Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
peringatan setengah abad kebangkitan nasional di Yogyakarta Mei 1958. Bahwa untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia perlu dibuat bangunan monumental yang didalamnya memuat Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Jadi ide pada awalnya adalah mendirikan sebuah bangunan monumen dalam rangka mengenang sejarah perjuangan bangsa. Namun setelah gagasan tersebut direalisasikan dengan Gagasan mendirikan bangunan Monumen muncul ketika diselenggarkan membangun pencangkulan pertama oleh Sri Pakualam Ke VIII pada peringatan hari ABRI 5 Oktober 1958. Pembangunan gedung diselesaikan dalam waktu dua tahun. Tanggal 26 Juni 1961 Sedangkan peletakan batu terakhir oleh Sri gedung yang kemudian didalamnya diisi dengan dokumen yang memuat Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan,maka bangunan monumen tersebut lebih dikenal sebagai museum. Pembangunannya diawali dengan Sultan

Hamengku Buwono ke IX. Sedangkan tanggal 17 November 1961 dilakukan upacara pembukaan dan peresmian oleh Sri Pakualam ke VIII. Ada perbedaan fungsi yang jelas antara Museum dengan Monumen. Monumen pada prinsipnya adalah bangunan yang ditujukan untuk sebuah peringatan. Sedangkan Museum merupakan sebuah organisasi yang mempunyai tugas mengumpulkan, merawat, meneliti, memamerkan, dan mengkomunikasikan benda-benda koleksi pada masyarakat. Kamus Besar Bahasa indonesiamemberikan pengertian terhadap kedua istilah tersebut sebagai berikut : Monumen adalah bangunan dan tempat yang mempunyai

nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi negara. Monumental artinya bersifat menimbulkan kesan peringatan kepada sesuatu yang agung. Museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat pameran tetap benda-benda yang patut mendapatkan perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni dan ilmu, tempat menyimpan barang kuno. Mencermati antara fungsi sebagai monumen maupun museum terhadap Museum Perjuangan (Museum benteng Vredeburg Unit II) dapat dikatakan bahwa kedua fungsi tersebut dapat disandang oleh Museum Perjuangan. Sebab, gedung yang ditempati sengaja dibangun untuk memperingati suatu yang agung (Sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dalam memperjuangkan Kemerdekaan) jadi merupakan bangunan

Monumental. Sedangkan mengapa disebut oleh masyarakat umum sebagai Museum, karena di dalamnya disimpan dokumen yag berupa foto atau suratsurat penting bahkan ada benda peninggalan mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.

B. Tujuan
Tujuan dari dibangunnya museum ini adalah sebagai tempat untuk menyimpan, merawat, mengumpulkan, dan memamerkan benda-benda penting mengenai sejarah serta sebagai wahana belajar generasi muda dimasa sekarang.

C. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil atas berdirinya museum ini adalah: 1. Bagi masyarakat secara umum dapat meningkatkan rasa cinta terhadap museum dan meningkatkan rasa nasionalisme 2. Bagi pelajar sebagai wahana pendidikan untuk menambah pengetahuan yang telah didapatkan di sekolah

BAB II
ISI
A.Pengelolaan Museum
1. Administrasi Secara administrasi saat ini museum perjuangan berada di bawah pengelolaan Museum Benteng Yogyakarta sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Kebudayaan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 386/FLIV/E 97 tanggal 22 Agustus 1997, serta Berita Acara Penyerahan Nomor : 14/F4.113/D2.1997 tanggal 5 September 1997 yang ditanda tangani oleh Kepala Museum Negeri Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sonobudoyo sebagai pihak pertama dan Kepala Museum Benteng Yogyakarta sebagai ppihak kedua. 2. Organisasi Organisasi museum Perjuangan sampai saat ini belum ada sejak diresmikannya sebagai museum dan dibuka untuk umum, pengelolaannya berganti-ganti sebagai berikut: Tahun 1961-1969 Museum Perjuangan dikelola oleh panitia peringatan Setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 1970-1974 Museum Perjuangan dikelola oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun 1974-1980 Museum Perjuangan berada di bawah pengelolaan Bidang

Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 4. Tanggal 30 Juni 1980-5 September 1997 Museum Perjuangan berada di bawah pengelolaan Museum Sonobudoyo. Tanggal 5 September 1997-Sekarang Pengelolaan oleh Museum Benteng Vredeburg Yogyakartadan dijadikan sebagai Museum Benteng Vredeburg Unit II.

