Anda di halaman 1dari 8

Pengantar Pemahaman tentang Qarinah

1. Asal makna al amr


Hukum taklifi adalah seruan asy Syaari’ yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik yang berupa
tuntutan (iqtidha’) maupun pilihan (takhyiir). Karena keduanya, yakni iqtidha’ dan takhyiir,
merupakan bentuk perintah (al amr), maka makna asal al amr harus dijelaskan terlebih dahulu.
Para ulama ushul fiqh berbeda pendapat mengenai makna al amr. Sebagian mengatakan bahwa hukum
asal al amr adalah wajib (al ashlu fi al amri li al wujuub), sebagian lain mengatakan mandub ( al ashlu
fil amri li an nadb), yang lain mengatakan mubah (al ashlu fi al amri li al ibaahah).
Yang benar, makna al amr harus dikembalikan kepada makna bahasa, karena syara’ tidak menetapkan
adanya makna syara’ atas al amr sehingga cukup dipahami dari makna bahasanya saja.
Secara bahasa, al amr bermakna tuntutan (at thalaab) yakni al ashlu fi al amri li at thalaab. Tuntutan
(at thalaab) ada dua : tuntutan untuk mengerjakan (thalaab al fi’li) atau disebut perintah (al amr) dan
tuntutan untuk meninggalkan (thalaab at tarki) atau disebut larangan (an nahy).
Dan qarinahlah yang menjelaskan jenis al amr dan an nahy sebagai tuntutan yang tegas (jazm) atau
tuntutan yang tidak tegas (ghair jazm) atau pilihan (takhyiir).
Dari sinilah kemudian didapatkan hukum syara’ yang berlaku untuk perbuatan (af’aal) apakah itu
wajib (fardlu), sunnah (mandub), haram (mahzhur), makruh, mubah.

2. Ragam bentuk al amr dan an nahy


Dilihat dari bentuknya, al amr dan an nahy yang dipergunakan dalam nash-nash syara’ bisa
diklasifikasikan menjadi dua: Yang terang (shariih) dan yang tidak terang (ghair shariih). Pembagian
shariih dan ghair shariih ini tidak berdampak hukum, keduanya sama-sama memberikan makna adanya
tuntutan (thalab).
a. Al amr dan an nahy yang shariih
1) Yang terwujud dengan menggunakan lafazh amar[a]-ya’mur[u]-amr[an] dan nah[aa]-
yanh[aa]-nahy[an] yang masing-masing berarti memerintah dan melarang.
‫إن اﷲ ﻳﺄﻣﺮآﻢ أن ﺗﺆدوا اﻷﻣﺎﻧﺎت إﻟﻰ أهﻠﻬﺎ‬
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya.”(QS an Nisaa’ 4:58)
‫ﻗﻞ إﻧﻲ أﻣﺮت أن أﻋﺒﺪ اﷲ ﻣﺨﻠﺼﺎ ﻟﻪ اﻟﺪﻳﻦ‬
“Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.”(QS az Zumar 39:11)
‫إﻧﻤﺎ ﻳﻨﻬﺎآﻢ اﷲ ﻋﻦ اﻟﺬﻳﻦ ﻗﺎﺗﻠﻮآﻢ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ وأﺧﺮﺟﻮآﻢ ﻣﻦ دﻳﺎرآﻢ وﻇﺎهﺮوا ﻋﻠﻰ إﺧﺮاﺟﻜﻢ‬
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang
yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu
(orang lain) mengusirmu.”(QS al Mumtahanah 60:9)
‫وﻳﻨﻬﻰ ﻋﻦ اﻟﻔﺤﺸﺎء واﻟﻤﻨﻜﺮ واﻟﺒﻐﻲ‬
“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, mungkar dan permusuhan…”(QS an Nahl 16:90)
2) Yang terwujud dengan menggunakan ungkapan yang secara bahasa menunjukkan perintah
dan larangan, antara lain dengan:
1. Fi’l al amr dan fi’l an nahy
‫واﻟﺴﺎرق واﻟﺴﺎرﻗﺔ ﻓﺎﻗﻄﻌﻮا أﻳﺪﻳﻬﻤﺎ ﺟﺰاء ﺑﻤﺎ آﺴﺒﺎ ﻧﻜﺎﻻ ﻣﻦ اﷲ‬
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.”(QS al
Maaidah 5:38)
‫أﻗﻢ اﻟﺼﻼة ﻟﺪﻟﻮك اﻟﺸﻤﺲ إﻟﻰ ﻏﺴﻖ اﻟﻴﻞ‬
“Dirikanlah shalat sejak matahari tergelincir hingga gelap malam.(QS al Isra’ 17:78)
... ‫وأﻃﻴﻌﻮا اﷲ وأﻃﻴﻌﻮا اﻟﺮﺳﻮل‬
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul(Nya)…”(QS al Maaidah
5:92)
1
www.syariahpublications.com
‫وﻻ ﺗﻘﺮﺑﻮا اﻟﺰﻧﺎ إﻧﻪ آﺎن ﻓﺎﺣﺸﺔ وﺳﺎء ﺳﺒﻴﻼ‬
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al Israa’ 17:32)

‫وﻻ ﺗﺠﺴﺴﻮا وﻻ ﻳﻐﺘﺐ ﺑﻌﻀﻜﻢ ﺑﻌﻀﺎ‬


“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu
menggunjing sebahagian yang lain.”(QS al Hujuraat 49:12)
‫وﻻ ﺗﻘﺘﻠﻮا اﻟﻨﻔﺲ اﻟﺘﻲ ﺣﺮم اﷲ إﻻ ﺑﺎﻟﺤﻖ‬
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS al An’aam 6:151)
2. Fi’l al mudhaari’ yang diserta laam al amr
... ‫وﻟﺘﻜﻦ ﻣﻨﻜﻢ أﻣﺔ‬
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat…”(QS Ali ‘Imraan 3:104)
‫وﻟﻴﺸﻬﺪ ﻋﺬاﺑﻬﻤﺎ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ‬
“Dan hendaklah pelaksanaan (hukuman) mereka disaksikan oleh sekumpulan
mukminin.”(QS an Nuur 24:2)
‫ﻓﻤﻦ ﺷﻬﺪ ﻣﻨﻜﻢ اﻟﺸﻬﺪ ﻓﻠﻴﺼﻤﻪ‬
“Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu,
maka hendaklah ia berpuasa.”(QS al Baqarah 2:185)
3. Mashdar yang berfungsi perintah
‫ﻓﺈذا ﻟﻘﻴﺘﻢ اﻟﺬﻳﻦ آﻔﺮوا ﻓﻀﺮب اﻟﺮﻗﺎب‬
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah
batang leher mereka.”(QS Muhammad 47:4)
4. Ism fi’l al amr
‫ﻗﻞ هﻠﻢ ﺷﻬﺪاءآﻢ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﺸﻬﺪون أن اﷲ ﺣﺮم هﺬا‬
“Katakanlah: Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan
bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan itu.”(QS al
An’aam 6:150)
‫واﻟﻘﺎﺋﻠﻴﻦ ﻹﺧﻮاﻧﻬﻢ هﻠﻢ إﻟﻴﻨﺎ‬
“Dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: Marilah kepada kami.”(QS
al Ahzaab 33:18)
b. Al amr dan an nahy yang ghair shariih
1) Susunan kalimat yang secara tekstual (manthuuq) memiliki konotasi perintah, antara lain:
1. Menggunakan harf al Jarr, seperti Li (untuk, bagi), Fii (di dalam), dan ‘Alaa (di atas)
yang diletakkan pada permulaan kalimat.
‫ﻟﻠﺮﺟﺎل ﻧﺼﻴﺐ ﻣﻤﺎ ﺗﺮك اﻟﻮاﻟﺪان واﻷﻗﺮﺑﻮن وﻟﻠﻨﺴﺎء ﻧﺼﻴﺐ ﻣﻤﺎ ﺗﺮك اﻟﻮاﻟﺪان واﻷﻗﺮﺑﻮن ﻣﻤﺎ ﻗﻞ ﻣﻨﻪ أو آﺜﺮ ﻧﺼﻴﺒﺎ‬
‫ﻣﻔﺮوﺿﺎ‬
“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan
bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik
sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”(QS an Nisaa’ 4:7)
‫ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ اﻷﻋﻤﻰ ﺣﺮج وﻻ ﻋﻠﻰ اﻷﻋﺮج ﺣﺮج وﻻ ﻋﻠﻰاﻟﻤﺮﻳﺾ ﺣﺮج وﻻ ﻋﻠﻰ أﻧﻔﺴﻜﻢ أن ﺗﺄآﻠﻮا‬
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi
orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (betrsama-sama mereka).”(QS
an Nuur 24:61)
2. Menggunakan harf al “Aradh, seperti Lawlaa (kalau bukan), Alaa (ingatlah) dsb. Ini
dalam konteks perintah.
