Anda di halaman 1dari 26

PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL NOMOR : 31/HK-010/B5/2007 TENTANG PEDOMAN STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA

KERJA DI LINGKUNGAN BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL KEPALA BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL
Menimbang

a. bahwa dalam rangka mendukung terwujudnya keluarga kecil bahagia sejahtera melalui program keluarga berencana nasional diperlukan sarana dan prasarana yang memadai dan terstandarisasi secara baik dengan memperhatikan efektifitas dan efisiensi;

b. bahwa, sehubungan dengan hal tersebut diatas, dipandang perlu menetapkan Pedoman Standardisasi Sarana dan Prasarana Kerja di lingkungan Badan Koordinas Keluarga Berencana Nasional dengan Peraturan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Mengingat

Undang Undang RI Nomor 10 Tahun 1992, tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3475); Undang Undang RI Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Undang Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437); Undang Undang RI Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438); Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3553); Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Pekembangan Kependudukan (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3559); Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Tahun 2004-2009; Keputusan Presiden RI Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja LPND sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2005; Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/ Kepala BKKBN Nomor 10/HK.010/B5/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BKKBN; Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/ Kepala BKKBN Nomor 70/HK.010/B5/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BKKBN Propinsi dan Kabupaten/Kota; Keputusan Kepala BKKBN Nomor 401 /HK.010/D5/2005 tentang Rencana Strategis (RESTRA) Program KB Nasional;

Keputusan Kepala BKKBN Nomor 182/HK-010/B5/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja BKKBN Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Sulawesi Barat; Keputusan Kepala BKKBN Nomor 159/HK.010/B5/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja BKKBN Provinsi Irian Jaya Barat;

14. 14. Peraturan Kepala BKKBN Nomor 28 /HK.010/ B5/2007 tentang Visi, Misi, dan
Grand Strategi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.

MEMUTUSKAN Menetapkan Pertama

: : PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL


TENTANG PEDOMAN STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL.

Kedua

: Pedoman Standardisasi Sarana dan Prasarana Kerja sebagaimana dimaksud dalam diktum
Pertama adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan ini dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Peraturan ini; standardisasi sarana dan prasaran kerja dan mendukung program keluarga berencana nasional; Keputusan Menteri Negara Kependudukan / Kepala BKKBN No : 382 / HK-010 / C3 / 94 tentang Standardisasi Sarana Angkutan Di Lingkungan Badan Keluarga Berencana Nasional dinyatakan tidak berlaku lagi; penetapan ini, akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.

Ketiga

: Pedoman ini sebagai acuan bagi BKKBN Pusat dan Provinsi dalam bidang pengelolaan

Keempat

: Dengan berlakunya Peraturan Kepala BKKBN No : 31 / HK-010 / B5 /2007, maka

Kelima

: Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, apabila terdapat kekeliruan dalam

Peraturan ini, disampaikan kepada yang bersangkutan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 31 Januari 2007.

KEPALA BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL

Dr. SUGIRI SYARIEF, MPA.

vi

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan hidayahNya telah tersusun Pedoman Standardisasi Sarana dan Prasarana Kerja di lingkungan BKKBN yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala BKKBN Nomor 31/HK.010/B5/07, Pedoman standardisasi ini merupakan penyempurnaan dari Pedoman standardisasi yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN No: 382/HK010/C3/1994 tentang, Standardisasi Sarana Angkutan dilingkungan BKKBN, Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN No: 145/HK-010/B5/2001 tentang Pedoman Penyusunan dan Perumusan Standardisasi Hasil dan Sarana Kerja di lingkungan BKKBN Pedoman Standardisasi Sarana dan Prasarana Kerja ini dimaksudkan sebagai acuan baik dalam perencanaan, pengadaan maupun pendistribusian dan penataan sarana serta prasarana kerja di lingkungan Badan koordinasi Keluarga Berencana Nasional baik di Pusat maupun di Propinsi. Dengan tertibnya pengelolaan sarana dan prasarana kerja, diharapkan akan memberi kontribusi bagi peningkatan kualitas kinerja dalam mewujudkan visi: Seluruh Keluarga Ikut KB sehingga misi untuk Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera dapat tercapai. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu menyusun Pedoman Standardisasi Sarana dan Prasarana Kerja tersebut, kami sampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih.

