Anda di halaman 1dari 21

NAMA NPM

: Yuli Anisa : 220110100122

Resume Immune and Hematology System I Kasus 1


Tuan A usia 30 tahun beragama islam, dirawat diruang XX sudah 1 bulan. TB: 170cm BB awal 60 kg, BB saat ini: 50 kg. Mengeluh lemah, lemas, dan tidak bergairah. Diare selama 40 hari, sehari 4x, sebanyak 250 cc setiap BAB. Terpasang infuse dextrose 500cc, 40 gtt/menit di lengan kiri. Setelah operan perawat N memeriksa ada bengkak di tempat insersi infuse, perban kotor. Infusan tercatat 5 hari yang lalu. Kemudian perawat N berencana mengganti infuse dengan pemasangan yang baru tetapi klien menolak dengan alas an seluruh badan terasa sakit. Tuan A merasa bahwa penyakitnya tidak bias disembuhkan dan ingin segera pulang saja. Berdasarkan pemeriksaan vital sign: TD: 90/60 mmHg S: 40 derajat C, R: 28x/menit, N: 90x. Tuan A sering mendadak mengidap flu yang terasa seperti flu berat sampai suatu ketika hanya karena flu tersebut Tuan A nyaris pingsan, hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan nilai ELISA Western Bloy (+), neutropenia, anemia normositik normokrom, limfosit CD4+ 200 sel/mikroliter, obat-obat yang dikonsumsi: Zidofudin.

A. Anatomi Fisiologi

Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga

menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. Sistem immune dibagi menjadi 2 mekanisme yaitu yang non-spesifik dan spesifik. Mekanisme pertahanan non-spesifik dibagi lagi menjadi 3 bagian yaitu secara fisik (kulit, selaput lender, silia), larut (biokimia dan humoral), dan seluler, sedangkan yang spesifik dibagi menjadi 2 jenis yaitu humoral dan seluler. Dilihat dari caranya diperoleh, mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga respons imun alamiah. Yang merupakan mekanisme pertahanan non spesifik tubuh kita adalah kulit dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air mata. Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan komplemen merupakan komponen mekanisme pertahanan non spesifik. Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen. Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme pertahanan spesifik disebut juga respons imun didapat. Mekanisme pertahanan non-spesifik terluar tubuh silia dan kulit :

Imunitas humoral adalah imunitas yang diperankan oleh sel limfosit B dengan atau tanpa bantuan sel imunokompeten lainnya. Tugas sel B akan dilaksanakan oleh imunoglobulin yang disekresi oleh sel plasma. Terdapat lima kelas imunoglobulin yang kita kenal, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE. Imunitas selular didefinisikan sebagai suatu respons imun terhadap antigen yang diperankan oleh limfosit T dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya.

Antibodi (bahasa Inggris: antibody, gamma globulin) adalah glikoprotein dengan struktur tertentu yang disekresi dari pencerap limfosit-B yang telah teraktivasi menjadi sel plasma, sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut. Ada beberapa jenis antibody yaitu: Antibodi E (bahasa Inggris: antibody E, immunoglobulin E, IgE) adalah jenis antibodi yang hanya dapat ditemukan pada mamalia. IgE memiliki peran yang besar pada alergi terutama pada hipersensitivitas tipe 1. Antibodi G (bahasa Inggris: Immunoglobulin G, IgG) adalah antibodi monomeris yang terbentuk dari dua rantai berat dan rantai ringan , yang saling mengikat dengan ikatan disulfida, dan mempunyai dua fragmen antigen-binding. Populasi IgG paling tinggi dalam tubuh dan terdistribusi cukup merata di dalam darah dan cairan tubuh dengan rasio serum sekitar 75% pada manusia dan waktu paruh 7 hingga 23 hari bergantung pada sub-tipe. Antibodi M (bahasa Inggris: Immunoglobulin M, IgM, macroglobulin) adalah antibodi dasar yang berada pada plasma B. Dengan rasio serum 13%, IgM merupakan antibodi dengan ukuran paling besar, berbentuk pentameris 10 area epitop pengikat, dan teredar segera setelah tubuh terpapar antigen sebagai respon imunitas awal (en:primary immune response) pada rentang waktu paruh sekitar 5 hari. Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani haima artinya darah.

Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan

tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah. Skema komponen penyusun darah :

B. Konsep
1. Definisi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrom) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang termasuk family retroveridae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya. 2. Etiologi Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.

Penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual(homoseks atau heteroseks), transfuse darah, pemakaian jarum suntik, penyalahgunaan obat terlarang melalui IV, dan secara vertical dari ibu kepada bayi melalui plasuenta dan ASI. Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS: Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala. 1. Tahap 1: Periode Jendela - HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah - Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat - Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini - Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan 2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun: - HIV berkembang biak dalam tubuh - Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat - Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV -Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek) 3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala) - Sistem kekebalan tubuh semakin turun - Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll - Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya 4. Tahap 4: AIDS - Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah - berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah : o Lelaki homoseksual atau biseks. o Orang yang ketagian obat intravena o Partner seks dari penderita AIDS o Penerima darah atau produk darah (transfusi). o Bayi dari ibu/bapak terinfeksi. HIV tidak akan menular melalui kontak social seperti: berjabat tangan, berpelukan, terpapar batuk atau bersin, gigitan nyamuk atau serangga lain, berbagi

makanan atau bersama-sama menggunakan peralatan makanan yang sama, atau tinggal serumah dengan pengidap HIV karena HIV akan mati jika diluar. Penyebaran HIV itu melalui kontak langsung cairan vagina, sperma, atau darah pasangan. 3. Manifestasi Klinis Gejala Mayor : - Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan - Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan - Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan - Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis - Demensia/ HIV ensefalopati Gejala Minor: - Batuk menetap lebih dari 1 bulan - Dermatitis generalisata - Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang - Kandidias orofaringeal - Herpes simpleks kronis progresif - Limfadenopati generalisata - Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita - Retinitis virus sitomegalo Kasus Dewasa: Bila seorang dewasa (>12 tahun) dianggap AIDS apabila menunjukkan tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai dengan sekurang-kurangnya 2 gejala mayor dan 1 gejala minor, dan gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV. 4. Klasifikasi AIDS dibagi menjadi beberapa stadium setiap stadium mempunyai gejalagejalanya masing-masing, stadium klinis ini menurut WHO ada empat stadium yaitu: Stadium klinis I 1. Asimtomatik: aktivitas normal 2. Limfadenopati generalisata. Stadium klinis II 1. Berat badan berkurang <10%

2. Manifestasi mukokutaneus ringan (dermatitis seboroik, prurigo, infeksi jamur di kuku, ulserasi oral berulang, kheilitis angularis) 3. Herpes zoster dalam lima tahun terakhir 4. Infeksi saluran napas bagian atas yang berulang(seperti sinusitis bakterial) skalapenampilan 2: simtomatik, aktivitas normal. Stadium klinis III 1. Berat badan berkurang >10% 2. Diare kronik tanpa penyebabyang jelas, >1bulan 3. Demam berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas (datang pergi atau menetap), >1 bulan 4. kandidiasis oral (thrush) 5. Oral hairy leucoplakia (OHL) 6. TB paru 7. Infeksi bakterial berat (mis. pnemonia, piomiositis) skala penampilan 3: <50% dalam masa 1 bulan terakhir terbaring. Stadium klinis IV 1. HIV wasting syndrome 2. Pneumocystic carinii pneumonia 3. Toksoplasmosis otak 4. Diare karena kriptosporidiosis >1 bulan 5. Kriptokokosis ekstra paru 6. Penyakit Cytomegalovirus pada satu organ selain hati, limpa, atau kelenjar getah bening (contoh retinitis) 7. Infeksi virus Herpes simpleks, di mukokutaneus (>1 bulan) atau organ dalam 8. Progressive multifocal leucoencephalopathy (PML) 9. Mikosis endemik yang menyebar 10. Kandidiasis esofagus, trakea, bronki 11. Mikobakteriosis atipik, menyebar atau di paru 12. Septikemia salmonela non-tifoid 13. Tuberkulosis ekstra paru

14. Limfoma 15. Sarkoma Kaposi's 16. EnsefalopatiHIV dan atau skala penampilan 4: terbaring di tempat tidur >50% dalam masa 1 bulan terakhir. Adapula klasifikasi dari US CDC (Centers for Disease Control and Preventation) untuk infeksi HIV yang didasarkan pada patofisiologi penyakit seiring memburuknya secara progresif fungsi imun yaitu: a. Group I Kriteria: 1. Infeksi akut oleh HIV 2. Gejala mirip influenza;mereda-sempurna 3. Antibody HIV positif b. Group II (HIV ASIMTOMATIK) Kriteria: 1. Antibodi HIV positif 2. Tidak ada indicator klinis atau laboratorium adanya imunodefisiensi.

