Anda di halaman 1dari 16

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan menggunakan metode survai dengan pendekatan deskriptif analitik, yaitu untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu dengan abortus inkompletus di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2008 April 2010 (Notoatmodjo, 2002).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Haji Medan, karena Rumah sakit tersebut merupakan salah satu tempat rujukan baik di wilayah sekitarnya maupun klinik bersalin dan banyak kejadian abortus inkompletus yang tercatat di rekam medisnya. 3.2.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian dimulai dari pengajuan judul sampai hasil penelitian (Januari - Juli 2010).

3.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu dengan abortus di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2008 April 2010 dan semua populasi dijadikan sampel yaitu sebanyak 81 orang.

Universitas Sumatera Utara

3.4 Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang diperoleh dari rekam medik RS Haji Medan kemudian dicatat sesuai variabel yang diteliti, data yang digunakan adalah data Januari 2008 April 2010 (Notoatmodjo, 2005).

3.5 Definisi operasional 1. Umur adalah umur ibu abortus yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien. 2. Usia kehamilan adalah jumlah minggu kehamilan ibu yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien. 3. Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami ibu yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien. 4. Riwayat penyakit adalah penyakit yang pernah diderita ibu yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien. 5. Riwayat abortus adalah jumlah abortus yang pernah dialami ibu yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien. 6. Abortus inkompletus adalah keluarnya sebagian hasil konsepsi ibu sebelum umur kehamilan lengkap 20 minggu dan sebelum berat janin 500 gram yang merupakan hasil diagnosa dokter tercatat dalam berkas rekam medis.

3.6 Teknik Pengolahan Data Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing, yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. Coding, yaitu memberikan kode numerik atau angka

Universitas Sumatera Utara

kepada masing-masing kategori. Data entry yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master table atau database komputerisasi.

3.7 Analisis Data Analisis data dilakukan untuk melihat bagaimana hubungan antara karakteristik ibu dengan abortus inkompletus melalui dua tahap yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasi dengan menggunakan bantuan komputer. 3.7.1 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik ibu dilihat dari umur, usia kehamilan, paritas, riwayat penyakit, dan riwayat abortus dengan abortus inkompletus. 3.7.2 Analisis Korelasi Untuk menguji hipotesis penelitian dan menghitung hubungan pada variabel independen skala nominal digunakan uji Chi Square, dengan rumus sebagai berikut:

2 =
Keterangan :

N (ad bc) 2 (a + b)(c + d )(a + c)(b + d )

= Nilai chi kuadrat N = Jumlah sampel (Sugiyono, 2007 dan Murti, 1996). a = Ibu abortus inkompletus yang ada riwayat penyakit atau riwayat abortus b = Ibu tidak abortus inkompletus yang ada riwayat penyakit atau riwayat abortus c = Ibu abortus inkompletus yang tidak ada riwayat penyakit atau riwayat abortus

Universitas Sumatera Utara

d = Ibu tidak abortus inkompletus yang tidak ada riwayat penyakit atau riwayat abortus Namun apabila terdapat frekuensi harapan < 5 melebihi 20% dari total sel, maka di analisis dengan uji Exact Fisher dengan rumus sebagai berikut.

p= Keterangan : p = Nilai exact fisher Untuk menghitung hubungan pada variabel independen skala interval digunakan korelasi poin biserial, dengan rumus sebagai berikut:

rpbi =
Keterangan :

X p Xq s

pq

rpbi = Koefisien korelasi poin biserial

X p = rata-rata hitung data interval yang mengalami abortus inkompletus X q = rata-rata hitung data interval yang tidak mengalami abortus inkompletus
s p q = simpangan baku dari keseluruhan data interval = proporsi kejadian abortus inkompletus = proporsi kejadian bukan abortus inkompletus (Nurgiyantoro, 2004)