Jakarta, 31 Januari 2007 Plt. Sekretaris Utama,

Sudibyo Alimoeso, MA

vii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PERATURAN KEPALA BKKBN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan C. Ruang Lingkup D. Batasan Pengertian BAB II POKOK-POKOK STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA A. Tanah dan Bangunan B. Perlengkapan Ruang Kantor C. Kendaraan D. Rumah Negara BAB III KETENTUAN STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA A. TANAH DAN BANGUNAN 1. Pusat 2. Provinsi B. PERLENGKAPAN RUANG KANTOR 1. Pusat 2. Provinsi C. KENDARAAN 1. Pusat 2. Provinsi D. RUMAH NEGARA BAB IV PEMANTAUAN DAN EVALUASI A. PEMANTAUAN B. EVALUASI BAB V PENUTUP LAMPIRAN-LAMPIRAN

viii

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Program Keluarga Berencana Nasional di Era Desentralisasi sekarang ini menghadapi berbagai tantangan dan perubahan, terutama berkaitan dengan upaya menciptakan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. Tantangan dan perubahan ini salah satunya ditandai dengan tuntutan kualitas pelayanan publik yang berkembang sejalan dengan tuntutan demokratisasi dan keterbukaan. Menyikapi fenomena perubahan seperti dimaksud diatas, menjadi keharusan yang perlu disikapi adalah peningkatan kualitas kinerja para pengelola program KB nasional. Peningkatan kualitas kinerja pengelola program KB Nasional harus didukung oleh kesiapan Sarana dan Prasarana Kerja yang memadai dan terstandarisasi secara nasional mulai dari tingkat pusat sampai provinsi agar dapat berdaya guna dan berhasil guna. Oleh karena itu perlu dilakukan penetapan standarisasi sarana dan prasarana kerja dengan memperhatikan factor-faktor efisiensi, efektif, manfaat, kepatutan serta kondisi kemampuan keuangan yang tersedia. Untuk maksud tersebut, perlu ditetapkan suatu Pedoman Standadisasi Sarana dan Prasarana Kerja di lingkungan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) B. TUJUAN Tujuan Umum Tertatanya sarana dan prasarana kerja yang standar di lingkungan BKKBN dalam rangka mendukung pelaksanaan proses manajemen program Keluarga Berencana Nasional secara efektif dan efisien.

ix

Tujuan Khusus a. b. c. d. Tersedianya standardisasi luas tanah dan bangunan Tersedianya standardisasi rumah negara Tersedianya standardisasi perlengkapan kantor Tersedianya standardisasi kendaraan/angkutan dinas

C. RUANG LINGKUP Ruang lingkup standarisasi sarana prasarana kerja di lingkungan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ini meliputi : 1. Sasaran Terdiri atas : Luas Tanah dan Bangunan, Rumah Negara, Perlengkapan Kantor, Kendaraan dinas 2. Jangkauan Terdiri atas : BKKBN Pusat dan Provinsi. D. BATASAN PENGERTIAN Agar dapat diperoleh kesamaan pemahaman, perlu ditetapkan batasan pengertian sebagai berikut : 1. Standard adalah suatu kesepakatan ketentuan minimal yang harus dipenuhi untuk mencapai kualitas tertentu. Ketentuan pada pedoman ini meliputi jenis, ukuran, serta syarat-syarat teknis lainnya yang diperlukan 2. Standarisasi adalah suatu proses untuk merumuskan, merevisi, menetapkan dan menerapkan standar agar dapat dilaksanakan secara tertib dan memudahkan kerjasama dengan semua pihak (pemerintah, dan atau pengguna)

3.

Prasarana Kerja adalah fasilitas yang secara tidak langsung berfungsi menunjang terselenggaranya suatu proses kerja Aparatur dalam meningkatkan kinerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, seperti gedung kantor.

4.