B. Pengelola Museum
sebagai Unit II Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta pengelola Museum Perjuangan Yogyakarta ditunjuk dari karyawan/karyawati Museum Benteng Vredeburg oleh kepala Museum melalui surat tugas berikut Koordinator Unit Menyusun dan melaksanakan program kerja baik administrasi maupun teknis yang telah dikoordinasikan dengan Kepala Museum Melapporkan dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan kepada Kepela Museum baik yang sudah terprogram maupun tidak Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program

kerja/kegiatan dalam bentuk laporan bulanan, tengah tahunan, dan tahunan. Dalam melaksanakan tugas sehari-hariKoordinator Unit dibantuoleh beberapa orang staf dengan tugas sebagai berikut :

Tugas dan tanggung jawab masing-masing karyawan/karyawati 1. Petugas persuratan/perlengkapan a) Mengagendakan surat-surat keluar maupun masuk b) Menyelesaikan surat-surat yang perlu ditindaklanjuti c) Menyimpan surat-surat masuk dan keluar d) Mencatat seluruh perlengkapan inventaris kantor e) Menyimpan dan merawat barang inventaris kantor f) Membantu pembuatan laporan kegiatan bulanan, tengah tahunan, dan tahunan 2. Petugas penyajian a) Merencanakan tata penyajian pameran koleksi museum agar mudah dipahami oleh pengunjung b) Mengevaluasi tata penyajian pameran setiap tiga bulan sekali agar tidakterkesan kaku dan monoton c) Mengubah tata penyajian pameran sesuai hasil evaluasi yang dilaksanakan bersama tenaga teknis kelompok penyajian d) Membuat laporan kegiatan yang dilaksanakan 3. Petugas konservasi a) Merencanakan kegiatan perawatan/pemeliharaan koleksi b) Melaksanakan konservasi koleksi bersama tenaga teknis kelompok konservasi c) Merencanakan kebutuhan/keperluan alat dan bahan

perawatan/pemeliharaan dan konservasi d) Membuat laporan kegiatan yang dilaksanakan 4. Petugas bimbingan edukasi a) Melaksanakan kegiatan bimbingan edukasi kepada pengunjung museum

b) Memandu pengunjung museum dalam melihat koleksi yang dipamerkan c) Merencanakan pengadaan buku panduan museum d) Mencatat jumlah pengunjung museum e) Membuat laporan kegiatan yang dilaksanakan 5. Petugas keamanan a) Menjaga keamanan dan ketertiban kantor siang dan malam b) Menjaga seluruh aset yang dimiliki kantor c) Membantu kemudahan tamu kantor maupun pengunjung museum dalam segala keperluan yang ada hubunganya dengan kantor d) Menyiapkan buku tamu dan pengunjung museum yang harus selalu diisi oleh tamu kantor maupun pengunjung museum e) Mengadakan kontrol lingkungan setiap jam sekali Terhitung sejak dibukanya kembali tanggal 29 Juli 2008 setelah lebih kurang 2 tahun tidak melayani kunjungan karena ditutup akibat gempa bumi tanggal 27 Mei 2006, di gedung Museum Perjuangan Yogyakarta juga dipamerkan koleksi-koleksi dari museum sandi yang merupakan museum baru yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dan langsung berada di bawah naungan Lembaga Sandi Negara yang berpusat di Jakarta.

C. Koleksi Museum
tata pameran di dalam ruang gedung museum inimenyajikan koleksikoleksi Museum Perjuangan Yogyakarta yang terkait denganperistiwa sejarah sejak kedatangan bangsa barat ke Nusantara sampai dengan kembalinya bentuk negara dari RIS (Republik Indonesia Serikat) menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Adapun koleksi-koleksi tersebut adalah sebagai berikut :

Replika meriam Koleksi ini merupakan replika dari meriam yang terdapat di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Miniatur Kapal Angkatan Laut Belanda Koleksi ini merupakan miniatur dari kapal angkatan laut Belanda yang berhasil mendarat di Banten pada tahun 1596. Mata Uang VOC Mata uang VOC ini merupakan bukti material telah berlangsungnya sistem perdaganganyang memasukkan VOC dalam posisi penting di Nusantara Buku Kedokteran dari STOVIA Buku ini aadalah buku yang dipakai oleh para mahasiswa kedokteran di STOVIA, yang dulunya bermula dari Sekolah Dokter Jawa di Jakarta Mminiatur Kepanduan a) Miniatur Pandu HW (Hizbul Wathan) b) Miniatur KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) c) Miniatur Pandu Rakyat d) Miniatur Pramuka Tugu KBI Tgu KBI merupakan tanda atau peringatanperistiwa meleburnya organisasi kepanduan di Indonesia ke dalam satu wadah yaitu Kepanduan Bangsa Indonesia, pada tanggal 13 September 1930 di Jakarta Perlengkapan Ir. Soekarno Ketika Berada di Rengasdengklok Barang-barang yang terdiri dari tempat tidur, meja dan kursi, peralatan minum adalah merupakan perlengkapan yang dipergunakan oleh Bung Karno ketika sedang berada di Rengasddengklok

Patung PETA Tentara sukarela Pembela Tanah Air disingkat PETA adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang Samurai Samurai ini merupakan benda penyerahan seorang Kempeitei Jepang kepada R. Suprapto Wasito yang waktu itu sebagai polisi militer Replika Granat dan Selongsong Peluru Replika granat dan selongsong peluru ini milik Bapak Ansor yang digunakan dalam berbagai pertempuran dalam usahanya membantu mempertahankan kemerdekaan Indonesia antara tahun 1945-1 Januari 1950 Genuk Genuk merupakan sebuah alat yang berperan sebagai tempat air dan disediakan bagi anggota PETA yang bekerja Klise mata uang ORI dan uang ORI Klise mata uang ORI (Oeang Repoblik Indonesia)merupakan perangkat percetakan mata uang di Yogyakarta yang waktu itu berpusat di Percetakan Kanisius Jalan Gondomanan Yogyakartaselama tahun 19471949. Meja Guru Militer Akademi Yogyakarta Meja ini merupakan meja yang digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar di Militer Akademi Yogyakarta, tepatnya yang dipakai sebagai meja guru. Keranjang rumput Keranjang rumput yang biasa dipakai untuk mengusung rumput makanan ternak ini, oleh para pemuda pejuang dibalikdipakai sebagaio alat perjuangan. Dengan berdalih sebagai tukang mencari rumput mereka bertindak sebagai kurirataupun spionase.

Dokumen Parwoto Hadi Dokumen ini mmilik Parwoto Hadi aktif pada organisasi Ikatan Pelajar Indonesia di Cepu sejak 8 Oktober1947. Ini menandakan bahwa Para Pelajar juga berperan aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Lumpang Batu Lumpang batu dipergunakan untuk menyiapkan logistik anggota TGP (tentara Genie Pelajar) saat kesatuan itu bermarkas di rumah Bapak Mulyo Sewoyo di Klangkapan, Margoluwih, Sayegan,Sleman Sepeda TP Sepeda ini merupakan sepeda yang mempunyai andil besar dalam sejarah perjuangan Tentara Pelajar, sebagai sarana koordinasi antar pucuk pimpinan perjuangan dan sarana transportasi para pejuang TP pada tahun 1948-1949. Perlengkapan SPN (Sekolah Polisi Negara) di Nanggulan Perlengkapan yang terdiri dari meja kursi, kenthongan, dan lampu senthir (cublik), merupakan benda-benda bersejarah saksi keberadaan SPN (Sekolah Polisi Negara) pada masa revolusi fisik di Nanngulan, Sendangagung, Minggir, Sleman. Plakat perjuangan Buku pamflet perjuangan ini dibuat oleh para pejuang dari Kepanewon, Galur, Kulon Progo pada tahun 1948. Pamflet perjuangan tersebut dibuat untukmemberikan pengertian dan menyadarkan rakyat agar tidak mau diajak kerja sama dengan Belanda melainkan terus tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan apapun yang terjadi. Perlengkapan Kepolisian Perlengkapan Kepolisian ini adalah milik Kepolisia Gunungkidul yang dipakai sebelum tahun 1958. Peralatan yang terdiri dari tanda kepangkatan,

