Anda di halaman 1dari 16

Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:

Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

34

KONDISI OSEANOGRAFI PERAIRAN PULAU BINTAN,
KEPULAUAN RIAU

Oleh: W. S. Pranowo dan S. Husrin
Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati - Badan Riset Kelautan dan Perikanan,
Jl. MT. Haryono Kav. 52-53 Jakarta 12770, Indonesia , e-mail: w_setiyopranowo@dkp.go.id


ABSTRAK

Penelitian kondisi oseanografi perairan Pulau Bintan bagian timur ini bertujuan untuk
mengetahui karakteristik fisik perairan Bintan bagian timur dalam kaitannya dengan kegiatan
penambangan pasir laut. Pengambilan data lapangan dilakukan pada bulan Juli hingga
Agustus 2003. Data lapangan yang berhasil dikumpulkan antara lain: Arus, salinitas,
sedimentasi, pH, turbiditas, suhu, dan angin. Data-data tersebut merupakan hasil observasi
lapangan secara langsung, sementara untuk mensimulasikan kondisi arus di daerah studi
dilakukan dengan menggunakan pendekatan model numerik. Hasil Simulasi arus pasut secara
umum menunjukkan bahwa arus di sebelah selatan dari perairan Bintan Timur lebih dinamis
dibanding arus di sebelah utara. Hal ini terjadi karena perbedaan elevasi muka laut di sebelah
selatan dari Bintan Timur cukup besar.

Kata kunci: Karakteristik fisik perairan, arus pasut, penambangan pasir laut


ABSTRACT

Oceanographic research on Eastern Bintan waters was done to recognize physical
characteristic of the waters in accordance with sea sand mining activities. Field data was
taken on July August 2003 and including currents, salinity, sediment transport, pH,
temperature, and wind. The data were taken from direct observation, meanwhile, numerical
method approach was carried out to make current simulation on the area. Generally, current
simulation shows that current in southtern part of Eastern Bintan waters is more dynamic than
northen part. This condition happens because the difference of sea level elevation in southern
part of Eastern Bintan waters is relatively quite large.

Keyword: physical characteristic of the waters, tidal currents, sea sand mining activities


1. PENDAHULUAN
Ekosistem perairan Pulau Bintan
merupakan ekosistem yang memiliki nilai
hayati yang tinggi seperti ekosistem hutan
mangrove, ekosistem terumbu karang dan
ekosistem padang lamun. Pelaksanaan
pembangunan dan pengelolaan sumber daya
alam pesisir saat ini belum berjalan secara
terpadu. Dampak yang dapat ditimbulkan
adalah kerusakan lingkungan.
Pesisir Bintan Selatan dan Bintan Timur
merupakan wilayah strategis sebagai jalur
pengangkutan ekspor pasir dan kawasan
target para pengusaha untuk
pengerukan/penambangan pasir laut.
Upaya pengendalian resiko pencemaran
di kawasan tersebut menjadi penting
mengingat daerah pesisir tersebut
mempunyai keanekaragaman hayati yang
rentan terhadap pencemaran. Kondisi
oseanografi sangat mempengaruhi transpor
limbah penambangan pasir ke arah kawasan
ekosistem tersebut.

2. ISI / BAHASAN
2.1. Materi dan Metode
Penelitian kondisi oseanografi dilakukan
dengan observasi angin dan pasang surut
serta pengukuran in situ parameter kecepatan
dan arah arus, kecerahan air laut, temperatur,
salinitas, Turbiditas, laju sedimentasi, dan pH
air permukaan (23 Juli 6 Agustus 2003).
Selain itu, dalam penelitian ini digunakan juga
metode pendekatan model numerik untuk
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

35
mensimulasikan kondisi arus di wilayah studi,
yaitu menggunakan 3DD Suite Model
Software dari ASR Ltd (Black, 2001).

2.1.1. Survey dan Pengukuran Lapangan
Prediksi pola pasang surut di beberapa
titik calon stasiun survey dan pengukuran
dilakukan terlebih dahulu agar pelaksanaan
riset dapat berjalan lebih terarah dan efisien.
Prediksi pola pasang surut dalam hal ini
mengunakan Oritide Global Tide Model
yang dibangun oleh Ocean Research
Institute, University of Tokyo.