Sarana kerja adalah fasilitas yang secara langsung berfungsi sebagai penunjang proses penyelenggaraan kegiatan program KBN dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan antara lain, ruang kantor, peralatan kerja dan kendaraan dinas

5.

Standardisasi Sarana Kerja adalah suatu persyaratan atau ketentuan minimal yang harus dipenuhi, meliputi : jenis, ukuran, spesifikasi teknis dan syarat lainnya yang diperlukan untuk mencapai hasil kerja yang ditentukan.

6.

Perlengkapan kantor adalah alat-alat yang dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan dan menurut jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.

7.

Bangunan Gedung adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya untuk kegiatan hunian atau tinggal, kegiatan usaha, kegiatan sosial, kegiatan budaya, dan/atau kegiatan khusus.

8.

Bangunan Gedung Negara adalah bangunan gedung untuk keperluan dinas yang menjadikan/akan menjadi kekayaan milik negara. Antara lain seperti : Gedung kantor, gudang, dan rumah negara

9.

Rumah Negara adalah bangunan yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga serta menunjang pelaksanaan tugas Pejabat dan/atau Pegawai Negeri

10.

Rumah Negara Golongan I adalah Rumah Negara yang dipergunakan bagi pemegang jabatan tertentu dan karena sifat jabatannya harus bertempat tinggal dirumah tersebut, serta hak penghuniannya terbatas selama pejabat yang bersangkutan masih memegang jabatan tertentu tersebut.

xi

11.

Rumah Negara Golongan II adalah Rumah Negara yang mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu instansi dan hanya disediakan untuk didiami oleh pegawai negeri sipil dan apabila telah berhenti atau pensiun rumah dikembalikan kepada Negara.

BAB II POKOK-POKOK STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA Sarana dan prasarana kerja yang digunakan dalam rangka mendukung penyelenggaraan kegiatan program, yang jenisnya beragam, diperlukan xii

pengaturan dalam bentuk standardisasi dan berlaku secara nasional agar secara optimal menunjang penyelenggaraan program KB Nasional. Standardisasi ini menyangkut 4 (empat) jenis kelompok sebagai berikut : A. TANAH DAN BANGUNAN 1. berikut : a. b. c. d. e. 2. berikut : a. b. c. Bentuk/Estetika Luas tanah Pembagian ruangan serta tata letak Luas bangunan Lapangan parkir Lapangan upacara Taman Jalan Pembangunan gedung kantor perlu memperhatikan hal-hal sebagai Pengadaan tanah untuk kantor perlu memperhatikan hal-hal sebagai

B. PERLENGKAPAN RUANG KANTOR Peralatan kantor sangat bervariasi baik dari segi jenis, merk, bahan serta spesifikasinya sehingga perlu diberikan batasan-batasan minimal yang harus dipenuhi. Perlengkapan ruangan kantor dimaksud adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Meja Kursi Filing kabinet Lemari Kulkas Televisi Mesin ketik xiii

8. 9.

Telepon Faksimile

10. Komputer 11. Viewer 12. Line Internet 13. AC/kipas angin 14. White board 15. Jam dinding 16. Mesin penggandaan 17. Mesin Foto copy 18. Tempat sampah C. KENDARAAN Kendaraan merupakan sarana angkutan baik untuk orang maupun barang, sehingga untuk kepentingan tertentu memerlukan alat angkutan yang berbeda satu sama lainnya untuk setiap jenis kegiatan. Mengingat wilayah satu dengan lainnya sangat berbeda kondisi geografisnya, maka diperlukan penetapan untuk masing-masing wilayah yaitu kendaraan darat kendaraan air. Kendaraan/angkutan dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Kendaraan darat Kendaraan bermotor roda 4 : a. b. c. d. e. Sedan Jeep Pick up Bus Mini Bus dan

Kendaraan bermotor roda 2 Sepeda motor 2. Kendaraan air Kendaraan air meliputi : a. Speed boat

xiv

D. RUMAH NEGARA Untuk menentukan golongan Rumah Negara dilakukan penetapan status rumah negara oleh pimpinan Instansi yang bersangkutan, dalam hal ini oleh Kepala BKKBN. Rumah Negara yang dikuasai BKKBN yang ada saat ini adalah Rumah Negara Golongan I dan Rumah Negara Golongan II. Surat izin penghunian Rumah Negara dengan Surat Keputusan Kepala BKKBN Pusat untuk Rumah Negara yang berlokasi di Pusat, dan Rumah Negara yang berlokasi di Provinsi Surat Keputusan izin penghuniannya oleh Kepala BKKBN Provinsi yang bersangkutan dengan mencantumkan besarnya nilai sewa yang harus dibayar oleh penghuni.

BAB III KETENTUAN STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA Dalam rangka standardisasi sarana dan prasarana kerja baik jumlah, jenis dan spesifikasi, maka ditetapkan ketentuan sebagai berikut : xv

A. TANAH DAN BANGUNAN 1. Tanah Dalam menyediakan alokasi tanah dan memperhatikan rencana umum tata ruang (RUTR) serta dilengkapi dokumen status kepemilikan berupa sertifikat agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. b. c. d. f. Luas bangunan (bertingkat / tidak bertingkat) Luas Lapangan parkir Luas Lapangan upacara Luas/panjang Jalan Prasarana lainnya

e.Luas Taman Dengan memperhatikan butir a s/d f standar luas tanah BKKBN Provinsi disesuaikan dengan kemampuan pembiayaan 2. Bangunan terdiri dari a. b. c. d. Bangunan Gedung Kantor Bangunan Diklat Bangunan Gudang Bangunan Rumah Negara

Dalam membangun gedung kantor harus dilengkapi dengan dokumen berupa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) serta memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Luas Lantai Luas lantai ditentukan dengan kebutuhan ruangan-ruangan yang diperlukan yaitu : 1) a) Tingkat Pusat Ruang kerja Kepala BKKBN Ruang Sekretaris Kepala 12 m2 60 m2

xvi

Ruang tunggu Ruang tamu Ruang rapat Kamar mandi/toilet b) Ruang kerja Es I Ruang Sekretaris Eselon I Ruang tunggu Kamar mandi/toilet c) d) e) f) g) h) Ruang kerja Eselon II Ruang kerja Eselon III Ruang kerja Eselon IV Ruang kerja Staf Ruang rapat komponen Pendidikan dan Latihan Ruang Widyaiswara Ruang kelas

20 m2 40 m2 48 m2 9 m2 40 m2 10 m2 25 m2 7 m2 25 m2 14 m2 7 m2 /es.IV 5 m2/staf 30 m2 7 m2/ WI 100 m2/30 or 100 m2 50 m2 50 m2 1000 m2 25 m2 9 m2 100 m2

Ruang perpustakaan Diklat Ruang Diskusi Ruang AVA Asrama Dapur Kamar mandi Ruang makan

i) -

Gudang Ruang penyimpanan Alokon 2 unit 1300 m2/unit Ruang penyimpanan Non alokon 1000 m2 Ruang administrasi Ruang Satpam Ruang Kamar Mandi 100 m2 10 m2 8 m2

xvii

j)

Ruang sarana Lain-lain Auditorium Ruang pertemuan 6 unit Ruang teknisi Pos keamanan Ruang arsip Ruang Data Pegawai Ruang penggandaan Ruang data Program Ruang Bendahara Ruang sentral telpon Ruang tunggu/Lobi Ruang perpustakaan Ruang Poliklinik Ruang komputer Ruang mesin AC sentral Ruang Generator Garasi Bengkel Menara Air Tempat Ibadah 600 m2 100 m2/unit 50 m2 25 m2 75 m2 75 m2 50 m2 50 m2 150 m2 25 m2 200 m2 100 m2 50 m2 50 m2 50 m2 30 m2 75 m2 80 m2 15 m2 100 m2

2) a)

Tingkat Provinsi Ruang Kepala Ruang kerja Ruang Sekretaris Kepala Kamar mandi/toilet 40 m2 9 m2 6 m2 12 m2 7 m2/es.IV 5 m2/staf

b) c) d) e)

