lembaga itu ialah IMC Bintaro, International SOS, Sahid Sahirman Memorial Hospital, PT Jakarta Kyoai Medical Center, Takenoko Klinik, Pondok Indah Hospital dan Eka Hospital. Meski ke-63 mantan perawat itu tidak lolos dalam ujian nasional perawat di Jepang namun sejumlah perusahaan Jepang dan 7 RS/ klinik tetap meminati mereka untuk dipekerjakan di tempatnya masing-masing. "Ke-63 TKI Purna Jepang memiliki disiplin tinggi, pemahaman bahasa dan budaya Jepang. Nilai-nilai itu dibutuhkan perusahaan Jepang dan Indonesia," ungkap doktor jebolan Jepang ini. Sebelum ditempatkan, ke-63 TKI perawat itu menjalani tes wawancara dalam bahasa Jepang. Mereka umumnya akan ditempatkan di klinik atau unit yang ada kaitannya dengan kesehatan. Pengiriman TKI Perawat ke Jepang program G to G pertama kali dilakukan tahun 2008. BNP2TKI menempatkan 208 TKI perawat, yakni 104 untuk perawat dan 104 untuk perawat lansia. Sesuai kontrak, bagi perawat yang sudah 3 tahun habis kontrak (2008-2011) dan tidak lulus seleksi ujian keperawatan di Jepang harus kembali ke tanah air. Sementara bagi TKI careworker (perawat lansia) kontraknya hingga 4 tahun. (*)
KASUS TKI

Tim Pembela Tuti Tiba di Saudi
Sabtu, 15 Oktober 2011

MADINAH (Suara Karya): Diam-diam pemerintah menerjunkan Satgas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Arab Saudi guna memperjuangkan nasib Tuti Tursilawati, TKI yang terancam hukuman mati. Tuti didakwa akibat terlibat tindak pembunuhan terhadap majikannya. Anggota Satgas TKI Alwi Shihab, yang tiba di Madinah, Arab Saudi, Kamis (13/10) sore waktu setempat, sudah diagendakan bertemu Wakil Menlu yang juga salah seorang pangeran di Kerajaan Arab Saudi untuk

membahas lembaga pemaafan bagi Tuti. "Kita berharap Pemerintah Arab Saudi memberikan perhatian khusus dengan mengajak pihak keluarga korban agar memberikan pemaafan bagi Tuti," katanya. Jumat (14/10), Alwi bertolak ke Riyadh untuk menemui Wakil Menlu Arab Saudi. Alwi menyadari, upaya menyelamatkan Tuti dari eksekusi hukuman ini sungguh berat karena kasus yang membelitnya tindak pembunuhan tergolong serius. Pihak keluarga korban, katanya, tak akan mudah memberikan pemaafan. "Terlebih lagi korban adalah anggota angkatan bersenjata Saudi," katanya. Upaya menyelamatkan nasib Tuti ini menjadi lebih pelik, karena selain melakukan pembunuhan, Tuti juga divonis mencuri uang majikannya. Kalau saja hanya melakukan tindak pembunuhan, dan pihak keluarga korban memberikan pengampunan, Tuti bisa terbebas dari hukuman. "Tetapi, Tuti kan juga sekaligus divonis mengambil uang majikannya. Nah, itu (pencurian) bukan lagi hanya perkara keluarga korban, melainkan sudah menjadi hak umum yang hukumannya tak bisa dibatalkan oleh pengampunan pihak keluarga korban. Karena itu, meski pihak keluarga korban memberikan pengampunan, Tuti tak otomatis terbebas," tutur Alwi. Tuti Tursilawati, yang mengadu nasib di Arab Saudi dengan menjadi pembantu rumah tangga, kini sedang menghitung hari menuju pintu kematian. Dia sudah masuk daftar tunggu eksekusi hukuman mati setelah pengadilan Arab Saudi memvonisnya bersalah telah membunuh majikan pria. Menurut jadwal, Tuti dieksekusi mati usai musim haji tahun ini, yaitu 6 November 2011. Dalam kaitan itu, pihak keluarga korban berkeras tidak mau memberi pengampunan dengan menolak pembayaran diat atau uang darah. Tuti, TKI asal Majalengka, Jabar, divonis bersalah membunuh majikannya, Suud Malhaq Al Utibi, Mei 2010. Menggunakan sebatang kayu, dia memukul majikannya itu hingga tewas. Tindakan itu dia lakukan karena sang majikan berupaya melakukan perbuatan asusila terhadap dirinya. Namun, selain melakukan pembunuhan, Tuti juga divonis membawa kabur uang senilai 31.500 real Saudi plus satu jam tangan dari rumah majikannya itu. Tuti Tursilawati diberangkatkan ke Arab Saudi pada 5 September 2009. Dia dipekerjakan di keluarga Suud Malhaq al-Utaibi di Kota Thaif, Arab Saudi. (Asep Yayat)

