Anda di halaman 1dari 13

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

DUA TRADISI1
Afan Gaffar

PENGANTAR Judul dari tulisan ini sangatlah sederhana, yaitu Dua Tradisi, itupun sebenarnya bukanlah sesuatu yang asli dari saya karena saya memperolehnya dari George Hendrik Von Wright ketika ia menulis sebuah bukunya Explanation and Understanding,2. Di dalam bab yang pertama ia memberikan judul Two Traditions. Apakah yang dimaksud dengan dua tradisi dalam tulisan ini ? Inilah yang hendak saya bawakan dalam diskusi kita pada hari ini. Saya merasa yakin masih banyak diantara kita yang belum memahami dengan jelas tradisi keilmuan kita, khususnya ilmu sosial yang sering kali memberikan konsekuensi pada pemahaman yang tidak utuh tentang bagaimana kita mencoba memberikan makna pada suatu gejala sosial. Harus diakui bahwa persoalan metodologi3 bukanlah persoalan yang sederhana, dan bagi saya kalau kita hendak memahami dengan benar persoalan metodologi maka kita harus memahami betul dua tradisi keilmuan yang pernah mengalami pasang surut,

Makalah disampaikan pada seminar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945, Semarang, 30 September 1989. 2 George Hendrik Von Wright, 1971, Explanation and Understanding (Ithaca, Cornel University Press). 3 Methodology berasal dari dua kata yaitu method dan logos. Method-berasal dari kata meta dan hodos. Meta artinya from or after, atau a pursuit, dan hodos berarti journey, yaitu perjalanan atau pengembaraan pikiran kita. Dengan demikian kata method berarti a pursuit of knowledge, atau the procedures or the detailed and logically ordered plan used to go after knowledge. Kemudian ditambah dengan akhiran ologi yang berasal dari kata logos yang artinya the principle of reason, the source of world order and intelligibility. Dengan demikian methodology berarti suatu studi tentang rencana-rencana yang mungkin dijalankan sehingga dengan demikian pemahaman atas gejala -- dalam hal ini gejala sosial -- dapat diperoleh. Untuk lebih jelasnya harap diperiksa tulisan Donald Polkinghorne, 1983, Methodology for the Human Sciences: Systems of Inquiry (State University of New York Press, Albany, New York).
1

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

karena pada suatu kurun waktu tradisi yang pertama yang menonjol, dan pada kurun waktu yang lain tradisi yang lain. STRATEGI KEILMUAN Setiap hari kita akan selalu berhadapan dengan sejumlah gejala sosial. Sebagai ilmuwan politik (political scientist) saya selalu tertarik dengan gejala dan fakta politik. Ada mahasiswa yang melakukan protes atau demonstrasi, ada pejabat yang memberikan konferensi pers, ada anggota DPR yang sedang bersidang, kotak kosong yang menang ketika diadakan pemilihan kepala desa, seorang calon bupati dipilih, orang memberikan suaranya, dan sejumlah gejala lainya yang boleh dikatakan tak terhingga banyaknya. Pertanyaanya, kalau yang menjadi tugas dari seorang ilmuan adalah menjelaskan sebuah gejala, bagaimana caranya ia menjelaskan? Apa yang harus dilakukanya? Apakah yang kita maksudkan dengan memberikan eksplanasi yang benar? Prinsip-prinsip apa yang digunakan di dalam melakukan penjelajahan keilmuan? Apakah yang menjadi dasar bahwa kita dapat menerima suatu temuan (finding) dalam bidang keilmuan? Apakah yang menjadi dasar generalisasi dari finding tersebut? Juga masih ada segudang pertanyaan lainya yang merupakan hal yang sangat fundamental dalam bidang metodologi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah banyak diperdebatkan karena

menyangkut tugas kita ilmuan sosial, apa yang akan dan seharusnya kita lakukan sebagai ilmuan sosial. Menjawab pertanyaan ini akan menentukan posisi dan strategi metodologi orang yang bersangkutan (Donald Moon in Greenstein and Polsby, 1975, pp. 131-132). Di dalam sejarah pertumbuhan ilmu sosial ada dua tradisi besar yang dianut oleh masyarakat ilmuan sosial, yaitu apa yang disebut dengan tradisi positivisme dan tradisi anti positivisme. Namun demikian tidak berarti bahwa tidak ada ilmuwan yang mengambil jalan tengah dengan mengawinkan dua tradisi tersebut, seperti misalnya Donald J. Moon yang muncul dengan model

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

of man-nya sebagai salah satu alternatif.4 Akan tetapi dalam tulisan ini saya akan lebih banyak menaruh perhatian terhadap pengaruh dua tradisi besar tersebut karena dampaknya terhadap perkembangan ilmu sosial, terutama ilmu politik yang saya tahu betul, sangatlah besar. Kedua tradisi tersebut ada sejak masa klasik, yang oleh Von Wright disebut sebagai tradisi Aristotelien bagi mazhab anti positivisme, dan tradisi Galilean untuk positivisme. Dari nama tersebut kita dapat menyatakan bahwa tradisi yang anti positivis sudah dianut dan sudah dikembangkan oleh para pemikir sejak Yunani kuno, sedangkan yang positivis muncul lebih belakangan sebagi reaksi terhadap ketidakpuasan perkembangan dan prosedur atau tata kerja ilmu sosial.

*** POSITIVISME Apakah yang menjadi karakteristik dari mazhab5 positivisme? Siapakah yang menjadi pelopornya ? Bagaimanakah cara bekerjanya di dalam mencoba memberikan exspalanasi gejala sosial? Untuk menjelaskan apa yang menjadi dasar keyakinan positivisme ada baiknya saya mengutip secara lengkap dari apa yang diungkapkan oleh Hendrik Von Wright (1971, P. 4) sebagai berikut: One of the tenets of positivism is methodological monism, or the idea of the unity of scientific method amidst the deversity of subject matter of scientific investigation. A second tenet is the view that the exact natural sciences, including the humanities. A third tenet, finally, is a characteristic view of scientific explanation. Such expalation is, in a briad sense, causal. It consists, more specifically, in the subsumption of individual cases under hypothestically assumed general laws of nature, including human nature. The attitude toward finalisitic explanation , i.e., towards attempts to account for facts interms intentions, goals, purposes, is either to reject them as unscientific or to try to show thatm they can,

Untuk lebih jelasnya pembaca dipersilahkan memeriksa tulisan yang sangat detail dari Donald J. Moon, The Logic of Political Inquiry, in Fred I. Greenstein and Nelson W. Polsby, Handbook of Political Science Vol. I (Reading, Massachussets, Addison-Wesley Publising Company, 1975, PP. 131-228). 5 Kita dapat juga menyebutnya aliran atau yang dalam bahasa Inggeris disebut dengan school.
4

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

when duly purified of animist of vitalist remains, be transformed into causel explanation. Dari apa yang dikemukakan oleh Von Wright terlihat dengan jelas bahwa para penganut mazhab positivisme percaya bahwa pertama, semua ilmu atau semua kegiatan ilmiah (scientific endeavour) secara prinsip menggunakan metode atau prosedur kerja yang sama sekalipun begitu banyak dan bervariasi obyek yang dijadikan bahan studi atau penelitian. Jadi, metodologinya satu, tidak ada perbedaan satu bidang kegiatan dengan kegiatan yang lainnya sekalipun yang menjadi sasaranya berbeda sekali. Alasanya, yang menjadi tugas dari sebuah ilmu adalah memberikan explanasi dan prediksi, dan baik ilmu sosial dan ilmu alamiah mempunyai fungsi atau tugas yang sama. Adherents of this model deny the existence of any fundamental methodological differences between the natural and social sciences. For both natural and social science, the goals of the scientific enterprise are the explanation and prediction of natural and social phenomena, kata J. Donald Moon (in Greenstein and Polsby, 1975,P.132). Kedua, dan berkaitan erat dengan pertama, metode kerja ilmu-ilmu alamiah (natural sciences) merupakan standar yang paling ideal dan paling sempurna tentang bagaimana caranya ilmu bekerja dan berkembang. Oleh karena itu ilmu sosial sudah seharusnya mengikuti atau menggunakan metodologi dari ilmu-ilmu alamiah. Ilmu-ilmu alamiah sudah membuktikan bagaimana ia berkembang dengan pesat dari satu paradigma ke paradigma yang lain. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain bagi ilmu sosial kecuali

menggunakan metodologi dari ilmu-ilmu alamiah kalau ilmu sosial hendak berkembang dengan benar dan cepat. Karena posisi seperti yang diuraikan ini maka penganut positivisme juaga disebut penganut model naturalist. Ketiga, semua expalansi ilmiah haruslah bersifat causal, artinya expalansi yang menggambarkan hubungan sebab akibat antara explanans atau penjelas dengan explanandum atau yang dijelaskan. Orang-orang positivis percaya tidak ada gejala, termasuk gejala sosial, yang bersifat isolatif atau yang muncul secara
Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

kebetulan (accidental) karena semuanya sudah diatur oleh aturan hukum atau laws, termasuk di dalamnya menyangkut gejala sosial. Munculnya suatu gejala bukanlah suatu yang berdiri sendiri, atau bukanlah terjadi secara kebetulan akan tetapi sudah ada hukum yang mengatur gejala tersebut. Oleh karena itu apa yang disebut laws di dalam alam pikiran orang-orang positivis memiliki peranan yang sangat penting. Orang-orang positivis menolak model explanasi yang sifatnya fitalistic, yaitu explanasi yang mencoba mencari maksud dan tujuan dari suatu tindakan sosial. Explanasi yang benar adalah yang mampu memberikan jawaban yang pasti atau positif, oleh karena itu disebut dengan mazhab positivis, seperti halnya dengan ilmu-ilmu alamiah. Air kalau dipanaskan 100 derajat pasti akan mendidih, besi yang dipanaskan pasti akan mengembang, tanaman yang ditanam dengan benar, diberi pupuk dengan dosis yang tepat, yang diberi pembasmi hama, pasti akan lebih banyak menghasilkan dibandingkan dengan tanaman yang tidak dirawat dengan baik dan benar, dan lain sebagainya. Singkatnya, yang menjadi karakteristik dari positivisme kata Voon Wright adalah Through its emphasis on unity of method, on the mahtematical ideal type of a science, on the importance of general laws to explanation, positivism is linked with that longer and more ramified tradition in the history of ideas which I have here called galilean (1971, p. 4).

METODE KERJA POSITIVISME Yang menjadi bapak dari positivisme modern adalah August Comte yang kemudian juga didukung dengan kuat oleh Jhon Stuart Mill yang muncul dengan teori logic-nya. Positivisme mencapai puncak kejayaannya pada pertengahan abad ke19, akan tetapi pengaruhnya menjadi berkurang ketika muncul mazhab anti positivisme pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke20. Akan tetapi positivisme muncul kembali sebagai mazhab yang sangat berpengaruh pada tahun-tahun 1920-an dan 1930-an, ketika ia muncul dalam

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

bentuk yang baru dengan menekankan pentingnya logic, sehingga disebut pula sebagai neopositivism atau disebut logical positivism yang kemudian disebut dengan logical empirism. (Polkinghorne 1083, P.60). Mazhab ini kemudian berkembang terus sampai saat ini dan mendapat tempat yang sangat kuat dari kalangan ilmu sosial, termasuk di Indonesia. Pada mulanya (tahun-tahun 1920 s/d 1930-an) berawal dari apa yang disebut kelompok Wina atau The Vienna Circle, yang dipimpin oleh Mortz Schlick, seorang guru besar filsafat di Universitas Wina, bersama-sama dengan Rudolf Carnap, Otto Neurath, Herbert Feigl, Kurt Godel. Kelompok ini mendapat pengaruh yang sangat kuat dari mantan guru besar Wina yang sangat terkenal, yaitu Ludwiq Wittqenstein. Menurut Polkinghorne, karya Wittgenstein dipelajari dengan sangat serius, kata demi kata kalimat demi kalimat disimak dengan sangat cermat oleh kelompok ini. Mereka juga kemudian beraliansi dengan kelompok Berlin yang dipelopori oleh Carl Gustav Hempel, dan Hans Reichenbach.6 Kelompok Wina ini memusatkan perhatian kepada usaha bagaimana yang disebut sebagai produk dari kegiatan keilmuan. Bagi mereka, yang merupakan produk dari kegiatan keilmuan adalah statements about the world, atau pernyataan/gambaran yang benar tentang dunia ini, pernyataan tersebut tidaklah berwayuh arti (ambiguous), artinya harus jelas dan tegas, kalau tidak bukanlah pernyataan yang ilmiah. A adalah B, artinya A bukanlah C, D,.dan seterusnya, karena A adalah B. Penganut faham logical-positivism berpendapat bahwa tujuan dari kegiatan ilmiah bukanlah semata-mata memberikan deskripsi terhadap gejala atau event, akan tetapi tujuannya yang utama adalah memberikan jawaban atau exsplanasi mengapa gejala tersebut dapat terjadi. Setiap pernyataan atas gejala haruslah bersifat sitematik melalui suatu jaringan logika yang bersifat deduktif.
Bahkan kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, model eksplanasi yang diajukan oleh Carl Gustav Hempel merupakan standar dari model eksplanasi dari mazhab positivisme.
6

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

Logika induktif bukanlah tidak penting, akan tetapi ia digunakan untuk menopang premises. Di dalam jaringan deduksi, hubungan yang logis antara premises dengan konklusi bisa terjali apabila premisesnya benar maka konklusinya haruslah

benar pula. Konklusi mengikuti premises karena di dalam deduksi apa yang disebuat tautologi itu dapat terjadi ataupun karena semata-mata aturan logika yang membuatnya demikian. Apabila hujan, maka jalan poasti basah, menggambarkan jaringan hubungan antara Apabila hujan dengan Jalan pasti basah. Kalau memang benar hujan, maka jalan pasti basah akan benar pula. Hakekat dari jaringan deduksi adalah sebuah premise dapat digunakan untuk meramalkan konklusi secara logis. Di dalam kegiatan ilmiah, premise ini dapat pula di sebut sebagai laws atau general laws. Karena begitu pentingnya laws dalam metode kerja mazhab ini, maka model eksplanasi yangdigunakan disebut pula dengan deductive nomological explanation (nomos = law). Dengan adanya general laws maka kita dapat memberikan explanasi terhadap sebuah event dan kemudian kita juga dapat meramalkan event yang belum terjadi,. Gambar di bawah ini menjelaskan model eksplanasi dari mazhab ini.

Deductive Argument Premise-set L (if P, then Q) Law Statement P Conclusion Q

Deductive Explanation Explanans Sentences (explanatia) Explanandum Sentence (explananda)

Gambar: Deductive Model of Argument and Explanation

Untuk lebih jelasnya pembaca saya suguhkan contoh berikut ini: 1. Event yang hendak dijelaskan (explanandum): Mengapa ruangan yang di beri cat putih kemudian menujadi hitam ?.

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

2. Laws ataupun statemen yang merupakan prasyarat yang relevan atau explanans adalah: Apabila sebuah obyek adalah lead carbonate, dan dikombinasikan dengan sulfur, maka akan membentuk lead sulfide, sehingga obyek tersebut akan menghitam. Kondisi anteceden: cat yang digunakan mengandung lead carbonate, dan sulfur diperoleh karena produk dari gas yang digunakan untuk menerangi ruangan. 3. Karena catnya mengandung lead carbonate dan terkontaminasi oleh sulfur dari gas untuk ruangan rumah , maka ruangan rumah menjadi hitam.

Contoh di atas menggambarkan explanasi yang bersifat deductivenomological explanation. Ia deduktif karena mengikuti format argumen deduktif, dan sekaligus nomological karena ada laws yang menjadi dasar dari premisenya,. Karena event yang dieksplain berada dalam satu cangkupan general laws, maka model ini di sebut juga dengan The Covernig Laws. Apakah memang benar demikian cara kerja sebuah academic endeavour? Apakah tidak ada jalan lain yang harus ditempuh dalam memberikan penjelasan terhadap suatu gejala? Apakah setiap eksplanasi itu harus bersifat kausal ? Apakah memang ada laws yang mengatur gejala sosial? Inilah pertanyaanpertanyaan yang harus dijawab oleh penganut mazhab positivisme.