Universitas Sumatera Utara

BAB IV HASIL PENELITIAN


4.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Haji Medan Rumah Sakit Haji Medan didirikan pada tanggal 11 Maret 1991 melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar pada tanggal 7 Maret 1991 No. 445.05/712K, dan diresmikan pada tanggal 4 Juni 1992 oleh Presiden Soeharto. Pada tanggal 3 Juni 1998 dibentuk Yayasan Rumah Sakit Haji Medan dengan ketua Gubernur Sumatera Utara. Rumah Sakit Haji Medan berlokasi di jalan Rumah Sakit Haji Estate di areal tanah seluas 6 ha dengan luas bangunan 13.017,59 m2. Secara operasional Rumah Sakit Haji Medan dibuka pada tanggal 15 Juni 1992 untuk kegiatan poliklinik, di samping itu juga memberikan pelayanan bagi jamaah haji yang baru tiba dari Arab Saudi. Pada tanggal 1 Juli 1992 secara penuh Rumah Sakit Haji Medan mempunyai tipe setara dengan tipe B dengan kapasitas 139 tempat tidur. Rumah Sakit Haji Medan pada tanggal 1 Juni 2001 telah mendapat sertifikat dari Menteri Kesehatan RI No: YM.00.03.2.2.835 yang menyatakan bahwa Rumah Sakit Haji Medan telah mendapat status akreditasi penuh tingkat dasar meliputi pelayanan gawat darurat, pelayanan medik, pelayanan rekam medik, pelayanan keperawatan, pelayanan administrasi manajemen.

4.2 Karakteristik Ibu Abortus Karakteristik Ibu Abortus di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2008 April 2010 dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi berikut ini.

Universitas Sumatera Utara

Table 4.1 Gambaran Umur, Usia Kehamilan dan Paritas ibu Abortus di Rumah Sakit Haji Medan Periode Januari 2008 April 2010
Variabel Umur 19 tahun 20 tahun 21 tahun 22 tahun 23 tahun 24 tahun 25 tahun 26 tahun 27 tahun 28 tahun 29 tahun 30 tahun 31 tahun 32 tahun 33 tahun 34 tahun 35 tahun 36 tahun 37tahun 38 tahun 39 tahun 40 tahun 41 tahun 42 tahun 44 tahun Total Usia Kehamilan 7 minggu 8 minggu 9 minggu 10 minggu 11 minggu 12 minggu 13 minggu 14 minggu 15 minggu 16 minggu 17 minggu 18 minggu 19 minggu Total Paritas 0 1 2 3 4 Total Total 1 1 1 1 3 5 3 4 3 6 5 4 6 2 1 9 2 7 3 6 2 1 1 3 1 81 4 13 7 9 10 9 15 3 5 2 1 1 2 81 34 6 22 13 6 81 Persentase (%) 1,2 1,2 1,2 1,2 3,7 6,2 3,7 4,9 3,7 7,4 6,2 4,9 7,4 2,5 1,2 11,1 2,5 8,6 3,7 7,4 2,5 1,2 1,2 3,7 1,2 100 11,36 4,9 16 8,6 11,1 12,3 11,1 18,5 3,7 6,2 2,5 1,2 1,2 2,5 100 1,40 42 7,4 27,2 16 7,4 100 1,366 04 2,843 79 Mean 31,40 SD 5,854 Min-Max 19 44

Universitas Sumatera Utara

Table 4.2 Gambaran Riwayat Penyakit dan riwayat Abortus ibu Abortus di Rumah Sakit Haji Medan Periode Januari 2008 April 2010
Variabel Riwayat Penyakit Ibu Ada Tidak ada Total Riwayat abortus Ada (Abortus) Tidak ada Total Total 2 79 81 16 65 81 Persentase (%) 2,5 97,5 100% 19,8 80,2 100%

Table 4.3 Gambaran Kejadian Abortus Inkompletus di Rumah Sakit Haji Medan Periode Januari 2008 April 2010
Kejadian Abortus Inkompletus Abortus Inkompletus Tidak Abortus inkompletus Total 52 29 81 64,2 35,8 100%

Dari tabel 4.1, 4.2, dan 4.3 diketahui bahwa ibu abortus di Rumah Sakit Haji medan periode Januari 2008 April 2010 paling banyak berumur 34 tahun yaitu sebanyak 9 orang (11,1%), rata-rata 30,88 tahun, dan standar deviasi 5,85 dengan umur termuda 19 tahun dan umur tertua 44 tahun. Bila dilihat dari usia kehamilan paling banyak usia kehamilan 13 minggu yaitu sebanyak 15 orang (18,5%), rata-rata usia kehamilan ibu abortus adalah 11,36 minggu, dan standar deviasi 2,843 dengan usia kehamilan termuda 7 minggu dan usia kehamilan tertua 19 minggu. Sementara itu, paritas ibu abortus paling banyak adalah paritas 0 yaitu sebanyak 34 orang (42%), rata-rata paritas ibu abortus adalah 1,40 dan standar deviasi 1,366 dengan paritas terendah paritas 0 dan paritas tertinggi paritas 4. Pada riwayat penyakit ibu abortus terbanyak berada pada kelompok tidak memiliki riwayat penyakit yakni 79 orang (97,5%), sedangkan pada kelompok memiliki riwayat penyakit berjumlah 2 orang (2,5%). Riwayat abortus ibu terbanyak berada pada kelompok memiliki riwayat abortus yakni 65 orang (80,2%), sedangkan pada kelompok tidak memiliki riwayat

