Anda di halaman 1dari 3

^^ Tugas Solid State NMR ^^ Nila Huda (1408 100 045)

Interpretasi Spektrum 1H MAS NMR dan spektrum 27Al MAS NMR Katalis Philips CrOx/SiO2 yang dikalsinasi pada 600 C dan dimodifikasi dengan trietilaluminium (TEA) Disadur dari jurnal :: Applied Catalysis A: General 389 (2010) 186194, Multinuclear solidstate NMR study of the coordinative nature of alkylaluminum cocatalyst on Phillips CrOx/SiO2 catalyst, Wei Xia, Boping Liu, Yuwei Fang, Tadahiro Fujitani, Toshiaki Taniike, Minoru Terano

Fig. 2. 1H MAS NMR spectra of PC600 catalyst modified by TEA at various Al/Cr molar ratios: (a) 2.08; (b) 3.12; (c) 4.16; (d) 5.20; (e) 6.24. Sampel PC600/TEA Rasio Al/Cr 2,08 3,12 4,16 5,2 6,24 Rasio Al/Si-OH 0,58 0,87 1,16 1,46 1,75 Pergeseran kimia pada spectrum 1H MAS NMR 1,77 1,77 1,74 0,79 1,71 0,76 0,73

Spektrum di atas merupakan spectrum 1H MAS NMR katalis Philips yang dikalsinasi pada 600 C dan dimodifikasi dengan trietilaluminium (TEA) dengan beberapa variasi rasio massa Al/Cr. MAS NMR merupakan metode spektroskopi NMR dengan Magic Angle Spinning

(MAS) yang digunakan untuk sampel padatan akibat adanya interaksi dipol-dipol. Berdasarkan spectrum dan tabel tersebut dapat ditunjukkan spectrum a dan b dengan rasio Al/Cr 2,08 dan 3,12 memiliki pergeseran kimia 1,77 ppm dengan intensitas yang hampir sama. Proton tersebut merupakan proton dari gugus hidroksi pada permukaan silica. Peningkatan rasio Al/Cr menjadi 4,16 menyebabkan munculnya puncak proton-proton pada pergeseran kimia 1,74 dan 0,79 ppm sebagaimana pada spectrum c, hal ini disebabkan peningkatan rasio Al/Cr juga meningkatkan jumlah gugus etil karena sumber Al merupakan trietilaluminium (TEA). Sedangkan peningkatan rasio Al/Cr menjadi 5,20 menyebabkan munculnya puncak proton-proton pada pergeseran kimia 1,71 dan 0,76 ppm sebagaimana pada spectrum d dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan spectrum c. Akan tetapi, peningkatan rasio Al/Cr menjadi 6,24 hanya memunculkan satu puncak pada pergeseran kimia 0,73 (spectrum e) yang merupakan proton gugus etil. Munculnya satu puncak ini disebabkan karena proton metIl dan metilen tidak bisa dibedakan akibat heterogenitas permukaan pendukungnya.

Fig. 7. 27Al MAS NMR spectra of PC600 catalyst modified by TEA at various Al/Cr molar ratios: (a) 2.08; (b) 3.12; (c) 4.16; (d) 5.20; (e) 6.24 [(I) 4-coordinated Al; (II) 5-coordinated Al; (III) 6-coordinated Al].

Spektrum di atas merupakan spectrum 27Al MAS NMR katalis Philips yang dimodifikasi dengan trietilaluminium (TEA) dan dikalsinasi pada 600 C dengan beberapa variasi rasio massa Al/Cr. Spectrum
27

Al MAS NMR tersebut dapat membedakan beberapa jenis koordinasi Al, di

mana Al dapat berkoordinasi 4, berkoordinasi 5 dan berkoordinasi 6. Berdasarkan spectrum di atas, diketahui bahwa pada rasio Al/Cr yang relative rendah (2,08) Al cenderung berkoordinasi 6 (spectrum a). Dengan meningkatnya rasio Al/Cr dari 3,12-5,20, spesies Al yang berkoordinasi 4 meningkat seperti pada spectrum b, c, dan d sehingga spesies berkoordinasi 4 menjadi dominan pada rasio 5,20. Akan tetapi koordinasi katalis PC600/TEA berubah dengan rasio Al/Cr 6,24 di mana puncak koordinasi 4, puncak koordinasi 5 dan puncak koordinasi 6 tidak bisa dibedakan, menurut puncak spectrum tersebut ditunjukkan bahwa spesies Al berkoordinasi 6 dominan (spectrum e).