P. 1
007 an Karakteristik Tujuan Pembelajaran

007 an Karakteristik Tujuan Pembelajaran

|Views: 606|Likes:
Dipublikasikan oleh Nurfadhilah

More info:

Published by: Nurfadhilah on Oct 19, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

PERENCANAAN KARAKTERISTIK TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Pengantar Dalam pembelajaran perlu ada tujuan instruksional khusus.

Tujuan instruksional khusus termasuk langkah yang menjadi pengarah dalam perencanaan pembelajaran. Tujuan instruksional sebagai pengarah dalam penggambaran tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap khusus yang harus dimiliki warga belajar seletah menyelesaikan suatu program pembelajaran. Dengan dasar alasan di atas, tujuan instruksional khsusus sebagai pengarah, maka perencana pembelajaran berkewajiban memiliki keterampilan merencanakan karakteristik tujuan tersebut dengan tepat. Berdasarkan hasil pengamatan, masih ada rumusan tujuan instruksional khusus yang disusun perencana pengajaran yang belum memenuhi karakteristik. Dalam rumusannya, komponen dan kriteria tujuan instruksional khusus dilalaikan. Kelalian itu berdampak terhadap esensial tujuan yang ingin dicapai. Apabila demikian keadaannya, maka fungsi tujuan instruksional khusus sebagai pengarah akan pudar. Calon guru/guru/pengajar dipandang perlu memiliki keterampilan mengenai penulisan tujuan instruksional, terlebih-lebih terampil melaksanakan tujuan instruksional khusus yang telah disusunnya. Untuk mendukung peningkatan kompetensi pengajar mengenai perencanaan karakteristik tujuan instruksional khusus, dalam pembelajaran ini dikemukakan tentang perencanaan komponen tujuan instruksional khusus, kriteria tujuan instruksional khusus, ranah kognisi dalam tujuan instruksional khusus, dan kata kerja operasional untuk tujuan instruksional khusus. Pengertian a. Karakteristik Karakteristik mengandung arti ciri-ciri khusus dari sesuatu yang menjadi sifat khas sesuai dengan perwatakannya. Ciri-ciri khusus tujuan instruksional khusus dibangun dengan dua bagian, yakni komponen dan kriteria. Komponen dan kriteria ini dipadukan menjadi sebuah sistem. Apabila salah satu dari kedua bagian itu tidak tampak, berarti belum dikatakan ciri khusus. Dengan kata lain, belum memiliki karakteristik yang benar.

bukan orang baik menurut pandangan awam atau pandangan material. lengkap anggota badan termasuk bagiannya. Manusia memiliki komponen dan kriteria. Tujuan instruksional khusus (tujuan pembelajaran khusus. Tujuan institusional dijabarkan menjadi beberapa tujuan kurikuler. Tujuan pendidikan nasional ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa secara nasional. Kasus kedua. Eksistensi tujuan instruksional khusus ialah hasil penjabaran tujuan yang lebih luas. Tujuan kurikuler dijabarkan menjadi beberapa tujuan instruksional umum (TIU) atau tujuan pembelajaran umum (TPU). di pihak lain. Dengan demikian. tunawicara = tidak mampuh bertutur kata. Tujuan pendidikan nasional dijabarkan menjadi beberapa tujuan institusional. tunarungu = tidak bisa mendengar. Kata instruksional dipadankan dengan kata pembelajaran. Pendek kata. di satu pihak manakala orang mendapat cobaan dengan tidak memiliki salah satu anggota badan. mapun kasus yang kedua. Begitu halnya dengan tujuan instruksional khusus. Tujuan yang lebih luas itu ialah tujuan pendidikan nasional. orang tersebut tidak bisa disebut orang normal. Ini pun tetap disebut orang. dan sikap yang harus dimiliki warga belajar setelah mengikuti suatu pembelajaran. tetapi orang yang tuna {(tunadaksa = anggota badan tidak lengkap. Baik kasus yang pertama. tetap disebut orang.)}. komponen lahiriah (jasmani) dan komponen batiniah. bugar. Apabila ditemukan rumusan tujuan instruksional khusus yang tidak memiliki salah satu aspek dari dua bagian tadi (komponen dan kriteria). keterampilan. indikator) ialah tujuan yang berisikan tentang pengetahuan. b. Selanjutnya. karakteristik tujuan instruksional khusus yang baik itu harus memiliki ciri-ciri khusus. Kasus pertama. Karakteristik di atas dapat diilustrasikan dengan dua kasus. Komponen lahiriah berupa badan dan anggota badan serta bagian-bagiannya. sesuai dengan rumusan tujuan yang terdapat dalam . Padanan tersebut tidak mengurangi pengertian yang dikandungnya. Tujuan Instruksional Khusus Tujuan instruksional khusus (TIK) menurut pandangan GBPP Kurikulum 1994 diistilahkan dengan tujuan pembelajaran khusus. Sedangkan komponen batiniah berupa sifat-sifat esensial prilaku manusia sebagai suatu kriteria baik dan buruk. namun ingatannya terganggu (sakit ingatan). menurut pandangan kurrikulum KBK diistilahkan indikator. maka mau tidak mau rumusan tujuan instruksional khusus itu belum dikategorikan ke dalam rumusan yang baik. dsb. namun orang yang sakit jiwa.Kelengkapan (komponen dan kriteria) bagian tujuan instruksional khusus diibaratkan manusia. dari tujuan pembelajaran umum dijabarkan lagi oleh pembuat perencanaan pembelajaran (pengajar) menjadi beberapa TIK. ada orang yang secara jasmaniah sehat. tunanetra = tidak dapat melihat. yakni komponen dan kriteria.

a. Tujuan institusional ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai warga belajar setelah menamatkan suatu jenjang (program) pendidikan pada suatu lembaga pendidikan. Umpamanya SD. Rumusan tujuan instruksional khusus dirumuskan sesuai dengan kebutuhan. SMP. yaitu siswa (warga belajar. Tujuan instruksional khusus adalah tujuan yang memberikan kriteria tentang: 1) kemajuan belajar warga belajar secara pasti. alat/media. Tujuan pembelajaran umum ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai warga belajar seletah menyelesaikan suatu pokok bahasan pada salah satu tema pembelajaran. 3) mengembangkan alat evaluasi untuk mengukur efektivitas pengajaran. Komponen Komponen (bagian-bagian) yang membangun sebuah tujuan instruksional khusus terdiri atas empat komponen. Unpad. 2 Karakteristik Tujuan Instruksional Khusus Karakteristik yang dimiliki tujuan instruksional khusus tergambar pada komponen dan kriteria yang dimilikinya. Komponen yang dimaksud ialah ABCD. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan rumusan tujuan instruksional khusus perubahan pembelajaran tidak ada dalam GBPP. . Komponen dan kriteria itu dijelaskan di bawah ini. ITB. Tujuan instruksional khusus (tujuan pembelajaran khusus) muncul dengan upaya perencana pembelajaran/guru/ pengajar. tujuan instruksional khusus merupakan petunjuk yang jelas untuk menentukan materi pembelajaran.pembukaan UUD 1945 "mencedarkan kehidupan bangsa" dan dituangkan dalam GBHN. 1) Audience Audience. Tujuan kurikuler ialah tujuan pembelajaran yang harus dicapai warga belajar setelah menyelesaikan suatu bidang studi atau mata kuliah yang diberikan pada suatu lembaga pendidikan. ABCD singkatan dari Audience. sumber. dan 5) petunjuk bagi warga belajar untuk mempelajari bahan yang akan diujikan. dan evaluasi. peserta didik) yang harus dapat mengerjakan perbuatan yang dirumuskan dalam TPK/TIK (Tujuan Pembelajaran Khusus/Tujuan Instruksional Khusus/ Indikator). Behavior. 4) petunjuk penentuan materi dan teknik pembelajaran. Dengan demikian. Condition dan Degree. kegiatan belajar mengajar. SMU. 2) gambaran kemampuan/keterampilan yang diharapkan. UPI.

Contoh behavior: . seperti mengadakan latihan wawancara (kelompok). menceriterakan sesuatu.dapat menyebutkan dua contoh kata benda . yang harus melaksanakan kata kerja operasional yang ditulis dalam tujuan instruksional khusus. mengadakan latihan dialog.Peserta penyuluhan 2) Behavior Behavior.dapat menerangkan komponen TIK/TPK 3) Condition Condition. Contoh audience: . maupun kata kerja yang termasuk ke dalam bidang sikap. bisa juga secara kelompok.dengan menggunakan peta .Warga belajar berkedudukan sebagai pelaku. melakukan diskusi. menjelaskan cara membuat sesuatu. Hal ini tergantung kepada penentu sebuah rumusan tujuan bahan yang dijarkan.dengan menggunakan kamus . Kegiatan kata kerja operasional dalam keterampilan berbicara bisa dilaksanakan secara individual dan secara kelompok. yaitu tingkah laku atau kegiatan warga belajar (siswa. mengemukakan fakta. Tingkah laku (behavior) dalam tujuan instruksional khsusus dinyatakan dengan kata kerja operasional.Peserta penataran . Audience ketika melakukan kata kerja operasional bisa secara indivual. dan berceritera berantai. kondisi yang harus dipenuhi pada saat tingkah laku (kata kerja) dilakukan warga belajar ketika perbuatan tersebut dievaluasi. peserta didik). yaitu keadaan yang berupa syarat. mengemukakan komentar. seperti memperkenalkan diri. yang menunjukkan ting tingkah laku yang dapat diamati atau dapat diukur. Syarat yang menjadi kondisi itu seperti => ketentuan: . melaporkan isi bacaan. Baik kata kerja operasional yang tercakup ke dalam kawasan pengetahuan. kata kerja operasional yang termasuk ke dalam lingkup keterampilan. Tingkah laku yang diharapkan dapat dikerjakan oleh warga belajar setelah berakhir program pengajaran tertentu.dapat menuliskan satu definisi kalimat majemuk . Kegiatan secara individual. Kegiatan secara kelompok. dan mengadakan latihan pemeranan/penokohan.Siswa kelas I SMP .

Dalam hal ini ukuran petepan tujuan instruksional khusus yang baik. bolehkah bekerja sama.dengan tidak salah b. yaitu menggunakan istilah yang operasional. Contoh degree: .dengan tanpa membuat kesalahan . seperti bolehkah membuka buku/catatan.tanpa melihat buku atau catatan . berbentuk tingkah laku. Ada kemungkinan perumus TIK/TPK ada agak segan merumuskan sampai dengan condition dan degree.tidak bekerja sama . atau memberi peluang kepada penjawab soal evaluasi.dengan benar . Padahal condition dan degree akan memberikan penjelasan yang berarti dan akan memberikan informasi lebih baik mengenai tujuan yang hendak dicapai. standar atau ukuran yang menunjukkan bahwa siswa telah mencapai tujuan khusus. dan mengandung satu jenis tingkah laku.tidak diberi tahu teman 4) Degree Degree.=> larangan: . yaitu tingkat keberhasilan yang harus dipenuhi.tidak bekerja sama . . berbentuk hasil belajar. Kriteria Kriteria berarti ukuran yang menjadi dasar penetap-an sesuatu. Mencapai tujuan berarti melakukan kata kerja operasional dengan benar. Mengapa ketika pelaksanaan ulangan/ujian/evaluasi/ tes kita harus mengawas peserta ulangan? Mengapa ujian masuk perguruan tinggi memerlukan pengawas? Hal ini sebenarnya untuk menerapkan komponen kondisi agar peserta ujian tidak keluar dari ketentuan-ketentuan syarat suatu kondisi. Contoh condition: . Kriteria TIK/TPK ada empat. dsb.sambil mendengarkan radio kaset . Hal ini membingungkan para pengawas. boleh menggunakan kamus. Kebingungan tersebut terjadi karena perencana TIK/TPK tidak menggunakan komponen kondisi.tidak membuka buku/catatan => kebolehan/izin: .sambil menggunakan naskah Syarat seperti di atas sering diabaikan oleh pembuat TIK/TPK yang tidak memperhatikan komponen kondisi.

dan Characterization by a value or value complex (ketelitian/ ketekunan). yakni perception (persepsi). Ranah afeksi (sikap) mencakup RRVOC. 4) Satu jenis tingkah laku TIK/TPK yang dirumuskan harus satu jenis tingkah laku. ranah afeksi (sikap). 3) Tingkah Laku TIK/TPK yang dirumuskan harus berbentuk tingkah laku. 2) Hasil belajar TIK/TPK harus merumuskan sesuatu yang diajarkan. Tingkah laku yang dapat diukur. Responding (kemauan menanggapi). maka jangan diikuti dengan kata yang berbentuk tingkah laku lain menuliskan. Bandingkan dengan kata memahami. Apabila menghendaki dua jenis tingkah laku. Bandingkan dengan kata memahami. dan ranah psikomotor (keterampilan). adaptation (adaptasi). . guided response (respons terarah). yang dirumuskan dalam TIK/TPK adalah hasil belajar. mechanism (mekanisme). yakni Receiving (kemauan menerima). Kata mendefinisikan dapat diukur dan dapat diobservasi. Bandingkan saja dengan kata menghayati Kata menuliskan dua contoh dapat diukur dan dapat diobservasi. Ranah psikomotor (keterampilan) meliputi PSGMCAO. Kalau menggunakan kata yang berbentuk tingkah laku menyebutkan. Ranah kognisi (pengetahuan) membawahi RCAASE.1) Istilah yang operasional TIK/TPK harus menggunakan istilah yang operasional. Oleh karena itu. Contoh: Kata menyebutkan dapat diukur dan dapat diobervasi. set (kesiagaan). yakni Ricall (ingatan). yakni ranah kognisi (pengetahuan). Organization (penerapan karya). yakti kata kerja yang dapat diukur. tetapi mengukur hal yang dipelajari warga belajar. dan organizing (penciptaan yang baru). dapat diobservasi perlakuannya. Valuing (berkeyakinan). maka rumuskan dalam dua TIK/TPK. Masing-masing ramah memiliki pembagian. Tingkah laku yang dapat diamati. TIK/TPK tidak mengukur hal yang dipelajari perumus. 3 Ranah Kognisi Tujuan pembelajaran secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga ranah (bagian perilaku manusia). complex overt response (respon nyata yang kompleks). tidak boleh dua tingkah laku yang berbeda.

menjelaskan . Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Dengan pertimbngan pengukurannya tidak mudah.menggunakan . Kata kerja operasional yang lazim digunakan dalam setiap kawasan kognisi ditulis di bawah ini. Kata kerja operasional itu digunakan dalam perumusan tujuan instruksional khusus. a.mendefinisikan .Comprehention (pemahaman).menamakan . Synthesis (sintesis).menghitung .mengubah .membuat garis besar . Ranah psikomotor jarang (bahkan tidak) digunakan. Comprehention (C-2) atau pemahaman.menyatakan secara luas . Recall (C-1) atau ingatan. Hal ini didasari pertimbangan bahwa ada bagian ranah kognisi yang dapat mewakili ranah psikomotor. 4 Kata Kerja Oprasional Setiap bagian ranah memiliki beberapa kata kerja operasional.membedakan . di antaranya: .memilih b.mencocokkan .menyatakan .menyimpulkan c.mempertahankan .mengidentifikasi .menarik kesimpulan umum .menemukan .memberi nama .menyebutkan .mendemonstrasikan . Application (C-3) atau penerapan. Analysis (analisis). Begitu pula ranah afektif jarang (bahkan tidak) digunakan secara khusus.menuliskan dengan kata-kata sendiri .meramalkan .menuliskan . dan Evaluation (evaluasi). rahan yang biasa digunakan ialah ranah kognisi. di antaranya: . di antaranya: . Application (penerapan).memperkirakan .

membedakan .menggolong-golongkan .memisahkan .memisah-misahkan .membuat modifikasi .menyusun e.menulis kembali .menunjuk .menghasilkan .membangkitkan .menjelaskan .merencanakan . di antaranya: .membuat diagram .menguraikan . Synthesis (C-5) atau sintesis.mencipta rencana .meramalkan .merevisi .menggambarkan .membeda-bedakan .menggabungkan . Analysis (C-4) atau analisis.merancang . di antaranya: .menyatakan .menghimpun .menghubungkan .mengorganisir .menunjukkan .menyediakan .merinci .mengorganisir kembali .mencipta .memecahkan d..mengerjakan dengan teliti .menghubungkan .menarik kesimpulan .menjalankan .menyimpulkan .memecahkan .

di antaranya: . boleh CDAB. boleh ADBC. Perhatikan penggunaan komponen audience. Perkara komponen apa dahulu tidak menjadi prinsip. 3.mengkritik . menggunakan****) kata komponen dalam kalimat aktif (C-3). dan penerapan kriteria tujuan instruksional khusus! Contoh Siswa*) dengan benar **) dan tidak membuka catatan***) dapat: 1. Hal yang mesti ada adalah komponen ABCD. . boleh BCDA. condition dan degree.menjelaskan .mempertentangkan . Dengan kata lain. menyimpulkan ****) isi wacana 1 (C-6). boleh ACDB.menilai . boleh-boleh saja. 5. mengubah****) kalimat aktif menjadi kalimat pasif (C-2).menghubungkan . perumusan TPK/TIK tidak harus selalu berurutan ABCD.mempertimbangkan kebenaran . Evaluation (C-6) atau evaluasi. Apakah rumusan tujuan instruksional harus berurutan ABCD? Tentu tidak. penggunaan kata kerja operasional. 2. 4. behavior.memperbandingkan . 6. menghimpun****) kalimat aktif yang terdapat dalam wacana 1 (C-5). pada bagian ini Anda diajak untuk memahami cara penerapannya.f.membeda-bedakan . dan atau komposisi lain. mendefinisikan ****) kalimat aktif (C-1).menyokong 5 Penerapan Karakteristik Tujuan Instruksional Khusus Setelah Anda memahami karakteristik tujuan instruksional khusus. Keterangan *) = audience **) = degree ***) = condition ****) = behavior Contoh 1 telah memenuhi komponen tujuan instruksional khusus.melukiskan . merinci****) ciri-ciri kalimat aktif (C-4).menyimpulkan .

Jadi. Simpulkan! Kata-kata imperatif di atas dapat diukur dan dapat diobervasi. Rinci. Semua kata kerja yang digunakan berbentuk tingkah laku. menyimpulkan. mendefinisikan. mengubah. menghimpun. merinci. dan menyimpulkan. 3. 5. dan menyimpulkan. Keempat: Satu Jenis Tingkah Laku Rumusan TIK/TPK di atas hanya mengandung satu jenis tingkah laku. dan 6. Kata kerja yang terdapat dalam contoh rumusan TIK/ TPK di atas ialah 1. menghimpun. Ketiga: Tingkah Laku Rumusan kata kerja TIK/TPK mendefinisikan. Definisikan. dan 6. 2. 2. yakni mendefinisikan. menggunakan. Maksudnya. menggunakan. Kata kerja itu mari kita imperatifkan menjadi 1. mengubah. mengubah. Ubah!.Bagaimana penerapan kriteria tujuan instruksional khusus pada contoh? Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita buktikan satu persatu tentang kriteria tujuan instruksional. merinci. menghimpun. 4. tidak merumuskan atau menyatakan sesuatu yang tidak diajarkan pada waktu itu. kata imperatif Pahami! dari kata kerja memahami. Dengan demikian. Himpun!. Rumusan TIK/TPK di atas telah memnuhi komponen dan kriteria tujuan . 5. menggunakan. seperti Hayati! dati kata kerja menghayati. Pertama: Penggunaan Istilah yang Operasional Suatu istilah dikatakan operasional atau tidak dapat diobservasi di antanya dengan menggunakan bentuk imperatif (bentuk perintak) dari kata kerja yang digunakan dalam rumusan TIK/TPK. Kata kerja menghayati dan memhami tidak layak untuk dijadikan kata kerja operasional. 3. 3. Lain halnya dengan kata-kata imperatif. Kedua: Hasil Belajar Hal yang dirumuskan pada TIK/TPK di atas adalah hasil belajar. Gunakan!. merinci. rumusan TIK/TPK di atas menggunakan istilah kata kerja operasional untuk TIK/TPK. 4.

