Anda di halaman 1dari 5

MEDIA UBM

UBM JEI STAIN Surakarta SEM Institute


Edisi 14/I/2001

SEKULARISME;
PEMASUNGAN AJARAN ISLAM

Upaya musuh-musuh Islam untuk ibidem). “… Demokrasi di negeri kita timbul


menghancurkan ajaran Islam tidak pernah dari agama, dari kepercayaan, bukan dari
berhenti. Melalui perang pemikiran institusi lain,” begitu jelasnya (Kompas,
(ghazwu al-fikri) dan pertarungan ibidem).
kebudayaan (ghazwu ats-tsaqafi) mereka
melontarkan senjata-senjata terbarunya, Tulisan berikut ini akan mengupas
mengarahkan moncong-moncong senjata- dan meluruskan persepsi yang keliru
senjata baru mereka ke tengah-tengah tentang tiga perkara; yaitu pernyataan
kaum muslimin. bahwa perayaan Natal bukan hanya milik
orang-orang Kristen, tapi seluruh bangsa
Di antara berbagai isu yang paling Indonesia, pemisahan agama dari
santer dikembangkan oleh peradaban kehidupan bernegara, dan demokrasi itu
Barat yang kafir adalah Sekularisme timbul dari agama.
(pemisahan agama dari kehidupan,
pemisahan agama dari negara/politik) dan Tasyabbuh dalam ibadah kafir, Haram!
Demokrasi. Sedemikian berhasilnya
peradaban Barat mencekokkan ide Islam adalah ajaran yang universal.
Sekular dan Demokrasi, sampai-sampai Namun demikian bukan berarti sifatnya
hal itu mempengaruhi benak pemikiran yang universal itu memiliki kesamaan-
sebagian besar kaum muslimin. Paling kesamaan dengan ajaran-ajaran agama
tidak itulah yang tampak dalam pidato lain maupun ideologi-ideologi lainnya.
perayaan Natal Bersama 2000 yang Firman Allah SWT:
disampaikan oleh Gus Dur.
“Untuk tiap-tiap umat diantara
Pidato ini antara lain diawali kamu, Kami berikan aturan dan
dengan pernyataan bahwa perayaan Natal jalan yang terang.” (QS. Al Maidah
ini bukan hanya milik umat Kristiani, tapi [5]: 48)
seluruh bangsa Indonesia (Kompas,
30/12/2000). Di bagian lain pidatonya ia Maksudnya adalah, umat Nabi Muhammad
menyatakan, tepat sekali apa yang telah saw, dan juga umat-umat lain memiliki
dibuat para pendiri negara ini ketika aturan dan syariat yang berbeda-beda,
mereka dengan sadar memisahkan agama satu sama lain tidak sama.
dari kehidupan bernegara. “Negara tidak
terkait dengan agama secara formal, Tatkala Rasulullah saw sampai di
melainkan secara budaya…” (Kompas, kota Madinah, beliau menyaksikan

1
sebagian penduduk Madinah merayakan menyengaja dengan kebiasaan/syariat
dua hari raya besar milik bangsa Persia, umat-umat lain, dalam kitab beliau yang
yaitu Nairuz dan Maharjan. Seketika itu berjudul “al Qauli ats-Tsabit fi Shaumi
juga Rasulullah saw melarang kaum Yaumu Sabti”.
muslimin terlibat dalam perayaan tersebut,
sekaligus membedakan hari raya Islam Oleh karena itu pernyataan Gus
dengan hari raya agama-agama lain. Dur bahwa perayaan natal bukan hanya
Sabda Rasulullah saw: milik umat Kristen, tapi seluruh bangsa
Indonesia, tidak memiliki dasar syar'iy dan
“Sesungguhnya Allah SWT telah bertolak belakang dengan ajaran Islam
menggantikan (untuk kalian) dua yang dianut oleh sebagian besar bangsa
hari raya ini (Nairuz dan Maharjan) Indonesia.
dengan dua hari raya yang lebih
baik dari kedua hari raya ini, yaitu Sekularisme, Haram!
Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR.
Nasai dari Anas bin Malik) Sekularisme (pemisahan agama
dari kehidupan, atau pemisahan agama
Bahkan Rasulullah saw memberi dari negara/politik) tidak dikenal dalam
peringatan terhadap kaumnya yang ajaran Islam. Ide Sekularisme ini hanya
mencoba meniru-niru atau mengikuti dikenal dalam masyarakat dan peradaban
syariat agama maupun ideologi-ideologi Barat yang Kristen. Kelahirannya berawal
lain. di masa Renaissance, bermula pada saat
para kaisar dan raja-raja Eropa dan Rusia
“Siapa saja yang menyerupai suatu menjadikan agama sebagai alat untuk
kaum, maka mereka termasuk memeras, menganiaya dan menghisap
golongan mereka (kaum itu).” (HR. darah rakyat. Para pemuka agama –saat
Abu Dawud dan Imam Ahmad itu- dijadikan perisai untuk mencapai
dari Ibnu Umar) keinginan mereka. Sehingga timbul
pergolakan sengit, yang membawa
Tasyabbuh dalam hadits ini memiliki kebangikitan bagi para filosof dan
pengertian larangan untuk menyerupai cendekiawan. Sebagian mereka
syariat agama-agama lain, termasuk tata mengingkari adanya peran agama secara
cara peribadatan agama-agama lain. mutlak, sedangkan lainnya mengakui
adanya peran agama, dan menyerukan
Sedemikian besar perhatian agar dipisahkan dari kehidupan dunia.
Rasulullah saw dalam hal membedakan Hingga akhirnya pendapat mayoritas dari
diri beliau dan kaum muslimin dengan kalangan filosof dan cendekiawan itu
kebiasaan dan syariat agama-agama lain, cenderung memilih ide memisahkan
sampai-sampai orang-orang Yahudi yang agama dari kehidupan. Inilah yang
tinggal di kota Madinah saat itu berkata: menghasilkan jalan tengah berupa
pemisahan peran agama dengan negara.
“Orang ini (maksudnya Muhammad
saw) selalu saja tidak pernah rela Ide ini dianggap sebagai kompromi
melihat kebiasaan yang kita atau jalan tengah antara para pemuka
lakukan, melainkan ia segera agama yang menghendaki segala
melakukan sesuatu yang sesuatunya harus tunduk kepada mereka
sebaliknya…” (HR. Muslim, –dengan mengatasnamakan agama--
Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ibnu dengan para filosof dan cendekiawan yang
Majah dan Ahmad) mengingkari peran agama dan dominasi
para pemuka agama. Jadi ide sekularisme
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani telah tidak dikenal dalam sejarah Islam maupun
mengumpulkan hadits-hadits yang berisi ajaran Islam.
pembedaan Rasulullah saw secara

2
Ide sekularisme hanya dikenal oleh Nabi. Maka dari itu, kewajiban adanya
masyarakat Barat yang kafir, dan hanya Imam (Khalifah) termasuk perkara yang
tepat ditujukan bagi agama-agama yang sangat penting dalam syara, yang tidak
hanya mengatur urusan ritual (hubungan ada jalan untuk meninggalkannya.
peribadatan). Sedangkan ajaran Islam Camkanlah ini !”(al Iqtishad fil I'tiqad,
tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual, kar. Imam al Ghazali, hal. 199)
melainkan seluruh aspek kehidupan
manusia, baik peradilan, ekonomi, politik, Imam Ibnu Taimiyah berkata:
negara, militer, sosial, pendidikan,
hubungan luar negeri dan lain-lain. “Apabila kekuasaan terpisah dari agama,
atau apabila agama terpisah dari
Dengan demikian, jika ide kekuasaan, niscaya perkataan manusia
sekularisme diterapkan dan dipaksakan akan rusak.” (Majmu'ul Fatawa, kar. Ibnu
atas kaum muslimin, hal itu sama saja Taimiyah, jilid.28, hal. 394)
dengan membuang sebagian besar
hukum-hukum Islam yang berkaitan Muhammad Abduh berkata:
dengan ekonomi, politik, negara,
pendidikan, militer, politik luar negeri dan “Hikmah pensyariatan hukum tidak akan
lain-lain. sempurna kecuali bila ada suatu kekuatan
untuk menegakkan hukum hudud dan
Lalu akan dikemanakan ribuan menerapkan keputusan hakim secara
ayat-ayat al Quran dan Hadits Nabi saw benar. Dan pemeliharaan keteraturan
yang menyinggung hukum-hukum tentang masyarakat dan kekuatan itu tidak boleh
ekonomi, politik, sosial, pendidikan, militer, ada di tangan banyak orang sehingga
dan sejenisnya ? Bukankah, al Quran dan kacau, tetapi harus ada di tangan satu
as Sunah diturunkan kepada umat orang saja, yaitu penguasa (Sulthan) atau
manusia untuk diterapkan, bukan sekedar Khalifah.” (al Islam wa an Nashraniyah,
dibaca berulang-ulang ? kar. Muhammad Abduh, hal. 65)

