Anda di halaman 1dari 2

Karangan Bunga Tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu Ini dari kami

bertiga, pita hitam pada karangan bunga sebab kami ikut berduka bagi kakak yang ditembak mati siang tadi Oleh: Taufik Ismail

A. Makna menurut bahasa Ada tiga anak kecil yang datang ke Salemba dengan membawa bunga yang diberi pita hitam yang menunjukkan bahwa mereka turut berduka cita atas kematian seorang kakak yang ditembak mati siang tadi. B. Makna di balik puisi Puisi tersebut merupakan puisi yang menggambarkan kondisi Indonesia pada saat orde baru, dimana tiga merupakan penggambaran dari tiga kelompok yang ada pada masa itu, yaitu kalangan pelajar, pemuda dan mahasiswa. Sedangkan sore hari menggambarkan aktivitas yang padat dan sibuk yang menunjuk pada aksi demo besar-besaran yang dilakukan oleh ketiga kelompok masyarakat tersebut demi menuntut pemerintah untuk melakukan perbaikan atas kondisi yang terjadi pada masa itu. Pita Hitam menggambarkan rasa perihatin akan carut marutnya kondisi negara dan kata kakak menggambarkan sebuah perlindungan atau dengan kata lain menunjuk pada hukum. Selanjutnya, siang menggambarkan kondisi negara yang memanas akibat demonstrasi dan masalah-masalah lainnya pada saat itu. Jadi, pada masa orde baru di Indonesia terjadi ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan yang dipimpin oleh Soeharto. Salah satu penyebab ketidakpuasan tersebut terjadi karena krisis keuangan yang membuat perekonomian Indonesia semakin melemah akibat inflasi besar-besaran. Oleh karena itu, para pemuda, pelajar dan mahasiswa melakukan aksi turun ke jalan demi menuntut pengunduran diri presiden dan perbaikan akan nasib rakyat. Demonstran juga meminta perbaikan

hukum, yang pada masa itu kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau mengkritisi pemerintah sangat dibatasi, bahkan tidak banyak orang yang cukup berani untuk mengeluarkan kritikannya terhadap pemerintah. Di masa itu juga, penanganan hukum akan kasus-kasus korupsi dan nepotisme tidak berjalan sebagaimana mestinya karena yang terlibat pada kasus-kasus tersebut merupakan para petinggi yang memegang kuasa terhadap pemerintahan. Sehingga, para penegak hukum tidak berani menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Berlarut-larutnya kondisi Indonesia pada masa itu, di mata mahasiswa, pemuda dan pelajar, tidak ditangani secara tepat dan cepat. Akhirnya aksi turun ke jalan semakin berkembang dan bertambah banyak, tidak hanya di Jakarta tetapi di daera-daerah lain juga seperti Surakarta, Medan dan Bandung. Di Jakarta sendiri hingga mengakibatkan terjadinya tragedi trisakti yang banyak menimbulkan korban jiwa. Demonstrasi ini berakhir setelah presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya.