Anda di halaman 1dari 83

TUGAS KULIAH UMUM

KEMUHAMMADIYAHAN
SEMESTER GENAP 2010/2011

Oleh : RIVA MAULINA NIM 2009437033

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2010

Nama Jurusan Nim Kelas / Semester

: Riva Maulina : Teknik Kimia : 2009437033 : P2K / D3-II

1.

Uraikan bagaimana sejarah Perkembangan alam pikiran islam / sejarah pemikiran dalam islam SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM A. PENDAHULUAN

Didalam memahami ajaran agama Islam, setiap muslim amat tergantung pada kemampuan para ulama dalam menggali dan menarik kesimpulah hulum-hukum Islam dari sumbernya Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam perkembangannya pemikiran Islam tidak saja hanya berkisar tentang hukum-hukum Islam, akan tetapi sudah berkembang sampai dengan Teologi, dan Filsafat. Bahkan dewasa ini sudah berkembang sampai dengan pemikiran Liberalis. Untuk lebih memahami bagaimana perkembangan pemikiran dalam Islam mulai dari masalah Hukum (Fiqh), Teologi, sampai dengan Filsafat, berikut akan kami jabarkan sedikit tentang perkembangan tersebut.

B.

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM

Perkembangan pemikiran dalam Islam, dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : (1) Pemikiran Ahl Fiqh, (2) Pemikiran Teologi Islam, (3) Pemikiran Filsafat Islam., dan (4) Pemikiran Islam Indonesia 1) PERKEMBANGAN CORAK FIKR AHL FIQH

Perkembangan fiqh dimulai sejak zaman Rasulullah saw masih hidup, pada masa ini tidak ada masalah yang berarti dimana hal tersebur dikarenakan Nabi saw langsung menjasi pembuat fiqh dan melakukan ijtihad sendiri. Pada masa Sahabat perkembangan fiqh terbagi menjadi dua, yaitu : kelompok alh an-Nash (seperti abuu huraurah & Anas), dan ahl al-Rayi (seperti Umar bin Khattab as). Setelah berakhirnya kepemimpinan Ali bin Abi tholib perkembangan fiqh dinamakan Fiqh Tabiin, yang mana pada masa ini fiqh terbagi menjadi dua kelompok, yaitu : Ahl an-Nash (para Fuqoha al-Sabaah / Madinah), dan Ahl al-Rayi (Fuqoha al-Shittah / Kuffah). Lebih lanjut berikut perkembangan fiqh serta corak yang mempengaruhinya : a. Manhaj al-Fikr Fikih Ahl al-Madinah

Corak pemikiran banyak dipengaruhi oleh kebuadayaan syiria dan kekuasaan Umayyah. Tokoh-tokohnya antara lain : al-Awzai. Sedang sifat pemikiran fikiq ahl al-madinah adalah thesa atau dalam arti bahwa fikih ahl al-madinah masih murni yang bersumberkan dari AlQuran dan Hadits. b. Manhaj al-Fikr Fikih Asy-Syafii

Corak pemikirannya lebih banyak dipengaruhi (didominasi) al-Quran dan As-Sunnah. Toko-tokohnya antara lain : Asy-Syafii, Ibn Hambali, dan Malik Ibn Abbas / Dawud Ibn Khalaf (keduanya cenderung juga kepemikiran Fikih al-Madinah). Sedang sifat pemikiran fikiq Asy-Syafii adalah anti-thesa. Ini berarti juga bahwa pemikiran ahl asy-Syafii sudah mengarah pada penggabungan antara fikih ahl al-madinah (murni) dengan fikih ahl al-Iraq (yang sudah menggunakan rasional).

c.

Manhaj al-Fikr Fikih Ahl al-Iraq

Corak Pemikiran yang digunakan adalah dengan menggunakan analogi dan dipengaruhi oleh kekuasaan Abbasyiyah. Tokoh-tokohnya antara lain : Abu Hanifah, Asy-Syaibani (cendrung juga ke pemikiran As-Syafii). Sedang sifat pemikiran fikiq ahl al-Iraq adalah sinthesa. Pemiiran ahl al-Iraq sudah mengarah kepada penggunaan akal secara berlebihan walau tidak mengenyampingkan Al-Quran dan As-Sunnah. 2) PERKEMBANGAN GOLONGAN TEOLOGI ISLAM

Tumbuh dan berkembangnya golongan-golongan teologi Islam, muncul setelah peran kepemimpinan (Kekhalifahan) dalam Islam pindah dari Rasullah saw ke para Sahabat (Khulafaur Rasyidin). Dan pembembangannya semakin bertambah besar setelah terbunuhnya Ali bin Abi Tholib dan pindahnya kepemimpinan kepada Muawiyyah (yang menerapkan sistem kepemimpinan dengan model monarkhi/kerajaan) Theologi merupakan usaha pemahaman yang dilakukan para ulama (teolog muslim) tentang akidah Islam yang terkandung dalam naqli (al-Quran dan As-Sunnah). Tujuan usaha pemahaman tersebut adalah menetapkan, menjelaskan atau membela akidah Islam, serta menolak akidah yang salah dan atau bertentangan dengan akidah Islam. Dengan demikian fungsi Teologi adalah bertugas menjelaskan dan memberikan pemahaman terhadap kebenaran parrenial Islam dengan bahasa Kontekstual. Adapun aliran-aliran Teologi Islam dapat dijabarkan antara lain sebagai beikurt : a. Golongan Khowarij (Teologi Eksklusif)

Khowarij ini muncul setelah perang siffin antara Ali dan Muawiyyah. Inti dari pokok pikirannya adalah : (1) Bahwa, Ali, Usman dan orang-orang yang turut dalam peperangan Jamal, dan orang-orang yang setuju adanya perundingan antara Ali dan Muawiyyah, semua dihukumkan orang-orang Kafir, (2) Bahwa, setiap umat Muhammad yang terus-menerus membuat dosa besar, hingga matinya belum taubat, orang itu dihukumkan kafir dan akan

kekal di neraka, dan (3) Bahwa, boleh keluar dan tidak mematuhi aturan-aturan kepala negara, bila ternyata kepala negara itu seorang yang zalim atau khianat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teologi golongan khowarij bahwa orang yang berdosa besar dicap sebagai orang kafir, lawan dari orang kafir adalah orang yang beriman, orang yang beriman wajib berijtihad memerangi orang kafir, karena orang kafir halal darahnya. (yang disebutkan orang kafir disini adalah sebagaimana disebutkan diatas). b. Golongan Murjiah (Teologi Inklusif)

Aliran ini timbul di Damaskus pada akhir abad pertama Hijrah. Aliran ini berpendapat bahwa, orang-orang yang sudah mukmin yang berbuat dosa besar, hingga matinya tidak juga taubat, orang itu belum dapat dihukum sekarang. Terserah atau ditunda serta dikembalikan saja urusannya kepada Allah kelak setelah hari kiamat. Pendapat ini adalah kebalikan dari faham Khawarij. Selain itu faham ini berpendapat bahwa Tidak akan memberi bekas dan memudaratkan perbuatan maksiat itu terhadap keimanan.Demikian pula sebaliknya, Tidaklah akan memberi manfaat dan memberi faedah ketaatan seseorang, terhadap kekafirannya (artinya : tidaklah akan berguna dan tidaklah akan memberi pahala perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang telah kafir). c. Golongan Khowarij (Teologi Rasional)

Tokohnya adalah Abu Huzdaifah washil bin Atha Al-Ghazali. Aliran ini berpendapat bahwa, manusia adalah merdeka dalam segala perbuatan dan bebas bertindak. Sebab itu mereka diazab atas perbuatan dan tindakannya. Tentang ketauhidan, mereka menafikan dan meniadakan sifat-sifat Allah. Artinya Tuhan itu ada bersifat. Karena seandainya bersifat yang macam-macam, niscaya Allah Taala berbilang (lebih dari satu). Inilah yang dimaksud mereka Ahli Tauhid, menafikan sifat-sifat Allah.

d.

Golongan Asyariyah

Golongan ini muncul pada abad ke 11, yang berkembang di Baghdad dengan salah satu tokohnya adalah : Hakim al-Baqailani dan al-Juwaini. Pokok pemikirannya cenderung pada pemikiran Rasional, hampir sama dengan pemikiran golongan Mutazilah. 3) PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT ISLAM (TOKOH-TOKOH FILSAFAT ISLAM) a. Pemikiran Filsafat Al-Ghazali / 1050-1111 M (Tahafutut al-Falasifah)

Pokok pemikiran dari al-Ghozali adalah tentang Tahafutu al-falasifah (kerancuan berfilsafat) dimana al-Ghazali menyerang para filosof-filosof Islam berkenaan dengan kerancuan berfikir mereka. Tiga diantaranya, menutur al-Ghazali menyebabkan mereka telah kufur, yaitu tentang : Qadimnya Alam, Pengetahuan Tuhan, dan Kebangkitan jasmani. b. Pemikiran Filsafat Ibn Rusyd 520 H/1134 M (Teori Kebenaran Ganda)

Salah satu Pemikiran Ibn Rusyd adalah ia membela para filosof dan pemikiran mereka dan mendudukkan masalah-masalah tersebut pada porsinya dari seranga al-Ghazali.Untuk itu ia menulis sanggahan berjudul Tahafut al-Tahafut. Dalam buku ini Ibn Rusyd menjelaskan bahwa sebenarnya al-Ghazalilah yang kacau dalam berfikirnya. c. Pemikiran Filsafat Suhrawardi / 1158-1191 M (Isyraqiyah / Illuminatif)

Pokok pemikiran Suhrawardi adalah tentang teori emanasi, ia berpendapat bahwa sumber dari segala sesuatu adalah Nuur An-Nuur (Al-Haq) yaitu Tuhan itu sendiri. Yang kemudian memancar menjadi Nuur al-Awwal, kemudian memancar lagi mejadi Nuur kedua, dan seterusnya hingga yang paling bawah (Nur yang semakin tipis) memancar menjadi Alam (karena semakin gelap suatu benda maka ia semakin padat). Pendapatnya yang kedua adalah bahwa sumber dari Ilmu dan atau kebenaran adalah Allah, alam dan Wahyu bisa dijadikan sebagai perantara (ilmu) oleh manusia untuk mengetahui

keberadaan Allah. Sehingga keduanya, antara Alam dan Wahyu adalah sama-sama sebagai ilmu. d. Pemikiran Filsafat Islam Lainnya.

Disanping ketiga tokoh pemikir filsafat Islam tersebut diatas, berikut tokoh-tokoh pemikir filsafat Islam lainnya, antara lain : 1) Al-Kindi (806-873 M) Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : Relevansi agama dan filsafat, fisika dan metafisika (hakekat Tuhan bukti adanya Tuhan dan sifat-sifatNya), Roh (Jiwa), dan Kenabian. 2) Abu Bakar Ar-Razi (865-925 M) Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : Akal dan agama (penolakan terhadap kenabian dan wahyu), prinsip lima yang abadi, dan hubungan jiwa dan materi. 3) Al-Farabi (870-950 M) Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : kesatuan filsafat, metafisika (hakekat Tuhan), teori emanasi, teori edea, Utopia jiwa (akal), dan teori kenabian. 4) Ibnu Maskawih (932-1020 M) Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : filsafat akhlaq, dam filsafat jiwa. 5) Ibnu Shina (980-1036 M) Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : fisika dan metafisika, filsafat emanasi, filsafat jiwa (akal), dan teori kenabian. 6) Ibnu Bajjah (1082-1138 M) Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : metafisika, teori pengetahuan, filsafat akhlaq, dan Tadbir al-mutawahhid (mengatur hidup secara sendiri). 7) Ibnu Yaufal (1082-1138 M) Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : percikan filsafat, dan kisah hay bin yaqadhan.

4) 1.

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MODERN Islam Tekstual

Corak pemikirannya masih bersifat fundamental, Tekstualis, dan Skeptis. Dalam hal ini antara Islam dengan Modernitas masih dipertentangkan belum ada titik temu dan modernitas belum bisa menyatu dengan Islam. 2. Islam Revivalism

Pemikir Islam Revivalism sudah mengkombinasikan antara Islam dengan Modernitas walau masih sedikit, dan masih dikuatkan nilai-nilai Ke-Islamanya. 3. Islam Modern

Corak pemikiran dari tokoh Islam modern sudah memasukkan lebih banyak modernitas kedalam nilai-nilai Islam. Sehingga pemikirannya sudah dapat dikatakan liberal walaupun masih ada kendali Fundamentalisnya (Ke-Islamannya). Tokohnya antara lain Nurcholis Madji, Abdurrahman Wahid, dll. 4. Islam Neo-Modernis

Dalam hal ini tokoh pemikir Islam, pemikirannya sudah mengarah kepada Liberalis, Kontektual, dan Substantive. Salah satu tokoh Pemikir Islam Neo-Modernis adalah Ulil Absor Abdala. Dalam hal ini antara Islam dengan modernitas sudah tidak ada pemisahnya, artinya sudah menyatu. C. PENUTUP

Demikian sekilas tentang pemetaan Pemikiran dalam Islam mulai dari masa Klasik (zaman sahabat) sampai dengan zaman modern khususnya di Indonesia. Semoga dengan ini kita dapat memperoleh gambaran tentang Sejarah Pemikiran Islam.

2.

Uraikan bagaimana Sejarah berdirinya muhammadiyah Sejarah Berdirinya Muhammadiyah Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta. muhammadiyahKata Muhammadiyah secara bahasa berarti pengikut Nabi Muhammad. Penggunaan kata Muhammadiyah dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbahan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya. Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin AlAfghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta

interaksi selama bermukim di Ssudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan, bukan malah menjadi konservatif. Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama Muhammadiyah pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren. Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk

mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari sekolah (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan Sekolah Muhammadiyah, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Dahlan, dengan menggunakan meja dan

papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum. Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi Desember 1912 dengan mengirim Statuten Muhammadiyah yang bernama Dasar MUHAMMADIYAH. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20 (Anggaran

Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam Statuten Muhammadiyah yang pertama itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, Perhimpunan itu ditentukan buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya Muhammadiyah dan tempatnya di Yogyakarta. Sedangkan maksudanya (Artikel 2), ialah: a. menyebarkan pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan b. memajukan hal Igama kepada anggauta-anggautanya. Terdapat hal menarik, bahwa kata memajukan (dan sejak tahun 1914 ditambah dengan kata menggembirakan) dalam pasal maksud dan tujuan Muhammadiyah merupakan katakunci yang selalu dicantumkan dalam Statuten Muhammadiyah pada periode Kyai Dahlan hingga tahun 1946 (yakni: Statuten Muhammadiyah Tahun 1912, Tahun 1914, Tahun 1921, Tahun 1931, Tahun 1931, dan Tahun 1941). Sebutlah Statuten tahun 1914: Maksud Persyarikatan ini yaitu: 1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama di Hindia Nederland, 2. Dan Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidanya. Dalam pandangan Djarnawi Hadikusuma, kata-kata yang sederhana tersebut mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Yaitu, ketika umat Islam sedang dalam kelemahan dan kemunduran akibat tidak mengerti kepada ajaran Islam yang sesungguhnya, maka Muhammadiyah mengungkap dan mengetengahkan ajaran Islam yang murni itu serta

menganjurkan kepada umat Islam pada umumnya untuk mempelajarinya, dan kepada para ulama untuk mengajarkannya, dalam suasana yang maju dan menggembirakan. Pada AD Tahun 1946 itulah pencantuman tanggal Hijriyah (8 Dzulhijjah 1330) mulai diperkenalkan. Perubahan penting juga terdapat pada AD Muhammadiyah tahun 1959, yakni dengan untuk pertama kalinya Muhammadiyah mencantumkan Asas Islam dalam pasal 2 Bab II., dengan kalimat, Persyarikatan berasaskan Islam. Jika didaftar, maka hingga tahun 2005 setelah Muktamar ke-45 di Malang, telah tersusun 15 kali Statuten/Anggaran Dasar Muhammadiyah, yakni berturut-turut tahun 1912, 1914, 1921, 1934, 1941, 1943, 1946, 1950 (dua kali pengesahan), 1959, 1966, 1968, 1985, 2000, dan 2005. Asas Islam pernah dihilangkan dan formulasi tujuan Muhammadiyah juga mengalami perubahan pada tahun 1985 karena paksaan dari Pemerintah Orde Baru dengan keluarnya UU Keormasan tahun 1985. Asas Islam diganti dengan asas Pancasila, dan tujuan Muhammadiyah berubah menjadi Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wataala. Asas Islam dan tujuan dikembalikan lagi ke masyarakat Islam yang sebenarbenarnya dalam AD Muhammadiyah hasil Muktamar ke-44 tahun 2000 di Jakarta. Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. Kyai Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (aqidah), ibadah, muamalah, dan pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan kepada sumbernya yang aseli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan membuka ijtihad. Mengenai langkah pembaruan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya

sebagai berikut:Dalam bidang tauhid, K.H A. Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik, dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bidah, dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.. Adapun langkah pembaruan yang bersifat reformasi ialah dalam merintis pendidikan modern yang memadukan pelajaran agama dan umum. Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori Kyai Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu mengintegrasikan aspek iman dan kemajuan, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo, 1985: 36). Lembaga pendidikan Islam modern bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala itu. Pendidikan Islam modern itulah yang di belakang hari diadopsi dan menjadi lembaga pendidikan umat Islam secara umum. Langkah ini pada masa lalu merupakan gerak pembaruan yang sukses, yang mampu melahirkan generasi terpelajar Muslim, yang jika diukur dengan keberhasilan umat Islam saat ini tentu saja akan lain, karena konteksnya berbeda. Pembaruan Islam yang cukup orisinal dari Kyai Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Maun. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosialkesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU). Langkah momumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan teologi transformatif, karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan hablu min Allah (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah teologi amal yang tipikal (khas) dari Kyai Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.

Kyai Dahlan juga peduli dalam memblok umat Islam agar tidak menjadi korban misi Zending Kristen, tetapi dengan cara yang cerdas dan elegan. Kyai mengajak diskusi dan debat secara langsung dan terbuka dengan sejumlah pendeta di sekitar Yogyakarta. Dengan pemahaman adanya kemiripan selain perbedaan antara Al-Quran sebagai Kutab Suci umat Islam dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Kyai Dahlan menganjurkan atau mendorong umat Islam untuk mengkaji semua agama secara rasional untuk menemukan kebenaran yang inheren dalam ajaran-ajarannya, sehingga Kyai pendiri Muhammadiyah ini misalnya beranggapan bahwadiskusi-diskusi tentang Kristen boleh dilakukan di masjid (Jainuri, 2002: 78) . Kepeloporan pembaruan Kyai Dahlan yang menjadi tonggak berdirinya Muhammadiyah juga ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan Aisyiyah tahun 1917, yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta memajukan kehidupan kaum perempuan. Langkah pembaruan ini yang membedakan Kyai Dahlan dari pembaru Islam lain, yang tidak dilakukan oleh Afghani, Abduh, Ahmad Khan, dan lain-lain (mukti Ali, 2000: 349-353). Perintisan ini menunjukkan sikap dan visi Islam yang luas dari Kyai Dahlan mengenai posisi dan peran perempuan, yang lahir dari pemahamannya yang cerdas dan bersemangat tajdid, padahal Kyai dari Kauman ini tidak bersentuhan dengan ide atau gerakan feminisme seperti berkembang sekarang ini. Artinya, betapa majunya pemikiran Kyai Dahlan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam murni yang berkemajuan. Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, menurut Djarnawi Hadikusuma (t.t: 69) telah menampilkan Islam sebagai sistem kehidupan mansia dalam segala seginya. Artinya, secara Muhammadiyah bukan hanya memandang ajaran Islam sebagai aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan suatu keseluruhan yang menyangut akhlak dan muamalat dunyawiyah. Selain itu, aspek aqidah dan ibadah pun harus teraktualisasi dalam akhlak dan muamalah, sehingga Islam benar-benar mewujud dalam kenyataan hidup para pemeluknya. Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata.

Kyai Dahlan dalam mengajarkan Islam sungguh sangat mendalam, luas, kritis, dan cerdas. Menurut Kyai Dahlan, orang Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri, menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehiduupan, dan mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik (K.R. H. Hadjid, 2005). Kyai Dahlan tidak ingin umat Islam taklid dalam beragama, juga tertinggal dalam kemajuan hidup. Karena itu memahami Islam haruslah sampai ke akarnya, ke hal-hal yang sejati atau hakiki dengan mengerahkan seluruh kekuatan akal piran dan ijtihad. Dalam memahami Al-Quran, dengan kasus mengajarkan Surat Al-Maun, Kyai Dahlan mendidik untuk mempelajari ayat Al-Quran satu persatu ayat, dua atau tiga ayat, kemudian dibaca dan simak dengan tartil serta tadabbur (dipikirkan): bagaimanakah artinya? bagaimanakah tafsir keterangannya? bagaimana maksudanya? apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan ini? apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? sudahkah kita menjalankannya? (Ibid: 65). Menurut penuturan Mukti Ali, bahwa model pemahaman yang demikian dikembangkan pula belakangan oleh KH.Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, lulusan Al-Azhar Cairo, cerdas pemikirannya sekaligus luas pandangannya dalam berbagai masalah kehidupan. Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain: 1. Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bidah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi; 2. Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;

3. Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kaderkader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman; 4. Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme; 5. dan Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat (Junus Salam, 1968: 33). Karena itu, jika disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto & Haedar Nashir, 1990: 332). Kendati menurut sementara pihak Kyai Dahlan tidak melahirkan gagasan-gagasan pembaruan yang tertulis lengkap dan tajdid Muhammadiyah bersifat ad-hoc, namun penilaian yang terlampau akademik tersebut tidak harus mengabaikan gagasan-gagasan cerdas dan kepeloporan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, yang untuk ukuran kala itu dalam konteks amannya sungguh merupakan suatu pembaruan yang momunemntal. Ukuran saat ini tentu tidak dapat dijadikan standar dengan gerak kepeloporan masa lalu dan hal yang mahal dalam gerakan pembaruan justru pada inisiatif kepeloporannya. Kyai Dahlan dengn Muhammadiyah yang didirikannya terpanggil untuk mengubah keadaan dengan melakukan gerakan pembaruan. Untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai latarbelakang dan dampak dari kelahiran gerakan Muhammadiyah di Indonesia, berikut pandangan James Peacock (1986: 26), seorang antropolog dari Amerika Serikat yang merintis penelitian mengenai Muhammadiyah tahun 1970-an, bahwa: Dalam setengah abad

sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non-Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia. Kelahiran Muhammadiyah secara teologis memang melekat dan memiliki inspirasi pada Islam yang bersifat tajdid, namun secara sosiologis sekaligus memiliki konteks dengan keadaan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia yang berada dalam keterbelakangan. Kyai Dahlan melalui Muhammadiyah sungguh telah memelopori kehadiran Islam yang otentik (murni) dan berorientasi pada kemajuan dalam pembaruannya, yang mengarahkan hidup umat Islam untuk beragama secara benar dan melahirkan rahmat bagi kehidupan. Islam tidak hanya ditampilkan secara otentik dengan jalan kembali kepada sumber ajaran yang aseli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang sahih, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dari serba ketertinggalan menuju pada dunia kemajuan. Fenomena baru yang juga tampak menonjol dari kehadiran Muhammadiyah ialah, bahwa gerakan Islam yang murni dan berkemajuan itu dihadirkan bukan lewat jalur perorangan, tetapi melalui sebuah sistem organisasi. Menghadirkan gerakan Islam melalui organisasi merupakan terobosan waktu itu, ketika umat Islam masih dibingkai oleh kultur tradisional yang lebih mengandalkan kelompok-kelompok lokal seperti lembaga pesantren dengan peran kyai yang sangat dominan selaku pemimpin informal. Organisasi jelas merupakan

fenomena modern abad ke-20, yang secara cerdas dan adaptif telah diambil oleh Kyai Dahlan sebagai washilah (alat, instrumen) untuk mewujudkan cita-cita Islam. Mem-format gerakan Islam melalui organisasi dalam konteks kelahiran Muhammadiyah, juga bukan semata-mata teknis tetapi juga didasarkan pada rujukan keagmaan yang selama ini melekat dalam alam pikiran para ulama mengenai qaidah m l yatimm al-wjib ill bihi fa huw wjib, bahwa jika suatu urusan tidak akan sempurna manakala tanpa alat, maka alat itu menjadi wajib adanya. Lebih mendasar lagi, kelahiran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam melalui sistem organisasi, juga memperoleh rujukan teologis sebagaimana tercermin dalam pemaknaan/penafsiran Surat Ali Imran ayat ke-104, yang memerintahkan adanya sekelompok orang untuk mengajak kepada Islam, menyuruh pada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar. Ayat Al-Quran tersebut di kemudian hari bahkan dikenal sebagai ayat Muhammadiyah. Muhammadiyah dengan inspirasi Al-Quran Surat Ali Imran 104 tersebut ingin menghadirkan Islam bukan sekadar sebagai ajaran transendensi yang mengajak pada kesadaran iman dalam bingkai tauhid semata. Bukan sekadar Islam yang murni, tetapi tidak hirau terhadap kehidup. Apalagi Islam yang murni itu sekadar dipahami secara parsial. Namun, lebih jauh lagi Islam ditampilkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial dalam dunia nyata kemanusiaan melalui gerakan humanisasi (mengajak pada serba kebaikan) dan emanisipasi atau liberasi (pembebasan dari segala kemunkaran), sehingga Islam diaktualisasikan sebagai agama Langit yang Membumi, yang menandai terbitnya fajar baru Reformisme atau Modernisme Islam di Indonesia.

3.

Tuliskan Mukaddimah anggaran dasar muhammadiyah dan rumuskan apa saja isi dari mukaddimah tersebut Ki Bagoes Hadikoesoemo: Penggagas Tegaknya Syariat Islam Ia telah merumuskan pokok-pokok pikiran KH Ahmad Dahlan hingga menjadi Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

Ki Bagoes Hadikoesoemo adalah salah seorang perintis kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, pada saat perumusan Pancasila dan UUD 1945, nama Ki Bagoes Hadikoesoemo ada di dalamnya bersama dengan delapan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), di antaranya Soekarno, Muhammad Hatta, dan Wahid Hasyim. Karena kontribusi dan jasa-jasanya yang besar bagi bangsa Indonesia, nama tokoh kelahiran Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 24 November 1890, ini ditetapkan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia. Namanya adalah Raden Hidayat, anak ketiga dari lima bersaudara, putra Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Keraton Yogyakarta. Sebagai anak seorang pejabat agama Islam, Raden Hidayat senantiasa mendapatkan pendidikan agama yang sangat ketat dari orang tuanya. Ia juga belajar agama dari beberapa ulama yang tinggal di daerah Kauman. Setelah tamat dari "Sekolah Ongko Loro" (tiga tahun tingkat sekolah dasar), ia meneruskan pendidikan di pondok pesantren tradisional Wonokromo, Yogyakarta. Di pesantren ini ia mendalami kajian fikih dan tasawuf. Ki Bagoes juga belajar agama pada KH Ahmad Dahlan. Melalui pendidikan agama yang diperolehnya dari ulama besar pendiri Muhammadiyah tersebut, maka pemikiran dan wawasan keislamannya semakin luas. Dengan konsep tajdid (pembaruan) yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, Ki Bagoes makin termotivasi belajar dalam upaya kebangkitan umat Islam. Sejak saat itulah, ia tergerak dan terpanggil hatinya untuk turut serta dalam memperjuangkan kemajuan umat. Karena pergaulannya yang luas, ramah terhadap setiap orang, dan kemampuannya dalam beradaptasi, membuat ia cepat menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Kendati, jenjang pendidikan yang ditempuhnya hanya sampai pada sekolah rakyat. Namun, karena kemauannya yang keras untuk belajar, maka selain ilmu

agama, ia juga mahir dalam sastra Jawa, Melayu, Belanda, dan Inggris. Pada usia 20 tahun Ki Bagoes menikah dengan Siti Fatimah dan memperoleh enam orang anak. Setelah Fatimah meninggal, ia menikah lagi dengan seorang wanita pengusaha dari Yogyakarta bernama Mursilah. Dari pernikahannya yang kedua, ia dikaruniai tiga orang anak. Kemudian, Ki Bagoes menikah lagi dengan Siti Fatimah (juga seorang pengusaha) setelah istri keduanya meninggal. Dari istrinya yang ketiga ini ia memperoleh lima orang anak. Jenjang pendidikan yang tidak terlalu tinggi, tak membuatnya minder. Ia justru banyak belajar dari lingkungannya. Ia belajar mengaji dan menimba ilmu dari mana saja sumbernya. Karena kerajinan dan ketekunannya mempelajari kitabkitab terkenal akhirnya membawa dia menjadi seorang alim ulama, mubaligh, dan pemimpin salah satu organisasi Muslim terbesar di Tanah Air, Muhammadiyah. Semasa hidupnya, antara lain, dia pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW). Patriotik dan pemberani Pada1937, ia diajak oleh KH Mas Mansyur untuk duduk di jajaran elite Muhammadiyah, sebagai wakil ketua PP Muhammadiyah. Kendati awalnya menolak, akhirnya Ki Bagoes mau meneri ma amanah itu. Bahkan, pada1942 ia ditunjuk menjadi ketua PP Muhammadiyah menggantikan posisi KH Mas Mansyur yang ketika itu dipaksa pemerintah kolonial Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat) pada 1942.

Pertimbangan yang diambil KH Mas Mansyur saat itu adalah Muhammadiyah memerlukan seorang tokoh pemimpin yang kuat dan patriotik. Dan, Ki Bagoes Hadikoesoemo dianggap yang paling berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon (Jepang) yang terkenal kejam dalam memerintah umat Islam dan warga Muhammadiyah untuk melakukan upacara kebaktian setiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari. Maka, saat menjabat ketua umum PP Muhammadiyah, Ki Bagoes berhasil merumuskan pokok-pokok pikiran KH Ahmad Dahlan sedemikian rupa, sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Mukaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. HAMKA, misalnya, mendapatkan inspirasi dari

mukaddimah tersebut untuk merumuskan dua landasan ideal Muhammadiyah, yaitu matan Kepribadian Muhammadiyah dan matan Keyakinan serta Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Posisi Ketua Umum PP Muhammadiyah ini dijabat Ki Bagoes selama 11 tahun, dari 1942 hingga 1953. Tak lama berselang, ia wafat di Jakarta pada 4 November 1954 dalam usia 64 tahun. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia. Pejuang Kemerdekaan Ki Bagoes Hadikoesoemo adalah seseorang yang aktif dalam kegiatan organisasi, baik organisasi keagamaan maupun gerakan politik. Selain itu, ia juga dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah perumusan konstitusi Indonesia. Ia termasuk dalam anggota Panitia Pesiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) yang dibentuk pada 29 April 1945. Ia mempunyai andil besar dalam penyusunan Mukaddimah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Dialah yang memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan dalam perumusan pembukaan UUD 1945 ini. Ki Bagoes merupakan salah satu anggota BPUPKI yang mengusulkan bahwa Negara Indonesia berdiri di atas dasar-dasar ajaran agama Islam. Ia mengusulkan rumusan landasan "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya". Namun, usulan

tersebut dinilai sangat diskriminatif oleh wakilwakil Kristen dari Indonesia Timur terhadap rumusan yang tertuang dalam Piagam Jakarta tersebut. Dan, sebagai gantinya diusulkan berlandaskan "Ketuhanan Yang Maha Esa". Setelah proklamasi kemerdekaan diumumkan pada 17 Agustus 1945, PPKI merencanakan sidang pada 18 Agustus 1945. Tujuannya untuk mengesahkan UUD serta memilih Presiden dan Wakil Presiden. Pada siang hari setelah pengumuman Proklamasi, Soekarno meminta Teuku Mohammad Hassan menjumpai Ki Bagoes Hadikoesoemo untuk mempertimbangkan kembali beberapa mata pokok rancangan UUD yang isinya terdapat kalimat Islam. Pertimbangan itu demi keutuhan bangsa yang baru merdeka, sedangkan Teuku Mohammad Hassan dianggap seorang yang paham tentang hukum Islam yang diharapkan dapat meyakinkan Ki Bagoes Hadikoesoemo untuk berlapang dada menerima perubahan yang diajukan. Berkaitan dengan itu Alamsyah Ratuprawiranegara berkomentar, "Pancasila adalah hadiah umat Islam bagi kemerdekaan dan persatuan Indonesia". Sementara itu, HS Prodjokusumo menyatakan, "Kunci Pancasila di tangan Ki Bagoes Hadikoesoemo." Pengalaman dalam penyusunan konstitusi Indonesia ini mendorong Ki Bagoes untuk menyusun Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. prinsip2 yg tersimpul dalam mukaddimah anggaran dasar yaitu:

1. Hidup manusia harus berdasar tauhid. ibadah dan taat kepada allah. 2. Hidup manusia bermasyarakat 3. Mematuhi ajaran-ajaran islam 4. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam 5. Ittiba' kepada langkah perjuangan nabi muhammadiyah SAW. 6. Melancarkan amal usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Kepribadian muhammadiyah

Kepribadian Muhammadiyah Pada hakikatnya kepribadian muhammadiayah adalah wajah depan persyarikatan, yg berfungsi sebagai panutan hati nurani dan jiwa muhammadiyah. Yang dalam mengamalkanya menjadi pedoman amal dan perjuangan persyarikatan dan warga muhammadiah. Muhammadiyah adalah persyarikatan yang merupakan Gerakan Islam. Maksud gerakanya ialah Dakwah Islam dan Amar Maruf nahi Munkar yang ditujukan kepada dua bidang: perseorangan dan masyarakat . Dakwah dan Amar Maruf nahi Munkar pada bidang pertama terbagi kepada dua golongan: Kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni; dan yang kedua kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam. Adapun dawah Islam dan Amar Maruf nahi Munkar bidang kedua, ialah kepada masyarakat, bersifat kebaikan dan bimbingan serta peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan dengan dasar taqwa dan mengharap keridlaan Allah semata-mata. Dengan melaksanakan dakwah Islam dan amar maruf nahi munkar dengan caranya masingmasing yang sesuai, Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju tujuannya, ialah Terwujudanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. DASAR DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju tujuan terwujudanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dimana kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan luas-merata, Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar, yaitu: 1. Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah, dan taat kepada Allah. 2. Hidup manusia bermasyarakat.

3. Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan berkeyakinan bahwa ajaran Islam itu satusatunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia akhirat. 4. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban sebagai ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada kemanusiaan. 5. Ittiba kepada langkah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW. 6. Melancarkan amal usaha dan perjuangannya dengan ketertiban organisasi. PEDOMAN AMAL USAHA DAN PERJUANGAN MUHAMMADIYAH Menilik dasar prinsip tersebut di atas, maka apapun yang diusahakan dan bagaimanapun cara perjuangan Muhammadiyah untuk mencapai tujuan tunggalnya, harus berpedoman: Berpegang teguh akan ajaran Allah dan Rasul-Nya, bergerak membangun di segenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridlai Allah. SIFAT MUHAMMADIYAH Menilik: (a) Apakah Muhammadiyah itu, (b) Dasar amal usaha Muhammadiyah dan (c) Pedoman amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah memiliki dan wajib memelihara sifat-sifatnya, terutama yang terjalin di bawah ini: 1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. 2. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah. 3. Lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam. 4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan. 5. Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah. 6. Amar maruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik.

7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, sesuai dengan ajaran Islam. 8. Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya. 9. Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah SWT. 10. Bersifat adil serta kolektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana. 5. Sebutkan dan jelaskan Matan keyakinan dan cita cita muhammadiyah MATAN KEYAKINAN DAN CITA-CITA HIDUP MUHAMMADIYAH Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah 1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudanya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan ukhrawi.

3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan: a. Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW; b. Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan ajaran Islam.

4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidangbidang: a. 'Aqidah Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejalagejala kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

b. Akhlak Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia

c. Ibadah Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

d. Muamalah Duniawiyah Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.

5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT: "BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR" (Keputusan Tanwir Tahun 1969 di Ponorogo)

Catatan: Rumusan Matan tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah: 1. Atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta; 2. Disesuaikan dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta.

6.

Jelaskan apa yang menjadi Khittah perjuangan muhammadiyah KHITTAH PERJUANGAN PEMUDA MUHAMMADIYAH I. Pendahuluan Secara etimologis, kata khittah berasal dari derivasi bahasa Arab-

yang berarti rencana, jalan, atau garis (Kamus Al-Munawwir). Dengan demikian, khittah perjuangan dapat diartikan sebagai rencana, jalan, atau garis perjuangan Pemuda Muhammadiyah dalam mewujudkan misi dan cita-cita gerakannya. Khittah perjuangan Pemuda Muhammadiyah berisi pokok-pokok pikiran yang diharapkan dapat menjadi garis perjuangan gerakan Pemuda Muhammadiyah ke depan. Di dalam rumusan Khittah Perjuangan ini terkandung aspek pembaruan sekaligus kesinambungan. Aspek pembaruan diarahkan pada upaya peneguhan eksistensi Pemuda Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mampu menyelesaikan problematika umat Islam, khususnya mereka yang bernaung di bawah panji-panji persyarikatan Muhammadiyah. Sementara aspek kesinambungan merupakan upaya mempertahankan capaian-capaian positif yang selama ini dilakukan oleh Pemuda Muhammadiyah. Khittah Perjuangan Pemuda Muhammadiyah diharapkan bukan hanya sekedar retorika yang kaya wacana tetapi miskin kerja nyata. Melalui khittah, gerakan Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemulihan krisis yang telah lama menghimpit sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara. Sudah saatnya Pemuda Muhammadiyah bangkit sebagai kekuatan terdepan di dalam merespon dan menyikapi dinamika zaman. Pemuda Muhammadiyah harus tekun, rajin, dan cerdas dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi

hari esok. Dalam konteks ini, firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 18 berikut ini perlu menjadi pijakan dalam setiap gerak dan langkah Pemuda Muhammadiyah : Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Secara objektif, perumusan khittah perjuangan Pemuda Muhammadiyah didorong oleh faktor internal dan eksternal organisasi. Faktor internal merujuk pada evaluasi dan otokritik terhadap kiprah organisasi di dalam melayani umat Islam dan masyarakat lain pada umumnya. Sedangkan faktor eksternal merujuk pada fenomena perubahan dunia yang menuntut setiap orang untuk terlibat aktif dalam mewarnai perkembangan peradaban. Kompetisi dan persaingan dalam seluruh aspek kehidupan harus dihadapi, bukan dihindari. Sejalan dengan itu, motto perjuangan Pemuda Muhammadiyah FASTABIQUL KHAIRAT harus kembali menjadi spirit dan landasan gerak bagi setiap aktivitas dan kreativitas yang dilakukan oleh kader-kader Pemuda Muhammadiyah di semua level kepemimpinan. Dengan semangat ini, Pemuda Muhammadiyah harus tampil sebagai pelopor dalam mewujudkan pencerahan peradaban dan pembebasan umat dari keterkungkungan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Semua itu harus menjadi cita-cita umat yang semestinya diperjuangkan secara kolektif tanpa memandang perbedaan suku, ras, tingkat pendidikan, bahkan agama. II. Doktrin Perjuangan Pemuda Muhammadiyah melandasi kiprah perjuangannya pada cita-cita Muhammadiyah untuk menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sehingga seluruh gerakan Pemuda Muhammadiyah diarahkan pada upaya akselerasi pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian, dimensi keagamaan, keilmuan, dan kemasyarakatan yang menjadi inspirasi perjuangan Muhammadiyah selama ini harus dijadikan ruh pergerakan Pemuda Muhammadiyah.

Pada tataran praktis, Pemuda Muhammadiyah meneguhkan doktrin perjuangannya melalui upaya: Pertama, mempertegas komitmen dan jati dirinya pada pemberdayaan umat di seluruh sektor kehidupan. Kedua, melakukan rekruitmen kader-kader berkualitas secara proaktif di tengah-tengah masyarakat dengan cara melibatkan mereka pada setiap pelaksanaan program-program kerja Pemuda Muhammadiyah. Ketiga, meningkatkan kapasitas dan kualitas para kader melalui jenjang pendidikan kader yang terencana secara sistematis dan berkesinambungan. III. Dimensi-dimensi Perjuangan A. Dimensi Keagamaan Pada dimensi keagamaan, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat berperan aktif dalam menggiring umat ke posisi arus tengah Islam (ummatan wa syatha). Dengan posisi ini, umat Islam tidak terjebak dalam skenario yang dimainkan oleh pihak lain yang kerapkali bertujuan untuk memecah belah umat Islam. Sudah saatnya umat Islam dikembalikan pada satu cita-cita, yaitu membebaskan manusia dari setiap patologi sosial dan penyakit peradaban yang selama ini merasuki alam pikiran manusia modern. Untuk itu, seluruh kader Pemuda Muhammadiyah harus menebar pesona Islam di setiap waktu dan tempat dengan cara melaksanakan ajaran Islam secara total sebagaimana firman Allah dalam surat AlBaqarah ayat 208 yang berbunyi: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara total, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Untuk melaksanakan ajaran Islam secara total, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat mengaktifkan kembali gerakan dakwah jamaah dengan menjadikan masjid sebagai pusat informasi dan komunikasi antar aktivis. Dakwah jamaah diperlukan bukan hanya untuk

meningkatkan ukhuwah Islamiyah di kalangan aktivis pemuda, tetapi lebih dari itu dawah jamaah juga diharapkan mampu melindungi persyarikatan Muhammadiyah dari upaya penyusupan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu di kalangan umat Islam yang memiliki kiprah dan ideologi yang berbeda dengan Muhammadiyah. Selain itu, Pemuda Muhammadiyah harus memperluas jaringan dakwahnya ke seluruh masyarakat hingga menyentuh berbagai suku, ras, budaya dan adat istiadat yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Jalan yang dapat ditempuh adalah dengan menghidupkan gerakan dakwah kultural yang juga berfungsi sebagai sebagai salah satu sarana perekrutan kader-kader persyarikatan. Dalam tatanan kehidupan beragama di tengah komunitas umat Islam, Pemuda Muhammadiyah harus mampu menampilkan dirinya sebagai teladan dalam menjembatani sekaligus memediasi setiap perbedaan pandangan, penafsiran, dan praktek keagamaan yang terjadi di kalangan umat Islam. Pemuda Muhammadiyah harus mampu merajut dan merekatkan ukhuwah Islamiyah dengan cara mengajak semua pihak untuk kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah secara bersama-sama. Seiring dengan itu, Pemuda Muhammadiyah dituntut agar selalu menjadi inspirator dan motivator dalam mengembangkan dakwah Islam yang humanis, terbuka, dan mencerahkan. Pemuda Muhammadiyah menolak secara tegas segala tindak kekerasan atas nama agama dalam memperjuangkan dan menegakkan agama Islam. Agama Islam harus disampaikan dengan cara damai, santun, dan beradab agar Islam benar-benar tampil sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Terkait dengan heterogenitas agama di Indonesia, Pemuda Muhammadiyah harus membuka diri untuk selalu melakukan dialog antar umat beragama. Cara yang paling efektif untuk dilakukan adalah menjalin kerjasama lintas agama dalam kerja-kerja kemanusiaan. Pemuda Muhammadiyah dapat memulai gerakan ini dengan menciptakan musuh bersama (common enemy) agama-agama berupa kebodohan, kemiskinan, krisis lingkungan, bencana alam, penyakit menular, narkotika, dan lain-lain.

B. Dimensi sosial Pada dimensi sosial, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam merajut kohesivitas sosial dengan seluruh komponen bangsa. Dengan kohesivitas sosial yang baik, seluruh anak bangsa akan dapat bekerja sama dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih menjanjikan. Kohesivitas sosial hanya dapat diwujudkan jika keadilan dapat ditegakkan pada seluruh sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, Pemuda Muhammadiyah harus berani melawan setiap ketidakadilan yang terjadi baik yang dilakukan secara personal maupun yang diorganisir secara struktural. Pemuda Muhammadiyah berpandangan bahwa bangsa ini hanya dapat berdiri dengan kokoh atas dasar prinsip-prinsip keadilan sebagaimana telah diperintahkan Allah dalam surat Al-Nisaa ayat 58 yang berbunyi: Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, Pemuda Muhammadiyah mendasarkan pokok perjuangannya kepada empat macam persoalan mendasar. Pertama, rendahnya kualitas dan tidak meratanya akses pendidikan bagi semua anak bangsa. Berkenaan dengan hal ini, Pemuda Muhammadiyah dituntut untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam memperjuangkan kualitas dan kuantitas lembaga-lembaga pendidikan. Di samping itu, Pemuda Muhammadiyah juga dituntut untuk selalu mengikuti, mengkritisi, sekaligus memberikan masukan konstruktif pada setiap produk regulasi pendidikan yang ditetapkan pemerintah. Kedua, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Untuk menjawab masalah ini, Pemuda Muhammadiyah dituntut agar selalu berperan aktif dalam memperjuangkan peningkatan kuantitas dan kualitas sarana pelayanan kesehatan, peningkatan kuantitas anggaran pembiayaan kesehatan, dan sosialisasi pola dan gaya hidup sehat.

Ketiga, tingginya angka pengangguran dan maraknya tindak kriminalitas. Menyikapi masalah ini, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat berpartispasi aktif dalam menciptakan lapangan kerja dan mendukung setiap usaha semua pihak yang diarahkan pada upaya perbaikan taraf hidup rakyat. Keempat, rendahnya moral dan akhlak anak bangsa. Terkait masalah ini, Pemuda Muhammadiyah harus memprakarsai berbagai macam program yang berorientasi pada upaya revitalisasi akhlak dan moral bangsa. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara menghidupkan kembali ajaran agama sebagai basis utama pertahanan akhlak dan moral. Selain itu, kearifan-kearifan lokal yang dijadikan sebagai panutan di masa lalu dapat dijadikan tawaran alternatif dalam mengimbangi moralitas sekuler, hedonis, dan materialis akibat perkembangan informasi dan teknologi serta arus globalisasi yang tidak terkendali.

C. Dimensi Ekonomi Dimensi eknomi merupakan elan vital yang harus menjadi fokus perhatian utama Pemuda Muhammadiyah. Secara umum, tingkat ekonomi umat Islam masih berada di bawah tingkat ekonomi umat beragama lain. Fakta empiris menunjukkan bahwa saat ini umat Islam cenderung dijadikan sebagai sasaran market paling empuk dari negara-negara produsen. Umat Islam sama sekali tidak mampu bersaing dalam pasar global yang semakin hari semakin kompetitif. Padahal, ajaran Islam mengharuskan umat Islam untuk tidak hanya memperhatikan persoalan-persoalan ukhrawi semata, tetapi juga harus memperhatikan persoalan-persoalan duniawi sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qashas ayat 77 yang berbunyi: Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Melalui refleksi yang cukup dalam terhadap ayat tersebut, Pemuda Muhammadiyah merasa terpanggil untuk segera mencari solusi dalam memberdayakan ekonomi umat Islam. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengembangkan sistem ekonomi syariah pada seluruh dimensi ekonomi umat sebagai antitesis terhadap sistem ekonomi kapitalis yang selama ini menjajah umat Islam. Pengembangan ekonomi syariah dapat dilakukan dengan mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) melalui pemberdayaan lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) baik formal seperti bank, asuransi, zakat, infaq, shadaqah, dan koperasi maupun informal seperti pendirian lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi umat pada sektor pertanian, perikanan, dan unitunit ekonomi kerakyatan lainnya. Sejalan dengan itu, Pemuda Muhammadiyah juga dituntut untuk mendidik kader-kadernya agar siap diterjunkan ke dunia usaha sebagai pejuang-pejuang ekonomi umat di tengahtengah masyarakat. Dalam konteks ini, potensi jaringan Pemuda Muhammadiyah secara nasional perlu dikembangkan sehingga memiliki daya saing yang cukup tangguh dalam menggerakkan perekenomian umat. Potensi lain yang dapat dikembangkan adalah pemberdayaan institusi-institusi Islam seperti mesjid, sekolah-sekolah Islam, majlis talim, dan Islamic center sebagai pusat perekonomian umat. D. Dimensi Politik Pemuda Muhammadiyah berpandangan bahwa agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Oleh karena itu, Pemuda Muhammadiyah menilai bahwa politik dan berpolitik bukanlah hal yang dilarang oleh agama. Dan Pemuda Muhammadiyah bukanlah organisasi apolitik. Bahkan sebaliknya, Pemuda Muhammadiyah menjadikan politik sebagai salah satu sarana dakwah yang paling efektif dalam membumikan kehendak Tuhan di muka bumi. Namun demikian, Pemuda Muhammadiyah meyakini bahwa kekuasaan politik merupakan ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagaimana firman-Nya dalam surat alAnam ayat 165 yang berbunyi:

Artinya : Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di muka bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Oleh karena kekuasaan politik merupakan bagian dari ujian Allah, maka Pemuda Muhammadiyah harus mengarahkan perjuangan politiknya bagi kepentingan Islam dan umat Islam. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemuda Muhammadiyah dituntut melakukan langkah-langkah sistematis dan strategis melalui empat strategi dan lapangan perjuangan politik yaitu: Pertama, melalui kegiatan-kegiatan politik yang berorientasi pada perjuangan kekuasaan/kenegaraan (real politics, politik praktis) sebagaimana dilakukan oleh partaipartai politik atau kekuatan-kekuatan politik formal di tingkat kelembagaan negara. Kedua, melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang bersifat pembinaan atau pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan-kegiatan politik tidak langsung (high politics) yang bersifat mempengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force) untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tingkat masyarakat dan negara. Ketiga, mengelola fragmentasi potensi dan kekuatan politik secara baik dan benar agar seluruh kepentingan umat Islam dapat terakomodasi secara maksimal. Bila usaha untuk mempersatukan partai-partai politik Islam di bawah satu bendera sulit dilakukan, maka hal yang paling mungkin dilakukan adalah mempersatukan politisi Islam di lembaga-lembaga legislatif mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Meskipun kenderaan politik berbeda, namun tujuan dan orientasinya haruslah tetap sama. Keempat, pembumian nilai-nilai keislaman di jalur kultural (cultural approach). Melalui lahan ini, Pemuda Muhammadiyah memiliki peluang yang cukup besar untuk meningkatkan energi sumber daya umat sebagai basis penguatan civil society. Target akhir yang ingin dicapai adalah agar Pemuda Muhammadiyah dapat menyalurkan aspirasi politiknya secara maksimal dalam menjaga kelangsungan agama sekaligus menata kehidupan dunia (hirasat al-din wa siyasat al-dunya).

E. Dimensi Kebudayaan dan Peradaban Melalui kalkulasi sederhana, Pemuda Muhammadiyah memandang bahwa peradaban Barat lebih maju dari peradaban Islam, antara lain dibuktikan dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan stabilitas kehidupan sosial-politik yang dicapai Barat. Dengan menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat fisik material, fenomena kebangkitan peradaban Barat merupakan keniscayaan. Namun bila dikaji lebih dalam, kemajuan sains dan teknologi yang menjadi basis fundamental bangunan peradaban Barat justru telah menelantarkan dunia di ambang pintu krisis global yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Krisis global yang dihadapi umat manusia di planet ini telah menyentuh hampir seluruh dimensi kehidupan seperti bidang kesehatan, teknologi, ekonomi, politik, ekologi, dan hubungan sosial. Krisis juga melanda dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Anehnya, peradaban Barat ini dijadikan sebagai cermin yang harus diikuti oleh semua negara, termasuk negara-negara Islam. Inilah yang menyebabkan rapuhnya fondasi peradaban dunia secara global. Kerapuhan fondasi peradaban Barat itu merupakan peluang besar bagi Pemuda Muhammadiyah untuk membangun peradaban alternatif yang berdimensi moral dan spiritual. Agenda utama yang harus dikedepankan antara lain membangun kesadaran eksistensial manusia yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Keyakinan terhadap kehadiran Tuhan dalam seluruh dimensi kehidupan akan memberikan kekuatan sekaligus kedamaian dalam hati setiap manusia yang menjadi aktor pendukung setiap kebudayaan. Bertolak dari realitas obyektif di atas, Pemuda Muhammadiyah dituntut untuk mewujudkan peradaban Islam masa depan dengan melakukan upaya-upaya rekonstruktif melalui upaya pembumian wahyu melalui kontekstualisasi ajaran Islam. Kontekstualisasi ajaran Islam tentu saja harus dibarengi dengan upaya eksplorasi ilmu pengetahuan (scientific exploration). Di samping itu, Pemuda Muhammadiyah juga harus mengambil peran dalam upaya mencari penemuan-penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan (scientific discovery). Dengan ilmu pengetahuan yang berorientasi ilahiyah-lah, tatanan kebudayaan dan peradaban dunia dapat diwujudkan secara baik.