*** ANTI POSITIVISME Sejumlah orang akan mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang saya kemukakan di atas. Apakah gejala sosial itu selalu sama tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu? Gejala-gejala alamiah selalu keadaanya sama. Air yang dingin di Jawa akan sama dinginya dengan yang di Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

Papua Nugini, dan tempat-tempat pemukiman lainya diatas bumi ini, yaitu dalam batas normal 4 derajat Celcius, dan akan membeku pada suhu 32 derajat F (0 derajat Celcius), serta akan mendidih kalau dipanaskan 100 derajat C, demikian juga dengan sejumlah gejala alam yang lainya yang setiap harinya dapat kita temukan dalam kehidupan kita. Gejala sosial tidak selalu demikian. Apakah orang yang tertawa, akan selalu sama makna dan artinya ? Apakah tertawa dan menangis di panggung drama sama dengan tertawa atau menangis di halaman sekolah ketika menerima hasil ujian ?. Orang-orang yang menganut paham-positivisme percaya bahwa gejala sosial sangat berbeda dengan gejala alamiah, karena setiap tindakan sosial si aktor akan mengandung makna yang berbeda. Tidak tidak mustahil bahwa suatu gejala sosial yang sama mempunyai makna yang berbeda karena si aktor memberikan arti atau makna yang berbeda atas tindakanya. Dengan demikian gejala sosial tidak dapat kita terima sebagai sesuatu yang sifatnya face value. Oleh karena itu anti positivisme menolak monisme metodologis dan menghendaki agar ilmu soisial harus memiliki metodologi yang berbeda dari ilmu-ilmu alamiah, dengan alasan seperti yang di kemukakan di atas. Lalu bagaimana seharusnya ilmu sosial bekerja? Apa yang paling penting bagi mazhab positivisme adalah interpretation, oleh karena itu mazhab ini disebut juga sebagai mazhab yang interpretative. Pendukung mazhab ini menekankan bahwa apa yang disebut dengan laws ataupun generalisasi tidak selamanya diperlukan di dalam memahami gejala sosial. The reason is that social phenomena are fundamentally different from natural phenomena in that they are intentional: they express the purposes and the ideas of social actors, kata J. Donald Moon (in Greenstein and Polsby, 1975, p.134), sehingga setiap tindakan (actions) termasuk bahasa mempunyai makna simbolik yang tinggi yang harus dipahami. Such understanding does not require gerenarlizations, and it certainly does not require causal laws. Rather it requires a process of interpretation in which the meaning of an action are uncovered by analyzing the action in light the

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

agents particular situation and in light of the conventions, practices, and rules of his society, kata Moon (1975, p. 155). Karena menekankan begitu pentingnya interprestasi atau social action maka mazhab ini kemudian dikenal juga sebagai mazhab hermeneutic, yang tentu saja istilah hermeneutical selalu berkaitan erat dengan interpretation, yang metode kerjanya di sebut sebagai hermeneutic-circle. Apa yang dimaksud dengan metode hermeneutic ini ? Dalam hal ini, Wilhelm Dilthey, salah seorang yang sangat berperan di dalam mazhab ini menulis sebagai berikut: A rigorrous hermeneutic of social organizations is needed in addition to single textual works hermeneutics is possible here because between a people and a state, between believers and a church, between scientific life and the university there stands a relation in which a general autlook and unitary form of life find a structural coherence in which they express themselves.There is here the relation of parts to the whole, in which the parts receive meaning from the whole and the whole receive the sense from the parts; these categories coherence of the organization, by which it realizes its goal teleologically (Polkinghorne,1983, p. 221). Atau seperti yang di ungkapkan oleh J. Donald Moon yang menyatakan bahwa: The hermeneutical circle concist of a movement between the particular and the general, as the meaning and significance of specific actions, pratices, texts, etc, are judged in relation to a conception of the whole, and our ideas about the whole are orrected and amplified by testing them against the parts. When we are puzzled about attempt to infer what meaning it must have in order to provide coherence to the speech or text of which it is a part. Hence, to understand the part, we must al ready have an understanding the whole. But this understanding the whole is built up from and corrected by our understanding of the part (J. Donald Moon in Greenstein and polsby, 1975, p. 172). Dengan demikian yang paling penting bagi para pendukung mazhab ini adalah kita harus mencari makna (meaning) dari setiap tindakan sosial dari si aktor, dan untuk itu kita harus memahami betul apa yang merupakan maksud dan tujuan yang melekat dari tindakan si aktor tersebut sesuai dengan makna yang di lekatkan oleh si aktor. Untuk itu yang haruis kita lakukan adalah dengan mengadakan interprestasi sesuai dengan model interprestasi hermeneutic circle

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

10

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

seperti yang di ungkapkan di atas. Singkatnya, struktur berfikir dari metode ini adalah:

MENCARI MAKNA

UNDERSTANDING

MELALUI INTERPRETASI

Hermeneutic circle selalu menekankan kepadfa mencari arti dari sesuatu yang sifatnya khusus dengan menarik kembali kepada yang sudah dirumuskan secara umum. Mencari makna tindakan seseorang haruslah dikaitkan dengan apa makna tindakan tersebut menurut pemahaman yang umum dai dalam masyarakat di mana orang tersebut berada, yang hubunganya dapatdi lihat dalam diagram berikut ini. MASYARAKAT

AKTOR

Adalah Max Weber yang merupakan salah seorang yang banyaknsekali memberikan andil di dalam mengembangkan metode kerja dari para pendukung mazhab anti positivisme. Dia menolak adanya ekspalanasi yang berdasarkan atas generalisasi atau laws di dalam ilmu sosial. Weber melihat tindakan individu dapat dikategorikan ke dalam empat jenis tindakan atau action, yaitu yang pertama apa yang dia sebut sebagai purposive action (zweckrational) yaitu

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

11

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

tindakan yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang sudah dirumuskan secara rasional, yang kedua adalah value action (wertrational), yaitu tindakan yang dilakukan oleh seseorang karena yang bersangkutan percaya betul bahwa tindakanya sangat bermakna, dan bukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ketiga adalah apa yang disebut dengan traditional action yaitu ketika seseorang melakukan sesuatu karena sudah secara turun temurun ia dan orang lain melakukanya, dan yang keempat adalah apa yang Weber sebutkan sebagai affectual action, yaitu tindakan yang dilakukan karena adanya emosi yang terlibat.7 Dengan adanya empat tindakan tersebut, maka manusia dapat di bagi kedalam dua strata, yaitu the animal level yang sangat bersifat mekanistik dan biologis, dan yang kedua adalah the rational level yang selalu memberikan makna dari setiap tindakanya. Oleh karena itu menurut Max Weber ada dua cara yang ditempuh untuk memahami tindakan si aktor, yaitu dengan memahami atau undersatanding (verstehen), dan dengan memberikan explanation atau erklaren. Hubungan antara keduanya adalah sangat erat karena understanding becomes the premise of explanation, kata Weber. Tentu saja sebagaimana halnya dengan mazhab positivisme sejumlah pertanyaan akan muncul dan harus dihadapi oleh ilmuan sosial yang menjadi pendukung mazhab ini. Apakah yang menjadi tugas ilmuwan sosial ? Bukankah kita seharusnya membangun teori dan meramalkan even apa yang akan terjadi dengan generalisasi seperti ? Apakah yang di dengan ungkapkan memberikan oleh Geetz deskripsi dengan yang Thick

selengkapnya,

Descriptionya, hanya sampai ke taraf ini saja ? Apakah yang menjadi standar yang utama dari interprestasi? Apakah kita tidak mungkin menemukan

Dari keempat macam tindakan tersebut kemudian membentuk apa yang disebut dengan tiga macam tipe dominasi di dalam masyarakat, yaitu traditional domination, charismatic domination, dan legal/rational domination. Untuk lebih jelasnya harap diperiksa sejumlah tulisan Weber, terutama di dalam The Theory Of Social and Economic Organizations, dan juga From Max Weber, dari Gerth and Mills.
7

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

12

Bahan Kuliah Skope dan Metode Ilmu Politik

regularities dari gejala sosial sehingga kita dapat membuat generalisasi yang pada akhirnya dapat menjadi laws ?, dan pertanyaan-pertanyaan lainya. *** POSTCRIPT Tentu saja semuanya kembali pada diri kita masing-masing untuk memilih salah satu model yang menurut kita sebagai ilmuwan sosial sangat bermanfaat untuk menjelaskan gejala sosial yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Perdebatan antara keduanya telah melalui perjalanan yang sangat panjang, bahkan apa yang kita kenal sebagai analisa yang kualitatif dan analisa yang kuantitatif pada saat sekarang ini merupakan cermin dari dua tradisi tersebut. Akan tetapi sayang sekali karena waktu dan tempat jua yang membatasi kita untuk membicarakan secara tuntas kedua tradisi tersebut. Apa yang saya ungkapkan barulah merupakan highlightsnya saja. Semoga ada manfaatnya buat kita semua. Amien.

Prof. Dr. Afan Gaffar, MA (S2 Politik Lokal dan Oonomi Daerah UGM)

13