Ruang kerja Eselon III Ruang kerja Eselon IV (kolektif) Ruang kerja Staf (kolektif) Pendidikan dan Latihan

xviii

Ruang Kepala Diklat Ruang kerja Eselon IV (kolektif) Ruang kerja Staf (kolektif) Ruang Widyaiswara (kolektif) Ruang Pola Ruang Tunggu/Tamu Ruang kelas Ruang perpustakaan Ruang peralatan/AVA Asrama Kamar mandi/Toilet Ruang Lobi Dapur Ruang makan Ruang Ibadah f)

12 m2 7 m2/es.IV 5 m2/staf 7 m2/WI 50 m2 50 m2 100 m2 50 m2 50 m2 200 m2 9 m2 50 m2 20 m2 50 m2 50 m2

Bangunan Gudang alokon Ruang penyimpanan Ruang administrasi Kamar mandi/Toilet 300 m2 25 m2 6m2

g)

Ruang sarana lain-lain Ruang arsip Ruang Rapat Ruang peralatan Ruang teknisi Pos keamanan Ruang sentral telpon Ruang tunggu/Lobi Ruang perpustakaan Ruang komputer Ruang Generator Garasi 25 m2 100 m2 50 m2 25 m2 50 m2 25 m2 50 m2 25 m2 25 m2 50 m2 50 m2 xix

Menara Air Tempat Ibadah 3. Bentuk dan Estetika Bangunan

25 m2 50 m2

Dalam menentukan bentuk dan estetika bangunan kantor, Diklat, gudang dan Rumah negara, perlu diperhatikan kemampuan pembiayaan dan disesuaikan dengan situasi kondisi budaya, serta peraturan daerah setempat. B. PERLENGKAPAN RUANG KANTOR Penyediaan Perlengkapan ruang kantor disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat jabatan yang ada, yang antara lain : 1. Tingkat Pusat a. Meja besar Biro Kursi kerja Kursi hadap Sice (kursi tamu) Meja rapat Kursi rapat Pesawat telepon Pesawat Televisi Lemari/rak (buku/kaca) Filing kabinet Komputer Meja telepon Faksimile White board Papan acara Kulkas Lambang Garuda Foto Presiden dan Wapres Kepala BKKBN 1 bh 1 bh 2 bh 1 set 2 bh 10 bh 2 bh 1 bh 2 bh 2 bh 2 set 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 set xx

Jam dinding AC Peta Indonesia b. Meja besar Biro Kursi kerja Kursi hadap Sice (kursi tamu) Meja rapat Kursi rapat Pesawat telepon Pesawat Televisi Lemari/rak (buku/kaca) Filing kabinet Komputer Meja telepon Faksimile White board Papan acara Kulkas Lambang Garuda Foto Presiden dan Wapres Jam dinding AC Peta Indonesia c. Meja besar Biro Kursi kerja Kursi hadap Sice (kursi tamu) Meja rapat Eselon II Eselon I

1 bh 1 bh 1 set

1 bh 1 bh 2 bh 1 set 2 bh 10 bh 2 bh 1 bh 2 bh 2 bh 2 set 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 set 1 bh 1 bh 1 bh

1 bh 1 bh 2 bh 1 set 1 bh xxi

Kursi rapat Pesawat telepon Pesawat Televisi Lemari/rak (buku/kaca) Filing kabinet Komputer Meja telepon Faksimile White board Papan acara Kulkas Jam dinding AC d. Meja besar Biro Kursi kerja Kursi hadap Sice (kursi tamu) Pesawat telepon Lemari/rak (buku/kaca) Komputer e. Meja Biro Kursi kerja Kursi hadap Filing kabinet Komputer Pesawat telepon f. Meja staf Staf Eselon IV Eselon III

6 bh 2 bh 1 bh 2 bh 1 bh 2 set 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh

1 bh 1 bh 2 bh 1 set 1 bh 2 bh 1 set

1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 set 1 bh

1 bh xxii

Kursi kerja Filing kabinet g. Meja Biro Kursi kerja Kursi hadap Filing kabinet Komputer

1 bh 1 bh Pejabat Fungsional 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 set

