Anda di halaman 1dari 17

1

ANALISIS MIOSIS

Ringkasan

Miosis merupakan cara pembelahan sel yang khusus, terjadi pada waktu pematangan sel-sel benih, yang membagi angka kromosm menjadi setengahnya. Tidak ada sel-sel lain dari tubuh yang mampu melakukan pembelahan cara ini. Sebenarnya ada dua pembelahan atau kejadiaan pemisahan dalam miosis dan langka menuju kearah itu dapat dibagi dalam 5 tahap seperti pada awal mitosis. (Pai, 1992). Adapun tujuan percobaan ini adalah Untuk mengetahui proses meiosis pada kuncup bunga lili (Lylium sp.).adapun kegunaan percobaan sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Sitogenetika Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Sitogenetika Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25 m dpl. Percobaan ini dilaksanakan pada hari sabtu, 25 April 2009 pukul 08.00 sampai dengan selesai. Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah bunga lili (Lylium sp.) yang sedang kuncup sebagai objek percobaan, Larutan Former (Acetocarmiin) untuk mewarnai objek percobaan, larutan fiksatif sebagai larutan untuk perendaman bunga lili, spiritus sebagai bahan bakar bunsen dan kertas HVS sebagai wadah untuk menggambar data. Adapun alat yang digunakan pada

percobaan ini adalah mikroskop sebagai alat untuk melihat objek percobaan, gelas benda dan gelas penutup sebagai wadah sel yang akan diamati, bunsen untuk memanaskan objek percobaan, korek api untuk menyalakan bunsen, jarum pentul untuk mengambil objek percobaan, pipet tetes untuk mengambil larutan dan kulkas untuk menyimpan bunga lili yang diberi perlakuan perendaman larutan former. Adapun prosedur percobaan ini adalah Dengan Perendaman Larutan Fiksatif. Dimasukkan kuncup bunga lili ke dalam larutan fiksatif dan disimpan di tempat dengan suhu kamar apabila kurang dari 24 jam, atau di simpan dalam lemari es apabila lebih dari 24 jam. Dikeluarkan sel induk megaspora dengan menggunakan jarum pentul. Diletakkan bagian tersebut di atas gelas objek dan teteskan 2 tetes aceto orcein 2% serta biarkan beberapa saat agar warna bisa terserap, kemudian ditutup dengan gelas penutup. Dilewatkan preparat di atas bunsen 2-3 kali. Diketuk preparat dengan karet pinsil dan ditekan dengan ibu jari. Diamati preparat di bawah mikroskop Digambar hasil yang diperoleh di lembaran data. Tanpa Perendaman Larutan Fiksatif Dikeluarkan sel induk megaspora dari bunga lili dengan jarum pentul. Diletakkan bagian tersebut di atas gelas objek dan diteteskan acetocarmin. Dibiarkan beberapa saat agar warna terserap dan kemudian ditutup dengan gelas penutup. Diletakkan preparat di atas api bunsen 2-3 kali. Diketuk-ketuk preparat dengan karet pinsil dan ditekan dengan ibu jari. Diamati preparat dibawah mikroskop dan digambar hasil yang diperoleh. Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada tahap profase I kromosom pada stadia leptonema kelihatan sebagai benang panjang, pada stadia zigonema

kromosom homohog berpasangan pada pakhinema kromosom mengadakan

kontraksi,

diplonema

mulai

memisah

kromatid-kromatid

yang

semula

berpasangan membentuk bivalen dan pada diakinensis kontraksi maksimal dan kiasmata semakin jelas jadi hasil pengamatan merupkan tahap profase I karena msih mengandung nukleus, dinding sel hal ini sesuai dengan literatur

Suryo (1998) yang menyatkan bahwa pada profase I kromosom pada stadia leptonema kelihatan sebagai benang panjang, pada stadia zigonema kromosom homohog berpasangan pada pakhinema kromosom mengadakan kontraksi, diplonema mulai memisah kromatid-kromatid yang semula berpasangan membentuk bivalen dan pada diakinensis kontraksi maksimal dan kiasmata semakin jelas jadi hasil pengamatan merupkan tahap profase I karena msih mengandung nukleus, dinding sel Dari hasil percobaan diperoleh kesimpulan yaitu Dalam pembelahan meiosis, kromosom dapat dilihat pada fase metafase I. Pembelahan meiosis pada fase profase I membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada pembelahan mitosis pada fase profase. Perbandingan antara mitosis dan meiosis terjadi dalam hal pembiakan. Pembelahan mitosis terjadi pada sel-sel somatis dan pembelahan meiosis terjadi pada sel generatif, yaitu pada alat perkembangbiakan generatif.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Miosis merupakan cara pembelahan sel yang khusus, terjadi pada waktu pematangan sel-sel benih, yang membagi angka kromosm menjadi setengahnya. Tidak ada sel-sel lain dari tubuh yang mampu melakukan pembelahan cara ini. Sebenarnya ada dua pembelahan atau kejadiaan pemisahan dalam miosis dan langka menuju kearah itu dapat dibagi dalam 5 tahap seperti pada awal mitosis. (Pai, 1992). Setiap spesies organisme mempunyai sejumlah khas kromosom. Lalat kecil Drosophila melanogaster mempunyai 8, bawang 16, dan manusia 46. (jangan sampai hal tersebut anda mengandaikan bahwa jumlah kromosom suatu spesies perlu merupakan suatu fungsi mengenai kekomplekan organisme itu). Hal ini mencerminkan fakta bahwa kromosom terdapat pada pasangan homolog. Sel yang mengandung suatu komplemen lengkap pasangan kromosom dikatakan mempunyai jumlah kromosom daploid atau 2n (Tamarin dan Leavitt, 1982) Reproduksi seksual melibatkan pembentukan gamet-gamet

(gametogenesis) dan penyatuannya (fertilisasi). Gametogenesis hanya terjadi dalam sel-sel khusus (Garis nutfah, germ line) dari organ reproduktif.. Gametgamet mengandung jumlah kromosom haploid (n), tetapi berasal dari sel-sel daploid (2n) dari garis nutfa. Ruanya jumlah kromosom direduksi menjadi setengahnya pada waktu gametogenesis (Stansfield, 1991)

Secara umum kromosom bersifat sangat stabil dan dapat diperkirakan perilakunya secara konstan. Oleh karena itu salah satu cara menentukan ciri kromosom tanaman adalah berdasarkan jumlah kromosom itu sendiri. Sebagai contoh tanaman jagung, jika kita mengecambahkan benih jagung dalam inkubator kemudian memotong ujung akar dan mengambil bagian meristematisnya, selanjutnya mewarnainya dan meletakkan sel-sel dibawah slide mikroskop maka kita akan menemukan 20 kromosom pada setiap selnya. Kelompok kromosom ini disebut dengan komplemen kromosom. Jumlah kromosom yang sama yang ditemukan pada sel daun atau bagian vegetatif lainnya (Goodenough, 1988) Tujuan Percobaan Adapun tujuan percobaan ini adalah Untuk mengetahui proses meiosis pada kuncup bunga lili (Lylium sp.). Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di

Laboratorium Sitogenetika Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Profase 1 dibedakan atas beberapa stadia 1. Leptonema : kromosom kelihatan sebagai benang panjang sehingga masing-masing kromosom belum dapat dikenal , benang kromosom yang halus itu dinamakan kromonema, benang yang nampak pada kronomena ini sangat tipis dan dngan mikroskop cahaya terlihat sebagai benang tunggal 2. Zigonema: pada stadia ini kromosom homolog berpasangan sehingga dalam sel heterozigot seperti tersebut alel-alel akan berhadap letak dan tidak berjauhan seperti semula 3. pakihnema : ini merupakan stadium yang paling lama dari profase I 4. miosis, benang-benang kromosom nampak semakin jelas ang disebaban karena kromonemata mengadakan kontraksi 5. Diplonema : stadia ini ditandai dengan mulai memisah

kromatid kromatid yang semula berpasangan membentuk bivalen 6. Diakinensis : stadia ini merupakan stadia terakhir dari profase 1 miosis, kromosom-kromosom mengadakan kontraksi maksimal dan kiamata semakin jelas (Suryo, 1995) Tiap pasang kromosom homolog berada pada bidang ekuator, dengan berjajar, sentromer tiap pasang kromosom homolog terikat oleh benang gelendong

yang berasal dari kutub yang berlawanan, sentromer tidak membelah, ini salah satu pembeda metafse mitosis (Sastrosumarjo, 2006). Setiap dalam mitosis anafase dimulai ketika kromsom bergerak ke kutub yang berlawanan, tiap kromosom dari tiap pasang kromosom homolog bergerak kekutub yang berlawanan masing-msing kutub mendapat banyak kromosom separuhnya (Dodson, 1956) Kromosom mengendur dan membran inti mungkin terbentuk sitokinensis mungkin terjadi spesiesnya, jika sitokinensis terjadi maka akan dihasilkan dua sel yang masing-masing berisi kromosom separuhnya dengan jumlah DNA dua kali (Satu kromosom dua kromatid ) (Gardner and Snustad, 1980). Profase II : fase ini membran nukleus jika ada akan melebur, benangbenang gelendong akan terbentuk pada tumbuhan yang sitokinensis tidak terjadi pada telofase. Benang gelendong harus tegak lurus pada keadaan anafase agar terbentuk hasil miosis ysng normal, kromosom mulai kondensasi dan menebal sehingga memperlihatkan banyaknya kromosom separuh

(Sastrosumarjo, 2006). Kromosom tunggal masing-masing terdiri dua kromatid yang terikat pada daerah sentromer, terletak pada bidang ekuator dan memperliatkan gambaran seperti pada metafase mitosis (Suryo, 1998) Sentromer terbelah dua, masing-masing kromatid tertarik oleh benang gelendong kekutub yang berlawanan (reduksi kromosom yang sebenarnya). Keadaan ini juga mirip dengan anfase mitosis, tetapi dengan jumlah kromosom separuh (Sastrosumarjo, 2006)

Telofase II tahap empat sel pembentukan tetrad 1. Selaput inti terbentuk mengelilingi empat hasil pembentukan 2. Betuk kromosom tidak jelas

3. Masing-masing inti mengandung satu anggota dari pasangan kromosom, keadaan haploid 4. Terjadi modifikasi sel lebih lanjut untuk menghasillkan gane (Crowder, 1986) Dengan selesainya pembelahan mitotik yang kedua maka terbentuk empat sel masing-masing mengandung satu anggota sepasang homolog kromosomnya saja yang terdapat dalam sel aslinya ( Kimball, 1983) Perbandingan antara mitosis dan meiosis : NO Mitosis 1. Terjadi pada hampir semua sel. 2. Meiosis Hampir tejadi pada sel generatif, yaitu

dalam alat pembiakan generatif. Hanya berlangsung satu kali saja Berlangsung dalam dua tingkat selama selama satu daur. satu daur, yang disebut meiosis I dan meiosis II. yang Pada meiosis I terjadi pembelahan reduksi yang memisahkan kromosom homolog dalam anafase I, sedangkan pemisahan kromatid berlangsung homolog selama meiosis II. berpasangan. Kromosom-kromosom

3.

Merupakan

pembelahan

memisahkan kromatid serupa.

4.

Kromosom

tidak

Biasanya tidak berbentuk kiasmata, berpasangan, dan biasanya terbentuk sehingga tidak terjadi pertukaran- kiasmata sehingga ada pertukaran 5. pertukaran sifat genetik. sifat-sifat genetik. Dari satu sel diploid dihasilkan dua Dari satu sel induk yang diploid sel anakan yang masing-masing dihasilkan empat sel anakan yang 6. tetap dipoid. masing-masing haploid. Hasil dari mitosis dapat mengalami Hasil dari meiosis tidak dapat

mitosis lagi. 7.

mengalami meiosis lagi, tetapi dapat rendah Pada

mengalami mitosis. Meiosis dapat berlangsung sejak Pada makhluk tingkat zigot dan seterusnya makhluk masih hidup. berlangsung dalam zigot.

selama (cendawan dan ganggang) meiosis makhluk tingkat tinggi berlangsung setelah makhluk itu mencapai umur hendak membentuk gamet.

(Suryo, 1995).

10

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Sitogenetika Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25 m dpl. Percobaan ini dilaksanakan pada hari sabtu, 25 April 2009 pukul 08.00 sampai dengan selesai. Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah bunga lili (Lylium Sp.) yang sedang kuncup sebagai objek percobaan, Larutan Former (Acetocarmiin) untuk mewarnai objek percobaan, larutan fiksatif sebagai larutan untuk perendaman bunga lili, spiritus sebagai bahan bakar bunsen dan kertas HVS sebagai wadah untuk menggambar data. Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah mikroskop sebagai alat untuk melihat objek percobaan, gelas benda dan gelas penutup sebagai wadah sel yang akan diamati, bunsen untuk memanaskan objek percobaan, korek api untuk menyalakan bunsen, jarum pentul untuk mengambil objek percobaan, pipet tetes untuk mengambil larutan dan kulkas untuk menyimpan bunga lili yang diberi perlakuan perendaman larutan former.

