Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN KESADARAN / MENGUKUR GCS Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang

terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadarankesadaran dibedakan menjadi : 1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. 2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. 3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. 4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. 6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian). Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Penyebab Penurunan Kesadaran Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis; pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi. Mengukur Tingkat Kesadaran Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive). Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness). Pemeriksaan GCS GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata , bicara dan motorik. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 6 tergantung responnya.

Eye (respon membuka mata) : (4) : spontan (3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata). (2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari) (1) : tidak ada respon Verbal (respon verbal) : (5) : orientasi baik (4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu. (3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak) (2) : suara tanpa arti (mengerang) (1) : tidak ada respon Motor (respon motorik) : (6) : mengikuti perintah (5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri) (4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri) (3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). (2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). (1) : tidak ada respon Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol EV-M. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.

Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil : GCS : 14 15 = CKR (cidera kepala ringan) GCS : 9 13 = CKS (cidera kepala sedang) GCS : 3 8 = CKB (cidera kepala berat) Oknurse. 2010. Pemeriksaan Kesadaran atau Mengukur GCS. (online). http://oknurse.wordpress.com/2010/07/13/pemeriksaan-kesadaranmengukur-gcs/. [diakses 14 April 2011]

DAMPAK HOSPITALISASI DAN PENANGANANNYA Masa sekolah (6-12 tahun) Peran perawat dalam mengatasi dampak hospitalisasi. Peran perawat pada kasus ini adalah sebagai care provider, yaitu sebagai pemberi pelayanan pada pasien. Fokus perawat dalam mengatasi dampak hospitalisasi adalah: - meminimalkan stressor - memaksimalkan manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga - mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress, dapat dilakukan dengan cara : - Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan - Mencegah perasaan kehilangan control - Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan 1. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak 2. Modifikasi ruang perawatan 3. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah 4. Surat menyurat, bertemu teman sekolah Mencegah perasaan kehilangan kontrol: Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif. Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan Buat jadwal untuk prosedur terapi, latihan, bermain Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan

Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak Menghadirkan orang tua bila memungkinkan Tunjukkan sikap empati Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar. Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak. Meningkatkan kemampuan kontrol diri. Memberi kesempatan untuk sosialisasi. Memberi support kepada anggota keluarga. Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak. Mengorientasikan situasi rumah sakit. Pada hari pertama lakukan tindakan : - Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya - Kenalkan pada pasien yang lain. - Berikan identitas pada anak. - Jelaskan aturan rumah sakit. - laksanakan pengkajian .

- Lakukan pemeriksaan fisik

(Wong Donna L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.) Hospitalisasi pada Anak 1. Dampak Hospitalisasi

Efek-efek jangka pendek perawatan di rumah sakit menyebabkan ketakutan pada anak-anak yang telah membentuk ikatan kerapatan dengan orangtuanya (Schaffer dan Callender 1959 dalam Niven, 2002). Juga telah banyak dibahas tentang efek jangka panjang dari perpisahan semacam itu. Douglas (1975) dalam Niven (2002) menantang pandangan bahwa masuk rumah sakit pada usia sekolah jarang diikuti dengan gangguan-gangguan. Laporannya didasarkan pada suatu skala besar, sampel secara nasional pada individu yang lahir tahun 1964. Ia menemukan beberapa pokok seperti jumlah dan lamanya perawatan di rumah sakit dan efeknya pada perilaku setelah remaja. Kesimpulannya adalah bahwa ada hubungan yang bermakna antara jumlah perawatan dan lamanya peraawatan di rumah sakit selama usia pra-sekolah dan kesulitan, kemampuan membaca buruk, kenakalan dan riwayat pekerjaan tidak stabil pada usia remaja akhir. Penelitian ini telah dianalisa oleh Quiton dan Rutter (1976) dalam Niven (2002) yang menemukan sejumlah keterbatasan dalam metodologinya. Dalam replikasi penelitian yang dilakukan oleh Douglas, mereka mendapatkan bahwa tidak terdapat konsekuensi psikologis pada perawatan di rumah sakit yang hanya kurang dari seminggu, tetapi perawatan di rumah sakit yang berulang-ulang berkaitan dengan beberapa penyimpangan di kemudian hari. Harus diperhatikan bahwa sebelum menyimpulkan bahwa meskipun mengalami perawatan di rumah sakit selama dua kali pada anak usia pra-sekolah dapat meningkatkan gangguan psikiatrik. Hubungan ini dapat menunjukkan efek samping dari kondisi rumah yang buruk daripada apapun yang pada hakekatnya secara langsung berhubungan dengan penerimaan di rumah sakit. Clarke dan Clarke (1976) dalam Niven (2002) membuat pandangan serupa dengan menganjurkan bahwa hubungan yang ditemukan oleh Douglas tidak mengandung hubungan kausal antara penerimaan multiple dan gangguan. Hospitalisasi dalam tahun-tahun awal dapat menjadi hasil dari berbagai faktor, termasuk rumah yang

merugikan. Inilah faktor yang dapat bertanggung jawab terhadap gangguan remaja lanjut daripada penerimaan di rumah sakit berulang. 2. Kondisi Psikologis Lingkungan Rumah Sakit

DiMatteo & Friedman (1982) dalam Niven (2002) menyatakan bahwa rumah sakit selalu memiliki reputasi negatif dan bahwa bentuk besar dari mereka ini tidak menjadi tempat yang ramah. Mereka menganjurkan bahwa masalah ini tidak hanya hubungan mereka dengan penyakit tetapi sifat dari lingkungan rumah sakit itu sendiri. Rumah sakit adalah salah satu dari sedikit tempat dimana individu kehilangan hampir semua kontrol terhadap kehidupan mereka Pasien harus berjalan sesuai jadwal rumah sakit dan mengikuti aturan-aturannya dengan sdikit kesempatan bagi individualitas DiMatteo & Friendman (1982) dalam Niven (2002). Sumber lain dari perasaan negatif terhadap rumah sakit dapat berasal dari hubungan masa lalu mereka. Wainwright (1985) dalam Niven (2002) menyatakan perawat yang bekerja di rumah sakit tua di Inggris disituasikan dalam bangunan dimana bila menempati tempat kerja local akan mengenal keengganan ( dan kadang-kadang penolakan sama sekali) dari pasien lansia untuk diterima pada salah satu tempat yang memalukan dan stigma social. Berdaarkan dua hal tersebut, terlihat bahwa meskipun orang belum masuk ke rumah sakit persepsi mereka tentang institusi ini adalah negatif. Ini penting, oleh karena itu, untuk mengetahui bagaimana lingkungan rumah sakit dapat diubah untuk mendapatkan pemahamannya di mata populasi umum dan menyelidiki efek-efek dari lingkungan pada hubungan kesehatan psikologis. Beberapa isu yang mempunyai masalah yang ditimbulkan adalah privasi, kenyamanan fisik dan arti simbolis dari lingkungan. a. Privasi Wainwright (1985) dalam Niven (2002) mengatakan bahwa isu tentang individualistis dan control dibahas bersama dalam konsep privasi dan lebih luas lagi dimana hal tersebut memungkinkan untuk mempertahankan privasi yang secara luas dapat ditentukan oleh lingkungan arsitektur ruangan. Gambaran utama

lingkungan arsitektur yang mempengaruhi privasi adalah ukuran ruangan, jumlah penghuni ruangan, apakah ada pintu yang tertutup atau tidak, suara-suara, adanya pembatas/ penyekat, kamar mandi dan fasilitas toilet, pengontrol panas, penerangan dan ventilasi. Kurangnya privasi adalah bagian yang menyebabkan pasien menjadi lebih sensitive, dapat menyebabkan ansietas dan berperan terhadap persepsi nyeri (Wainwright 1985 dalam Niven 2002). Altman (1975) dalam Niven (2002) berpendapat bahwa kebutuhan privasi sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Pengaturan rumah sakit membatasi privasi pasien dan selanjutnya meningkatkan tingkat stress. Dalam beberapa hal sulit untuk mempertemukan antara kebutuhan staf medik dengan kebutuhan pasien. Jaco (1979) dalam Niven (2002) menemukan bahwa desain ruangan yang berbentuk lingkaran dikeluhkan pasien sebagai akan mengurangi privasi, walaupun hal ini sesuai dengan kebutuhan perawat agar lebih mudah memantau pasien. Duffy et al (1986) dalam Niven (2002) mengatakan bahwa fasilitas desain yang dibangun oleh orang lain seringkali mengabaikan pentingnya privasi dan teritori. Serupa dengan itu, pasien dapat merasa terpanjangkan tubuhnya pada orang-orang asing akan merasa stress, sedangkan hal ini sulit dihindari bila perawatan yang tepat harus diberikan. Meskipun temuan riset yang menimbulkan konflik ini terdapat sejumlah tindakan terbuka terhadap professional arsitek dan kesehatan seperti : 1) Rumah sakit harus didesain dengan tujuan memberikan pasien sebanyak mungkin pilihan terhadap masalah privasi 2) Kontrol yang dirasakan sama pentingnya dengan privasi. Tirai atau gordin ditempatkan disekitar tempat tidur pasien memberikan derajat privasi visual, tetapi pasien biasanya tidak dalam kontrol langsung terhadap penggunaan tirai dan harus meminta ijin untuk membuka atau menutupnya. Dalam situasi seperti ini individu dapat ditolak untuk meminta bantuan karena mereka tidak ingin terlihat dalam kesulitan. Mereka bahkan dapat merasa takut dilabel sebagai pasien yang sulit. Jadi pasien harusmempunyai derajat kontrol tertentu terhadap penggunaan tirai.