... ‫أﻻ ﺗﻘﺎﺗﻠﻮن ﻗﻮﻣﺎ ﻧﻜﺜﻮا أﻳﻤﺎﻧﻬﻢ‬
“Mengapakan kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah
(janjinya)…”(QS at Taubah 9:13)

2
www.syariahpublications.com
3. Menggunakan pertanyaan yang ditakwilkan untuk perintah yang didasarkan pada
tuntutan dalam bentuk kalimat berita.
‫إﻧﻤﺎ ﻳﺮﻳﺪ اﻟﺸﻴﻄﺎن أن ﻳﻮﻓﻊ ﺑﻴﻨﻜﻢ اﻟﻌﺪاوة واﻟﺒﻐﻀﺎء ﻓﻲ اﻟﺨﻤﺮ واﻟﻤﻴﺴﺮ وﻳﺼﺪآﻢ ﻋﻦ ذآﺮ اﷲ وﻋﻦ اﻟﺼﻼة ﻓﻬﻞ أﻧﺘﻢ‬
‫ﻣﻨﺘﻬﻮن‬
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian
di atara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan
itu).”(QS al Maaidah 5:91)
4. Perintah atau larangan secara kiasan yang disertai dengan Haal, dimana Haal tersebut
merupakan sesuatu yang diperintahkan atau dilarang.
‫ﻓﻤﻦ أﺣﺐ أن ﻳﺰﺣﺰح ﻋﻦ اﻟﻨﺎر وﻳﺪﺧﻞ اﻟﺠﻨﺔ ﻓﻠﺘﺄﺗﻪ ﻣﻨﻴﺘﻪ وهﻮ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﷲ واﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ‬
“Maka siapa saja yang ingin menjauhkan diri dari neraka dan ingin masuk surga,
hendaknya ia dijemput oleh kematiannya sementara dia tetap dalam keadaan beriman
kepada Allah dan Hari Akhir.”(HR Muslim dari ‘Amr bin al ‘Ash)
‫ﻳﺎأﻳﻬﺎ اﻟﺬﻳﻦ ءاﻣﻨﻮا اﺗﻘﻮا اﷲ ﺣﻖ ﺗﻘﺎﺗﻪ وﻻ ﺗﻤﻮﺗﻦ إﻻ وأﻧﺘﻢ ﻣﺴﻠﻤﻮن‬
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa
kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama
Islam.”(QS Ali ‘Imraan 3:102)
5. Menggunakan kalimat berita yang berimplikasi jawaban pasti, maka kalimat berita
tersebut mempunyai konotasi perintah.
‫ ﺗﺆﻣﻨﻮن ﺑﺎﷲ ورﺳﻮﻟﻪ وﺗﺠﺎهﺪون ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﷲ‬5‫ﻳﺎ أﻳﻬﺎاﻟﺬﻳﻦ ءاﻣﻨﻮا هﻞ أدﻟﻜﻢ ﻋﻠﻰ ﺗﺠﺎرة ﺗﻨﺠﻴﻜﻢ ﻣﻦ ﻋﺬاب أﻟﻴﻢ‬
‫ ﻳﻐﻔﺮﻟﻜﻢ ذﻧﻮﺑﻜﻢ وﻳﺪﺧﻠﻜﻢ ﺧﻨﺎت ﺗﺠﺮي ﻣﻦ ﺗﺤﺘﻬﺎ اﻷﻧﻬﺎر وﻣﺴﺎآﻦ‬5‫ﺑﺄﻣﻮاﻟﻜﻢ وأﻧﻘﺴﻜﻢ ذﻟﻜﻢ ﺧﻴﺮﻟﻜﻢ إن آﻨﺘﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮن‬
‫ﻃﻴﺒﺔ ﻓﻲ ﺟﻨﺎت ﻋﺪن‬
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah
dan rasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih
baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-
dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
dan (memasukkanmu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga.”(QS ash Shaff 61:10-
13)
6. Menggunakan kalimat bersyarat dalam bentuk kalimat berita, dengan jawaban yang
berisi pujian atau celaan. Maka kalimat tersebut mempunyai konotasi perintah
‫إن ﻳﻜﻦ ﻣﻨﻜﻢ ﻋﺸﺮون ﺻﺎﺑﺮون ﻳﻐﻠﺒﻮا ﻣﺎﺋﺘﻴﻦ وإن ﻳﻜﻦ ﻣﻨﻜﻢ ﻣﺎﺋﺔ ﻳﻐﻠﺒﻮا أﻟﻔﺎ ﻣﻦ اﻟﺬﻳﻦ آﻔﺮوا ﺑﺄﻧﻬﻢ ﻗﻮم ﻻ ﻳﻔﻘﻬﻮن‬
“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat
mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara
kamu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, dikarenakan orang-orang
kafir itu kaum yang tidak mengerti.”(QS al Anfaal 8:65)
‫وﻣﻦ ﻳﻜﺴﺐ ﺧﻄﻴﺌﺔ او إﺛﻤﺎ ﺛﻢ ﻳﺮم ﺑﻪ ﺑﺮﻳﺌﺎ ﻓﻘﺪ اﺣﺘﻤﻞ ﺑﻬﺘﺎﻧﺎ وإﺛﻤﺎ ﻣﺒﻴﻨﺎ‬
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya
kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu
kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS an Nisaa` 4:112)
2) Susunan kalimat yang secara kontekstual (mafhuum) memiliki konotasi perintah, antara
lain:
1. Jika ungkapan penyampai menuntut harus benar.
‫واﻟﻤﻄﻠﻘﺎت ﻳﺘﺮﺑﺼﻦ ﺑﺄﻧﻔﺴﻬﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﻗﺮوء‬
“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri tiga kali quru`.”(QS al Baqarah
2:228)
Frasa yatarabashna memiliki konotasi layatarabashna (hendaklah menahan diri), tidak
lagi berkonotasi berita, yang bisa benar dan salah.
‫وﻟﻦ ﻳﺠﻌﻞ اﷲ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺳﺒﻴﻼ‬

3
www.syariahpublications.com
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk
menguasai orang-orang yang beriman.”(QS an Nisaa` 4:141)
2. Jika dituntut oleh apa yang secara syar’i absah terjadi.
Ini bisa dilakukan dengan gaya berdoa, namun dengan kalimat berita, bukan perintah
atau larangan.
‫اﻟﺴﻼم ﻋﻠﻴﻜﻢ ورﺣﻤﺔ اﷲ وﺑﺮآﺎﺗﻪ‬
“Semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat dan barakahNya kepadamu.”
Bisa pula menggunakan makna hukum dalam bentuk kalimat berita.
‫ﻳﺎأﻳﻬﺎاﻟﺬﻳﻦ ءاﻣﻨﻮا آﺘﺐ ﻋﻠﻴﻜﻢ اﻟﺼﻴﺎم آﻤﺎ آﺘﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﺬﻳﻦ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻟﻌﻠﻜﻢ ﺗﺘﻘﻮن‬
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”(QS al Baqarah 2:183)
‫ﺣﺮﻣﺖ ﻋﻠﻴﻜﻢ أﻣﻬﺎﺗﻜﻢ وﺑﻨﺎﺗﻜﻢ وأﺧﻮاﺗﻜﻢ وﻋﻤﺎﺗﻜﻢ‬
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan,
saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan.”(QS
an Nisaa` 4:23)
‫ﺣﺮﻣﺖ ﻋﻠﻴﻜﻢ اﻟﻤﻴﺘﺔ واﻟﺪم وﻟﺤﻢ اﻟﺨﻨﺰﻳﺮ وﻣﺂأهﻞ ﻟﻐﻴﺮ اﷲ‬
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang
disembelih atas nama selain Allah.”(QS al Maaidah 5:3)
3. Jika dituntut oleh keabsahan pelaksanaan hukum, yakni agar hukum itu bisa
dilaksanakan.
‫وإﻣﺎ ﺗﺨﺎﻓﻦ ﻣﻦ ﻗﻮم ﺧﻴﺎﻧﺔ ﻓﺎﻧﺒﺬ إﻟﻴﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻮاء‬
“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka
kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang sama.”(QS al Anfaal
8:58)
Adanya mata-mata yang memata-matai musuh menjadi tuntutan agar hukum di atas
(tentang mengembalikan perjanjian) dapat dilaksanakan.
4. Jika dituntut oleh apa yang secara analisa bahasa absah terjadi. Misalnya dengan
menggunakan mashdar untuk menjawab kalimat bersyarat.
‫ﻓﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﻓﺼﻴﺎم ﺛﻼﺛﺔ أﻳﺎم ﻓﻲ اﻟﺤﺦ وﺳﺒﻌﺔ إذا رﺟﻌﺘﻢ‬
“Tetapi jika ia tidak menemukan (hewan kurban atau tidak mampu), maka ia wajib
berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang
kembali.”(QS al Baqarah 2:196)
Frasa Fashiyaam menurut analisis bahasa sama dengan Fa ‘alaihi as shiyaam (maka,
wajib atasnya berpuasa). Frasa Fashiyaam tersebut memiliki konotasi perintah,
sekalipun tidak berupa kata perintah. Karena strukturnya berupa mashdar yang menjadi
jawaban kalimat bersyarat Faman lam yajid.