11

Prosedur Percobaan Dengan Perendaman Larutan Fiksatif. Dimasukkan kuncup bunga lili ke dalam larutan fiksatif dan disimpan di tempat dengan suhu kamar apabila kurang dari 24 jam, atau di simpan dalam lemari es apabila lebih dari 24 jam. Dikeluarkan sel induk megaspora dengan menggunakan jarum pentul. Diletakkan bagian tersebut di atas gelas objek dan teteskan 2 tetes aceto orcein 2% serta biarkan beberapa saat agar warna bisa terserap, kemudian ditutup dengan gelas penutup. Dilewatkan preparat di atas bunsen 2-3 kali. Diketuk preparat dengan karet pinsil dan ditekan dengan ibu jari. Diamati preparat di bawah mikroskop Digambar hasil yang diperoleh di lembaran data. Tanpa Perendaman Larutan Fiksatif Dikeluarkan sel induk megaspora dari bunga lili dengan jarum pentul. Diletakkan bagian tersebut di atas gelas objek dan diteteskan aceto carmin. Dibiarkan beberapa saat agar warna terserap dan kemudian ditutup dengan gelas penutup. Diletakkan preparat di atas api bunsen 2-3 kali. Diketuk-ketuk preparat dengan karet pinsil dan ditekan dengan ibu jari. Diamati preparat dibawah mikroskop dan digambar hasil yang diperoleh.

12

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pembahasan Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada tahap profase I kromosom pada stadia leptonema kelihatan sebagai benang panjang, pada stadia zigonema

kromosom homohog berpasangan pada pakhinema kromosom mengadakan kontraksi, diplonema mulai memisah kromatid-kromatid yang semula

berpasangan membentuk bivalen dan pada diakinensis kontraksi maksimal dan kiasmata semakin jelas jadi hasil pengamatan merupkan tahap profase I karena msih mengandung nukleus, dinding sel. Hal ini sesuai dengan literatur

Suryo (1998) yang menyatkan bahwa pada profase I kromosom pada stadia

13

leptonema kelihatan sebagai benang panjang, pada stadia zigonema kromosom homohog berpasangan pada pakhinema kromosom mengadakan kontraksi, diplonema mulai memisah kromatid-kromatid yang semula berpasangan membentuk bivalen dan pada diakinensis kontraksi maksimal dan kiasmata semakin jelas jadi hasil pengamatan merupkan tahap profase I karena msih mengandung nukleus, dinding sel Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada tahap metafase I Tiap pasang kromosom homolog berada pada bidang ekuuator, dengan berjajar, sentromer tiap pasang kromosom homolog terikat oleh benang gelendong yang berasal dari kutub yang berlawanan, sentromer tidak membelah, ini salah satu pembeda metafse mitosis. Hal ini sesuai dengan literatur Sastrosumarjo (2006) yang menyatakan bahwa Tiap pasang kromosom homolog berada pada bidang ekuuator, dengan berjajar, sentromer tiap pasang kromosom homolog terikat oleh benang gelendong yang berasal dari kutub yang berlawanan, sentromer tidak membelah, ini salah satu pembeda metafse mitosis Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada fase anafase dimulai ketika kromsom bergerak kekutub yang berlawanan, tiap kromosom dari tiap pasang kromosom homolog bergerak kekutub yang berlawanan masing-msing kutub mendapat banyak kromosom separuhnya. Hal ini sesuai dengan literatur Dodson (1956) yang menyatakan bahwa pada tahap anafase dimulai ketika kromsom bergerak kekutub yang berlawanan, tiap kromosom dari tiap pasang kromosom homolog bergerak kekutub yang berlawanan masing-msing kutub mendapat banyak kromosom separuhnya

14

Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada fase telofase kromosom mengendur dan membran inti mungkin terbentuk sitokinensis mungkin terjadi spesiesnya, jika sitokinensis terjadi maka akan dihasilkan dua sel yang masing-masing berisi kromosom separuhnya dengan jumlah DNA dua kali (Satu kromosom dua kromatid) Hal ini sesuai dengan literatur

Gardner and Snustad (1980). Yang menyatakan bahwa pada proses telofase kromosom mengendur dan membran inti mungkin terbentuk sitokinensis mungkin terjadi spesiesnya, jika sitokinensis terjadi maka akan dihasilkan dua sel yang masing-masing berisi kromosom separuhnya dengan jumlah DNA dua kali (Satu kromosom dua kromatid ) Dari hasil analisis diperoleh Profase II : fase ini membran nukleus jika ada akan melebur, benang benang gelendong akan terbentuk pada tumbuhan yang sitokinensis tidak terjadi pada telofase. Benang gelendong harus tegak lurus pada keadaan anafase agar terbentuk hasil miosis ysng normal, kromosom mulai kondensasi dan menebal sehingga memperlihatkan banyaknya kromosom separuh Hal ini sesuai dengan literatur Sastrosumarjo (2006) menyatakan bahwa Profase II : fase ini membran nukleus jika ada akan melebur, benang benang gelendong akan terbentuk pada tumbuhan yang sitokinensis tidak terjadi pada telofase. Benang gelendong harus tegak lurus pada keadaan anafase agar terbentuk hasil miosis ysng normal, kromosom mulai kondensasi dan menebal sehingga memperlihatkan banyaknya kromosom separuh Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada metafase II Kromosom tunggal masing-masing terdiri dua kromatid yang terikat pada daerah sentromer, terletak pada bidang ekuator dan memperliatkan gambaran seperti pada metafase mitosis

15

Hal ini sesuai dengan literatur Suryo (1998) Yang menyatakan bahwa pada metafase Kromosom tunggal masing-masing terdiri dua kromatid yang terikat pada daerah sentromer, terletak pada bidang ekuator dan memperliatkan gambaran seperti pada metafase mitosis. Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada fase Anafase II Sentromer terbelah dua, masing-masing kromatid tertarik oleh benang gelendong kekutub yang berlawanan (reduksi kromosom yang sebenarnya). Keadaan ini juga mirip dengan anfase mitosis, tetapi dengan jumlah kromosom separuh hal ini sesuai dengan literatur Sastrosumarjo (2006) yang menyatakan bahwa pada fase anafase Sentromer terbelah dua, masing-masing kromatid tertarik oleh benang gelendong kekutub yang berlawanan (reduksi kromosom yang sebenarnya). Keadaan ini juga mirip dengan anfase mitosis, tetapi dengan jumlah kromosom separuh. Dari hasil analisis diperoleh bahwa pada fase Telofase II tahap empat sel pembentukan tetrad Selaput inti terbentuk mengelilingi empat hasil pembentukan Betuk kromosom tidak jelas Masing-masing inti mengandung satu anggota dari pasangan kromosom, keadaan haploid Terjadi modifikasi sel lebih lanjut untuk menghasillkan gane Hal ini sesuai dengan literatur Crowder (1986) yang menyatakan bahwa Telofase II tahap empat sel pembentukan tetrad Selaput inti terbentuk mengelilingi empat hasil pembentukan Betuk kromosom tidak jelas Masing-masing inti mengandung satu anggota dari pasangan kromosom, keadaan haploid Terjadi modifikasi sel lebih lanjut untuk menghasillkan gane

16

KESIMPULAN

1. Dalam pembelahan meiosis, kromosom dapat dilihat pada fase metafase I. 2. Pembelahan meiosis pada fase profase I membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada pembelahan mitosis pada fase profase. 3. Perbandingan antara mitosis dan meiosis terjadi dalam hal pembiakan. 4. Pembelahan mitosis terjadi pada sel-sel somatis. 5. Pembelahan meiosis terjadi pada sel generatif, yaitu pada alat perkembangbiakan generatif.

17

DAFTAR PUSTAKA

Crowder, L.V., 1997. Genetika Tumbuhan, Terjemahan oleh L. Kusdiarti. Gajah Mada Universitas Pers, Yogyakarta. Dodson, E.O., 1956. Genetics. W.B. Saunders Company,Philadelphia. Gardner, E. J and D. P. Snustad, 1984. Principles of Genetic. John Willey and Sons, New York. Goodenough, U., 1988.Genetika, Alih bahasa Soernartono A. Erlangga, Jakarta Kimball. J.W., 1983. Biologi. IPB-Press, Bogor Pai, A.C., 1992. Dasar-Dasar Genetika. Alih bahasa Muhidin A. Erlangga, Jakarta Sastrosumarjo, S., 2006. Sitogenetika Tanaman. IPB-Press, Bogor Stansfield, W.D., 1991. Genetika. Erlangga. Jakarta Suryo, 1995. Sitogenetika . UGM-Press, Yogyakarta Suryo, 1998. Genetika. UGM-Perss, Yogyakarta. Tamarin, R dan R.W. Leavitt,.1982. Principles of Genetics. Wm C Brown Publishing, Borto