3) Biaya, baik finansialdan medi, dengan memberikan pasien kontrol lebih besar terhadap lingkunga mereka harus diukur terhadap keuntungan psikologis, yang substansial. 4) Staf medis harus mampu bersikap empati terhadap kebutuhan pasien untuk privasi dan memungkinkan pasien merasa dalam kontrol lebih besar terhadap lingkungan mereka. b. Kenyamanan Fisik Terdapat beberapa gambaran tetang lingkungan rumah sakit yang langsung berhubungan dengan kenyamanan fisik. Beberapa diantaranya adalah kebisingan, penerangan, orgonomik dan bau-bauan. 1) Kebisingan Bunyi-bunyi tertentu di rumah sakit mungkin tidak begitu keras tapi cukup menyebabkan meningkatnya sensitifitas, ansietas dan stres. Pasien biasanya sensitif terhadap kebisingan akibat dari penyakitnya atau karena terbaring di tempat tidur dengan sedikit atau sama sekali rangsangan. Walaupun bunyi yang paling halus sekalipun. Bunyi-bunyian yang kelihatannya tidak begitu penting bagi sebagian orang kadang-kadang sangat berarti bagi orang lain bahkan menyebabkan reaksi yang terlalu sensitif. Beberapa bunyi-bunyian di rumah sakit menimbulkan ansietas karena bunyi-bunyian tersebut sangat asing, seperti teriakan atau tangisan, dapat menyebabkan distres emosional. Oleh karena itu beberapa ahli menyarankan penggunaan bahan-bahan kedap suara pada karpet (Simons et al 1982 dalam Niven 2002), masalah utama adalah kurangnya kesadaran sebagian staf rumah sakit, dan pengunjung rumah sakit untuk menjaga ketenangan. Topf (1982) dalam Niven (2002) menemukan adanya dampak bunyibunyian terhadap kontrol pribadi selama tidur di rumah sakit. Subjek dengan kondisi penuh kebisingan memiliki pola tidur yang tidak efektif, sulit tidur terlelap dan lebih sering terbangun dibandingkan dengan subjek pada kondisi yang lebih tenang. 2) Temperatur

Keluhan yang sering diungkapkan oleh staf rumah sakit dan pasien adalah bahwa rumah sakit terlalu panas atau terlalu dingin, dan sulit dipahami bahwa ini terjadi terus tanpa ada perbaikan desain. Diragukan lagi bahwa orang-orang akan berespons secara negatif terhadap temperatur yang ekstrem, dan respons-respons ini telah didokumentasikan dengan detil oleh Bell dan Greence (1984) dalam Niel Nevil (2002). Di rumah sakit, orang yang berbeda akan memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai dengan kondisinya. Orang-orang yang tidak dapat bergerak atau sedang mengalami demam membutuhkan panas, dan di tempat yang sama sebagian orang justru ingin mengurangi panas. Masalah lain adalah sistem pemanas yang kadang-kadang bekerja tidak sesuai dengan kebutuhan cuaca. Para perancang memiliki peran yang jelas untuk menciptakan lingkungan rumah sakit yang memberikan suhu yang kondusif untuk kenyamanan staf yang bekerja di dalamnya serta pasien yang harus tinggal di dalamnya. 3) Pencahayaan Kelengkapan pencahayaan di lingkungan rumah sakit sangat kompleks jika dihubungkan dengan kebutuhan untuk memuaskan komponen orang yang berbeda. Dalam banyak hal staf medis membutuhkan tingkat pencahayaan yang tinggi, sedangkan dalam lain hal pasien hanya membutuhkan sedikit pencahayaan. 4) Orgonomik Ilmu orgonomik adalah ilmu yang memperhatikan hubungan antara pria/wanita dengan desain ruang kerjanya. Kecukupan dan pengaturan ruang kerja, kursi, tempat penyimpanan barang-barang telah memperlihatkan dampaknya terhadap kenyamanan dan kesehatan (Tichaver 1973 dalam Niven 2002). Kursi yang nyaman dan penerangan yang baik diidentifikasi oleh 70% pekerja sebagai factor yang mempengaruhi kenyamanan mereka (Harris 1980 dalam Niven 2002). 5) Bau-bauan Dari sudut pandang staf medis dalam rumah sakit, sumber bau pengiritasi dapat berasal dari sejawat mereka (mis., rokok sigaret untuk bukan perokok) dan dari pasien (mis., karpet yang basah oleh urine di rumah sakit geriatris). Dari sudut pandang pasien, bau pengiritasi berasal dari pasien (mis., muntahan dan urine) dan

