Anda di halaman 1dari 3

Optimalisasi Undang Undang terhadap Pemberantasan Korupsi

Oleh Gina Lusiana Dewi, 1106004014 Judul Korupsi : Optimalisasi Undang Undang terhadap Pemberantasan

Pengarang : Lita Pamela Kawira, M.Si. ; Rasjid sartuni, S.S., M.Hum. ; Frans Asisi Datang, S.S., M.Hum. ; Kifitiawati, S.S. ; Maria V.J. Setiawan, S.S. Data Publikasi : Latihan Bahasa Indonesia

Korupsi sudah lama mendarah daging di Indonesia. Sejak Orde lama sudah dilakukan pemberantasan korupsi melalui berbagai ketentuan yang berlaku dalam peraturan, baik sebelum adanya undang -undang Anti Korupsi sampai undang - undang tersebut diperbaharui dengan undang - undang No. 31 Tahun 1999. Setelah itu pemerintah melakukan perubahan melalui Undang undang No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas pemberantasan tindak pidana korupsi. Namun sejak lahirnya Orde Baru, korupsi mulai merajalela. Oleh karena itu diperlukan optimalisasi undang undang terhadap pemberantasan korupsi. Sejak lahirnya Undang-undang No. 3 tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yang selanjutnya dirubah melalui Undang-undang No. 31 tahun 1999 serta Undang-undang No. 20 tahun 2001, sudah disinyalir bahwa akan terjadi kesulitan untuk membuktikan apakah seseorang melakukan korupsi. Oleh sebab itu, di dalam UU Korupsi dirumuskan bahwa salah satu tindak pidana korupsi adalah siapapun yang melawan hukum untuk memperkaya diri atau orang lain atau suatu badan dengan merugikan perekonomian atau keuangan milik negara. Penjelasan umum undang undang itu mengatakan bahwa melawan hukum mencakup dalam arti formil maupun materil. Namun tidak mungkin untuk secara formil menentukan perbuatan tercela yang terdapat di dalam masyarakat. Sehingga untuk pemberantasan tindak pidana korupsi dirumuskan sebagai tindak melawan hukum secara materil. Melawan hukum secara materil berarti perbuatan tercela di dalam masyarakat yang tidak selayaknya dilakukan. Tindak pidana korupsi sesungguhnya adalah delik formil. Artinya yang dilarang adalah perbuatan korupsinya dan bukan akbatnya. Sehingga seketika

seseorang didapati telah melawan hukum seperti memperkaya diri dengan merugikan uang negara, maka ia telah memenuhi unsur tindak pidana korupsi. Namun apabila dia segera mengembalikan uang yang dikorup, dapat digunakan sebagai hal yang meringankan penjatuhan pidana oleh pengadilan. Pengadilan adalah benteng terakhir untuk mencari keadilan. Namun yang paling menyedihkan adalah terjadinya penyalahgunaan wewenang di lingkungan pengadilan. Apabila terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh mereka, maka sudah terjadi malapetaka dalam masyarakat. Faktor pengawasan merupakan faktor utama dalam pemberantasan korupsi dan kolusi. Dengan selalu diawasinya kegiatan di bidang apapun akan menjadi tindakan preventif maupun awal tindakan represif. Tetapi sampai saat ini keseluruhan pengawasan tidak berfungsi dengan semestinya. Oleh karena itu, ada usulan untuk membuat badan pengawas yang independen. Pengawasan harus dilakukan secara struktural maupun melalui badan di luar struktural yang ada. Di samping itu harus ada ketegasan tindak lanjut dari pengawas yang memang telah dari sejak semula mempunyai niat untuk memberantas korupsi. Oleh sebab itu dalam pemberantasan korupsi diperlukan persamaan presepsi tentang hal yang diatur dalam ketentuan UU korupsi. Persamaan presepsi yang dimaksudkan yaitu perbuatan melawan hukum tidak selalu harus dengan nyata dicantumkan di dalam ketentuan perundang-undangan. Jadi tidak harus melawan hukum secara formil akan tetapi juga perbuatan hukum yang melawan materil. Pada dasarnya praktik korupsi terjadi karena adanya sistem administrasi yang buruk di samping adanya kesempatan. Terkuaknya praktik korupsi terjadi apabila satu anggota tidak kebagian dan dia diam-diam melaporkan adanya praktik korupsi ini. Dalam hal ini, UU Korupsi memberikan perlindungan kepada pelapor. Namun hal ini tidak berjalan baik karena identitas pelapor diketahui dan ia mendapatkan kesulitan. Oleh karena itu, untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme ini dilakukan optimalisasi undang-undang melalui pembeharuan undang-undang. Pertama kali yang dilakukan adalah mempertegas bahwa undang-undang korupsi adalah undang-undang di bidang Hukum pidana. Dimana dalam perumusan ini setiap pasal mengandung ancaman pidana yang berbeda. Dalam draf undang-undang yang dirubah itu mengandung satu pasal blangko. Artinya

disediakan suatu pasal dimana seseorangg akan diputuskan melakukan tindak pidana korupsi apabila suatu undang-undang menyatakan bahwa pelanggarannya adalah tindak pidana korupsi. Di samping itu perubahan

undang-undang juga mempertegas bahwa delik korupsi adalah delik formil. Sehingga meskipun kekayaan negara yang dikorup sudah dikembalikan, tetap pelakunya diperiksa di depan pengadilan. Untuk menindaklanjuti pemberantasan tindak pidana korupsi dilahirkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebenarnya KPK adalah inisiatif fraksi PP dimana akhirnya ditampung oleh pemerintah. Ide semula yaitu membentuk komisi ini yang terdiri dari kepolisian dan kejaksaan. Namun kepolisian dan kejaksaan memiliki wewenang sendiri untuk melakukan penyelidikan korupsi. Tetapi dalm prosesnya,lahirlah KPK yang berlaku sekarang ini.sehingga perkara korupsi diatasi oleh kepolisian , kejaksaan, dan KPK. Batasan penyidikan antara ketiga badan itu yaitu nilai dari perkara tersebut. Jadi, pemberantasan korupsi dan kolusi di Indonesia sepenuhnya ada pada politik hukum pemerintah. Meskipun telah ada tersedia perangkat hukum, apabila tidak ada kemauan yang mendalam dari para penegak hukum, mustahil kita akan dapat memberantas korupsi maupun kolusi. Di samping itu juga diperlukan kesadaran semua warga. Jangan hanya menunggu keputusan dari atas. Akan tetapi pemberantasan korupsi harus dilakukan secara simultan.