Anda di halaman 1dari 9

Gerakan Sosial atau biasa kita dengar dengan social movement adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis

tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbetuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_sosial) gerakan sosial sebagai: any board social alliance of people who are associated in seeking to effect or to block an aspect of social change within a society artinya, Suatu aliansi sosial sejumlah besar orang yang berserikat untuk mendorong ataupun menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat. Organisasi yang dinamis adalah organisasi yang mampu berkolaborasi dengan sekitarnya. Ketika sumber daya yang ada dapat berkolaborasi dan berbaur dengan sekitar maka akan tercipta sebuah gerakan yang besar dan terarah. Jika subjek-subjek yang berada didalam sebuah wadah organisasi mampu meningkatkan kualitas diri dan mampu meningkatkan jejaring komunikasi dan kerjasama. Tentunya konsep TriNetwork ini akan menjadi sebuah konsep yang mampu memberikan arah perubahan yang cukup bagi kemajuan organisasi. Konsep TriNetwork ini adalah sebuah ilmu yang memposisikan diri organisasi dari 3 (Tiga) aspek penting dalam dunia kemasyarakatan. Aspek tersebut adalah: 1) Masyarakat : Sebuah Organisasi yang mandiri harusnya memiliki sebuah tujuan agar dapat melakukan perubahan dan tentunya harus berorientasi terhadap masyarakat. Perjuangan yang tak berorientasi tujuan maka akan sia-sia karena tidak ada yang akan merasakan hasil dan yang mampu memberikan sebuah respons terhadap kinerja organisasi 2) Pemerintah : Sebagai penguasa dinegara adalah pemerintah, karena itu wajib

hukumnya kita berkolaborasi dengan penguasa agar kita dapat memberikan fungsi Sosial Control kita agar Policy yang ditetapkan dapat bersinergi dengan tujuan kita. Tak lepas dari itu kita juga memiliki peran yang sentral dalam upaya pemberdayaan masyarakat

yang tentunya merupakan prioritas dari pemerintahan untuk mensejahterakan rakyat dan tentunya bersinergi dengan aspek yang pertama yaitu tujuan (masyarakat) 3) Instansi Swasta : Instansi swasta merupakan aspek yang ketiga karena perkembangan dunia Ekonomi tak akan lepas dari peran instansi swasta. Aspek yang menjadi sentral dan tentunya berakibat yang sangat fatal jika ekonomi mengalami kolaps dan mengakibatkan masyarakat menderita. Ketiga aspek tersebut harusnya menjadi sebuah sinergi dalam satu arah gerak dalam membuat kebijakan organisasi yang berorientasi tujuan dan jejaring. Konsep Dalam Marxisme tradisional perjuangan kelas ditempatkan pada titik sentral dan faktor esensial dalam menentukan suatu perubahan sosial. Masyarakat kapitalis dibagi menjadi dua kelas utama, yaitu kelas proletar (kelas yang dieksploitasi) dan kelas kapitalis (kelas yang mengeksploitasi). Oleh karena itu, dalam perspektif ini, masyarakat terdiri dari dua unsur esensial, yaitu dasar dan superstruktur. Unsur dasar adalah faktor ekonomi, dianggap sebagai landasan yang secara esensial menentukan dalam perubahan sosial. Sedangkan superstruktur, adalah faktor pendidikan, budaya, dan ideologi yang berada di tempat kedua, karena faktor tersebut ditentukan oleh kondisi perekonomian. Dengan demikian, menurut pendekatan ini, perubahan sosial terkaji dikarenakan adanya perjuangan kelas, yaitu kelas yang dieksploitasi (buruh) berjuang melawan kelas yang mengeksploitasi (kelas kapitalis). Dengan kata lain, aspek esensial perubahan sosial adalah revolusi kelas buruh, dengan determinisme ekonomi sebagai landasan gerakan sosial. Pendekatan yang digunakan dalam Marxisme tradisional tersebut di atas mendapatkan kritikan dari beberapa tokoh antiesensialisme dan nonreduksionis, termasuk Antonio Gramsci. Mereka menolak pendekatan bahwa kompleksitas yang terjadi di masyarakat hanya direduksi secara sederhana dengan hubungan sebab dan akibat. Setiap sebab itu sendiri merupakan sebuah akibat dan demikian pula sebaliknya. Inti pemikiran Antonio Gramsci adalah konsep hegemoni, yang kaitan dengan studi tentang gerakan sosial dan perubahan sosial.

Pendidikan, budaya dan kesadaran merupakan sesuatu permasalahan yang sangat penting dan perlu diperjuangkan dalam perubahan sosial. Hegemoni merupakan bentuk kekuasaan kelompok dominan yang digunakan untuk membentuk kesadaran subordinat. Dalam perspektif Gramscian, konsep organisasi gerakan sosial dikategorikan sebagai masyarakat sipil terorganisir. Konsep tersebut didasarkan pada analisis tentang kepentingan konfliktual dan dealektika atau kesatuan dalam keberbedaan antara Negara(state) dengan Masyarakat Sipil (Civil Socoety). Masyarakat sipil terdiri dari berbagai bentuk masyarakat voluntir dan merupakan dunia politik utama, dimana semuanya berada dalam aktivitas ideology dan intektual yang dinamis maupun konstruksi hegemoni. Masyarakat sipil merupakan konteks dimana seseorang menjadi sadar dan seseorang pertama kali ikut serta dalam aksi politik. Dengan demikian, masyarakat sipil adalah suatu agregasi atau percampuran kepentingan, dimana kepentingan sempit ditransformasikan menjadi pandangan yang lebih universal sebagai ideologi dan dipakai atau diubah. Dalam konteks ini, bagi Gramsci masyarakat sipil adalah dunia dimana rakyat membuat perubahan dan menciptakan sejarah. Gerakan sosial berbeda dengan perilaku kolektif yang telah dibahas terdahulu, maka gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan atau kepentingan bersama. Setelah melakukan perusakan terhadap stadion, stasiun kereta api, kendaraan atau sarana umum lainnya. Para suporter yang terlibat dalam perilaku kolektif biasanya tidak mempunyai tujuan atau kepentingan bersama lagi dan perilaku kolektif akan berhenti sendirinya. Hal sama berlaku pula bagi orang yang bersama-sama melakukan pemukulan bahkan pembunuhan terhadap tersangka pelaku kejahatan. Para remaja penggemar aktor atau seniman tertentu yang telah berdesak-desakan dalam kerumpunan akhirnya berhasil memperoleh tanda tangan idola mereka. Gerakan sosial, dipihak lain, ditandai dengan adanya tujuan jangka panjang, yaitu untuk menghubah ataupun mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada didalamnya. Contoh, gerakan mahasiswa di beberapa kota di Indonesia pada tahun 1965-1966 yang dilancarkan hampir tiap hari bertujuan perimbangan politik dan kebijakan ekonomi pemerintah (pembubaran PKI, penurunan harga, perubahan kabinet). Giddens (1989) dan

