Anda di halaman 1dari 7

Selamatkan Hutan Dengan Hemat Kertas

Jul 13th, 10 / 1 Comment / Share this Entry

Jika ikan terakhir dari sungai terakhir telah dikail Jika pohon terakhir dari hutan terakhir telah ditebang Maka uang tidak ada gunanya (pepatah Indian)
Pernahkah anda menghitung berapa banyak kertas yang anda gunakan dalam sehari. Jika dalam sehari anda menggunakan 20 lembar kertas, maka dalam sebulan anda menghabiskan 600 lembar kertas. Dalam setahun, anda menghabiskan 7200 lembar kertas. Kertas biasa kita pakai dalam aktivitas sehari-hari, dari untuk menulis, membungkus kado, pembungkus makanan, dan lainlain. Dapatkah anda membayangkan bagaimana jadinya bila tidak ada kertas. Kertas biasa kita jumpai dan karena relatif mudah untuk mendapatkannya maka tidak heran jika pemakaian kertas cenderung sesuka hati penggunanya. Tingkat kebutuhan kertas pun kemudian makin meningkat dari hari ke hari. Jika dahulu adanya komputer dan e-mail diyakini dapat mengurangi pemakaian kertas. Namun nyatanya tidak demikian, kebutuhan akan kertas tetaplah tinggi. Tingginya kebutuhan akan kertas berimbas pada ketersediaan kayu, dimana kayu diolah menjadi bubur kertas (pulp) dan kemudian diolah lagi menjadi kertas. Menurut Prof. Dr. Sudjarwadi (UGM), 1 rim kertas setara dengan 1 pohon berumur 5 tahun. Untuk setiap ton, pulp membutuhkan 4,6 meter kubik kayu, dan 1 ton pulp menghasilkan 1,2 ton kertas. 1 hektar hutan tanamanan industri (acacia) dapat menghasilkan kurang lebih 160 meter kubik kayu. Jika pertahun diproduksi 3 juta ton pulp, maka membutuhkan 86.250 hektar hutan.

Daur ulang tumbuh acacia yang cukup lama, yakni 6 tahun, menyebabkan industri pulp membutuhkan lebih banyak hutan untuk beroperasi. Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan pada tahun 1997, total kapasitas produksi industri perkayuan di Indonesia setara dengan 68 juta M3 kayu bulat. Kapasitas tersebut 3 kali lipat lebih besar dibandingkan kemampuan hutan produksi Indonesia untuk menghasilkan kayu secara lestari. Akibatnya, bahan baku industri kertas banyak berasal dari hutan alam, dan diperparah dengan tidak dilakukannya penanaman hutan kembali. Ini menunjukkan kertas erat kaitannya dengan hutan. Bahkan menurut World Wide Fund (WWF), penggunaan 1 rim kertas telah mengorbankan dua meter persegi hutan alam. Saat ini hutan-hutan di Indonesia mengalami kerusakan yang cukup parah. Jika dahulu Indonesia termasuk dalam 3 negara dengan hutan terluas di dunia, bahkan diyakini 84% daratan Indonesia adalah hutan, maka saat ini Indonesia telah menjadi negara dengan laju perusakan hutan yang cukup tinggi. Menurut data Food and Agriculture Organizations (FAO), setiap harinya hutan di Indonesia berkurang seluas 500 kali luas lapangan sepakbola. Sejarah deforesasi di Indonesia dimulai pada tahun 1970, dimana pohon ibarat emas coklat yang menawarkan keuntungan dan menggiurkan banyak pihak sehingga akibatnya penebangan hutan untuk tujuan komersial menjadi marak. Industri kertas pun dipandang sebagai upaya untuk mengangkat perekonomian negara. Ini tidak lepas dari tingginya harga pulp di pasaran. Di kawasan Asia, Indonesia bahkan memegang peranan penting dalam memasok kebutuhan pulp dan kertas dunia. Proses pembuatan kertas yang dilakukan melalui penebangan hutan telah menyebabkan kerusakan lingkungan. Akibatnya, industri kertas telah meluluhlantakkan hutan alam di negeri ini. Tidak hanya itu saja penggunaan kertas yang tinggi juga telah menyebabkan banyaknya sampah kertas. Buruknya dampak pemakaian kertas terhadap lingkungan dan makin banyaknya sampah kertas kemudian memunculkan adanya kertas daur ulang yang dianggap sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Pun demikian, di Indonesia harga kertas daur ulang masih lebih mahal dibanding kertas biasa, dan pemerintah memberikan subsidi kepada perusahaan kertas. Ini berbeda dengan di Swiss, dimana harga kertas daur ulang lebih murah daripada harga kertas yang diproduksi dari pohon. Ini menunjukkan tingginya komitmen pemerintah Swiss untuk mengurangi pemakaian kertas dari pohon dan menggalakkan pemakaian kertas daur ulang.