I. Penutup Khittah perjuangan ini harus dapat mencerminkan kemandirian Pemuda Muhammadiyah dalam menjalankan fungsinya sebagai organisasi modern yang berorientasi masa depan. Selain itu, Khittah perjuangan ini harus menjadi variabel pengubah kultur atau budaya berorganisasi kader-kader Pemuda Muhammadiyah ke arah yang lebih baik. Agar kultur dan budaya hasanah merekat dalam setiap nadi gerakan Pemuda Muhammadiyah, maka diperlukan upaya pembumian semangat saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dan saling berlomba untuk menuju cinta dan kasih sayang Allah. 7. Jelaskan Amal usaha Muhammadiyah dalam bidang dawah dan pendidikan MUHAMMADIYAH DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH DAKWAH Dalam da'wahnya, Muhammadiyah selalu menekankan amar ma'ruf nahi munkar (menyeru kepada perbuatan yang benar lagi baik dan mencegah segala bentuk kemungkaran) di lingkungan masyarakat, beraqidah dan mengajak kepada aqidah Islam, dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Untuk menyamakan gerak langkah dalam da'wah, para da'i Muhammadiyah berpedoman pada putusan tarjih sebagai hasil proses analisis dalam menetapkan hukum dengan menetapkan dalil yang lebih kuat (rajih), lebih tepat analogi dan lebih kuat mashlahatnya. Putusan tarjih itu dihasilkan oleh Majelis Tarjih yaitu lembaga ijtihad jamai (organisatoris) di lingkungan Muhammadiyah yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang memiliki kompetensi ushuliyyah dan ilmiah dalam bidangnya masing-masing. DIBIDANG

MUHAMMADIYAH DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH PENDIDIKAN

DIBIDANG

Sebagaimana yang dipahami umum, Muhammadiyah dengan seluruh sepak terjangnya itu hanyalah merupakan konstruksi sosial dari surat Al Maun. Oleh sebab itu secara ideologi Muhammadiyah itu adalah Al Maunisme. Sehingga warga Muhammadiyah bisa disebut sebagai kaum Al Maunis. Sebagai konsekuensi dari ideologi Al Maunisme, maka orientasi ke-Islaman kaum Al Maunis ini menjadi lebih antroposentris dari pada teosentris, dengan berbagai macam implikasinya. Kaum Al Maunis lebih eksoteris dalam beragama, lebih empati terhadap masalah-masalah berkaitan dengan yang tercipta daripada Sang Pencipta. Kiprah Muhammadiyah yang sangat ekstensif di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial adalah konsepsi, formulasi, dan realisasi dari karakter Islam yang terpusat pada yang tercipta tersebut. Dalam gerakan Muhammadiyah, konsep tentang Yatim dan Miskin dewasa ini belum mengalami perluasan makna. Yatim sebetulnya bukan hanya secara harfiah anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Begitu juga konsep miskin tidak sekedar kalangan masyarakat yang tidak berkecukupan dasar secara ekonomis, tetapi juga sosial bahkan spiritual. Awal gerakan Muhammadiyah di bidang pendidikan menemukan momentum sebagai pelopor. Ketika negara dan kelompok masyarakat yang lain belum melakukannya. Namun setelah memasuki satu abad kiprahnya, Muhammadiyah mulai kehilangan kepeloporan itu.

Peran Muhammadiyah di bidang pendidikan mulai diadopsi oleh isntitusi-institusi dan terutama telah diakuisisi oleh negara. Sehingga kiprah Muhammadiyah di bidang pendidikan dewasa ini mengalami kemerosotan yang agak tajam karena gagal melakukan inovasi dalam menghadapi kompetitor-kompetitor yang sebetulnya mereka dulu meniru Muhammadiyah. Kompetitor itu adalah termasuk negara. 8. Jelaskan Amal usaha Muhammadiyah dalam bidang sosial dan kesehatan MUHAMMADIYAH DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH KESEHATAN Dalam amal usaha bidang kesehatan, Muhammadiyah telah dan terus mengembangkan layanan kesehatan masyarakat, sebagai bentuk kepedulian. Balai-balai pengobatan seperti rumah sakit PKU (Pembina Kesejahteraan Umat) Muhammadiyah, yang pada masa berdirinya Muhammadiyah bernama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat), kini mulai meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya. Berdasarkan buku Profil dan Direktori Amal Usaha Muhammadiyah & Aisyiyah Bidang Kesehatan pada tahun 1997, sebagai berikut: 1. Rumah sakit berjumlah 34 2. Rumah bersalin berjumllah 85 3. Balai Kesehatan Ibu dan Anak berjumlah 50 4. Balai Kesehatan Masyarakat berjumlah 11 5. Balai Pengobatan berjumlah 84 6. Apotek dan KB berjumlah 4 7. Institusi Pendidikan berjumlah 54 Pada tahun 2009 diperkiran jumlah fisik balai pengobatan Muhammaiyah lebih banyak lagi seiring dengan makin berkembangnya usaha-usaha yang diselenggarakan oleh persyarikatan Muhammadiyah. DIBIDANG

MUHAMMADIYAH DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH SOSIAL

DIBIDANG

Adapun Muhammadiyah sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, telah mendirikan lembaga amal usaha sosial dalam bentuk panti sosial Muhammadiyah, sebagai wujud kepedulian persyarikatan Muhammadiyah dalam menghadapi permasalahan kemiskinan, pembodohan dan meningkatnya jumlah anak yatim piatu dan anak terlantar. Dalam hal ini Muhammdiyah terinspirasi dan berpijak pada QS Al-Ma'un. Panti sosial Muhammadiyah sebagai lembaga pelayanan di masyarakat, memiliki perangkat dan sistem serta mekanisme pelayanan yang diharapkan akan lebih menjamin efektifitas pelayanan. Selanjutnya dalam bidang kesejahteraan sosial ini, hingga tahun 2000 Muhammadiyah telah memiliki 228 panti asuhan yatim, 18 panti jompo, 22 balai kesehatan sosial, 161 santunan keluarga, 5 panti wreda/manula, 13 santunan wreda/manula, 1 panti cacat netra, 38 santunan kematian, serta 15 BPKM (Balai Pendidikan Dan Keterampilan Muhammadiyah). Forum Panti Sosial Muhammadiyah-Aisyiyah (Forpama) yang dibentuk untuk Periode 2007 s.d 2010, sejak diberikan tanggungjawab, terus melakukan berbagai macam terobosan dan langkah-langkah strategis untuk menjadikan panti sosial Muhammadiyah-Aisyiyah sebagai lembaga profesionalisme, prima dalam kualitas pelayanan dan memiliki keteguhan komitmen dalam pembinaan anak-anak asuh panti sosial Muhammadiyah-Aisyiyah yang berjumlah lebih dari 22.000 anak se-Indonesia dari 351 kelembagaan Panti Sosial Muhammadiyah-Aisyiyah (Direktori Forpama, 2008). Dengan demikian anak asuh Panti Sosial Muhammadiyah-Aisyiyah menjadi labor kader utama guna membangun sumber daya insani yang berkualitas di Persyarikatan Muhammadiyah. Demikian pula hasil-hasil amal usaha yang lain yang telah dicapai oleh persyarikatan Muhammadiyah, seperti bidang tarjih, ekonomi, dll.

9.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan Tarjih dan tajdid muhammadiyah dan bagaimana ketentuannaya Majlis Tarjih Muhammadiyah: Pengenalan, Penyempurnaan dan Pengembangan Tarjih berasal dari kata rojjaha yurajjihu- tarjihan , yang berarti mengambil sesuatu yang lebih kuat. Menurut istilah ahli ushul fiqh adalah : Usaha yang dilakukan oleh mujtahid untuk mengemukakan satu antara dua jalan ( dua dalil ) yang saling bertentangan , karena mempunyai kelebihan yang lebih kuat dari yang lainnya Tarjih dalam istilah persyarikatan ,sebagaimana terdapat uraian singkat mengenai Matan Keyakinan dan Cita-cita hidup Muhamadiyah adalah membanding-banding pendapat dalam musyawarah dan kemudian mengambil mana yang mempunyai alasan yang lebih kuat Pada tahap-tahap awal, tugas Majlis Tarjih, sesuai dengan namanya, hanyalah sekedar memilih-milih antar beberapa pendapat yang ada dalam Khazanah Pemikiran Islam, yang dipandang lebih kuat. Tetapi, dikemudian hari, karena perkembangan masyarakat dan jumlah persoalan yang dihadapinya semakin banyak dan kompleks , dan tentunya jawabannya tidak selalu di temukan dalam Khazanah Pemikiran Islam Klasik, maka konsep tarjih Muhammadiyah mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Kemudian mengalami perluasan menjadi : usaha-usaha mencari ketentuan hukum bagi masalah-maasalah baru yang sebelumnya tidak atau belum pernah ada diriwayatkan qoul ulama mengenainya . Usaha-usaha tersebut dalam kalangan ulama ushul Fiqh lebih dikenal dengan nama Ijtihad . Oleh karenanya, idealnya nama Majlis yang mempunyai tugas seperti yang disebutkan di atas adalah Majlis Ijtihad, namun karena beberapa pertimbangan, dan ada keinginan tetap menjaga nama asli, ketika Majlis ini pertama kali dibentuk, maka nama itu tetap dipakai, walau terlalu sempit jika di bandingkan dengan tugas yang ada.

Sejarah berdirinya Tarjih Pada waktu berdirinya Persyarikatan Muhammdiyah ini , tepatnya pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M, Majlis Tarjih belum ada, mengingat belum banyaknya masalah yang di hadapi oleh Persyarikatan. Namun lambat laun, seiring dengan berkembangnya Persyarikatan ini, maka kebutuhan-kebutuhan internal Persyarikatan ini ikut berkembang juga, selain semakin banyak jumlah anggotanya yang kadang memicu timbulnya perselisihan paham mengenai masalah-masalah keagamaan, terutama yang berhubungan dengan fiqh. Untuk mengantisipasi meluasnya perselisihan tersebut, serta menghindari adanya peperpecahan antar warga Muhammadiyah, maka para pengurus persyarikatan ini melihat perlu adanya lembaga yang memiliki otoritas dalam bidang hukum. Maka pada tahun 1927 M , melalui keputusan konggres ke 16 di Pekalongan, berdirilah lembaga tersebut yang di sebut Majlis Tarjih Muhammdiyah. Tersebut di dalam majalah Suara Muhammadiyah no.6/1355( 1936 ) hal 145 : .bahwa perselisihan faham dalam masalah agama sudahlah timbul dari dahulu, dari sebelum lahirnja Muhammadijah : sebab-sebabnja banjak , diantaranja karena masingmasing memegang teguh pendapat seorang ulama atau jang tersebut di suatu kitab, dengan tidak suka menghabisi perselisihannja itu dengan musjawarah dan kembali kepada Al Quran , perintah Tuhan Allah dan kepada Hadits, sunnah Rosulullah. Oleh karena kita chawatir, adanja pernjeknjokan dan perselisihan dalam kalangan Muhammadijah tentang masalah agama itu, maka perlulah kita mendirikan Madjlis Tardjih untuk menimbang dan memilih dari segala masalah jang diperselisihkan itu jang masuk dalam kalangan Muhammadijah manakah jang kita anggap kuat dan berdalil benar dari Al quran dan hadits. Sejak berdirinya pada tahun 1927 M, Majlis Tarjih telah dipimpin oleh 8 Tokoh Muhammadiyah, yaitu :

1. KH. Mas Mansur 2. Ki Bagus Hadikusuma 3. KH. Ahmad Badawi 4. Krt. KH. Wardan Diponingrat 5. KH. Azhar Basyir 6. Prof. Drs. Asjmuni Abdurrohman ( 1990-1995 ) 7. Prof. Dr. H. Amin Abdullah ( 1995-2000) 8. Dr. H. Syamsul Anwar , MA ( 2000-2005 ) Kedudukan dan Tugas Majlis Tarjih dalam Persyarikatan . Majlis Tarjih ini mempunyai kedudukan yang istimewa di dalam Persyarikatan, karena selain berfungsi sebagai Pembantu Pimpinan Persyarikatan, mereka memiliki tugas untuk memberikan bimbingan keagamaan dan pemikiran di kalangan umat Islam Indonesia pada umumnya dan warga persyarikatan Muhammadiyah khususnya. Sehingga, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Majlis Tarjih ini merupakan Think Thank nya Muhammadiyah. Ia bagaikan sebuah processor pada sebuah komputer, yang bertugas mengolah data yang masuk sebelum dikeluarkan lagi pada monitor. Adapun tugas-tugas Majlis Tarjih, sebagaimana yang tertulis dalam Qaidah Majlis Tarjih 1961 dan diperbaharuhi lewat keputusan Pimpinan Pusat Muhammdiyah No. 08/SKPP/I.A/8.c/2000, Bab II pasal 4 , adalah sebagai berikut : 1. Mempergiat pengkajian dan penelitian ajaran Islam dalam rangka pelaksanaan tajdid dan antisipasi perkembangan masyarakat.

2. Menyampaikan fatwa dan pertimbangan kepada Pimpinan Persyarikatan guna menentukan kebijaksanaan dalam menjalankan kepemimpinan serta membimbing umat , khususnya anggota dan keluarga Muhammadiyah. 3. Mendampingi dan membantu Pimpinan Persyarikatan dalam membimbing anggota melaksanakan ajaran Islam 4. Membantu Pimpinan Persyarikatan dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas ulama. 5. Mengarahkan perbedaan pendapat/faham dalam bidang keagamaan ke arah yang lebih maslahat. Menurut Prof. DR. H. Amin Abdullah, salah satu tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai ketua Majlis Tarjih, bahwa Majis Tarjih sebenarnya memiliki dua dimensi wilayah keagamaan yang satu sama lainnya pelu memperoleh perhatian seimbang. Yang pertama adalah wilayah tuntunan keagamaan yang bersifat praktis, terutama ikhwal ibadah mahdhoh dan yang kedua adalah wilayah pemikiran keagamaan yang meliputi visi, gagasan, wawasan, nilai-nilai dan sekaligus analisis terhadap berbagai persoalaan ( ekonomi, politik, sosial-budaya , hukum, ilmu pengetahuan, lingkungan hidup dan lain-lainnya ) Manhaj Tarjih Sejak tahun 1935 upaya perumusan Manhaj Tarjih Muhammadiyah telah dimulai, dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh Hoofdbestuur (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah. Langkah pertama kali yang ditempuh adalah dengan mengkaji Mabadi Khomsah ( Masalah Lima ) yang merupakan sikap dasar Muhammadiyah dalam persoalan agama secara umum. Karena adanya penjajahan Jepang dan perang kemerdekaan , perumusan Masalah Lima tersebut baru bisa diselengarakan pada akhir tahun 1954 atau awal 1955 dalam Muktamar Khusus Majlis Tarjih di Yogyakarta.

Masalah Lima tersebut meliputi :

1.Pengertian Agama (Islam) atau al Din , yaitu : Apa yang diturunkan Allah dalam Al Quran dan yang tersebut dalam Sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akherat.

2.Pengertian Dunia (al Dunya ): Yang dimaksud urusan dunia dalam sabda Rosulullah saw : Kamu lebih mengerti urusan duniamu ialah :segala perkara yang tidak menjadi tugas diutusnya para nabi ( yaitu perkara-perkara/pekerjaan-pekerjaan/urusan-urusan yang diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan manusia )

3. Pengertian Al Ibadah, ialah : Bertaqarrub ( mendekatkan diri ) kepada Allah,dengan jalan mentaati segala perintahperintahnya, menjahuhi larangan-larangan-nya dan mengamalkan segala yang diijinkan Allah. Ibadah itu ada yang umum dan ada yang khusus ; a. yang umum ialah segala amalan yang diijinkan Allah b. Yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkat dan cara-caranya yang tertentu.

4. Pengertian Sabilillah, ialah : Jalan yang menyampaikan perbuatan seseorang kepada keridloaan Allah, berupa segala amalan yang diijinkan Allah untuk memuliakan kalimat( agama )-Nya dan melaksanakan hukum-hukum-Nya.