2.1.2. Simulasi Model Hidrodinamika
2.1.2.1. Persamaan Hidrodinamika
Persamaan pembangun model 3DD yang
menyatakan gerak horisontal suatu fluida
inkompresibel yang berada di permukaan
bumi yang berotasi dalam koordinat kartesian
(arah atas menunjukkan positif) adalah:
|
.
|

\
|
c
c
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
+
c
c
+
c
c

c
c

=
c
c
+
c
c
+
c
c
+
c
c
z
u
N
z
y
u
x
u
A P
x
u
x
g
fv
z
u
w
y
u
v
x
u
u
t
u
Z
H
2
2
2
2
1

,

|
.
|

\
|
c
c
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
+
c
c
+
c
c

c
c

= +
c
c
+
c
c
+
c
c
+
c
c
z
v
N
z
y
v
x
v
A P
y
v
y
g
fv
z
v
w
y
v
v
x
v
u
t
v
Z
H
2
2
2
2
1

,

} }
c
c

c
c
=

z
h
z
h
vdz
y
udz
x
w



dimana:
t = waktu
u, v = kecepatan horisontal
w =kecepatan vertikal
h = kedalaman
g = percepatan gravitasi
,= tinggi muka laut di atas datum horisontal
f = parameter coriolis
P= tekanan
A
H
= koefisien viskositas eddy horisontal
N
Z
= koefisien viskositas eddy vertikal
= densitas yang nilainya bervariasi terhadap
kedalaman
dengan asumsi bahwa percepatan vertikal
diabaikan, maka Persamaan Hidrostatik untuk
tekanan pada kedalaman z adalah:
}
+ =
,

z
atm
dz g P P
dimana P
atm
adalah tekanan atmosfer.
Representasi fisis dari masing-masing
suku persamaan momentum adalah terdiri
dari: percepatan lokal; inersia; coriolis;
gradien tekanan akibat variasi tinggi muka air;
gradien tekanan akibat tekanan atmosfer;
stress angin dan gesekan dasar laut;
viskositas eddy horisontal. Harga A
H

bervariasi secara spasial, namun gradiennya
diasumsikan begitu kecil sehingga suku ini
bertindak seperti algoritma penghalus
kecepatan (velocity smoothing algoritm)
Persamaan Momentum. Perubahan tekanan
atmosfer tidak dilibatkan dalam simulasi ini
dan oleh karenanya dalam persamaan
momentum, suku ini pun diabaikan.

2.1.3.2. Skema Numerik
Model 3DD menggunakan Skema Beda
Hingga Eksplisit untuk menyelesaikan
Persamaan Momentum dan Konservasi
Massa (Black, 2001).
Pemecahan persamaan melalui Metoda
Beda Hingga tersebut menggunakan skema
staggered grid (Leendertse dan Liu, 1975
dalam Black,2001), yaitu menempatkan
komponen v dan u pada dinding utara dan
selatan. w berlokasi di tengah-tengah
dinding atas. Tinggi muka air menggantikan
w di lapisan atas. Solusinya akan diperoleh
dengan Skema Eksplisit Ordo ke-2 dan
Aproksimasi Ordo ke-3 untuk suku-suku
inersia yang non linier.
2.1.3. Desain Model
Simulasi model hidrodinamika dijalankan
selama 15 hari dari 23 Juli hingga 6 Agustus
2003 berdasarkan lama waktu pengukuran
dan pengambilan sampel di perairan Bintan
Timur. Selengkapnya mengenai desain model
hidrodinamika dapat dilihat pada Tabel 2.
Data batimetri yang digunakan adalah Peta
Batimetri Alur Pelayaran di Pantai Timur
Bintan (Lembar No.65), Skala 1:100 000,
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

36
Koreksi 2003, Dinas Hidro-Oseanografi TNI-
AL, Jakarta. Batas daerah model adalah
10434 - 10459 BT dan 033 - 115 LU.


Tabel 1. Desain Model Hidrodinamika
Parameter Nilai Satuan
Number Of X (I) Cells 58 -
Number Of Y (J) Cells 100 -
X Grid Size 50 m
Y Grid Size 50 m
Time Step Of Model 1 detik
First Time Step 1 detik
Maximum Number Of Time Steps 1296000 detik