Berangkat dari hal tersebut, sudah seharusnya keprihatinan atas penggunaan kertas dan dampaknya terhadap kelestarian hutan harus menjadi kesadaran yang mengendap di masyarakat sehingga terwujud dalam perilakunya sehari-hari. Ini artinya, kesadaran untuk menghemat kertas dan menggunakan kertas dengan seefektif mungkin harus menjadi semangat pada diri setiap orang. Kampanye akan hal ini pun harus terus menerus dilakukan. Tips Hemat Kertas Berkaitan dengan upaya untuk mengurangi penggunaan kertas, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) pada tahun 2007, penggunaan kertas di kantor dapat dikurangi hingga 25%. Artinya, apabila setiap bulan ada pembelian kertas senilai Rp.100.000,00, maka ada penghematan sebesar Rp. 25.000,00 setiap bulannya. Upaya mengurangi kertas dapat dilakukan dengan menggunakan kertas secara bijak dan hal ini dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi atau di tempat kerja. Misalnya mencetak dokumen berupa memo, draf atau dokumen yang tidak membutuhkan satu sisi kertas dengan mencetak menjadi 2 sisi. Dalam mencetak dokumen, untuk mengurangi pemakaian kertas dapat dilakukan dengan mengubah margin dokumen yang akan dicetak menjadi lebih kecil serta memperkecil ukuran hurufnya menjadi Arial 8 atau Times New Roman 9 (ukuran huruf ini masih bisa ditolerir oleh mata manusia yang sehat). Dengan menggunakan jenis huruf Arial dan Times New Roman akan lebih sedikit memakan ruang dibandingkan jika menggunakan jenis huruf yang lain. Menggunakan kertas di kedua sisinya (depan dan belakang). Karenanya, jangan membuang kertas yang tidak terpakai. Sisi kertas yang masih kosong dapat digunakan untuk mencetak dokumen yang masih berupa draf atau memo. Jadi, biasakan untuk menyimpan kertas yang sudah tidak terpakai. Bila tidak diperlukan untuk mencetak dokumen, dokumen yang akan dikirim dapat dikirim melalui e-mail atau diberikan dalam bentuk CD RW (CD yang dapat diisi kembali), dapat pula meminta penerima untuk mengunduhnya melalui website. Mencetak dokumen dengan bijak, artinya sebelum mencetak dokumen harus dipastikan tidak ada kesalahan dalam pengetikan. Ini dapat dilakukan dengan selalu menggunakan print preview sebelum mencetak dokumen sehingga kesalahan dalam pencetakan dapat dihindarkan. Untuk mengedit dokumen dapat dilakukan di komputer, setelah dokumen dirasa sudah benar dapat dicetak. Selalu memeriksa tinta dan mesin fotocopy atau printer sehingga hasil yang diperoleh dipastikan sudah baik. Seringkali karena tinta di mesin fotocopy dan printer kurang baik, hasil yang diperoleh kurang memuaskan sehingga pencetakkan atau penggandaan dilakukan beberapa kali. Ini artinya, akan membutuhkan lebih banyak kertas. Dalam sebuah pertemuan, pendistribusian bahan materi dapat dilakukan dengan mengirimkannya melalui e-mail atau peserta dapat menduplikasikannya dengan flashdisk. Selain itu juga tidak perlu membagikan notes. Jika peserta memang memerlukan kertas untuk menulis, dapat disediakan kertas HVS 60 gr di sebuah meja dan meminta peserta untuk menggunakannya sesuai dengan kebutuhannya. Jika selama ini anda terbiasa untuk menuliskan ide atau pemikiran anda di kertas, maka mulailah dengan menuliskan ide anda langsung dengan mengetikkannya di komputer atau laptop. Baru jika anda merasa perlu untuk mencetaknya, dokumen tersebut baru dicetak. Menggunakan kertas 60 gr atau 70 gr. Umumnya, printer dan mesin fotocopy saat ini bisa bekerja menggunakan kertas yang lebih tepis. Dengan menggunakan kertas yang lebih tipis, akan lebih ramah lingkungan, karena kertas yang lebih tebal, licin, dan putih lebih banyak menggunakan listrik, bahan kimia dan menghasilkan limbah yang lebih banyak pula. Untuk dokumen yang hanya sekali baca atau memiliki masa berlaku yang singkat dapat didistribusikan melalui e-mail atau CD serta dapat meminta orang yang membutuhkannya untuk mengunduh melalui website. Biasakan untuk menggunakan kertas sesuai dengan kebutuhan. Kebiasan ini juga harus dikomunikasikan kepada anak-anak dan anggota keluarga yang lain. Sehingga masing-masing orang akan sadar dan memiliki kebiasaan menggunakan kertas dengan bijak. Selain itu juga dengan memilah-milah sampah yang dihasilkan sesuai dengan jenisnya, sehingga akan mempermudah proses pengolahan sampah.

Upaya menggunakan kertas dengan bijak, termasuk juga dengan menggunakan kertas tissue. Selama ini kertas tissue dipandang sebagai hal yang sepele. Akibatnya, pemakaian kertas tissue menjadi sangat konsumtif. Oleh karenanya, biasakan pula untuk menggunakan kertas tissue daur ulang dan menghemat pemakaiannya. Di tempat kerja, perlu untuk disosialisasikan kebijakan untuk menghemat kertas. Ini artinya perlu dirancang kebijakan atau aturan yang dapat mendukung hal tersebut. Misalnya, untuk memacu karyawan agar menghemat kertas, dapat diberikan penghargaan kepada mereka yang melakukan penghematan kertas atau menggunakan kertas dengan bijak. Pada level yang lebih tinggi, pemerintah perlu untuk mensosialisasikan untuk menghemat kertas. Misalnya dengan mewajibkan institusi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk memakai produk daur ulang, termasuk kertas daur ulang. Menurunkan harga kertas daur ulang sehingga harganya lebih terjangkau dan lebih murah daripada kertas yang berasal dari pohon. Dengan menghemat kertas berarti menjadi pengguna yang bertanggung jawab, tidak hanya terhadap barang yang dikonsumsi namun juga terhadap kelestarian hutan yang tersisa. Kesadaran tersebut tentunya bukan kesadaran parsial semata, namun menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. Sebagaimana pepatah Indian yang disampaikan di muka, apakah kesadaran tersebut harus menunggu hingga hutan telah habis ditebang? Saat pepohonan telah menjadi barang langka?

Bahaya Plastik Bagi Lingkungan dan Kehidupan


Published By horizonwatcher under Ilmu Pengetahuan & Info Teknologi Tags: lingkungan hidup

Plastik sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern saat ini dimulai sejak era tahun 1940 an dan 50 an. Banyak hal saat ini terbuat dari plastik, mulai dari kantong belanjaan, botol, kaleng, peralatan rumah tangga, cd, pipa, helm, handphone, tv, kulkas, mesin, kendaraan, dll. Terlepas dari segala kemudahan dan keuntungan menggunakan plastik, ternyata plastik juga membawa bencana bagi lingkungan termasuk makhluk hidup di dalamnya. Apa yang menyebabkan plastik berbahaya? Berbahayanya plastik terkait erat dengan sifatnya yang non-biodegradable, yakni tak akan pernah bisa di uraikan oleh organisme pengurai di alam. Yang terjadi hanyalah, plastik menjadi potongan-potongan kecil di alam dan itupun memerlukan proses yang sangat lama yang bisa mencapai 1000 tahun, tergantung dari jenis dan kondisi plastiknya. Walaupun plastik menjadi sangat kecil seperti partikel debu, tetap saja ia adalah plastik.. Artinya bahan plastik akan selama-lamanya berada di alam, dan akan menimbulkan polusi lingkungan, baik di darat, laut, maupun udara. Partikel-partikel plastik itu akan mempengaruhi lingkungan dan kehidupan dalam banyak hal. Hewan-hewan, baik di darat maupun laut, bisa memakan potongan kecil plastik itu secara tak

sengaja yang menyebabkan gangguan pencernaan dan bisa berujung pada kematian karena tubuh tak bisa mengolahnya. Bahkan ketika hewan tadi mati, membusuk, dan terurai, plastik yang tertimbun di tubuhnya akan kembali ke alam dan bisa dimakan oleh hewan lainnya, dan begitu seterusnya siklus berulang kembali. Partikel-partikel plastik tentunya juga bisa masuk ke tubuh manusia, baik melalui hewan, peralatan sehari-hari yang dipakai terutama untuk makan dan minum, melalui air yang tercemar limbah plastik, ataupun melalui debu-debu di udara. Hal yang menambah bahaya dari plastik adalah zat-zat kimia berbahaya yang dikandungnya, yang ditambahkan selama proses pembuatan plastik, yang bisa mengganggu kerja sistem tubuh dan bisa menyebabkan kanker. Jadi bisa dibayangkan sendiri akibat yang ditimbulkan jika zat-zat kimia berbahaya ini ikut masuk bersama partikel plastik ke dalam tubuh makhluk hidup termasuk manusia. Proses pembuatan plastik juga banyak melepaskan gas-gas beracun ke udara, baik yang membahayakan kesehatan makhluk hidup maupun membahayakan atmosfer bumi. Begitu juga di dalam proses pendaur ulangannya. Oleh karena itu daur ulang plastik sebenarnya bukanlah solusi total dari usaha mengurangi dan mencegah pencemaran lingkungan oleh plastik. Bahkan plastik tak akan bisa didaur ulang selama-lamanya karena mutu dan kualitasnya akan semakin menurun, sehingga pembuatan plastik baru pun tak bisa dielakkan. Bagaimana dengan membakar plastik? Efeknya sama saja jeleknya karena dengan membakar plastik akan melepaskan zat-zat berbahaya ke udara, termasuk dioxin, salah satu zat paling beracun yang pernah ada. Selain itu, proses pembuatan plastik juga melibatkan penggunaan minyak bumi yang tidak sedikit. Padahal sebagaimana yang kita ketahui cadangan minyak bumi di dunia semakin menipis, dan minyak bumi semakin hari menjadi barang yang makin langka dan oleh karenanya semakin mahal untuk digunakan sebagai bahan bakar bagi aktifitas manusia. Setelah kita menyadari bahaya plastik bagi kehidupan di bumi, tentunya diperlukan langkahlangkah nyata untuk menyelamatkan lingkungan hidup kita. Selain memang masih diperlukannya daur ulang plastik (walaupun tak banyak memberi efek positif, dimana sebaiknya dilakukan pemisahan sampah yang terbuat dari plastik dengan sampah-sampah lainnya semenjak dari lingkungan rumah tangga), perlu kiranya dilakukan pengurangan pemakaian dan produksi plastik di muka bumi. Di berbagai negara maju di luar negeri, sudah digalakkan program berbelanja dengan membawa kantong sendiri dimana saya belum pernah mendengarnya diadakan di Indonesia. Bahkan di Indonesia, tradisi membuang sampah pada tempatnya masih belum tampak nyata realisasinya dalam keseharian hidup bermasyarakat. Sampah dengan mudahnya kita temukan dimana-mana, di jalanan, di saluran air, sungai-sungai, dsb.

