Anda di halaman 1dari 16

DISKUSI PANEL

Diskusi panel merupakan forum pertukaran pikiran yang dilakukan oleh


sekelompok orang dihadapan sekelompok hadirin mengenai suatu masalah tertentu yang telah dipersiapkannya.

Diskusi Panel adalah sekelompok individu yang membahas topik tentang


kelebihan pada masyarakat atau pendengar diskusi. Panel mungkin sangat terstruktur atau mungkin saja sangat tidak formal. Suatu panel yang berstruktur mungkin membatasi panjang dan keleluasaan dalam menuturkan kata-kata (sampai pendapat), panel yang tidak formal mungkin menekankan interaksi spontan yang bebas, para peneliti diharapkan terlebih dahulu memberikan pidato tanpa text dan memiliki pengetahuan / keahlian sebagai dasar komentar mereka. Keanggotaan panel biasanya terdiri atas para ahli, orang-orang awam yang tertarik atau gabungan keduanya, tergantung pada topik yang dibahas. Satu kriteria penting diskusi panel yang baik adalah adanya interaksi antar para peserta diskusi panel.

Kelebihan-kelebihan dari Diskusi Panel

Memberikan kesempatan kepada pendengar untuk mengikuti berbagai pandangan sekaligus. Biasanya dalam diskusi panel timbul pro dan kontra pandangan, semakin sengit pro dan kontra, maka diskusi akan semakin menarik untuk diikuti. Dalam diskusi panel, kelompok yang melakukan diskusi akan berhati-hati dalam mengajukan pandangan atau mengemukakan pendapat, karena menyadari akan dapat langsung digugat atau dibantah.

Peserta yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih dalam hal yang didiskusikan dapat menyampaikan pandangan.

Kekurangan-kekurangan dari Diskusi Panel

Diskusi panel menjadi tidak menarik apabila semua peserta waswas untuk menyampaikan pandangan secara terus terang dan semua peserta merasa sungkan untuk berbeda pandangan.

Suasana dalam diskusi panel akan menjadi pincang atau tidak seimbang apabila ada peserta yang jauh lebih tangkas dalam menyampaikan daripada yang lainnya.

Ada kalanya moderator terpaksa harus berusaha membuat kesimpulannya sendiri dan menyampaikannya dalam diskusi itu. Harus memilih moderator yang berani dan mampu turun tangan untuk menyelamatkan diskusi agar jangan sampai pincang atau berat sebelah. Ada kemungkinan terjadinya pencemaran nama baik dalam diskusi panel.

Tugas-tugas Para Pelaku dalam Diskusi Panel Tugas-tugas Peserta:

mengikuti jalannya diskusi dari awal sampai dengan akhir dan terbagi menjadi tim affirmatif dan oposisi yang termasuk panelis, mengajukan usul, pendapat, maupun komentar, meminta panelis untuk memberikan pembuktian, contoh, maupun perbandingan.

Tugas-tugas Notula/penulis:

menulis jumlah peserta dan segala kegiatan dalam diskusi, diperbolehkan untuk menyanggah, diperbolehkan untuk menyetujui ataupun tidak menyetujui, membuat makalah tentang permasalahan yang didiskusikan.

Tugas-tugas Penyaji/panelis:

menyajikan materi diskusi, berperan sebagai pembicara dalam diskusi, mengutarakan makalah yang disampaikan, menjawab pertanyaan dari peserta dan penyanggah.

Tugas-tugas Moderator:

membuka diskusi, membacakan riwayat kehidupan panelis, mempersilakan panelis untuk berbicara, mengatur dan memimpin jalannya diskusi, membacakan kesimpulan diskusi.

Tugas-tugas Penyanggah:

menyanggah usulan dari tim affirmatif, menyanggah pembicaraan panelis, meneliti kata-kata dalam makalah, melakukan pembuktian dan menentukan nilai banding, menyanggah hal-hal yang dianggap penting.

Sumber : http://my.opera.com/sebayu/blog/diskusi-panel

DISKUSI UMUM (DISKUSI KELAS)


Pengertian Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/ pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan lain-lain.

