Anda di halaman 1dari 11

TUGAS KIMIA LINGKUNGAN KAJIAN KUALITAS SUNGAI CIPINANG

Disusun Oleh: Abdul Razak Ayu Puji Wardani Latifa Rusita Isna Rena Purnama Sari Sakti Wicaksana

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011

Pengertian Polusi Air Salah satu dampak negative dari kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak digunakan dengan benar adalah terjadinya polusi. Polusi adalah peristiwa masuknya zat, unsure, zat atau komponen lain yang merugikan ke dalam lingkungan akibat aktivitas manusia atau proses alami. Segala sesuatu yang menyebabkan polusi disebut polutan. Suatu benda dapat dikatakan polutan bila kadarnya melebihi batas normal, berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Polutan dapat berupa suara, panas, radiasi, debu, bahan kimia, zat- zat yang dihasilkan makhluk hidup dan sebagainya. Adanya polutan dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan lingkungan tidak dapat mengadakan pembersihan sendiri ( regenerasi). Oleh karena itu, polusi terhadap lingkungan perlu dideteksi secara dini dan ditangani segera. Polusi air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsure atau komponen lainnya ke dalam air, sehingga kualitas air terganggu yang ditandai dengan perubahan warna, baud an rasa. Beberapa contoh polutan antara lain: Fosfat yang berasal dari penggunaan pupuk buatan dan detergen, Poliklorin Bifenil (PCB) senyawa ini berasal dari pemanfaatan bahanbahan peluma dan plastic, Minyak dan Hidrokarbon dapat berasal dari kebocoran pada roda dan kapal pengangkut minyak, logam- logam berat berasal dari industri bahan kimia dan bensin, Limbah Pertanian berasal dari kotoran hewana dan tempat penyimpanan makanan ternak, Kotoran Manusia berasal dari saluran pembuangan tinja manusia. Sumber penyebab terjadinya Pencemaran Air Ada beberapa penyebab terjadinya pencemaran air antara lain apabila air terkontaminasi dengan bahan pencemar air seperti sampah rumah tangga, sampah lembah industri, sisasisa pupuk atau pestisida dari daerah pertanian, limbah rumah sakit, limbah kotoran ternak, partikulat-partikulat padat hasil kebakaran hutan dan gunung berapi yang meletus atau endapan hasil erosi tempat-tempat yang dilaluinya. Bahan Pencemar air Pada dasarnya Bahan Pencemar Air dapat dikelompokkan menjadi:

a) Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigenyaitu sampah yang mengandung senyawa organik, misalnya sampah industri makanan, sampah industri gula tebu, sampah rumah tangga (sisa-sisa makanan), kotoran manusia dan kotoran hewan, tumbuhtumbuhan dan hewan yang mati. Untuk proses penguraian sampahsampah tersebut memerlukan banyak oksigen, sehingga apabila sampah-sampah tersbut terdapat dalam air, maka perairan (sumber air) tersebut akan kekurangan oksigen, ikan-ikan dan organisme dalam air akan mati kekurangan oksigen. Selain itu proses penguraian sampah yang mengandung protein (hewani/nabati) akan menghasilkan gas H2S yang berbau busuk, sehingga air tidak layak untuk diminum atau untuk mandi. C, H, S, N, + O2 ? CO2 + H2O + H2S + NO + NO2 b) Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit, yaitu bahan pencemar yang mengandung virus dan bakteri misal bakteri coli yang dapat menyebabkan penyakit saluran pencernaan (disentri, kolera, diare, types) atau penyakit kulit. Bahan pencemar ini berasal dari limbah rumah tangga, limbah rumah sakit atau dari kotoran hewan/manusia. c) Bahan pencemar senyawa anorganik/mineral misalnya logam-logam berat seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), Timah hitam (pb), tembaga (Cu), garam-garam anorganik. Bahan pencemar berupa logam-logam berat yang masuk ke dalam tubuh biasanya melalui makanan dan dapat tertimbun dalam organ-organ tubuh seperti ginjal, hati, limpa saluran pencernaan lainnya sehingga mengganggu fungsi organ tubuh tersebut. d) Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yaitu senyawa organik berasal dari pestisida, herbisida, polimer seperti plastik, deterjen, serat sintetis, limbah industri dan limbah minyak. Bahan pencemar ini tidak dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme, sehingga akan menggunung dimana-mana dan dapat mengganggu kehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. e) Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan seperti senyawa nitrat, senyawa fosfat dapat menyebabkan tumbuhnya alga (ganggang) dengan pesat sehingga menutupi permukaan air. Selain itu akan mengganggu ekosistem air, mematikan ikan dan organisme dalam air, karena kadar oksigen dan sinar

matahari berkurang. Hal ini disebabkan oksigen dan sinar matahari yang diperlukan organisme dalam air (kehidupan akuatik) terhalangi dan tidak dapat masuk ke dalam air. f) Bahan pencemar berupa zat radioaktif, dapat menyebabkan penyakit kanker, merusak sel dan jaringan tubuh lainnya. Bahan pencemar ini berasal dari limbah PLTN dan dari percobaan-percobaan nuklir lainnya. g) Bahan pencemar berupa endapan/sedimen seperti tanah dan lumpur akibat erosi pada tepi sungai atau partikulat-partikulat padat/lahar yang disemburkan oleh gunung berapi yang meletus, menyebabkan air menjadi keruh, masuknya sinar matahari berkurang, dan air kurang mampu mengasimilasi sampah. h) Bahan pencemar berupa kondisi (misalnya panas), berasal dari limbah pembangkit tenaga listrik atau limbah industri yang menggunakan air sebagai pendingin. Bahan pencemar panas ini menyebabkan suhu air meningkat tidak sesuai untuk kehidupan akuatik (organisme, ikan dan tanaman dalam air). Tanaman, ikan dan organisme yang mati ini akan terurai menjadi senyawasenyawa organik. Untuk proses penguraian senyawa organik ini memerlukan oksigen, sehingga terjadi penurunan kadar oksigen dalam air. Parameter dan standar kualitas air Telah Anda ketahui bahwa sumber air dikatakan tercemar apabila mengandung bahan pencemar yang dapat mengganggu kesejahteraan makhluk hidup (hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan) dan lingkungan. Akan tetapi air yang mengandung bahan pencemar tertentu dikatakan tercemar untuk keperluan tertentu, misalnya untuk keperluan rumah tangga belum tentu dapat dikatakan tercemar untuk keperluan lain. Dengan demikian standar kualitas air untuk setiap keperluan akan berbeda, bergantung pada penggunaan air tersebut, untuk keperluan rumah tangga berbeda dengan standar kualitas air untuk keperluan lain seperti untuk keperluan pertanian, irigasi, pembangkit tenaga listrik dan keperluan industri. Dengan demikian tentunya parameter yang digunakan pun akan berbeda pula.

Sesuai dengan bahan pencemar yang terdapat dalam sumber air, maka parameter yang biasa digunakan untuk mengetahui standar kualitas air pun berdasarkan pada bahan pencemar yang mungkin ada, antara lain dapat dilihat dari: 1. 2. warna, bau, dan/atau rasa dari air. Sifat-sifat senyawa anorganik (pH, daya hantar spesifik, daya larut

oksigen, daya larut garam-garam dan adanya logam-logam berat). 3. Adanya senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam sumber air (misal

CHCl3, fenol, pestisida, hidrokarbon). 4. 5. Keradioaktifan misal sinar . Sifat bakteriologi (misal bakteri coli, kolera, disentri, typhus dan masih

banyak lagi).

KAJIAN KUALITAS AIR SUNGAI CIPINANG BAGIAN HILIR DITINJAU DARI PARAMETER BOD DAN DO MENGGUNAKAN MODEL QUAL2E
Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol. 5, No. 2, Desember 2009, pp. 62-74 ISSN: 1829-6572
Purnisa Damarany1), Melati Ferianita Fachrul2), Widyo Astono3)

PENDAHULUAN Sungai Cipinang adalah salah satu dari 13 sungai di DKI Jakarta yang mengalir melewati Kotamadya Jakarta Timur dengan hulu sungai adalah Situ Jatijajar yang terletak di Kecamatan Cibinong dan bermuara di Sungai Sunter yang terletak di Kelurahan Cipinang Bawah, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Sungai Cipinang memegang peranan penting bagi kehidupan warga Kotamadya Jakarta Timur yaitu berfungsi sebagai bahan baku air bersih Instalasi Pulo Gadung dan drainase kota. Pembuangan air limbah industri maupun rumah tangga yang tidak diolah atau pembuangan sampah baik secara

