Anda di halaman 1dari 3

Tempe Yang Ditaruh di Kulkas Lebih Tahan Lama Dibanding Tempe Yang Tidak Ditaruh di Kulkas

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus Oligosporus, Rh. Oryzae, Rh. Stolonifer ( Kapang Roti ), atau Rh. Arrhizus Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai Ragi Tempe .Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan kapang untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe.

1.2 Rumusan Masalah


Kenapa tempe di dalam kulkas lebih awet dibanding tempe yang tidak ditaruh di kulkas?

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian


Untuk Mengetahui dan membuktikan pengaruh kulkas terhadap nilai ketahanan tempe. Manfaat yang kita ambil adalah kita dapat mengetahui pengaruh kulkas terhadap ketahanan tempe.

1.4 Hipotesis
Tempe yang ditaruh di dalam kulkas lebih awet dibandingkan tempe yang tidak ditaruh di kulkas karena suhu yang dingin bisa menghambat pertumbuhan mikroba yang dapat membusukan tempe.

BAB II CARA KERJA


2.1 Alat Dan Bahan
2 Buah Tempe 1 Buah Kulkas

2.2 Langkah Kerja


1. Menentukan Variabel Variabel Variabel bebas : Kulkas Variabel terkait : Pertumbuhan mikroroba yang dapat membusukan tempe 2. Menyiapkan Alat dan Bahan 3. Menaruh sebuah tempe di kulkas

4. Menaruh sebuah tempe di dapur 5. Mengamati perbedaan perbedaan yang terjadi antara tempe A dan tempe B 6. Mencatat hasil pengamatan ke dalam tabel hasil penelitian

2.3 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan pada Kacang Kedelai
Faktor Eksternal : Suhu Cahaya Air Nutrisi Kelembapan Udara Tingkat keasaman dan basa ( ph ) Faktor Internal : Gen sebagai pembawa hormon Hormon

BAB III TABEL dan HASIL PENELITIAN


3.1 Tabel Hasil Penelitian
Tempe A ( Ditaruh di kulkas ) Hari ke 1 Warna tempe masih segar dan belum ada tanda tanda pertumbuhan mikroba. Hari ke 2 Warna tempe mulai tidak segar dan belum ada tanda pertumbuhan mikroba Hari ke 3 Warna tempe Lebih tidak segar dan belum ada pertumbuhan mikroba Tempe B ( Ditaruh di dapur ) Hari ke 1 Warna tempe Mulai tidak segar dan belum ada pertumbuhan mikroba. Hari ke 2 Sebagian Warna tempe ada bintik bintik hitam dan sudah terlihat pertumbuhan mikroba Hari ke 3 Sebagian Warna Banyak yang Hitam dan Pertumbuhan mikroba sudah sangat jelas sehingga tempe tidak mungkin untuk dikonsumsi.

3.2 Analisis Data


Tempe A ( Ditaruh di kulkas ) Mengalami penghambatan mikroba pada tempe, namun warna tempe semakin hari semakin pucat, tempe mengalami proses pengawetan mungkin karena adanya suhu yang dingin dari kulkas.

Tempe B ( Ditaruh di dapur ) Mengalami pertumbuhan mikroba pada tempe semakin hari semakin berkembang, warna tempe pun mengalami banyak perbedaan dari hari ke hari karena pertumbuhan mikroba, tempe yang berada di dapur mungkin medapatkan suhu yang lebih tinggi sehingga proses pembusukan amat cepat.

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Hasil percobaan menunjukan bahwa : Tempe yang ditaruh di kulkas mengalami proses pengawetan karena dinginnya suhu yang terdapat di kulkas sehingga tempe bisa bertahan lebih lama untuk dikonsumsi. Tempe yang ditaruh di dapur mengalami proses pembusukan yang cepat karena suhu yang lebih tinggi sehingga tempe tidak bisa bertahan lama untuk dikonsumsi. 2. Karena di dalam kulkas terdapat suatu zat contohnya gas freyon, yang dapat menurunkan suhu sehingga ruangan di dalam kulkas dingin. Hal ini dapat menghambat mikroba pada tempe sehingga terjadi proses pengawetan pada tempe.