Hal ini sama artinya dengan Maka, atas dasar apa Gus Dur
memasung ajaran Islam dan kaum mengatakan bahwa tepat sekali apa yang
muslimin hanya dalam perkara-perkara telah dibuat para pendiri negara ini ketika
ubudiyah saja, serta menyamakan ajaran mereka dengan sadar memisahkan agama
Islam dengan ajaran agama lain. dari kehidupan bernegara. Bukankah
perkataannya ini berakibat tercampaknya
Kaum muslimin pernah mengalami ribuan ayat-ayat al Quran dan as Sunah
masa kejayaannya tatkala para penguasa yang berkaitan dengan hukum ekonomi,
mereka (dalam sistem Daulah Khilafah sosial, politik, pendidikan, militer dan
Islamiyah) telah menerapkan sistem sejenisnya, serta menyamaratakan Dinul
(hukum) Islam dalam seluruh aspek Islam dengan agama-agama lain,
kehidupan selama lebih dari XIII abad. sehingga menghilangkan gambaran Dinul
Paling tidak hal itu tampak dalam Islam, sebagai ajaran yang sempurna.
beberapa pernyataan para ulama yang
pernah hidup di bawah naungan Daulah Demokrasi, Berhala Modern
Khilafah Islamiyah.
Demokrasi berasal dari pandangan
Imam al Ghazali berkata : bahwa manusialah yang berhak membuat
peraturan (undang-undang). Sehingga –
“Kekuasaan sangat penting untuk menurut mereka-- rakyat adalah sumber
tegaknya peraturan dunia dan agama. Dan kedaulatan, sekaligus pemilik kekuasaan
peraturan agama sangat penting untuk yang sebenarnya. Rakyat yang membuat
mencapai kebahagiaan akhirat yang perundang-undangan. Rakyat yang
secara pasti merupakan tujuan dari para menggaji kepala negara untuk

3
menjalankan undang-undang yang dibuat dan kekuasaan (untuk menjalankan sistem
oleh rakyat. Rakyat pula yang berhak hukum selain Islam) berada di tangan
mencabut kekuasaan dari kepala negara, rakyat, adalah ide yang bathil, bertolak
lalu menggantinya, termasuk merubah belakang dengan ajaran Islam. Dan Islam
undang-undang sekehendak mereka. tidak mengenal Demokrasi, sejak
kelahirannya hingga hari Kiamat.
Jadi, Demokrasi itu berlandaskan
kepada dua ide; (1). Kedaulatan di tangan Berdasarkan hal ini, maka
rakyat, (2). Rakyat sebagai sumber pernyataan Gus Dur bahwa Demokrasi di
kekuasaan. Dalam hal ini rakyat bertindak negeri ini timbul dari agama, dari
selaku Musyarri' (pembuat hukum) dalam kepercayaan, bukan dari institusi lain,
kedudukannya sebagai pemilik kedaulatan, amat tidak berdasar, paling tidak dengan
dan berlaku sebagai Munaffidz (pelaksana ajaran Islam.
hukum) dalam kedudukannya sebagai
sumber kekuasaan. Demokrasi tidak sama dengan
syura, karena syura berarti memberikan
Ide Demokrasi, merupakan anak pendapat. Sedangkan demokrasi
emas dari ide Sekularisme (pemisahan merupakan suatu pandangan hidup dan
agama dari negara/politik). Sebab, kumpulan ketentuan untuk seluruh
Sekularisme telah memberikan wahana konstitusi, undang-undang, dan peraturan,
bagi rakyat untuk menentukan arah yang telah dibuat oleh manusia menurut
kehidupan mereka sendiri. Inilah makna akal mereka sendiri. Mereka menetapkan
dari rakyat sebagai pihak yang memiliki ketentuan-ketentuan itu berdasarkan
kedaulatan. Artinya rakyat sebagai kemaslahatan yang dipertimbangkan
Musyarri' (pembuat hukum). menurut akal, bukan menurut wahyu dari
langit.
Pemahaman semacam ini nyata-
nyata bertolak belakang dengan ajaran Kaum muslimin wajib membuang
Islam. Sebab, Islam telah meletakkan demokrasi sejauh-jauhnya, karena
kedaulatan berada di tangan syara (atau di demokrasi juga berarti bertahkim kepada
tangan Allah, sebagai Musyarri'), bukan di thaghut. Bertahkim kepada thaghut berarti
tangan manusia. Firman Allah SWT : juga bertahkim kepada hukum-hukum
yang tidak diturunkan Allah SWT. Dengan
“(Hak untuk) menetapkan hukum kata lain bertahkim kepada hukum-hukum
itu (hanyalah) hak Allah.” (QS. Al kufur yang dibuat manusia, dan
An'aam [6]: 57) bertentangan dengan sistem hukum Islam.
Allah SWT berfirman:
Bahkan al Quran tegas-tegas
menggolongkan tidak beriman bagi siapa “Apakah kamu tidak
saja yang tidak menjadikan Rasulullah saw memperhatikan orang-orang yang
sebagai rujukan hukum. mengaku dirinya telah beriman
kepada apa yang diturunkan
“Maka demi Rabb-mu, mereka kepadamu (Al Quran) dan kepada
(pada hakekatnya) tidak beriman apa yang diturunkan sebelum kamu
hingga mereka menjadikan kamu ? Mereka hendak bertahkim
(Muhammad) hakim (pemutus) kepada thaghut, padahal mereka
terhadap perkara yang mereka telah diperintah mengingkari
perselisihkan.” (QS. An Nisa [4]: thaghut itu.” (QS. An Nisa [4]: 60)
65)
Maka, apakah kita tetap tidak
Oleh karena itu, ide Demokrasi mengindahkan peringatan-peringatan ini?!
yang telah meletakkan kedaulatan berada
di tangan manusia (dalam hal ini rakyat), (Sumber Al Islam On Line)

4
5