Anda di halaman 1dari 2

FUNGSI KEADILAN (JUSTICE) Menurut Rawls, prinsip paling mendasar dari keadilan adalah bahwa setiap orang memiliki

hak yang sama dari posisi-posisi mereka yang wajar. Karena itu, supaya keadilan dapat tercapai maka struktur konstitusi politik, ekonomi, dan peraturan mengenai hak milik haruslah sama bagi semua orang. Situasi seperti ini disebut "kabut ketidaktahuan" (veil of ignorance), di mana setiap orang harus mengesampingkan atribut-atribut yang membedakannya dengan orang-orang lain, seperti kemampuan, kekayaan, posisi sosial, pandangan religius dan filosofis, maupun konsepsi tentang nilai. Untuk mengukuhkan situasi adil tersebut perlu ada jaminan terhadp sejumlah hak dasar yang berlaku bagi semua, seperti kebebasan untuk berpendapat, kebebasan berpikir, kebebasan berserikat, kebebasan berpolitik, dan kebebasan di mata hukum. Selain itu, masih menurut Rawls, Ia juga membagi keadilan ke dalam 2 prinsip, yaitu: Pertama: bahwa setiap orang memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar yang sama luasnya dengan skema kebebasan bagi orang lain. Kedua: ketimpangan sosial ekonomi harus diatur sedemikian rupa sehingga kedua hal itu dapat diekspektasikan untuk memberikan keuntungan bagi semua orang, dan melekat untuk kekuasaan dan jabatan yang terbuka bagi semua orang. Prinsip-prinsip tersebut terutama berlaku pada strukur masyarakat, mengatur hak dan tugas-tugas, dan mengatur distribusi keuntungan sosial dan ekonomi. Formulasi dari prinsip-prinsip tersebut mengatakan bahwa, untuk kegunaan dari teori keadilan, struktur sosial dapat dilihat memiliki dua bagian yang kurang lebihnya, prinsip pertama menerapkan ke yang satu, sementara prinsip kedua ke yang lainnya. Dengan demikian kita membedakan antara aspek dari sistem sosial yang menentukan dan mengamankan kebebasan dasar yang sama dan aspek-aspek yang menentukan dan menetapkan sosial dan ketidaksetaraan. Penting bagi kita untuk mengamati bahwa kebebasan dasar tersusun oleh daftar panjang kebebasan itu sendiri. Yang terpenting diantaranya adalah kebebasan dalam berpolitik (hak untuk memilih dan memegang kekuasaan publik); kebebasan untuk berbicara dan berkumpul; kebebasan nurani dan kebebasan berpikir; dan kebebasan perseorangan, yang mencakup kebebasan dari penindasan psikologis dan fisik, serta penyerangan dan pemotongan (integritas orang tersebut); hak untuk menahan property pribadi dan kebebasan dari penangkapan sewenang-wenang serta penyitaan seperti didefinisikan oleh konsep aturan hukum. Dalam pendekatan pertama, prinsip kedua berlaku untuk distribusi pendapatan dan kekayaan serta dalam struktur organisasi yang pada akhirnya membuat perbedaan antara wewenang dan tanggung jawab. Dan ketika distribusi kekayaan dan pendapatan tidak sama, itu harus menjadi keuntungan bagi semua orang, dan pada saat yang sama, posisi otoritas dan tanggung jawab harus bias diakses oleh semua orang. Setelah menerapkan prisnsip kedua dengan memegang posisi terbuka, dan kemudian sesuai dengan kendala ini, dapat mengatur ketidaksetaraan sosial dan ekonomi sehingga dapat memberikan manfaat bagi semua orang.

Semua nilai sosial, kebebasan dan keadilan, pendapatan dan kekayaan, serta konsep dasar harga diri harus didstribusikan secara merata, atau jika ada ketimpangan distribusi suatu nilai apapun, itu harus memberikan manfaat dan keuntungan bagi semua orang.

Sumber: a theory of justice (revised edition) Karya John Rawls 1971 published by Harvard University Press Contents was quoted from Part I (theory of justice)-Chapter II (the principles of justice)-page 47 to 52