Setiap unit kerja (Biro/Direktorat/Pusat/Inspektorat) di lengkapi dengan meja rapat dengan jumlah kursi 15 30 buah. 2. Tingkat Provinsi a. Kursi Kepala 1 bh 1 bh 2 bh 1 set 1 bh 6 bh 2 bh 1 bh 2 bh 1 bh 2 set 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh xxiii kerja Meja besar Biro Kursi hadap Sice (kursi tamu) Meja rapat Kursi rapat Pesawat telepon Pesawat Televisi Lemari/rak (buku/kaca) Filing kabinet Komputer Meja telepon Faksimile White board Papan acara Kulkas Jam dinding AC

Lambang Garuda Foto Presiden dan Wakil Presiden Foto Gubernur dan Wakil Gubernur Peta Wilayah b. Eselon III Meja besar Biro Kursi kerja Kursi hadap Pesawat telepon Lemari/rak (buku/kaca) Komputer Meja telepon c. Eselon IV Meja Biro Kursi kerja Kursi hadap Filing kabinet Komputer

1 bh 1 bh 1 bh 1 bh

1 bh 1 bh 2 bh 1 bh 2 bh 1 set 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 set

d. Staf Meja staf Kursi kerja Filing kabinet e. Pejabat Fungsional Meja Biro Kursi kerja Kursi hadap Filing kabinet Komputer 1 bh 1 bh 1 bh 1 bh 1 set 1 bh 1 bh 1 bh

xxiv

C. KENDARAAN Kendaraan di lingkungan BKKBN terdiri dari kendaraan roda empat dan atau lebih, kendaraan roda dua, dan kendaraan air adalah kendaraan milik BKKBN yang dipergunakan hanya untuk kepentingan dinas, meliputi : kendaraan dinas jabatan, kendaraan dinas operasioanal. 1. Tingkat Pusat a. Kendaraan dinas jabatan kepala dan eselon I. Jenis kendaraan dimaksud adalah : Kepala BKKBN, berupa mobil sedan ukuran 2.600 3.000 cc. Eselon I, berupa Sedan ukuran 2.000 2.300 cc.

b. Kendaraan dinas jabatan eselon II adalah sarana angkutan yang digunakan untuk kelancaran pelaksanaan tugas, fungsi dan tanggung jawab. Jenis kendaraan yang dimaksud adalah : Sedan ukuran 1800 2000 cc atau Jeep ukuran 1.500 2.300 cc

c. Kendaraan operasional terdiri dari pelayanan perkantoran, pelayanan tamu, pelayanan pegawai, Dharma wanita, serta pelayanan kesehatan diperlukan sarana angkutan sesuai dengan fungsi, sifat pelayanan dan beban tugas dalam bentuk : 1). Pelayanan kantor - Minibus ukuran . 1.300 2.300 cc - Pick up ukuran . 1.500 2.300 cc - Sepeda motor ukuran 90 125 cc 2). Pelayanan tamu - Minibus ukuran 1.300 2.300 cc 3). Pelayanan pegawai - Bus ukuran 2.500 4.000 cc xxv

4).

Pelayanan Dharma Wanita - Mini Bus ukuran. 1.300 2.300 cc

5).

Pelayanan kesehatan - Mini Bus ukuran 1.300 2.300 cc (ambulance)

d.

Kendaraan operasional diklat terdiri dari : Bus ukuran 2.500 4.000 cc Minibus ukuran 1.300 2.300 cc

f.

Kendaraan operasional gudang terdiri dari : Pick up ukuran 1.500 2.300 cc Sepeda motor ukuran 90 125 cc

g.

Kendaraan operasional lapangan terdiri dari : Jeep Mupen ukuran 1.600 2.300 cc Bus Pelkon ukuran 2.500 3.000 cc Kendaraan dinas Kepala BKKBN Provinsi sarana angkutan yang digunakan untuk kelancaran

2.

Tingkat Provinsi .a adalah

pelaksanaan tugas, fungsi dan tanggung jawab. Jenis kendaraan yang dimaksud adalah : - Sedan ukuran 1800 2000 cc atau Jeep ukuran 1.500 2.300 cc b. Kendaraan operasional terdiri dari operasional bidang, pelayanan perkantoran, pelayanan tamu, Dharma wanita 1) Operasional Bidang Jeep ukuran. 1.800 2300 cc Sepeda motor ukuran 90 125 cc 2) Pelayanan kantor

xxvi

Jeep ukuran. 1.800 2300 cc Sepeda motor ukuran 90 125 cc 3) Operasional Gudang Pick up ukuran 1.500 2.300 cc Sepeda motor ukuran 90 125 cc

4) Pelayanan tamu - Minibus ukuran 1.300 2.300 cc 5) Operasional BALATBANG - Jeep 1.800 2.300 cc - Mini Bus ukuran 2.500 4.000 cc - Sepeda Motor ukuran 90 -125 cc 6) Pelayanan Dharma Wanita - Jeep atau Mini Bus ukuran. 1.800 2.300 cc

7) Operasional Diklat Cabang - Jeep 1.800 2.300 cc - Mini Bus ukuran 2.500 4.000 cc - Sepeda Motor ukuran 90 -125 cc 8) Kendaraan operasional lapangan terdiri dari : - Jeep Mupen ukuran 1.600 2.300 cc - Bus Pelkon ukuran 2.500 3.000 cc

D.

RUMAH NEGARA Rumah Negara berfungsi sebagai tempat tinggal/hunian yang meliputi :

xxvii

Rumah Negara Golongan I yang dipergunakan bagi pemegang jabatan tertentu, selama pejabat yang bersangkutan masih memegang jabatan negara Rumah Negara Golongan II untuk didiami oleh Pegawai Negeri selama menjadi PNS, diprioritaskan pada Pejabat Eselon II di Pusat, dan Eselon II, III di tingkat Provinsi

BAB IV PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam rangka memperoleh gambaran pemanfaatan Pedoman Standardisasi

Sarana dan Prasarana kerja yg menyangkut penyediaannya di lingkungan BKKBN perlu dilakukan kegiatan pemantauan dan evaluasi, sebagai berikut : A. 1. BKKBN Pusat Sekretaris Utama cq Kepala Biro Tata Usaha melaksanakan koordinasi, pemantauan implementasi pedoman standardisasi sarana dan prasarana di lingkungan BKKBN Pusat Pemantauan

xxviii

2. BKKBN Provinsi Kepala BKKBN Provinsi cq Sekretaris melaksanakan koordinasi, pemantauan penerapan pedoman standardisasi sarana dan prasarana di lingkungan BKKBN Provinsi B. Evaluasi 1. BKKBN Pusat Sekretariat Utama cq Biro Tata Usaha bersama Biro Hukum, Organisasi dan Tata laksana serta Inspektorat melaksanakan evaluasi penerapan Pedoman Standardisasi sarana dan prasarana kerja di lingkungan BKKBN 1 (satu) kali dalam satu tahun. 2. BKKBN Provinsi

BKKBN Provinsi cq. Sekretariat bersama Bidang Supervisi melaksanakan evaluasi penerapan Pedoman Standardisasi sarana dan prasarana kerja di lingkungan BKKBN Provinsi 1 (satu) kali dalam satu tahun.

BAB V PENUTUP Buku Pedoman Standardisasi Sarana dan prasarana di lingkungan BKKBN ini merupakan acuan yang baku dalam penyediaan dan pemanfaatannya untuk meningkatkan kelancaran tugas dan fungsi perkantoran dan operasional dalam mendukung pengelolaan program KB Nasional di era reformasi. Disamping itu penyediaan buku pedoman sarana dan prasarana kerja di lingkungan BKKBN ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja pengelola program KBN dari tingkat pusat sampai provinsi di lingkungan BKKBN, Dengan adanya buku pedoman standardisasi sarana dan prasarana kerja, diharapkan dapat lebih meningkatkan keseragaman pemanfaatan antar unit xxix

kerja dan antar provinsi di lingkungan BKKBN yang pada akhirnya dapat mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.

xxx