Roughness Length 0.08 m
Effective Depth 0.3 m
Drying Height 0.05 m
Initial Sea Level 99 set by model
Latitude 0 corriolis neglected
Orientation 0 -
Horizontal Eddy Viscosity 5 m
2
/detik
Eddy Viscosity Mult Factor 1 -
Number Of Steps To Apply 1 -
Diffusion Percentage Slip 97 %


2.1.3.1. Nilai Awal dan Syarat Batas
Input yang digunakan di batas terbuka
adalah elevasi pasang surut (Gambar 2
hingga 5), dalam hal ini merupakan hasil
prediksi mengunakan Oritide Global Tide


Model (ORI.96) yang dibangun oleh Ocean
Research Institute, University of Tokyo,
menggunakan 8 Komponen pasut utama: M2,
S2, N2, K2, K1, O1, P1, dan Q1. Adapun
penempatan batas terbuka daerah model
dapat dilihat pada Gambar 1.

























Gambar 1. Batas Terbuka pada Daerah Domain Model Hidrodinamika
Batas Terbuka
Utara
Batas Terbuka
Selatan
Batas Terbuka
Timur
Batas Terbuka
Barat
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

37
Time Series Boundary - North
0
0.5
1
1.5
2
0 50 100 150 200 250 300 350
time-s
e
l
e
v
a
t
i
o
n
-
m


Gambar 2. Elevasi Muka Laut 15 Hari Di Batas Terbuka Area Model Bagian Utara

Time Series Boundary - East
0
0.5
1
1.5
2
2.5
0 50 100 150 200 250 300 350
time-s
e
l
e
v
a
t
i
o
n
-
m


Gambar 3. Elevasi Muka Laut 15 Hari Di Batas Terbuka Area Model Bagian Timur

Time Series Boundary - South
0
0.5
1
1.5
2
2.5
0 50 100 150 200 250 300 350
time-s
e
l
e
v
a
t
i
o
n
-
m


Gambar 4. Elevasi Muka Laut 15 Hari Di Batas Terbuka Area Model Bagian Selatan

Time Series Boundary -West
0
0.5
1
1.5
2
0 50 100 150 200 250 300 350
time-s
e
l
e
v
a
t
i
o
n
-
m

Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

38

Gambar 5. Elevasi Muka Laut 15 Hari Di Batas Terbuka Area Model Bagian Barat

3. HASIL DAN DISKUSI
3.1. Hasil Survei dan Pengukuran
Lapangan

1. Angin
Berdasarkan observasi, diketahui bahwa
kondisi tiupan angin di atas perairan Pulau
Bintan yang menyebabkan gelombang dan
arus adalah Angin Utara dan Baratlaut.
Dimana angin tersebut umumnya bertiup
pada bulan Juni hingga Agustus. Tinggi
gelombang hasil pengamatan di perairan
Bintan Timur sebelah utara pada musim angin
tersebut bisa mencapai 2 meter. Kecepatan
angin maksimum yang bertiup hasil
pengukuran Stasiun Meteorologi Bandara
Udara di Kecamatan Kijang adalah 15 knot
dengan arah U 20 T (Utara) dan U 300
330 T (Baratlaut).