Aransemen ruang untuk diskusi kelas


Jika menginginkan diskusi dapat berjalan efektif maka aransemen kelas dan iklim kelas yang baik merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Siswa dapat berinteraksi lebih baik dengan lainnya jika mereka duduk berhadapan sehingga mereka dapat melihat teman-teman sekelas mereka daripada bagian belakang kepala mereka. Intinya, semua dapat terlihat jelas. Guru harus menggeser meja dan kursi ketika mereka akan berdiskusi. Hasil akhirnya sepadan dengan usaha mereka. Guru sains yang melakukan semua aktivitas dalam ruangan yang dilengkapi dengan laboratorium dan beberapa usaha yang harus dicoba untuk mengimprovisasi kondisi kelas yang terbaik. Jika ruangan sains dilengkapi dengan meja untuk dua siswa, secara umum dapat dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Jika guru menginginkan interaksi maksimum maka siswa dapat dibagi menjadi empat dalam setiap kelompok atau jika kelompok lebih besar muncul untuk dapat bekerja lebih baik, maka dapat ditambahkan meja sehingga setiap kelompok diskusi terdiri dari delapan siswa. Salah satu faktor yang sering dilupakan adalah lokasi guru di kelas. Banyak guru yang terus berdiri dan mendominasi kelas sementara siswa duduk untuk berdiskusi. Fungsi

guru selama diskusi adalah untuk memimpin dan menfasilitasi pertukaran antar siswa, guru juga dapat bergabung pada diskusi kelompok di kelas.

Tata letak meja dan bangku dalam proses belajar di kelas


Kursi dan meja siswa dan guru perlu ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar yang mengaktifkan siswa, yakni memungkinkan hal-hal sebagai berikut: 1. Aksesibilitas: siswa mudah menjangkau alat atau sumber belajar yang tersedia. 2. Mobilitas: siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas 3. Interaksi: memudahkan terjadi interaksi antara guru dan siswa maupun antara siswa. 4. Variasi kerja siswa: memungkinkan siswa bekerjasama secara perorangan, berpasangan, atau kelompok. Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat mejadikan belajar aktif. Tidak ada satupun bentuk ruang kelas yang ideal, namun ada beberapa pilihan yang dapat diambil sebagai variasi. Dekorasi interior kelas harus dirancang yang memungkinkan anak belajar aktif, yakni yang menyenangkan dan menantang. Formasi kelas berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi susunan yang permanen. Jika mubeler (meja atau kursi) yang ada di ruang kelas dapat dengan mudah dipindah-pindah, maka sangat mungkin menggunakan beberapa formasi ini sesuai dengan yang diinginkan. Menurut Silberman (1996), ada beberapa formasi yang dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aktif antara lain sebagai berikut: 1. Formasi huruf U Formasi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik dapat melihat guru dan/atau melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Susunan ini ideal untuk membagi bahan

pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena guru dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi. 2. Formasi corak tim Mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran atau oblong di ruang kelas agar memungkinkan anda untuk melakukan interaksi tim. Anda dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika anda melakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat anda, papan tulis atau layar. 3. Meja konferensi Ini terbaik jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi pentingnya pengajar dan menambahkan pentingnya peserta didik. Susunan ini dapat membentuk perasaan formal jika pengajar ada pada ujung meja. 4. Lingkaran Para peserta didik hanya duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk interaksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh. Sediakan ruangan yang cukup, sehingga anda dapat menyuruh peserta didik menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil. 5. Kelompok untuk kelompok Susunan ini memungkinkan anda melakukan diskusi fishbowl (mangkok ikan) atau untuk menyusun permainan peran, berdebat atau observasi aktifitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri dari dua konsentrasi lingkaran kursi. Atau anda dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.

6. Workstation Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, aktif dimana setiap peserta didik duduk pada tempat untuk mengerjakan tugas (seperti mengoperasikan komputer, mesin, melakukan kerja laborat) tepat setelah didemonstrasikan. Tempat berhadapan mendorong patner belajar untuk menempatkan dua peserta didik pada tempat yang sama 7. Breakout grouping Jika kelas anda cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar didasarkan pada tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas sehingga hubungan diantara mereka sulit dijaga. 8. Susunan Cheveron Sebuah susunan ruang kelas tradisional tidak melakukan belajar aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (tiga puluh atau lebih) dan hanya tersedia meja oblong, barangkali perlu menyusun peserta didik dalam bentuk ruang kelas. Susunan V mengurangi jarak antara para peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain dari pada baris lurus. Dalam susunan ini, tempat paling bagus ada pada pusat tanpa jalan tengah. 9. Kelas tradisional Jika tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja dan kursi, cobalah mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar. Cobalah membuat nomor genap dari barisbaris dan ruangan yang cukup diantara mereka sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomor ganjil dapat memutar jursi-kursi mereka melingkar dan

membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya. 10. Auditorium Meskipun auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun masih ada harapan. Jika tempat duduk-tempat duduk itu dapat dengan mudah dipindah-pindah, tempatkan mereka dalam sebuah arc (bagian lingkaran) untuk membentuk hubungan lebih erat dan visibilitas peserta didik.Jika tempat-tempat duduk itu cocok, suruhlah peserta didik agar duduk sedekat mungkin ke pusat. Berlaku asertif terhadap bentuk ini; sekalipun dianggap barisan lepas dari sisi audotorium. Ingatlah : tidak masalah seberapa besar auditorium dan seberapa banyak audien, anda masih dapat memasangkan mereka dan menggunakan aktifitas-aktifitas belajar aktif yang melibatkan pasangan-pasangan. Ukuran kelompok untuk diskusi kelas Ukuran kelas adalah variabel lain dari yang mempengaruhi diskusi. Aturan umum bahwa setiap kelompok yang memiliki lebar 30, maka hanya sekitar sepertiga kelompok akan berpartisipasi aktif. Ketika siswa sains beraktifitas dalam laboratorium mereka dapat bekerja secara individu, berpasangan atau kelompok kecil, sementara fungsi dari guru adalah penasehat. Demikian juga bahwa aktivitas/kegiatan diskusi dapat diatur. Guru dam siswa dapat mengajukan pertanyaan terbuka yang harus dipertimbangkan sebelum kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Ada ukuran optimal untuk diskusi kelompok. Delapan sampai dua belas siswa per kelompok merupakan kisaran dimana partisipasi aktif dapat berlangsung. Jika kelompok terlalu kecil, maka individu merasa tidak nyaman dan merasa berkawajiban untuk memberikan kontribusi, apakah mereka benar-benar memiliki sesuatu yang dapat dikatakan atau tidak. Jika kelompok terlalu besar maka ada beberapa siswa yang tidak pernah berpartisipasi.

Ketika kelompok pertama kali terbentuk maka guru menunjuk siswa untuk bergabung dalam kelompok tertentu. Komposoisi kelompok harus berasal dari berbagai kemampuan dan minat, hal ini akan berfungsi lebih baik daripada kelompok tersebut terdiri dari kemampuan dan bakat yang sama. Siswa ditunjuk sebagai pemimpin kelompok diskusi dan peran pemimpin selalu mengalami rotasi pada setiap pergantian sesi kelas. Siswa yang berbeda pada tiap kelompok ada yang berfungsi sebagai observer/pengamat yang diberikan tanggung jawab untuk membuat ringkasan, mengevaluasi kemajuan kelompok dan menjaga agar tetap dapat berpartisispasi. Tugas ini berotasi dari satu sesi kesesi berikutnya. Ada beberapa hal yang harus dipertimangkan dalam diskusi yakni; 1) bagaimana diskusi tersebut berjalan, 2) bagaimana tujuan diskusi dapat tercapai, 3) berapa banyak kelompok yang berpartisispasi. Observer dapat memberikan data untuk menjawab sejumlah pertanyaan tersebut. Penilaian kualitas dan kuantitas dari distribusi siswa merupakan tugas dari guru. Lamanya durasi sesi diskusi Seperti halnya dengan ukuran kelompok, tidak ada panjang optimal untuk sebuah sesi diskusi. Guru yang mengetahui siswa mereka mungkin dapat menilai, dengan jenis dan frekuensi terhadap partisipasi siswa ketika membawa diskusi menjadi tertutup. Hal ini tidak penting untuk melanjutkan diskusi sampai konsensus telah tercapai atau semua solusi untuk sebuah masalah yang nyata atau hipotetis telah diidentifikasi. Guru mungkin ingin menggunakan beragam kegiatan tindak lanjut, tergantung pada apa yang terjadi selama diskusi, sejumlah minat siswa diskusi yang mungkin terprovokasi, atau tambahan topik diskusi yang mungkin telah diidentifikasi. Sebagian besar sekolah-sekolah cenderung memiliki waktu pertemuan kelas sekitar empat puluh lima menit. Jika murid tidak terbiasa untuk berpartisipasi dalam diskusi, guru harus berusaha selama kira-kira dua puluh menit untuk sesi diskusi. Jika mayoritas siswa tampaknya tidak nyaman ketika dalam kelompok diskusi dan cenderung lebih menginginkan guru untuk lebih memberikan arahan atau dominasi

yang lebih darpada yang mereka berikan, maka sesi diskusi tidak boleh diperpanjang jkareana nampaknya terjadi kemacetan/hambatan. Walaupun guru dan siswa dapat membisakan untuk bersikap toleransi dan ambiguitas dan keragua-raguan pada saaat memulainya. Guru harus berspekulasi untuk memungkinkan lebih banyak waktu. Ini tidak hanya menyebabkan frustasi dan roda perputaran bagi sebagian siswa, tetapi juga dapat berarti bahwa waktu tambahan akan menghasilkan kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menghasilkan beberapa percakapan yang bermanfaat. Tipe siswa yang dapat dijumpai guru dalam diskusi Pertama, guru dapat menjumpai siswa yang menuntut lebih banyak struktur. Mungkin ini adalah siswa terbaik yang berorientasi pada kelas dan terbiasa untuk mengetahui apa yang guru inginkan. Mereka mampu belajar autonom tetapi mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Mereka mungkin beranggapan, bahwa kegiatan diskusi adalah membuang-buang waktu. Ini adalah tugas guru, melalui jenis orientasi yang diberikan untuk diskusi dan dengan menggunakan stimulus, pertanyaan verbal yang jelas, untuk meyakinkan para siswa untuk mempertimbangkan penilaian diskusi sebagai perangkat belajar sampai mereka memiliki lebih banyak pengalaman dalam kelompok diskusi. Tipe siswa kedua adalah hand-waver. Siswa ini memiliki keinginan untuk menarik perhatian, atau alasan lain, sehingga dapat mendominasi jalannya diskusi jika guru tidak waspada. Penekanan pada penghormatan terhadap berbagai pendapat dan peningkatan partisipasi sejumlah siswa harus disajikan kembali dari waktu ke waktu. Kadang-kadang hand-waver berkeinginan untuk membantu jalannya diskusi sehingga dapat berperan sebagai observer pada diskusi kelompok atau untuk sesi diskusi kelas. Guru harus belajar bagaimana menangani siswa yang memiliki semangat berlebihan, sehingga ia tidak mendominasi tanpa harus menghukum atau menahan agar dia berhenti untuk berpartisipasi atau membuat gangguan sebagai pembalasan karena tidak diperbolehkan bicara. Kadang-kadang guru dapat mengantisipasinya berkata dengan mari kita memberikan kesempatan pada seseorang yang belum mengatakan

sesuatu atau dalam waktu ini sedikit diberikan kesempatan untuk mengekspresikan ide mereka sebelum kami mendengar beberapa dari anda , atau kata-kata seperti itu.
Siswa jenis ketiga dapat digambarkan sebagai shy (pemalu). Mereka mungkin tidak akan bersikap dominan dikelas tetapi mereka begitu pendiam dan mereka sering terabaikan. Beberapa teknik diperlukan untuk mendorong tanggapan dari siswa yang cenderung untuk tidak menjawab pertanyaan. Dalam beberapa kelompok di kelas, pelajar keempat ditemukan jenis yang diidentifikasi sebagai kelas bodoh. Siswa ini sering kali menjadi objek ejekan. Ketika siswa tersebut mencoba untuk menanggapi pertanyaan atau untuk berpartisipasi dalam diskusi, mereka akan disambut dengan rekan-rekan mereka reaksi dari apa yang Anda tahu, Bodoh?! Perilaku ini akan berkurang jika guru telah mampu membentuk suasana ruang kelas di mana ide-ide atau pendapat dari masing-masing individu dihormati. Guru dibutuhkan untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya dalam cara mendengarkan dan memberikan dukungan bagi siswa tersebut. Jenis siswa yang kelima dalah side-tracker (sisi-pelacak). Dia rupanya memiliki pertanyaan yang tidak berujung pangkal dan komentar yang muncul menjadi relevan, tetapi dapat mengirim diskusi terhenti dari tujuan aslinya. Guru membutuhkan penanganan taktik pengalihan sedemikian rupa sehingga ia tidak diabaikan atau ditegur atau menjadi angkuh dalam diskusi. Taktik terbaik adalah dengan menjawab pertanyaan sesingkat mungkin dan mengembalikan diskusi ke topik semula. Jenis siswa yang keenam kadang-kadang ditemukan di dalam kelas adalah attention

grabber/grand-stander. Mungkin ada berbagai individu yang sesuai dengan kategori ini,
siswa yang melawan/memberontak guru atau untuk memulai permainan sendiri, untuk siswa yang memiliki masalah emosional dan psikologis yang mereka perlukan adalah perhatian. Sekali lagi, tidak ada satu cara terbaik untuk menangani situasi jika, atau ketika, timbul selain tidak menjadi kesal atau marah, mengabaikan insiden adalah taktik yang paling efektif untuk digunakan.

Sumber : http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/b-menciptakan-kondisi-yangefektif-dalam-diskusi-kelas-sains/ http://muhfida.com/tag/diskusi-umum-diskusi-kelas/

DISKUSI KELOMPOK KECIL


Teknik kelompok Buzz sangat mirip dengan metode huddle. Keduaduanya merupakan alat untuk membagi kelompok diskusi besar menjadi kelompok-kelompok kecil. Dan teknik ini dikemukakan oleh pendidik dan ahli sosiologi Morgan, et al.,1976. Srategi Buzz Group merupakan diskusi kelas yang didalamnya dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi singkat tentang suatu problem. Mendefinisikan buzz group sebagai suatu kelompok besar dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang. Menurut (Trianto) Buzz group sebagai suatu kelompok aktif yang terdiri dari 3-6 siswa untuk mendiskusikan ide siswa pada materi pelajaran. Strategi buzz group adalah suatu kelompok dibagi kedalam beberapa kelompok kecil (sub groups) yang masing-masing terdiri dari 3-6 orang dalam tempo yang singkat, untuk mendiskusikan suatu topik/memecahkan suatu masalah seorang juru bicara ditunjuk untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok masing-masing kepada sidang lengkap seluruh kelompok. Bentuk diskusi ini terdiri dari kelas yang di bagi-bagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri 3-4 peserta. Tempat duduk di atur sedemikian rupa agar para siswa dapat bertukar pikiran dan bertatap muka dengan mudah. Diskusi ini biasanya diadakan di tengah-tengah pelajaran atau diakhir pelajaran dengan maksud untuk memperjelas dan mempertajam kerangka bahan pelajaran atau sebagai jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan yang muncul. Dari berbagai penelitian di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa strategi buzz group adalah strategi kelompok kecil yang terbentuk dari tiaptiap kelompok terdiri dari 3-6 siswa, yang masing-masing dari tiap-tiap kelompok menunjuk satu orang untuk melaporkan hasil diskusi kepada kelompok besar. Diskusi kelompok kecil ini diadakan di tengah atau diakhir pelajaran

dengan maksud menajamkan kerangka bahan pelajaran, memperjelas bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hasil belajar yang di harapkan ialah agar segenap individu dapat membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda-beda tentang bahan pelajaran, membandingkan interprestasi dan informasi yang di peroleh masing-masing. Dengan demikian masing-masing individu dapat saling memperbaiki pengertian, persepsi informasi, interprestasi, sehingga dapat di hindarkan kekeliruan-kekeliruan. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2133936-pengertian-strategibuzz-group/#ixzz1auVEZw3O

SIMPOSIUM
Simposium merupakan suatu pertemuan untuk mendiskusikan suatu kumpulan pendapat atau karangan mengenai pokok tertentu dari berbagai pakar, tentang berbagai aspek yang disusul dengan pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan-tanggapan dari peserta simposium. Kelancaran pembicaraan di dalam suatu simposium diatur oleh seorang pemandu. Pembicara dalam simposium terdiri dari pembicara (pembahas utama) dan penyanggah (pemrasaran banding), dibawah pimpinan seorang moderator. Pendengar diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau pendapat setelah pembahas utama dan penyanggah selesai berbicara. Moderator hanya mengkoordinasikan jalannya pembicaraan dan meneruskan pertanyaan-pertanyaan, sanggahan atau pandangan umum dari peserta. Hasil simposium dapat disebar luaskan, terutama dari pembahas utama dan penyanggah, sedangkan pandanganpandangan umum yang dianggap perlu saja.

Penggunaan Simposium Simposium dapat digunakan :


Untuk mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari suatu topik tertentu. Jika kelompok peserta besar. Kalau kelompok membutuhkan keterampilan yang ringkas. Jika ada pembicara yang memenuhi syarat (ahli dalam bidang yang disoroti).

Kelebihan dan Kelemahan : Kelebihan :


Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil. Dapat mengemukakan informnasi banyak dalam waktu singkat. Pergantian pembicara menambah variasi dan sorotan dari berbagai segi akan menjadi sidang lebih menarik. Dapat direncanakan jauh sebelumnya.

Kelemahan :

Kurang spontanitas dan kneatifitas karena pembahas maupun penyanggah sudah ditentukan. Kurang interaksi kelompok. Menekankan pokok pembicaraan. Agak terasa formal. Kepribadian pembicara dapat menekankan materi. Sulit mengadakan kontnol waktu. Secara umum membatasi pendapat pembicara. Membutuhkan perencanaan sebelumnya dengan hati-hati untuk menjamin jangkauan yang tepat. Cenderung dipakai secara berlebihan.

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2197963-pengertiansimposium/#ixzz1aucZ9mdo