Anda di halaman 1dari 3

TEORI DAN FUNGSI TEORI Teori ilmu sosial merupakan suatu sistem ide yang saling berhubungan, serta

merupakan ringkasan, aturan, dan gambaran pengetahuan dunia sosial. Sebagai bagian penting dalam penelitian, teori terkadang diasosiasikan dengan istilah ideologi, yang memiliki sifat sebagai belief systems dan tertutup bagi perubahan. Teori sendiri lebih bersifat empiris dan terbuka bagi perkembangannya. Oleh karenanya dalam suatu penelitian dan bagian dari metode penelitian, teori dapat digunakan sebagai arahan, namun sekaligus terbuka untuk diuji kebenarannya.1 Ada dua elemen penting dalam menjelaskan teori secara komprehensif, sebelum memahami fungsinya dalam suatu penelitian, yaitu bagian dan aspek dari teori ilmu sosial. Parts of Social Theory terdiri dari: Assumptions pernyataan tentang sifat dasar dari suatu hal yang tidak bisa diamati atau diuji, dan merupakan titik awal pemahan dari suatu teori, Concepts merupakan ide-ide yang diekspresikan melalui simbol atau kata dalam sebuah teori, dimana terdiri dari simbol itu sendiri, serta definisi dari simbol yang dimaksud,2 Relationships keterkaitan dan keterhubungan antar konsep,3 Units of Analysis unit yang dimaksud dalam teori, dapat berupa individu, grup, institusi, negara, dan lainnya.4 Sedangkan Aspects of Social Theory terdiri dari: Direction of theorizing pendekatan dalam membangun atau pengujian suatu teori, baik secara deduktif ataupun induktif, Level of analysis tingkat cakupan dunia sosial yang dijelasakan teori, dalam tingkatan mikro, makro ataupun messo, Focus of theory setting, proses dan kejadian-kejadian yang menjadi titik pengamatan dalam teori, apakah sebagai teori substantif atau formal, Forms of explanation bentuk hubungan penjelasan, berupa kausal, struktural, ataupun interpretatif, Range of theorizing baik empirical generalization, middle-range theory, atau theoritical framework.5 Dengan pemahaman mendalam pada kedua hal tersebut, atas suatu teori yang ada, secara umum peneliti akan mendapatkan pemahaman mendalam dan kemudahan menyeleksi aspek-aspek dan data dari sejumlah besar fakta-fakta untuk menghadapi

2 3

Menurut Neuman, perbedaan tersebut mencakup: Ideology (Offers absolute certainty, has all the answer, fixed-closedfinished, blind to opossing evidence locked into specific moral beliefs, highly partial, has contradictions, inconsistencies, and rooted in specific position), sedangkan social theory (conditional-negotiated understandings, incompleterecognizes uncertainly, growing-open-unfolding-expanding, welocem tests-positive and negative evidence, change based on evidence, detached-disconnected-moral stand, neutral considers all sides, strongly seeks logical concistency-congruity, transcends/crosses social positions. Dalam W. Lawrence Neuman, 2006, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Boston: Pearson Education, Halaman 51-52. Konsep dalam suatu teori memiliki tingkat abstraksi, kompleksitas, pengelompokan, serta cakupan berbeda-beda. Hubungan tersebut menggambarkan perbedaan antara istilah proposisi (mengambarkan seara jelas intensitas keterhubungan antar konsep) dan hipotesis (proposisi yang menggambarkan pola hubungan antar konsep secara tentatif, oleh karenanya secara empiris terbuka untuk pengujian). W. Lawrence Neuman, 2006, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Boston: Pearson Education, Halaman 52-58. W. Lawrence Neuman, 2006, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Boston: Pearson Education, Halaman 59-75.

penelitian atas fenomena sosial.6 Neuman menambahkan, fungsi teori khususnya dalam memahami topik dalam suatu penelitian, lebih lanjut untuk: Give basic concepts and provide basic assumptions, Direct to the impotant question and suggest to make sense of data, Enabbles to connect a single study to base of knowladge to which other researchers contribute, Helps researcher see the forest instead of just a single tree, Increase a researchers awwareness of interconnections and of the broader significance of data, Guide the design of study and the interpretation of results.7 Dimana fungsi-fungsi tersebut secara teknis memberikan efektifitas dan efisiensi dalam suatu jalannya penelitian. Berbeda pola penjabaran dari Neuman, Bryman dengan rinci mengawali pembahasan dengan mengelaborasi tipe-tipe teori, yang terdiri dari grand theory, middle-range theory, dan backgrund literature as theory, dimana masing-masing memiliki fungsi berbeda, seperti: memberikan pemahaman dan penjelasan terbatas pada aspek kehidupan sosial, suatu ide yang terbuka untuk diuji, serta titik awal dari suatu penelitian atau kajian.8 Hal lainnya adalah deskripsi mengenai deductive theory dan inductive theory, dimana peran teori dan hubungannya dalam penelitian secara prinsip adalah sebagai panduan dalam penyelidikan empiris. Dalam penjabarannya mengenai hal tersebut, Bryman menjelaskan fungsi teori dan keterhubungannya dengan data pada suatu penelitian, dimana di satu sisi teori berfungsi mengarahkan penelitian dan menjadi inisiatif awal dari suatu hipotesis, serta data yang dihasilkan dapat bersifat menguji teori. Namun di sisi lain, teori dapat dibangun dari pengumpulan dan analisis data.9 Hal ini masih menjadi perdebata diantara peneliti qualitatif dalam ilmu sosial.10 Kendati perdebatan tersebut masih berlangsung, namun setidaknya ada dua hal yang menjadi fungsi penting teori bagi peneliti ilmu sosial, yaitu: Memberikan gambaran dan dasar pemikiran untuk penelitian yang sedang dilakukan Menyediakan suatu kerangka di mana fenomena sosial dapat dipahami dan temuan penelitian dapat diinterpretasikan.11 Khususnya dalam membahas fungsi teori dalam suatu penelitian kualitatif, Anfara menjelaskan empat isu penting: Pertama, sebagai "saringan" atau "lensa" bagi peneliti dalam proses memilahmilah data. Dikarenakan peneliti berhadapan dengan sejumlah besar data (misalnya, transkrip wawancara, dokumen, catatan observasi, dan catatan lapangan) yang dapat dikumpulkan. Kedua, sebagai bingkai setiap aspek dari penelitian, baik pertanyaan yang diajukan, untuk dasar pemilihan sampel, serta untuk dasar analisis.
6

8 9 10 11

Lewis Coser (The Uses of Classical Sociological Theory). Dalam W. Lawrence Neuman, 2006, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Boston: Pearson Education, Halaman 59-75. W. Lawrence Neuman, 2006, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, Boston: Pearson Education, Halaman 76-77. Lihat Alan Bryman, 2008, Social Research Methods 3rd edition, New York: Oxford University Press, Halaman 6-8. Lihat Alan Bryman, 2008, Social Research Methods 3rd edition, New York: Oxford University Press, Halaman 9-13. Alan Bryman, 2008, Social Research Methods 3rd edition, New York: Oxford University Press, Halaman 373. Alan Bryman, 2008, Social Research Methods 3rd edition, New York: Oxford University Press, Halaman 6.

Ketiga, untuk mengontrol subjektivitas, dimana kondisi yang berlaku adalah peneliti kualitatif sangat menyadari keberadaan subjektivitas dan bias dalam penelitian mereka. Keempat, memberikan konsep yang dapat digunakan dalam pengkodean dan analisis data.12 Oleh karenanya, pemahaman teoritis dan asumsi tentang penelitian yang dilakukan oleha seorang peneliti, memberikan kerangka menyeluruh yang membentuk atau mempengaruhi desain penelitian, yang mencakup metode, teknik, pendekatan yang digunakan dalam pengumpulan data, dan proses analisis.13

12

13

Vincent A. Anfara, Jr dalam Lisa M. Given et,all. 2008. The SAGE Encyclopedia of Qualitative Research Methods. London: SAGE Publications. Halaman 871-873. Julianne Cheek dalam Lisa M. Given et,all. 2008. The SAGE Encyclopedia of Qualitative Research Methods. London: SAGE Publications. Halaman 761-763.