Anda di halaman 1dari 16

- wA)AH HkKkm -

Sistem Nilai
(Rechtsidee)
Asasasas Hukum
(Ratio Legis)
Sistem Norma (Norma Hukum)
HUKUN
Apa yang boleh Apa yang tidak boleh
Pengaturan Perilaku:
Nasyarakat
Lembaga/institusi
Tindakan manusia (aktor)
Pemahaman (!nterpretif)
Put Hakim PerUU
Lembaga Formal
Yudikatif
Tertulis
Lembaga Formal
Legislatif Eksekutif
Tdk Tertulis
Lembaga Adat,
Kearifan Lokal
(local wisdom)
The expression of the idea .
That a individual ought to behave in a certain way
Commando, permissions,
authorizations, S derogating
norms
HUKUN
Sejak kapan hadir
Untuk siapa
Nengapa hukum perlu hadir
Peraturan Perundang
Undangan
Lahir konsep negara
Kelebihan:
Tertulis
Harus ditaati
Nemiliki kekuatan
mengikat
Bersifat umum
Hukum Dinamis (berproses)
Peraturan Statis
Nasyarakat Dinamis (berproses)
Nanusia Dinamis (berproses)
Kebenaran tidak pernah
punah (berproses)
BUDAYA HUKUN
!. HUKUN SEBACA! S!STEN
A. Struktur
B. Substansi
C. Kultur / Budaya
!!. KULTUR NERUPAKAN BAC!AN DAR! KEBUDAYAAN
Totalitas pikiran, kemampuan dan objek yang dimiliki
bersama oleh suatu komuniti atau masyarakat. Dalam
konteks lain, terkadang berguna untuk membedakan
'kebudayaan tinggi' dari para elit atau 'kebudayaan
populer' dari mayoritas.
(Sumber: Achmad FD, 200S, Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis mengenai Paradigma)
!!!. BUDAYA HUKUN
Bagian dari KEBUDAYAAN
value, social attitudes, customs, opinions, ways
of doing and thinking ...
(Sumber: L.N. Friedman, 137S, The Legal System: A Social Science Perspective)
< IDE/ NILAI
< SIKAP
< KEYAKINAN
< HARAPAN
< PERSEPSI
Merupakan "bensin"
yang dapat
menggerakkan
manusia untuk taat /
tidak taat terhadap
norma hukum
Penggunaan,
PenyaIahgunaan
Proses Hukum serta
Sistem Hukum
Budaya Hukum para Elit
-07-0/, dengan Budaya Hukum
Nasyarakat :,8 Fungsi hukum
saat ini bukan sekedar mengukuhkan
nilainilai yang ada melainkan
untuk membangun nilainilai baru
< Local wisdom is the knowledge that discovered
or acquired by local people through the
accumulation of experiences in trials and
integrated with the understanding of
surrounding nature and culture.
< Local wisdom is dynamic by function of created
and connected to the global situation.
< Adequate and appropriate local wisdom provides
income, reduces cost/expense, increases
efficiency of production, and improves quality of
live.
Therefore, local wisdom is meaningful and
useful for better understanding of local
people's perceptions of constraints and
potential solutions of biophysical
circumstances. !t facilitates cooperation
between researchers, extension agents,
development workers, practitioners and
others for mutual benefits.
(Sumber: Local wisdom/indigenous knowledge systems, Assoc.Prof.
Chatcharee Naritoom Kasetsart University, Kamphaengsaen
Campus, Nakhon Pathom 73140, THA!LAND email:eatchn@ku.ac.th
Hukum yang Logis - FormaI - RationaI
dan bersifat seragam berhadapan
dengan Basis SosiaI Hukum
yang memiIiki seperangkat
niIai, keIembagaan, proses,
norma hukum yang beragam
%ujuan Hukum yang teIah
meIembaga secara LegaIistik
FormaI semakin jauh jaraknya
dari masaIah-masaIah
sosiaI yang diatur
Pembangunan Hukum
sebagai Suatu Proses
- Pergeseran %ujuan
- Pergantian %ujuan
Pembangunan Hukum
(Suatu Proses Newujudkan Tujuan Hukum)
PUU
(Tujuan, NilaiNilai, !de!de)
Birokrasi
Penegak Hukum
Struktur Nasyarakat
(Keragaman)
PEMBANGUNAN
HUKUM
BA5I5 5O5IAL
MANU5IA
5O5IAL
BUDAYA
EKONOMI
POLITIK
d!!
MANAJEMEN
- ORANG/PER5ONEL/TINGKAH LAKU
FA5ILITA5 FI5IK
TUJUAN ORGANI5A5I
KULTUR
KEUANGAN
PERATURAN-PERATURAN
INFORMA5I
!
#

$
Pembangunan Hukum:
Untuk mewujudkan
kebahagiaan manusia
dan masyarakat
Budaya Hukum
Faktor Personal/
Non Hukum
SDN, !nformasi
Tujuan Organisasi
Budaya Organisasi
Peraturan
Dana
NASYARAKAT
Faktor Non Hukum
(Sosial, Ekonomi, Politik)
Norma Hukum
(Tidak Tertulis)
Kelembagaan !nformal
Budaya Hukum
Struktur Nasyarakat
Pengorganisasian
Masyarakat:
Tiga Tipe Dasar
Kekuasaan yang Sah
Perkembangan
PenyeIenggaraan Hukum
1. Kekuasaan Kharismatis
2. Kekuasaan Tradisional
3. Kekuasaan Sekuler
4. Kekuasaan Rasional
1. Pengadaan hukum melalui
pewahyuan oleh "law prophets"
2. Pengadaan hukum secara empiris,
oleh Kautelajuristen.
3. Pengadaan hukum melalui pem-
bebanan "dari atas, yaitu oleh
kekuatan sekular atau teknokratis.
4. Pengadaan hukum melalui pengga-
rapan hukum secara sistematis,
dijalankan secara profesional.