Anda di halaman 1dari 26

KETUA Anggota

: Rizki Isnanda lutfi (1102007) : Juryah (1102007159) Marselya Ulfa (1102007171) Mega Andini (1102007173) Nur Ayu Sartika (1102007179) Pramudya B.K (1102007712) Putri Lestari (1102007219) Riris Syifah Fauziah (1102007 Vicky Elise Finanda (1102007284) Yuni Harsianti Yuda (1102007301)

Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaing dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring. Merupakan tumor daerah kepala dan leher yang terbanyak di temukan di Indonesia. diagnosis dini cukup sulit karena letakya yang tersembunyi dan berhubungan dengan banyak daerah vital.

Penyakit ini banyak ditemukan pada ras cina terutama yang tinggal di daerah selatan. Ras mongloid merupakan faktor dominan dalam munculnya kanker nasofaring, sehingga kekerapan cukup tinggi pada penduduk Cina bagian selatan. Penyakit ini juga ditemukan pada orang-orang yang hidup di daerah iklim dingin, seperti penduduk Eskimo di Alazka hal ini diduga karena penggunaan pengawet nitrosamine pada makanan-makanan yang mereka simpan.

~ Virus Epstein Barr ~ faktor lain : letak geografis, rasial, jenis kelamin (laki-laki >>), genetik, pekerjaan, lingkungan ( iritasi oleh bahan kimia, bumbu masak, dll), kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit. Dan biasanya didapatkan pada golongan rendah.

Virus Epstein Barr merupakan virus DNA yang mempunyai kemampuan menstimuli limfosit B dan sel epitel faring. Masuknya virus EB kedalam tubuh melalui reseptor (CR2 / CD21). Virus ini sangat mudah menular. Infeksi alamiah biasanya terjadi pada masa anak anak. Virus EB mempunyai beberapa antigen (protein) seperti VCA, EA, LMP, nuclear antigen dan DNase yang dapat memicu timbulnya respons imun baik seluler maupun humoral. Bukti kuat yang menunjukkan infeksi virus EB sebagai salah satu faktor etiologi utama dari karsinoma nasofaring yaitu ditemukannya titer anti virus EB yang cukup tinggi di darah.

Gejala di bagi dalam empat kelompok: 1. Gejala nasofaring sendiri, berupa epistaksis ringan, pilek, atau sumbatan hidung. 2. Gejala telinga berupa tinnitus, rasa tidak nyaman sampai nyeri di telinga (otalgia). 3. Gejala Mata, pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan gangguan pada saraf-saraf di otak salah satunya adalah keluhan pada mata berupa pandangan ganda (diplopia) 4. Gejala di leher, Metastasis, gejala ini dapat dilihat pada beberapa stadium akhir kanker nasofaring berupa pembesaran atau benjolan di leher.

Kelainan nasofaring yang disebut lesi hiperplastik nasofaring atau LHN mempunyai bentuk yaitu: 1. Pembesaran adenoid 2. Pembesaran nodul 3. Mukositis berat pada daerah nasofaring

Sesuai dengan klasifikasi karsinoma nasofaring yang diusulkan WHO tahun 1978. ada tiga jenis bentuk histologik yaitu karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi, karsinoma nonkeratinisasi, karsinoma tidak berdifrensiasi. Untuk penetuan stadium dipakai sistim TNM menurut UICC (Union International Contre Cancer) pada tahun 1992: T= Tumor primer T0- Tidak tampak tumor. T1- Tumor terbatas pada satu lokalisasi saja (lateral/posterosuperior/atap dan lain-lain). T2 Tumor teradapt pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas di dalam rongga nasofaring T3 Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau orofaring) T4 Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau mengenai saraf-saraf otak. Tx Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap.

N=Pembesaran kelenjar getah bening regional N0 Tidak ada pembesaran N1 Terdapat pembesaran tetapi homolateral dan masih dapat digerakkan N2 Terdapat pembesaran kontralateral / bilateral dan masih dapat digerakkan N3 Terdapat pembesran, baik homolateral, kontralateral maupun bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar. M = Metastase jauh M0 Tidak ada metastasis jauh M1 Terdapat metastasis jauh

STADIUM Stadium I: T1 dan N0 dan M0 Stadium II: T2 danN0 dan M0 Stadium III: T1/T2/T3 dan N1 dan M0 atau T3 dan N0 dan M0 Stadium IV: T4 dan N0/N1 dan M0 atau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan M0 atau T1/T2/T3/T4 dan N0/N1/N2/N3 dan M1

Pemeriksaan foto tengkorak potongan anteroposterior, lateral dan waters menunjukan massa jaringan lunak di daerah nasofaring. Foto dasar tengkorak memperlihatkan destruksi atau erosi tulang di daerah fossa serebri media. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal dilakukan untuk mendeteksi metastasis. Pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk infeksi virus E-B telah menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasofaring. Tetapi pemeriksaan ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis pengobatan.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan

biopsy nasofaring. Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung atau dari mulut. Biopsi dari hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy). Cunam biopsi dimasukkan melalui rongga hidung menelusuri konka media ke nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy. Biopsi melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui hidung dan ujung kateter yang berada didalam mulut ditarik keluar dan diklem bersam-sama ujung kateter yang di hidung.

1. Karsinoma sel squamosa (berkeratinisasi) 2. Karsinoma tidak berkeratinisasi 3. Karsinoma tidak berdiferensiasi

Karena gejala yang sangat bervariasi dan tidak khas, keganasan ini sering sulit dibedakan dengan penyakit umum biasa, misalnya pasien dengan keluhan epistaksis, hidung tersumbat atau beringus didiagnosis sebagai rhinitis, sinusitis, deviasi septum, atau polip. Penyakit lain yang kadang tumbuh di nasofaring misalnya angiofibroma nasofaring, karsinoma adenoid kistik (silindroma), limfoepitelioma, kista nasofaring.

Stadium I

: Radioterapi Stadium II & III : Kemoradiasi Stadium IV dengan N < 6 cm : Kemoradiasi Stadium IV dengan N > 6 cm : Kemoterapi dosis penuh dilanjutkan kemoradiasi

1. Radioterapi Penatalaksanaan pertama untuk karsinoma nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi. Radioterapi merupakan pengobatan utama dan ditekankan pada penggunaan megavoltage dan pengaturan computer. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan anti virus.

2. Kemoterapi Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring ternyata dapat meningkatkan hasil terapi. Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada keadaan kambuh. kemoterapi masih tetap terbaik sebagai terapi adjuvant. Bebagai macam kombinasi dikembangkan, yang terbaik sampai saat ini adalah kombinasi dengan Cis-platinum sebagai inti.

3. Operasi Tindakan operasi pada penderita karsinoma nasofaring berupa diseksi leher radikal dan nasofaringektomi. Diseksi leher
radikal dilakukan terhadap benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah penyinaran selesai, tetapi dengan syarat tumor induknya sudah hilang yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologi dan serologi.

Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan pada kasus-kasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi dengan cara lain. 4. Imunoterapi Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-Barr, maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi

1. Komplikasi dini Biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi, seperti : - Xerostomia - Mual-muntah - Mukositis - Anoreksi - Dermatitis - Eritema 2. Komplikasi lanjut Biasanya terjadi setelah 1 tahun pemberian radioterapi, seperti : - Kontraktur - Gangguan pertumbuhan

Perhatian pertama harus diberikan pada pasien dengan pengobatan radiasi. menasihatkan pasien untuk makan dengan banyak kuah, membawa minuman kemanapun pergi dan mencoba memakan dan mengunyah bahan yang rasa asam sehingga merangsang keluarnya air liur.

~ vaksin ~ penyauluhan untuk pola hidup sehat ~ mengubah cara memasak makanan ~ stop merokok!!!

Gardner Brian. Karsinoma Nasofaring. Bloganol.com.

2009 Roezin A, Adham M. Karsinoma Nasofaring, dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi Enam. Penerbit FK UI. Jakarta. 2007 Arnold C Paulino, MD. Nasopharyngeal Cancer. Division of Radiation Oncology. Baylor College of Medicine Methodist Hospital and Texas Children's Hospital. Damayanti Soetjipto. Karsinoma nasofaring.Dalam : Nurbaiti Iskandar (ed).Tumor telinga-hidung-tenggorok diagnosis dan penatalaksanaan. Jakarta : FK UI,1989.h. 71- 84.