staf (mis., disinfektan). Beberapa masalah dapat dihindari dengan pengalokasian area khusus untuk merokok dan bukan perokok; beberapa masalah bau-bauan tidak dapat dihindarkan dan setiap orang yang mengalami harus benar-benar dalam sistem ventilasi yang efisien. c. Arti Simbolis Untuk beberapa individu yang bekerja dalam lingkungan rumah sakit, suatu solusi terhadap banyak masalah adalah memberikan lebih banyak keuangan. Bila lebih banyak uang digunakan untuk meningkatkan lingkungan, banyak masalah akan hilang. Keuangan adalah suatu masalah, tetapi ini tidak menjelaskan mengapa beberapa institusi yang sangat baik keuangannya bukanlah tempat yang sangat baik untuk tempat tinggal dan bekerja. Serupa dengan itu, beberapa institusi yang tidak begitu baik keuangannya tidak mengalami kepenatan staf (suatu diskusi tentang masalah menghadapi professional kesehatan membentuk dasar bab selanjutnya). Martyniuk et al (1973) dalam Niven (2002) menempatkan kelompok 12 subjek dalam ruangan dengan enam system pencahayaan yang berbeda. Subjek dituntut untuk menilai system pencahayaan dalam tiga area persepsi: evaluatif, kejelasan perseptual dan keluasan. Skala evaluatif terdiri dari seri pasangan kita. Subjek dituntut untuk menilai sistem pencahayaan pada skala diantara pasangan berikut ini: Bersahabat Menyenangkan Suka Harmoni Memuaskan Indah dapat bersosialisasi bermusuhan tidak menyenangkan tidak suka berselisih menimbulkan frustasi buruk tidak dapat bersosialisasi

rileks menarik

tegang monoton

Terdapat 96 subjek dalam percobaan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa konfigurasi pencahayaan yang disukai adalah kombinasi pencahayaan rendah di atas kepala, pencahayaan menyebar di atas kepala dan perifer. Teknik ini dapat digunakan untuk efek yang baik bila merancang sistem pencahayaan yang tepat di rumah sakit. Subjek ini, pasien dan staf diberi kesempatan terhadap banyak sampel sistem pencahayaan di dalam dan perjanjian pencahayaan yang paling disukai dipilih. Isolasi terhadap elemen fisik dari desain yang memberikan lingkungan terapeutik saat ini sangat sulit dan aspek psikologis lingkungan ini masih sangat baru. Kita tidak dapat menentukan dengan pasti apa yang menimbulkan lingkungan yang bersahabat dengan hangat, tetapi bila ada kerja sama antara perancang dan individu yang tinggal dan bekerja di rumah sakit untuk menghasilkan lingkungan fisik ini memerlukan perhatian, bukan hanya pada elemen desain utama, tetapi pada detil kecil juga, kemudian pesan tersembunyi yang berasal dari lingkungan rumah sakit adalah Anda penting. 3. Respon Hospitalisasi pada Anak

Respon hospitalisasi yang ditunjukkan oleh anak meliputi: 1. Protes : ia menangis/berteriak supaya ibunya kembali 2. Pemisahan diri : ia menutup diri di bawah selimut atau tenggelam dengan mainannya dan kehilangan gairah untuk bermain atau makan. 3. Penyangkalan : ia terlihat bahagia, berusaha berteman dengan setiap orang tanpa membeda-bedakan. Hal ini dapat menimbulkan sangkaan yang salah dengan menganggap anak telah dapat menerima keadaan, namun ikatan ibuanak telah rusak dan harus dibangun kembali. Pada saat kembali ke rumah anak itu dapat menunjukkan perilaku pemarah, susah makan, atau mengompol. Masalah-masalah tersebut dapat dihindari atau diminimalkan dengan:

