Anda di halaman 1dari 4

Nama kelompok : 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Putri Dwi Aprilia Dianti Rizki Astuti Ellita Asep Fajar Astiani Aisyah Maria Ulfa

Pengertian Stroke Penyakit stroke adalah gangguan fungsi otak akibat aliran darah ke otak mengalami gangguan (berkurang). Akibatnya , nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan otak tidak terpenuhi dengan baik. Penyebab stroke biasanya diakibatkan oleh dua hal, yaitu adanya sumbatan di pembuluh darah dan pembuluh darah yang pecah. Umumnya stroke terjadi pada orang tua, karena proses penuaan menyebabkan pembuluh darah mengeras dan menyempit dan adanya lemak yang menyumbat pembuluh darah. Tapi beberapa kasus terakhir menunjukan peningkatan kasus stroke yang terjadi pada usia remaja dan usia produktif (15-40 tahun). Pada golongan ini, penyebab utama stroke adalah stress, penyalahgunaan narkoba, alkohol, faktor keturunan dan gaya hidup yang tidak sehat.

Pengaruh stress terhadap sroke Stress sering diartikan secara sekilas sebagai tekanan yang sering dihadapi sehari-hari. Di saat masalah datang menghadang, orang-orang kerap dengan mudah mendefenisikan diri mereka dalam keadaan ini. Orang sering tidak menyadari kalau faktor stress erat sekali kaitannya dengan reaksi tubuh yang merugikan kesehatan. Penyebab penyakit kebanyakan sekarang ini, dari banyak riset yang dilakukan oleh para ahli, menemukan stress berperan penting dalam menimbulkan penyakit-penyakit serius bahkan sampai pada mutasi sel yang berperan dibalik terjadinya kasus-kasus kanker. Semua yang terdapat dalam manusia, dalam artian penyakit itu tidak selamnya disebabkan oleh factor fisik semata, hal ini juga diterapkan pada factor penyembuhan penyakit.

Bahwa semua penyakit dan kesembuhan berasal dari factor kejiwaan seseorang. Di mana, seseorang yang hati dan jiwanya itu terbebas dari stress dan hal ini juga pada pikiran seseorang. Stress itu sangat mempengaruhi faktor metabolisme tubuh seseorang, dan di mana terjadi homeostasis, yang apabila hal ini gagal, maka akan sangat berdampak sekali pada kesehatan, factor metabolisme tubuh, dan system imun seseorang. Optimisme dan Stroke Selalu berpandangan positif dalam hidup memiliki banyak keuntungan. Salah satunya menurunkan risiko terserang stroke. Setidaknya itu yang didapat dari penelitian terbaru yang dirilis Journal of the American Heart Association. Dalam penelitian itu, periset mengobservasi 6.044orang berusia 50 tahun ke atas. Kemudian tingkat optimisme mereka dinilai dalam skala 16 poin. Setiap kenaikan poin menandakan penurunan 9% risiko terserang stroke akut selama dua tahun. Optimisme tampaknya memiliki dampak perubahan yang cepat pada stroke, ujar Eric Kim, pemimpin penelitian sekaligus mahasiswa program doktoral di bidang psikologi klinisUniversity of Michigan. Optimisme menghasilkan efek perlindungan bagi perilaku seseorang seperti

mengonsumsivitamin, diet sehat, dan berolahraga. Selain itu, beberapa fakta menunjukkan berpikir positif berdampak baik pada kondisi biologis seseorang. Penelitian ini adalah studi pertama yang menemukan korelasi antara optimisme dan stroke. Penelitian sebelumnya menunjukkan optimisme sangat terkait

dengan kesehatan jantung, meningkatnya sistem kekebalan tubuh, dan dampak positif lainnya

Depresi Pada Penderita Stroke Umumnya stroke berlanjut dengan depresi. Artinya, para penderita sadar, kondisinya sudah lain untuk melakukan ini dan itu secara rutin, seperti makan harus disuapi, jalan jadi lambat, dan mandi harus dibantu. Karena faktor mental, mereka jadi depresi seperti sering menangis dan suka melamun. Ini tambah terasa bagi mereka yang mempunyai posisi cukup tinggi dalam karir atau sedang naik daun sebagai idola publik. Tiap kerabat yang datang besuk disambutnya dengan menangis. Penderita seperti bertanya, mengapa hal ini sampai terjadi.

Malah ada yang ketus bilang mau segera mati saja, karena sudah tidak tahan lagi dengan keadaan tersebut. Situasi ini memang berat serta memakan waktu lama. Usaha merehabilitasi sampai menyembuhkannya tidak kalah susah dengan "terapi medis". Seperti di Belanda-Australia, misalnya, psikolog sudah dilibatkan langsung bersama para dokter. Melewatkan masalah depresi, hanya akan membuat penderita bertambah parah serta bertambah susah pula untuk merehablitasinya, apalagi menyembuhkannya. Soalnya depresi sangat erat dengan tenaga. Artinya, orang depresi akan membuat banyak tenaga / energi psikis terkuras. Jadi, sebagai anggota keluarga janganlah hanya menasihati, namun mereka lebih membutuhkan tindak lanjut berupa "terapi psikis" secara bertahap, bervariasi, dan berjenjang, sesuai dengan kondisi, latar belakang, dan emosinya. Antusias yang optimal sangat diharapkan dari mereka yang mempunyai ikatan persaudaraan atau pun ikatan emosional dengannya. Yang penting, dalam usaha tesebut adalah bahwa penderita melakukan langkah-langkah seperti: 1. Kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya untukditanggapi dengan wajar dan serius. 2. Pengobatan yang bisa memberikannya motivasi dalam membangun kembali sikap optimis mereka yang goyah. Kita perlu melenyapkan kesan, bahwa mereka tidak lagi berguna bagi masyarakat dan keluarga. 3. Pergaulan, dalam rangka membangun kembali sosialnya. Misalkan berdialog dengan teman-temannya, agar timbul sikap sependeritaan, sekaligus timbul kesan bahwa bukan dia saja yang terkena stroke dan yang mengalami ketidakberdayaan. 4. Kesempatan berkomunikasi dengan pihak yang terkait serta bisa memonitor perkembangannya, seperti dokter dan psikolog. 5. Ketenangan hati, berupa jaminan bahwa semua keluhannya akan dirahasiakan, sehingga ia tidak perlu merasa cemas dan malu

Dukungan Psikologis Dari Keluarga

Banyak penderita yang mengalami kesulitan dalam berbicara ketika mereka recover from stroke. Peranan keluarga jelas sangat diharapkan selain semangat dari penderita itu sendiri untuk proses merehabilitasi fungsi bicaranya dan senso-motoriknya. Oleh karena proses ini memerlukan waktu relatif lama, maka perlu pengertian dan kesabaran yang dalam dari semua pihak. Yang jelas, setiap saat penderita harus diajak bicara dan berinteraksi. Ini diawali dengan sering menanyakan keinginan yang menimbulkan jawaban "singkat". Secara psikologis, motivasi yang sangat kuat pada penderita untuk mengekspresikan sesuatu, akan mendorong kemampuannya berbicara dan bergerak/bertindak. Pada umumnya, penderita cenderung lebih bersemangat menjalani proses terapi, saat kondisi mereka sedang fit. Proses ini cenderung lebih efektif, jika secara langsung dilakukan anggota keluarganya, seperti anak-cucu. Sebab bagaimana pun, bobot kualitas komunikasi dan interaksi semacam itu susah digantikan 100% oleh pihak lain. Apalagi jika keluarga berkeinginan yang kuat untuk merehabilitasi fungsi bicara dan senso-motoriknya. Kata pakar orthopedi, dengan sikap tersebut, rehabilitasi sudah terjamin dengan prosentase besar. Banyak faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya proses rehabilitasi. Di antaranya adalah frekwensi interaksi dan terapi, tekanan yang dialami (emotional pressure / situational pressure); dan, manifestasi dari recovery-nya pun beragam ekspresi dan modelnya. Jika tampak penambahan jumlah verbal yang bisa diucapkannya atau pun gerakan yang mampu dihasilkannya, kita perlu menampakkan ekspresi gembira sebagai sebuah penguat (reinforcement); sebab, ini akan tambah meyakinkannya bahwa proses terapi, dilakukan dengan tulus hati oleh keluarganya. Masalahnya, jika proses terapi dilakukan secara keras, dengan sikap dan ekspresi negatif dari lingkungan keluarga yang seharusnya mampu bersikap sabar dan penuh pengertian, maka sudah dapat diprediksikan, bahwa penderita akan mudah patah semangat dan jatuh dalam depresi.