2. Pasang Surut
Pasang surut di perairan Pulau Bintan
bertipe Campuran Cenderung Semidiurnal
atau Mixed Tide Prevailing Semidiurnal
(Wyrtki, 1961). Dimana saat air pasang/surut
penuh dan tidak penuh terjadinya dua kali
dalam sehari, tetapi terjadi perbedaan waktu
pada antar puncak air tertinggi-nya. Hasil
prediksi pasut menggunakan Oritide Global
Tide Model di sekitar perairan pantai Trikora
(Kecamatan Gunung Kijang) pada bulan Juli
memperlihatkan bahwa tinggi rata-rata air
pasang tertinggi +73,48 cm, air surut terendah
121,31 cm, dengan tunggang maksimum
sekitar 194,79 cm. Sedangkan di sekitar
perairan Pulau Mantang (Kecamatan Kijang)
pada bulan yang sama mempunyai tinggi
rata-rata air pasang tertinggi +78,68 cm, air
surut terendah 135,84 cm, dengan tunggang
maksimum sekitar 214,52 cm.
Pada bulan September, tinggi rata-rata
air pasang tertinggi +75,69 cm, air surut
terendah 101,06 cm, dengan tunggang
maksimum sekitar 176,75 cm di sekitar
perairan pantai Trikora (Kecamatan Gunung
Kijang). Sedangkan di sekitar perairan Pulau
Mantang (Kecamatan Kijang) pada bulan
yang sama mempunyai tinggi rata-rata air
pasang tertinggi +98,18 cm, air surut terendah
117,74 cm, dengan tunggang maksimum
sekitar 215,92 cm.


Tabel 2. Hasil Prediksi Tinggi Air Pasang Surut dan Tunggang Maksimum Tahun 2003
Elevasi Sekitar Pantai Trikora Sekitar Pulau Mantang
Juli September Juli September
Air Pasang Tertinggi +73,48 cm +75,69 cm +78,68 cm +98,18 cm
Air Surut Terendah 121,31 cm -101,06 cm 135,84 cm 117,74 cm
Tunggang Maksimum 194,79 cm 176,75 cm 214,52 cm 215,92 cm

Tabel 3. Hasil Pengukuran Lapangan di Perairan Bintan Timur Tahun 2003
No. Stasiun
Salinitas Konduktivitas Temperatur Turbiditas
(ppt) (ms) (
o
Celcius) (NTU)
1
P. Siulung
00
0
47,188 LU
104
0
37,10 BT
30,7 50,3 28,2 3,3
2
P. Kerapu
01
0
06,133 LU
104
0
38,550 BT
30,4 47,06 28,0 0,4
3
P. Beralas Bakau
01
0
03,948 LU
104
0
40,266 BT
30,2 46,88 27,9 0,3
4
Teluk Bakau
01
0
03,066 LU
104
0
39,033 BT
30,1 46,32 27,6 0,2
5
P. Ngalih
00
0
47,864 LU
104
0
37,170 BT
29,8 46,21 27,8 0,2
6
Tanjung Keling
01
0
47,96 LU
104
0
37,982 BT
30,0 46,05 27,7 1,6
7
P. Kekip
01
0
48,236 LU
104
0
33,773 BT
29,7 48,46 27,8 0,2
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

39
8
P. Kelong
00
0
48,960 LU
104
0
37,713 BT
30,1 48,92 28,0 1,2
9
P. Mantang
00
0
47,702 LU
104
0
33,651 BT
30,1 46,35 27,7 0,3

3. Temperatur
Secara umum temperatur permukaan air
hasil pengukuran di perairan Bintan Timur
memperlihatkan kisaran 27,6 28,2
o
C (lihat
Tabel 4). Berdasarkan Peta Oseanografi
Wilayah Perairan Indonesia (BRKP, 2002)
temperatur air permukaan di perairan sekitar
Bintan, pada Monsun Barat (Desember
Februari) berkisar 27 28
o
C, Monsun
Peralihan dari Barat ke Timur (Maret - Mei) 29
29,5
o
C, Monsun Timur (Juni - Agustus) 31
31,5
o
C, Monsun Peralihan dari Timur ke
Barat (September - November) 29 29,5
o
C.

4. Salinitas
Secara umum salinitas permukaan air
hasil pengukuran di perairan Bintan Timur
memperlihatkan kisaran 29,7 30,7 ppt (lihat
Tabel 4). Berdasarkan Peta Oseanografi
Wilayah Perairan Indonesia (BRKP, 2002)
salinitas air permukaan di perairan sekitar
Bintan, pada Monsun Barat (Desember
Februari) berkisar 32,5 32,8 ppt, Monsun
Peralihan dari Barat ke Timur (Maret - Mei) 32
32,5 ppt, Monsun Timur (Juni - Agustus) 31
31,5 ppt, Monsun Peralihan dari Timur ke
Barat (September - November) 32 32,5 ppt.

5. pH
Secara umum derajat keasaman air
permukaan hasil pengukuran di perairan
Bintan Timur memperlihatkan kisaran 7 8
pH. derajat keasaman air tersebut berada
pada kisaran yang diperbolehkan oleh SK.
MenKLH No. Kep-02/MENKLH/1988, yaitu 6 -
9 pH, sehingga direkomendasikan bisa
mendukung untuk kegiatan pariwisata,
rekreasi, budidaya, dan konservasi laut.

6. Turbiditas
Secara umum tingkat turbiditas air
permukaan hasil pengukuran di perairan
Bintan Timur memperlihatkan kisaran 0,2
3,3 NTU (lihat Tabel 4). Tingkat turbiditas
tersebut sangat jauh dari ambang batas yang
telah ditentukan SK. MenKLH No. Kep-
02/MENKLH/1988 yaitu <30-80 NTU. Jadi
dapat dikatakan bahwa di perairan Bintan
Timur belum terkontaminasi partikel
tersuspensi, yang biasanya diakibatkan oleh
penambangan pasir laut.

7. Laju Sedimentasi
Secara umum laju sedimentasi di
perairan Bintan Timur adalah sangat kecil
yaitu laju sedimentasi tertinggi di stasiun
Pulau Siulung (0.005557888 gr/cm
2
/jam) dan
terendah di stasiun Teluk Bakau
(0.001240089 gr/cm
2
/jam) (lihat Tabel 5). Laju
sedimentasi di perairan Bintan Timur sebelah
Utara lebih rendah dibanding di perairan
Bintan Timur sebelah Selatan. Hal ini terjadi
karena substrat dasar di perairan Bintan
Timur sebelah Utara rata-rata adalah pasir
dan pecahan kerang & coral, sedikit lumpur.
Sedangkan di perairan Bintan Timur sebelah
Selatan substrat dasarnya rata-rata berupa
pasir berlumpur, dan lumpur, dimana
sedimentasi yang terjadi bias disebabkan oleh
pengadukan lokal, dan/atau hasil endapan
TSS yang tertranspor dari lokasi lain.

Tabel 4. Hasil Pengukuran Laju Sedimentasi
Lokasi Stasiun Laju Sedimentasi (gr/cm
2
/jam)
Bintan Timur Bagian
Selatan
P. Kelong 0.002116981
P. Ngalih 0.001880453
P. Siulung 0.005557888
Bintan Timur Bagian
Utara
Teluk Bakau 0.001240089
P. Beralas Bakau 0.001577448
Tj. Keling 0.003744924


3.2. Hasil Simulasi Model Hidrodinamika
Hasil Simulasi arus pasut secara umum
menunjukkan bahwa arus di sebelah Selatan
dari perairan Bintan Timur lebih dinamis
dibanding arus di sebelah Utara. Hal ini terjadi
karena Perbedaan elevasi muka laut di
sebelah Selatan dari Bintan Timur cukup
besar (lihat Lampiran F dan G), sedangkan
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

40
perbedaan elevasi muka laut di sebelah Utara
dari Bintan Timur sangat kecil (lihat Lampiran
D dan E).
Pola arus pasut hasil simulasi model
pada kondisi pasut perbani (Neap Tide
Condition) adalah sebagai berikut: Saat air
menjelang surut menunjukkan bahwa arus
bergerak dari arah barat menuju timur dan
timur laut. Lampiran B.(1) memperlihatkan
arus di Selat Telang secara dominan bergerak
menuju timur laut dan sebagian kecil berbelok
ke selatan menuju Selat Sendara. Sedangkan
arus di selat antara P. Siulung dan P. Bintan
bergerak dominan ke arah timur bergabung
dengan arus dari selat Telang menuju timur
laut, sebagian arus bergerak ke arah utara
menyusur Selat Kijang dan sebagian kecil lain
menyusur Selat Kelong.
Saat air surut (Lampiran B.(2)) terlihat
arus dominan bergerak dari Selat Sendara
yang terdistribusi ke tiga arah, masing
masing menuju ke arah timur laut, Selat
Telang, dan selat antara P. Bintan dan P.
Siulung.
Saat air menjelang pasang (Lampiran
B.(3)) secara umum arus bergerak menuju
barat, dimana arus dari arah timur laut, utara,
dan dari Selat Sendara bergerak menuju ke
barat (Selat Telang, dan selat antara P.
Bintan dan P. Siulung ). Tetapi arus di
sebelah tenggara Kepulauan Gin dan
Numbing bergerak menuju timur laut.
Saat air pasang (Lampiran B.(4)) kondisi
pergerakan arus memiliki pola yang mirip
dengan saat kondisi menjelang surut.
Pola arus pasut hasil simulasi model
pada kondisi pasut purnama (Spring Tide
Condition) adalah sebagai berikut: Saat air
menjelang surut (Lampiran C.(1))
memperlihatkan pola arus yang sama dengan
saat menjelang surut pada kondisi perbani
(Lampiran B.(1)), tetapi kecepatan dan elevasi
kondisi perbani lebih besar dibanding kondisi
purnama.
Saat air surut (Lampiran C.(2))
memperlihatkan pola arus yang sama dengan
saat menjelang pasang pada kondisi perbani
(Lampiran B.(3)), tetapi kecepatan dan elevasi
kondisi perbani lebih besar dibanding kondisi
purnama.
Saat air menjelang pasang (Lampiran
C.(3)) memperlihatkan pola arus bergerak dari
arah selatan (Selat Sendara), barat (Selat
antara P. Bintan dan P. Siulung), dan barat
daya (Selat Telang) menuju ke arah utara,
timur laut, dan timur.
Saat air pasang (Lampiran C.(4))
memperlihatkan pola arus yang sama dengan
saat surut pada kondisi perbani (Lampiran
B.(2)), tetapi kecepatan kondisi perbani lebih
besar dibanding kondisi purnama, karena
terjadi perbedaan elevasi cukup besar di Selat
Sendara dengan daerah sekelilingnya.

3.3. Verifikasi Hasil Model
Verifikasi model dilakukan untuk melihat
kesesuaian hasil simulasi dengan kondisi
sebenarnya (faktual). Dalam hal ini hanya
dilakukan verifikasi terhadap kecepatan arus
pasut di beberapa lokasi yang dilakukan
pengukuran.




















Gambar 6. Lokasi Titik-titik Pengukuran Data Arus

P. Kelong
P.
Bint
an
P.
Siulu
ng
P. Gin
Besar
P.
Buto
n
P.
Pot
o
1
2 3 4
P.
Pangki
l
P.
Kelon
g
P. Gin
Kecil P.
Numbi
ng
P.
Tela
ng
Sel
at
Sen
dar
a
Sel
at
Tel
ang
Sel
at
Kij
ang
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

41

Tabel 5 . Verifikasi Model
No
Pengukuran Model
Nama Posisi Jam Kecepatan Arah Grid (I,j) Kecepatan Error (%) Arah
1.
Kelong
00
0
49,100 LU
104
0
37,740 BT
10 0.09 U270T (11, 45) 0.03 66.67 U300T
2.
Bouy
00
0
48,456 LU
104
0
36,948 BT
11 0.19 U270T (07, 41) 0.2 5.26 U270T
3.
Riau
00
0
47,943 LU
104
0
37,627 BT
12 0.5 U290T (11, 41) 0.5 0.00 U260T
4.
KK-Bintan
00
0
48,236 LU
104
0
33,773 BT
34 0.34 U300T (04, 40) 0.4 17.65 U280T


Dari tabel di atas terlihat bahwa
prosentase error untuk masing masing data
cukup bervariasi. Untuk verifikasi di Stasiun
Buoy, Riau dan KK-Bintan menunjukkan nilai
error yang dapat diterima untuk pemodelan,
namun untuk Stasiun Kelong terjadi
penyimpangan yang cukup signifikan, hal ini
terjadi karena ada sedikit kesulitan saat
setting model di lokasi tersebut (celah yang
sangat sempit).

4. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan Hasil survei dan simulasi
model hidrodinamika dapat disimpulkan
bahwa:
1. Kondisi arus permukaan pada bulan
Juni-Agustus (selama survei
dilaksanakan) di perairan Bintan Timur
sebelah Utara lebih dibangkitkan oleh
tiupan Angin Utara dan Baratlaut.
Sedangkan kondisi arus permukaan
perairan Bintan Timur sebelah Selatan
lebih dibangkitkan oleh pasang surut.
2. Tunggang pasang surut maksimum
rata-rata pada bulan Juli - September
2003 berdasarkan hasil prediksi adalah
176,75 215,92 cm, dengan kondisi
rata-rata tunggang pasut maksimum
lebih tinggi di perairan Bintan Timur
sebelah selatan daripada sebelah
Utara.
3. Pola pergerakan arus permukaan yang
dibangkitkan oleh pasang surut pada
kondisi purnama secara umum: Pada
saat air menjelang surut, arus di Selat
Telang secara dominan bergerak dari
arah barat menuju timur dan timur laut
dan sebagian kecil berbelok ke selatan
menuju Selat Sendara. Kemudian arus
di selat antara P. Siulung dan P. Bintan
bergerak dominan ke arah timur
bergabung dengan arus dari selat
Telang menuju timur laut, sebagian arus
bergerak ke arah utara menyusur Selat
Kijang dan sebagian kecil lain menyusur
Selat Kelong. Sedangkan pada saat air
menjelang pasang, arus bergerak dari
arah selatan (Selat Sendara), barat
(Selat antara P. Bintan & P. Siulung),
dan barat daya (Selat Telang) menuju
ke arah utara, timurlaut, dan timur.
4. Kondisi parameter fisik perairan
(turbiditas: 0,2 3,3 NTU, dan laju
sedimentasi: 0,001240089
0,005557888 gr/cm
2
/jam) belum
menunjukkan adanya pencemaran
karena memang belum dimulainya
penambangan pasir laut.

Berdasarkan kesimpulan diatas, jika terjadi
penambangan pasir di wilayah perairan
Bintan Timur bagian utara yang dilakukan
secara kontinyu akan menghasilkan:
- Perubahan kondisi batimetri yang akan
mempengaruhi pola arus dan
gelombang di area penambangan dan
sekitarnya. Secara lebih jauh lagi
perubahan tersebut mempengaruhi
kondisi stabilitas pantai (memicu
perubahan garis pantai) sehingga akan
mempengaruhi bangunan fisik
(infrastruktur) di pantai.
- Partikel tersuspensi hasil kekeruhan air
laut (tingkat turbiditas) yang cukup
tinggi akan tertranspor ke perairan
Bintan Timur bagian selatan dan
mengkontaminasi ekosistem pantai
(terumbu karang pantai, lamun, dan
vegetasi mangrove). Sedangkan
pengaruh lebih jauh dari kekeruhan air
adalah terhambatnya penetrasi cahaya
matahari ke dalam kolom air sehingga
populasi fitoplankton tidak bisa
melakukan fotosintesis, maka
produktivitas primer menurun.
- Produktivitas primer yang menurun ini
akan menurunkan jumlah populasi ikan
di area penambangan tersebut maupun
di area lain yang ikut terkontaminasi.
Penyebab menurunnya jumlah populasi
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

42
ikan juga disebabkan karena tingkat
kecerahan air yang sangat rendah
sehingga ikan enggan tinggal, dan
melakukan migrasi ke perairan yang
lebih jernih.

5. UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terimakasih kepada Tri
Handanari dan Ifan R. Suhelmi (BRKP) yang
telah membantu proses digitasi dan
pengolahan data batimetri, Yulia Herdiani
(Mahasiswi Oseanografi ITB) yang
berpartisipasi dalam persiapan laporan ini



V. DAFTAR PUSTAKA
1. Black, K.P., 2001. Model 3DD
Descriptions and Users Guide. ASR
Ltd. Hamilton New Zealand.
2. BRKP., 2002. Peta Oseanografi
Wilayah Perairan Indonesia. Integrasi
Data Riset Kelautan dan Perikanan.
Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan.
Jakarta.
3. Wyrtki, K., 1961. Physical
Oceanography of the Southeast Asian
Waters. Naga Report Vol. 2. Scripps
Institution of Oceanography, La Jolla,
California.





















































































Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam
Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S. Burhanuddin, B.
Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya
Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.
Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan

43
Lampiran 1
460000 470000 480000 490000
70000
80000
90000
100000
110000
120000
130000
P. BINTAN
P. MAPOR
0.5
5
10
15
20
25
30
35
40
45
P. SIULUNG
P. KELONG
P. TELANG BESAR
P. GIN BESAR
P. POTO
P. BUTON
2
Lampiran A. Batimetri Perairan Bintan Timur 3
Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S.
Burhanuddin, B. Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.


( 1 ) ( 2 )

( 3 ) ( 4 )
Lampiran B. Pola arus dan elevasi muka air untuk keseluruhan Perairan Bintan Timur saat kondisi perbani pada:
(1) Menjelang surut, (2) Surut, (3) Menjelang pasang, (4) Pasang
K
o
n
d
i
s
i

E
k
o
s
i
s
t
e
m

P
e
s
i
s
i
r

P
u
l
a
u

B
i
n
t
a
n

















4
4


Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S.
Burhanuddin, B. Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.


( 1 ) ( 2 )

( 3 ) ( 4 )
Lampiran C. Pola arus dan elevasi muka air keseluruhan Perairan Bintan Timur saat kondisi purnama pada:
(1) Menjelang surut, (2) Surut, (3) Menjelang pasang, (4) Pasang
K
o
n
d
i
s
i

E
k
o
s
i
s
t
e
m

P
e
s
i
s
i
r

P
u
l
a
u

B
i
n
t
a
n

















4
5


Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S.
Burhanuddin, B. Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.


( 1) ( 2 )

( 3) ( 4 )
Lampiran D. Pola arus dan elevasi muka air Perairan Bintan Timur bagian utara saat kondisi perbani pada:
(1) Menjelang surut, (2) Surut, (3) Menjelang pasang, (4) Pasang
K
o
n
d
i
s
i

E
k
o
s
i
s
t
e
m

P
e
s
i
s
i
r

P
u
l
a
u

B
i
n
t
a
n

















4
6


Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S.
Burhanuddin, B. Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.


( 1) ( 2 )

( 3) ( 4 )
Lampiran E. Pola arus dan elevasi muka air Perairan Bintan Timur bagian utara saat kondisi purnama pada:
(1) Menjelang surut, (2) Surut, (3) Menjelang pasang, (4) Pasang
K
o
n
d
i
s
i

E
k
o
s
i
s
t
e
m

P
e
s
i
s
i
r

P
u
l
a
u

B
i
n
t
a
n

















4
7


Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S.
Burhanuddin, B. Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.


( 1) ( 2 )

( 3) ( 4 )
Lampiran F. Pola arus dan elevasi muka air Perairan Bintan Timur bagian selatan saat kondisi perbani pada:
(1) Menjelang surut, (2) Surut, (3) Menjelang pasang, (4) Pasang
K
o
n
d
i
s
i

E
k
o
s
i
s
t
e
m

P
e
s
i
s
i
r

P
u
l
a
u

B
i
n
t
a
n

















4
8


Makalah ini ada didalam Bunga Rampai, penggunaan referensi:
Pranowo, W.S. dan S. Husrin. 2003. Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Halaman 34-49 dalam Ichwan, M. N, W.S. Pranowo, D. Purbani, G. Kusumah, E. Erwanto, S. Husrin, B. Irawan, F.Y. Prabawa, dalam S.
Burhanuddin, B. Sulistyo, A. Supangat. (Eds.): Kondisi Ekosistem Pesisir Pulau Bintan. Penerbit Pusat Riset Wilayah Laut & Sumberdaya Nonhayati, BRKP, Departemen Kelautan & Perikanan. Desember 2003. ISBN: 979-98165-0-5.


( 1 ) ( 2 )

( 3) ( 4 )
Lampiran G. Pola arus dan elevasi muka air Perairan Bintan Timur bagian selatan saat kondisi purnama pada:
(1) Menjelang surut, (2) Surut, (3) Menjelang pasang, (4) Pasang

K
o
n
d
i
s
i

E
k
o
s
i
s
t
e
m

P
e
s
i
s
i
r

P
u
l
a
u

B
i
n
t
a
n

















4
9