1) Menghindari kedatangan ke rumah sakit jika mungkin 2) Mengurangi lama berkunjung ke rumah sakit seminimal mungkin 3) Melaksanakan operasi (seperti herniotomi, orkidopeksi) dan pemeriksaan penunjang (seperti biopsijejunum, kolonoskopi) sebagai kasus rawat sehari 4) Mendorong orang tua yang anaknya dirawat untuk mengunjungi lebih sering dan mengusahakan seseorang untuk menemaninya tidur. Pengelolaan rumah sakit juga dapat membantu mengurangi stres. Anak harus dikelompokkan bersama sehingga mereka dapat diawasi oleh staf yang terlatih secara khusus dan berpengalaman dalam merawat anak-anak. Perawat umum yang terdaftar biasanya jarang sekali menangani anak-anak selama pelatihan dan membutuhkan pengalaman lebih banyak jika mereka akan diberikan tanggung jawab posisi senior di unit anak-anak; demikian juga dengan terapis. Guru, perawat taman kanak-kanak, dan pemandu bermain mengorganisasikan pendidikan dan permainan. Pemisahan dengan orang dewasa memungkinkan tempat perawatan anak menjadi tidak begitu formal. Kesan pertama yang didapat dari tempat perawatan anak mestinya bebas dan menyenangkan, bukan suasana yang sangat medis dan teknis yang sampai saat ini terus saja berjalan (Roy Meadow dan Simon J. Newell, 2005).

2010. Hospitalisasi pada Anak. (online). http://morningcamp.com/?p=518.


[diakses 14 April 2011]

Pendidikan Kesehatan Pendidikan Kesehatan Diabetes Melitus meliputi upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara : a. Pencegahan Primer Cara ini adalah cara yang paling sulit karena sasarannya orang sehat. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah agar DM tidak terjadi pada orang atau populasi yang rentan (risiko tinggi), yang dilakukan sebelum timbul tandatanda klinis dengan cara :

Makan seimbang artinya yang dimakan dan yang dikeluarkan seimbang disesuiakan dengan aktifitas fisik dan kondisi tubuh, dengan menghindari makanan yang mengandung tinggi lemak karena bisa menyebabkan penyusutan konsumsi energi. Mengkonsusmsi makanan dengan kandungan karbohidrat yang berserat tinggi dan bukan olahan.

Meningkatkan kegiatan olah raga yang berpengaruh pada sensitifitas insulin dan menjaga berat badan agar tetap ideal. Kerjasama dan tanggung jawab antara instansi kesehatan, masyarakat, swasta dan pemerintah, untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat

b. Pencegahan Sekunder

Ditujukan pada pendeteksian dini DM serta penanganan segera dan efektif, sehingga komplikasi dapat dicegah. Hal ini dapat dilakukan dengan skrining, untuk menemukan penderita sedini mungkin terutama individu/populasi. Kalaupun ada komplikasi masih reversible / kembali seperti semula.

Penyuluhan kesehatan secara profesional dengan memberikan materi penyuluhan seperti : apakah itu DM, bagaimana penatalaksanaan DM, obat-obatan untuk mengontrol glukosa darah, perencanaan makan, dan olah raga.

c. Pencegahan Tersier

Upaya dilakukan untuk semua penderita DM untuk mencegah komplikasi. Mencegah progresi dari komplikasi supaya tidak terjadi kegagalan organ. Mencegah kecacatan akibat komplikasi yang ditimbulkan. Mengendalikan berat badan, glukosa darah, lipid, tekanan darah, asam urat. Menghindari gaya hidup berisiko.

Pendidikan pada Pasien Agar pengobatan diabetes mellitus dapat optimum pasien perlu diberikan pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan diabetes mellitus. Tetapi tidak hanya untuk pasien juga untuk keluarganya harus mendapat pengetahuan yang cukup mendalam mengenai peyebab dan strategi terapi diabetes mellitus. Pengobatan akan dipermudah bila pasien mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam perawatan penyakitnya sehari-hari.

Pemberian pengetahuan secara dini hendaklah menekankan pentingnya segi-segi praktis pengobatan penyakit, yang meliputi perencanaan diet dan tekhnik pemantauan glukosa dan keton-keton. Perlu disampaikan kepada pasien kaitankaitan yang ada antara diet, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan.dukungan dari dokter (pemberi diagnosis/sebagai pemberi instruksi), apoteker (pemberi obat dan informasi), dan ahli gizi serta perawat (untuk membantu perawatan) merupakan hal penting dalam mencapai sasaran pemberian pengetahuan. Pemberian pengetahuan dan pengobatan akan paling efektif bila semua unsur profesional tersebut saling berkomunikasi mengenai pasiennya secara perorangan.