Anda di halaman 1dari 9

TEORI MONETER KLASIK

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Ekonomi Moneter Dosen Pengampu: Murtadho Ridwan, Lc, M.Sh

:Disusun Oleh 1. Khafid Sugiyanto 2. Mutmainah 3. Mah Sunah : 209 070 : 209 111 : 209 138

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN SYARIAH/EKONOMI ISLAM 2011

TEORI MONETER KLASIK

A. PENDAHULUAN Dalam bab ini, kami akan membahsa sekaligus membandingkan pendapat dari berbagai ekonom mengenai sisi permintaan dari pasar uang. Makalah kali ini akan dibahas mengenai pendapat-pendapat dari para ekonom klasik, yaitu mereka yang menganut aliran ekonomi makro sebelum Keynes.1 Teori moneter ini banyak dihubungkan dengan kuantitas uang, yang beranggapan bahwa faktor yang banyak mempengaruhi nilai uang adalah jumlah uang yang beredar (quantity theory of money). Menurut paham klasik, uang tidak memiliki pengaruh terhadap sector riil, tidak ada pengaruhnya terhadap tingkat bunga, kesempatan kerja atau pendapatan nasional. Pendapatan nasional ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja, jumlah yang dipakai serta teknologi. Tanpa perubahan dari faktor-faktor produksi maka pendapatan tidak akan berubah. Sebenarnya, teori ini adalah teori mengenai permintaan sekligus penawaran akan uang beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah hubungan antara penawaran uang (jumlah uang yang beredar) dengan nilai uang (dengan tingkat harga). Hubungan antara kedua variabel tersebut dijabarkan lewat konsepsi mengenai permintaan akan uang. Perubahan akan jumlah uang yang beredar berinteraksi dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan akan permintaan nilai uang. B. RUMUSAN MASALAH Dari judul tersebut, dapat diambil beberapa rumusan masalah, yakni mengenai: 1. Bagaimana teori kuantitas dari Recardo ? 2. Bagaimana teori Irving Fisher ?
1Boediono, Ekonomi Makro Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2, BPFE, Yogyakarta, 1982.

3. Bagaimana teori kuantitas dari D. H. Robertson ? 4. Bagaimana teori Cambridge/Marshall Equation ? C. PEMBAHASAN Teori moneter banyak dihubungkan dengan teori kuantitas uang yang beranggapan bahwa faktor yang banyak mempengaruhi nilai uang adalah jumlah uang yang beredar (quantity of money atau supply of money). Menurut paham klasik, uang tidak memiliki pengaruh terhadap sektor riil, tidak ada pengaruhnya terhadap tingkat bunga, kesempatan kerja atau pendapatan nasional. Pendapatan nasional ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja, jumlah yang dipakai serta tehnologi. Tanpa perubahan dari faktor-faktor produksi maka pendapatan tidak akan berubah. Teori ini sebenarnya adalah teori mengenai permintaan sekaligus penawaran akan uang beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah pada hubungan antara penawaran uang (jumlah uang yang beredar) dengan nilai uang (dengan tingkat harga). Hubungan antara kedua variabel tersebut dijabarkan lewat konsepsi (teori) mengenai permintaan akan uang. Perubahan akan jumlah uang yang beredar berinteraksi dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan akan permintaan nilai uang. Uang, pengaruhnya hanyalah terhadap harga-harga barang. Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan kenaikan harga saja. Jumlah output yang dihasilkan tidak berubah. Inilah yang disebut dengan classical dichotomy, merupakan pemisahan sector moneter dengan sector riil.sektor moneter tidak ada hubungannya dengan sektor riil. Uang hanya merupakan suatu tudung saja dalam perekonomian. 1. Teori Kuantitas dari Recardo Recardo adalah orang yang mula-mula menemukan teori nilai uang dengan mengemukakan bahwa kuat dan lemahnya nilai uang sangat tergantung dari pada jumlah uang yang beredar. Jika jumlah uang berubah menjadi 2 kali lipat maka nilai uang akan menurun setengah kali dari

semula, sebaliknya jika jumlah uang kurang hingga setengah, maka nilai uang akan menjadi dua kali lipat. Hal itu terjadi, karena bila jumlah uang naik menjadi 2 kali lipat maka akan berpengaruh terhadap harga yang naik menjadi dua kali lipat dan otomatis nilai akan menurun menjadi setengahnya. Teori ini dituliskan dengan rumus sebgai berikut: M = kP Dimana: M = kuantity of money P = general price level Jumlah uang beredar semula sebesar OM, dan tingkat harga setinggi OP1. Bila jumlah uang naik dua kali lipat (OM2) maka harga naik pula dua kali (OP2) dan nilai uang turun setengahnya.2 2. Teori Irving Fisher Teori ini mendasar pada hukum say (says law) bahwa ekonomi akan selalu berada dalam keadaan full employment. Yang secara sederhana, Irving Fisher merumuskan teorinya dengan persamaan : MV = PT Dimana : M : Jumlah uang V : Tingat perputaran uang (velocity) P : Harga barang T : Volume barang yang menjadi objek transaksi Persamaan di atas merupakan identitas sebab selalu benar. Sebagai contoh: Dalam setiap transaksi selalu ada penjual dan pembeli. Jumlah uang yang dibayarkan oleh pembeli harus sama dengan jumlah uang yang diterima penjual. Artiya, jumlah unit barang yang ditransaksikan (T) yang dikalikan dengan harga rata-rata barang tersebut (P) harus selalu sama dengan uang yang ada di dalam masyarakat (M) dikalikan dengan
2http://www.kumpulanteorimoneterklasik.com diakses tanggal 28-09-2011.

perputarannya (total pengeluaran transaksi). Dengan kata lain total pengeluaran (MV) sama dengan nilai barang yang dibeli (PT). Dalam rumus MV = PT, yang dimaksud M adalah common money saja, yaitu jumlah uang logam ditambah dengan jumlah uang kertas Negara ditambah dengan jumlah uang kertas bank. Jadi uang giral belum dimasukkan dalam M tersebut. Sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat adalah common money ditambah demand deposit money dengan kata lain uang kartal ditambah uang giral. Sehingga oleh Fisher rumusnya diperluas menjadi MV + M1.V1 = PT, dimana M1 merupakan uang giral dan V1 merupakan kecepatan berputarnya uang giral. Fisher mengatakan bahwa permintaan akan uang timbul dari penggunaan uang dalam proses transaksi. Setiap perekonomian dalam setiap tahap pertumbuhannya mempunyai suatu sistem kelembagaan yang menentukan sifat dari proses transaksi. Adapun implikasi dari teori moneter oleh Fisher adalah sebagai berikut: a. Permintaan akan uang didalam suatu masyrakat merupakan suatu proporsi tertentu dari volume transaksi dan volume transaksi merupakan suatu proporsi konstan pula dari tingkat output masyarakat (PN). b. Teori moneter ini mempunyai implikasi yang penting yaitu bahwa tingkat pendapatan nasional equilibrium atau tingkat harga umum bila tingkat full employment sudah tercapai, tidak bisa dipengaruhi oleh kebijakan fiscal.3 Ciri yang sangat penting dari teori moneter klasik adalah implikasi bahwa bila permintaan akan uang tidak sensitive atau tidak elastis terhadap tingkat bunga maka kebijaksanaan fiskal tidak efektif dan kebijaksanaan
3Boediono, Ekonomi Makro Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2, BPFE, Yogyakarta, 2001, hlm. 20.

moneterlah yang efektif. 3. Teori Kuantitas dari D. H. Roberston Teori kuantitas dari Irving Fisher diformulasikan kembali oleh D.H. Robertson menjadi M = kPT. Sebenarnya kedua teori ini sama, perbedaanya terletak pada pendekatannya. Irving Fisher meninjau melaui transaction velocity (kecepatan rata-rata transaksi uang). Sedangkan D.H. Robetson mendekati melaui cash balance (lama rata-rata uang menganggur). Oleh karena teori kuantitas dari Robetson ini disebut cash balance equaition., Faktor V dalam transaction velocity approach oleh Robertson diganti dengan k dalam cash balance approach. k yang menunjukkan berapa lama rata-rata tiap rupiah mengaggur dalam cash adalah merupakan kebalikan dari V yang menunjukkan berapa kali tiaptiap rupiah berpindah tangan. Jadi k = 1/V dan kalau pada rumus M = kPT, kita ganti k menjadi 1/V. maka diperoleh rumus; M = TP/V atau MV = PT.4 4. Teori Cambridge/Marshall Equation Teori Cambrige, seperti halnya dengan teori Fisher dan teori-teori klasik lainnya, berpokok pangkal pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (means of exchange). Karena itu, teori-teori klasik (termasuk Fisher dan teori Chambrige) melihat kebutuhan uang (atau permintaan akan uang) dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat likuid untuk tujuan transaksi.5 Perbedaan utama antara teori Chambrige dan teori Fisher, terletak pada tekanan dalam teori permintaan akan uang. Chambrige pada
4http://www.zuhrisaputrahutabarat.blogspot.com201105teori-moneter-klasik.htm, download tgl 05/10/2011 5Boediono, Op. Cit, hlm. 23-24. di

perilaku individu dalam mengalokasikan kekayaannya antara berbagai kemungkinan untuk kekayaan, yang salah satunya bisa berbentuk uang. Perilaku ini dipengaruhi oleh pertimbangan untung rugi dari pemegang kekayaan dalam bentuk uang. Dalam tahap perumusan teori selanjutnya, para ekonom Chambrige mengadakan berbagai penyerdehanaan. Terutama Pigou, variabel-variabel lain yang mempengaruhi permintaan akan uang kemudian dianggap konstan dalam jangka pendek atau hanya dimasukkan kedalam analisa teori uang mereka secara kualitatif. Jadi dalam jangka pendek, teoritisi Chambrige menganggap bahwa jumlah kekayaan mempunyai hubungan yang proporsional-konstan satu sama lain. Teori Chambrige menganggap bahwa, cateris paribus permintaan akan uang adalah proporsional dengan tingkat pendapatan nasional. Secara matematika sederhana, teori Chambrige/Marshall Equation dapat ditulis sebagai berikut : M=k.P.Y Dimana : M : jumlah uang k : bagian dari GNP yang diwujudkan uang kas, k = 1/V P : harga (price) Y : GNP riil Marshall tidak menggunakan volume transaksi (T) sebagai alat pengukur jumlah output, tetapi diganti dengan Y. T lebih besar dari Y, karena Y tidak termasuk barang setengah jadi. Persamaan Marshall sudah menunjukkan adanya permintaan uang dimana masyarakat menghendaki bagian tertentu dari pendapatannya diwujudkan dalam bentuk uang kas, yang ditunjukkan dengan nilai K. Teori Chambridge adalah selangkah lebih maju dari Fisher, meskipun kedua-duanya jelas masih dalam tradisi teori uang klasik.

D. KESIMPULAN Teori moneter banyak dihubungkan dengan teori kuantitas uang yang beranggapan bahwa faktor yang banyak mempengaruhi nilai uang adalah jumlah uang yang beredar (quantity of money atau supply of money). Menurut Recardo: kuat dan lemahnya nilai uang sangat tergantung dari pada jumlah uang yang beredar. Sehingga dapat dituliskan dengan rumus M = kP. Sedangkan Irving Fisher mendasarkan teorinya pada hukum says law bahwa ekonomi akan selalu berada dalam keadaan full employment. Yang secara sederhana dirumuskan MV = PT. adapun ciri yang sangat penting dari teori moneter klasik ini adalah implikasi bahwa bila permintaan akan uang tidak sensitive atau tidak elastis terhadap tingkat bunga maka kebijaksanaan fiskal tidak efektif dan kebijaksanaan moneterlah yang efektif. Teori kuantitas dari Irving Fisher diformulasikan kembali oleh D.H. Robertson menjadi M = kPT. Sebenarnya kedua teori ini sama, perbedaanya terletak pada pendekatannya. Irving Fisher meninjau melaui transaction velocity (kecepatan rata-rata transaksi uang). Sedangkan D.H. Robetson mendekati melaui cash balance (lama rata-rata uang menganggur). Teori Cambrige, seperti halnya dengan teori Fisher dan teori-teori klasik lainnya, berpokok pangkal pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (means of exchange). E. PENUTUP Demikianlah makalah yang dapat kami susun mengenai teori moneter klasik. Semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca. Dan apabila terdapat kesalahan baik dari segi format penyusunan maupun substansi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

Boediono, Ekonomi Makro Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2, BPFE, Yogyakarta, 1982. Boediono, Ekonomi Makro Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2, BPFE, Yogyakarta, 2001. http://www.kumpulanteorimoneterklasik.com http://zuhrisaputrahutabarat.blogspot.com201105teori-moneter-klasik.html