Light, Keller dan Calhoun (1989) menyebutkan ciri lain gerakan sosial, yaitu penggunaan cara yang berada diluar institusi yang ada. Berbagai gerakan sosial memang memenuhi kriteria ini. gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1966 dan 1998, gerakan mahasiswa Amerika Serikat menentang perang Vietnam, memang sering berada diluar institusi yang ada. Sebagaimana dapat dilihat kasus di atas, cara yang digunakan memang berada diluar Institusi, misalnya, pemogokan, pawai, unjuk rasa atau demonstrasi tanpa izin, mogok makan, intimidasi, konfrontasi dengan aparat keamanan. Gerakan yang berupa mempertahankan nilai dan institusi masyarakat disebut Kornblum gerakan konsevatif (conservative movement). Di Amerika Serikat, misalnya usaha kaum feminis ditahun 1980-anj untuk melakukan perubahan pada konstitusi demi menjamin persamaan hak lebih besar antara laki-laki dan perempuan (ERA atau Equal Rights Amandment) ditentang dan akhirnya digagalkan oleh gerakan konsevatif perempuan STOP-ERA suatu gerakan anti feminis yang melihat sebagai ancaman terhadap peranan perempuan dalam keluarga sebagai istri dan ibu. Suatu gerakan yang disebut reaksioner (reactionary movement) manakala tujuannya ialah untuk kembali ke institusi dan nilai di masa lampau dan meninggalkan institusi dan nilai masa kini. Contoh yang di berikan Kornblum ialah gerakan Ku Klux Klan di Amerika Serikat. Organisasi rahasia ni berusaha mengembalikan keadaan di Amerika Serikat ke masa lampau di kala instituisi sosial mendukung asas keunggulan orang kulit putih di atas orang kulit hitam -White Supermacy Ada sejumlah teori yang mencoba menunjukkan akar dari gerakan sosial. Pertama, Teori Deprivasi Relatif (Relative Deprivation Theory). Menurut konsep deprivasi relatif, seseorang merasa kecewa karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Gerakan sosial muncul ketika orang merasa diabaikan atau tidak diperlakukan selayaknya, relatif dibandingkan dengan perlakuan terhadap orang lain atau bagaimana mereka merasa seharusnya diperlakukan [Geschwender, 1964; Gurney dan Tierney, 1982].Walau teori ini juga mengacu ke keadaan psikologis atau perasaan, keadaan itu jelas merupakan produk dari kondisi-kondisi sosial tertentu.

Sebagai contoh, deprivasi relatif makin meningkat di kebanyakan negara terbelakang. Pemerintah negara-negara Dunia Ketiga, yang belum lama menyatakan kemerdekaannya, tidak mampu berbuat banyak untuk memenuhi harapan rakyatnya. Revolusi sangat mungkin terjadi bukan dalam masa di mana rakyat mengalami penderitaan terparah, tapi dalam masa ketika keadaan mulai menjadi baik, yang justru mengakibatkan timbulnya peningkatan harapan dan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Ketika orang diarahkan untuk percaya bahwa kondisi mereka akan membaik dan ternyata itu tidak terbukti, mereka tampaknya akan merasa terabaikan. Ini kadangkadang disebut revolusi akibat harapan yang meningkat atau revolution of rising expectations [Davies, 1962] Hal penting yang harus dicatat di sini, deprivasi mutlak (absolute) justru tidak memunculkan gerakan sosial. Dalam kondisi negara di mana seluruh rakyat dalam keadaan miskin, terdapat deprivasi mutlak yang besar, namun tidak terdapat deprivasi relatif. Setiap orang tidak tahu hal lain kecuali kemiskinan, sehingga tidak ada yang merasa diperlakukan tidak adil. Sebaliknya, dalam negara di mana kesenjangan antara orang yang kaya dan miskin mencolok, orang miskin akan sadar akan perbedaan situasi itu dan mungkin akan merasa diabaikan. Dalam kaitan gerakan mahasiswa 1998, teori ini cukup relevan. Krisis ekonomi yang parah sejak Juli 1997 menimbulkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Masyarakat kelas menengah Indonesia, yang selama ini terkesan tenang dan patuh pada rezim, mulai gelisah dan ikut mendukung dalam gerakan reformasi. Keikutsertaan tersebut tampaknya dipicu oleh kepentingan mereka yang mulai terganggu oleh pembusukan sistem Orde Baru di bawah Soeharto, yang prosesnya makin dipercepat dengan terjadinya krisis ekonomi. Berbagai pemberitaan pers nasional pada periode awal 1998 menjelang kejatuhan Soeharto menunjukkan, bagaimana lapisan kelas menengah perkotaan ini mendukung gerakan mahasiswa dengan pasokan dana dan logistik dalam aksi-aksinya. Sedangkan mahasiswa turun ke jalan, selain karena kondisi obyektif yang telah disebutkan di atas, juga ada kondisi subyektif yang langsung berhubungan dengan kepentingan mahasiswa. Kondisi subyektif akibat krisis ekonomi itu antara lain berupa meningkatnya biaya kebutuhan hidup, juga biaya untuk keperluan kuliah di perguruan

tinggi. Dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok, uang dari orangtua yang bisa dialokasikan untuk keperluan akademis juga semakin minim. Bahkan banyak mahasiswa terancam drop out. Kesulitan keuangan ini terutama dirasakan para mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS), yang biaya kuliahnya relatif jauh lebih mahal daripada di perguruan tinggi negeri (PTN). Maka bisa dipahami bahwa dalam aksi-aksi mahasiswa 1997-1998, terlihat sangat besar peranan mahasiswa dari PTS. Sikap mereka juga tampak lebih radikal Krisis ekonomi juga menghasilkan banyak perusahaan ditutup, pengangguran meningkat, dan makin sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Dalam konteks ini, mahasiswa juga merasa kepentingannya terancam. Mereka terutama yang sudah kuliah di tingkat akhir-- tidak melihat urgensi untuk cepat menyelesaikan kuliah karena prospek lapangan kerja yang suram. Maka memprotes keadaan dengan turun ke jalan tampaknya menjadi pilihan yang wajar Kedua, Teori Mobilisasi Sumberdaya (Resource Mobilization Theory). Teori ini berargumen bahwa gerakan sosial muncul ketika orang memiliki akses pada sumberdaya, yang memungkinkan mereka mengorganisasikan suatu gerakan. Menurut asumsi teori ini, sejumlah ketidakpuasan selalu ada dalam masyarakat, namun sumberdaya yang dibutuhkan untuk membentuk gerakan-gerakan sosial tidak selalu tersedia [McCarthy dan Zald, 1973, 1977] Jadi teori ini tampak lebih menekankan pada teknik, dan bukan pada penyebab gerakan sosial. Teori ini menggarisbawahi pentingnya pendayagunaan sumberdaya secara efektif dalam menunjang gerakan sosial, karena gerakan sosial yang berhasil memerlukan organisasi dan taktik yang baik. Penganut teori ini memandang kepemimpinan, organisasi, dan taktik sebagai faktor utama yang menentukan sukses-tidaknya suatu gerakan sosial. Namun teori ini tidak berlaku pada gerakan ekspresif atau gerakan perpindahan (migratory movements), yang terbukti dapat berhasil tanpa adanya organisasi atau taktik. Mungkin saja mobilitas sumberdaya memegang peran dalam gerakan sosial, tetapi dalam kadar yang tidak dapat ditentukan.

Namun dalam konteks gerakan mahasiswa 1998, sumberdaya bagi gerakan mahasiswa tampaknya dimudahkan karena adanya dukungan yang kuat dari berbagai kalangan masyarakat, di dalam maupun luar kampus. Sumbangan dalam berbagai macam bentuk dari dosen, alumni, pengusaha, kalangan kelas menengah dan kaum profesional, organisasi nonpemerintah, pers dalam dan luar negeri, untuk gerakan mahasiswa punya andil besar dalam menggulirkan gerakan tersebut secara berkesinambungan. Ketiga, Teori Proses-Politik. Teori ini erat kaitannya dengan Teori Mobilisasi Sumberdaya. Pendekatan teori proses-politik menekankan pada peluang-peluang bagi gerakan, yang diciptakan oleh proses politik dan sosial yang lebih besar [Tilly, 1978]. Tidak adanya represi yang diasosiasikan dengan masyarakat-masyarakat demokratis, industrialisasi, dan urbanisasi, dan adanya lingkungan politik yang memadai, misalnya, memudahkan bagi munculnya gerakan-gerakan sosial. Ketika orang menyadari bahwa sistem itu rawan terhadap protes, gerakan-gerakan sosial tampaknya lebih terdorong untuk muncul. Dalam kaitan gerakan mahasiswa 1998, kondisi makro ekonomi-politik di Indonesia saat itu tampaknya menyediakan peluang-peluang bagi gerakan mahasiswa. Pemerintah Soeharto dalam keadaan lemah secara ekonomi, di bawah tekanan internasional yang memiliki sumberdaya ekonomi, sehingga harus melakukan kompromikompromi dan mau tak mau harus melonggarkan represinya.

TUGAS INDIVIDU

GERAKAN SOSIAL DAN POLITIK


OLEH NIDA ZIDNY PARADHISA 070913085

PRODI ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA