Anda di halaman 1dari 15

KETETAPAN PAJAK

Oleh :

Fakultas Ekonomi 2010

1. 2.

Dimas

(100404010053) (100404010014)

Roy Antonius S

Universitas Kanjuruhan Malang Jl. S. Supriadi No.48 Telp Malang 65148 Telp. (0341 ) 801488, 803194, 805264 Fax. (0341) 831532 Website : http:/www.ukanjuruhan.co.id September 2011

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara berkembang yang sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Agar pembangunan yang dilaksananakn berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk itu dibutuhkana dana yang tidak sedikit. Dana tersebut dikumpulkan dari berbagai potensi sumber daya yang dimiliki oleh Negara Indonesia ini baik dari hasil sumber kekayaan alam seperti, minyak bumi dan gas alam maupun dari sektor pajak. Berbicara mengenai ketetapan pajak, pada umumnya tidak terlepas dari subyek pajak yaitu mereka (orang atau badan) yang memenuhi syarat subyektif, yaitu syarat yang melekat pada orang atau badan sesuai dengan apa yang ditentukan oleh undangundang. Sedangkan obyek pajak artinya mereka mempunyai potensi untuk dikenai pajak, tetapi belum tentu dikenai pajak. Sementara itu, wajib pajak adalah mereka (orang atau badan) yang selain memenuhi syarat subyektif, juga harus memenuhi syarat obyektif. Jadi wajib pajak itu tidak hanya potensial untuk dikenakan pajak, melainkan lebih dari itu memang sudah dikenakan kewajiban untuk membayar utang pajak. Di dalam menentukan besarnya pajak yang terutang sering terjadi perselisihan antara wajib pajak dan petugas pajak. Perselisihan tersebut terjadi karena adanya perbedaan pendapat antara wajib pajak dan petugas pajak mengenai suatu maslah seperti peraturan dan penafsiran fiskus atas suatu fakta, dan kesalahan hitung atau tulis. Dalam makalah ini, kami akan membahas lebih lanjut mengenai Ketetapan pajak.

B. Rumusan Masalah
1. 2. Apa yang dimaksud dengan Ketetapan Pajak ? Apa saja jenis Ketetapan Pajak ?

3. 4. 5.

Apa Fungsi dari Ketetapan Pajak ? Bagaimana ketentuan pembetulan ketetapan Pajak ? Apakah yang dimaksud dengan duwarsa Penetapan ?

C. Tujuan
1. 2. 3. 4. 5. Mengetahui yang dimaksud dengan Ketetapan Pajak Mengetahui jenis ketetapan pajak Mengetahui Fungsi dari ketetapan pajak Mengetahui ketentuan / syarat pembetulan ketetapan pajak Mengetahui yang dimaksud dengan duwarsa penetapan

Bab II Pembahasan

A. Pengertian
Pada prinsipnya dalam sistem self assessment untuk membayar ketetapan pajak yang terutang tidak harus tergantung adanya Surat Ketetapan Pajak. Artinya Direktorat Jendral Pajak/ fiskus tidak lagi berkewajiban untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak, atas semua SPT Wajib Pajak. Dibandingkan dengan system self assessment, fiskus harus menerbitkan Surat Ketetapan Pajak. Penerbitan Surat Ketetapan Pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan ketidakbenaran pengisian SPT. Dapat juga karena ditemukan data fiskal yang tidak dilaporkan dengan kata lain Wajib Pajak tidak patuh dalam memenuhi kewajiban yang telah ditentukan oleh peraturan perudang-undangan yang berlaku. Penerbitan Surat Ketetapan Pajak pada ketentuannya dilakukan pemeriksaan, sedangkan penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) dilakukan penelitian. Sanksi administrasi yang diterapkan dalam Surat Ketetapan Pajak adalah sanksi administrasi berupa denda dan kenaikan, sedangkan pada Surat Tagihan Pajak sanksi yang diterapkan adalah sanksi berupa bunga dan atau denda. Dalam apsal 14 ayat 2 UU KUP, ditentukan STP kekuatan hukumnya disamakan dengan Surat Ketetapan Pajak, jika Wajib Pajak tidak melunasi STP maka akan dilakukan penagihan pajak dengan surat paksa. Berdasarkan pasal 12 UU KUP Direktorat Jendral Pajak tidak berkewajiban untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak atas semua SPT yang disampaikan oleh Wajib Pajak. Penerbitan suatu Surat Ketetapan Pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT atau karena ditemukan data fiscal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak. Dengan ketentuan ini, bahwa Wajib Pajak telah menghitung dan membayar besarnya pajak yang terutang secar benar, berdasarkan ketentuan perundang-undangan

perpajakan. Serta melaporkan dalam SPT sehingga kepadanya tidak perlu diterbitkan Surat Ketetapan Pajak ataupun surat keputusan dari administrasi perpajakan. Apabila diketahui kemudian, berdasarkan hasil pemeriksaan atau berdasarkan keterangan lain, bahwa pajak yang dihitung dan dilaporkan dalam SPT yang bersangkutan tidak benar, misalnya pembebanan biaya ternyata melebihi sebenarnya, maka Dirjen Pajak menetapkan besarnya pajak yang terutang sebagaimana mestinya menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan.

B. Macam Macam Ketetapan Pajak


Produk hokum yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, dalam hal ini adalah Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPP/KPPBB) untuk mengetahui adanya kewajiban atau hak dari Wajib Pajak (WP) adalah berupa surat ketetapan pajak yang terdiri dari 6 macam, yaitu : 1. Surat Tagihan Pajak (STP) 2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) 3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) 4. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) 5. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) 6. Surat Ketetapan Pajak Terutang (SPPT) Penerbitan suatu Surat Ketetapan Pajak (SKP) hanya terbatas kepada WP tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh WP. Penjelasan untuk masing-masing surat ketetapan pajak di atas seperti tersebut di bawah ini : 1. Surat Tagihan Pajak (STP) STP adalah surat yang diterbitkan untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.

Dasar hukum STP diatur dalam Pasal 14 Undang- Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, sebagaimana telah dirubah dengan Undang- Undang No.16 Tahun 2000 (UUKUP) STP dapat diterbitkan jika : -

Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang bayar Dari hasil penelitian SPT terdapat kekurangan pembayaran pajak akibat salah tulis dan atau salah hitung WP dikenakan sanksi administrasi denda atau bunga Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang PPN, tetapi tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tetapi membuat Faktur Pajak Pengusaha Kena Pajak tidak membuat Faktur Pajak atau membuat Faktur Pajak tetapi tidak tepat waktu atau tidak mengisi selengkapnya Faktur Pajak. Pengusaha kena pajak melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan faktur Pengusaha kena pajak gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian pajak masukan diwajibkan membayar kembali.

Surat Tagihan Pajak (STP) mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Surat Ketetapan Pajak, sehingga dalam hal penagihannya dapat dilakukan dengan Surat Paksa. Penerbitan STP akan ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan untuk paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau bagian tahun pajak sampai dengan diterbitkannya STP. 2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) SKPKB adalah sirat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.

Dasar hokum SKPKB diatur dalam Pasal 13 UUKUP yang dapat diterbitkan dalam jangka waktu 10 tahun sesudah terutangnya pajak, berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak, jika terjadi dalam hal hal berikut : Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang bayar Apabila sirat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dan telah ditegur secara tertulis, tidak disampaikan juga seperti ditentukan dalam surat teguran. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atas PPN dan PPnBM ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tariff 0% Apabila wajib pajak tidak melakukan kewajiban pembukuan dan tidak memenuhi permintaan dalam pemeriksaan pajak, sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak terutang. Penerbitan SPKPKB akan diikuti dengan sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan pajak . Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% sebulan jika berdasarkan hasil pemeriksaan WP tidak atau kurang membayar pajak yang terutang. Berdasarkan system self assessment, setiap WP seharusnya wajib untuk membayar pajak yang terutang berdasarkan ketentuan undang-undang perpajakan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak. Adanya batasan waktu 10 tahun, digunakan untuk menentukan adanya kepastian hokum dalam menerbitkan ketetapan pajak tersebut. Artinya dalam jangka waktu 10, fiskus diberi kesempatan menerbitkan SKPKB sepanjang dalam pemeriksaan WP masih mempunyai utang pajak. SKPKB bahkan masih bisa diterbitkan setelah 10 tahun dengan diikuti sanksi bunga 48% dari jumlah yang tidak atau kurang bayar,jika diketahui WP telah melakukan tindak pidana perpajakan dan telah diputus oleh hakim dan mempunyai kekuatan hokum tetap. 3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)

SKPKBT adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan dalam SKPKB. Dasar hokum yang SKPKBT diatur dalam pasal 15 UU KUP, yang diterbitkan untuk menampung beberapa kemungkinan yang terjadi seperti : Adanya SKPKB yang telah ditetapkan ternyata lebih rendah daripada yang sebenarnya Adanya proses pengembalian pajak yang telah ditetapkan dalam SKPLB yang seharusnya tidak dilakukan Adanya pajak terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) ditetapkan ternyata lebih rendah SPKPKB dilakukan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang dapat menyebabkan penambahan pajak yang terutang. Yang dimaksud dengan data baru adalah data atau keterangan mengenai mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang yang belum diberitahukan pada saat penetapan semula. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang semula belum terungkap adalah data atau keterangan lain mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang yang belum dilaporkan oleh WP dalam surat pemberitahuan beserta lampirannnya dan pada saat WP tidak mengunkapkan data atau keterangan secara benar, lengkap dan terperinci. Penerbitan SKPKBT juga dapat diterbitkan setelah jangka waktu 10 tahun ditambah sanksi bunga 48% dari jumlah yang tidak atau kurang dibayar bila WP terbukti melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan telah diputus oleh hakim serta mempunyai kekuatan hukum yang tetap. 4. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) SKPLB adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang. Berdasarkan Pasal 17 UUKUP, SKPLB diterbitkan dalam beberapa hal berikut ini : yang

untuk Pajak Penghasilan (PPh), jumlah kredit pajak lebih besar dari jumlah pajak yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang

untuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), jumlah kredit pajak lebih besar dari jumlah pajak yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. Bila terdapat pajak terutang yang dipungut oleh pemungut PPN, maka yang dimaksud dengan jumlah pajak terutang adalah jumlah pajak keluaran setelah dikurangi pajak yang dipungut oleh pemungut PPN tersebut.

Untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), jumlah pajak yang dibayar lebih besar dari jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang.

SPKPLB akan diterbitkan jika ada permohonan tertulis dari WP. SKPLB harus diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak paling lambat 12 bulan sejak permohonan diterima. Jika dalam jangka waktu 12 bulan telah lewat, maka permohonan WP dianggap telah diterima dan WP berhak memperoleh pengembalian kelebihan pajaknya. 5. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) SKPN adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Berdasarkan pasal 17A UUKUP, SKPN diterbitkan jika : untuk PPh, jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak yang tidak terutang dan tidak ada kredit pajak untuk PPN, jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak yang tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Apabila terdapat pajak terutang, maka yang dimaksud dengan jumlah pajak terutang adalah jumlah pajak keluaran setelah dikurangi pajak yang dipungut oleh Pemungut PPN. Untuk PPnBM, jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak yang tidak terutang dan tidak ada pembayaran pajak

6. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) SPPT adalah surat yang diterbitkan oleh Ditjen Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak yang terutang kepada WP. SPPT diatur dalam Pasal 10 ayat 1 UU no. 12 tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dilunasi oleh WP pada waktu yang telah ditentukan. SPPT yang diterbitkan harus dilunasi paling lambat 6 bulan sejak tanggal diterimanya SPPT. Jika lewat dari waktu yang telah ditentukan, maka akan dikenakan sanksi denda administrasi sebesar 2% sebulan dihitung sejak saat jatuh tempo sampai hari pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 bulan.

C. Fungsi Surat Ketetapan Pajak


Surat Ketetapan Pajak berfungsi sebagai :
1. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang nyata-nyata atau

berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban materil dalam memenuhi ketentuan perpajakan. 2. Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan. 3. Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak. 4. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar 5. Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang.

D. Pembetulan Ketetapan Pajak


Apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan dalam ketetapan pajak yang tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan WP, dapat dibetulkan oleh Direktur Jendral Pajak secara jabatan atau atas permohonan WP. Ruang lingkup kesalahan atau kekeliruan dalam ketetapan pajak yang dapat dibetulkan terbatas pada :

- Kesalahan Tulis; antara lain : kesalahan yang dapat berupa penulisan nama, alamat, NPWP, nomor surat ketetapan pajak, jenis pajak, masa atau tahun pajak jatuh tempo - Kesalahan hitung yang berasal dari penjumlahan dan atau pengurangan dan atau pengalian dan atau pembagian suatu bilangan - Kekeliruan dalam penerapan tariff, penerapan presentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto, penerpan sanksi administrasi, Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), Penghitungan PPh dalam tahun berjalan dan pengkreditan pajak. Jangka waktu penyelesain permohonan pembetulan WP harus diselesaikan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 6 bulan sejak tanggal surat permohonan pembetulan diterima. Apabila telah melebihi jangka waktu tersebut , dan Dirjen Pajak tidak memberikan keputusan, maka surat permohonan yang diajukan, dianggap dikabulkan. Dirjen Pajak karena jabatannya atau atas permohonan WP dapat mengurangkan atau menghapus sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan yang ternyata dikenakan karena adanya kekhilafan atau bukan kesalahan dari WP. Sanksi Administrasi yang telah ditetapkan dalam surat ketetapan yang masih dapat diubah, harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut : - Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan memberikan alasan yang jelas dan meyakinkan - Disampaikan kepada Dirjen Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak yang mengenakan sanksi administrasi tersebut - Tidak melebihi jangka waktu 3 bulan sejak diterbitkannya STP, SKPKB, atau SKPKBT, kecuali apabila WP dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya. - Tidak mengajukan keberatan atas ketetapan pajaknya dan diajukan atas suatu STP,SKPKB atau SKPKBT.

Setelah mengajukan permohonan pengurangan sanksi, Dirjen Pajak wajib untuk memberikan surat keputusan paling lambat 12 bulan sejak surat permohonan diterima jika melebihi jangka waktu tersebut tidak ada keputusan, maka surat permohonan dianggap telah dikabulkan.

E. Daluwarsa Penetapan
Daluwarsa penetapan merupakan suatu batasan waktu yang ditentukan undang undang untuk dapat menerbitkan surat ketetapan pajak atas utang pajak WP yang tujuannya tidak lain agar WP memperoleh kepastian hokum atas utang pajaknya. Berdasarkan Pasal 13 UU KUP menetapkan daluwarsa penetapan adalah 10 tahun, yang artinya fiskus diberikan batas waktu sampai 10 tahun sesudah saat terutangnya pajak untuk menerbitkan SKPKB. Jika dalam jangka waktu tersebut fiskus tidak menerbitkan SKPKB, maka utang pajak WP dianggap telah daluwarsa. Namun SKPKB masih dapat diterbitkan setelah melewati 10 tahun apabila WP setelah jangka waktu 10 tahun tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hokum tetap.

Bab III Penutup


A. Kesimpulan
1. Ketetapan Pajak adalah suatu ketentuan dalam sistem perpajakan untuk

pembayaran pajak terutang dengan penerbitan Surat Ketetapan Pajak. 2. Macam Macam Ketetapan Pajak : a. Surat Tagihan Pajak (STP) b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) c. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) d. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) e. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) f. Surat Ketetapan Pajak Terutang (SPPT) 3. Fungsi Ketetapan Pajak :
a. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang nyata-

nyata atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban materil dalam memenuhi ketentuan perpajakan.
b. Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan.

c. Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak.

d. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar e. Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang. 4. Ruang lingkup pembetulan ketetapan pajak : a. Kesalahan Tulis; antara lain : kesalahan yang dapat berupa penulisan nama, alamat, NPWP, nomor surat ketetapan pajak, jenis pajak, masa atau tahun pajak jatuh tempo b. Kesalahan hitung yang berasal dari penjumlahan dan atau pengurangan dan atau pengalian dan atau pembagian suatu bilangan c. Kekeliruan dalam penerapan tariff, penerapan presentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto, penerpan sanksi administrasi, Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), Penghitungan PPh dalam tahun berjalan dan pengkreditan pajak. Ketentuan permohonan pembetulan ketetapan pajak : Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan

memberikan alasan yang jelas dan meyakinkan Disampaikan kepada Dirjen Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak Tidak melebihi jangka waktu 3 bulan sejak diterbitkannya STP, yang mengenakan sanksi administrasi tersebut SKPKB, atau SKPKBT, kecuali apabila WP dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya. Tidak mengajukan keberatan atas ketetapan pajaknya dan diajukan atas suatu STP,SKPKB atau SKPKBT. 5. Daluwarsa penetapan merupakan suatu batasan waktu yang ditentukan undang undang untuk dapat menerbitkan surat ketetapan pajak atas utang pajak WP yang tujuannya tidak lain agar WP memperoleh kepastian hokum atas utang pajaknya.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.kanwilmalang.pajak.go.id/informasi-pajak/ketentuan-umum-perpajakankup/12-seri-04-penetapan-dan-ketetapan-pajak.html diakses tanggal 11 Oktober 2011. http://www.pajak.go.id/dmdocuments/SKP.pdf diakses tanggal 11 Oktober 2011. http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/s1akuntansi10U/203112100/bab1.pdf tanggal 11 Oktober 2011. http://pradzt.blogspot.com/2010/01/penetapan-dan-ketetapan-pajak.html tanggal 11 Oktober 2011. diakses diakses