PERENCANAAN KARAKTERISTIK TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Pengantar Dalam pembelajaran perlu ada tujuan instruksional khusus.

Tujuan instruksional khusus termasuk langkah yang menjadi pengarah dalam perencanaan pembelajaran. Tujuan instruksional sebagai pengarah dalam penggambaran tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap khusus yang harus dimiliki warga belajar seletah menyelesaikan suatu program pembelajaran. Dengan dasar alasan di atas, tujuan instruksional khsusus sebagai pengarah, maka perencana pembelajaran berkewajiban memiliki keterampilan merencanakan karakteristik tujuan tersebut dengan tepat. Berdasarkan hasil pengamatan, masih ada rumusan tujuan instruksional khusus yang disusun perencana pengajaran yang belum memenuhi karakteristik. Dalam rumusannya, komponen dan kriteria tujuan instruksional khusus dilalaikan. Kelalian itu berdampak terhadap esensial tujuan yang ingin dicapai. Apabila demikian keadaannya, maka fungsi tujuan instruksional khusus sebagai pengarah akan pudar. Calon guru/guru/pengajar dipandang perlu memiliki keterampilan mengenai penulisan tujuan instruksional, terlebih-lebih terampil melaksanakan tujuan instruksional khusus yang telah disusunnya. Untuk mendukung peningkatan kompetensi pengajar mengenai perencanaan karakteristik tujuan instruksional khusus, dalam pembelajaran ini dikemukakan tentang perencanaan komponen tujuan instruksional khusus, kriteria tujuan instruksional khusus, ranah kognisi dalam tujuan instruksional khusus, dan kata kerja operasional untuk tujuan instruksional khusus. Pengertian a. Karakteristik Karakteristik mengandung arti ciri-ciri khusus dari sesuatu yang menjadi sifat khas sesuai dengan perwatakannya. Ciri-ciri khusus tujuan instruksional khusus dibangun dengan dua bagian, yakni komponen dan kriteria. Komponen dan kriteria ini dipadukan menjadi sebuah sistem. Apabila salah satu dari kedua bagian itu tidak tampak, berarti belum dikatakan ciri khusus. Dengan kata lain, belum memiliki karakteristik yang benar.

Tujuan Instruksional Khusus Tujuan instruksional khusus (TIK) menurut pandangan GBPP Kurikulum 1994 diistilahkan dengan tujuan pembelajaran khusus. tunawicara = tidak mampuh bertutur kata. tunarungu = tidak bisa mendengar.)}. tetapi orang yang tuna {(tunadaksa = anggota badan tidak lengkap. Apabila ditemukan rumusan tujuan instruksional khusus yang tidak memiliki salah satu aspek dari dua bagian tadi (komponen dan kriteria). menurut pandangan kurrikulum KBK diistilahkan indikator. namun orang yang sakit jiwa. dari tujuan pembelajaran umum dijabarkan lagi oleh pembuat perencanaan pembelajaran (pengajar) menjadi beberapa TIK. Selanjutnya. Sedangkan komponen batiniah berupa sifat-sifat esensial prilaku manusia sebagai suatu kriteria baik dan buruk.Kelengkapan (komponen dan kriteria) bagian tujuan instruksional khusus diibaratkan manusia. tunanetra = tidak dapat melihat. Kata instruksional dipadankan dengan kata pembelajaran. Tujuan pendidikan nasional dijabarkan menjadi beberapa tujuan institusional. sesuai dengan rumusan tujuan yang terdapat dalam . dsb. Tujuan institusional dijabarkan menjadi beberapa tujuan kurikuler. Tujuan yang lebih luas itu ialah tujuan pendidikan nasional. indikator) ialah tujuan yang berisikan tentang pengetahuan. komponen lahiriah (jasmani) dan komponen batiniah. Begitu halnya dengan tujuan instruksional khusus. Eksistensi tujuan instruksional khusus ialah hasil penjabaran tujuan yang lebih luas. di satu pihak manakala orang mendapat cobaan dengan tidak memiliki salah satu anggota badan. bukan orang baik menurut pandangan awam atau pandangan material. dan sikap yang harus dimiliki warga belajar setelah mengikuti suatu pembelajaran. Karakteristik di atas dapat diilustrasikan dengan dua kasus. tetap disebut orang. di pihak lain. ada orang yang secara jasmaniah sehat. Pendek kata. Kasus pertama. orang tersebut tidak bisa disebut orang normal. b. keterampilan. Komponen lahiriah berupa badan dan anggota badan serta bagian-bagiannya. Ini pun tetap disebut orang. Baik kasus yang pertama. Tujuan pendidikan nasional ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa secara nasional. lengkap anggota badan termasuk bagiannya. mapun kasus yang kedua. bugar. Padanan tersebut tidak mengurangi pengertian yang dikandungnya. Kasus kedua. Tujuan kurikuler dijabarkan menjadi beberapa tujuan instruksional umum (TIU) atau tujuan pembelajaran umum (TPU). Manusia memiliki komponen dan kriteria. Dengan demikian. maka mau tidak mau rumusan tujuan instruksional khusus itu belum dikategorikan ke dalam rumusan yang baik. namun ingatannya terganggu (sakit ingatan). yakni komponen dan kriteria. Tujuan instruksional khusus (tujuan pembelajaran khusus. karakteristik tujuan instruksional khusus yang baik itu harus memiliki ciri-ciri khusus.

Rumusan tujuan instruksional khusus dirumuskan sesuai dengan kebutuhan. 4) petunjuk penentuan materi dan teknik pembelajaran. ABCD singkatan dari Audience.pembukaan UUD 1945 "mencedarkan kehidupan bangsa" dan dituangkan dalam GBHN. Tujuan instruksional khusus (tujuan pembelajaran khusus) muncul dengan upaya perencana pembelajaran/guru/ pengajar. 2) gambaran kemampuan/keterampilan yang diharapkan. yaitu siswa (warga belajar. Tujuan instruksional khusus adalah tujuan yang memberikan kriteria tentang: 1) kemajuan belajar warga belajar secara pasti. 3) mengembangkan alat evaluasi untuk mengukur efektivitas pengajaran. a. Komponen Komponen (bagian-bagian) yang membangun sebuah tujuan instruksional khusus terdiri atas empat komponen. Komponen yang dimaksud ialah ABCD. 2 Karakteristik Tujuan Instruksional Khusus Karakteristik yang dimiliki tujuan instruksional khusus tergambar pada komponen dan kriteria yang dimilikinya. dan evaluasi. alat/media. Condition dan Degree. sumber. SMU. Dengan demikian. Behavior. Tujuan kurikuler ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai warga belajar setelah menyelesaikan suatu bidang studi atau mata kuliah yang diberikan pada suatu lembaga pendidikan. SMP. Umpamanya SD. Tujuan pembelajaran umum ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai warga belajar seletah menyelesaikan suatu pokok bahasan pada salah satu tema pembelajaran. tujuan instruksional khusus merupakan petunjuk yang jelas untuk menentukan materi pembelajaran. UPI. dan 5) petunjuk bagi warga belajar untuk mempelajari bahan yang akan diujikan. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan rumusan tujuan instruksional khusus perubahan pembelajaran tidak ada dalam GBPP. Komponen dan kriteria itu dijelaskan di bawah ini. kegiatan belajar mengajar. Tujuan institusional ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai warga belajar setelah menamatkan suatu jenjang (program) pendidikan pada suatu lembaga pendidikan. Unpad. peserta didik) yang harus dapat mengerjakan perbuatan yang dirumuskan dalam TPK/TIK (Tujuan Pembelajaran Khusus/Tujuan Instruksional Khusus/ Indikator). 1) Audience Audience. . ITB.

mengadakan latihan dialog. yang harus melaksanakan kata kerja operasional yang ditulis dalam tujuan instruksional khusus.Warga belajar berkedudukan sebagai pelaku.dapat menuliskan satu definisi kalimat majemuk .dengan menggunakan kamus . mengemukakan fakta. Audience ketika melakukan kata kerja operasional bisa secara indivual. kata kerja operasional yang termasuk ke dalam lingkup keterampilan. dan mengadakan latihan pemeranan/penokohan.dapat menerangkan komponen TIK/TPK 3) Condition Condition. yaitu keadaan yang berupa syarat. Kegiatan secara kelompok. Tingkah laku yang diharapkan dapat dikerjakan oleh warga belajar setelah berakhir program pengajaran tertentu. bisa juga secara kelompok. peserta didik). melakukan diskusi.Peserta penyuluhan 2) Behavior Behavior. Contoh behavior: . seperti memperkenalkan diri. menceriterakan sesuatu. Baik kata kerja operasional yang tercakup ke dalam kawasan pengetahuan. dan berceritera berantai. maupun kata kerja yang termasuk ke dalam bidang sikap. Kegiatan kata kerja operasional dalam keterampilan berbicara bisa dilaksanakan secara individual dan secara kelompok. Kegiatan secara individual. yaitu tingkah laku atau kegiatan warga belajar (siswa. Hal ini tergantung kepada penentu sebuah rumusan tujuan bahan yang dijarkan. yang menunjukkan ting tingkah laku yang dapat diamati atau dapat diukur. menjelaskan cara membuat sesuatu.dapat menyebutkan dua contoh kata benda .Peserta penataran . mengemukakan komentar. seperti mengadakan latihan wawancara (kelompok).Siswa kelas I SMP .dengan menggunakan peta . Tingkah laku (behavior) dalam tujuan instruksional khsusus dinyatakan dengan kata kerja operasional. Syarat yang menjadi kondisi itu seperti => ketentuan: . kondisi yang harus dipenuhi pada saat tingkah laku (kata kerja) dilakukan warga belajar ketika perbuatan tersebut dievaluasi. Contoh audience: . melaporkan isi bacaan.

standar atau ukuran yang menunjukkan bahwa siswa telah mencapai tujuan khusus. Mencapai tujuan berarti melakukan kata kerja operasional dengan benar. Contoh condition: . yaitu menggunakan istilah yang operasional. Contoh degree: . Padahal condition dan degree akan memberikan penjelasan yang berarti dan akan memberikan informasi lebih baik mengenai tujuan yang hendak dicapai. Mengapa ketika pelaksanaan ulangan/ujian/evaluasi/ tes kita harus mengawas peserta ulangan? Mengapa ujian masuk perguruan tinggi memerlukan pengawas? Hal ini sebenarnya untuk menerapkan komponen kondisi agar peserta ujian tidak keluar dari ketentuan-ketentuan syarat suatu kondisi. Kebingungan tersebut terjadi karena perencana TIK/TPK tidak menggunakan komponen kondisi.tidak diberi tahu teman 4) Degree Degree. Dalam hal ini ukuran petepan tujuan instruksional khusus yang baik. . berbentuk tingkah laku.tidak bekerja sama .tidak bekerja sama .=> larangan: . atau memberi peluang kepada penjawab soal evaluasi.sambil mendengarkan radio kaset .dengan tanpa membuat kesalahan . Kriteria Kriteria berarti ukuran yang menjadi dasar penetap-an sesuatu. Kriteria TIK/TPK ada empat. seperti bolehkah membuka buku/catatan. dsb.sambil menggunakan naskah Syarat seperti di atas sering diabaikan oleh pembuat TIK/TPK yang tidak memperhatikan komponen kondisi. dan mengandung satu jenis tingkah laku.dengan tidak salah b. boleh menggunakan kamus.tidak membuka buku/catatan => kebolehan/izin: . yaitu tingkat keberhasilan yang harus dipenuhi.dengan benar . bolehkah bekerja sama. Ada kemungkinan perumus TIK/TPK ada agak segan merumuskan sampai dengan condition dan degree. berbentuk hasil belajar.tanpa melihat buku atau catatan . Hal ini membingungkan para pengawas.

Responding (kemauan menanggapi). yakni Ricall (ingatan).1) Istilah yang operasional TIK/TPK harus menggunakan istilah yang operasional. Oleh karena itu. yakti kata kerja yang dapat diukur. yakni Receiving (kemauan menerima). Kata mendefinisikan dapat diukur dan dapat diobservasi. . yakni perception (persepsi). Organization (penerapan karya). yakni ranah kognisi (pengetahuan). Bandingkan saja dengan kata menghayati Kata menuliskan dua contoh dapat diukur dan dapat diobservasi. Bandingkan dengan kata memahami. dan organizing (penciptaan yang baru). Tingkah laku yang dapat diukur. tidak boleh dua tingkah laku yang berbeda. tetapi mengukur hal yang dipelajari warga belajar. Ranah afeksi (sikap) mencakup RRVOC. Contoh: Kata menyebutkan dapat diukur dan dapat diobervasi. dapat diobservasi perlakuannya. set (kesiagaan). Apabila menghendaki dua jenis tingkah laku. dan Characterization by a value or value complex (ketelitian/ ketekunan). guided response (respons terarah). Tingkah laku yang dapat diamati. Ranah kognisi (pengetahuan) membawahi RCAASE. yang dirumuskan dalam TIK/TPK adalah hasil belajar. maka rumuskan dalam dua TIK/TPK. maka jangan diikuti dengan kata yang berbentuk tingkah laku lain menuliskan. Ranah psikomotor (keterampilan) meliputi PSGMCAO. 2) Hasil belajar TIK/TPK harus merumuskan sesuatu yang diajarkan. Masing-masing ramah memiliki pembagian. ranah afeksi (sikap). TIK/TPK tidak mengukur hal yang dipelajari perumus. Valuing (berkeyakinan). 4) Satu jenis tingkah laku TIK/TPK yang dirumuskan harus satu jenis tingkah laku. Bandingkan dengan kata memahami. 3) Tingkah Laku TIK/TPK yang dirumuskan harus berbentuk tingkah laku. dan ranah psikomotor (keterampilan). Kalau menggunakan kata yang berbentuk tingkah laku menyebutkan. complex overt response (respon nyata yang kompleks). adaptation (adaptasi). mechanism (mekanisme). 3 Ranah Kognisi Tujuan pembelajaran secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga ranah (bagian perilaku manusia).

Dengan pertimbngan pengukurannya tidak mudah. Hal ini didasari pertimbangan bahwa ada bagian ranah kognisi yang dapat mewakili ranah psikomotor.Comprehention (pemahaman). rahan yang biasa digunakan ialah ranah kognisi.menuliskan .menamakan .mengubah . di antaranya: .menyebutkan . Comprehention (C-2) atau pemahaman.memilih b.memperkirakan .menyatakan secara luas .menyimpulkan c. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.meramalkan . di antaranya: .menjelaskan .mencocokkan . Synthesis (sintesis).mendemonstrasikan . a.membedakan .memberi nama . dan Evaluation (evaluasi).menuliskan dengan kata-kata sendiri . Ranah psikomotor jarang (bahkan tidak) digunakan. Kata kerja operasional itu digunakan dalam perumusan tujuan instruksional khusus. Application (C-3) atau penerapan.mendefinisikan .mengidentifikasi . Application (penerapan).menemukan .mempertahankan . 4 Kata Kerja Oprasional Setiap bagian ranah memiliki beberapa kata kerja operasional. Analysis (analisis). Begitu pula ranah afektif jarang (bahkan tidak) digunakan secara khusus. di antaranya: . Kata kerja operasional yang lazim digunakan dalam setiap kawasan kognisi ditulis di bawah ini.menggunakan .membuat garis besar .menghitung . Recall (C-1) atau ingatan.menarik kesimpulan umum .menyatakan .

menyediakan .mengorganisir kembali .menghasilkan .memecahkan d.menguraikan .meramalkan . di antaranya: .memisahkan .menunjukkan .menunjuk .menyusun e.menjalankan .merevisi .mengerjakan dengan teliti .menjelaskan .menyimpulkan . Synthesis (C-5) atau sintesis.menghimpun .menggabungkan .membuat modifikasi .mengorganisir .merencanakan .membedakan .memisah-misahkan .merinci .menarik kesimpulan .menghubungkan .mencipta rencana ..menggambarkan . Analysis (C-4) atau analisis.menghubungkan .membeda-bedakan .membuat diagram . di antaranya: .menulis kembali .mencipta .memecahkan .membangkitkan .merancang .menyatakan .menggolong-golongkan .

. merinci****) ciri-ciri kalimat aktif (C-4).menyokong 5 Penerapan Karakteristik Tujuan Instruksional Khusus Setelah Anda memahami karakteristik tujuan instruksional khusus. di antaranya: . 2. Perhatikan penggunaan komponen audience. boleh ACDB. boleh CDAB.menilai .f. Perkara komponen apa dahulu tidak menjadi prinsip.menyimpulkan . menghimpun****) kalimat aktif yang terdapat dalam wacana 1 (C-5). dan penerapan kriteria tujuan instruksional khusus! Contoh Siswa*) dengan benar **) dan tidak membuka catatan***) dapat: 1. penggunaan kata kerja operasional.melukiskan . Keterangan *) = audience **) = degree ***) = condition ****) = behavior Contoh 1 telah memenuhi komponen tujuan instruksional khusus. 3.mempertentangkan . Apakah rumusan tujuan instruksional harus berurutan ABCD? Tentu tidak.menjelaskan .membeda-bedakan . mendefinisikan ****) kalimat aktif (C-1). 6.mempertimbangkan kebenaran . mengubah****) kalimat aktif menjadi kalimat pasif (C-2). Evaluation (C-6) atau evaluasi. perumusan TPK/TIK tidak harus selalu berurutan ABCD. boleh-boleh saja. condition dan degree. behavior. menyimpulkan ****) isi wacana 1 (C-6).menghubungkan . boleh BCDA. Dengan kata lain. pada bagian ini Anda diajak untuk memahami cara penerapannya.memperbandingkan . dan atau komposisi lain. 5. boleh ADBC.mengkritik . 4. menggunakan****) kata komponen dalam kalimat aktif (C-3). Hal yang mesti ada adalah komponen ABCD.

5. 2. Kata kerja menghayati dan memhami tidak layak untuk dijadikan kata kerja operasional. Kata kerja itu mari kita imperatifkan menjadi 1. 3. menggunakan. Simpulkan! Kata-kata imperatif di atas dapat diukur dan dapat diobervasi. yakni mendefinisikan. menghimpun. Gunakan!. menghimpun. merinci. kata imperatif Pahami! dari kata kerja memahami. Rinci. menggunakan. 4. 2. merinci. 3. Kedua: Hasil Belajar Hal yang dirumuskan pada TIK/TPK di atas adalah hasil belajar. Semua kata kerja yang digunakan berbentuk tingkah laku. Keempat: Satu Jenis Tingkah Laku Rumusan TIK/TPK di atas hanya mengandung satu jenis tingkah laku. tidak merumuskan atau menyatakan sesuatu yang tidak diajarkan pada waktu itu. dan menyimpulkan. Ubah!. Rumusan TIK/TPK di atas telah memnuhi komponen dan kriteria tujuan . Lain halnya dengan kata-kata imperatif. Maksudnya. 3. 4. rumusan TIK/TPK di atas menggunakan istilah kata kerja operasional untuk TIK/TPK. dan menyimpulkan. menggunakan. Kata kerja yang terdapat dalam contoh rumusan TIK/ TPK di atas ialah 1. Dengan demikian. dan 6. dan 6. mengubah. menyimpulkan. 5. menghimpun. merinci. seperti Hayati! dati kata kerja menghayati. mengubah. Pertama: Penggunaan Istilah yang Operasional Suatu istilah dikatakan operasional atau tidak dapat diobservasi di antanya dengan menggunakan bentuk imperatif (bentuk perintak) dari kata kerja yang digunakan dalam rumusan TIK/TPK.Bagaimana penerapan kriteria tujuan instruksional khusus pada contoh? Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita buktikan satu persatu tentang kriteria tujuan instruksional. Ketiga: Tingkah Laku Rumusan kata kerja TIK/TPK mendefinisikan. Himpun!. mendefinisikan. Jadi. Definisikan. mengubah.

Calon guru/guru/pengajar dipandang perlu memiliki keterampilan mengenai penulisan tujuan instruksional. Kriteria TIK/TPK ada empat. terlebih-lebih terampil melaksanakan tujuan instruksional khusus yang telah disusunnya. dan ranah psikomotor (keterampilan). mechanism (mekanisme).isntruksional khusus. Condition dan Degree. guided response (respons terarah). ranah afeksi (sikap). 6 Rangkuman Tujuan instruksional khusus termasuk langkah yang menjadi pengarah dalam perencanaan pembelajaran. Masing-masing ramah memiliki pembagian. Synthesis (sintesis). Analysis (analisis). ABCD singkatan dari Audience. dan sikap khusus yang harus dimiliki warga belajar seletah menyelesaikan suatu program pembelajaran. yakni ranah kognisi (pengetahuan). berbentuk tingkah laku. keterampilan. Setiap bagian ranah memiliki beberapa kata kerja operasional. Responding (kemauan menanggapi). Ranah kognisi (pengetahuan) membawahi RCAASE. Kata kerja operasional itu digunakan dalam perumusan tujuan instruksional khusus. Valuing (berkeyakinan). dan Characterization by a value or value complex (ketelitian/ ketekunan). yakni Recall (ingatan). Tujuan instruksional sebagai pengarah dalam penggambaran tentang pengetahuan. Comprehention (pemahaman). Application (penerapan). set (kesiagaan). Karakteristik yang dimiliki tujuan instruksional khusus tergambar pada komponen dan kriteria yang dimilikinya. dan mengandung satu jenis tingkah laku. Tujuan pembelajaran secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga ranah (bagian perilaku manusia). Ranah afeksi (sikap) mencakup RRVOC. . Komponen yang dimaksud ialah ABCD. Behavior. Organization (penerapan karya). Tujuan instruksional khusus (tujuan pembelajaran khusus) ialah tujuan yang berisikan tentang pengetahuan. adaptation (adaptasi). dan Evaluation (evaluasi). yakni perception (persepsi). Ranah psikomotor (keterampilan) meliputi PSGMCAO. keterampilan. dan organizing (penciptaan yang baru). yaitu menggunakan istilah yang operasional. dan sikap yang harus dimiliki warga belajar setelah mengikuti suatu pembelajaran. yakni Receiving (kemauan menerima). complex overt response (respon nyata yang kompleks). Komponen (bagian-bagian) yang membangun sebuah tujuan instruksional khusus terdiri atas empat komponen. berbentuk hasil belajar.

Walter. Rencana Pembelajaran dan Analisis Materi Pembelajaran. Kurikulum: GBPP Bidang Studi Bahasa Indonesia SLTP. Abd. Disain Instruksional. Drs. Gafur. M.. Teknologi Instruksional.. Hidayat. Satuan Pembelajaran: Mulok Bahasa dan Sastra Sunda (cetakan ke-2).. Dr. M. Jakarta: Bina Aksara. Donald P. Nasution.REFERENSI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Drs.Pd. Jakarta.Sc. M. Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud. (cetakan ke-2) Solo: Tiga Serangkai Hamied. Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi.Pd. Iim Rahmina. (1989). Drs. Rahman. (1994). (1996). Drs. (1996). Rahman. dan Loa Carey. Drs..Pd. (1978). Ely. (1987).A. Bandung: PT Humaniora Utama Press. The Systematic of Instruktional Blenview: Scott Forema and Co. (1982). . Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Dr. Kosadi. Bandung: PT Humaniora Utama Press. & Dra. M. Prof. (1981). (1978). M. Instructional Design & Development. New York: Syracuse University Publ. Proses Belajar Mengajar.. (1996). Bandung: Bina Cipta Husen. Bandung: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Bandung. Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Achlan. M.Pd. Fuad Abdul. Bandung: PT Humaniora Utama Press. Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pengajaran Bahasa. (1991). Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. (1988). Program Tahunan dan Program Caturwulan. Dick. Rahman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful