Anda di halaman 1dari 17

Kompartemen Intraseluler dan Transpor Sitoskeleton

Disusun oleh: Ria Permatasari 2224090258 Ruth May 2224091855 Silfia Wulan Ningsih 2224090504

Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2011

Kompartemen Intraseluler dan Transpor Sitoskeleton


Kompartemen intraseluler adalah bagian-bagian di dalam sel. Transpor adalah proses perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Jadi, dalam materi Kompartemen Intraseluler dan Transpor Sitoskeleton, kita akan membahas bagian-bagian sitoskeleton yang berfungsi sebagai transpor.

Sitoskeleton eukariota. Aktin digambarkan dengan warna merah dan mikrotubulus dengan warna hijau. Struktur berwarna biru ialah inti sel.

Berasal dari kata cyto yang artinya sel/ruang dan skeletal yang artinya kerangka Sitoskeleton adalah kerangka sel yang lentur; bisa dipendekkan dan diperpanjang Merupakan sistem penghubung (serabut halus) antara nukleus, organel dan membran plasma, serta membentuk

morfologi sel
Berfungsi untuk : Memberikan dukungan mekanis dan mempertahankan bentuk Motilitas dan pengaturan sel 3 Jenis serabut yang membentuk sitoskeleton: Mikrotubula Mikrofilamen Filamen intermediet

Istilah motilitas mencakup perubahan tempat sel maupun pergerakan bagian sel yang terbatas. Motilitas sel umumnya membutuhkan interaksi sitoskeleton dengan protein yang disebut molekul

motor.Molekul ini menyebabkan sel otot


berkontraksi. Contohnya, vesikula mungkin berjalan ke tujuannya dalam sel di sepanjang mono-sel yang disediakan oleh sitoskeleton, dan sitoskeleton memanipulasi membran plasma untuk membentuk vakuola makanan selama fagositosis.

Mikrotubula ditemukan dalam sitoplasma semua sel eukariot. Mikrotubula berupa batang lurus dan berongga yang berdiamaeter sekitar 25nm dan mempunyai panjang 200nm hingga 25m. Dinding tabung berongga dibangun dari protein globular yang disebut tubulin. Tiap molekul tubulin berbobot molekul 110.000 Dalton Setiap molekul tubulin terdiri atas 2 subunit, polipeptida yang serupa, -tubulin, -tubulin. Kedua macam tubulin ini tersusun berselang seling sepanjang benang. Mikrotubula memanjang dengan menambah molekul tubulin diujungujungnya.

Polimerisasi tubulin
Tubulin dapat berpolimerisasi membentuk mikrotubulus. Percobaan polimerisasi dapat dibuat dengan campuran tubulin, larutan penyangga, dan GTP pada suhu 37 C. Dalam tahapannya, jumlah polimer mikrotubulus mengikuti kurva sigmoid. Pada fase lag, tiap molekul tubulin berasosiasi untuk membentuk agregat yang agak stabil. Beberapa di antaranya berlanjut membentuk mikrotubulus. Saat elongasi, tiap subunit berikatan dengan ujung ujung mikrotubulus. Saat fase plato, (mirip fase log pada pembelahan sel), polimerisasi dan depolimerisasi berlangsung secara seimbang karena jumlah tubulin bebas yang ada pas-pasan.

Model segmen mikrotubula dilihat dengan Cryo-electron microscopy.

Mikrotubula memberi bentuk dan mendukung sel dan juga berfungsi sebagai jalur yang dapat digunakan organel yang dilengkapi dengan molekul motor untuk dapat bergerak, misalnya mikrotubula agaknya menuntun vesikula sekretoris dari aparatus golgi ke membran plasma. Mikrotubulus merupakan penyusun sitoskeleton yang terbesar. Mikrotubulus terdapat pada gelendong sel, yaitu berupa benang-benang spindel yang menghubungkan dua kutub sel pada waktu sel membelah. Gerakan kromosom dari daerah ekuator ke kutub masing-masing pada anafase dikendalikan oleh mikrotubulus. Maka dari itu, mikrotubulus berfungsi juga dalam pergerakan kromosom saat pembelahan sel.

Sentrosom dan Sentiol


Dalam banyak sel, mikrotubula tumbuh dari sentrosom, suatu daerah yang terletak dekat nukleus. Mikrotubula ini berfungsi sebagai balok penahan tekanan sitoskeleton. Sentrosom di sel hewan terdapat sentriol, masing-masing tersusun atas sembalan pasang tripet. Mikrotubula yang tersusun ke dalam suatu cincin. Sentrosom pada sel tumbuhan tidak memiliki sentriol.

Silia dan flagela


Dalam eukariota, susunan khusus mikrotubula bertanggung jawab untuk menggetarkan flagel dan silia. Banyak organisme eukariotik uniseluler bergerak di air dengan bantuan silia dan flagela, dan sperma hewan, alga, serta tumbuhan. Silia biasanya muncul dalam jumlah banyak di permukaan sel. Silia ini berdiameter kira-kira 0.25 m dan panjang 2-20 m. Silia bekerja seperti dayung, dengan tenaga yang berganti-ganti dan kibasan balik yang menghasilkan gaya yang arahnya tegak lurus terhadap sumbu silia. Flagela berdiameter sama tetapi lebih panjang dari silia, yaitu 10-200 m. Selain itu, jumlah flagela terbatas. Flagela memiliki gerak yang berombakombak yang menghasilkan gaya yang searah dengan sumbu flagela. Contohnya, kita dapat mengamati fungsi mikrotubula dengan mengamati gerak pada Paramaecium dan Chlamydomonas.

Lengan yang memanjang dari tiap doublet mikrotubula ke doublet berikutnya merupakan motor yang bertanggung jawab untuk gerakan membelok silia dan flagela. Molekul motor yang membangun lengan ini merupakan protein yang sangat besar yang disebut dyenein. Lengan dyenein melakukan siklus pergerakan yang rumit (mencengkeram, doublet sebelahnya, menarik, melepas, dan mencengkeram lagi.), yang disebabkan oleh perubahan-perubahan konformasi proteinnya, yang digerakkan oleh ATP. Maka dari itu, tindakan lengan dyenein menyebabkan doublet itu membengkok.

Perbedaan getaran flagela dan silia.

Mikrotubula dan mikrofilamen sitoskeleton berfungsi dalam motilitas karena berinteraksi dengan protein yang disebut molekul motor. Molekul motor bekerja dengan mengubah bentuknya, yang memaju-mundurkan sesuatu seperti kaki mikroskopik. ATP menggerakkan perubahan konfirmasi ini. Bersama dengan setiap siklus perubahan bentuk, molekul motor melepaskan ujung bebasnya dan kemudian berpegang pada tempat yang lebih jauh di sepanjang mikrotubula atau mikrofilamen. Dam motilitas sel, molekul motor melekat pada satu unsur sitoskeleton menyebabkan meluncur melewati sitoskeleton lain. Molekul motor dapat juga melekat pada reseptor organel-organel seperti vesikula, dan membuat organel berjalan di sepanjang mikrotubula sitoskeletonnya.

Mikrofilamen adalah rantai ganda protein yang saling bertaut dan tipis, tersusun dari elemen fibrosa dengan diameter 60 angstrom terdiri dari protein globular yang disebut aktin. Mikrofilamen berdiameter antara 5-7 nm. Karena kecilnya sehingga pengamatannya harus menggunakan mikroskop elektron. Beberapa jenis bakteri juga mampu bergerak dengan filamen aktin seperti Listriea monocytogenes yang menyebar dari sel ke sel dengan menginduksi penyusunan filamen aktin pada sitosol sel inang. Aktin diketahui merupakan protein kontraktil yang terlibat dalam proses-proses yang terjadi dalam sel antara lain sitokinesis , aliran plasma, gerakan sel , gerakan mikrovili intenstinal. Mikrofilamen berperan untuk menahan tegangan (gaya tarik). Jika bergabung dengan protein lain, mikrofilamen akan membentuk jalinan tiga-dimensi persis di dalam plasma membran, yang membantu mendukung bentuk sel. Jalinan ini membentuk korteks (lapisan sitoplasma luar) sel tersebut mempunyai kekentalan semipadat seperti gel, yang berlawanan dengan keadaan sitoplasma dalamnya yang lebih cair (sol). Dalam sel hewan yang terspesialisasi untuk mengangkut materi melintasi membran plasma, berkas mikrofilamen membentuk inti mikrovili, penonjolan halus yang meningkatkan luas permukaan sel.

Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel, khususnya sel otot. Filamen aktin yang disusun sepanjang sel otot, diselingi dengan filamen dari protein yang disebut miosin. Kontraksi aktin-miosin juga berperan dalam gerakan amoeboid, dimana suatu sel merangkak di sepanjang permukaan dengan cara memanjang dan mengalir ke dalam pemanjangan seluler yang disebut pseudopodia. Pada sel tumbuhan, interaksi aktinmiosin dan transformasi sol-gel yang disebabkan oleh aktin mungkin terlibat dalam pengaliran sitoplasma, aliran melingkar sitoplasma di dalam sel sehingga mempercepat materi terdistribusi dalam sel.

Filamen intemediet terspesialisasi untuk menahan tarikan (seperti mikrotubula), dan merupakan kelas unsur sitoskeleton yang beragam. Filamen intermediet adalah peralatan sel yang lebih permanen dari pada mikrofilamen dan mikrotubula, yang sering bongkar pasang dalam berbagai macam bagian sel. Perlakuan kimiawi yang memindahkan mikrofilamen dan mikrotubula dari sitoplasma meninggalkan jalinan filamen intermediet yang mempertahankan bentuk aslinya. Filamen antara adalah rantai molekul protein yang berbentuk untaian yang saling melilit menjadi tebal. Filamen ini berdiameter 8-12 nm. Disebut serabut antara karena berukuran diantara ukuran mikrotubulus dan mikrofilamen. Serabut ini tersusun atas protein yang disebut fimetin. Akan tetapi, tidak semua sel tersusun atas fimetin, contohnya sel kulit tersusun oleh protein keratin. Sebagaian besar filamen intermediet berfungsi untuk menyokong sel dan inti sel. Letak filamen ini biasanya terpusat di sekitar inti. Pada sel epitel, filamen intermediet membentuk anyaman yang berfungsi untuk menahan tekanan dari luar.

Pembentukan filamen intermediet juga didasarkan pada polimerisasi filamen. Dua monomer filamen bergabung membentuk struktur coil. Dimer ini akan bergabung dengan dimer lainnya membentuk tetramer, tetapi posisinya saling tidak paralel. Ketidakparalelan ini membuat tetramer dapat berasosiasi dengan tetramer lain (mirip struktur penyusunan batu bata). Pada akhirnya, tetramer-tetramer bergabung membentuk sebuah array heliks.

Daftar Pustaka
Anonim. 2009. http://www.sith.itb.ac.id/profile/pdf/iriawati/ bahan-kuliah/bahan2/StrukturDanFungsiMembranSelfebruari09.pdf. Diakses pada tanggal 25 Mei 2011 pukul 14.16 wib. www.wikipedia.com Campbell, Neil. A, dkk. 2002. BIOLOGI Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga

TERIMA KASIH

Silfia Wulan Ningsih

Ruth May