Anda di halaman 1dari 1

ABSTRAK

MEGA SILVIA AFHAN. BP 0821010. Kimia Analisis. Penentuan Break Even Point (Titik Pulang Pokok) IKM Tahu Sita di Kabupaten Padang Pariaman, 2011. IKM Tahu Sita merupakan salah satu IKM yang memproduksi tahu dengan dua versi ukuran, yaitu tahu petak dan tahu panjang. IKM yang berada di Kabupaten Padang Pariaman ini belum menerapkan sistem manajemen keuangan yang baik, atau dengan kata lain belum ada dilakukan proses pembukuan sehingga pemilik IKM belum mengetahui berapa kentungan yang diperoleh, pemilik IKM juga belum mengetahui berapa batas tahu yang harus diproduksi dan dijual untuk dapat menutupi semua biaya yang dikeluarkan agar tidak mengalami kerugian. Istilah seperti ini dikenal dengan nama Break Even Point (BEP). Break Even Point atau dikenal juga dengan titik pulang pokok adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya atau keadaan suatu usaha ketika tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Sesuai dengan pengertian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa jumlah produk yang harus terjual dan berapa penerimaan penjualan yang diterima agar IKM Tahu Sita tidak mengalami kerugian serta mengetahui berapa besar biaya dan penerimaan penjualan pada IKM Tahu Sita dalam satu bulan. Adapun manfaat penelitian bagi IKM itu sendiri adalah sebagai alat kontrol bagi IKM Tahu Sita dalam merencanakan jumlah produksi pada periode tertentu. Penelitian dilaksanakan di IKM Tahu Sita yang berada di Jalan Lintas PadangPariaman Kecamatan Sei Laban Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat, mulai dari bulan Maret hingga Mei 2011. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung Break Even Point adalah sesuai dengan yang dikemukan oleh Muslich (1997) sebagai berikut: P x Q = BT + (BV x Q) Dari hasil perhitungan data dapat disimpulkan bahwa jumlah produk yang harus terjual untuk mencapai Break Even Point (Titik Pulang Pokok) atau agar IKM Tahu Sita tidak mengalami kerugian adalah 78.113 potong dengan proporsi 44.524 potong untuk tahu petak dan 33.589 potong untuk tahu panjang, dan penerimaan penjualan sebesar Rp.50.226.700. Besar biaya produksi yang dikeluarkan dalam jangka waktu satu bulan adalah Rp.138.667.100 dengan penerimaan penjualan rata-rata sebesar Rp.172.800.000. Dengan demikian, keuntungan bersih yang diperoleh adalah Rp.25.599.675.