TKI Kerinci Mengaku Diperas di Dumai Tribun Jambi - Sabtu, 15 Oktober 2011 21:56 WIB Share | Laporan wartawan Tribun Jambi Edi Januar KERINCI, TRIBUN - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Kerinci yang bekerja di negeri jiran Malaysia, mengaku mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan setibanya di pelabuhan Dumai. Pasalnya, TKI tersebut mengalami pemerasan, dengan modus upah angkat, yang sangat mahal. Padahal, barang bawaan TKI jumlahnya tidak banyak. Bahkan, menurut pengakuan beberapa orang TKI yang baru saja pulang dari Malaysia, upah angkat barang tersebut diminta di tiga titik. Pertama saat hendak masuk ke kapal, turun dari kapal, dan saat hendak menuju ke mobil angkutan umum yang akan mengantar TKI pulang ke kampung halamannya. "Sudah dua bulan terakhir ini, upah angkat sangat tinggi, kadang mencapai Rp 100

ribu per tas,"sebut Masrul, warga Sebukar, Kecamatan Sitinjau Laut, Kabupaten Kerinci, yang baru saja pulang dari Malaysia. Masrul, yang sudah bolak-balik ke Malaysia tersebut, juga mengatakan sebelumnya, saat pulang ke dari Malaysia, dia hanya membayar upah angkat di dua titik, yakni sebelum masuk kapal di pelabuhan Malaysia, dan saat turun kapal hingga ke mobil angkutan umum. Namun saat ini, mereka harus merogoh saku lebih dalam. "Waktu turun dari kapal tukang angkat barang minta uang, nanti kalau mau menuju ke mobil mereka minta lagi, kadang sampai Rp 300 ribu, malah ada yang Rp 500 ribu,"kataya lagi. Hal yang sama juga dikatakan oleh Saiful, menurutnya para pekerja pengangkut barang terkesan memaksa para TKI untuk membayar dengan harga tinggi. "Memang para TKI semua mengaku saat ini para tukang angkat barang terkesan memeras para TKI. Hal tersebut perlu perhatian dari Pemerintah kita untuk melakukan koordinasi ke Dumai, karena tidak semua TKI yang pulang itu membawa uang, kadang mereka pulang setelah ditahan polisi Malaysia karena tidak memiliki dokumen,"imbuhnya. Sementara itu, Kasi Penempatan Tenaga Kerja, di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Kerinci, Tarmizi, saat dikonfirmasi mengakui hal tersebut. Ia mendapat kabar dari TKI yang pulang dari malaysia. "Kita sudah mendapat laporan dari warga tentang hal itu, namun kita tidak mungkin ikut campur soal harga upah bongkar di Dumai, karena itu wewenang Dinsosnaker Dumai,"sebut Tarmizi, kepada Tribun, (16/10). Ia menambahkan, mengatasi masalah ini, pihaknya berupaya untuk melakukan koordinasi dengan pihak Dinsosnaker di Dumai, untuk menyikapi tingginya upah angkat barang di Dumai."Kita akan koordinasi, dan kita berharap Pemerintah Dumai menyikapi masalah tersebut setelah adanya pemberitaan ini," ucapnya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->