Universitas Sumatera Utara

abortus berjumlah 16 orang (19,8%). Kejadian abortus inkompletus yakni 52 orang (64,2%), sedangkan tidak abortus inkompletus berjumlah 29 orang (35,8%).

4.3 Hubungan Karakteristik Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Hubungan karakteristik ibu dengan kejadian abortus inkompletus di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2008 April 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4.4 Hubungan Umur, Usia Kehamilan dan Paritas Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Xp t Np rpbi Variabel SD p q Hitung Nq Xq 52 30.88 Umur 5,854 0,64 0,36 -0,117 0,984 29 32,31 Usia 52 9,67 2,843 0,64 0,36 -0,795 5,274 Kehamilan 29 14,38 52 1,25 Paritas 1,366 0,64 0,36 -0,144 1,197 29 1,66 Keterangan : Np = Jumlah Ibu Abortus Inkompletus Nq = Jumlah Ibu Tidak Abortus Inkompletus

X p = Rata rata umur, usia kehamilan dan paritas Ibu Abortus Inkompletus
X p = Rata rata umur, usia kehamilan dan paritas Ibu Tidak Abortus Inkompletus
p q
rpbi

= Proporsi Ibu Abortus Inkompletus = Proporsi Ibu Tidak Abortus Inkompletus = Nilai Korelasi Poin biserial

t Hitung = Nilai t hitung

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.5 Hubungan Riwayat Penyakit dan Riwayat Abortus Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Abortus Inkompletus p p Variabel Independen Ya Tidak Total (Chi Square) (Exact Fisher) N N Riwayat Penyakit Ibu 1 1 2 0,672 1,000 Ada 51 28 79 Tidak ada Total 52 29 81 Riwayat abortus 10 6 16 0,874 1,000 Ada (Ab 1 dan 2) 42 23 65 Tidak ada Total 52 29 81

4.3.1 Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Dari tabel 4.4 diketahui bahwa rata-rata umur abortus inkompletus adalah 30,88 tahun, sedangkan rata-rata umur ibu tidak abortus inkompletus adalah 32,31 tahun. Hasil uji statistik dengan poin biserial melalui perhitungan manual didapatkan r pbi = - 0,117. Tabel nilai kritis t dengan derajat kebebasan (db) 79 pada taraf signifikansi 5% t hitung (0,984) < t tabel (1,994). Dengan demikian, hipotesis nol (Ho) diterima. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara umur ibu dengan abortus inkompletus.

4.3.2 Hubungan Usia Kehamilan Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Dari tabel 4.4 diketahui bahwa rata-rata usia kehamilan ibu abortus inkompletus adalah 9,67 minggu, sedangkan rata-rata usia kehamilan ibu tidak abortus inkompletus adalah 14,38 minggu. Hasil uji statistik dengan poin biserial melalui perhitungan manual didapatkan r pbi = - 0,795. Tabel nilai kritis t dengan derajat kebebasan (db) 79 pada taraf

Universitas Sumatera Utara

signifikansi 5% t hitung (5,274) > t tabel (1,994). Dengan demikian, hipotesis nol (Ho) ditolak. Hal ini menunjukan ada hubungan antara usia kehamilan ibu dengan abortus inkompletus.

4.3.3 Hubungan Paritas Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Dari tabel 4.4 diketahui bahwa rata-rata paritas ibu abortus inkompletus adalah 1,25, sedangkan rata-rata paritas ibu tidak abortus inkompletus adalah 1,66. Hasil uji statistik dengan poin biserial melalui perhitungan manual didapatkan r pbi = - 0,144. Tabel nilai kritis t dengan derajat kebebasan (db) 79 pada taraf signifikansi 5% t hitung (1, 197) < t tabel (1,994). Dengan demikian, hipotesis nol (Ho) diterima. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara paritas ibu dengan abortus inkompletus.

4.3.4 Hubungan Riwayat Penyakit Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Dari tabel 4.5 diketahui bahwa ibu abortus di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2008 April 2010 berdasarkan sampel yang tidak memiliki riwayat penyakit yakni 51 orang mengalami kejadian abortus inkompletus dan 28 orang diantaranya tidak mengalami kejadian abortus inkompletus. Sedangkan sampel yang memiliki riwayat penyakit yakni 1 orang mengalami kejadian abortus inkompletus dan 1 orang diantaranya tidak mengalami kejadian abortus inkompletus. Hasil uji statistik dengan Exact Fisher menunjukkan bahwa nilai p (1,000) > (0,05) berarti Ho diterima. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara riwayat penyakit ibu dengan kejadian abortus inkompletus.

Universitas Sumatera Utara

4.3.5 Hubungan Riwayat Abortus Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Dari tabel 4.5 diketahui bahwa ibu abortus di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2008 April 2010 berdasarkan sampel yang tidak memiliki riwayat abortus yakni 42 orang mengalami kejadian abortus inkompletus dan 23 orang diantaranya tidak mengalami kejadian abortus inkompletus. Sedangkan sampel yang memiliki riwayat abortus yakni 10 orang mengalami kejadian abortus inkompletus dan 6 orang diantaranya tidak mengalami kejadian abortus inkompletus. Hasil uji statistik dengan Chi Square menunjukkan bahwa probabilitas nilai p (0,874) > (0,05) berarti Ho diterima. Hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara riwayat abortus ibu dengan kejadian abortus inkompletus.

Universitas Sumatera Utara

BAB V PEMBAHASAN
5.1 Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Hasil uji poin biserial menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara umur ibu dengan abortus inkompletus. Penelitian yang dilakukan Dr.Nyol dalam blognya tahun 2008 dan Erlina tahun 2008 menyatakan bahwa usia seorang ibu memiliki peranan yang penting dalam terjadinya abortus. Semakin tinggi usia maka risiko terjadinya abortus semakin tinggi pula. Umur maternal merupakan faktor risiko independen terhadap terjadinya keguguran selanjutnya karena semakin tua umur ibu berpengaruh terhadap fungsi ovarium, dimana sel telur yang berkualitas akan semakin sedikit, yang berakibat abnormalitas kromosom hasil konsepsi yang selanjutnya akan sulit berkembang (Cunningham dkk.,2000). Data hasil penelitian diperoleh kejadian abortus inkompletus justru banyak terjadi pada umur reproduktif ibu yaitu umur 20 - 35 tahun, dimana paling banyak dengan paritas 0 dan usia kehamilan < 12 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa umur ibu tidak secara independen dapat menyebabkan abortus inkompletus tetapi secara bersamaan dengan paritas dan usia kehamilan ibu.

5.2 Hubungan Usia Kehamilan Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Hasil uji poin biserial menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia kehamilan ibu dengan kejadian abortus inkompletus dengan nilai korelasi -0,795 artinya apabila bertambah usia kehamilan ibu maka kejadian abortus inkompletus

Universitas Sumatera Utara

berkurang atau sebaliknya pada usia kehamilan ibu lebih muda kejadian abortus inkompletus lebih tinggi. Penelitian yang dilakukan Eastman 80% dari abortus terjadi pada bulan 2 3 dari kehamilan. Simens juga mendapat 76% abortus terjadi pada bulan ke 2 3 dari kehamilan. Penelitian Gilbert dan Harmon, tahun 2003 juga menunjukkan bahwa hampir 60 % abortus awal (sebelum 12 minggu pertama kehamilan) memiliki abnormalitas kromosom (Mochtar, 1998). Diperkirakan frekuensi abortus spontan, termasuk abortus inkompletus berkisar antara 10-15%, kira kira 8% terjadi pada kehamilan kurang dari 12 minggu. Lebih dari 80 % abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan (Cunningham dkk, 2000). Hal ini berkaitan dengan batasan usia kehamilan pada kejadian abortus inkompletus (< 20 minggu). Selain itu, usia kehamilan saat terjadinya abortus inkompletus bisa memberikan gambaran tentang penyebabnya seperti kelainan sitogenetik konsepsi yang menyebabkan abortus inkompletus pada awal kehamilan.

5.3 Hubungan Paritas Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Hasil uji poin biserial menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara paritas ibu dengan abortus inkompletus. Penelitian yang dilakukan Kusniati di Rumah Sakit Ibu dan Anak An Ni'mah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Januari-Juni 2007 juga menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat abortus spontan dengan paritas.

Universitas Sumatera Utara

Data hasil penelitian diperoleh kejadian abortus inkompletus banyak terjadi pada paritas 0. Sementara risiko abortus semakin tinggi dengan bertambahnya paritas ibu (SPMPOGI, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa kejadian abortus inkompletus dapat terjadi karena pengetahuan dan pengalaman ibu yang baru pertama kali hamil masih kurang.

5.4 Hubungan Riwayat Penyakit Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Hasil uji Exact Fisher menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat penyakit ibu dengan kejadian abortus inkompletus. Penelitian Allen dan Corner pada tahun 1929, yang mempublikasikan tentang proses fisiologi korpus luteum, dan sejak itu diduga bahwa kadar progesteron yang rendah atau riwayat penyakit ibu berhubungan dengan risiko abortus. Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi : pneumonia, tifoid, pielitis, rubeola, demam malta dan sebagainya dapat menyebabkan abortus. Selain itu kemungkinan penyebab terjadinya abortus adalah infeksi pada alat genital. Tapi bisa saja dipengaruhi oleh faktor- faktor yang lain. Infeksi vagina pada kehamilan sangat berhubungan dengan terjadinya abortus atau partus sebelum waktunya. Sebanyak 2% peristiwa abortus disebabkan oleh adanya penyakit sistemik maternal (systemic lupus erythematosus) dan infeksi sistemik maternal tertentu lainnya. 8% peristiwa abortus berkaitan dengan abnormalitas uterus ( kelainan uterus kongenital, mioma uteri submukosa, inkompetensia servik) (Mochtar, 1998). Dari uraian diatas menunjukkan penyebab abortus termasuk riwayat penyakit ibu sukar ditentukan karena abortus buatan banyak dilakukan sehingga terjadi abortus inkompletus.

Universitas Sumatera Utara

5.5 Hubungan Riwayat Abortus Ibu dengan Kejadian Abortus Inkompletus Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat abortus ibu dengan kejadian abortus inkompletus. Penelitian yang dilakukan Kusniati Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak An Ni'mah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Januari - Juni 2007 juga menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat abortus dengan abortus spontan. Data hasil penelitian diperoleh kejadian abortus inkompletus banyak terjadi pada ibu yang tidak memiliki riwayat abortus. Sementara 3 5 % riwayat abortus pada penderita abortus merupakan predisposisi terjadinya abortus berulang. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali abortus spontan, termasuk abortus imkompletus pasangan punya risiko 15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat 25%. Beberapa studi meramalkan bahwa risiko abortus setelah 3 kali abortus berurutan adalah 30 45% (Prawirohardjo, 2009). Hal ini menunjukkan penyebab abortus termasuk riwayat abortus ibu sukar ditentukan karena abortus buatan banyak dilakukan sehingga terjadi abortus inkompletus.

Universitas Sumatera Utara

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan 1. Tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian abortus inkompletus. 2. Ada hubungan antara usia kehamilan ibu dengan kejadian abortus inkompletus dengan nilai korelasi 0,795 artinya pada usia kehamilan lebih muda kejadian abortus inkompletus lebih tinggi (meningkat). 3. Tidak ada hubungan antara paritas ibu dengan kejadian abortus inkompletus. 4. Tidak ada hubungan antara riwayat penyakit ibu dengan kejadian abortus inkompletus. 5. Tidak ada hubungan antara riwayat abortus dengan kejadian abortus inkompletus.

6.2 Saran 1. Kepada pihak Rumah Sakit Haji agar dapat meningkatkan promosi, konseling dan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan terutama pada awal kehamilan sebagai deteksi dini ibu hamil risiko tinggi dan tanda bahaya kehamilan dalam usaha menurunkan angka kejadian abortus inkompletus. 2. Kepada Dinas kesehatan agar lebih menekankan kepada petugas kesehatan dalam pelaksanaan Ante Natal Care (pemeriksaan kehamilan) untuk mendeteksi faktor risiko yang berpengaruh kepada kesehatan ibu dan janin sedini mungkin sehingga dapat menurunkan kejadian abortus inkompletus.

Universitas Sumatera Utara