langsung maupun tidak langsung di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipinang, menyebabkan kualitas air di Sungai Cipinang mengalami penurunan dan berpotensi menyebabkan pendangkalan sehingga berdampak terjadinya banjir. Hal ini terlihat pada bagian hilir dari Sungai Cipinang yang kini mulai tercemar pada tingkat yang sangat berat, seperti yang terjadi di Kelurahan Cipinang Muara dan Kelurahan Cipinang Besar Selatan. Di daerah tersebut, air sungai berwarna hitam dengan bau yang menyengat dan di beberapa bantaran sungai sekitarnya terdapat tempat pembuangan sampah sementara. Meskipun Sungai Cipinang tergabung dalam program kali bersih (prokasih) DKI sejak tahun 1989 dan terpilih sebagai proyek percontohan di DKI Jakarta dalam pengelolaan lingkungan sungai pada tahun 2001, namun permasalahan yang ada belum dapat teratasi. Sungai Cipinang membutuhkan suatu upaya penanganan secara terpadu dalam pengendalian pencemaran untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Dalam hal ini, hasil dari kajian kualitas air dengan menggunakan model QUAL2E dapat digunakan sebagai langkah awal dalam mengatasi permasalahan yang ada sebagai upaya pengelolaan kualitas perairan khususnya DAS Cipinang bagian hilir. QUAL2E merupakan program atau alat bantu permodelan kualitas air yang dapat mensimulasikan perubahan-perubahan kondisi aliran sepanjang sungai, dengan menghitung serangkaian profil permukaan air pada kondisi steady-state. Kondisi dimana tidak terjadi perubahan kualitas air di sepanjang waktu. Penggunaan QUAL2E pada Sungai Cipinang ini dimaksudkan untuk mensimulasikan perubahan-perubahan kondisi aliran di sepanjang DAS Cipinang melalui profil sebaran konsentrasi BOD dan DO, sebagai langkah awal dalam mengatasi permasalahan di DAS Cipinang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perubahan-perubahan kualitas perairan Sungai Cipinang bagian hilir melalui pola sebaran profil konsentrasi BOD dan DO dengan melakukan simulasi menggunakan QUAL2E, dan untuk mengetahui nilai koefisien peluruhan BOD, koefisien pengendapan BOD, koefisien reaerasi Oksigen dan mengasumsikan koefisien SOD berdasarkan referensi sebagai kalibrasi dari model QUAL2E. Ruang lingkup penelitian ini meliputi perairan Sungai Cipinang bagian hilir, mulai daerah Halim sampai pertemuan Sungai Cipinang dengan Sungai Sunter yang

terletak di Kelurahan Cipinang Bawah, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur dengan panjang sungai 9 Km. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan bulan Oktober 2008 sampai dengan Januari 2009 di sepanjang DAS Cipinang bagian Hilir mulai Halim, Kalimalang, Kebon Nanas, JL. Jendral Basuki, Cipinang Muara (JL. Cipinang Jaya), Cipinang Besar Utara (JL. I Gusti Ngurah Rai) sampai dengan pertemuan Sungai Cipinang dan Sungai Sunter (Cipinang Bawah, Kelurahan Cipinang, Jakarta Timur). Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer terdiri dari suhu air sungai, kecepatan arus, kedalaman sungai, lebar sungai, pH, oksigen terlarut dan BOD. Sedangkan data sekunder terdiri atas peta topografi DAS Cipinang, peta tata guna lahan, jumlah penduduk di DAS Cipinang, jumlah dan jenis industri di DAS Cipinang, serta Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. 582 Tahun 1995 tentang Peruntukan dan baku mutu air sungai/badan air serta baku mutu limbah cair di wilayah DKI Jakarta. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengolahan data hidraulika Sungai Cipinang bagian hilir Berdasarkan hasil pengolahan data di Sungai Cipinang bagian hilir, diketahui bahwa semakin tinggi nilai konstanta dispersi longitudinal maka semakin tinggi nilai percampuran lateral, namun semakin rendah nilai debit aliran sungai. Kondisi kualitas fisik-kimia Sungai Cipinang bagian hilir Kualitas fisik Sungai Cipinang bagian hilir yang diukur dalam penelitian ini adalah pH, suhu, kecepatan, kedalaman dan lebar sungai. pH tertinggi terdapat pada titik 1 yaitu sebesar 8,04 dan pH terendah pada titik 5 yaitu sebesar 7,24. Suhu tertinggi terlihat pada titik 7 yaitu sebesar 32,5oC dan suhu terendah pada titik 2 yaitu sebesar 31,0oC. Kecepatan tertinggi berada pada titik 7 yaitu sebesar 0,36 m/dtk sedangkan kecepatan terendah pada titik 2 yaitu sebesar 0,19 m/dtk. Lebar sungai terbesar terdapat pada titik 2 yaitu sebesar 20 m dan terkecail pada titik 7 yaitu sebesar 8,5 m

