Anda di halaman 1dari 34

ADZIKRA Vol. 01. No.

02 (Juli - Desember) 2010



Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
79
Studi Komperatif
Tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-Azhar
Tentang Penafsiran Metode Dakwah

Syaikhu
(Pegawai IAIN SMH Banten)

Pendahuluan
Pada zaman keemasan Islam dahulu, ilmu pengetahuan
dipelopori perkembangannya oleh ummat Islam, dan salah satu
metode pengembangan ilmu pengetahuan itu adalah melalui
dakwah baik dakwah bil-lisan, dakwah bil-qalam, ataupun
dakwah bil-hal. Alangkah baiknya para pemimpin dan
mujahid-mujahid dakwah masa kini kembali menggelorakan
semangat dakwah itu dengan menata dan mengatur secara
profesional institusi-institusi dan infrastruktur dakwah yang
merupakan tulang punggung sekaligus pilar penyangga
kekuatan Islam masa depan, seperti pada zaman keemasan
Islam masa lampau.
Metode yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam
berdakwah pada mulanya adalah personal approach
pendekatan individu, yaitu dengan mengumpulkan kaum
karib kerabatnya di bukit shafa. Namun, kemudian
berkembang dengan melalui pendekatan kolektif seperti yang
dilakukan waktu berdakwah di Thaif dan kesempatan yang
digunakan Rasulullah SAW di waktu musim haji. Beliau
melaksaanakan dakwahnya dengan mengajak kaum muslimin
kepada tauhid secara lebih terbuka.
Tantangan dakwah yang kita hadapi sekarang ternyata
berkembang, terutama dalam kenyataan masyarakat modern
seperti berbagai bentuk hiburan (entertainment), kepariwisataan,
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
80
dan seni (art) dalam arti luas telah menimbulkan kerawanan-
kerawanan moral dan etika. kerawanan-kerawanan moral dan
etika itu muncul karena kemaksiatan dan kemungkaran yang
disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir,
sehingga mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas,
seperti perjudian, minuman keras, kriminalitas, pornografi-
pornoaksi, dan sebagainya.
Masalahnya, situasi yang dihadapi sekarang adalah
pertarungan antara front dakwah amar maruf nahi munkar
selalu dalam konteks persaingan yang seru, sengit, dan tajam
dengan dakwah amar munkar Nabi maruf di atas ring yang
senantiasa mencemaskan. Justru itu, setelah memperhatikan
jumlah ummat Islam yang potensial dan mempunyai komitmen
kuat masih sangat terbatas, sementara kita harus
mengakomodir segenap permasalahan dan tantangan yang
muncul, maka ada baiknya kita coba memilah dan memilih
mana yang tetap untuk diberikan skala proritas dalam
pemenangannya dengan mengedepankan konsep manajemen
dakwah profesional.
1

Kemudian menejerial dakwah yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad SAW sebagai trenseter dakwah adalah merujuk
kembali kepada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah.
Adapun Firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW,
sebagai berikut :
7vu1- _O) O):Ec
El)4O gOE'g4^)
gOgNOE^-4
gO4L=OO4^- W
_^gE_4 /-)
"Og- }=O;O _ Ep) El+4O

1
Drs. RB. Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah, (Jakarta;
Amzah, 2007), h. 1-11
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
81
4O- OU;N }E) E= }4N
g)-O):Ec W 4O-4
OU;N 4g4-;_^)
^g)
Artinya :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
2
dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapatkan petunjuk (Q.S. An-Nahl/ 16 : 125)

= . ` , ` ,` . , , , . ` , `, ,` ' ` , ` , ` . ,
= ` ,` _ ` ` , , ,, _- ,_ ,


Artinya :

Aku tinggalkan dua perkara untuk kamu sekalian, yang dijamin
kamu sekalian tidak akan tersesat selamanya, yakni Kitabullah (Al-
Quran) dan Sunnahku (Al-Hadits). (HR. Bukhari dan Muslim).
3



2
Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat
membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
3
DR. H. Abuddin Nata, MA, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-
Ayat Al-Tarbawiy), (Jakarta; PT. RajaGrapindo Persada. 2002), h. 35
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
82
Kemudian Al-Quran sebagai dasar dari dakwah
sekaligus sebagai pedoman hidup manusia, sepatutunya kita
gali secara baik dan benar agar apa yang kita sampaikan sesuai
dengan apa yang Allah SWT firmankan. Al-Quran adalah
kalamullah yang di dalamnya terdapat beberapa poin penting
yang dapat kita gali untuk disampaikan kepada seluruh
manusia antara lain, tentang tauhid, tentang syariat-syariat
agama, kisah-kisah para Nabi dan Rasul, dan lain sebagainya.
Al-Quran adalah firmannya yang tidak dapat dirubah oleh
siapapun, ini sekaligus sebagai mukjizat yang tidak tertandingi.
Namun dalam mengkaji Al-Quran kita tidak begitu saja
dengan entengnya dapat mengetahui maksud dan tujuannya,
akan tetapi kita perlu mengetahui beberapa faktor agar kita
terhindar dari kesalahan, adapun faktor-faktor yang kita wajib
pelajari dalam mengkaji Al-Quran adalah sebagai berikut :
Wajib mempelajari Ulumul Quran, mempelajari Ilmu Nahwu dan
Sharaf, mempelajari Ilmu Tafsir, mempelajari Ilmu Tajwid dan
lain sebagainya
Kata tafsir merupakan Mashdar dari kata ( ` , ,` ,
_) yang dalam kamus Al-Munawweir bermakna Tafsiran,
interpretasi, penjelasan, komentar, dan keterangan. Arti tafsir
itu sendiri menurut bahasa adalah (Q----- '~-( ; ,--~---)
artinya yaitu: Tafsir menurut bahasa adalah menjelaskan,
menerangkan. Sedangkan dalam kitab Kitab Lisaanul Arab
dijelaskan bahwa Kata tafsir diambil dari asal kata , yang
berarti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Sedangkan
kata At-Tafsir juga bermakna menyingkap maksud sesuatu
yang sulit.
Adapun tafsir menurut Istilah adalah: Ilmu untuk
memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW untuk menjelaskan makna-maknanya,
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
83
menyimpulkan kandungannya dan hukum-hukumnya serta
hikmah-hikmahnya.
4

Dengan demikian, Studi tafsir Al-Quran tidak terlepas
dari metode penafsiran. Dalam hal ini berarti kesalahan-
kesalahan maupun penyimpangan-penyimpangan di dalam
menafsirkan Al-Quran bisa dihindari dengan mempelajari
metode tafsir sehingga tujuan dan makna kandungan dan
pesan-pesan Al-Quran pun dapat tercapai.

Metodologi Tafsir al-Misbah
Pengarang Tafsir Al-Misbah ini ditulis oleh Muhammad
Quraish Shihab, Beliau lahir di Rappang Sulawesi Selatan pada
tanggal 16 Februari 1944.
Dari sekian banyak metode tafsir yang berperan dalam
memahami Al-Quran, Quraish membatasi empat metode tafsir
sebagaimana ia kutip dari Abd Al-Hayy Al-Farmawi, yaitu
global (ijmali), analitis (tahlili), perbandingan (muqarin) dan
tematik (maudlui). Kemudian dari keempat metode itu, yang
paling popular penerapannya menurutnya, adalah metode
analitis dan tematik. Pada penafsiran yang menggunakan
metode analitis sang mufasir berupaya menjelaskan kandungan
ayat-ayat Al-Quran dari berbagai sisi dengan memperhatikan
sistematika kronologis ayat-ayat Al-Quran sebagaiman dimuat
dalam mushaf. Sisi-sisi yang diterangkan misalnya; adalah dari
kosa kata, latar belakang turunnya ayat, dan korelasi ayat.
Metode ini, kendati dikenal sangat luas dan sarat dengan
informasi, namun tidak menyelesaikan satu pokok bahasan,
karena seringkali satu pokok bahasan diuraikan kelanjutannya
pada ayat atau surat yang lain. Sementara pada metode
tematik, mufasir berusaha mengkoleksi ayat-ayat Al-Quran