Pemakaian tas-tas atau kantong yang tak terbuat dari bahan plastik juga harus digalakkan. Selain itu harus dilakukan kampanye penyuluhan pada masyarakat akan bahaya plastik ini sehingga masyarakat bisa secara aktif dan sadar untuk mengurangi ketergantungan dan penggunaan plastik. Saat ini para ilmuwan juga sedang meneliti pembuatan plastik yang bisa diuraikan oleh alam termasuk di dalamnya yang bisa diuraikan oleh cahaya. Akan tetapi jika ini bisa terwujud tentunya juga tak akan menyelesaikan semua permasalahan, mengingat hanya sampahsampah plastik di permukaan sajalah yang akan terurai oleh cahaya matahari dan tidak akan menyentuh plastik yang tertimbun di dalam tanah. Di akhir kata, selain tak memungkiri masih pentingnya plastik dalam kehidupan manusia, perlu kiranya produksi dan pemakaiannya dilakukan secara logis dan terbatas sehingga tak merusak ekosistem dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Dan hendaknya kita semua sadar tentang isu lingkungan yang penting ini, dan turut berperan sesuai dengan fungsi dan kemampuan masing-masing demi menjaga kelangsungan kehidupan di muka bumi ini.

TEKNIK LINGKUNGAN adalah sebuah program studi yang berusaha untuk


menyelesaikan permasalahan lingkungan dengan pendekatan teknologi. Teknik Lingkungan dijabarkan sebagai pemikiran keteknikan dan keterampilan dalam memecahkan masalah pengendalian lingkungan yang menyangkut penyediaan air minum; sistem pembuangan dan pendaurulangan buangan cair, padat, dan gas; sistem drainase perkotaan dan desa serta sanitasi lingkungan; pengendalian pencemar dan pengelolaan kualitas air, tanah, dan udara; serta pengendalian dan pengelolaan dampak lingkungan. Singkat kata, tugas utama dari insinyur lingkungan adalah untuk melindungi kesehatan masyarakat dengan melindungi (dari degradasi lebih lanjut), mempertahankan (kondisi sekarang), dan meningkatkan lingkungan. Lingkungan rekayasa adalah penerapan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan rekayasa untuk lingkungan. Beberapa menganggap teknik lingkungan untuk memasukkan pengembangan proses berkelanjutan. Ada beberapa divisi dari bidang teknik lingkungan. Penilaian dampak lingkungan dan mitigasi Dalam divisi ini, insinyur dan ilmuwan menggunakan identifikasi sistemik dan proses evaluasi untuk menilai dampak potensial dari proyek yang diusulkan, rencana, program, kebijakan, atau tindakan legislatif pada komponen fisik-kimia, biologi, budaya, dan sosial ekonomi pada kondisi lingkungan.[1] Mereka menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dan rekayasa untuk mengevaluasi apakah ada