5.Pengertian Qiyas,( Ini belum dijelaskan secara rinci baik pengertian maupun pelaksanaannya ) Karena Masalah Lima tersebut, masih bersifat umum, maka Majlis Tarjih terus berusaha merumuskan Manhaj untuk dijadikan pegangan di dalam menentukan hukum. Dan pada

tahun 1985-1990, yaitu tepatnya pada tahun 1986, setelah Muktamar Muhammadiyah ke- 41 di Solo, Majlis Tarjih baru berhasil merumuskan 16 point pokok-pokok Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Adapun Pokok-pokok Manhaj Majlis Tarjih ( disertai keterangan singkat )adalah sbb : 1. Di dalam beristidlal, dasar utamanya adalah al Quran dan al Sunnah al Shohihah. Ijtihad dan istinbath atas dasar illah terhadap hal-hal yang tidak terdapat dalam nash , dapat dilakukan. Sepanjang tidak menyangkut bidang taabbudi, dan memang hal yang diajarkan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dengan perkataan lain, Majlis Tarjih menerima Ijitihad , termasuk qiyas, sebagai cara dalam menetapkan hukum yang tidak ada nashnya secara langsung. ( Majlis tarjih di dalam berijtihad menggunakan tiga macam bentuk ijtihad : Pertama : Ijtihad Bayani : yaitu ( menjelaskan teks Al Quran dan hadits yang masih mujmal, atau umum, atau mempunyai makna ganda , atau kelihatan bertentangan, atau sejenisnya), kemudian dilakukan jalan tarjih. Sebagai contohnya adalah Ijtihad Umar untuk tidak membagi tanah yang di taklukan seperti tanah Iraq, Iran , Syam, Mesir kepada pasukan kaum muslimin, akan tetapi dijadikan Khoroj dan hasilnya dimasukkan dalam baitul mal muslimin , dengan berdalil Qs Al Hasyr ; ayat 7-10. Kedua : Ijtihad Qiyasi : yaitu penggunaan metode qiyas untuk menetapkan ketentuan hukum yang tidak di jelaskan oleh teks Al Quran maupun Hadist, diantaranya : men qiyaskan zakat tebu, kelapa, lada ,cengkeh, dan sejenisnya dengan zakat gandum, beras dan makanan pokok lainnya, bila hasilnya mencapai 5 wasak ( 7,5 kwintal ) Ketiga : Ijtihad Istishlahi : yaitu menetapkan hukum yang tidak ada nashnya secara khusus dengan berdasarkan illat , demi untuk kemaslahatan masyarakat, seperti ; membolehkan wanita keluar rumah dengan beberapa syarat, membolehkan menjual barang wakaf yang diancam lapuk, mengharamkan nikah antar agama dll 2. Dalam memutuskan sesuatu keputusan , dilakukan dengan cara musyawarah. Dalam menetapkan masalah ijtihad, digunakan sistem ijtihad jamaI. Dengan demikian pendapat perorangan dari anggota majlis, tidak dipandang kuat.( Seperti pendapat salah satu anggota Majlis Tarjih Pusat yang pernah dimuat di dalam majalah Suara Muhammadiyah, bahwa dalam penentuan awal bulan Ramadlan dan Syawal hendaknya

menggunakan Mathla Makkah. Pendapat ini hanyalah pendapat pribadi sehingga tidak dianggap kuat. Yang diputuskan dalam Munas Tarjih di Padang Oktober 2003, bahwa Muhammadiyah menggunakan Mathla Wilayatul Hukmi ) 3. Tidak mengikatkan diri kepada suatu madzhab, akan tetapi pendapat-pendapat madzhab, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan hukum. Sepanjang sesuai dengan jiwa Al Quran dan al Sunnah, atau dasar-dasar lain yang dipandang kuat. ( Seperti halnya ketika Majlis Tarjih mengambil pendapat Mutorif bin Al Syahr di dalam menggunakan Hisab ketika cuaca mendung, yaitu di dalam menentukan awal bulan Ramadlan. Walaupun pendapatnya menyelisihi Jumhur Ulama. Sebagai catatan : Rumusan di atas,menunjukkan bahwa Muhammadiyah, telah menyatakan diri untuk tidak terikat dengan suatu madzhab, dan hanya menyandarkan segala permasalahannya pada Al-Quran dan Hadits saja. Namun pada perkembangannya, Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang mempunyai pengikut cukup banyak, secara tidak langsung telah membentuk madzhab sendiri, yang disebut Madzhab Muhammadiyah , ini dikuatkan dengan adanya buku panduan seperti HPT ( Himpunan keputusan Tarjih ). 4. Berprinsip terbuka dan toleran dan tidak beranggapan bahwa hanya majlis Tarjih yang paling benar. Keputusan diambil atas dasar landasan dalil- dalil yang dipandang paling kuat, yang di dapat ketika keputusan diambil. Dan koreksi dari siapapun akan diterima. Sepanjang dapat diberikan dalil-dalil lain yang lebih kuat. Dengan demikian, Majlis Tarjih dimungkinkan mengubah keputusan yang pernah ditetapkan. ( Seperti halnya pencabutan larangan menempel gambar KH. Ahamd Dahlan karena kekawatiran tejadinya syirik sudah tidak ada lagi , pencabutan larangan perempuan untuk keluar rumah dll) 5. Di dalam masalah aqidah ( Tauhid ) , hanya dipergunakan dalil-dalil mutawatir. ( Keputusan yang membicarakan tentang aqidah dan iman ini dilaksanakan pada Mukatamar Muhammadiyah ke- 17 di Solo pada tahun 1929. Namun rumusan di atas perlu ditinjau ulang. Karena mempunyai dampak yang sangat besar pada keyakinan sebagian besar umat Islam, khususnya kepada warga Muhammadiyah. Hal itu, karena

rumusan tersebut mempunyai arti bahwa Persyarikatan Muhammadiyah menolak beratus-ratus hadits shohih yang tercantum dalam Kutub Sittah, hanya dengan alasan bahwa hadits ahad tidak bisa dipakai dalam masalah aqidah. Ini berarti juga, banyak dari keyakinan kaum muslimin yang selama ini dipegang erat akan tergusur dengan rumusan di atas, sebut saja sebagai contoh : keyakinan adanya adzab kubur dan adanya malaikat munkar dan nakir, syafaat nabi Muhammad saw pada hari kiamat, sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga, adanya timbangan amal, ( siroth )jembatan yang membentang di atas neraka untuk masuk syurga, ( haudh ) kolam nabi Muhammad saw, adanya tanda- tanda hari kiamat sepeti turunnya Isa, keluarnya Dajjal. Rumusaan di atas juga akan menjerat Persyarikatan ini ke dalam kelompok Munkiru al-Sunnah , walau secara tidak langsung. 6. Tidak menolak ijma sahabat sebagai dasar suatu keputusan. ( Ijma dari segi kekuatan hukum dibagi menjadi dua , pertama : ijma qauli, seperti ijma para sahabat untuk membuat standarisasi penulisan Al Quran dengan khot Utsmani, kedua : ijma sukuti. Ijma seperti ini kurang kuat. Dari segi masa, Ijma dibagi menjadi dua : pertama : ijma sahabat. Dan ini yang diterima Muhammadiyah. Kedua ; Ijma setelah sahabat ) 7. Terhadap dalil-dalil yang nampak mengandung taarudl, digunakan cara al jamu wa al taufiq . Dan kalau tidak dapat , baru dilakukan tarjih. ( Cara-cara melakukan jama dan taufiq, diantaranya adalah : Pertama : Dengan menentukan macam persoalannya dan menjadikan yang satu termasuk bagian dari yang lain. Seperti menjama antara QS Al Baqarah 234 dengan QS Al Thalaq 4 dalam menentukan batasan iddah orang hamil , Kedua : Dengan menentukan yang satu sebagai mukhashis terhadap dalil yang umum, seperti : menjama antara QS Ali Imran 86,87 dengan QS Ali Imran 89, dalam menentukan hukum orang kafir yang bertaubat, seperti juga menjama antara perintah sholat tahiyatul Masjid dengan larangan sholat sunnah bada Ashar, Ketiga: Dengan cara mentaqyid sesuatu yang masih mutlaq , yaitu membatasi pengertian yang luas, seperti menjama; antara larangan menjadikan pekerjaan membekam sebagai profesi dengan ahli bekam yang mengambil upah dari pekerjaanya. Keempat: Dengan menentukan arti masing-masing dari dua dalil yang bertentangan, seperti : menjama antara pengertian suci dari haid yang berarti bersih dari darah haid dan yang berarti

bersih sesudah mandi. Kelima : Menetapkan masing-masing pada hukum masalah yang berbeda, seperti larangan sholat di rumah bagi yang rumahnya dekat masjid dengan keutamaan sholat sunnah di rumah. 8. Menggunakan asas saddu al-daraI untuk menghindari terjadinya fitnah dan mafsadah. .( Saddu al dzaraI adalah perbuatan untuk mencegah hal-hal yang mubah, karena akan mengakibat kepada hal-hal yang dilarang. Seperti : Larangan memasang gambar KH. Ahmad Dahlan, sebagai pendiri Muhammadiyah, karena dikawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan. Walaupun akhirnya larangan ini dicabut kembali pada Muktamar Tarjih di Sidoarjo, karena kekawatiran tersebut sudah tidak ada lagi. Contoh lain adalah larangan menikahi wanita non muslimah ahli kitab di Indonesia, karena akan menyebabkan finah dan kemurtadan. Keputusan ini ditetapkan pada Muktamar Tarjih di Malang 1989. 9. Men-talil dapat dipergunakan untuk memahami kandungan dalil- dalil Al Quran dan al Sunnah, sepanjang sesuai dengan tujuan syareah. Adapun qaidah : al hukmu yaduuru maa ilatihi wujudan waadaman dalam hal-hal tertentu , dapat berlaku ( Talil Nash adalah memahami nash Al Quran dan hadits, dengan mendasarkan pada illah yang terkandung dalam nash. Seperti perintah menghadap arah Masjid Al Haram dalam sholat, yang dimaksud adalah arah kabah, juga perintah untuk meletakkan hijab antara laki-laki dan perempuan, yang dimaksud adalah menjaga pandangan antara lakilaki dan perempuan, yang pada Muktamar Majlis Tarjih di Sidoarjo 1968 diputuskan bahwa pelaksanaannya mengikuti kondisi yang ada, yaitu pakai tabir atau tidak, selama aman dari fitnah ) 10. Pengunaaan dalil- dalil untuk menetapkan suatu hukum , dilakukan dengan cara konprehensif , utuh dan bulat. Tidak terpisah. ( Seperti halnya di dalam memahami larangan menggambar makhluq yang bernyawa,jika dimaksudkan untuk disembah atau dikawatirkan akan menyebabkan kesyirikan ) 11. Dalil dalil umum al Quran dapat ditakhsis dengan hadist Ahad, kecuali dalam bidang aqidah. ( Lihat keterangan dalam point ke 5 )

12. Dalam mengamalkan agama Islam, mengunakan prinsip Taisir ( Diantara contohnya adalah : dzikir singkat setelah sholat lima waktu, sholat tarawih dengan 11 rekaat ) 13. Dalam bidang Ibadah yang diperoleh ketentuan- ketentuannya dari Al Quran dan al Sunnah, pemahamannya dapat dengan menggunakan akal, sepanjang dapat diketahui latar belakang dan tujuannya. Meskipun harus diakui ,akal bersifat nisbi, sehingga prinsip mendahulukan nash daripada akal memiliki kelenturan dalam menghadapai situsi dan kondisi. ( Contohnya, adalah ketika Majlis Tarjih menentukan awal Bulan Ramadlan dan Syawal, selain menggunakan metode Rukyat,juga menggunakan metode al Hisab. Walaupun pelaksanaan secara rinci terhadap keputusan ini perlu dikaji kembali karena banyak menimbulkan problematika pada umat Islam di Indonesia ) 14. Dalam hal- hal yang termasuk al umur al dunyawiyah yang tidak termasuk tugas para nabi , penggunaan akal sangat diperlukan, demi kemaslahatan umat. 15. Untuk memahami nash yang musytarak, paham sahabat dapat diterima. 16. Dalam memahani nash , makna dlahir didahulukan dari tawil dalam bidang aqidah. Dan takwil sahabat dalam hal ini, tidak harus diterima. ( Seperti dalam memahami ayat-ayat dan hadist yang membicarakan sifat-sifat dan perbuatan Allah swt,seperti Allah bersemayam d atas Arsy, Allah turun ke langit yang terdekat dengan bumi pada sepertiga akhir malam dll ) Penyempurnaan dan Pengembangan Majlis Tarjih Sebagaimana diketahui bahwa Persyarikatan Muhammadiyah merupakan persyarikatan yang bergerak untuk Tajdid dan pembaharuan. Maka Majlis Tarjih, yang merupakan bagian terpenting dalam organisasi tersebut tidak bersifat kaku dan kolot, akan tetapi keputusankeputusan Majlis Tarjih masih ada kemungkinan mengalami perubahan kalau sekiranya dikemudian hari ada dalil atau alasan yang dipandang lebih kuat. Bahkan nama dan kedudukan Majlis dalam Persyarikatan bisa mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan. Diantara perubahan-perubahan yang terjadi dalam Majlis Tarjih adalah :

1. Perubahan nama Majlis Tarjih . Karena mengingat, semakin banyak dan kompleknya problematika-problematika yang dihadapi umat Islam pada puluhan tahun akhir ini. Terutama berkembangnya pemikiran baru, yang kesemuanya harus dijawab oleh Majlis Tarjih. Dan karena nama Tarjih, masih identik dengan masalah-masalah fiqh, maka nama Majlis Tarjih perlu di tambah dengan sebutan yang bisa mewakili tugas tersebut, maka dipilihlah nama Pengembangan Pemikiran Islam sehingga namanya menjadi Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam . Penambahan ini diputuskan pada tahun 1995, ketika dilangsungkan Muktamar Aceh. 2. Penambahan terhadap tiga bentuk Ijtihad yang digunakan Majlis Tarjih ( Yaitu Ijtihad Bayani, Qiyasi dan Istishlahi ) dengan ditambah tiga pendekatan baru ,yaitu Pendekatan Bayani , Burhani dan Irfani. Tiga pendekatan tersebut diputuskan pada MUNAS Tarjih di Malang, tahun 2000. Kemudian disempurnakan pada MUNAS Tarjih ke 26 di Padang,Oktober 2003. Walaupun telah dilakukan beberapa kali sidang, tiga pendekatan tersebut masih belum tuntas pembahasannya. 3. Perubahan nama Mukatamar Tarjih menjadi MUNAS ( Musyawarah Nasional ) Tarjih. 4. Perampingan anggota Majlis Tarjih yaitu dengan menetapkan Anggota Tetap Majlis Tarjih . Pada awalnya muktamar muktamar atau musyarawarah musyawarah Majlis yang bersifat nasional, melibatkan utusan-utusan wilayah-wilayah yang sering bergantiganti, atau yang sering disingkat dengan MTPPI Wilayah. Akan tetapi pada MUNAS Tarjih ke 26 di Padang, Oktober 2003 dilakukan perampingan dengan membentuk anggota tetap Majlis Tarjih yang berjumlah sekitar 99 anggota, yang bertugas untuk melakukan sidang setiap hal itu diperlukan. Langkah-langkah ini diambil, mengingat kurang efektif dan efesiennya perjalanan Muktamar Tarjih selama ini, khususnya ketika diganti namanya dengan MUNAS( Musyawarah Nasional ) . Walaupun sampai saat ini , keputusan tersebut belum ditanfidkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, namun akan mempunyai pengaruh yang besar bagi perjalanan Majlis Tarjih pada masa-masa mendatang.

5. Perubahan keputusan-keputusan tarjih yang dirasa kurang sesuai lagi, seperti pencabutan larangan menempel gambar KH. Ahamd Dahlan, pencabutan larangan perempuan untuk keluar rumah, pencabutan keputusan tentang larangan perempuan ikut berdemonstrasi dan lain-lain . Ini dikuatkan juga dengan adanya komisi Pengembangan Himpunan Putusan Tarjih , pada MUNAS Tarjih di padang, Oktober 2003. Penutup Perjalan Majlis Tarjih selama 77 tahun, memang penuh dengan tantangan dan cobaan. Tugas yang diembannya untuk membimbing masyarakat Islam Indonesia, pada umumnya dan warga Persyarikatan Muhammadiyah pada khususnya dalam masalah keagamaan dan pengembangan pemikiran Islam, nampak begitu berat dan menuntut adanya kesabaran dan perjuangan, serta pencarian yang tiada kenal putus asa. Sehingga perbaikan,penyempurnaan serta pengembangan Majlis tarjih ini sangat mutlak diperlukan,guna memberikan konstribusi-konstribusi yang bermanfaat bagi umat Islam Indonesia. Demikian tulisan singkat tentang Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Yang sedikit ini, mudah-mudahan bisa membuka cakrawala, khususnya bagi kader-kader Muhammadiyah, dan bisa menjadi bekal awal untuk pengembangan pemikiran dalam persyarikatan ini. Wallahu Alam.

Tajdid yang pengertiannya, tujuan dan dimensinya telah kita ketahui yakni pemurnian, dan peningkatan pengembangan serta modernisasi dan memperdayakan kembali dalam menatap masa depan adalah sebagai pemahaman, penafsiran dan pengalaman serta perwujudan ajaran islam sebagai furqon, hudan dan rahmatan lil alamin untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Peradaban yang mudahnya adalah sikapyang baik terdidik serta bernudaya sehingga dapat menjadi ikrar pencerahan ditenagh- tengah masyarkat yang setiap saat dapat mengalami distrasi perlu selalu dapat pencerahan sehingga dapat berfungsi kembali.

Artinya : Hai orang orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Menurut mufasirin kita orang orang yang bertakwa diharapkan untukselalu bermuhasabah memperhitungkan amal kebajikan didunia ini dalam rangka menghadapi hidup diakhirat nanti. Namu demikian konsekwensi abik dari ayat ayat yang alain maupun hadist hadist atau sunah makbullah dapat dimaknai juga kita melakukan evaluasi perjalanan hidup kita secara pribadi, keluarga maupun lembaga kemasyarakatan dalam kiprah kita pada kehidupan kita apalagi sebagai dai dan penyeru pada kebijakan telah berdya guna dan berhasil guna. Karena dalm dalam ayat ayat yang ada dapat saja amal perbuatan yang baik hialng tanpa bekas akibat kekurangan penjagaan kita, menjadikan sikap kita dan perbuatan perbuatan kita itu tanpa bekas bak fatamorgana.

10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Masalah hisab dan ruyat dan bagaimana penggunaannya Ru'yah versus Hisab Astronomi modern mampu menghitung fase-fase rembulan serta posisi rembulan dan matahari dengan ketelitian yang sangat mengagumkan. Lalu bisakah hitungan astronomi modern (hisab) menggantikan Ru'yatul hilal? Selama hisab masih memungkinkan kesalahan, sudah barang tentu tidak. Hisab akan bertentangan dengan ru'yah jika dan hanya jika satu dari dua hal dibawah ini atau dua-duanya masih terjadi. Yaitu : - Ketelitian hisab belum memadai. - Pelaksanaan/laporan ru'yah yang tidak benar. Andaikan hisab bisa dilakukan secara eksak dan begitu juga ru'yah yang dilakukan adalah benar maka tidaklah akan terjadi pertentangan antara dua metode ini. Untuk mendapatkan kesamaan antara ru'yah dan hisab, kita bisa lakukan hal-hal berikut ini

Ru'yah Berbeda dengan ummat di masa Nabi yang setiap hari menengok ke langit, kita di abad-20 ini dapat dikatakan sudah "dimanja" oleh teknologi. Untuk mengerjakan sholat, kita tak lagi perlu keluar rumah untuk menengok langit, karena ada jam dan jadwal sholat. Untuk bepergian ada peta, kompas bahkan radar. Pendeknya, hampir tak pernah lagi kita menengok langit untuk orientasi waktu dan arah. Sementara itu, kehidupan di kota membuat kita makin susah untuk mengamati langit tanpa terganggu oleh pantulan dan biasan cahaya listrik di awan. Belum dengan adanya benda langit buatan manusia, entah itu pesawat, balon atau satelit. Karena itu, bila seseorang pada zaman ini ingin melakukan Ru'yatul hilal (yang barangkali Cuma ia lakukan 2 kali setahun), maka ia harus mengetahui cara-caranya. Persiapan data, agar ru'yatul hilal lebih efisien. 1. Ru'yatul hilal dilakukan hanya tanggal 29 Sya'ban. Tentu saja dalam hal ini kalender yang digunakan harus beres. Secara obyektif astronomis, ru'yatul hilal ini harus dilakukan pada hari terjadinya konjungsi antara rembulan dan matahari. 2. Saat terbenam rembulan dan matahari serta kemungkinan arah dan ketinggiannya harus diketahui, karena waktunya singkat. 3. Pemilihan lokasi yang tinggi dan tidak terhalang bangunan atau pepohonan, misal di lepas pantai. 4. Ru'yah hanya terjadi bila matahari ada di sebelah barat rembulan atau dengan kata lain matahari terbenam mendahului rembulan. Hilal akan terlihat di ufuk barat dan hanya bagian yang menuju matahari yang bersinar tipis. 5. Waktu ru'yatul hilal adalah antara waktu terbenamnya matahari dan waktu terbenamnya rembulan. Jika matahari belum terbenam, cahayanya akan menyilaukan pengamat untuk melihat cahaya rembulan yang masih lemah. Sudah barang tentu, hisab disini mempunyai kedudukan penting dalam hal kesuksesan dan kemudahan ru'yah.

Hisab Astronomi modern yang mampu menghitung fase rembulan sampai ke telitian beberapa detik adalah sudah lebih dari cukup. Yang menjadi problem hisab adalah mendefinisikan hilal, yakni kapan rembulan setelah konjungsi itu bisa terlihat di atas ufuk dengan mata telanjang. Tentu selama definisi ini masih tidak pasti, akan banyak mempengaruhi hasilhasil perhitungan. Terlihatnya hilal secara astronomis ini bisa didefinisikan bermacammacam, misalnya sbb: - Cukup rembulan sudah di atas ufuk - Tinggi rembulan minimum lima derajat. - Fase pencahayaan rembulan mencapai 4%. - Umur bulan sejak konjungsi minimal 13 jam. Belum ada penelitian yang serius tentang hal ini, karena hal terlihatnya rembulan dengan mata telanjang itu bergantung juga pada faktor cuaca, kondisi fisik pengamat, adanya cahaya pengganggu dll, yang tidak sekedar persoalan astronomi. Dan ketidak-pastian definisi ini merupakan salah satu penyebab penting mengapa hisab bertentangan dengan ru'yah. Masalah Global dan Lokal Hasil Hisab maupun Ru'yatul hilal akan berbeda-beda tergantung posisi pengamat atau faktor tempat yang dimasukkan ke dalam hisab. Sebenarnya perbedaannya tidak lebih dari 24 jam. Namun karena perbedaan daerah waktu, maka perbedaan effektifnya bisa mencapai 2 hari. Dan pada hari yang sama daerah yang terletak di sebelah barat, lebih besar kans-nya untuk melihat rembulan dari pada daerah di sebelah timurnya, karena pada saat sunset di sana, umur bulan sudah lebih tua dari pada saat sunset di daerah sebelah timurnya. Kita ingat, bumi berputar dari barat ke timur. Karena itu bila dari Indonesia rembulan baru terlihat sehari setelah Marokko, itu wajar sekali. Yang tidak wajar dan jelas ada yang salah, adalah bila selisihnya dua hari, atau bila di Indonesia hal itu terlihat, dan di Marokko belum.

Pada zaman komunikasi global pada saat ini, di mana peristiwa terlihatnya hilal di Marokko bisa langsung diterima dengan telefon di Indonesia, hal ini kembali mengundang pertanyaan fiqh: Mestikah Indonesia menunggu laporan dari daerah di sebelah barat nya, bila pada 29 Sya'ban atau 29 Ramadhan itu hilal dari Indonesia belum terlihat? Tidak cukupkah hadits Nabi yang menyuruh menggenapkan bulan 30 hari? Andakata kita harus menunggu laporan dari daerah di sebelah barat kita, tidak jelas pula kapan dead line (waktu tenggat)-nya. Pada saat hilal tampak di Marokko (waktu Maghrib), di Indonesia sudah lewat tengah malam. Lebih payah lagi bila hilal itu terlihat di Los Angeles - di Indonesia sudah terlanjur siang. Laporan dari seberang benua itu hanya mungkin dipakai bila berasal dari daerah di sebelah timur kita. Artinya, bila Jakarta sudah melihat hilal, maka seluruh daerah dan negara di sebelah baratnya harus mengikutinya. Namun Papua Nugini yang lebih timur dari Indonesia tidak harus. Kesimpulan Perbedaan 1 Syawal yang sering terjadi selama ini ditimbulkan dari: * Perbedaan fiqh mengenai boleh-tidaknya penggunaan hitungan atau hisab (termasuk hitungan astronomi modern) dalam penentuan awal Ramadhan atau 1 Syawal. * Kesalahan yang dilakukan oleh pengamat Ru'yatul hilal yang kurang terlatih karena tidak lagi biasa mengamati langit dalam kehidupan sehari-hari. * Kesalahan hitungan/hisab yang antara lain karena ketidakpastian definisi, yang mengakibatkan kesalahan kalender yang dicetak jauh-jauh hari dan tidak dicocokkan kembali dengan hilal setiap bulannya. * Kekurangfahaman mengenai pengaruh letak geografis yang menyebabkan perbedaan baik hasil hisab maupun Ru'yatul hilal serta belum adanya konsensus tentang pemecahan masalah ru'yah/hisab lokal dan global. Dengan tahu latar belakang permasalahan ini hendaknya kita sesama ummat Islam bisa saling hormat menghormati sesama muslim, meski mereka memulai puasa dan berhari-raya

pada saat yang berbeda dengan kita, sepanjang itu sesuai dengan keyakinan mereka. Allah akan menerima ibadah yang dilandasi keikhlasan, dan mengampuni dosa yang disebabkan oleh keawaman. Tugas mereka yang diberi ilmulah untuk menyampaikan ilmu, dan tugas para penguasalah untuk memutuskan sesuatu berdasarkan ilmu.

11. Jelaskan bagaimana struktur organisasi Muhammadiyah Keorganisasian muhammadiyah ORGANISASI PERSERIKATAN MUHAMADIYAH Pada tanggal 18 Dzulhijjah 1330 H (bertepatan tanggal 18 November 1912 M) Muhammadiyah diresmikan menjadi organisasi perserikatan dan berkedudukan di Yogyakarta serta dipimpin langsung oleh KH. A. Dahlan sebagai Ketuanya.KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai upaya penyempurnaan pemikiran beliau dalam melaksanakan islam dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya.Selain itu,

muhammadiyah didirikan juga sebagai penyempurnaan dari pelaksanaan gerakan yang telah dilakukan sebelumnya. Di samping beberapa faktor yang turut menjadi pendorong lahirnya organasasi tersebut yakni faktor subyektif dan obyektif. Sedangkan faktor subyektif yang muncul dari pendiri muhammadiyah, lebih dikenal sebagai faktor sentral waktu itu. Sebuah pertanyaan mendasar timbul dari benak A. Dahlan tentang bagaimana Islam yang sebenarnya. Menurutnya, Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw dahulu ternyata merupakan satu pelajaran yang bisa mempengaruhi manusia untuk mengadakan suatu perombakan keadaan masyarakatnya. Oleh karena itu, kegelisahan serta rasa tidak puas masih menyelimuti pikirannya untuk menjawab bagaimana memahami islam yang sebenarnya. Akhirnya, melalui ibadah hajinya yang kedua, dengan banyak membaca kitab-kitab yang didapatkan dari ulama-ulama terdahulu serta memperkaya diri lewat diskusi, A. Dahlan berpikir bahwa sumber mendasar bagi orang Islam terletak pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sejak itulah, beliau mempelajari tentang Islam tidak dari kitab-kitab yang

bersumber dari ulama-ulama melainkan langsung dari Al-Qur'an yang dijelaskan dengan Hadist begitu rupa. I. STRUKTUR ORGANISASI MUHAMADIYAH Di awal pekembangan Muhammadiyah, struktur kepemimpinan dan pembagian daerah masih sangat sederhana. Hierarkinya pendek, dan lebih mengedepankan dinamika organisasi, amal usaha, kemudahan komunikasi, dan koordinasi. Awalnya hanya terdiri dari ranting dan cabang. Ranting adalah level yang paling bawah dan menjadi wadah bagi anggota. Di atasnya terdapat cabang yang langsung berhubungan dengan Pengurus Besar di Yogyakarta(H oofdes tuur ). Pada 1930-an barulah dirasakan perlunya pengelolaan dan koordinasi yang lebih baik di cabang-cabang maupun di ranting-ranting. Berdasarkan keputusan Kongres (sekarang Muktamar) ke-19 di Minangkabau pada 1930, Pengurus Besar (Pengurus Pusat) Muhammadiyah mengangkat perwakilan di daerah-daerah dengan sebutan Konsul Pengurus Besar Muhammadiyah (Consul Hoofdestuur), atau yang biasa disebut Konsul Daerah. Awalnya Jatim dibagi menjadi 5 daerah, yaitu Surabaya, Madiun, Madura, Besuki, dan Pasuruan, dan baru pada 1937 Daerah Kediri didirikan. jaringan struktur sebagaimana halnya dengan Muhammadiyah,kini mulai dari tingkat pusat, tingkat propinsi, tingkat kabupaten, tingkat keca- matan, tingkat desa, dan kelompokkelompok atau jama'ah-jama'ah. II. KEPEMIMPINAN DALAM MUHAMADIYAH Sebelum KH. Ahmad Dahlan wafat, ia berpesan pada sahabat-sahabatnya agar tongkat kepemimpinan Muhamadiyah sepeniggalnya diserahkan kepada Kiai Haji Ibrahim. Kepemimpinannya dalam Muhammadiyah dikukuhkan pada bulan Maret 1923 dalam Rapat Tahunan Anggota Muhammadiyah sebagai Voorzitter Hoofdbestuur Moehammadijah Hindia Timur (Soedja`, 1933: 232). KH. Ibrahim dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1874.

Tingkatan Kepemimpinan DPP (Dewan Pimpinan Pusat) berkedudukan di Ibukota Indonesia DPD (Dewan Pimpinan Daerah) berkedudukan di Ibukota Provinsi PC (Pimpinan Cabang) berkedudukan di Ibukota Kabupaten PK (Pimpinan Komisariat) berkedudukan di Fakultas/Universitas Selain itu,juga mempunyai lembaga pimpinan yang dinamakan dengan KORKOM (koordinator komisariat) yang dibentuk di suatu universitas yang mempunyai komisariat lebih dari 2. Tugasnya adalah untuk mengkoodinir dan membantu kerja Pimpinan Cabang di suatu Universitas. III. KEMUSYAWARATAN DALAM MUHAMADIYAH Permusyawaratan dalam Pemuda Muhammadiyah terdiri dari : 1. Muktamar Muktamar adalah Permusyawaratan tertinggi dalam pergerakan yang diadakan oleh Pimpinan Pusat yang di ikuti oleh Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, dan Pimpinan Daerah, untuk membicarakan AD dan/ART, Pemilihan dan pemberhentian Pimpinan dan program satu periode masa jabatan serta diadakan setiap 4 (empat) tahun sekali. 2. Tanwir Tanwir adalah Permusyawaratan tertinggi dibawah Muktamar yang diadakan oleh Pimpinan Pusat yang diikuti oleh Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah, untuk membicarakan ART dan masalah penting yang menyangkut kepentingan gerakan sedangkan waktunya tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar serta diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam masa jabatan. 3. Muktamar Luar Biasa

a. Muktamar Luar Biasa adalah forum permusyawaratan tertinggi di Luar Muktamar biasa yang dilakukan untuk membicarakan masalah-masalah yang sifatnya luar biasa yang bukan menjadi wewenang Tanwir, sedangkan waktunya tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar. b. Ketentuan lebih lanjut mengenai Muktamar Luar Biasa diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. 4. Musyawarah Wilayah Musyawarah Wilayah adalah Permusyawaratan tertinggi di wilayah, diadakan oleh Pimpinan Wilayah dan diikuti oleh Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang, diadakan setiap 4 (empat) tahun sekali. IV. ORGANISASI OTONOM Organisasi Otonom Muhammadiyah ialah organisasi atau badan yang dibentuk oleh Persyarikatan Muhammadiyah yang dengan bimbingan dan pengawasannya diberi hak dan kewajiban untuk mengatur rumah tangga sendiri, membina warga Persyarikatan Muhammadiyah tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu pula dalam rangka mencapai maksud dan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah. Struktur dan Kedudukan Organisasi Otonom Muhammadiyah sebagai badan yang mempunyai otonomi dalam mengatur rumah tangga sendiri mempunyai jaringan struktur sebagaimana halnya dengan Muhammadiyah, mulai dari tingkat pusat, tingkat propinsi, tingkat kabupaten, tingkat kecamatan, tingkat desa, dan kelompok-kelompok atau jama'ah-jama'ah. Persyaratan Pembentukan Organisasi Otonom 1. Mempunyai fungsi khusus dalam Persyarikatan Muhammadiyah. 2. Mempunyai potensi dan ruang lingkup nasional.

Tujuan Pembentukan Organisasi Otonom 1. Efisiensi dan efektifitas Persyarikatan Muhammadiyah. 2. Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah. 3. Dinamika persyarikatan Muhammadiyah. 4. Kaderisasi Persyarikatan Muhammadiyah Tujuan didirikannya Ortom adalah sebagai upaya Muhammadiyah dalam mempersiapkan penerus pejuangan Muhammadiyah dalam masa yang akan datang, selain sebagai upaya Muhammadiyah dalam ranah gerak sesuai ortomnya masing-masing. Ortom Muhammdiyah ada 2 kategori yaitu Ortom Khusus khusus adalah Aisyiyah Ortom Umum, adalah Hizbul Wathan, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Hak dan Kewajiban Dalam kedudukannya sebagai organisasi otonom yang mempunyai kewenangan mengatur rumah tangga sendiri, Organisasi Otonom Muhammadiyah mempunyai hak dan kewajiban dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Kewajiban Organisasi Otonom 1. Melaksanakan Keputusan Persyarikatan Muhammadiyah. 2. Menjaga nama baik Persyarikatan Muhammadiyah. 3. Membina anggota-anggotanya menjadi warga dan anggota Persyarikatan Muhammadiyah yang baik.

4. Membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan sesama organisasi otonom. 5. Melaporkan kegiatan-kegiatannya kepada Pim-pinan Persyarikatan Muhammadiyah. 6. Menyalurkan anggota-anggotanya dalam kegiatan gerak dan amal usaha Persyarikatan Muham-madiyah sesuai dengan bakat, minat dan kemam-puannya. Hak yang Dimiliki oleh Organisasi Otonom Muhammadiyah : 1. Mengelola urusan kepentingan, aktivitas, dan amal usaha yang dilakukan organisasi otonomnya 2. Berhubungan dengan organisasi/Badan lain di luar Persyarikatan Muhammadiyah. 3. Memberi saran kepada Persyarikatan Muham-madiyah baik diminta atau atas kemauan sendiri. 4. Mengusahakan dan mengelola keuangan sendiri. Organisasi Otonom dalam Persyarikatan Muhammadiyah Organisasi otonom dalam Persyarikatan Muham-madiyah mempunyai karakteristik dan spesifikasi bidang tertentu. Adapun Organisasi otonom dalam Persya-rikatan

Muhammadiyah yang sudah ada ialah sebagai berikut : 1. Aisyiyah (bergerak di kalangan wanita dan ibu-ibu) 2. Pemuda Muhammadiyah (bergerak di kalangan pemuda) 3. Nasyiatul Aisyiyah (bergerak di kalangan perempuan-perempuan muda) 4. Ikatan Remaja Muhammadiyah (bergerak di kalangan pelajar dan remaja) 5. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (bergerak di kalangan mahasiswa)

6. Tapak Suci Putra Muhammadiyah (bergerak dalam aktivitas bela diri) 7. Hisbul Wathan (bergerak dalam aktivitas kepanduan) V . FUNGSI DAN TUGAS ORTONOM MUHAMADIYAH Fungsi ortom Muhammadiyah adalah membina warga persyarikatan Muhammadiyah sesuai kedudukan atau bidang-bidang tertentu.Warga Muhammadiyah sangat banyak, dan terbagi dalam berbagai usia maupun kondisi. Masing-masing diberi wadah agar dapat lebih mudah menerima materi yang menjadi dasar warga Muhammadiyah dalam beramal.Ortom dalam persyarikatan Muhammadiyah ada beberapa, diantaranya:Persyarikatan Muhammadiyah memiliki sebuah tujuan agar dapat menegakkan dan terwujud masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Dan tujuan ortom tersebut adalah untuk mencapai tujuan Persyarikatan Muhammadiyah. Tugas Tugas otonom AD/ART Muhamadiyah Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Pasal 12 Nomor 1 Huruf c dan d menyebutkan: (1) Pimpinan Daerah Bertugas: a. Membimbing dan meningkatkn amal usaha srta kgiatan Cabang dalam daerahnya sesuai kwenanganya. b. Membina, membimbing, mengintegrasikn, dan mngkoordinasikn kgiatan Unsur Pembantu Pimpinan dan Organisasi Otonom tingkat Daerah. Anggaran Rumah Tangga Pasal 19 Nomor 1 Huruf a Poin ke 1 menyebutkn: (1) Pengertian dan Pmbentukn Unsur Pembantu Pimpinan: a. Majelis:

1. Majelis bertugas menyelenggarakn amal usaha, program, dan kgiatan pokok dalam bidang tertentu. Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Pasal 20 Nomor 1 menyebutkn: (1) Organisasi Otonom adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh Muhammadiyah mengunakan membina warga Muhammadiyah dan kelompok masyarakat tertentu sesuai bidang-bidang kegiatan yg diadakanya dalam rangka mncapai maksud dan tujuan Muhammadiyah. 12. Sebutkan dan jelaskan isme dan aliran sesat yangberkebang di masyarakat Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirahbukan al-Qurandan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW. Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin. Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris. Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok keagamaan, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

* Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) * National Integration Movement (IIM) * The Wahid Institute * Kontras * LBH Jakarta * Jaingan Islam Kampus (JIK) * Jaringan Islam Liberal (JIL) * Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) * Generasi Muda Antar Iman (GMAI) * Institut Dian/Interfidei * Masyarakat Dialog Antar Agama * Komunitas Jatimulya * eLSAM * Lakpesdam NU * YLBHI * Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika * Lembaga Kajian Agama dan Jender * Pusaka Padang * Yayasan Tunas Muda Indonesia

* Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) * Crisis Center GKI * Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI) * Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) * Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) * Gerakan Ahmadiyah Indonesia * Tim Pembela Kebebasan Beragama * El Ai Em Ambon * Fatayat NU * Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta * Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali * Koalisi Perempuan Indonesia * Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya * Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta * Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo * SHEEP Yogyakarta Indonesia * Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya * Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya * LSM Adriani Poso

* PRKP Poso * Komunitas Gereja Damai * Komunitas Gereja Sukapura * GAKTANA * Wahana Kebangsaan * Yayasan Tifa * Komunitas Penghayat * Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB * Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok * Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo * Crisis Center SAG Manado * LK3 Banjarmasin * Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar * Jaringan Antar Iman se-Sulawesi * Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin * PERCIK Salatiga * Sumatera Cultural Institut Medan * Muslim Institut Medan * PUSHAM UII Yogyakarta

* Swabine Yasmine Flores-Ende * Komunitas Peradaban Aceh * Yayasan Jurnal Perempuan * AJI Damai Yogyakarta * Ashram Gandhi Puri Bali * Gerakan Nurani Ibu * Rumah Indonesia

Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ladang tadah hujan yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada curah hujan atau tidak. Maksudanya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia. Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini. Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang aneh-aneh seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman. Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui

pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME. Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya. Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini. Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya. Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari 'The Hidden Agenda' di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.

PEMBATAL-PEMBATAL KEISLAMAN Sesungguhnya banyak sekali hal-hal yang dikategorikan sebagai pem-batal ke-Islam-an, namun para ulama banyak menyebutkan sepuluh pem-batal yang paling berbahaya dan paling banyak dikerjakan ummat. Pembatal-pembatal ke-Islam-an tersebut adalah: 1. Syirik atau mengadakan sekutu dalam beribadah kepada Allah Sub-hnahu wa Tal. 2. Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai waslah (perantara) dalam doa, syafaat dan tawakkal. 3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, menyangsikan kekafiran mereka atau malahan membenarkan keyakinan mereka. 4. Meyakini bahwa petunjuk selain petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa Sallama adalah lebih sempurna dan lebih baik. Mengganggap suatu hukum atau undang-undang selainnya lebih baik daripada syariat Rasulullah Shallallahu alayhi wa Sallama dan lebih mengutamakan hukum thght daripada hukum Rasulullah Shal-lallahu alayhi wa Sallama. Apabila ada seseorang meyakini bahwa un-dang-undang yang dibuat manusia lebih utama dan lebih baik daripada syariat Islam, maka ia telah kafir. Demikian pula apabila ia menganggap bahwa syariat Islam sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, atau bahkan berang-gapan bahwa agama Islam hanya menyangkut hubungan ritual antara hamba dengan Rabbnya dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan masalah duniawi. Demikian pula apabila seseorang memandang bahwa pelaksanaan syariat Islam, misalnya masalah rajam dan qishash, sudah tidak sesuai lagi dengan peradaban modern (atau Hak Asasi Manusia). Begitu pula mereka yang beranggapan bahwa seseorang diperboleh-kan untuk tidak berhukum dengan hukum atau syariat Allah Subh-nahu wa

Tal dalam hal sosial kemasyarakatan dan hukum-hukum lainnya, maka ia telah kafir, meskipun belum sampai pada keyakinan bahwa hukum yang dianutnya lebih utama dari hu-kum Islam. 5. Membenci hal-hal yang berasal dari Rasulullah Shallallahu alayhi wa Sallama, walaupun mengamalkannya. 6. Mengolok-olok sebagian ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu alayhi wa Sallama , seperti pahala atau balasan yang akan diterima. 7. Melakukan sihir, karena pelakunya dihukumi kafir. 8. Loyal terhadap orang kafir serta memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang musyrik untuk memerangi kaum muslimin. 9. Beranggapan bahwa manusia boleh keluar dari syariat atau ajaran Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa Sallama. 10. Berpaling dari agama Allah Subhnahu wa Tal, baik karena tidak mau mempelajarinya atau karena tidak mau mengamalkannya. Jemaah Ahmadiyah Meminta Suaka Enam anggota jemaah Ahmadiyah asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, mendatangi Konsulat Australia di Denpasar, Bali, Kamis (15/5) siang. Didampingi beberapa anggota Lembaga Bantuan Hukum Bali, mereka menyatakan ingin bertemu dengan Konsul Australia sekaligus mengajukan permohonan suaka politik. Namun permintaan itu ditolak. Pihak konsulat menganjurkan para pencari suaka langsung mengurus permohonan mereka ke Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Penolakan itu membuat jemaah Ahmadiyah kecewa. Padahal, akhir-akhir ini mereka mengaku senantiasa diliputi ketakutan akibat ancaman teror dan intimidasi. Jemaah Ahmadiyah itu kemudian menuju kantor konsulat asing lainnya yang ada di Denpasar, antara lain Konsulat Jerman untuk maksud yang sama.

Daftar Aliran Sesat versi MUI Berikut Daftar Aliran sesat A - Z 1. Ahmad Sayuti Sang Nabi Baru asal Bandung 2. Ahmad Mushaddeq sang rasul 3. Lia Eden 4. Abdul Rahman 5. LDII

6. Ahmadiyah 7. NII KW IX - Al Zaytun 8. Baha'i 9. Sepilis - Sekularisme Pluralisme Liberalisme 10. Natalan/Doa Bersama 11. Sholat 2 Bahasa 12. Menembus Gelap 13. Jamaah An Nadzir 14. Al-Wahidiyah image 15. Islam-Sejati Aliran Sesat Ahmadiyah, Adili! Meski Ahmadiyah telah ditetapkan sebagai ajaran sesat dan harus dihentikan kegiatan di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mentolerir tindakan anarkis, kekerasan dan aksi pengerusakan terhadap para pengikutnya. Sejak awal MUI, sudah meyakini bahwa dia tidak pernah berubah, tapi jangan dijadikan Fatwa MUI tentang Ahmadiyah dijadikan kambing hitam sebagai pemicu lahirnya kekerasan itu, kata Ketua MUI KH. Maruf Amin dalam jumpa pers di Sekretariat MUI, Masjid Istiqlal Jakarta, Rabu(16/4). Dalam pernyataan sikapnya, MUI juga menyerukan agar para pemimpin ajaran Ahmadiyah segera diadili, terkait keputusan Bakor Pakem Kejagung yang menyatakan ajaran

Ahmadiyah menyimpang. Sedangkan untuk para pengikutnya yang tertobat, lanjut Ma'ruf agar dibina dan diarahkan serta diberi kesempatan untuk mengelola aset-aset Ahmadiyah. "MUI dari pusat sampai ke daerah bersama dengan ormas-ormas Islam siap untuk membina mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar. Dan mereka yang tidak mau bertobat, kita serahkan kepada pemerintah untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, kalau diadili ya adili saja, " tandasnya. Mengenai keberadaan kelompok pendukung Ahmadiyah yang mengatasnamakan Hak Asasi Manusia, Ma'ruf menegaskan, pembubaran Ahmadiyah tidak melanggar HAM, sesuai denga HAM konstitusi, sebab negara Indonesia menganut HAM yang sesuai dengan konstitusi memiliki batasan berbagai aspek-aspek lain, seperti agama dan norma-norma. "Yang mendukung Ahmadiyah itu kan HAM sekuler, HAM sekuler itu HAM yang tanpa batas, HAM kita itu HAM konstitusi. Kalau dinegara sekuler mungkin boleh ya, tapi Indonesia bukan negera sekuler, " ungkapnya. Ia menyatakan, aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia tidak

memperbolehkan adanya penodaan terhadap agama. Namun, negara-negara Islam sudah melarang keberadaan Ahmadiyah. Pembubaran Aliran Sesat Ahmadiyah adalah Harga Mati Umat Islam berharap pemerintah mau mendengarkan aspirasi tersebut. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diingatkan akan kata-kata yang pernah diucapkan saat membuka Rakornas MUI tahun lalu bahwa ia akan mengikuti fatwa MUI. Karenanya, umat Islam menuntut pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Demikian rangkuman berbagai pendapat tokoh-tokoh Islam saat menyampaikan orasi dalam Tablig Akbar di Masjid Nurul Huda, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (12/4) malam. Mereka yang berorasi antara lain KH Abdul Rasyid AS (Pimpinan Perguruan As Syafiiyah), KH Cholil Ridwan (ketua MUI), KH M Al Khaththath (Sekjen FUI), Ahmad

Sumargono (GPMI), Munarman (Lembaga Advokasi A Nashr), Fikri Bareno (Sekjen Al Ittihadiyah), Abu Saad (HTI), Ir Idrus (Forkabi), dan Ust Sobri Lubis (FPI). Munarman mengatakan Ahmadiyah tidak berubah. Ini bisa dilihat dari AD/ART-nya. Di dalamnya secara tegas dicantumkan bahwa Mirza Ghilam Ahmad adalah nabi. Mereka juga mengobrak-abrik Alquran. Berdasar ketetapan Presiden no 1 tahun 1965, kalau ada yang menyalahi suatu agama maka organisasi itu harus dibubarkan, tegasnya. Ahmad Sumargono menjelaskan negeri ini sedang diobrak abrik aliran-aliran sesat seperti Lia Aminuddin, Al Qiyadah, Ahmadiyah dan lainnya. Karena pemerintah diminta bersikap tegas menghadapi aliran-aliran sesat itu. Khusus dalam kasus Ahmadiyah, kalau pemerintah tidak segera membubarkannya maka umat akan memiliki penilaian sendiri terhadap SBY seperti apa. Pemerintah seperti dikatakan, M Al Khaththath, hendaknya bersikap tegas dalam memerangi aliran sesat ini. Ia berharap SBY bisa mencontoh Khalifah Abubakar dalam memerangi kaum murtadin. Abu Bakar adalah sahabat nabi yang sangat lembut, namun ketika agama Islam dilecehkan, ketika syariat Islam dilecehkan, Abubakar memeranginya, ujarnya. Jika SBY tidak membubarkan, kata KH Cholil Ridwan, maka ia bertanggung jawab jika nanti kota Mekkah dikotori oleh orang kafir yang najis itu. Sebab Arab Saudi tika mau menerima orang Ahmadiyah yang ingin naik haji, karena dianggap kafir, ujarnya. Ust Sobri Lubis dari Front Pembela Islam mengatakan jika Ahmadiyah jadi dibubarkan pihaknya siap membina para pengikutnya. Namun kalau Ahmadiyah tak berubah dengan kesesatannya, maka sejak sekarang menyerukan umat Islam untuk siap siaga, ujarnya. Tabligh Akbar serupa akan berlangsung di Masjid Al Arqam Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Jumat (18/4) bada Jumat. Puncaknya adalah apel siaga di depan Istana pada Ahad (20/4).

Ajaran Sesat Salamullah Habib Aldjufri Minta Pemerintah Awasi Ajaran Lia Aminuddin KETUA Utama PB Alkhairaat, KH Sagaaf Aldjufri MA, meminta pemerintah mengawasi secara ketat ajaran Salamullah yang mulai dikembangkan di Jakarta oleh tokoh spritual Lia Aminuddin. "Sebagian syariat yang kembangkannya sudah melenceng dari ajaran Islam," kata Habib keturunan ke-36 dari Nabi Muhammad SAW tersebut. "Pemerintah harusnya tidak mengabaikan permintaan ini, sebab Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa untuk itu," katanya di Palu, siang ini. Menurut ulama kharismatik Sulawesi Tengah ini, beberapa ajaran Salamullah, seperti membabat habis rambut di seluruh anggota badan wanita dengan cara membakar, sama sekali tidak ada nasnya dalam Al-Qur'an dan Hadits. Selain itu dalam sejarah Islam, para wanita di zaman Rasullullah Muhammad SAW tidak pernah melakukan hal serupa. "Cara-cara (membakar rambut) seperti itu merupakan pelanggaran atas kodrat ciptaan Allah SWT, bahkan menjurus kepada unsur penganiayaan diri yang dapat membahayakan kesehatan seseorang," ujarnya. Ia mencontohkan pembabatan rambut di kening dan di kelopak mata dengan cara menyiramkan spirtus kemudian membakarnya, itu sangat membahayakan pancaindera seseorang, dan aqidah Islam sama sekali tidak mentolerirnya. Menurut ketentuan dalam Al-Qur'an dan Hadits, katanya, jika seorang muslim merasa dirinya telah berbuat dosa, maka seharusnya yang bersangkutan berdo'a meminta ampun kepada Allah SWT dan bertobat tidak akan mengulangi perbuatannya. "Bukan dengan cara menyiksa anggota badan," tuturnya, sambil menambahkan pengawasan terhadap ajaran Salamullah itu dimaksudkan agar tidak muncul korban baru. Ketua MUI Sulteng itu juga mengatakan, pengakuan penganjur ajaran Salamullah, Lia Aminuddin, bahwa dirinya sebagai penerima wahyu melalui malaikat Jibril --sebagaimana diterangkan olah para pengikutnya--adalah bohong belaka.

Jumhur ulama, katanya, mengakui bahwa malaikat Jibril itu turun ke dunia hanya sematamata membawa wahyu kepada para Nabi dan Rasul, namun setelah Nabi Muhammad SAW wafat tidak ada lagi manusia lain yang menjadi Nabi atau Rasul. "Masalah ini perlu saya tegaskan, agar Umat Islam tidak terjebak dalam ajaran atau aliran sesat yang memasuki era demokratisasi dewasa ini penyebarannya semakin bebas dan transparan," demikian Sagaaf Aldjufri. Skenario di Balik Aliran Sesat PIMPINAN aliran sesat Al Qiyadah Al Islamiyah, Ahmad Mushaddeq menyatakan tobat ("PR", 10/11). Benarkah bertobat? Mengapa MUI Pusat menyatakan ada indikasi kekuatan intelijen di belakang kasus maraknya aliran sesat? Untuk mengetahuinya, "PR" melakukan wawancara khusus dengan Ketua MPR RI, Dr. H. Hidayat Nurwahid yang sedang menghadiri acara Silaturahmi Keluarga Besar Persatuan Umat Islam (PUI) Jabar di Puri Khatulistiwa Jatinangor, Sabtu (10/11). Berikut ini kutipan pernyataannya: Apakah tobatnya Ahmad Mushaddeq hanya siasat? Faktanya dia bertobat dan diberitakan pers. Soal itu siasatnya Pak Ahmad Mushaddeq atau ada tekanan, itu soal lain. Kita lihat saja perkembangannya. Tapi yang pasti, saya mengapresiasi hasil kerja Jaksa Agung, MUI, Menteri Agama, dan Kapolri berkaitan dengan kasus Al Qiyadah Al Islamiyah. Saya sampaikan juga salam tahniah (penghormatan, red) kepada Pak Ahmad Mushaddeq, dan saya berharap taubatan nasuha, serta menyadari kesalahannya. Selanjutnya, dia harus menerangkan alasan tobatnya kepada para muridmuridanya agar mereka juga tobat dan menyadari kesalahannya. Apa makna dari tobatnya Ahmad Mushaddeq? Maknanya antara lain, ya, buat kepolisian. Maksudanya, di Indonesia kan banyak berkembang aliran sesat. Ada ajaran Alquran Suci, Islam Jemaah, Ahmadiyah, Salamullah atau Kerajaan Edennya Lia Aminudin, Darul Arqam, Wahidiyah, dan lain-lainnya. Itu

semua hendaknya mendorong aparat kepolisian menyikapinya dengan sama. Jangan diskriminatif. Kalau yang sudah dinyatakan sesat oleh MUI dan dilarang Kejaksaan Agung tetap dibiarkan oleh kepolisian, maka yang terjadi kemudian adalah keresahan. Apakah fatwa MUI dan keputusan Kejaksaan Agung diabaikan oleh kepolisian? Saya ingin menyatakan ada beberapa fatwa MUI pusat yang berguna mengatasi keresahan umat, tapi ternyata diabaikan pihak terkait disebabkan adanya keputusan politis. Akibatnya, kan jelas di beberapa daerah sempat terjadi tindakan anarkis. Semestinya, aparat kepolisian bertindak seperti dalam kasus Al Qiyadah Al Islamiyah. Polisi proaktif, begitu keluar fatwa sesat dari MUI dan larangan pihak kejaksaan, langsung bertindak dan melakukan tindakan preventif. Aliran sesat "terjamin" oleh Hak Asasi Manusia (HAM), menurut Anda? Memang ada dalam pasal 28 a hingga sebelum butir j dalam HAM, yang intinya adalah meyakini sesuatu ajaran merupakan keyakinan yang tidak bisa dikurangi oleh siapa pun. Mereka mengira itu bagian dari kebebasan beragama dan kepercayaan yang terlindungi HAM. Padahal itu keliru. Mereka membacanya tidak tepat. Karena kalau dibaca pada butir 28 c, jelas bahwa HAM, dalam hal ini penegakan HAM di Indonesia, harus tunduk pada pembatasan demi penghormatan kepada UU dan HAM yang lain. Jadi, HAM tidak bisa dijadikan tameng atau pelindung demi kepentingan diri atau golongan. Jangan mencederai HAM-nya pihak lain. MUI Pusat mengindikasikan ada peran intelijen di balik aliran sesat ("PR", 5/11)? Ya, saya kira apakah itu bernama intelijen atau bukan, dari luar negeri atau bukan, saya memang "membaca" ada konspirasi dengan berbagai skenario untuk mengobok-obok ketenteraman umat beragama, khususnya kaum Muslimin dengan cara memunculkan berbagai paham sesat. Jika umat Islamnya repot mengurusi aliran sesat, itu artinya akan terpecah-belah dan tidak ada enerji untuk membangun. Dengan begitu, Indonesia akan terus-

terusan mengutang, pasrah didikte pihak ketiga, dan berada di ketiak asing. Kalau umat Islam nggak kuat, itu kan yang diinginkannya. Sampai sekarang sesungguhnya saya masih berkeyakinan ada skenario pihak ketiga di balik peristiwa ledakan bom di berbagai daerah di Indonesia. Tujuan konspirasi itu adalah untuk membuat umat Islam menjadi tertuduh, dan tersudutkan dengan isu teroris. Dalam hal ini, sebagaimana di berbagai kesempatan, saya menyatakan menolak aksi-aksi teroris dan mengutuk setiap perbuatan teroris. Juga kepada PKI atau komunisme, dan berbagai skenario pihak ketiga yang ingin memecah belah bangsa dan umat Islam, saya mengutuknya. Anda pernah aktif di Negara Islam Indonesia (NII)? Itu bohong. Memang ada tokoh pergerakan bernama mirip saya, yakni Nur Hidayat. Dia itu kasus Lampung. Saya memang sering terima pertanyaan ini, seolah-olah saya aktivis NII. Ketahuilah, saya tidak pernah bersentuhan dengan NII. Akidah saya adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di rumah saya, buku agama sangat banyak. Bagi siapa pun yang ingin berdialog soal agama, silakan. Kepolisian tidak tuntas sikapi NII KW-IX? Saya bukan juru bicara polisi. Tapi saya jawab ya, mengapa tidak tuntas? Begini, polisi kan penegak hukum di Indonesia. Polisi seharusnya bisa menjadi contoh agar hukum tegak di Indonesia. Kalau hukum ditegakkan, maka harum nama polisi. Sepatutnya kepolisian juga bisa menindak aliran sesat lainnya. Ini juga jadi pintu besar polisi untuk memelihara citranya sebagai penegak supremasi hukum. Apakah keputusan Kejaksaan Agung perlu ditinjau lagi? Inilah dilemanya. Tapi menurut saya, karena ini negara hukum, maka semua pihak terkait harus menegakkan hukum. Keputusan politik yang notebane melanggar hukum, jelas harus diabaikan. Kecuali kalau ada klausul hukum tentang pelarangan itu diubah menjadi tidak dilarang, itu soal lain. Kan selama ini belum ada pencabutan keputusan Kejaksaan Agung terhadap ajaran Ahmadiyah, Islam Jemaah, Darul Arqam, dan sejenisnya. Demikian halnya

terhadap ajaran Alquran Suci, saya berharap MUI segera membuat fatwanya, dan aparat penegak hukum menindaklanjutinya. Bagaimana dengan kesesatan komunisme? Itu jelas. Hingga kini belum dicabut larangan menyebarkan ajaran komunis, sebagaimana diatur dalam Tap MPR No. 25 tahun 1966. Aparat kepolisian semestinya tanggap bila ada fenomena penyebaran paham komunis. Kalau ada buku tentang komunis dan itu untuk kajian, ya, ini akan lain persoalannya. Fenomena Aliran Sesat di Indonesia Aliran sesat nampaknya seperti tak habis-habisnya bermunculan di tanah air. Apa factor penyebabnya. Dan bagaimana langkah mengantisipasinya? Lia Aminudin yang mengaku sebagai pemimpin Jemaat Tahta Suci Kerajaan Eden" bersama beberapa pengikut dekatnya terpaksa rela tidak menyaksikan keramaian pergantian tahun 2005-2006. Pasalnya, mereka tengah berada di Markas Polda Metro Jaya. Pada mulanya, Jumat (30/12/2005), aparat kepolisian mengevakuasikan mereka ke Mapolda Metro Jaya dalam rangka pengamanan dari kemungkinan tindakan anarkis amuk massa yang tengah mengepung rumah kediaman Lia Aminudin di Jalan Bungur, Kelurahan Senen, Jakarta Pusat. Keesokan harinya, Lia Aminudin dan 32 orang pengikutnya ditetapkan sebagai tersangka pelaku tindak pidana penodaan terhadap agama. Mereka dijerat dengan pasal 154 KUHP Mereka telah ditahan di Mapolda Metro Jaya. Hal itu disampaikan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Firman Gani, setelah Lia Aminudin diperiksa secara intensif sejak malam itu. Kapolda mengharapkan, masyarakat memberikan kesempatan kepada Lia Aminudin dan pengikutnya untuk membuktikan di pengadilan bahwa kegiatan mereka itu tidak melanggar hukum.

Menurut salah seorang peserta amuk massa yang berkumpul di depan rumah Lia Aminudin, ajaran Lia membuat resah masyarakat khususnya umat Islam. Karena, Lia yang mengaku sebagai Malaikat Jibril, Rohul Kudus, sempat mengancam akan mencabut nyawa para ulama bila mereka tetap menggelar tablig akbar (untuk menentang ajarannya dan membongkar kedoknya sebagai Jibril palsu), seperti yang dilakukan di sebuah masjid di Bungur, Jakarta Pusat, tak jauh dari tempat tinggal kelompok "Kerajaan Eden" ini. Jauh sebelumnya, pada 22 Desember 1997 Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwayang mengecam Aliran Salamullah, aliran pimpinan Lia Aminudin sebelum berganti logo menjadi 'Jemaat Tahta Suci Kerajaan Eden". Ajaran Lia Aminudin yang mengaku dibai'at Malaikat Jibril sebagai "Imam Mahdi" dinilai sesat karena bertentangan dengan Al Quran. Saat itu, Lia Aminudin tak hanya mengaku sebagai Imam Mahdi, Lia juga membaiat anaknya yang bernama Ahmad Mukti sebagai Nabi Isa. Perjalanan Lia Aminudin telah dituangkannya ke dalam sebuah buku berjudul Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir. Dalam buku itu dikisahkannya pengembaraannya bersama Jibril, plus kesaksian para pengikutnya. "Buku ini saya tulis dalam tempo sebulan. Semuanya dituntun oleh Jibril," kata Lia Aminudin enam tahun silam. Subur di mana-mana Fenomena aliran sesat yang mengatasnamakan Islam, belakangan ini semakin berkembang dan semakin subur saja di tanah air ini. Pada beberapa bulan yang lalu, terjadi bentrokan antara Front Pembela Islam (FPI) dengan jamaah Ahmadiyah. Karena aliran Ahmadiyah ini mengaku pendiri dan gurunya, Mirza Ghulam Ahmad, asai India, sebagai nabi. Aliran sesat muncul di berbagai daerah dengan fenomena masing-masing. Seperti dikatakan KH Ma'ruf Amin, berdasarkan temuan MUI, aliran sesat ini tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mereka mengindentifikasikan sebagai kelompok musiim atau Islam. Tetapi ajaran-ajaran yang mereka lakukan bertentangan dengan syariat Islam.

Mengantisipasi maraknya berbagai aliran sesat ini, Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) mengingatkan agar umat Islam perlu menyikapinya dengan benteng iman yang kuat. Karena sempalan Islam beraliran sesat ini, sengaja atau tidak sengaja atau tidak sengaja memberikan pemahaman yang salah dan keliru terhadap Islam. Tujuannya untuk menyesatkan umat Islam, sekaligus hendak meruntuhkan dan menghancurkan akidah umat Islam. Kategori sesat Lalu bagaimana sebuah ajaran atau aliran dapat dikategorikan sesat? Sebuah aliran disebut sesat bila apayang diajarkan itu telah menyimpang dari aturan baku ajaran agama. Pinjam kata-kata Ketua Dewan Fatwa MUI, KH. Ma'ruf Amin, "di luar kesepakatan wilayah perbedaan dan melenceng di luar manhajyang shahih." Jadi ketika ada orang yang mengaku pembaru Islam dan ia menyatakan shalat lima waktu itu tidak wajib, atau boleh dilakukan tidak dengan bahasa Arab, makaia dapat disebut sesat. Begitu pula ketika ada orang yang mengaku Islam tapi percaya ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW. maka ini juga disebut sebagai aliran sesat yang keblinger. Dan ajaranajaran lain yang telah menyimpang dari aturan Islam yang telah baku (Qati). Menurut KH Miftah Faridl, suatu tindakan dikategorikan sesat apabila pelakunya menggunakan nama Islam tapi ajaran yang dianut dan disebarkannya tidak sesuai dengan ajaran pokok Islam yang prinsip. Misalnya, mereka tidak percaya dengan wajibnya shalat lima waktu, atau mereka tidak percaya pada As-Sunah (Hadis) sebagai salah satu sumber hukum Islam. Faktor penyebab Faktor penyebab munculnya aliran sesat antara lain karena dangkalnyaakidah dan pengetahuan sebagian umat Islam. Faktor lain karena ada sebagian umat Islam berpikiran liberal dan menganggap Islam boleh diinovasi sesuka hati mereka. Selain itu, bukan tak mungkin ada kelompok yang sengaja ingin mengacaukan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Pendangkalan akidah umat Islam nampaknya terus disodorkan oleh kalangan yang tak suka dengan berkembangnya Islam. Mereka misalnya, membuat orang mulai tidak percaya sepenuhnya pada Al Quran. Ada pulayang sengaja melakukan gerakan inkarus sunnah, mengingkari kebenaran Hadis. Mereka hanya menggunakan Al Quran sebagai landasan kehidupan beragamadan menolak Hadis. Ironisnya, berbagai aliran ini terus berkembang dan menyebut kegiatannya sebagai gerakan dan pembaruan Islam. Padahal, mereka sesungguhnya telah terjebak ke dalam kesesatan. Solusi Semakin maraknya aliran sesat di berbagai tempat sangat meresahkan masyarakat. Para ulama dan umara kiranya perlu bersikap dan bertindak lebih tanggap mengantisipasi keadaan sebelum terlambat. Ulama dan umara diharapkan tidak tinggal diam bila mengetahui keberadaan suatu ajaran agama yang nyleneh. Artinya, perlu memberikan tuntunan dakwah dan petiegakan hukum yang tegas terhadap para pembawa ajaran dan aliran sesat itu. Jangan dibiarkan berkembang dan membuat masyarakat resah sekaligus juga bisa menimbulkan ketidakstabilan masyarakat. Masyarakat yang resah bisa saja mengambil tindakan sendiri. Kericuhan dan kekacauan massa bisaterjadi tiba-tiba. Penguatan akidah umat juga menjadi point penting untuk menangkal tersebarnya aliran sesat ini. Mudahnya mereka terjebak ke dalam aliran sesat adalah lantaran lemahnya akidah mereka dan minimnya pengetahuan Islam yang mereka miliki, sehingga para penyebar aliran sesat begitu gampang memperdayakan mereka dengan dalih agama untuk menyesatkannya. (amanah online) Sufandi Maruih Risiko Sempalan Yang Nyeleneh Selama dua tahun belakangan ini berbagai ajaran / aliran sesat muncul di berbagai daerah di tanah air.

1. Pada Agustus 2004, diketahui ada kasus tarekat beraliran sesat di Lombok Barat, NTB, Dengan alasan ibadah, pimpinan tarekat boleh menggauli santriwatinya dengan seizing suaminya, 2. Pada Oktober 2004, kasus di Desa Dukuhlor, Kabupaten Kuningan, ada tiga orang pemuda mengaku kelompoknya bias bertemu langsung dengan Tuhan tanpa harus melakukan ibadah fardhu. Mereka ini menyebarkan ajaran yang disebut Finalillah atau melebur dengan Allah. Mereka akhirnya ditahan pihak berwajib. 3. Sebuah aliran sesat juga muncul di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah Di sana seorang 'ulama' muda, Zikrullah bin Ali Tatang, memprokatmirkan diri sebagai nabi baru. la mengaku bergelar Zikrullah Aulia Allah. 'Nabi Baru' ini menggunakan masjid tua sebagai pengganti Ka'bah untuk menunaikan ibadah haji. Ia juga mengganti syahadat. Sang 'nabi' palsu pun akhirnya digelandang ke kantor polisi. 4. Pada Februari 2005, masyarakat Pontianak diramaikan oleh adanya sekitar 86 orang yang telah dibaiat kelompok pimpinan mereka dan menyakini ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW Nabi yang mereka sebut-sebut itu tak lain adalah 'nabi' Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India. MUI Sintang, kemudian menyebut mereka sebagai aliran sesat. 5. Pada Maret 2005 terjadi pembakaran rumah mtlik Abah Aziz, di Dusun Bayan, Kelurahan Geremeng, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah (NTB). Ia melakukan pelecehan seksuai terhadap santrinya dengan tameng agama. 6. Pada Mei 2005 Ustadz Muhammad Yusman Roy (Gus Roy) pimpian ponpes I'tikaaf Ngadi Lelaku, Dasa Sumber Waras Timur, Malang, Jawa Timur, mengajarkan santrinya untuk shalat dalam dua bahasa. Bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Gus Yus pun akhirnya ditangkap dan diaditi. 7. Pada 30 Mei 2005, padepokan Nurul Taubah, milik Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA), di Desa Kerampilan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Jawa Timur, dihancurkan oleh massa sekitar seribu orang. Ribuan orang di sekitar padepokan

tersebut marah lantaran padepokan yang dinilai menyebarkan aliran sesat itu tak kunjung ditutup oleh pemerintah setempat. Tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. tapi bangunan padepokan pimpinan Muhammad Ardi Husein hancur dan nyaris rata dengan tanah. 8. Pada 3 Juli 2005 kasus di Majlis Zikir Musyarofah (MZM), Bekasi. Pimpinan MZM, Syekh Mautana Ibrahim, dituduh/diduga melakukan pelecehan seksuai terhadap tujuh jamaah wanita di majelisnya. MZM juga dituding melakukan sumpah (baiat) terhadap setiap jamaahnya untuk tunduk kepada pimpinan MZM Hingga akhirnya masyarakat sekitar menyerbu majelis tersebut.