c. Group II (HIV SIMTOMATIK) Kriteria: 1. Antibodi HIV positif 2. Limfadenopati generalisata persisten d. Group IV-A (HIV SIMTOMATIK) Kriteria: 1. Antibodi HIV positif 2. Penyakit konstitusional: a. Demam atau diare menetap b. Menurunnya BB lebih dari 10% dibandingkan BB normal e. Group IV-B (HIV SIMTOMATIK)

Kriteria: 1. Sama seperti group IV-A 2. Penyakit neurologic: Demensia, Neuropati, Mielopati. f. Group IV-C (HIV SIMTOMATIK) Kriteria: 1. Sama seperti group IV-B 2. Hitung limfosit CD4+ kurang daripada 200 sel/mikroliter 3. Infeksi oportunistik g. Group IV-D (HIV SIMTOMATIK) Kriteria: 1. Sama seperti group IV-C dan 2. Tuberkolosis paru, kanker serviks invasive dan keganasan lain.

5. Komplikasi AIDS dapat menimbulkan beberapa penyakit karena menyerang system immune sehingga mudah bagi penyakit untuk masuk ke dalam tubuh. Contoh penyakit yang bisa menyerang yaitu: a. TBC (Tubercolosis) b. Pneumonia c. Lupus d. Herpes simplex e. Bronkitis f. Kanker paru g. Kanker serviks, dan masih banyak penyakit yang dapat menyerang.

6. Prognosis Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain

seseorang yang terinfeksi bisa tidak menampakkan gejala selama lebih dari 10 tahun. Tanpa pengobatan, infeksi HIV mempunyai resiko 1-2 % untuk menjdi AIDS pada beberapa tahun pertama. Resiko ini meningkat 5% pada setiap tahun berikutnya.

Resiko terkena AIDS dalam 10-11 tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%.Sebelum diketemukan obat-obat terbaru, pada akhirnya semua kasus akan menjadi AIDS. Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oportunistik dan meningkatkan angka harapan hidup penderita.

Kombinasi beberapa jenis obat berhasil menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak dapat terdeteksi. Tapi belum ada penderita yang terbukti sembuh.

Teknik penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti polymerase chain reaction (PCR) dan branched deoxyribonucleid acid (bDNA) test membantu dokter untuk memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian prognosis penderita. Kadar virus ini akan bervariasi mulai kurang dari beberapa ratus sampai lebih dari sejuta virus RNA/mL plasma. Pada awal penemuan virus HIV, penderita segera mengalami penurunan kualitas hidupnya setelah dirawat di rumah sakit. Hampir semua penderita akan meninggal dalam 2 tahun setelah terjangkit AIDS.

Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan metode-metode pengobatan dan pencegahan infeksi oportunistik yang terus diperbarui, penderita bisa mempertahankan kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.

7. Pencegahan Ada beberapa jenis program yang terbukti sukses diterapkan di beberapa Negara dan amat dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia yaitu WHO untuk dilaksanakan secara sekaligus yaitu: a. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda b. Program penyuluhan sebaya (peer group education) untuk berbagai kelompok sasaran

c. Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik d. Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkotika e. Program pendidikan agama f. Program pelayanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS) g. Program promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat h. Pelatihan keterampilan hidup i. Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling j. Dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prostitusi anak k. Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, prawatan dan dukungan untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS) l. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV (Anti Retro Viral). Akan tetapi yang terpenting dan harus diterapkan oleh kita yaitu: a. Hindari hubungan sexual dan sex bebas b. Hindari obat-obatan terlarang khusunya yang menggunakan cara IV c. Penanganan hati-hati pada alat-alat d. Gunakan kondom pada hubungan seks yang beresiko e. Setia pada pasangan masing-masing f. Perkuat agama dan beribadah g. Education

C. Farmakologi dan Non-Farmakologi Farmakologi


1. Golongan Inhibator reverse transcriptase nukleosida seperti: Zidovudin, Didanosin, Zalsitabin, Stavudin, Lamivudin, Abacavir. Mekanisme kerjanya yaitu menghambat reverse transcriptase HIV, sehingga pertumbuhan rantai DNA dan replikasi HIV terhenti. 2. Golongan Inhibator reverse transcriptase nonnukleosida seperti: Nevirapin, Delavirdin, Efavirenz. Mekanisme kerjanya menghambat transkripsi RNA HIV menjadi DNA, suatu langkah penting dalam proses replikasi virus.

3. Golongan Inhibator protease seperti: Indinavir, Ritonavir, Nelfinavir, Sakulnavir, Amprenavir, Lopinavir. Mekanisme kerjanya menghambat protease HIV, yang mencegah pematangan virus HIV infeksiosa.
Obat antiretroviral (ARV) yang ada di Indonesia Nama Dagang Duviral Stavir Zerit Hiviral 3TC Viramune Neviral Retrovir Adovi Avirzid Videx Nama Genetik Golongan Sediaan Tablet, kandungan zidovudin 300 mg, lamivudin 150 mg Kapsul : 30 mg, 40 mg Tablet 150 mg Lar. Oral; 10 mg/ml Dosis (per hari) 2 x 1 tablet > 60kg : 2 x 40 mg < 60kg : 2 x 30 mg 2 x 150 mg < 50 kg : 2mg/kg, 2x/hari 1 x 200 mg selama 14 hari, dilanjutkan 2 x 200 mg 2 x 300 mg, atau 2 x 250 mg (dosis alternatif) > 60kg: 2 x 200 mg, atau 1 x 400 mg < 60kg: 2 x 125 mg, atau 1 x 250 mg 1 x 600 mg, malam 2 x 1250 mg

Stavudin (d4T) Lamivudin (3TC)

NsRTI NsRTI

Nevirapin (NVP)

NNRTI

Tablet 200 mg

Zidovudin (ZDV, AZT) Didanosin (ddl)

NsRTI

Kapsul 100 mg

NsRTI

Tablet kunyah : 100 mg

Stocrin Nevlex Viracept

Efavirenz (EFV,EFZ) Nelfinavir (NFV)

NNRTI PI

Kapsul 200 mg Tablet 250 mg

Kombinasi obat ARV untuk terapi Inisial Kolom A Lamivudin + zidovudin Lamivudin + didanosin Lamivudin + stavudin Lamivudin + zidovudin Lamivudin + stavudin Lamivudin + didanosin Lamivudin + zidovudin Lamivudin + stavudin Lamivudin + didanosin Kolom B Evanirenz*

Nevirapin

Nelvinafir

Non-Farmakologi
Menurut informasi yang saya dapat telah ditemukan obat yang dapat menyembuhkan orang dari penyakit AIDS. Obat tersebut terbuat dari hewan tokek yang langka yang berada di daerah afrika. Akan tetapi harga obat ini terbilang mahal

karena hewan tokek tersebut sangat langka. Tokek tersebut tidak semberangan tokek karena mempunyai cirri-ciri khusus yang membedakan tokek tersebut dengan tokektokek lainnya. Learning objective 1. Anemia Normositik Normokrom adalah Ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal ( MCV dan MCHC normal atau rendah . 2. Neutropenia adalah jumlah neutrofil yang sangat sedikit dalam darah. Neutrofil merupakan sistem pertahan seluler yang utama dalam tubuh untuk melawan bakteri dan jamur. Neutrofil juga membantu penyembuhan luka dan memakan sisa-sisa benda asing. 3. ELISA : enzyme linked immunosorbent assay,uji antibody hasilnya dapat diulang dengan metode alternative yaitu western blot, untuk memastikan. 4. Dextrose infuse adalah cairan elektrolit. 5. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol). Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia

D. Patofisiologi
HIV (Human Immunodeficiency Virus)

Darah, Kontak seksual

Resiko tinggi b/d infeksi HIV

Virus menyerang sel-sel tubuh (NK, limfosit B dan T, sel endotel, sel epitel, sel langerhans, sel dendritik, dan sel lainnya

Cemas karena kurangnya pengetahuan terhadap penyakit yang diderita

Replikasi Virus baru di sel yang terinfeksi

Virus menyerang system respirasi

Virus HIV merusak sel-sel tubuh

Sistem imun tubuh menurun

Virus menyerang system GI Flu berat Sistem GI melemah

Badan sering terasa sakit

Intoleran aktivitas Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang Diare Infeksi GI

Lemah, lemas tidak bergairah

BB turun Intoleran aktivitas Resiko tinggi infeksi

E. Asuhan Keperawatan
Pengkajian a. Biodata Nama Usia Agama : Tn. A : 30 tahun : Islam : lemah : mengeluh lemah, lemas tidak bergairah, diare

b. Keluhan utama c. Riwayat kesehatan sekarang

selama 40 hari sehari 4x sehari sebanyak lebih kurang 250cc setiap BAB. Sering mendadak flu berat. d. Riwayat kesehatan yang lalu hampir pingsan. e. Riwayat kesehatan keluarga f. Riwayat Psikososial disembuhkan lagi. g. Pemeriksaan fisik TB : 170 cm BB sekarang : 50 kg BB awal: 60 kg TD : 90/60 mmHg T : 40 derajat C R : 28x/menit N : 90x/menit : : :: pasrah karena merasa penyakitnya tidak dapat : sering mendadak flu berat sampai-sampai

h. Pemeriksaan diagnostic ELISA Western Blot (+) Neutropenia

Anemia normostik normokrom Limfosit CD4+ 200 sel/mikroliter

Asuhan Keperawatan Diagnosa Keperawatan:

1. Resiko infeksi terpapar oleh penyakit lain berhubungan dengan gangguan immune

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan gangguan pola eliminasi ditandai dengan diare sehari 4x 3. Intolerans aktivitas berhubungan dengan penurunan sel darah merah ditandai dengan lemas, mual, tidak bergairah 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang ditandai dengan BB turun 5. Gangguan mekanisme berhubungan dengan keputusan ditandai dengan klien merasa penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi. 6. Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan inflamasi karena proses pertahanan tubuh ditandai dengan suhu : 380

No. 1.

Diagnosa Resiko infeksi terpapar oleh penyakit lain berhubungan dengan gangguan immune

Tujuan Pasien akan bebas infeksi oportunistik dan komplikasinya dengan kriteria: tak ada tandatanda infeksi baru, lab tidak ada infeksi oportunis, tanda vital dalam batas normal, tidak ada luka atau eksudat. Tujuan : mempertahankan hidrasi cairan yang dibuktikan dengan normalnya kadar elektrolit Kriteria hasil : Terpenuhinya kebutuhan cairan secara adekuat - Defekasi kembali normal, maksimal 2x sehari

Intervensi 1. Monitor tanda-tanda infeksi baru. 2.gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan. 3. Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen. 4.Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order 5.Atur pemberian anti infeksi sesuai order .

Rasional 1. Untuk pengobatan dini 2. Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit. 3. Mencegah bertambahnya infeksi 4. Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan 5. Mempertahankan kadar darah yang terapeutik. Indikator tidak langsung dari status cairan. Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa haus, melembabkan mukosa. Mungkin dapat mengurangi diare. Meningkatkan asupan nutrisi secara adekuat. Mengurangi insiden muntah, menurunkan jumlah keenceran feses mengurangi kejang

2.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan gangguan pola eliminasi ditandai dengan diare 4x sehari

Mandiri Kaji turgor kulit,membran mukosa, dan rasa haus Pantau masukan oral dan memasukkan cairan sedikitnya 2500 ml/hari Hilangkan makanan yang potensial menyebabkan diare, yakni yang pedas/ makanan berkadar lemak tinggi, kacang, kubis, susu. Berikan makanan yang membuat pasien berselera. Kolaborasi Berikan obat-obatan sesuai indikasi : antiemetikum, antidiare atau antispasmodik. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium. Berikan cairan/elektrolit melalui

selang makanan atau IV.

usus dan peristaltik. Mewaspadai adanya gangguan elektrolit dan menentukan kebutuhan elektrolit. Diperlukan untuk mendukung volume sirkulasi, terutama jika pemasukan oral tidak adekuat.

3.

Intolerans aktivitas berhubungan dengan penurunan sel darah merah ditandai dengan lemah, lemas, tidak bergairah.

Pasien berpartisipasi dalam kegiatan, dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas. Pasien mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya dengan kriteria mual dan muntah dikontrol, pasien makan TKTP, serum albumin dan protein dalam batas n ormal, BB mendekati seperti sebelum sakit. Mengembalikan kepercayaan diri klien

1.Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas 2.Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu 3.Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. 1.Monitor kemampuan mengunyah dan menelan.