kemungkinan akan ada dampak negatif terhadap kualitas air, kualitas udara, kualitas habitat, flora dan fauna, kapasitas pertanian, dampak lalu lintas, dampak sosial, dampak ekologis, dampak kebisingan, dampak visual (lanskap), dll. Jika dampak berlebihan, mereka kemudian mengembangkan langkah-langkah mitigasi untuk membatasi atau mencegah dampak-dampak tersebut. Sebuah contoh dari ukuran mitigasi akan penciptaan lahan basah di lokasi yang dekat untuk mengurangi mengisi di lahan basah yang diperlukan untuk pembangunan jalan jika tidak mungkin untuk mengubah rute jalan. Praktek penilaian lingkungan hidup diawali pada tanggal 1 Januari, 1970 tanggal efektif UndangUndang Kebijakan Lingkungan Nasional (NEPA) di Amerika Serikat. Sejak saat itu, lebih dari 100 berkembang negara maju dan berkembang telah merencanakan undang-undang analog khusus atau telah mengadopsi prosedur yang digunakan di tempat lain. NEPA ini berlaku untuk semua lembaga federal di Amerika Serikat. Pasokan air dan Perawatannya Insinyur dan ilmuwan bekerja untuk mengamankan pasokan air untuk digunakan minum dan pertanian. Mereka mengevaluasi keseimbangan air dalam DAS dan menentukan pasokan air yang tersedia, air yang dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan di DAS itu, siklus musiman pergerakan air melalui DAS dan mereka mengembangkan sistem untuk menyimpan, merawat, dan menyampaikan air untuk berbagai keperluan. Air dikontrol untuk mencapai tujuan air yang berkualitas saat penggunaan akhir. Dalam hal penyediaan air minum, air dikontrol untuk meminimalkan risiko penularan penyakit menular, risiko penyakit tidak menular, dan untuk menciptakan rasa air jernih. Sistem distribusi air yang dirancang dan dibangun untuk memberikan tekanan air yang cukup dan laju aliran untuk memenuhi berbagai kebutuhan pengguna akhir seperti penggunaan domestik, pencegah kebakaran, dan irigasi.

Pengangkutan air limbah dan Pemrosesannya

Water pollution

Sebagian besar daerah pedesaan dan perkotaan tidak lagi membuang limbah manusia secara langsung ke tanah melalui kakus, septik, dan / atau sistem honey bucket, melainkan penyimpanan limbah tersebut ke dalam air dan menyampaikannya dari rumah tangga melalui sistem saluran pembuangan. Insinyur dan ilmuwan mengembangkan sistem pengumpulan dan diproses untuk

membawa ini bahan limbah jauh dari tempat orang tinggal dan menghasilkan limbah dan pembuangan ke lingkungan. Di negara maju, sumber daya yang substansial diterapkan untuk pengobatan dan detoksifikasi limbah ini sebelum dibuang ke sungai, danau, atau sistem laut. Negara-negara berkembang berjuang untuk mendapatkan sumber daya untuk mengembangkan sistem tersebut sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas air di perairan permukaan mereka dan mengurangi resiko terbawa air penyakit menular.

Sewage treatment plant, Australia.

Ada banyak teknologi untuk merawat air limbah. Sebuah kereta pengolahan air limbah dapat terdiri dari sistem clarifier primer untuk menghilangkan bahan padat dan mengambang, sistem perawatan sekunder yang terdiri dari baskom aerasi diikuti oleh flokulasi dan sedimentasi atau sistem lumpur aktif dan clarifier sekunder, sistem nitrogen tersier penghapusan biologis, dan proses desinfeksi akhir. Basin aerasi/ sistem lumpur aktif menghilangkan bahan organik oleh bakteri yang tumbuh (lumpur aktif). Para clarifier sekunder menghilangkan lumpur aktif dari air. Sistem tersier, meskipun tidak selalu dimasukkan karena biaya, menjadi lebih umum untuk menghilangkan nitrogen dan fosfor dan untuk mensterilkan air sebelum dibuang ke aliran air permukaan atau pembuangan laut.

Manajemen kualitas udara Insinyur menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dan rekayasa untuk desain proses manufaktur dan pembakaran untuk mengurangi emisi polutan udara ke tingkat yang dapat diterima. Scrubber, electrostatic precipitators, catalytic converter, dan proses lainnya berbagai dimanfaatkan untuk menghapus partikulat, oksida nitrogen, oksida belerang, senyawa organik volatil (VOC), gas organik reaktif (ROG) dan polutan udara lainnya dari gas buang dan sumber-sumber lain sebelum memungkinkan emisi mereka ke atmosfer. Para ilmuwan telah mengembangkan model dispersi polusi udara untuk mengevaluasi konsentrasi polutan di reseptor atau dampak pada kualitas udara secara keseluruhan dari knalpot kendaraan dan emisi gas industri tumpukan buang. Untuk batas tertentu, tumpang tindih bidang ini keinginan untuk mengurangi karbon dioksida dan emisi gas rumah kaca lainnya dari proses pembakaran.