4
Dr. M. Umar al-Haji, Mausuat al Tafsir Qobla Ahdi Tadwin,
Syuriah:1427. Cet.I.hal 10
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
84
yang bertebaran di beberapa surat dan mengkaitkannya
dengan satu persoalan atau tema yang telah ditentukan.
Selanjutnya, ia melakukan analisis terhadap kandungan ayat-
ayat tersebut sehingga tercipta satu kesatuan yang utuh.
Bahasan metode tematik lazimnya menyangkut masalah-
masalah kekinian yang menjadi persoalan mendesak umat, oleh
karena itu upaya kontekstualisasi pesan Al-Quran menjadi
sangat penting.
5

Menurut Ahmad Syukri Saleh, secara umum metode
tematik memiliki dua bentuk kajian
6
, yaitu :
Pertama, pembahasan menyangkut satu surat Al-Quran
secara utuh dan menyeluruh dengan menjelaskan maksudnya
yang umum dan spesifik. Menerangkan kaitan antara berbagai
persoalan yang dimuatnya sehingga surat itu tampak dalam
bentuk yang utuh dan cermat. Dalam hal ini mufasir hanya
menyampaikan pesan yang dikandung dalam satu surat itu
saja. Misalnya, pesan-pesan yang dimuat dalam surat Al-
Baqarah, Ali Imran, atau Al-Kahfi. Biasanya kandungan pesan
tersebut tersirat dari nama surat yang ditafsirkan. Contohnya,
pesan yang dikandung dalam surat Al-Kahfi yang secara literal
berarti gua. Dalam penafsirannya, mufasir akan menegaskan
bahwa gua tersebut akan dijadikan sebagai tempat
perlindungan (shelter) sekelompok pemuda yang mengisolasi
diri dari kekejaman penguasa di zamannya. Dari mana ini
diketahui bahwa surat tersebut dapat memberi perlindungan
bagi siapa saja yang menghayati dan mengamalkan pesan-
pesannya. Selanjutnya, setiap ayat atau kelompok ayat yang
termaktub dalam surat Al-Kahfi diusahakan untuk
mengaitkannnya dengan makna perlindungan itu.

5
DR. H. Ahmad Syukri Saleh. MA, Metodologi Tafsir Kontemporer dalam
Pandangan Fazlur Rahman (Pengantar Quraish Shihab), (Jakarta; Sulthan Thaha
press, 2007), hal.v-vii
6
Ibid., hal. 54-57.
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
85
Kedua, mengoleksi sejumlah ayat dari berbagai surat yang
membahas satu persoalan tertentu yang sama, lalu ayat-ayat itu
ditata sedemikian rupa dan diletakkan di bawah satu topik
bahasan, dan selanjutnya ditafsirkan secara tematik.
Pandangannya Quraish tentang metode tematik dengan
bentuk yang pertama, dapat kita simak dari uraian tafsirnya
dalam tafsir Al-Misbah yang menerangkan tentang surat An-
Nahl. Beliau menerangkan bahwa; Nama An-Nahl terambil
dari kata itu yang disebut pada ayat 68 surah ini. Hanya sekali
itulah Al-Quran menyebutnya. Ada juga ulama yang
menamainya surah An-Niam karena banyak nikmat Allah
yang diuraikan di sini.
Selain itu, dalam menafsirkan tema dari kata An-Nahl Ia
mengutip beberapa mufasir seperti Sayyid Quthub, ThabathabaI,
Al-BiqaI, dan As-Suyuthi. Di antaranya ia simpulkan
sebagaimana dikutip dari kesimpulan ThabathabaI; bahwa
tujuan utama surah ini adalah penyampaian tentang dekatnya
ketetapan Allah yaitu kemenangan agama yang haq. Allah
SWT. adalah Tuhan Yang Maha Esa yang wajib disembah
karena Dia yang mengatur alam raya. Penciptaan adalah hasil
perbuatan-Nya dan semua nikmat bersumber dari-Nya, tidak
satu pun dari hal-hal tersebut yang bersumber dari selainnya.
Karena itu, hanya Allah yang wajib disembah tidak satu pun
selain-Nya. Disamping itu surah ini juga menjelaskan bahwa
menetapkan agama adalah wewenang Allah SWT dan ini
berarti penolakan kepercayaan kaum musyrikin serta dalih-
dalih mereka mengingkari kehadiran para rasul.
Di samping itu, Quraish juga mengutip dari Mufassir Al-
Biqai, berpendapat bahwa tujuan pokok dan tema surah An-
Nahl adalah membuktikan kesempurnaan Allah dan keluasan
ilmu-Nya, dan bahwa Dia bebas bertindak sesuai dengan
kehendaknya lagi tidak disentuh oleh sedikit kekurangan pun.
Yang paling dapat menunjukkan makna ini adalah sifat dan
keadaan An-Nahl, yakni lebah yang singguh menunjukkan
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
86
pemahaman yang dalam serta keserasian yang mengagumkan
antara lain dalam membuat sarangnya. Demikian juga dengan
pemeliharaannya dan banyak lagi yang lain seperti
keanekaragaman warna madu yang dihasilkannya serta khasiat
madu itu sebagai obat padahal sumber makanan lebah adalah
kembang dan buah-buahan yang bermanfaat dan juga yang
berbahaya.
7

Namun, dari kedua bentuk tematik tadi dan seperti
bentuk karya tafsirnya, Quraish lebih cenderung menggunakan
tafsir tematik bentuk yang pertama dalam tafsir Al-Mishbahnya
serta tidak mengkesampingkan metode tahlili. Sebagaimana
pandangannya, yakni menyajikan kotak (kelompok ayat-ayat )
yang berisi pesan-pesan Al-Quran yang terdapat pada ayat-
ayat yang terangkum pada satu surat saja (akan tetapi dengan
tidak meninggalkan metode tahlili) dan membahas
menyangkut satu surat Al-Quran secara utuh dan menyeluruh
dengan menjelaskan maksudnya yang umum dan spesifik
Dalam hal ini, Ia mengakui; bahwa tidak mudah
menerapkan metode maudhui. Mufasir yang menggunakannya
dituntut untuk memahami ayat demi ayat yang berkaitan
dengan judul yang ditetapkannya. Seperti menghadirkan
pengertian kosa kata ayat, sebab turunnya, korelasi antar ayat
(atau yang dinamai munasabah), dan lain-lain yang biasa
dihidangkan dalam metode tahlili. Demikianlah, sehingga yang
menerapkan metode ini tidak dapat mengabaikan metode
tahlili, walaupaun kandungan metode itu tidak
dihidangkannya secara tegas dalam sajian maudhuinya. Itu
sebabnya sehingga ia katakan bahwa unsur kecepatan hanya
diperoleh oleh tamu yang kepadanya dihidangkan kotak
maudhui, tidak bagi yang menyiapkan kotak itu. Karena itu
dalam penyajian tafsir Al-Misbah, Quraish masih

7
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta; Lentera Hati, 2002),
vol-6, h.416-519.
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
87
menggunakan tahlili dalam penjelasannya. Akan tetapi tidak
menghilangkan metode maudhui untuk mengarahkan pesan
kandungan Al-Quran yakni dengan mengelompokkan ayat-
ayat dalam satu Surat sesuai tema, agar kemudian tidak
bertele-tele dan menyita waktu yang luas dalam
pembahasannya.
Pada tafsir Al-Misbah yang ditempuh dalam menyajikan
kandungan dan pesan-pesan firman Allah. Yaitu, dengan
menyajikannya sesuai urutan Ayat-ayat sebagaimana yang
termaktub dalam mushaf, misalnya dari ayat pertama surat Al-
Fatihah hingga ayat terakhir, kemudian beralih ke ayat pertama
surat kedua (Al-Baqarah) hingga berakhir pula, dan demikian
seterusnya. Pesan dan kandungannnya dihidangkan dengan
rinci dan luas mencakup aneka persoalan yang muncul dalam
benak sang penafsir, baik yang berhubungan langsung maupun
tidak dengan ayat yang ditafsirkannya. Seperti ungkap Quraish
sendiri bagaikan menyajikan hidangan prasmanan, masing-
masing memilih sesuai seleranya serta mengambil kadar yang
diinginkan dari meja yang telah ditata itu.
8

Pembagian volume tafsir Al-Misbah didasarkan atas
ketuntasan pembahasan surat-surat dalam Al-Quran sehingga
masing-masing volume mempunyai kuantitas yang berbeda,
tergantung dari banyaknya surat yang dibahas dalam masing-
masing volume. Tercatat sebanyak 15 volume dari tafsir Al-
Misbah. Sesuai dengan perhatian beliau terhadap tafsir tematis,
maka Tafsir al Misbah ini pun disusun dengan tetap berusaha
menghidangkan setiap Bahasan Surat pada apa yang disebut
dengan tujuan surat atau tema pokok surat. Hal ini dapat
disaksikan misalnya ketika mencoba menafsirkan surat al
Baqarah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa tema pokok surat
ini adalah ayat yang membicarakan tentang kisah al Baqarah