3. Ragam dampak tuntutan al amr dan an nahy
Dilihat dari dampak tuntutannya, al amr dan an nahy yang dipergunakan dalam nash-nash syara’ bisa
diklasifikasikan menjadi dua: Tuntutan yang hakiki (at thalaab ‘alaa wajh al haqiiqah) dan Tuntutan
yang tidak hakiki (ath thalaab ‘alaa wajh ghairi al haqiiqah).
a. Al amr dan an nahy yang tidak hakiki
Tuntutan (al amr ataupun an nahy) yang tidak hakiki adalah yang Pertama, tidak dimaksud
untuk dikerjakan/ditinggalkan; Kedua, diluar kemampuan pihak yang diseru (al mukhathaab);
Ketiga, pihak yang diseru (al mukhathaab) adalah pihak yang tidak terbebani hukum (ghairu al
mukallaf).
• Al amr yang tidak hakiki, di antaranya:
1) At Taswiyyah: statusnya sama baik dikerjakan atau tidak
‫اﺻﻠﻮهﺎ ﻓﺎﺻﺒﺮوا أو ﻻ ﺗﺼﺒﺮوا ﺳﻮاء ﻋﻠﻴﻜﻢ‬
“Masuklah kamu ke dalamnya (untuk merasakan panas apinya); maka baik kamu bersabar
atau tidak, sama saja bagimu.”(QS at Thuur 52:16)
2) Al Ihaanah: bertujuan untuk menghina pihak yang diperintah.
4
www.syariahpublications.com
‫ﻗﻞ ﻣﻮﺗﻮا ﺑﻐﻴﻈﻜﻢ‬
“Katakanlah (kepada mereka): Matilah kamu dengan kemarahanmu itu.”(QS Ali “Imraan
3:119)
3) Istihza’ wa sukhriyyah: bertujuan untuk membanggakan diri dan merendahkan pihak yang
diperintah.
‫ذق إﻧﻚ أﻧﺖ اﻟﻌﺰﻳﺰ اﻟﻜﺮﻳﻢ‬
“Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.”(QS ad Dukhaan 44:49)
4) At Tahdiid: untuk mengancam pihak yang diperintah.
‫اﻋﻤﻠﻮا ﻣﺎ ﺷﺌﺘﻢ‬
“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki.”(QS Fushshilat 41:40)
5) At Ta’jiiz: untuk melemahkan pihak yang diperintah.
‫ﻓﺄﻧﻮا ﺑﺴﻮرة ﻣﻦ ﻣﺜﻠﻪ وادﻋﻮا ﺷﻬﺪاءآﻢ ﻣﻦ دون اﷲ إن آﻨﺘﻢ ﺻﺎدﻗﻴﻦ‬
“..buatlah satu surat (saja) yang semisal al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu
selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”(QS al Baqarah 2:23)
6) At Taskhiir: menyihir
‫ﻗﻞ آﻮﻧﻮا ﺣﺠﺎرة أو ﺣﺪﻳﺪا‬
“Katakanlah: Jadilah kalian batu atau besi.”(QS al Israa’ 17:50)
7) At Tahaddii: untuk menantang pihak yang diperintah.
‫ﻓﺈن اﷲ ﻳﺄﺗﻲ ﺑﺎﻟﺸﻤﺲ ﻣﻦ اﻟﻤﺸﺮق ﻓﺄت ﺑﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﻤﻐﺮب ﻓﺒﻬﺖ اﻟﺬﻳﻦ آﻔﺮ‬
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,
lalu terdiamlah orang kafir itu.”(QS al Baqarah 2:258)
8) Al Irsyaad: untuk membimbing pihak yang diperintah.
‫واﺳﺘﺸﻬﺪوا ﺷﻬﻴﺪﻳﻦ ﻣﻦ رﺟﺎﻟﻜﻢ‬
:Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari para laki-laki (di antara kalian).”(QS al
Baqarah 2:282)
9) Al Imtinaan: untuk mengungkit karunia dan nikmat
‫آﻠﻮا ﻣﻤﺎ رزﻗﻜﻢ اﷲ‬
“Makanlah dari rizqi yang telah diberikan Allah kepadamu.”(QS al An’aam 6:142)
10) Ikraam bil ma’muur: untuk memuliakan pihak yang diperintah.
