Anda di halaman 1dari 3

Pada umumnya kebiasaan makan dan cara makan ikan menentukan tempat makan atau lokasi makan, waktu

makan ikan, cara makan ikan, dan jenis makanan kegemaran ikan. Spesies ikan antara yang satu dengan spesies ikan lainnya memiliki kebiasaan makan dan cara makan yang berbeda. Oleh karena itu kebiasaan makan dan cara makan menentukan golongan ikan, misalnya saja ikan yang sering mencari makan di dasar perairan, baik itu perairan tawar, ataupun laut dimasukan pada golongan ikan demersal. Adapun kebiasaan makan ikan lebih detailnya sebagai berikut: a. Kebiasaan Makan Ikan Berdasarkan Tempat Ikan dasar perairan (demersal) adalah jenis yang banyak menghabiskan aktivitasnya di dasar perairan, termasuk kebiasaan mencari makannya karena itulah kebiasaan makannya yang deperti itu menyebabkan ikan tersebut dimasukan dalam golongan in . Contohnya: lele dumbo dan patin. Ikan lapisan tengah perairan, yakni ikan yang mencari makanan yang mengapung di tengah perairan. Ikan jenis ini hanya sewaktu-waktu muncul ke permukaan air atau berenang di dasar perairan. Ikan mas dan bawal termasuk kedalam jenis ini. Ikan permukaan perairan, yakni ikan yang mencari makanan di permukaan air. Umumnya, ikan jenis ini menghabiskan waktunya lebih lama berada di lapisan atas perairan. Ikan dengan kebiasaan seperti ini disebut dengan pelagis atau ikan permukaan. Gurami, nila dan mujair termasuk dalam kategori ini. Ikan menempel, yakni ikan pemakan bahan organik yangmenempel pada subtrat (benda yang terdapat di dalam air), baik yang berada di dalam kolam air (lapisan tengah) maupun yang berada di dasar perairan. Ikan nilem dan sapu-sapu termasuk dalam golongan ikan dengan kebiasaan makan menempel.

b. Kebiasaan Makan Ikan Berdasarkan Waktu Penggolongan kebiasaan makan ikan tidak hanya berdasarkan tempat saja, tapi saat kebisaan makan ikan juga digolongkan berdasarkan kapan (waktu) ikan manecari makan. Penggolongannya adalah sebgai berikut: Jenis ikan yang aktif mencari makan pada siang hari. Jenis ikan ini memiliki aktivitas makan yang banyak dilakukan pada siang hari. Pada malam hari, mereka lebih banyak beristirahat. Jenis ikan dengan aktivitas seperti itu disebut ikan diurnal.Contohnya: ikan mas, nila, bawal, dan gurami. Jenis ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Ikan yang masuk dalam kategori ini jarang mencari makanan pada siang hari, tetapi aktif mencari makan di malam hari. Jenis ikan yang aktif mencari makanan pada malam adalah lele dumbo, lele lokal, dan patin (jambal). Selain itu, perbedaan kualitas air dapat menyebabkan perbedaan variasi lingkungan, karena pengaruh pencemaran air lebih besar pada ikan dibandingkan dengam hewan darat. Suhu dan kualitas air mempengaruhi karakter seperti pertumbuhan dan daya tahan terhadap penyakit dan juga perkembangan karakter, karena suhu dan perubahan kualitas air dapat memacu terbentuknya larva yang cacat. Proses biologi dan fisiologi juga bertanggung jawab terhadap pengaruh lingkungan. Sebagai contoh, pada ikan yang sedang tumbuh, perbandingan permukaan insang dengan volume badan nilainya menjadi lebih kecil. Biasanya ikan besar mempunyai toleransi yang rendah terhadap oksigen dibandingkan ikan kecil. Pada evaluasi genetik melalui uji tantang terhadap suhu rendah, ikan kecil mempunyai keuntungan dibandingkan dengan ikan besar dengan demikian hubungan antara ukuran toleransi terhadap oksigen rendah dapat ditentukan dengan menggunakan standar data genotif terhadap suatu ukuran tertentu percobaan. Ikan yang lebih besar mempunyai kepala yang besar dan panjang. Oleh karena itu, pengukuran secara morfometrik harus distandarisasikan. Salah satu teknik untuk menstandarisasi adalah dengan perbandingan. Akan tetapi, hal ini terkendala dengan perubahan bentuk badan relatif jika ikan bertambah besar. Pada ikan muda, badan ikan tumbuh besar dibandingkan dengan kepala, dengan demikian perbandingan ukuran kepala terhadap panjang total lebih kecil daripada ikan yang besar. Pada ikan yang tumbuh mendekati matang gonad, hubungan tersbut berubah, kepala mulai tumbuh lebih cepat daripada badan, dengan demikian ukuran tubuh melalui pengukuran morfometrik harus diperbaiki untuk mengoreksi data yang diperoleh nilai yang sah.

Ikan tuna dan ikan patin memiliki persyaratan habitat yang berbeda. Ikan tuna lebih menyukai tempat dengana kondisi perairannya yang subur, dan kondisi perairannya yang hangat, yang mana sirkulasi airnya bagus. Ikan tuna hidup optimal pada rentang suhu antara 170 C- 310C. Salinitas yang cocok untuk kehidupan ikan ini adalah 32-35 ppt . Ikan mencari makan secara bergerombol pada kedalaman 200 m. Dengan demikian persyaratan habitat akan menetukan tempat yang mana yang akan menjadi tempat distribusi ikan ini. Distribusi ikan ini ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang paling menetukan adalah faktor genetis, sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan yakni suhu,salinitas dan lain-lain, yang mana faktor ini menjadi media seleksi alam. Ikan tuna menyebar mengikuti arah mangsanya berada, oleh karena itu ikan ini pada musim/ kondisi tertentu melakukan migrasi mengikuti arah makanannya berada. Ikan ini tersebar di Samudra Atlantik dan Hindia di antara 400LU dan 400 LS, khususnya di daaerah periran Indonesia, yang meliputi pantai timur Aceh, panatai barat Sumatra, seltan Jawa, Bali dan Nusa Tenggata untuk wilayah Indonesia barat, sedangkan untuk wilayah Indonesia timur meliputi Laut Banda, Flores, Halmahera, dan periran Pasifik di sebelah utara Irian Jaya dan Selat Makasar

Daftar Pustaka Anonim.2011. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/2107183188.pdf diakses 8 oktober 2011 pukul 12.31 WIB. Kusrini, E et al .2007.Peranan Faktor Lingkungan dalam Pemuliaan Ikan.Bogor,Pusat Riset Perikanan Budidaya vol 2:1. Supadiningsih e al.2004. Penentuan Fishing Ground Tuna dan Cakalang dengan Teknologi Penginderaan Jauh,Surabaya,Pertemuan Ilmiah teknik Geodesi.