Anda di halaman 1dari 1

Fitri Rahmadhani Rosha

TUGAS 4
Review BAB VI. YAYASAN (STICHTINGEN)

08/ 270047/ PN/ 11441 MSP

1. Wakaf Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan atau kesejahteraan umum menurut syariah. Wakaf dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : a. Wakaf tanah perumahan yang akan digunakan untuk mesjid atau surau, dan apabila perlu ditambah dengan hasil hasil pertanian untuk pemeliharaan mesjid dan nafkah pegawai atau pengurus mesjid b. Wakaf sebagian dari kekayaan seorang waqif, yang tidak dapat dipindahtangankan selama lamanya buat anak cucu yang diperkenankan menerimanya. Lembaga hukum Islam waqf (gerecipieerd) mengatakan bahwa pembuat wakaf harus mempunyai hak dan kuasa penuh (ditinjau menurut hukum adat) atas barang yang diwakafkan, barangnya harus jelas dan tidak boleh digunakan kearah yang dilarang dalam agama Islam, tujuannya harus halal dan dilukiskan dengan kata kata yang jelas. Orang orang yang diwakafi atau yang menerima wakaf dipilih sejelas jelasnya dan harus menyatakan menerima baik perwakafan itu (qabul), si pembuat wakaf dapat memilih dan menetapkan kepengurusan dengan jalan mengangkat seorang pengurus dan apabila tidak ada maka kepala pegawai pengurus mesjid memiliki tanggung jawab dan keharusan untuk mengurusnya. Pengaturan wakaf dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf.
2. Yayasan (Stichting)

Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan dalam mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. Yayasan dapat mendirikan badan usaha yang kegiatannya sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan. Yayasan diatur dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang yayasan dan telah diubah dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004. Kekayaan yayasan yang berasal dari wakaf oleh Undang-undang Yayasan secara tegas ditentukan bahwa kekayaan tersebut diatur berdasarkan ketentuan perwakafan, maka kekayaan yang berasal dari wakaf tidak dimasukkan dalam harta pailit, jika ketentuan perwakafan diberlakukan, karena harta wakaf merupakan benda di luar perdagangan (res extra commercium) yang tidak dapat dijadikan objek jaminan dan oleh karena itu tidak dapat disita dan dieksekusi.