Anda di halaman 1dari 4

I.

PENDAHULUAN Kehidupan manusia tidak lepas dari mikroorganisme seperti bakteri,

kapang, maupun khamir. Masing-masing mikroorganisme memiliki bentuk yang berbeda satu sama lain. Bakteri, kapang, dan khamir memiliki Kapang merupakan kelompok fungi yang mempunyai filamen (miselium) dan pertumbuhannya pada makanan dapat dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas, warnanya putih hingga berbagai warna (bila spora sudah tumbuh) tergantung spesies (Sukarminah dkk., 2008). Sifat-sifat khusus dari kapang antara lain: 1. Mempunyai kemampuan untuk merombak atau menyerang bahan bahan yang tidak dapat dilakukan oleh mikroba lain seperti pelapukan, pembusukkan daun, dan lain lain. 2. Dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual. 3. Dapat dilhat dengan mata dan pertumbuhannya dapat menimbulkan warna putih, hitam, atau warna - warna lainnya. 4. Beberapa kapang ada yang berguna dalam pengolahan bahan makanan. 5. Ada yang menghasilkan antibiotik dan ada yang menyebabkan penyakit pada manusia. Kultur murni digunakan untuk mempelajari sifat pertumnuhan dari masingmasing mikroorganisme. Kultur murni yaitu suatu biakkanyang terdiri dari sel-sel dari satu spesies atau satu galur mikroorganisme. Kultur murni diperoleh dengan cara isolasi, baik metode tuang maupun metode gores (Sumanti dkk., 2008). 1. Pengenceran Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Hasil dari pengenceran ini kemudian diambil sampel 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut. Pengenceran ketiga diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu koloni tumbuh dalam medium tersebut, hal ini membuat kita memperoleh satu koloni saja murni. Kita dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel jika masih belum yakin bahwa koloni tersebut murni (Waluyo, 2005).

2.

Metode gores Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan

waktu, tetapimemerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni (Winarni, 1997). Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan (Kus Irianto, 2006). Ada beberapa teknik dalam metode goresan, yakni : a. Goresan langsung b. Goresan kuadran c. Goresan Radian 3. Metode tuang Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997). Inokulasi terhadap jamur dan bakteri cukup berbeda. Inokulasi jamur menggunakan jarum ose bentuk batang. Hifa yang berbentuk seperti benang mudah diambil dengan jarum ose batang dan mudah sekali tumbuh di dalam suatu media. Inokulasi bakteri menggunakan jarum ose bentuk bulat. Pada ujung jarum ose yang berbentuk bulat, bakteri akan dapat terambil dalam jumlah yang relatif banyak (Rohimat, 2002). Keadaan sebenarnya ( di alam bebas ) dapat dikatakan tidak ada bakteri yang hidup tersendiri terlepas dari spesies lainnya. Bakteri patogen cukup sering ditemukan bersama-sama bakteri saproba. Untuk mengisolaso suatu spesies terdapat beberapa cara, yaitu : 1. Agar tuang

Robert koch ( 1943-905 ) mempunyai metode untuk mengisolasi bakteri, yaitu dengan mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan, dan sampel ini kemudian disebarluaskan dalam suatu medium. Hasil yang diperoleh hanyalah suatu kultur biakan. Setelah medium itu mengental, maka selang beberapa jam kemudian terlihat koloni-koloni yang masing-masing dapat dianggap murni (Waluyo, 2005). 2. Metode goresan Metode ini sekarang banyak digunakan, karena tidak begitu memakan waktu. tetapi dengan cara ini maka bakteri anaerob tidak dapat rumbuh. Jika ujung kawat inokulasi dibengkokan, kemudian ujung kawat inokulasi itu setelah disentuhkan suatu koloni lalu digesekkan pada permukaan medium padat, maka beberapa waktu kemudian (kurang lebih 12 jam) akan nampak koloni-koloni yang letaknya tersebar di permukaan medium. Jika diadakan pemindahan sampel dari suatu koloni yang letaknya terpencil, maka akan diperoleh suatu kultur murni (Waluyo, 2005). Beberapa contoh metode goresan: a. Metode langsung b. Metode kuadran c. Metode radian Pemeliharaan kultur mikroorganisme umumnya menggunakan medium yang sudah disterilisasi, baik berupa medium cair maupun medium padat serta dilakukan secara aseptik. Penyimpanan dan pemeliharaan kultur cair dengan menumbuhkan suatu medium cair dengan suhu dan waktu inkubasi tertentu. Pertumbuhan mikroorganisme ditandai adanya kekeruhan, bentuk cincin, pelikel, dan flokulen serta ada tidaknya endapan (Sumanti dkk., 2008). Penyimpaann dan pemeliharaan kultur padat yaitu menumbuhkan suatu kultur dalam suatu media padat (menggunakan agar), baik dengan metode agar miring, agar tegak, maupun agar cawan. Agar miring merupakan bentuk medium yang digunakan untuk membiakan mikroorganisme yang bersifat aerob dan anaerob fakultatif. Agar tegak untuk membiakkan mikroorganisme yang bersifat aerob. Agar cawan bertujuan untuk memisahkan pertumbuhan sel-sel

mikroorganisme yang satu dengan yang lainnya. Pemeliharaan kultur padat dapat disimpan pada suhu dingin sekitar 5oC 8oC (Sumanti dkk., 2008).