‫ادﺧﻠﻮهﺎ ﺑﺴﻼم ءاﻣﻨﻴﻦ‬
“Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.”(QS al Hijr 15:46)
11) Al Ihtiqaar: untuk menghina pihak yang diperintah.
‫ﻗﺎل ﻟﻬﻢ ﻣﻮﺳﻰ أﻟﻘﻮا ﻣﺎ أﻧﺘﻢ ﻣﻠﻘﻮن‬
“Berkata Musa kepada mereka: Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.”(QS asy
Syu’araa` 26:43)
12) at Takwiin: penciptaan
‫إﻧﻤﺎ أﻣﺮﻩ إذا أراد ﺷﻴﺌﺎ أن ﻳﻘﻮل ﻟﻪ آﻦ ﻓﻴﻜﻮن‬
“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia mengehendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya: Jadilah!, maka jadilah ia.”(QS Yaasiin 36:82)
13) Khabar
‫واﻟﻮاﻟﺪات ﻳﺮﺿﻌﻦ أوﻻدهﻦ ﺣﻮﻟﻴﻦ آﺎﻣﻠﻴﻦ‬
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh.”(QS al Baqarah
2:233)
14) Ad Du’aa`: meminta kepada yang lebih tinggi
‫رﺑﻨﺎ اﻏﻔﺮﻟﻲ وﻟﻮاﻟﺪي وﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﻮم اﻟﺤﺴﺎب‬
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min
pada Hari Perhitungan.”(QS Ibrahiim 14:41)
15) At Tamanni: menunjukkan harapan yang mustahil terealisasi
‫أﻻ أﻳﻬﺎ اﻟﻠﻴﻞ اﻟﻄﻮﻳﻞ أﻻ اﻧﺠﻠﻲ‬
Duhai malam yang panjang, berhentilah!
16) At Tarajjii: menunjukkan harapan yang mungkin terealisir
5
www.syariahpublications.com
‫أﻣﻄﺮي أﻳﺘﻬﺎ اﻟﺴﻤﺎء ﻓﻘﺪ ﺟﻒ اﻟﻀﺮع‬
Hujanlah wahai langit, sebab tetek lembu itu telah kering!
• An nahy yang tidak hakiki, di antaranya:
1) At Taswiyyah: statusnya sama baik ditinggalkan atau tidak.
‫اﺻﻠﻮهﺎ ﻓﺎﺻﺒﺮوا أو ﻻ ﺗﺼﺒﺮوا ﺳﻮاء ﻋﻠﻴﻜﻢ‬
“Masuklah kamu ke dalamnya (untuk merasakan panas apinya); maka baik kamu bersabar
atau tidak, sama saja bagimu.”(QS at Thuur 52:16)
2) At Tahqiir: untuk meremehkan pihak yang dilarang.
‫وﻻ ﺗﻤﺪن ﻋﻴﻨﻴﻚ إﻟﻰ ﻣﺎ ﻣﺘﻌﻨﺎ ﺑﻪ أزواﺟﺎ‬
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada
golongan-golongan dari mereka.”(QS Thaaha 20:131)
3) Bayaanul ‘aaqibah: untuk menjelaskan akibat jika melanggar.
‫وﻻ ﺗﺤﺴﺒﻦ اﷲ ﻏﺎﻓﻼ ﻋﻤﺎ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻈﺎﻟﻤﻮن‬
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang
diperbuat oleh orang-orang yang zalim.”(QS Ibraahiim 14:42)
4) At Ta`yiis: keputus-asaan pihak yang dilarang.
‫ﻳﺎأﻳﻬﺎاﻟﺬﻳﻦ آﻔﺮوا ﻻ ﺗﻌﺘﺬروا اﻟﻴﻮم إﻧﻤﺎ ﺗﺤﺰون ﻣﺎ آﻨﺘﻢ ﺗﻌﻤﻠﻮن‬
“”Hai orang-orang kafir, janganlah kamu meminta udzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu
hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.”(QS at Tahriim 66:7)
5) At Tasliyyah: untuk menghibur pihak yang dilarang.
‫واﺻﺒﺮ وﻣﺎ ﺻﺒﺮك إﻻ ﺑﺎﷲ وﻻ ﺗﺤﺰن ﻋﻠﻴﻬﻢ وﻻ ﺗﻚ ﻓﻲ ﺿﻴﻖ ﻣﻤﺎ ﻳﻤﻜﺮون‬
“”Bersabarlah (Wahai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan
janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu-dayakan.”(QS an Nahl
16:127)
6) Al Irsyaad: untuk membimbing pihak yang dilarang.
‫ﻳﺎأﻳﻬﺎ اﻟﺬﻳﻦ ءاﻣﻨﻮا ﻻ ﺗﺴﺄﻟﻮا ﻋﻦ أﺷﻴﺎء إن ﺗﺒﺪﻟﻜﻢ ﺗﺴﺆآﻢ‬
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabi) hal-hal yang
jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.”(QS al Maaidah 5:101)
7) Syafaqah: untuk menunjukkan simpati.
‫ﻻ ﺗﺘﺨﺬوا اﻟﺪواب آﺮاﺳﻲ ﻗﺮب ﻣﺮآﻮﺑﺔ ﻋﻠﻴﻜﻢ هﻲ أآﺜﺮ ذآﺮا ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ راآﺒﻬﺎ‬
“Janganlah kamu menjadikan hewan tunggangan sebagai kursi; Bisa jadi yang ditunggangi
lebih banyak dzikirnya kepada Allah ketimbang yang menungganginya.”(HR Ahmad)
8) Ad Du’aa`
‫رﺑﻨﺎ ﻻ ﺗﺠﻌﻠﻨﺎ ﻓﺘﻨﺔ ﻟﻠﻘﻮم اﻟﻈﺎﻟﻤﻴﻦ‬
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan kami sasran fitnah bagi kaum yng zalim.”(QS
Yunus 10:85)
b. Al amr dan an nahy yang hakiki
Tuntutan (al amr ataupun an nahy) yang hakiki adalah yang Pertama, dimaksud untuk
dikerjakan/ditinggalkan; Kedua, dalam kemampuan pihak yang diseru (al mukhathaab);
Ketiga, pihak yang diseru (al mukhathaab) adalah pihak yang terbebani hukum (ghairu al
mukallaf). Tuntutan yang hakiki inilah yang memberikan implikasi hukum taklifi.
1) Wujuub yang memberi hukum wajib
2) Nadb yang memberi hukum mandub
3) Tahriim yang memberi hukum haram
4) Karaahah yang memberi hukum makruh
5) Ibaahah yang memberi hukum mubah
4. Contoh Penerapan Qarinah
a. Fardlu( wajib)
Wajib (fardhu) adalah apa yang dituntut oleh asy Syaari’ untuk dikerjakan dengan tuntutan yang
tegas, baik yang ditetapkan berdasarkan dalil qoth’i maupun dhanni.
6
www.syariahpublications.com
... ‫ﻓﺎﻧﻠﻮا اﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﺆﻣﻨﻮن ﺑﺎﷲ وﻻ ﺑﺎﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ وﻻ ﻳﺤﺮﻣﻮن ﻣﺎ ﺣﺮم اﷲ ورﺳﻮﻟﻪ‬
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan (tidak pula) kepada Hari Kemudian
dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan RasulNya …”(QS at Taubah
9:29)
Ayat ini memerintahkan jihad dengan lafazh qaatiluu (perangilah). Perintah jihad ini memiliki
hukum wajib dengan adanya qarinah pada ayat yang lain:
‫إﻻ ﺗﻨﻔﺮوا ﻳﻌﺬﺑﻜﻢ ﻋﺬاﺑﺎ أﻟﻴﻤﺎ‬
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang
pedih…”(QS at Taubah 9:39)
dan ayat:
‫اﻧﻔﺮوا ﺧﻔﺎﻓﺎ وﺛﻘﺎﻻ وﺟﺎهﺪوا ﺑﺄﻣﻮاﻟﻜﻢ وأﻧﻔﺴﻜﻢ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﷲ ذﻟﻜﻢ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻢ إن آﻨﺘﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮن‬
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun berat, dan berjihadlah dengan
harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.”(QS at Taubah 9:41)
b. Mandub( Sunnah)
Mandub adalah apa yang dituntut oleh asy Syaari’ untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tidak
tegas.
Hadits Nabi saw:
‫ﺻﻼة اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻧﻔﻀﻞ ﻋﻠﻰ ﺻﻼة اﻟﻔﺮد ﺑﺴﺒﻊ وﻋﺸﺮﻳﻦ درﺟﺔ‬
“Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”(HR Bukhari)
kemudian ada qarinah bahwa Rasul saw diam terhadap sahabat yang shalat sendirian di rumahnya,
sehingga hukum shalat berjama’ah menjadi mandub (sunnah), bukan wajib.