senjata lantakan, dan cetakan pangkat inni merupakan perlengkapan kepolisian di Gunungkidul pada masa revolusi fisik. Koleksi PMI Benda-benda koleksi PMI ini dipergunakan oleh Awali Priyadi pada saat bergabung menjadi anggota PMI pada masa revolusi fisik untuk menolong pejuang yang terluka Meja Kursi Kapten Widodo Meja dan kursi ini merupakan saksi sejarahperjuangan Kapten Widodo sebagai komandan kompi dalam jajaran TNI SWK 102 pimpinan Mayor Sarjono di daerah Bantul Radio Perjuangan Merupakan radio dari PTT Bandung yang besar peranannya dalam penyiaran berita-berita perjuangan ke penjuru dunia. Peralatan RS Boro Untuk mendukung sarana kesehatan bagi para pejuang dan warga, Rumah Sakit St. Yusuf Boro Kulon Progo yang padsa waktu itu dipimpin oleh Dr. Kusen berperan penting dalam membantu pejuang dan rakyat Koleksi Dapur Umum (Karyo Utomo) Barang-barang ini sebagai bukti kegiatan dapur umum yang menempati rumah bapak Karyo Utomo di Banaran Banjarsari Samigaluh Kulon Progo Tas Kulit Drs. Mohamad Hatta Tas kulit ini adalah tas kulit milik Bung Hatta yang dulu pernah digunakan sebagai tempat menyimpan dokumen-dokumen penting dalam rangka perjuangan diplomasi mempertahankan kemerdekaan RI di dalam perundingan KMB yang berlangsung 23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag Belanda

Peralatan minum Pangsar Jenderal Soedirman Peralatan dipergunakan oleh Pangsar Jenderal Soedirman ketika beristirahat di Rumah Bapak Bajuri, dusun Kreja, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul tanggal 8 juli 1949 Nampan dan Kapstok Letkol Soeharto Perlengkapan dipergunakan oleh Letkol Soeharto ketika bermarkas di rumah Bapak Padmodiharjo di Palihan, Palihan Temon Kulon Progo pada akhir tahun 1948 Perlengkapan Kolonel Zulkifli Lubis Gogok ini merupakan tempat candu yang merupakan aset perjuangan. Hasil penjualan candu ini dapat dipakai modal berjuang. Sedangkan poci merupakan peralatan minumyang dipakai oleh Kolonel Zulkifli Lubis Yang waktu iti bermarkas di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul EPILOG HUKUM DAN MORAL Berisi tentang pidato kenegaraan Presiden RI Ir. Soekarno tanggal 17 Agustus 1966

BAB III
Penutup
Kesimpulan dan Saran
Museum perjuangan digunakan untuk menyimpan dan merawat bendabenda peralatan perjuangan Museum Perjuangan digunakan sebagai wahana pendidikan dan untuk

meningkatkan rasa nasionalisme Museum perjuangan di masa yang akan datang lebih dijaga dan dirawat serta dipromosikan pada masyarakat agar lebih mencintai museum

MUSEUM PERJUANGAN YOGYAKARTA


Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas awal semester Mata Kuliah : Sejarah Nasional Indonesia Dosen Pengampu : Sri Endang Sumiyati, SH.

Disusun oleh :
Natalia Aryus permatasari Sigit Rupito Andi Sigit Azuan Asmadi Allan Citrawan Rahmat Alam Gracieta Dos Santos M.N Ardi Artopo Francisca clau Joaninha S.F Da Silva R.R Octhifa Ayu Serliana : 11410008 : 11410012 : 11410010 : 11410009 :11210001 :10210171 :10230014 : 10230019 : 11230021 : 08210040 : 11230017 : 10220030

UNIVERSITAS JANABADRA YOGYAKARTA 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas awal mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia (SNI). Pokok makalah ini adalah penjelasan mengenai seluk beluk Museum Perjuangan Yogyakarta Seperti pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak , makalah ini juga masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, kami mengharap kritikan dan saran yang membangun demi perbaikan selanjutnya. Tidak lupa ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca

Yogyakarta, 11 Oktober 2011