4.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi kurang ditandai dengan BB turun

2.Monitor BB, intake dan ouput 3.Atur antiemetik sesuai order 4.Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya.

1. Respon bervariasi dari hari ke hari 2. Mengurangi kebutuhan energi 3. Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan kebutuhan metabolik. 1. Intake menurun dihubungkan dengan nyeri tenggorokan dan mulut 2. Menentukan data dasar 3. Mengurangi muntah 4. Meyakinkan bahwa makanan sesuai dengan keinginan pasien.

5.

Gangguan mekanisme berhubungan dengan keputusan ditandai dengan klien merasa penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi.

1. dukung dan dorong pasien, berikan perawatan dengan sikap positif dan perilaku bersahabat. 2. Dukung keluarga/orang terdekat untuk menyatakan perasaan, berkunjung atau berpartisipasi pada perasaan.

1. Pemberian perawatan kadang-kadang memungkinkan penilaian perasaan untuk mempengaruhi perasaan pasien dan kebutuhan untuk membantu pasien merasakan nilai pribadi. 2. Anggota keluarga dapat

6.

Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan inflamasi karena proses pertahanan tubuh ditandai dengan suhu : 380

Suhu tubuh pasien menurun

1. pantau suhu tubuh pasien 2. berikan kompres hangat atau dingin 3. Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

merasa bersalah tentang kondisi pasien dan takut kepada kematian. Kebutuhan dukungan emosi tanpa penilaian dan bebas mendekati pasien. 1. Sebagai tindakan awal untuk mengobati perkembangan kesehatn pasien. 2. Kompres hangat atau dingin dapat menurunkan suhu tubuh 3. Pemberian analgetik dapat menurunkan suhu tubuh.

F. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Diagnostik a. Tes untuk diagnosa infeksi HIV : - ELISA - Western blot - P24 antigen test - Kultur HIV b. Tes untuk deteksi gangguan system imun. - Hematokrit. - LED - CD4 limfosit - Rasio CD4/CD limfosit - Serum mikroglobulin B2 - Hemoglobulin

b. Pemeriksaan Laboratorium Rapid tes HIV Uji Antigen (p24 test) Tes Generasi Keempat Uji PCR

G. Aspek Legal Etika a. Non- Maleficence


1) Terpenuhi prinsip ini saat petugas kesehatan tidak melakukan sesuatu yang membahayakan bagi pasien (do no harm) disadari atau tidak disadari. 2) Perawat juga harus melinduni diri dari bahaya pada mereka yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri, seperti anak kecil, tidak sadar, gangguan mental, dll. b. Respect for Autonomy 1) Hak untuk menentukan diri sendiri, kemerdekaan, dan kebebasan. 2) Hak pasien untuk menentukan keputusan kesehatan untuk dirinya. 3) Otonomy bukan kebebasan absolut tetapi tergantung kondisi. Keterbatasan muncul saat hak, kesehatan atau kesejahteraan orang lain terganggu. c. Beneficence 1) Tujuan utama tim kesehatan untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk pasien. 2) Perawatan yang baik memerlukan pendekatan yang holistic pada pasien, meliputi menghargai pada keyakinan, perasaan, keinginan juga pada keluarga dan orang yang berarti. d. Justice Termasuk fairness dan equality.

Pendekatan BIO,PSIKO,SPIRITUAL. Biologis :

TB : 170 cm BB sekarang : 50 kg BB awal: 60 kg TD : 90/60 mmHg T : 40 derajat C R : 28x/menit N : 90x/menit

Psikologis : Tn. A merasa bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Spiritual : -

DAFTAR PUSTAKA
1. Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC: Jakarta 2. Price, Sylvia A and Lorraine M Wilson, 2005, Patofisiologi: Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, Ed.6,EGC:Jakarta 3. Smeltzer, Suzanne and Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar Keperawatan MedikalBedah Brunner&Suddarth, vol.2, Ed.8,EGC:Jakarta 4. Sudoyo, W Aru, 2006.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jilid III, Ed.IV.IKUI:Jakarta 5. http://indonesiannursing.com/2010/01/asuhan-keperawatan-klien-dengan-hiv-aids/ 6. www.ilmukeperawatan.com