Anda di halaman 1dari 4

1.

Ringkasan Belajar : 1. Macam Macam Parasit Gastrointestinal Pada Hewan Kesayangan a. Golongan nematoda ( cacing gelang / cacing gilig ) Ada dua jenis cacing dari jenis Nematoda (cacing gelang/ cacing gilig) yang menginfeksi kucing yaitu Toxocara cati dan Toxascaris leonina. Meski demikian, tingkat kejadian Toxocara cati lebih besar daripada Toxascaris leonina. b. Protozoa Toxoplasma gondii Dua genus dari parasit yang sering ditemukan/menginfeksi anjing dan kucing adalah Eimeria dan Isospora. Parasit yang termasuk dalam genus Isospora memang dapat menyerang anjing dan kucing secara bergantian atau bersamasama sedangkan genus Eimeria spp walaupun terkadang ditemukan namun tidak bersifat parasitik pada anjing ataupun kucing

2. Etiologi Sampai Pencegahan Pada Gastroenteritis Toxocara sp a. Etiologi Keberadaan parasit dalam tubuh disebut sebagai infestasi. Sedangkan gastrointestinal berasal dari kata gastro/ gastrium yang berarti lambung dan intestine yang berarti usus. Gastrointestinal digunakan sebagai istilah dari saluran pencernaan. Ada dua jenis cacing dari jenis Nematoda (cacing gelang/ cacing gilig) yang menginfeksi kucing yaitu Toxocara cati dan Toxascaris leonina. Meski demikian, tingkat kejadian Toxocara cati lebih besar daripada Toxascaris leonina. b. Patogenesis Siklus hidup toxocara canis dan toxocara cati memiliki siklus hidup yang sama, tetapi

pada siklus hidup toxocara cati tidak terjadi infeksi prenatal. Daur hidup 1. Infeksi langsung Telur infektif mengandung larva ke-2 dapat menginfeksi anak anjing dan kucing umur sampai 4 minggu secara langsung dan didalam usus telur segera menetas, keluarlah larva satdium ke-2, yang selanjutnya berimigrasi kedalam hati dalam waktu 2 hari. Setelah berkembang menjadi larva stadium ke-3 larva tersebut akan berimigrasi ke paru paru. Seluruh perjalanan migrasi tersebut memerlukan waktu 3 6 hari pascainfeksi. Di paru paru larva menuju ke alveoli, bronchioli, dan bronchi, selanjutnya ke trachea, sesampai di dalam pangkal tenggorokan akan berpindah menuju pharynx, yang selanjutnya menuju ke kerongkongan, lambung, dan akhirnya sampai di usus larva sudah berubah sebagai cacing dewasa. 2. infeksi trans mammaria larva infektif telah dapat diisolasi dari air susu yang dikeluarkan pada laktasi hari ke 22, yang berarti infeksi lewat air susu dimungkinkan. Pada anak kucing kejadian askariasis oleh toxocara cati yang terbanyak terjadi melalui air susu, oleh mekaisme yang belum jelas, membentuk sista dijaringan tubuh kucing dalam keadaan arrested menjadi aktif dan berubah menjadi larva stadium kedua didalam kelenjar air susu kucing, larva yang terminum oleh anak kucing di dalam lambung dan ususnya akan berkembang sebagai stadium larva ketiga dan keempat, dan selanjutnya menjadi cacing dewasa. 3. infeksi pasca melahirkan postpartus induk dari anjing dan kucing memungkinkan membebaskan telur cacing dalam tinjanya, meskipun sebelum kawin dan menjelang melahirkan anjing tersebut telah diberi obat cacing. Telur cacing tersebut mungkin berasal dari larva dorman yang berkembang, dan mencapai dewasa. Mungkin juga telur tersebut berasal dari cacing dewasa yang hidup didalam usus anak anjing atau anak kucing, yang selanjutnya akan membebaskan telur yang berkembang menjadi larva infektif, dikeluarkan bersama tinja. Tinja anak kucing dan anjing sampai saat penyapihan dimakan oleh induknya, dengan demikian induk akan terinfeksi dan mampu memperpanjang keberadaan cacing disekitar tempat hidupnya. Reinfeksi pasca kelahiran secara spontan akan tereliminasi dalam waktu 3 bulan. Periode prepaten cacing melalui perkembangan pasca melahirkan adalah 4 minggu.

4. infeksi melalui hospes paratenik infeksi cacing melalui cara ini terjadi bila anjing dan kucing memakan karkas binatang mengerat misalnya tikus yang mengandung larva dorman didalam jaringan tubuhnya. Binatang lain misalnya cacing tanah, kecoa, unggas, bahkan domba dapat juga bertindak sebagai hospes paratenik bagi toxocara cati, larva dorman tersebut dapat langsung berkembang didalam usus anjing dan kucing tanpa harus melalui migrasi didalam tubuh anjing dan kucing lebih dahulu. Periode prepaten selama 4 minggu c. Gejala Klinis Diagnosa Diagnosa dapat dilakukan berdasarkan anamnesa, gejala klinis, dan untuk peneguhan diagnosa dapat dilakukan pemeriksaan feses. Diagnosa pascamati juga sangat penting dalam menegakkan diagnosa, cacing toxocara sp yang belum dewasa dapat ditemukan didalam mukosa usus. Perdarahan submukosa sebagai akibat trauma oleh larva dapat ditemukan di dalam paru paru dan hati. Terapi Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa obat antara lain : 1. piperazin, dosis 100 200 mg/kg. 2. mebendazole, fenbendazole, dosis 30 50 mg/kg, selama 3 hari.

Toksoplasma sp a. Etiologi Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler, terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit (bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi

sporozoit) b. Patogenesis Kucing dan hewan sejenisnya merupakan hospes definitif dari T. gondii. Di dalam usus kecil kucing sporozoit menembus sel epitel dan tumbuh menjadi trofozoit. Inti trofozoit membelah menjadi banyak sehingga terbentuk skizon. Skizon matang pecah dan menghasilkan banyak merozoit (skizogoni). Daur aseksual ini dilanjutkan dengan daur seksual. Merozoit masuk ke dalam sel epitel dan membentuk makrogametosit dan mikrogametosit yang menjadi makrogamet dan mikrogamet (gametogoni). Setelah terjadi pembuahan terbentuk ookista, yang akan dikeluarkan bersama tinja kucing. Di luar tubuh kucing, ookista tersebut akan berkembang membentuk dua sporokista yang masing-masing

berisi empat sporozoit (sporogoni). Bila ookista tertelan oleh mamalia seperti domba, babi, sapi dan tikus serta ayam atau burung, maka di dalam tubuh hospes perantara akan terjadi daur aseksual yang menghasilkan takizoit. Takizoit akan membelah, kecepatan membelah takizoit ini berkurang secara berangsur kemudian terbentuk kista yang mengandung bradizoit. Bradizoit dalam kista biasanya ditemukan pada infeksi menahun (infeksi laten). Bila kucing sebagai hospes definitif makan hospes perantara yang terinfeksi maka berbagai stadium seksual di dalam sel epitel usus muda akan terbentuk lagi. Jika hospes perantara yang dimakan kucing mengandung kista T. gondii, maka masa prepatennya 2 -3 hari. Tetapi bila ookista tertelan langsung oleh kucing, maka masa prepatennya 20 -24 hari. Dengan demikian kucing lebih mudah terinfeksi oleh kista dari pada oleh ookista. c. Diagnosa Penentuan diagnosa didasarkan atas pemeriksaan serologis, dengan mengukur titter antibodi dari 2 spesimen serum yang diambil dengan jarak 2 3 minggu, kenaikan yang mencolok, 4 kali atau lebih, menunjukkan adanya infeksi aktif. Pengukuran IgM dalam uji imunoflouresen bila titernya tinggi ( 1 : 80 ) membuktikan adanya infeksi aktif. Pemeriksaan serologi ini memberikan hasil yang memuaskan pada penderita imunokompeten dengan infeksi primer atau reaktivasi akut, namun pada penderita imunokompromais yang kemampuan membentuk antibodi berkurang. Uji serologis yang lainnya adalah uji aglutinasi, uji komplemen, dan uji polymerase chain reaction ( PCR ), Teknik diagnosis mutakhir seperti reaksi rantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR) telah digunakan untuk mendiagnosis toksoplasmosis akut. PCR adalah suatu teknik in vitro untuk memperbanyak DNA (amplifikasi) secara enzimatis melalui proses sintesis DNA baru secara berulang. d. Terapi Toxoplasma gondii tidak mampu memanfaatkan asam folat dari luar, untuk memenuhi kebutuhannya organisme tersebut harus dapat menyintesiskan sendiri, obat yang dapat menghambat sintesis asam tersebut antara lain : sediaan sulfa : sulfadiasin 120 mg/kg, diberikan 2 4 minggu. dosis kombinasi dengan pyrimetamin adalah untuk sulfadiasin 60 mg/kg, dan untuk pyrimetamin 0,5 mg/kg. Dosis tersebut adalah untuk sehari. antibiotik clindamycin- HCl dengan dosis 10 12 mg/kg diberikan per os, sekali sehari yang diberikan selama minimal 4 minggu akanmemberikan hasil yang baik.