yaitu menggunakan istilah yang operasional. dan Characterization by a value or value complex (ketelitian/ ketekunan). berbentuk tingkah laku. dan organizing (penciptaan yang baru). yakni Receiving (kemauan menerima). Ranah kognisi (pengetahuan) membawahi RCAASE. . Setiap bagian ranah memiliki beberapa kata kerja operasional.isntruksional khusus. Valuing (berkeyakinan). adaptation (adaptasi). mechanism (mekanisme). 6 Rangkuman Tujuan instruksional khusus termasuk langkah yang menjadi pengarah dalam perencanaan pembelajaran. Kata kerja operasional itu digunakan dalam perumusan tujuan instruksional khusus. Masing-masing ramah memiliki pembagian. ABCD singkatan dari Audience. Ranah afeksi (sikap) mencakup RRVOC. yakni perception (persepsi). Responding (kemauan menanggapi). Karakteristik yang dimiliki tujuan instruksional khusus tergambar pada komponen dan kriteria yang dimilikinya. complex overt response (respon nyata yang kompleks). dan sikap khusus yang harus dimiliki warga belajar seletah menyelesaikan suatu program pembelajaran. dan mengandung satu jenis tingkah laku. Calon guru/guru/pengajar dipandang perlu memiliki keterampilan mengenai penulisan tujuan instruksional. Organization (penerapan karya). yakni Recall (ingatan). Application (penerapan). Tujuan instruksional sebagai pengarah dalam penggambaran tentang pengetahuan. set (kesiagaan). keterampilan. yakni ranah kognisi (pengetahuan). Tujuan instruksional khusus (tujuan pembelajaran khusus) ialah tujuan yang berisikan tentang pengetahuan. dan sikap yang harus dimiliki warga belajar setelah mengikuti suatu pembelajaran. dan Evaluation (evaluasi). berbentuk hasil belajar. guided response (respons terarah). Analysis (analisis). Behavior. dan ranah psikomotor (keterampilan). Komponen (bagian-bagian) yang membangun sebuah tujuan instruksional khusus terdiri atas empat komponen. keterampilan. Synthesis (sintesis). Tujuan pembelajaran secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga ranah (bagian perilaku manusia). Condition dan Degree. terlebih-lebih terampil melaksanakan tujuan instruksional khusus yang telah disusunnya. Ranah psikomotor (keterampilan) meliputi PSGMCAO. Kriteria TIK/TPK ada empat. Comprehention (pemahaman). Komponen yang dimaksud ialah ABCD. ranah afeksi (sikap).

Dr. (1978). Nasution. (1996).Pd. Bandung: PT Humaniora Utama Press. Jakarta. Disain Instruksional. Prof. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. M. Dick. Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pengajaran Bahasa. Achlan.Sc. (1987). Kosadi. Bandung: PT Humaniora Utama Press. Rencana Pembelajaran dan Analisis Materi Pembelajaran. (1991). Jakarta: Bina Aksara. Bandung: Bina Cipta Husen. Rahman. (1978)..REFERENSI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Rahman. dan Loa Carey. M. Drs. (1996). Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi. Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Iim Rahmina.Pd. New York: Syracuse University Publ. Satuan Pembelajaran: Mulok Bahasa dan Sastra Sunda (cetakan ke-2).. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.. The Systematic of Instruktional Blenview: Scott Forema and Co. M.. M. & Dra. (1982). Proses Belajar Mengajar. (1988).. Drs. Instructional Design & Development. (1989). Drs. Drs.Pd. Kurikulum: GBPP Bidang Studi Bahasa Indonesia SLTP. Ely. (1994). . (1981). Drs. Bandung: PT Humaniora Utama Press. M. Gafur. (1996). Walter. Dr. Program Tahunan dan Program Caturwulan.Pd.A. Bandung: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Bandung. Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud. Hidayat. Donald P. Fuad Abdul. M. Abd. Rahman. Teknologi Instruksional. (cetakan ke-2) Solo: Tiga Serangkai Hamied.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->