Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN DISKUSI TUTORIAL

BLOK 2.6 SKENARIO 6 PROSES PEMBELAJARAN

TUTOR : Dr.Rusydi Aziz

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 7 A Ketua : Yugo Berri Putra Rio 0910312064 0910312086 0910313195

Sekretaris I : Yuriko Andre Sekretaris II : Muthia Dewi Anggota: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Demas Nico M.M Yashinta Octavian G.S Dita Nelvita Sari Abdul Razak Utary Marnolia Rohani

0910312081 0910312102 0910313228 0910313233 0910313242 0910313262

Terminologi 1. Ambeien : Dilatasi varikosus vena pleksus hemoroidalis inferior/superior akibat peningkatan tekanan vena yang persisten. 2. Anocutan line : garis berkelok-kelok mengikuti tingkat valvula analis dan menyilang dasar antara menandai persambungan zona kanalis analis yang dibatasi oleh epitel squamous bertingkat dan torak epitel. 3. Abdomino perineal resection : Operasi dimana anus,rectum,sigmoid dipindahkan/dibuang dan digunakan untuk mengobati kanker yang letaknya sangat rendah di rectum atau anus. 4. Anus prenaturalis : pembuatan anus baru (anus buatan) di antara kolon dengan permukaan tubuh. 5. Poliklinik : Rumah sakit dan sekolah tempat segala macam penyakit yang diobati secara klinik. 6. Hematochezia : Darah segar yang keluar melalui anus, manifestasi tersering untuk perdarahan saluran cerna bagian bawah yang sering terjadi pada usia lanjut.

Identifikasi Masalah 1. Apa yang menyebabkan hematochezia yang disertai lendir? 2. Kenapa kadang-kadang menetes darah terang setelah defekasi dan kenapa setiap BAB tidak merasa puas dan terasa mau BAB lagi? 3. Kenapa berat badan Pak Bujang menurun? 4. Kenapa dokter mengira Pak Bujang menderita ambeien, apa tanda-tanda ambeien tersebut dan apa obat yang diberikannya serta kenapa tidak menunjukkan adanya perbaikan? 5. Bagaimana kaitannya kebiasaan makan pak bujang dan riwayat keluarga dengan keluhannya? 6. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik abdomen? 7. Bagaimana interpretasi dari rectal toucher? 8. Apa alas an dokter menanyakan pak bujang menderita tumor pada usus besar bagian bawah dan bagaimana pemeriksaan lanjutannya? 9. Bagaimana prognosis untuk pak bujang?

Analisa masalah 1. Hematochezia sering terjadi pada saluran cerna bagian bawah. Pada saluran cerna bagian atas bias disebabkan karena varises esophagus : perdarahannya massif,transit di lambungnya cepat sehingga kontak dengan asam lambung sebentar. Juga disebabkan karena trauma pada kolon, reaksi infeksi dari peradangan, tumor, polip, karsinoma yang rapuh sehingga mudah mengalami perdarahan. Disertai dengan lendir bisa dihasilkan oleh mikroorganisme yang ada di usus besar atau karena keganasan yang menyebabkan peningkatan sekresi mucus sehingga terjadi penigkatan lendir. 2. Menetes darah setelah defekasi bisa disebabkan karena adanya massa pada kolon yang rapuh sehingga terjadi perdarahan.Saat kolon distensi akan menstimulasi saraf kemudian menstimulasi sfingter ani eksterna yang menyebabkan adanya rasa ingin defekasi. Massa pada kolon tersebut membentuk striktura anular (mirip cincin) menyebabkan gangguan obstruksi sehingga ketika BAB akan menghambat pergerakan feses dan hanya keluar lendir dan darah.

3. Penurunan berat badan bisa disebabkan karena : a. Sindroma malabsorbsi b. Kerusakan pada permukaan duodenum c. Cachexia yang disebabkan karena kanker, disertai dengan anemia, hipermetabolisme, hilangnya nafsu makan. 4. Diduga ambeien (hemoroid) karena gejalanya BAB berdarah. Hemoroid bisa saja terjadi karena massa pada kolon menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen sehingga menyebabkan dilatasi a.hemoroidalis. Obat yang diberikan untuk membantu proses pembekuan pembuluh darah yang mengalami perdarahan di sekitar anus. Namun tidak mengalami perbaikan karena pusat terjdinya perdarahan karena massa tumor di kolon bukan karena hemoroid. 5. Kebiasaan makan makanan rendah seratdan tinggi karbohidrat murni mengakibatkan perubahan pada flora usus dan perubahan degradasi garam empedu atau hasil pemecahan protein dan lemak, sebagian zat ini bersifat karsinogenik. Selain itu, diet rendah serat juga mengakibatkan pemekatan zat berpotensi karsinogenik(daging-dagingan) ini menjadi feses yang bervolume lebih kecil dan masa transit feses akan meningkat, akibatnya kontak zat berpotensi karsinogenik dengan mukosa usus bertambah lama. 6. Metastasis dari kanker kolorektum yaitu melalui 3 cara: a. Melalui infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan misalnya kandung kemih. b. Melalui pembuluh limfe (limfogen) ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon sehingga mengkibatkan limfadenopati. c. Melalui aliran darah (hematogen),misalnya ke hati, karena kolon mengalirkan darah ke system portal sehingga mengakibatkan hepatomegali. Jadi interpretasi dari pemeriksaan fisik abdomen yaitu karena penyebaran limfogen dan hematogen dari kanker kolorektum tersebut. 7. Interpretasi dari rectal toucher yaitu ditemukan massa tumor dari adenocarcinoma rectum karena lesi anular dari massa tumor yang meluas tumbuh ke dalam lumen sering ditemukan pada bagian rektosigmoid. 8. Tumor pada usus bagian bawah merupakan massa keganasan. Pemeriksaan lanjutan dapat berupa hasil laboratorium, tes darah samar, kolonoskopi, radiologi yaitu dengan pemeriksaan barium enema kontras ganda. 9. Prognosis : a. Baik, jika lesi terbatas pada mukosa dan submukosa pada saat reseksi. b. Buruk, jika sudah terjdai metastasis ke kelenjar limfe atau aliran darah.

Sistematika

Tujuan Pembelajaran : 1. Mampu menjelaskan neoplasma pada saluran cerna bagian atas 2. Mampu menjelaskan neoplasma pada salluran cerna bagian bawah 3. Mampu menjelaskan neoplasma pada alat-alat pencernaan.

1. Tumor Esofagus Esofagus adalah organ pencernaan berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 24 cm yang menghubungkan faring dengan esophagogastric junction.1 Kanker pada esofagus paling banyak terjadi di daerah sepertiga tengah esofagus (50%), sisanya terjadi pada sepertiga atas (15%), dan sepertiga bawah (35%).1,4,5 Kanker pada esofagus banyak terjadi pada daerah yang disebut sebagai Asian Esophageal Cancer Belt, yaitu daerah yang meliputi Iran, Asia Tengah, Afghanistan, Siberia, dan Mongolia. Selain itu kanker esofagus juga banyak terjadi di Finlandia, Islandia, Afrika Tenggara, dan Prancis Barat Laut. Di Amerika Utara dan Eropa Barat, kanker esofagus lebih banyak terjadi pada ras kulit hitam dengan status sosio-ekonomi rendah.1,5 1. 1. Karsinoma Esofagus Etiologi Tidak terdapat faktor tertentu yang berkaitan dengan terjadinya karsinoma esofagus. Etiopatogenesis dari karsinoma esofagus diperkirakan bersifat multifaktorial.1,4,5 Beberapa faktor yang berkaitan dengan terjadinya karsinoma esofagus antara lain adalah:1,4,5 a. Faktor lingkungan Lokasi geografis, kadar molibdium dalam tanah rendah, kadar garam dalam tanah, suhu. b. Faktor diet Aflatoksin, asbestos, defisiensi vitamin (A, E, C, Riboflavin, Niasin, Zink). c. Kebiasaan Merokok, konsumsi alkohol. d. Iritasi kronik pada mukosa oleh faktor fisis Radiasi, akalasia, skleroterapi injeksi. e. Kultural Status sosio-ekonomi, ras. Diagnosis

Pada stadium awal, karsinoma esofagus tidak menimbulkan keluhan.1,4 Keluhan biasanya timbul setelah terjadi metastasis, oleh karena itu karsinoma esofagus sering disebut sebagai pembunuh terselubung.1 Gejala klinis yang paling sering ditemukan adalah disfagia (>90% kasus).1,4,5 Pada awalnya disfagia yang terjadi akan menyebabkan penderita karsinoma esofagus merasa sulit menelan makanan padat. Lama kelamaan, cairan seperti saliva pun tidak dapat ditelan oleh penderita sehingga akan meleleh keluar dari mulut. Disfagia pada kanker esofagus bersifat kronik dan progresif. Berat badan penderita yang menurun juga merupakan salah satu gejala karsinoma esofagus.1,4

Gejala lainnya adalah odinofagia (nyeri saat menelan), suara menjadi serak (menandakan adanya invasi ke nervus laringeus rekurens atau aspirasi kronik), muntah, batuk, serta perdarahan pada tumor yang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, hematemesis, dan melena.1,5 Diagnosis dari karsinoma esofagus dilakukan melalui pemeriksaan fisik, pencitraan, dan endoskopi.1,5 Pada pemeriksaan fisik, penemuan kelainan tubuh akan membantu penentuan prognosis. Ditemukannya limfadenopati dan pneumonia pada penderita karsinoma esofagus menandakan kanker telah memasuki stadium lanjut.1 Diagnosis pencitraan biasanya dilakukan dengan esofagografi menggunakan barium.1 Prosedur tersebut sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan menentukan stadium kanker. Hal-hal yang dapat dinilai melalui esofagografi dengan suspensi barium antara lain adalah lokasi tumor, panjang lesi, dan kelainan jaringan di sekitar tumor. Pencitraan lain yang dapat dilakukan adalah foto toraks dan CT-Scan. CT-Scan dapat memperlihatkan stadium, resektabilitas, dan perencanaan terapi.1,5 Pemeriksaan dengan endoskopi harus dilakukan pada kasus yang diduga karsinoma esofagus. Pada saat endoskopi, biopsi jaringan juga harus dilakukan.1 Komplikasi Komplikasi pada karsinoma esofagus dapat terjadi karena invasi jaringan, efek kompresi tumor, dan terapi terhadap tumor.1,5 Invasi ke aorta menyebabkan terjadinya perdarahan masif, invasi ke serabut saraf menyebabkan suara serak dan disfagia, sedangkan invasi ke saluran pernapasan menyebabkan fistula trakeoesofageal dan esofagopulmonal (serius, progresif mempercepat kematian).1 Efek kompresi yang dihasilkan oleh tumor juga dapat memicu terjadinya komplikasi.1 Obstruksi esofagus yang umum terjadi pada karsinoma esofagus dapat menyebabkan terjadinya pneumonia aspirasi, abses paru, dan gagal napas yang disebabkan oleh obstruksi mekanik atau perdarahan.1 Selain itu, perdarahan yang terjadi pada tumor dapat menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi. Penderita karsinoma esofagus juga biasanya mengalami malnutrisi, kelemahan, dan gangguan sistem imun.! Terapi Sebelum terapi dipilih dan dilakukan, terlebih dahulu harus dilakukan staging atau penentuan stadium tumor atau kanker.1 Setelah stadium tumor diketahui, terapi yang dapat digunakan antara lain adalah:1,5 Terapi operatif Radiasi eksternal Kemoterapi 1. 2. Adenokarsinoma Efsofagus Etiologi Terapi paliatif (pemasangan protesis melewati tumor, gastrostomi) Sinar laser (pada kasus obstruktif)

Adenokarsinoma esofagus diketahui terjadi setelah keadaan pramalignanya yaitu esofagus Barrett.1,4,5 Keganasan jenis ini diketahui tidak memiliki hubungan dengan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Adenokarsinoma juga jarang ditemukan terjadi pada ras kulit hitam. Secara umum, adenokarsinoma banyak terjadi di daerah yang dekat dengan esophagogastric junction. Lesi yang terjadi bersifat masif, invasif, dan seringkali menyebar ke kelenjar regional namun jarang bermetastasis ke hati.1,4

Diagnosis

Berikut adalah beberapa gejala dan tanda klinis yang dapat terjadi pada penderita adenokarsinoma esofagus:1,4,5 Disfagia Odinofagia Penurunan berat badan Anoreksia Cepat merasa kenyang Mual, muntah, perut kembung

2. Tumor Gaster 3. 1. Epidemiologi dan Faktor Risiko Tumor jinak lebih jarang terjadi daripada tumor ganas pada gaster.3 Tumor ganas yang terjadi paling banyak adalah adenokarsinoma, tumor ini menempati urutan ke-3 tumor saluran cerna di Amerika Serikat setelah tumor pada kolon dan pankreas.3 Faktor risiko kanker gaster antara lain adalah infeksi Helicobacter pylori, diet tinggi nitrat (nitrosamin) sebagai pengawet, makanan yang diasap dan diasinkan, rokok, atrofi lambung, jenis kelamin pria (2x lebih sering daripada wanita), usia (50 70 tahun dan jarang pada < 40 tahun), alkohol, dan polip lambung.3,4,5 3. 2. Klasifikasi Tumor gaster dibagi menjadi dua, yaitu tumor jinak dan tumor ganas.3,5 Tumor Jinak Tumor jinak diklasifikasikan menjadi tumor jinak epitel dan tumor jinak non epitel.3 Tumor jinak epitel terdiri dari adenoma, adenoma hiperplastik, dan adenoma heterotropik. Sementara itu tumor jinak non epitel terdiri atau tumor neurogenik, leiomioma, fibroma, dan lipoma.3,4 Adenoma terutama terjadi pada pria dewasa.3 Umumnya tumor ini berbentuk polip bertangkai dengan permukaan licin yang hanya berukuran beberapa sentimeter. Adenoma pada umumnya tidak menimbulkan keluhan, tapi dapat pula menimbulkan perdarahan yang bisa menyebabkan terjadinya anemia.3,4 Adenoma hiperplastik terjadi ketika keadaan gastritis atrofi kronis menyebabkan permukaan muksoa dan alveolar menjadi hiperplasia.3,4 Tumor ini dapat berupa sessile atau diskret. Sementara itu adenoma heterotropik banyak terjadi pada pria usia 25 55 tahun. Tumor jenis ini paling banyak terjadi di daerah antrum dan pilorus dari gaster.3 Pada tumor neurogenik sering didapatkan massa yang tumbuh ke arah dalam lumen.3 Massa tersebut dapat mencapai ukuran beberapa sentimeter dan rentan mengalami ulserasi dan perdarahan. Sedangkan leiomioma sering ditemukan pada pasien dewasa. Tumor ini biasanya soliter, dengan diameter hingga 2 cm, dan terdapat di daerah antrum dan pilorus.3,4 Fibroma adalah jenis tumor yang jarang ditemui, biasanya ditandai dengan rasa nyeri pada abdomen dan adanya perdarahan.3 Sedangkan jenis tumor jinak non epitel terakhir, lipoma, umumnya tumbuh di dalam subkmukosa. Tumor Ganas Tumor ganas pada gaster dapat dibagi menjadi dua, yaitu Early Gastric Cancer dan Advanced Gastric Cancer.3 Berikut penjabarannya:
7

Early Gastric Cancer Berdasarkan pemeriksaan radiologi, gastroskopi, dan pemeriksaan histopatologis diklasifikasikan menjadi:3 a. Tipe I Tipe I atau yang disebut juga protruded type menginvasi hanya mukosa dan submukosa. Bentuknya ireguler dengan permukaan yang tidak rata. Dapat menimbulkan perdarahan dengan atau tanpa ulserasi. b. Tipe II Tipe II atau yang disebut juga superficial type terdiri dari tiga jenis yaitu tipe elevasi, tipe datar, dan tipe depresi. c. Tipe III Tipe III atau yang disebut juga excavated type menyerupai Bornmann II (tumor ganas lanjut). Advanced Gastric Cancer Menurut klasifikasi Bornmann dikelompokkan menjadi: 1) Bornmann I. Menyebabkan mukosa di sekitar tumor atrofi dan ireguler; 2) Bornmann II. Merupakan ulkus karsinoma non ilfritratif dengan dasar ulkus nekrosis berwarna kecoklatan, keabuan, dan merah kehitaman; 3) Bornmann III. Berupa ulkus karsinoma infiltratif dengan dinding ulkus; 4) Bornmann IV. Berupa tipe infiltratif difus yang tidak memperlihatkan adanya batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.3 3. 3. Gejala Klinis dan Diagnosis Kanker gaster stadium dini jarang menimbulkan keluhan dan sulit dideteksi.3 Keluhan utama tumor ganas gaster antara lain adalah berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah, anoreksia, disfagia, mual, kelemahan, sendawa berlebihan, dan cepat merasa kenyang. Sedangkan keluhan yang dapat timbul akibat metastasis adalah perut membesar (asites), ikterus obstruktif, nyeri tulang, dan sesak napas.3,5 Diagnosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, radiologi, gastroskopi dan biopsi, endoskopi ultrasound, pemeriksaan darah pada tinja, dan serologi.3,5 Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menganamnesis untuk mengetahui riwayat penurunan berat badan dan anemia, serta pendeteksian ada tidaknya massa pada daerah epigastrium. Sementara itu pemeriksaan radiologi yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan kontras ganda. Penjalaran tumor per lapisan gaster dapat diamati melalui pemeriksaan endoskopi ultrasound.3 3. 4. Komplikasi dan Tatalaksana Komplikasi dari kanker gaster yang dapat terjadi antara lain adalah perforasi, hematemesis, obstruksi, adhesi, serta metastasis ke organ pencernaan lain seperti hati, pankreas, dan kolon. Tatalaksana dari kanker gaster terbagi menjadi tiga, yaitu pembedahan, kemoterapi, dan radiasi.

3. Tumor Kolorektal Tumor kolorektal terbagi menjadi dua; kanker kolon dan polip kolon.2 Polip adalah penonjolan di atas permukaan mukosa. Polip dapat bertransformasi menjadi kanker kolorektal dan apabila diangkat dapat mencegah terjadinya kanker kolorektal tersebut.2 2. 1. Insidensi dan Epidemiologi Kanker kolorektal berada di peringkat ke-4 dunia dalam hal kejadian.2 Penderita laki-laki lebih banyak daripada penderita perempuan dengan perbandingan 19,4 untuk laki-laki dan 15,3 untuk
8

perempuan per 100.000 orang. Penyakit ini paling banyak ditemukan terjadi di Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, dan beberapa negara di Eropa. Kejadian kanker kolorektal meningkat tajam pada penderita dengan usia di atas 50 tahun, diduga berkaitan dengan berbagai karsinogen dan gaya hidup yang tidak sehat.2,4,5 Menurut data dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, kanker kolorektal paling banyak terjadi pada rektum (51,1%), kemudian disusul oleh kolon desenden (11,7%), rektosigmoid dan kolon sigmoid (9,7%), kolon asenden (8,7%), kolon transversum (6,8%), dan terakhir sekum (1,9%).2 Menurut laporan registrasi kanker nasional yang dikeluarkan oleh Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Himpunan Patologi Anatomik Indonesia, kecenderungan usia penderita kanker kolorektal di Indonesia lebih muda daripada di daerah barat, yaitu 35,3% penderita berusia di bawah usia 40 tahun.2,4 2. 2. Etiologi Kanker kolorektal terjadi akibat kombinasi antara faktor lingkungan dan faktor genetik.2,4,5 Faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya kanker kolorektal antara lain adalah:2,4,5 Pengaruh Positif Diet tinggi serat Vitamin C, E, asam folat, selenium BMI rendah dan aktivitas fisik Sayuran hijau dan kuning Makanan tinggi karoten Asam folat, selenium 2. 3. Gambaran Klinis Umumnya kanker kolorektal terlambat diketahui.2,4 Penderita biasanya didiagnosis menderita kanker kolorektal di usia sekitar 50 tahun dengan keadaan telah memasuki stadium lanjut sehingga prognosisnya juga buruk. Gejala yang paling sering dikeluhkan oleh penderita kanker kolorektal antara lain adalah perubahan pola defekasi, penurunan berat badan, dan perdarahan pada anus.2,4,5 Gejala lain yang mungkin timbul pada penderia kanker kolorektal adalah obstruksi usus, umumnya pada kolon transversum.2,4 Obstruksi parsial menimbulkan nyeri abdomen sementara obstruksi total menimbulkan perasaan mual, muntah, dan obstipasi.2 Kanker kolorektal bersifat rapuh sehingga rentan mengalami perdarahan dan ulserasi.2 Apabila tumor terletak di bagian distal kolon, penderita kanker kolorektal mungkin akan mengalami hematozia atau darah tumor dalam feses sedangkan apabila tumor terletak di bagian proksimal kolon biasanya penderita akan mengalami anemia defisiensi besi.2,4,5 2. 4. Prognosis dan Staging Prognosis penderita kanker kolorektal dipengaruhi oleh dalamnya penetrasi ke dinding kolon, keterlibatan kelenjar getah bening regional, dan metastasis jauh.2,4,5 Variabel-variabel tersebut kemudian digabungkan untuk dapat melakukan staging dengan metode TNM. T menunjukkan kedalaman penetrasi tumor, N menunjukkan ada tidaknya keterlibatan kelenjar getah bening, dan M menunjukkan ada tidaknya metastasis jauh. Berikut adalah penjabarannya dalam bentuk tabel:2,4,5 Pengaruh Negatif Konsumsi alkohol (2-3 kali lipat) Perbedaan pola makan Diet tinggi lemak hewani (daging merah) Diet rendah serat Karsinogen dan mutagen Diet rendah selenium

Stadium Deskripsi histopatologi Dukes A B1 B2 C D TNM T1N0M0 T2N0M0 T3N0M0 TxN1M0 TxNxM1 Derajat I I II III IV Kanker terbatas pada mukosa/submukosa Kanker mencapai muskularis Kanker cenderung masuk/melewati lapisan serosa Tumor melibatkan KGB regional Metastasis

Bertahan 5 tahun (%) > 90 85 70 80 35 65 5

2. 4. Diagnosis Diagnosis kanker kolorektal dapat ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, dan kolonoskopi.2,4 Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan terhadap perdarahan intermitten dan polip melalui darah samar feses atau anemia defisiensi besi.2 Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis kanker kolorektal adalah pemeriksaan enema barium kontras ganda.2 Sementara kolonoskopi digunakan untuk memeriksa mukosa kolon secara akurat dan dapat pula berfungsi sebagai media biopsi.2,4,5 2. 5. Pencegahan dan Tatalaksana Pencegahan teradap kanker kolorektal dilakukan dengan cara mendeteksi dini secara berkala.2 Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat luas untuk mendeteksi dini adanya kanker kolorektal antara lain adalah Fecal Occult Blood Test atau FOBT (setahun sekali), sigmoidoskopi fleksibel (5 tahun sekali), enema barium kontrak ganda (5 tahun sekali), dan kolonoskopi (10 tahun sekali).2 Pengobatan yang dapat dilakukan terhadap kanker kolorektal adalah kemoprevensi, endoskopi dan operasi, serta terapi ajuvan.2,5 Pengobatan kemoprevensi berkaitan dengan OAINS yang secara epidemiologis terbukti menurunkan risiko kanker kolorektal. Kemoterapi ajuvan bertujuan untuk mengurangi tingkat rekurensi kanker kolorektal pasca operasi. Diagnosis pada adenokarsinoma esofagus ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopi disertai biopsi. Penentuan stadium tumor atau staging dilakukan dengan radiografi menggunakan kontras dan CT-Scan.1,4,5 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita adenokarsinoma esofagus antara lain adalah obstruksi sebagai akibat dari efek kompresi tumor, perdarahan, perforasi, dan pembentukan fistula.1 Terapi Terapi yang paling umum dilakukan pada adenokarsinoma esofagus adalah reseksi ekstensif.1 Bagian esofagus yang mengalami lesi dibuang dan digantikan dengan satu segmen dari kolon transversum, kemudian diikuti dengan kemoterapi.

10

11

Anda mungkin juga menyukai