8
Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Jakarta; PT. Mizan Pustaka,
2007), hal. xi-xviii.
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
88
yaitu kisah Bani Israil dengan seekor sapi. Melalui kisah al
Baqarah ditemukan bukti kebenaran petunjuk Allah, meskipun
pada mulanya tidak bisa dimengerti. Kisah ini juga
membuktikan kekuasaan Allah. Karena itulah sebenarnya surat
Al-Baqarah berkisar pada betapa haq dan benarnya kitab suci al
Quran dan betapa wajar petunjuknya untuk diikuti. Dalam
tafsirnya ini Quraish Shihab banyak mengambil inspirasi dari
beberapa mufassir terdahulu, di antaranya adalah Ibrahim Ibn
Umar Al-Biqai (W.885H/ 1480M), Muhammad Tantawi
pemimpin tinggi al Azhar, Mutawalli Al-Sharawi, Sayyid Qutb,
Muhammad Tahir b. Ashur, dan Muhammad Husayn
Tabatabai.
9

Metode tahlili atau tajzi-I adalah bagaikan hidangan
persamaan itu, sedangkan menyodorkan kepada para tamu
sebuah kotak makanan adalah ilustrasi dari yang dinamakan
oleh para pakar dengan metode maudhuI (tematik) atau tauhidi
(kesatuan). Demikian ungkap Quraish. Inilah menurut penulis,
metode tafsir Al-Mishbah yaitu paduan metode tematik dengan
tahlili.
Penjelasan tersebut pun ia terapkan dalam tafsir Al-
Misbah dengan tetap menggunakan metode tematik dalam
sistematika sasaran penafsirannya yang mengarahkan kepada
pesan Al-Quran dan sasaran kebutuhan masyarakat, yang
mana ia padukan dengan metode tahlili agar tidak bercerai
berai ayat-ayatnya serta tetap menjaga keutuhan ayat sehingga
terhindar dari penafsiran yang sepotong serta terhindar dari
menyita waktu yang amat lama.




9
www.wikipwdia.org http://media.isnet.orgs. Artikel kajian tafsir
alquram oleh taufikurrahman.lihat juga tafsir al-misbah vol:1
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
89
Penafsiran Tafsir Al-Misbah Tentang Metode Dakwah
Dalam Al-Quran surah Al-Nahl (16): 125 termuat
beberapa metode dakwah sebagaimana dapat dibaca dalam
firman Allah SWT:

Artinya : Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.(QS. Al-Nahl/16: 125)
Tiga metode dakwah yang terkandung dalam ayat ini,
yaitu: Metode Al-hikmah, metode Al-Mawizhah dan metode
Mujadalah. Dalam tafsir Al-Mishbah, Quraish menafsirkan ayat
ini terlebih dahulu dengan menerangkan munasabah ayat adalah
perintah mengamalkan prinsip-prinsip tauhid Nabi Ibrahim
AS, yakni dengan sedikit menerangkan korelasi ayat ini dengan
ayat sebelumnya, seperti uraiannya: Nabi Muhammad SAW
yang diperintahkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim AS,
sebagaimana terbaca pada ayat yang lalu, kini diperintahkan
lagi untuk mengajak siapa pun agar mengikuti pula prinsip-
prinsip ajaran Bapak para Nabi dan pengumandang tauhid itu
Kemudian, beliau menentukan tema ayat ini ialah
berbicara tentang metode dakwah setelah menambahkan
beberapa petunjuk kata per kata dari ayat tersebut,
Sebagaimana dapat kita simak, antara lain:
Ayat ini menyatakan: Wahai Nabi Muhammad serulah,
yakni lanjutkan usahamu untuk menyeru semua yang engkau
sanggup seru, kepada jalan yang ditunjukkan tuhanmu, yakni
ajaran Islam, dengan hikmah, dan pengajaran yang baik dan
bantahlah mereka, yakni siapa pun yang menolak atau
meragukan ajaran Islam, dengan cara yang terbaik. Itulah tiga
cara berdakwah yang hendaknya engkau tempuh menghadapi
manusia yang beraneka ragam peringkat dan
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
90
kecerendungannya; jangan hiraukan cemoohan, atau tuduhan-
tuduhan tidak berdasar kaum musyrikin, dan serahkan
urusanmu dan urusan mereka pada Allah karena
sesungguhnya Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat
baik kepadamu Dia-lah sendiri yang lebih mengetahui dari
siapa pun yang menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya
tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah saja juga yang lebih
mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga
mendapat petunjuk.
Setelah menguraikan satu ayat seutuhnya, barulah Ia
menjelaskan lebih lanjut isi dari tema ayat mengenai metode
dakwah serta menerangkan lebih detail kosa kata-kosa kata
yang dianggap penting untuk dibahasnya; Menurut Quraish,
Tiga macam metode dakwah itu harus disesuaikan dengan
sasaran dakwah, antara lain:
Pertama, metode hikmah yakni Terhadap cendekiawan yang
memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan
menyampaikan dakwah dengan hikmah yakni
berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat
kepandaian mereka.
Kedua, metode mauizhah hasanah yakni terhadap kaum awam
diperintahkan untuk menerapkan mauizhah, yakni
memberikan nasihat dan perumpamaan yang
menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan
mereka yang sederhana, dan
Ketiga, metode jidal terhadap Ahl Al-Kitab dan penganut
agama-agama lain yang diperintahkan yaitu dengan
perdebatan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan
retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan
umpatan.

Lebih lanjut, beliau menerangkan lebih detail mengenai
kosa kata dari kata hikmah, mauizhah dan jidal, bahkan Ia
tambahkan argumennya dengan mengutip dari beberapa
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
91
mufassir seperti Thabathabai. Al-BiqaI, Thahir ibn Asyur, As-
Suyuti dan lain-lain. Seperti keterangan sebagai berikut, yang
menjelaskan tentang hikmah.
Menurut Quraish, makna ini dari hikmah terambil dari
kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi
hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan
atau menjadi liar. Ia menyimpulkan, kata hikmah berarti yang
paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun
perbuatan yang bebas dari kesalahan atau kekeliruan. Hikmah
juga diartikan sebagai sesuatu yang bila
digunakan/diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan
dan kemudahan yang besar atau lebih besar serta menghalangi
terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar.
Beliau berpendapat bahwa, Siapa yang tepat dalam
penilainnya dan dalam pengaturannya, dialah yang wajar
menyandang sifat ini atau dengan kata lain dia yang hakim.
Oleh karena itu, Ia mempertegas bahwa memilih perbuatan
terbaik dan sesuai adalah perwujudan dari hikmah. Begitu pun
sebaliknya, memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang
buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya dinamai hakim
(bijaksana).
Pendapat di atas ia perkuat dengan mengutip dari
beberapa mufassir, di antaranya mufassir Thahir ibn Asyur,
yang menyatakan hikmah adalah nama himpunan segala
ucapan atau pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan
keaadan dan kepercayaan manusia secara bersinambung. Dan
Ia pun mengutip dari ThabathabaI mengutip ar-Raghib Al-
Ashfahani yang menyatakan secara singkat bahwa hikmah
adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan
akal. Selain itu, menurut Quraish, seorang hakim harus
memiliki kepercayaan diri tentang pengetahuan dan
tindakannya. Sebagaimana pendapatnya yang ia kutip dari Al-
Biqai.
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
92
Tambahan lagi, seperti yang Quraish tulis dari ar-Raghib,
atau ibn Asyur- hikmah tidak perlu disifati dengan sesuatu
karena dari maknanya telah diketahui bahwa ia adalah sesuatu
yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, ia adalah
segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah kepada
perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara
berkesinambung. Maka dari itu, ia berpendapat seorang hakim
(seorang yang mempunyai sifat kebijasanaan) ketika
penyampaian pesan dakwahnya pastilah dalam bentuk yang
paling sesuai. Adapun Mauizhah adalah uraian yang
menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan, kata Al-
Mauizhah terambil dari kata Waazha yang berarti nasihat.
ditemukan bahwa Mauizhah hendaknya disampaikan dengan
hasanah/baik, sedang perintah berjidal disifati dengan kata
ahsan/yang terbaik, bukan sekedar yang baik Keduanya
berbeda dengan hikmah yang tidak disifati oleh satu sifat pun.
Ini berarti bahwa mauizhah ada yang baik dan ada yang tidak
baik. Dan hendaknya diiringi dengan pengamalan dan
keteladan dalam penyampainnya agar mengena hati sasaran.
Karena mauizhah biasanya bertujuan mencegah sasaran dari
sesuatu yang kurang baik, dan ini dapat mengundang emosi
baik dari yang menyampaikan, lebih-lebih yang menerimanya.
Maka, mauizhah sangat perlu untuk mengingatkan kebaikan.
Demikian Quraish menjelaskan.
Sedang kata Jidal, menurut Direktur PSQ (Pusat Studi Al-
Quran) ini, ada tiga macam, yaitu yang baik, yang terbaik, dan
yang buruk. Sedang, kata Jadilhum terambil dari kata Jidal yang
bermakna diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan,
baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun
hanya oleh mitra bicara.
Dari ketiga macam kata jidal tersebut Ia klasifikasikan di
dalam tafsir Al-Mishbah, sebagai berikut:
Sedang jidal terdiri dari tiga macam, yang buruk adalah yang
disampaikan dengan kasar, yang mengundang kemarahan lawan,
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
93
serta menggunakan dalih-dalih yang tidak benar. Yang baik adalah
yang disampaikan dengan sopan serta menggunakan dalil-dalil atau
dalih walau hanya yang diakui oleh lawan, tetapi yang terbaik adalah
yang disampaikan dengan baik dan dengan argumen yang benar lagi
membungkam.

Pembahasan ketiga cara berdakwah dalam ayat 125 Ia
menarik kesimpulan bahwa urutan ketiga macam metode itu
sungguh serasi. Ia dimulai dengan hikmah yang dapat
disampaikan tanpa syarat, disusul dengan mauizhah dengan
syarat hasanah karena memang ia hanya terdiri dari macam,
dan yang ketiga adalah jidal yang dapat terdiri dari tiga macam
buruk, baik, dan terbaik, sedang yang dianjurkan adalah yang
terbaik. Ketiga macam metode itu ditetapkan kepada siapa
pun sesuai dengan kondisi masing-masing sasaran.
Akan tetapi, yang Ia kemudian mengemukakan tentang
ketiga macam metode dakwah yang sesuai dengan tingkat
kecerdasan sasaran dakwah itu, dianggap tidak sepenuhnya
disepakati olehnya. Hal ini seperti yang Ia kutip dari
ThabathabaI bahwa:
Bisa saja ketiga cara ini dipakai dalam satu situasi/sasaran, di
kali lain hanya dua cara, atau satu, masing-masing sesuai sasaran
yang dihadapi. Bisa saja cendekiawan tersentuh oleh mauizhah, dan
tidak mustahil pula orang-orang awam memeroleh manfaat dari jidal
yang terbaik. Demikian Thabathabai, salah seorang ulama yang
menolak penerapan metode dakwah itu terhadap tingkat kecerdasan
sasaran.
Ditambah lagi, Ia melengkapi dengan uraian dari Thahir
Ibn Asyur yang berpendapat serupa dan menyatakan bahwa:
Jidal adalah bagian dari hikmah dan mauizhah. Hanya saja,
tulisnya, karena tujuan jidal adalah meluruskan tingkah laku atau
pandapat sehingga sasaran yang dihadapi menerima kebenaran,
kendati ia tidak terlepas dari hikmah atau mauizhah, ayat ini
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
94
menyebutkannya secara tersendiri berdampingan dengan keduanya
guna mengingat tujuan dari jidal itu.
10

Demikian kurang lebih apa yang dipaparkan oleh Quraish
Shihab dalam tafsirnya, Al-Mishbah ini.

Metodologi Tafsir Al- Azhar
Buya Hamka Hamka (1908-1981), Beliau dilahirkan di
Tanah Sirah desa Sungai Batang di tepi Danau Maninjau
(Sumatra Barat) Minang Kabau, tepatnya pada tanggal 17
Februari 1908 pada tahun Masehi atau 14 Muharam 1326 H.
Kali ini penulis akan menguraikan metode yang
digunakan Hamka dalam tafsir Al Azhar. Selama berada dalam
tahanan beliau menyelesaikan karya monumental Tafsir Al-
Azhar ini. Menurut Hamka sendiri, di setiap juz tafsirnya itu
terdapat keterangan tempat penulisannya. Tetapi tidak semua
keterangan tempat penulisan tafsir tercantum dalam tafsir itu.
Juz 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 26, dan 30 tidak tercantum
keterangan tempat penulisannya. Juz 4, 13, 14, 15, 16, 17, dan,
19 ditulis di Rumah Sakit Persahabatan Rawamangun Jakarta.
Sedangkan juz 20 ditulis di Rumah Tahanan Sukabumi, juz 21,
22, 23, 24, dan sebagian juz 25 ditulis di Bungalow Harjuna
Puncak, dan juz 27, 28, 29 serta sebagian juz 25 ditulis di
Asrama Brimob Megamendung.
Ditemukan beberapa metode yang dipakai Hamka dalam
tafsir al Azhar yaitu : metode Tafsir bi al Matsur, Tafsir bi al
Rayi, Tafsir Ijmali dan Tafsir Tahlily serta tafsir dengan
menggunakan Ibarat atau contoh-contoh. Adapun corak yang
terdapat dalam tafsir tersebut tidak terpaku dengan satu corak
saja, paling tidak ada tiga corak yang bisa ditemukan

10
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta; Lentera Hati, 2002),
vol-6, h. 774-777
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
95
didalamnya yaitu : Corak Fikih, Corak Sosiologis dan Corak
Dakwah.
Kitab tafsir yang sebagian besar ditulis di penjara ini
terdiri dari 30 juz. Dalam kitabnya ini Hamka melakukan
pembahasan tafsirnya dengan menggunakan pendekatan
ilmiah, keilmuan, filsafat, kesusastraan, hukum, sejarah,
budaya, sosial kemasyarakatan, tasawuf, hadits, dan
menafsirkan al-Quran dengan al-Quran. Lewat tafsirnya
Hamka mendemontrasikan keluasan pengetahuannya di
hampir semua disiplin yang tercakup oleh bidang-bidang ilmu
agama Islam serta pengetahuan non keagamaan. Hamka
berusaha menampilkan tafsirnya dengan bahasa yang mudah
dan lugas. Ia mencoba menafsirkan ayat-ayat al-Quran dari
beberapa aspek dengan menggunakan pembahasan yang relatif
tidak terlalu panjang lebar, tetapi juga tidak terlalu pendek.
Dengan kata lain Ia berusaha menghidangkan sebuah hidangan
karya tafsir yang cukup dan sesuai dengan selera pembacanya.
Dalam melakukan pembahasan penafsiran ayat-ayat al-
Quran, Hamka berusaha mengintegrasikan secara sinergis
berbagai metode penafsiran yang ada. Hamka tidak
menggunakan satu jenis metode tafsir saja, tetapi ia berusaha
menggunakan berbagai metode tafsir yang ada dalam
melakukan pembahasan tafsirnya.
Setiap penafsir memiliki corak dan metode yang berbeda-
beda sesuai dengan haluan pemikiran penafsirnya begitu juga
dengan tafsir al-Azhar karya Buya Hamka ini beliau
mempunyai cara tersendiri dalam menafsrikan al-Quran dan
semua itu tidak terlepas dari setting sosial politik serta
kecenderungan Hamka sendiri sebagai penafsir. Metode
penafsiran Hamka termasuk dalam metode tahlili, karena
beliau menafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat sesuai
dengan urutan yang terdapat dalam mushaf al-Quran.

ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
96

Penafsiran Tafsir Al-Azhar Tentang Metode Dakwah
Pada awal penafsiran ayat ini, yakni surat An-Nahl ayat
125, Hamka mengangkat tema dawah yang sebelumnya beliau
terlebih dahulu mengkelompokkan ayat-ayat dalam satu surat
sesuai dengan urutan ayat. Kemudian lebih lanjut beliau
menerangkan tentang dakwah dengan ayat tersebut. Seperti
pada keterangan sebagai berikut: Serulah kepada jalan Tuhan
engkau dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (pangkal ayat
125). Ayat ini adalah mengandung ajaran kepada Rasulullah
SAW, tentang cara melancarkankan dawah atau seruan
terhadap manusia agar mereka berjalan di atas jalan Allah (fii
sabilillah). Sabilillah atau shirathal mustaqim, ad-dinul haqqu,
agama yang benar, yaitu sebuah agama yang dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW.
Masih sama dengan apa yang ditafsirkan oleh Quraish,
Hamka memaknai hikmah dengan kebijaksanaan baik ucapan
maupun tindakan. Namun, sesuai dengan kecenderungannya
dengan filsafat. Kali ini, beliau membandingkan filsafat dengan
hikmah.
Pendapat beliau yaitu :
Kepadanya ditutunkan oleh Tuhan bahwa di dalam
melakukan dawah hendaklah memakai tiga macam cara atau
tiga tingkat cara. Pertama hikmah. (kebijaksanaan). Yaitu
dengan secara bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang
lapang dan hati yang bersih menarik perhatian orang kepada
agama, atau kepada kepercayaan terhadap tuhan. Contoh-
contoh kebijaksanaan itu selalu pula ditunjukkan tuhan. Kata
hikmah itu kadang-kadang diartikan orang dengan filsafat.
Padahal dia adalah inti yang lebih luas dari filsafat. Filasafat
hanya dapat dipahamkan oleh orang-orang yang telah terlatih
fikirannya dan tinggi pendapat logikanya. Tetapi hikmat dapat
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
97
menarik orang yang belum maju kecerdasannya dan tidak
dapat dibantah oleh orang yang lebih pintar. Kebijaksanaan itu
bukan saja dengan ucapan mulut, melainkan termasuk juga
dengan tindakan dan sikap hidup. Kadang-kadang lebih
berhikmat diam daripada berkata.
Dalam menafsirkan al-mauizhatul hasanah, hamka menilai
metode ini selain diartikan pengajaran yang baik. Al-
mauizhatul hasanah juga sebagai pendidikan keagamaan yang
harus dimulai sejak dini. Hal seperti ini sesuai dengan yang Ia
tulis dalam tafsirnya: Yang kedua ialah al-mauizhatul hasanah,
yang kita artikan pengajaran yang baik, atau pesan-pesan yang
baik, yang disampaikan sebagai nasihat. Sebagai pendidikan
dan tuntunan sejak kecil. Sebab itu termasuklah dalam bidang
al-mauizhatil hasanah, pendidikan ayah-bunda dalam rumah-
tangga kepada anak-anaknya, yang menunjukkan contoh
beragama di hadapan anak-anaknya, sehingga menjadi
kehidupan mereka pula. Termasuk juga pendidikan dan
pengajaran dalam perguruan-perguruan. Pengajaran-
pengajaran yang baik lebih besar kepada kanak-kanak yang
belum ditumbuhi atau belum diisi lebih dahulu oleh ajaran-
ajaran yang lain.
Pada penafsiran metode dakwah yang ketiga yakni jidal,
dapat kita lihat bagaimana Ia menyangkutkan permasalahan
ayat jidal dengan permasalahan yang pernah dialami oleh
masyarakat pada umumnya, yang Ia samakan posisi kondisi
jidal dengan polemik serta tak luput Ia memberi contoh
persoalan itu agar lebih mudah dipahami. Keterangan tersebut
dapat kita lihat sesuai dengan tafsirnya yang berbunyi: Yang
kedua (pen-yang ketiga) ialah jadilhum billati hiya ahsan,
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau telah
terpaksa timbul perbantahan atau pertukaran fikiran, yang di
zaman kita ini disebut polemik, ayat ini menyuruh, agar dalam
hal yang demikian, kalau sudah tidak dapat dielakkan lagi,
pilihlah jalan yang sebaik-baiknya. Di antaranya ialah
memperbedakan pokok soal yang tengah dibicarakan dengan
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
98
perasaan benci atau sayang kepada peribadi orang yang tengah
diajak berbantah. Misalnya seseorang yang masih kufur, belum
mengerti ajaran Islam, lalu dengan sesuka hatinya saja
mengeluarkan celaan kepada Islam, karena bodohnya. Orang
ini wajib dibantah dengan jalan yang sebaik-baiknya,
disadarkan dan diajak kepada jalan fikiran yang benar,
sehingga dia menerima. Tetapi kalau terlebih dahulu hatinya
disakitkan, karena cara kita membantah yang salah, mungkin
dia enggan menerima kebenaran, meskipun hati kecilnya
mengakui, karena hatinya telah disakitkan.
Kemudian pada keterangan selanjutnya Ia
mengkorelasikan makna ujung ayat ini dengan ayat 256 al-
Baqarah, yang intinya bahwa dalam melakukan dakwah tidak
ada paksaan. Hal ini sesuai dengan keterang tafsirnya: Ketiga
pokok cara melakukan dawah ini, hikmat, ( _` , ,-, - =,
-') amatlah diperlukan di segala zaman.
Sebab dawah atau ajakan dan seruan membawa ummat
manusia kepada jalan yang benar itu, sekali-kali bukanlah
propaganda, meskipun propaganda itu sendiri kadang-kadang
menjadi bagian dari alat dawah. Dawah meyakinkan sedang
propaganda atau diayah adalah memaksaan. Dawah dengan
jalan paksa tidaklah akan berhasil menundukkan keyakinan
orang. Apalagi dalam hal agama, Al-Quran sudah menegaskan
bahwa dalam hal agama sekali-kali tidak ada paksaan (Al-
Baqarah ayat 256). Kemudian diujung ayat ini dengan tegas
Tuhan mengatakan bahwa urusan memberi orang petunjuk
atau menyesatkan orang adalah hak Allah SWT sendiri
sesungguhnya Tuhan engkau, Dialah yang lebih tahu siapa
yang sesat dari jalannya, dan dialah yang lebih tahu siapa yang
mendapat petunjuk. (ujung ayat 125).
Demikianlah ayat ini telah dijadikan salah satu pedoman
perjuangan, menegakkan Iman dan Islam di tengah-tengah
berbagai ragamnya masyarakat pada masa itu, yang
kedatangan Islam adalah buat menarik dan membawa, bukan
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
99
mengusir dan mengeyahkan orang. Sampai saat ini ketiga
pokok tersebut masih tetap terpakai, menurut perkembangan-
perkembangan zaman yang modern.
11


Titik Persamaan Penafsiran Tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-
Azhar Tentang Metode Dakwah
Dalam metode dakwah ditemukan tiga cara berdakwah,
sesuai surat An-Nahl ayat 125 yakni metode bi al hikmah, bi al
mauidzaah al hasanah, dan wa jaadil hum bi allatii hiya ahsanu.
Ketiga metode itu oleh penulis temukan titik persamaan
penafsiran dalam tafsir Al-Misbah oleh Quraish Shihab dan
tafsir Al-Azhar oleh Hamka, titik persamaan itu antara lain:
Pertama, memiliki kesamaan dalam mengawali
penafsiran dengan menentukan topik bahasan, tema itu ayat itu
adalah tentang dakwah. Hal tersebut, bisa kita simak pada
kedua tafsir dalam menentukan tema surat An-Nahl ayat 125,
12

yang mana Quraish Shihab menerangkan terlebih dahulu
dalam tafsir Al-Mishbah mengkaitkan ayat sebelumnya dengan
ayat yang sedang dibahasnya, lalu Ia menjelaskan korelasi ayat
tersebut, seperti Ia tulis Nabi Muhammad SAW yang
diperintahkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim AS, sebagaimana
terbaca pada ayat yang lalu, kini diperintahkan lagi untuk
mengajak siapa pun agar mengikuti pula prinsip-prinsip ajaran
Bapak para Nabi dan pengumandang tauhid itu. Kemudian Ia
tegaskan pula setelah menjelaskan ketiga metode dakwah
dengan ungkapan Itulah tiga cara berdakwah yang hendaknya
engkau tempuh menghadapi manusia yang beraneka ragam
peringkat dan kecerendungannya; jangan hiraukan cemoohan,

11
Hamka, Tafsir Al-Azhar , (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 2008). Juz XIII-
XIV, h. 321-322
12
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta; Lentera Hati, 2002),
vol-6, h. 774-777
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
100
atau tuduhan-tuduhan tidak berdasar kaum musyrikin, dan
serahkan urusanmu dan urusan mereka pada Allah. Tidak
jauh berbeda apa yang dipaparkan oleh Hamka dalam tafsir Al-
Azharnya, yang menjelaskan tentang tema ayat itu adalah
dakwah, seperti yang Ia tulis pula Ayat ini adalah
mengandung ajaran kepada Rasulullah SAW tentang cara
melancarkankan dawah, atau seruan terhadap manusia agar
mereka berjalan di atas jalan Allah (fii sabilillah). Sabilillah atau
shirathal mustaqim, ad-dinul Haqqu, agama yang benar. Nabi
SAW memegang tampuk pimpinan dalam melakukan dawah
itu. Kepadanya ditutunkan oleh tuhan bahwa di dalam
melakukan dawah hendaklah memakai tiga macam cara atau
tiga tingkat cara.
13

Kedua, sama halnya dalam menyebutkan ketiga metode
dalam surat An-Nahl ayat 125 sebagai pokok cara berdakwah
serta menjelaskan secara runtut dari ketiga metode dakwah
yakni dengan menafsirkan kata hikmah lebih dahulu, lalu
mauidzah al-hasanah, dan jidal , -' _` , ,-, - =, , .
Ketiga, menafsirkan kata hikmah dengan makna
kebijaksanaan meliputi pengetahuan dan perbuatan. Hal ini
dapat kita telusuri dalam tafsir Al-Mishbah, disebutkan bahwa
terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi
diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni
berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat
kepandaian mereka.. Lanjut Quraish menjelaskan, kata
hikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala
sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan.
14

Senada apa yang dijelaskan oleh Quraish, Hamka
menuliskan bahwa pertama hikmah. (kebijaksanaan). Yaitu

13
Hamka, Tafsir Al-Azhar , (Jakarta; Pustaka Panji Mas, 2008). Juz
XIII-XIV, h. 321-322
14
Op-Cit, h. 774-777
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
101
dengan secara bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang
lapang dan hati yang bersih menarik perhatian orang kepada
agama, atau kepada kepercayaan terhadap Tuhan. Lebih
lanjut Hamka menjelaskan bahwa; Kebijaksanaan itu bukan
saja dengan ucapan mulut, melainkan termasuk juga dengan
tindakan dan sikap hidup.
15

Keempat, kesamaan dalam menafsirkan kata Mauidzatul
Hasanah sebagai nasihat yang mesti disampaikan dengan yang
baik, disertai dengan keteladan. Sebagaimana dituliskan
Quraish, Kata al-Mauizhah terambil dari kata Waazha yang
berarti nasihat. Mauizhah adalah uraian yang menyentuh hati
yang mengantar kepada kebaikan. Oleh karena itu, Ia
tegaskan kembali, bahwa Mauizhah baru dapat mengena hati
sasaran bila ucapan yang disampaikan itu disertai dengan
pengamalan dan keteladan dari yang menyampaikannya.
Menurutnya inilah yang disebut Hasanah. Sebab kalau tidak, ia
adalah yang buruk.
16

Hamka, mengartikan al-Mauizhatul Hasanah sebagai
pengajaran yang baik, atau pesan yang baik, yang disampaikan
sebagai nasihat. Yang membutuhkan keteladan bagi dari
penyampaiannya. Hal ini Ia pertegas Mauizhah Hasanah
termasuk sebagai bidang pendidikan dan tuntunan sejak kecil.
Karena menurut hemat penulis pendidikan itu tidak lepas dari
sifat keteladan si pendidik agar menjadi contoh yang baik bagi
kehidupan yang terdidik. Sebagaimana Hamka berpendapat
dalam tafsirnya Sebab itu termasuklah bidang mauizhatul
hasanah, pendidikan ayah-bunda dalam rumah-tangga kepada
anak-anaknya, yang menunjukkan contoh beragama di
hadapan anak-anaknya, sehingga menjadi kehidupan mereka
pula. Termasuk juga pendidikan dan pengajaran dalam

15
Hamka, Tafsir Al-Azhar , (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 2008). Juz XIII-
XIV, h. 321-322
16
Loc.cit, h. 774-777
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
102
perguruan-perguruan. Lanjut Hamka, pengajaran-pengajaran
yang baik lebih besar kepada kanak-kanak yang belum
ditumbuhi atau belum diisi lebih dahulu oleh ajaran-ajaran
yang lain.
17

Kelima, serupa dalam mengartikan kata Jidal
(wajadilhumbillati hiya ahsan) sebagai perbantahan (diskusi)
dengan yang lebih baik. Hal ini dapat ditemukan
persamaannya ketika Quraish membedakan antara Mauizhah
dengan Jidal, Ia menguraikan bahwa Mauizhah hendaknya
disampaikan dengan hasanah/baik, sedang perintah berjidal
disifati dengan kata ahsan/yang terbaik, bukan sekedar yang
baik. Keduanya berbeda dengan hikmah yang tidak disifati
oleh satu sifat pun. Ini berarti bahwa mauizhah ada yang baik
dan ada yang tidak baik, sedang jidal ada tiga macam, yang
baik, yang terbaik, dan yang buruk.
18

Adapun Hamka menerangkan kata jadilhum billati hiya
ahsan, bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Yakni
ketika terjadi polemik, maka cara yang yang dipakai adalah
dengan cara berbantah atau diskusi yang lebih baik
sebagaimana Ia ungkapkan dalam tafsirnya;
19

Kalau telah terpaksa timbul perbantahan atau
pertukaran fikiran yang di zaman kita ini disebut polemik, ayat
ini menyuruh, agar dalam hal yang demikian, kalau sudah
tidak dapat dielakkan lagi, pilihlah jalan yang sebaik-baiknya.
Di antaranya ialah memperbedakan pokok soal yang tengah
dibicarakan dengan perasaan benci atau sayang kepada
peribadi orang yang tengah diajak berbantah. Misalnya
seseorang yang masih kufur, belum mengerti ajaran Islam, lalu

17
Hamka, Op.Cit, h. 321-322
18
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta; Lentera Hati, 2002),
vol-6, h. 774-777
19
Hamka, Loc.Cit, h. 321-322
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
103
dengan sesuka hatinya saja mengeluarkan celaan kepada Islam,
karena bodohnya. Orang ini wajib dibantah dengan jalan yang
sebaik-baiknya, disadarkan dan diajak kepada jalan fikiran
yang benar, sehingga dia menerima. Tetapi kalau terlebih
dahulu hatinya disakitkan, karena cara kita membantah yang
salah, mungki dia enggan menerima kebenaran, meskipun hati
kecilnya mengakui, karena hatinya telah disakitkan.

Titik Perbedaan Penafsiran Tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-
Azhar Tentang Metode Dakwah
Kiranya perlu ditemukan titik perbedaan kedua tafsir
tersebut dalam menafsirkan metode dakwah sesuai surat An-
Nahl ayat 125. adapun kedua titik perbedaan itu antara lain:
Pertama, selain persamaan dalam menentukan topik
bahasan pada surat An-Nahl ayat 125 yaitu dakwah dalam
tafsir Al-Mishbah sedikit menerangkan korelasi ayat tersebut
dengan ayat yang sebelumnya serta menghubungkan ayat ini
dengan ayat yang akan datang (yang akan dibahasnya). Hal ini
tidak ditemukan sebagaimana dalam tafsir Al-Azhar. Dalam
tafsir Al-mishbah diterangkan bahwa sebelumnya Nabi
Muhammad SAW diperintahkan mengikuti prinsip-prinsip
tauhid Nabi Ibrahim AS. pada ayat sebelumnya. Kemudian
Quraish mengkaitkan dengan ayat yang sedang dibahasnya
yakni dengan menerangkan bahwa ayat ini adalah untuk
mengajak siapa pun untuk mengikuti prinsip-prinsip tauhid
Nabi Ibrahim AS. Setelah itu, Ia juga, sedikit membahas ulang
ayat 125 ini pada ayat sesudahnya yaitu ayat 126; An-Nahl,
sebagaimana tafsirnya:
Jika ayat yang lalu memberi pengajaran bagaimana cara-cara
berdakwah, ayat ini memberi pengajaran bagaimana seharusnya
membalas jika kondisi telah mencapai tingkat pembalasan. Jika ayat
125 menuntun bagaimana cara menghadapi sasaran dakwah yang
diduga dapat menerima ajakan tanpa membantah atau bersikeras
menolak serta dapat menerima ajakan setelah jidal (bermujadalah), di
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
104
sini dijelaskan bagaimana menghadapi mereka yang membangkang
dan melakukan kejahatan terhadap pelaku dakwah, yakni
dai/penganjur kebaikan.
20

Begitu seterusnya cara Ia menafsikannya pada setiap ayat.
Kedua, dalam tafsir Hamka, (sesuai dengan metode
tematik) pada sekelompok ayat ditemukan tema yang diusung
dituliskan tema besar, pada satu ayat atau beberapa kelompok
ayat, sehingga pembaca/mufassir sebelum membaca lebih jauh
dapat mengetahui tema yang ditelaah.
21
Sedangkan pada tafsir
Al-Misbah tidak ditemukan seperti itu kecuali pada surat
Yusuf saja hanya ditemukan pada pengkelompokkan ayat-ayat
tanpa tema besar.
22

Ketiga, dalam segi penjelasan, Quraish pada tafsir Al-
Mishbah lebih menekankan kepada uraian pengertian kosa
kata, keserasian, pesan, petunjuk makna dan kandungan ayat
serta banyak dinukil dari para mufassir sehingga penjelasan
ayatnya pun lebih detail berbeda dengan tafsir Al-Azhar, yang
sepintas memberikan keterangan pada kosa kata- Seperti kita
lihat pada penjelasannya tentang metode dakwah, bagaimana
ia lebih memperinci pemahaman kosa kata dari Hikmah :
Kata hikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala
sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Ia adalah pengetahuan
atau tindakan yang bebas dari kesalahan atau kekeliruan. Hikmah
juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/diperhatikan akan
mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih
besar serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang
besar atau lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang

20
M. Quraish Shihab, Loc-Cit, h. 774-777
21
Hamka, Loc.Cit, h. 321-322
22
M. Quraish Shihab, Loc.Cit, h. 774-777
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
105
berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kebdaraan
mengarah kea rah yang tidak diinginkan atau menjadi liar.
23

Memilih perbuatan terbaik dan sesuai adalah perwujudan dari
hikmah. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk
pun dinamai hikmah, dan pelakunya dinamai Hakim (bijaksana).
Siapa yang tepat dalam penilainnya dan dalam pengaturannya, dialah
yang wajar menyandang sifat ini atau dengan kata lain dia yang
hakim.
Dan ia juga mengkutip perkataan mufassir untuk
memperkuat argumentasinya mengenai hikmah, Thahir Ibn
Asyur menggaris bawahi bahwa:
hikmah adalah nama himpunan segala ucapan atau
pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan keaadan dan
kepercayaan manusia secara bersinambung. ThabathabaI mengutip
ar-Raghib al-Ashfahani yang menyatakan secara singkat bahwa
Hikmah adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan
akal. Dengan demikian, menurut Thabathabai, Hikmah adalah
argument yang menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan, tidak
mengandung kelemahan tidak juga kekaburan.
24

Pakar tafsir al-Biqai menggarisbawahi al-Hakim, yakni yang
memiliki hikmah, harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan
tindakan yang diambilnya sehingga dia tampil dengan penuh percaya
diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira, dan tidak pula
melakukan sesuatu dengan coba-coba.
Kemudian, lebih jauh lagi tentang makna Hikmah ia
berpendapat, Hikmah tidak perlu disifati dengan sesuatu karena dari
maknanya telah diketahui bahwa ia adalah sesuatu yang mengena
kebenaran berdasar ilmu dan akal seperti tulis Ar-Raghib, atau seperti
tulis Ibn Asyur, ia adalah segala ucapan atau pengetahuan yang
mengarah kepada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara
berkesinambung. Di sisi lain, Hikmah yang disampaikan itu adalah

23
M. Quraish Shihab, Loc.Cit, h. 774-777
24
Ibid, h. 774-777
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
106
yang dimiliki oleh seorang (,,-) Hakim yang dilukiskan maknanya
oleh Al-Biqai seperti penulis nukil di atas, dan ini tentu saja akan
disampaikannya setepat mungkin, sehingga tanpa menyifatinya
dengan satu sifat pun, otomatis dari namanya dan sifat
penyandangnya dapat diketahui bahwa penyampainnya pastilah
dalam bentuk yang paling sesuai.
25

Tidak itu saja, Quraish Shihab,di dalam penafsiran ayat
125 ini, ia memberikan penjelasan petunjuk makna pada tiap
satu kalimah atau kata perkata dengan cara memisahkan
terjemahan ayat yang dicetak miring, agar dapat dibedakan
terjemahan ayat dengan tafsirannya, sesuai dengan disusunnya
tafsir ini yakni agar mendapatkan pesan, kesan, dan keserasian
Al-Quran. Kita dapat simak dalam tafsirnya pada ayat 125 ini;
sebagai berikut; Ayat ini menyatakan: Wahai Nabi
Muhammad, serulah, yakni lanjutkan usahamu untuk menyeru
semua yang engkau sanggup seru, kepada jalan yang ditunjukkan
tuhanmu, yakni ajaran Islam, dengan hikmah dan pengajaran yang
baik dan bantahlah mereka, yakni siapa pun yang menolak atau
meragukan ajaran Islam, dengan cara yang terbaik. Itulah tiga
cara berdakwah yang hendaknya engkau tempuh menghadapi
manusia yang beraneka ragam peringkat dan
kecerendungannya; jangan hiraukan cemoohan, atau tuduhan-
tuduhan tidak berdasar kaum musyrikin, dan serahkan
urusanmu dan urusan mereka pada Allah karena sesungguhnya
tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu
Dia-lah sendiri yang lebih mengetahui dari siapa pun yang
menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya tersesat dari jalan-
nya dan dia-lah saja juga yang lebih mengetahui orang-orang
yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk.
26

Sedangkan berbeda pada tafsir Al-Azhar, Hamka
mengkolaborasikan kandungan dan makna ayat sesuai dengan

25
Ibid, h. 774-777
26
Ibid, h. 774-777
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
107
kondisi masyarakat pada saat itu, serta memberikan
contohnya.
27
Seperti dalam penafsirannya mengenai mauizhah
hasanah yang penulis bahas sebelumnya dari penafsiran
tersebut disebutkan bahwa ia mengartikan mauizhah hasanah
termasuk bidang pendidikan yang mana ia jadikan menurut
penulis sebagai solusi persoalan kehidupan masa depan anak-
anak.
Tidak itu juga, bagaimana ia ketika menafsirkan jadilhum
billati hiya ahsan, ia menyebutkan bahwa kalau terpaksa telah
terpaksa timbul perbantahan maka diperlukan dilakukan
dengan cara yang terbaik, yang ia samakan persoalan
perbantahan dengan polemik pada keadaannya ketika itu.
Kemudian ia memberi contoh dari persoalan itu dengan
penjelasannya sebagai berikut : Di antaranya ialah
memperbedakan pokok soal yang tengah dibicarakan dengan perasaan
benci atau saying kepada peribadi orang yang tengah diajak
berbantah. Misalnya seseorang yang masih kufur, belum mengerti
ajaranm islam, lalu dengan sesuka hatinya saja mengeluarkan celaan
kepada Islam, karena bodohnya. Orang ini wajib dibantah dengan
jalan yang sebaik-baiknya, disadarkan dan diajak kepada jalan fikiran
yang benar, sehingga dia menerima. Tetapi kalau terlebih dahulu
hatinya disakitkan, karena cara kita membantah yang salah, mungki
dia enggan menerima kebenran, meskipun hati kecilnya mengakui,
karena hatinya telah disakitkan.
28

Selain itu ia menyimpulkan penafsirannya dengan melirik
kondisi kehidupan sosial pada waktu itu, seperti
disimpulkannya; Demikianlah ayat ini telah dijadikan salah satu
pedoman perjuangan, menegakkan Iman dan Islam di tengah-tengah
berbagai ragamnya masyarakat pada masa itu, yang kedatangan Islam
adalah buat menarik dan membawa, bukan mengusir dan

27
Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 2008), Juz XIII-
XIV, h. 321-322
28
Ibid, h. 321-322
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
108
mengeyahkan orang. Dan sampai sekarang, ketiga pokok ini masih
tetap terpakai, menurut perkembangan-perkembangan zaman yang
modern
29

Studi Analisis Penafsiran
Seperti yang telah penulis bahas sebelumnya, berbicara
mengenai penafsiran Al-Quran tidak terlepas dari metode
penafsiran. Sebagaimana para ulama berpendapat metode
penafsiran dibagi menjadi empat macam metode
30
, tergantung
pada sudut pandang yang digunakan. Untuk itulah, berbicara
mengenai tafsir Al-Mishbah dengan tafsir Al-Azhar pun tidak
luput dari penggunaan salah satu metode tersebut
Pada tafsir Al-Misbah yang ditempuh dalam menyajikan
kandungan dan pesan-pesan firman Allah. Yaitu, dengan
menyajikannya sesuai urutan Ayat-ayat sebagaimana yang
termaktub dalam mushaf, misalnya dari ayat pertama surat Al-
Fatihah hingga ayat terakhir, kemudian beralih ke ayat pertama
surat kedua (Al-Baqarah) hingga berakhir pula, dan demikian
seterusnya. Pesan dan kandungannya dihidangkan dengan
rinci dan luas mencakup aneka persoalan yang muncul dalam
benak sang penafsir, baik yang berhubungan langsung maupun
tidak dengan ayat yang ditafsirkannya. Metode tersebut
menunjukkan bahwa dalam aspek sistematika ayat-ayat yang
ditafsirkan. Quraish, dalam hal ini menggunakan metode
tahlili, seperti yang disinyalir al-Farmawi yang dikutip oleh Dr.
Usman dalam bukunya Ilmu Tafsir, mendefinisikan metode
tahlili ini sebagai tafsir yang mengkaji ayat-ayat al-Quran dari
segi maknanya berdasarkan urutan ayat atau surah dalam
Mushhaf sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir
yang menafsirkan ayat-ayat tersebut; dengan menjelaskan
pengertian dan kandungan lafal-lafalnya, hubungan ayat-

29
Ibid, h. 321-322
30
Dr. Usman, M. Ag, Ilmu Tafsir, (Yogyakarta; Teras, 2009), Cet.I, h.
279
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
109
ayatnya, hubungan surat-suratnya, sebab nuzulnya, hadis-
hadis yang berhubungan dengannya, pendapat-pendapat para
mufasir terdahulu yang diwarnai oleh latar belakang
pendidikan dan keahliannya masing-masing.
31

Hamka pun dalam tafsir Al-Azharnya, dari segi
sistematika ayat-ayat yang ditafsirkannya tidak terlepas pada
kegiatan metode tahlili, serta keduanya jika dipandang dari
aspek sasaran ayat atau untuk pengkaji tafsirnya, kemungkinan
besar tidak akan pernah meninggalkan penggunaan metode
tematik. Hanya saja, mungkin karena latar belakang
pendidikan dan keahliannya, terlihat berbeda pada segi
keluasan penjelasannya. Dibandingkan Hamka, Quraish Shihab
lebih memperinci keterangan lafal, ayat bahkan munasabah
ayat dan surat sehingga penelaah atau pembaca akan merasa
puas dan mengerti kandungan ayat-ayat yang ditafsirkannya.
Sedangkan yang dikaji Hamka pada tafsirnya masih berbentuk
global (ijmaly) meskipun ia memberikan tema besar pada tiap
satu atau kelompok ayat. Kendati pun demikian, namun pada
penafsirannya Hamka hampir selalu mengkaitkan penafsiran
ayat dengan persoalan dan kondisi masyarakat yang
berkembang serta memberikan solusinya, seperti tersimak pada
keterangannya, mauizhah hasanah adalah termasuk suatu bidang
pendidikan yang mesti diterapkan sejak dini dengan tetap
memberikan teladan.
32
Kalau kita lihat pada tafsir al-Mishbah
jarang sekali penulis temukan keterangan seperti Hamka
tersebut.
Dalam pada itu, jika kita lirik lagi dari metode penafsiran,
dari segi sumber penafsirannya. Keduanya menggunakan tafsir
bi-al rayi
33
dan nampaknya sesuai dengan kosentrasi mereka

31
Ibid, h. 280-281.
32
Lihat Tafsir Al-Azhar An-Nahl: 125
33
Kata Al-Rayi, secara etimologis berarti keyakinan, qiyas dan ijtihad.
Jadi, tafsir bi al-rayi adalah penafsiran yang dilakukan dengan cara jithad,
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
110
yakni metode tematik. Maka, menurut yang penulis temukan,
tidak menggunakan metode bi al-matsur atau bi al-riwayah.
Karena kalau mereka menggunakan metode bi al-matsur atau bi
al-riwayah besar kemungkinan akan terlepas dari metode tafsir
dengan menggunakan prinsip metode tematik dan dalam segi
pembahasannya akan bertele-tele dan panjang.

Penutup
Berdasarkan hasil pembahasan di atas tentang studi
komparatif tafsir Al-Misbah dan tafsir Al-Azhar tentang
penafsiran metode dakwah penulis dapat menyimpulkan
sebagai berikut:
1. Metode penafsiran yaitu cara sistematis untuk
mencapai pemahaman yang benar tentang maksud
Allah SWT dalam Al-Quran, baik yang didasarkan
pada pemakaian sumber-sumber penafsiran, sistem
penjelasan tafsiran-tafsiran, keluasan penjelasan
penafsiran maupun yang didasarkan pada sasaran
dan sistematika ayat yang ditafsirkannya.
2. Metode dakwah dapat ditemukan tiga cara sesuai
dengan surat An-Nahl ayat 125 yakni metode bi al
hikmah, bi al mauidzaah al hasanah, dan wa jaadil hum bi
allatii hiya ahsanu
3. Menafsirkan kata hikmah yaitu dengan makna
kebijaksanaan meliputi pengetahuan dan perbuatan.
Hal ini dapat kita telusuri dalam tafsir Al-Mishbah,
disebutkan bahwa terhadap cendekiawan yang
memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan

yakni rasio yang dijadikan titik tolak penafsiran, setelah terlebih dahulu
mufassir terlebih dahulu memahami bahasa arab dan aspek-aspek dalalah
(pembuktiannya) dr.usman, ilmu tafsr h. 283
ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
111
menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni
berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat
kepandaian mereka.. Quraish menjelaskan bahwa
kata hikmah antara lain berarti yang paling utama dari
segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan.
Senada apa yang dijelaskan oleh Quraish, Buya Hamka
juga menuliskan dalam tafsir Al-Azhar bahwa:
pertama hikmah. (kebijaksanaan), yaitu dengan secara
bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang dan
hati yang bersih menarik perhatian orang kepada
agama, atau kepada kepercayaan terhadap Tuhan.
Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa:
Kebijaksanaan itu bukan saja dengan ucapan mulut,
melainkan termasuk juga dengan tindakan dan sikap
hidup.
4. Metode penafsiran dari segi sumber penafsirannya,
keduanya (Tafsir Al-Mishbah dan tafsir Al-Azhar)
menggunakan tafsir bi-al rayi dan nampaknya sesuai
dengan kosentrasi mereka yakni metode tematik.
Penulis tidak menemukan metode bi al-matsur atau bi
al-riwayah dalam menjelaskan makna yang surat An-
Nahl ayat 125.









ADZIKRA Vol. 01. No. 02 (Juli - Desember) 2010

Syaikhu Tafsir Al-Bisbah & Tafsir Al-Azhar
112


Daftar Pustaka

Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah, (Jakarta; Amzah,
2007)
Abuddin Nata, MA, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat
Al-Tarbawiy), (Jakarta; PT. RajaGrapindo Persada. 2002)
M. Umar al-Haji, Mausuat al Tafsir Qobla Ahdi Tadwin,
Syuriah:1427. Cet. I
Ahmad Syukri Saleh. MA, Metodologi Tafsir Kontemporer dalam
Pandangan Fazlur Rahman (Pengantar Quraish Shihab),
(Jakarta; Sulthan Thaha press, 2007), hal.v-vii
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta; Lentera Hati,
2002), vol-6
Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Jakarta; PT. Mizan
Pustaka, 2007)
www.wikipwdia.org http://media.isnet.orgs. Artikel kajian
tafsir alquram oleh taufikurrahman.lihat juga tafsir al-
misbah vol:1
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta; Lentera Hati,
2002), vol-6Hamka, Tafsir Al-Azhar , (Jakarta: Pustaka
Panji Mas, 2008). Juz XIII-XIV
Usman, M. Ag, Ilmu Tafsir, (Yogyakarta; Teras, 2009), Cet.I