Hadits Nabi saw:
‫ﻟﻮﻻ أن أﺷﻖ ﻋﻠﻰ أﻣﺔ أو ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎس ﻷﻣﺮﺗﻬﻢ ﺑﺎﻟﺴﻮاك ﻣﻊ آﻞ ﺻﻼة‬
“Jika seandainya aku tidak akan memberatkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan mereka
untuk bersiwak (menggosok gigi) setiap kali (akan mengerjakan) shalat.” (HR Bukhari dari Abu
Hurairah ra)
Pernyataan Nabi saw: Laula an asyuqqa ‘alaa ummati (jika seandainya aku tidak akan
memberatkan ummatku) merupakan qarinah yang menunjukkan bahwa hukum bersiwak ketika
hendak mengerjakan shalat adalah mandub, bukan wajib.
c. Haram (Mahzhur)
Haram adalah apa yang dituntut oleh asy Syaari’ untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tegas.
‫وﻻ ﺗﻘﺮﺑﻮا اﻟﺰﻧﺎ إﻧﻪ آﺎن ﻓﺎﺣﺸﺔ وﺳﺎء ﺳﺒﻴﻼ‬
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan
suatu jalan yang buruk.” (QS al Israa’ 17:32)
Larangan zina memiliki hukum haram dengan adanya qarinah: innahu kaana faahisyatan wa saa-a
sabiilaa (sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk) pada
ayat yang sama, kemudian disertai adanya sanksi (‘uqubah) di dunia bagi pelakunya.
‫اﻟﺰاﻧﻴﺔ واﻟﺰاﻧﻲ ﻓﺎﺟﻠﺪوا آﻞ واﺣﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻣﺎﺋﺔ ﺟﻠﺪة‬
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya
seratus kali dera….”(QS an Nuur 24:2)
d. Makruh
Makruh adalah apa yang dituntut oleh asy Syaari’ untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tidak
tegas.
Hadits Nabi saw:
‫ﻣﻦ آﺎن ﻣﻮﺳﺮا وﻟﻢ ﻳﻨﻜﺢ ﻓﻠﻴﺲ ﻣﻨﺎ‬
“Barangsiapa telah mampu, tetapi tidak menikah maka dia bukanlah termasuk golongan
kami.”(HR al Baihaqi)
‫ﻧﻬﻰ رﺳﻮل اﷲ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻋﻦ اﻟﺘﺒﺘﻞ‬
“Rasulullah saw telah melarang tindakan membujang.”(HR ad Daarimi dari Aisyah ra)

7
www.syariahpublications.com
Rasul melarang orang yang telah mampu untuk tidak menikah. Tetapì larangan itu tidak tegas,
karena Rasulullah membiarkan (sukuut) sebagian sahabat yang mampu menikah tetapi tidak
melakukannya, padahal beliau saw mengetahuinya. Sehingga hukum membujang (tidak menikah)
bagi orang yang mampu adalah makruh, bukan haram.
e. Mubah
Mubah adalah seruan asy Syaari’ yang ditunjukkan oleh dalil sam’i yang di dalamnya berisi pilihan
(takhyiir) antara mengerjakan dan meninggalkan tanpa disertai badal (kompensasi).
‫آﻠﻮا واﺷﺮﺑﻮا ﻣﻦ رزق اﷲ‬
“Makan dan minumlah dari rizqi Allah.”(QS al Baqarah 2:60)
Perintah makan dan minum dalam ayat tersebut bisa dipilih antara dikerjakan atau ditinggalkan,
tanpa ada konpensasi pahala, dosa, atau sanksi.
‫ﻓﺈذا ﻗﻀﻴﻦ اﻟﺼﻼة ﻓﺎﻧﺘﺸﺮوا ﻓﻲ اﻷرض‬
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi…”(QS al Jumu’ah
62:10)

‫وإذا ﺣﻠﻠﺘﻚ ﻓﺎﺻﻄﺎدوا‬


“Dan apabila kamu telah selesai menunaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu…”(QS al
Maaidah 5:2)
Perintah berburu setelah selesai haji memiliki hukum mubah, bukan wajib ataupun mandub,
berdasarkan qarinah pada ayat sebelumnya bahwa Allah memerintahkannya setelah sebelumnya
melarang ketika masih ihram:
‫ﻏﻴﺮ اﻟﻤﺤﻠﻰ اﻟﺼﻴﺪ و اﻧﺘﻢ ﺣﺮم‬
“(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan
haji.”(QS al Maaidah 5:1)

8
www.syariahpublications.com