Hasil analisis BOD dan DO pada setiap titik sampling Hasil analisis BOD yaitu BOD2, BOD4, BOD6, BOD8 digunakan untuk menghitung nilai k atau nilai konstanta BOD decay dan konsentrasi BOD ultimate perairan. Tabel 4. Nilai k dan BOD ultimate di Sungai Cipinang bagian hilir Titik 1 2 3 4 5 6 7 K (/hari) 0.376 0.322 0.27 0.265 0.357 0.358 0.259 UBOD (mg/L) 87.12 78.51 84.22 77.61 76.08 85.15 77.56

Berdasarkan Tabel 4 nilai k tertinggi terdapat pada titik 1 yaitu sebesar 0.376/hari dan terendah pada titik 7 yaitu sebesar 0.259/hari. Sedangkan nilai BOD ultimate tertinggi terdapat pada titik 1 yaitu sebesar 82.17 mg/L dan terendah pada titik 5 yaitu sebesar 76.08 mg/L. Hasil simulasi kualitas air Dari hasil simulasi kualitas air dapat diketahui perubahan kondisi kualitas air di Sungai Cipinang bagian hilir melalui profil sebaran BOD dan DO di sepanjang DAS Cipinang bagian hilir dengan skenario adanya masukan limbah pada titik 3 dan titik 6 dengan kondisi awal sungai sesuai dengan hasil pengukuran di lapangan. Dari hasil simulasi dengan scenario adanya masukkan limbah pada ruas 3 dan ruas 6 dengan kondisi awal sungai sesuai dengan hasil pengukuran di lapangan, menunjukkan kecenderungan kurva BOD di sepanjang aliran semakin menurun seiring dengan pertambahan jarak. Upaya pengelolaan kualitas air Bila diasumsikan pengelolaan dimulai dari ruas 1 maka pada ruas ini, maka alternatif pengelolaan yang dapat dilakukan adalah:

1. Penempatan IPAL secara komunal untuk mengolah limbah penduduk sekitar, khususnya untuk daerah pemukiman padat penduduk. Dimensi IPAL disesuaikan dengan debit air limbah dan efisiensi pengolahan. 2. Pemantauan kembali keefektifan dari IPAL tersebut untuk mengetahui sampai reach ke berapa hasil pengolahan dapat dilihat dan pada reach ke berapa pengolahan harus dilakukan kembali melalui simulasi model. 3. Pemantauan terhadap saluran drainase yang masuk ke dalam badan sungai agar sampah atau partikel tidak ikut masuk ke dalam badan sungai. 4. Pembuatan terjunan sebagai aerasi untuk meningkatkan nilai DO. Nilai konstanta BOD dan DO yang dihasilkan dari penelitian ini dapat digunakan kembali dalam penelitian selanjutnya. KESIMPULAN Sungai Cipinang bagian hilir memiliki kualitas air dengan tingkat yang sangat rendah. Bila dilihat secara fisik, air di bagian hilir berwarna hitam keruh dan memiliki bau yang tidak sedap. Sumber pencemar yang paling mempengaruhi kualitas air Sungai Cipinang bagian hilir adalah buangan air limbah domestik. Berdasarkan hasil pengolahan data di Sungai Cipinang bagian hilir, diketahui bahwa semakin tinggi nilai konstanta dispersi longitudinal maka semakin tinggi nilai percampuran lateral, namun semakin rendah nilai debit aliran sungai. Hasil simulasi hidraulika menunjukkan bahwa debit semakin besar ketika mencapai muara sungai. Dari hasil simulasi dengan skenario adanya masukkan limbah pada ruas 3 dan 6 dengan kondisi awal sungai sesuai dengan hasil pengukuran di lapangan, menunjukkan kecenderungan kurva BOD di sepanjang aliran semakin menurun seiring dengan pertambahan jarak. Kalibrasi yang digunakan dalam simulasi ini adalah kalibrasi hidraulika, kalibrasi konstanta BOD dan DO, serta kalibrasi hasil analisis kualias air dengan menggunakan parameter BOD dan DO melalui 3 perbandingan yaitu hasil pengukuran di lapangan, hasil perhitungan model streeter-phelps dan hasil output dari simulasi QUAL2